Sunday, 11 October 2009

Benarkah Umar Sahabat Utama?


Pengantar: Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendeskreditkan seorang sahabat Nabi apalagi mencacinya bahkan mengkafirkannya. Tulisan ini hanya sekedar menempatkan seorang sahabat pada porsi sebenarnya. Umar bin Khattab adalah seorang sahabat yang telah berjasa menegakkan Islam, namun sebenarnya banyak sahabat yang lebih utama dibandingkan dirinya. Lalu mengapa kita lebih menghormati Umar dibandingkan sahabat lain yang lebih utama, apalagi mengambil ijtihad-ijtihadnya sebagai sumber hukum? Padahal ijtihad-ijtihadnya itu jelas-jelas bertentangan dengan nash-nash hadits dan Qur'an. Bukankah dengan sikap demikian kita telah terjerembab ke dalam dosa hingga kita masuk dalam golongan 72 kelompok yang masuk neraka sebagaimana disebutkan dalam hadits Rosul?


Lebih utama mana sahabat nabi bernama Anas yang tidak begitu terkenal (yang syahid dalam perang Uhud, bukan Anas bin Malik) dibandingkan Umar bin Khattab? Dengan tegas saya memilih Anas. Ini karena Anas ikhlas mati syahid demi membela Rosulullah. Sedangkan Umar menolak jihad dan lebih memilih duduk-duduk sebagaimana umat Yahudi menolak jihad dan lebih suka duduk-duduk saat nabi Musa memerintahkan mereka menyerang negeri Palestina.

Anda mungkin tidak percaya dengan kisah ini (Saya yakin sebagian besar umat Islam tidak mengetahui kisah ini). Tapi lihatlah buku sejarah nabi Muhammad karangan Muhammad Haekal yang terkenal itu. Baca bagian tentang Perang Uhud. Dalam buku itu disebutkan, tatkala pasukan Islam diserang dari arah belakang oleh pasukan Quraisy setelah pasukan pemanah Islam mengabaikan perintah Rosul dan meninggalkan posnya, sebagian besar dari mereka melarikan diri dari medan peperangan untuk menyelamatkan diri. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Setelah kelelahan berlari, mereka berdua beristirahat di bawah bukit yang teduh.

Pada saat itu muncul sahabat bernama Anas. Mendapati Abu Bakar dan Umar duduk-duduk santai, Anas menegur. "Mengapa Anda berdua duduk-duduk di sini?". Abu Bakar dan Umar menjawab bahwa mereka lari dari medang perang karena mendengar Rosulullah telah meninggal dalam perang. Maka Anas pun berkata. "Kalau begitu mari kita susul Rosul ke surga dengan syahid." Tanpa mendengar jawaban Abu Bakar dan Umar, Anas pun kembali berlari ke medan perang dan syahid. Adapun Abu Bakar dan Umar lebih memilih duduk.

Atau lebih utama mana para sahabat yang berhijrah ke Habsyah (Ethiopia) dibandingkan Umar? Dengan tegas saya memilih para sahabat yang hijrah ke Habsyah. Pilihan ini adalah berdasarkan hadits "Shahih" Bukhari yang meriwayatkan: "Suatu hari Umar datang ke rumah putrinya Hafsah (yang juga istri Rosul). Di sana ada Asma binti U'mais. Ketika dilihatnya Asma, Umar bertanya pada Asma: Siapa Anda?. Ketika Asma menjawab siapa dirinya, Umar menggumam: Orang Habsyah itu? Orang laut itu? (Habsyah terletak di seberang Laut Merah). Ya, jawab Asma. Namun entah alasan apa kecuali karena sifat jahil, Umar berkata: Kami lebih dahulu berhijrah, maka kami lebih dekat kepada Rosul dibandingkan kalian.

Dengan marah karena tersinggung Asma menjawab: Demi Allah tidak demikian. Dahulu kalian bersama Rosul. Diberinya kalian makan dan minum dan diajarkannya kalian. Sementara kami berada di tempat yang jauh dan terasing semata-mata karena Allah dan Rosul-Nya. Demi Allah kami tidak makan atau minum sebelum kami mengingat dahulu kepada Rosul. Kami juga menghadapi gangguan dan ancaman. Wahai Umar, aku akan adukan perkataanmu tadi kepada Rosul tanpa menambah atau menguranginya.

Ketika Asma menghadap Rosul ia mengadukan apa yang dikatakan Umar kepadanya. Rosul pun bertanya kepada Asma: Apa yang kau jawab. Asma menjawab: Begini dan begitu. Maka Rosul berkata: Dia tidak lebih berhak atasku daripada kalian. Dia dan teman-temannya hanya berhijrah sekali, sedang kalian berhijrah dua kali.

Kemudian Asma berkata: Aku lihat Abu Musa dan kawan-kawan yang dahulu sekapal saat hijrah ke Habsyah mendatangiku dan bertanya kepadaku tentang sabda Rosul tersebut. Demi Allah tidak ada yang lebih membahagiakan mereka daripada mendengar sabda Rosul tersebut."

Dari hadits Bukhari tersebut (Shahih Bukhari Muslim adalah kitab paling valid setelah Al Qur'an di mata kaum Islam Sunni) dapat disimpulkan bahwa Asma dan para sahabat yang bersamanya berhijrah ke Habsyah lebih utama dibandingkan Umar.

Bukan saja Anas dan Asma serta para sahabat yang berjijrah ke Habsyah yang lebih utama daripada Umar. Tujuh puluh sahabat yang syahid dalam Perang Uhud lebih utama dibandingkannya. Bahkan beberapa sahabat yang hidup paska Perang Uhud pun lebih utama dibandingkan mereka berdua. Salah satunya adalah Zubeir bin Awwam yang menjadi salah satu sahabat yang melindungi Rosul dari serangan pasukan kafir Quraisy. Satunya lagi adalah Ali bin Thalib.

Saat pasukan Islam tercerai berai dan orang-orang kafir meneriakkan kabar kematian Rosulullah untuk meruntuhkan mental orang-orang Islam, Ali berada di tempat yang agak jauh dari Rosulullah. Namun demi kecintaannya pada Rosul, ia mencari Rosulullah di seluruh sudut medan perang dan ditemukannya Rosulullah dalam kepungan orang-orang Quraisy. Dengan gagah berani Ali menerobos kepungan dan menggabungkan diri dengan beberapa sahabat yang melindungi Rosulullah.

Sahabat Anas yang syahid tentu menggugah kekagumanku kepadanya, sekaligus mengurangi rasa hormatku pada Abu Bakar dan Umar. Namun kekaguman lebih besar aku berikan kepada Abu Dujannah. Setelah tampil sebagai pahlawan dengan membunuhi gembong-gembong Quraisy di awal pertempuran, Abu Dujannah syahid dengan cara yang sangat menggugah perasaan. Ia rela menjadikan dirinya tameng hidup untuk melindungi tubuh Rosulullah dari sentuhan senjata musuh hingga syahid dengan luka-luka yang mengerikan di sekujur tubuhnya.

Bahkan dibandingkan seorang sahabat wanita (saya lupa namanya sebagaimana disebut dalam buku Haekal), Abu Bakar dan Umar tidak lebih utama. Sahabat wanita itu sebagaimana umumnya seorang wanita yang tidak dikenai kewajiban untuk berjihad di medan perang, sebenarnya hanya bertugas sebagai pengantar minuman bagi pasukan Islam yang kehausan. Namun demi dilihatnya Rosulullah dalam bahaya, ia langsung membuang tempat minumnya dan dengan pedang kecil di tangan, ia maju untuk melindungi Rosul hingga syahid menjemputnya.

Aku lahir sebagai penganut Islam mazhab Sunni yang percaya pada kemuliaan sahabat-sahabat utama Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Usman bin Affan. Namun sebenarnya aku, sebagaimana sebagian besar umat Islam Sunni lainnya, tidak mengetahui banyak tentang apa itu Islam Sunni, Syiah, apalagi mazhab-mazhab Islam lainnya, yang menurut hadits Nabi berjumlah 73 aliran dan semuanya masuk neraka kecuali satu aliran. (Aku lebih suka menyebut angka 73 hanya perumpanaan saja karena saya percaya sesungguhnya aliran-aliran dalam Islam lebih banyak dari 73).

Aku tidak ingin membahas mengenai perbedaan mazhab dalam Islam. Aku hanya akan membahas tentang watak dan sifat sahabat Umar bin Khattab berdasar buku-buku sejarah dan hadits yang aku ketahui. Meski banyak disebut sebagai seorang sahabat utama yang adil, gagah berani serta mempunyai sifat welas asih kepada sesama, aku tidak menemukan hal itu di buku-buku sejarah kecuali hadits-hadis ahad (diriwayatkan oleh seorang sahabat saja). Sebaliknya yang aku temukan adalah sifat-sifat yang bertolak belakang dengannya.

Umar adalah sahabat yang suka membangkang terhadap nabi sekaligus mengabaikan perintah-perintah tegas dalam Al Qur'an untuk menuruti semua perintah nabi. Terlalu banyak perintah dalam Al Qur'an yang halus hingga yang keras, yang memerintahkan umat Islam untuk menuruti semua perintah Rosul tanpa "reserve". Ia membantah Rosulullah dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah. Dalam peristiwa ini ia bahkan berani mempertanyakan kenabian Rosulullah. Bahkan setelah Rosulullah memberi penjelasan, Umar tetap membangkang. Ia baru berhenti mempermasalahkan Perjanjian Hudaibiyah setelah sahabat terdekatnya, Abu Bakar, mengingatkannya untuk tidak menentang Rosul.

Umar juga membangkang Rosulullah dalam peristiwa "Tragedi Hari Kamis" saat Rosulullah hendak menulis wasiat menjelang wafatnya Beliau hingga Rosul marah dan berkata keras: "Keluarlah kaliah dari rumahku!". Umar membangkang atas penunjukan Usamah bin Zaid sebagai panglima perang dalam ekspedisi perang terakhir Rosul. Umar juga membangkang Rosul saat Beliau memerintahkan seorang sahabat (Abu Hurairah) untuk memberi kabar gembira kepada umat Islam yang telah mengucapkan kalimat syahadat dengan dalih kalimat syahadat saja tidak cukup untuk membuat seseorang mendapatkan syurga, seolah-olah ia lebih tahu mengenai alam akhirat dibandingkan Rosul. Umar juga membangkang terhadap tindakan nabi yang mensholatkan seorang sahabat yang menurut Umar adalah seorang munafik, seolah ia lebih mengetahui dibandingkan Rosul mengenai sifat-sifat para sahabatnya.

Seorang pembaca blog ini pernah memberikan "excuse" terhadap tindakan sebagian sahabat yang suka membangkang perintah Rosul dengan menganggap mereka sekedar melakukan ijtihad. Apakah ia tidak mengetahui bahwa ijtihad Rosul bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan ijtihad seluruh umat menusia? Sekedar penyegaran, dalam kitab Ijil Barnabas disebutkan bahwa nabi Isa bersabda, seandainya beliau diberi kesempatan bertemu dengan nabi Muhammad, ia akan merasa sangat terhormat jika diberi kesempatan untuk membasuh terombah Rosul.

Ini menunjukkan betapa tingginya derajat Rosulullah dibandingkan Umar bin Khattab, manusia yang separuh hidupnya hidup dalam kejahiliahan: membunuh anak perempuannya, berzinah, menenggak arak, berjudi dlsb. Padahal Rosul adalah manusia yang suci sejak kelahirannya. Ia lahir dari manusia sepasang manusia dari kabilah, suku, dan bangsa paling terhormat. Di masa kanak-kanaknya, untuk membersihkan debu-debu di hatinya, para malaikat melakukan operasi terhadap hati Muhammad. Ia manusia yang bahkan Allah dan para malaikat bershalawat kepadanya. Membenarkan sikap para sahabat menentang Rosul sama dengan tindakan menentang Rosul sendiri.

Lagipula alasan bahwa para Umar bertobat setelah tindakan pembangkangannya terhadap Rosul dan Rosul ridho dengan tindakan Umar tidak ditemukan bukti-buktinya. Setelah Rosul meninggal ia masih menentang pengangkatan Usamah bin Ziyad sebagai penglima perang oleh Abu Bakar yang bermaksud meneruskan perintah Rosul. Dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah kita juga tidak mengetahui apakah berakhirnya pembangkangan Umar karena insyaf, atau karena karena tidak mendapatkan dukungan dari sahabat dekatnya, Abu Bakar. Tidak ada satu riwayat pun yang menunjukkan Umar bertaubat dengan tindakannya menentang Rosul.

Saat menjadi khalifah, Umar bahkan meneruskan kebiasaannya menentang Rosul dengan mengeluarkan ijtihad yang menselisihi Rosul bahkan Al Qur'an. Ia berijtihad mengeluarkan kaum mu'alaf dari daftar penerima zakat dan membagi-bagi harta baitul mal dengan seleranya sendiri. Ia juga mengharamkan mu'tah haji dan mu'tah perkawinan* meski kedua hal itu dibolehkan Allah dan Rosulnya.

Kalau kita mau mempelajari sejarah Islam dengan sedikit saja lebih kritis, kita akan mendapati sifat-sifat Umar yang jauh dari yang "dikatakan orang". Setelah masuk Islam pun ia tidak bisa melepaskan diri dari watak kasarnya. Selain suka membangkang perintah Rosul, ia juga suka memukul orang. Abu Hurairah adalah salah satu sahabat yang pernah dipukul oleh Umar hingga berdarah hanya karena Umar tidak setuju dengan apa yang dilakukan Abu Hurairah: Mengumumkan kepada kaum Muslim tentang balasan surga bagi siapa saja yang bershahadat. Padahal Abu Hurairah melakukan apa yang diperintahkan Rosul.

Dan jauh dari sifat-sifat pemberani dan ksatria yang "dikatakan orang", Umar adalah seorang penakut. Selain lari dari medan perang Uhud, ia juga lari dari medan perang Hunain. Tatkala Rosul memberikan tongkat komando kepadanya dalam Perang Khaibar, ia kembali dalam keadaan kalah hingga kemudian Rosul memberikan tongkat komando kepada Ali bin Abi Thalib seraya berkata: Aku berikan tongkat komando ini kepada orang yang ridho kepada Allah dan Rosul-Nya dan Allah dan Rosul-Nya pun ridho kepadanya. Ia tidak pernah lari dari medan perang dan selalu pulang membawa kemenangan.


PENGARUH UMAR

Tindakan dan tindak tanduk Umar berpengaruh besar dalam kehidupan umat Islam saat ini. Umar setidaknya menjadi inspirasi bagi dua gerakan Islam yang sayangnya dianggap sesat, yaitu Islam Liberal dan Inkar Sunnah.

Boleh ditanyakan kepada para penggiat Jaringan Islam Liberal (JIL), siapa tokoh Islam yang menginspirasi mereka untuk melakukan ijtihad-ijtihad nyeleneh menabrak nash-nash yang telah jelas dan tegas? Mereka pasti menunjuk Umar bin Khattab.

Dan tindakan yang telah berani secara terang-terangan menolak hadits Rosul dengan perkataannya: "Cukup Al Qur'an di sisi kami!", saat menolak perintah Rosul untuk menuliskan wasiat menjelang kematian Rosul dalam peristiwa "Tragedi Hari Kamis", tidak bisa dibantah telah memberi inspirasi pada kemunculan gerakan Inkar Sunnah.



*Para pembela Umar dalam hal ijtihadnya mengenai kawin mu'tah berdalih bahwa ijtihad tersebut sesuai dengan "nilai-nilai moral masyarakat". Bahwa kawin mu'tah tidak sesuai dengan nilai-nilai moral masyarakat sehingga diharamkan. Tapi mengapa hal yang sama tidak diterapkan pada kasus poligami. Bukankah poligami juga bertentangan dengan "nilai-nilai moral masyarakat?" modern? Lalu mengapa poligami dihalalkan sementara mu'tah (kawin siri) diharamkan?

Untuk memahami hikmah di balik penghalalan kawin mu'tah sebagaimana poligami kita harus berfikir jauh. Bahwa ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat kedua hal tersebut dibolehkan (bukan diwajibkan). Sebaliknya jika kedua hal tersebut (mu'tah dan poligami) dilarang, justru menimbulkan masalah baru yang lebih berat. Misalnya saja dalam kondisi darurat. Seorang tentara, atau pelaut atau siapa saja yang karena kondisi tertentu harus hidup terpisah dengan istrinya di tempat yang jauh, masih lebih terhormat baginya jika melakukan mu'tah atau poligami daripada berzina yang jelas-jelas dilarang.

Lagipula kalau ijtihad Umar benar, mengapa satu mu'tah lagi yang diharamkannya, yaitu mu'tah haji (menggabungkan haji dengan umroh) tetap dilakukan oleh sebagian besar umat Islam dan tidak ada seorang ulama pun yang mengharamkannya sebagaimana mereka mengharamkan kawin mu'tah?

5 comments:

Si no name said...

Pemutarbalikan,Syiah ya..

cahyono adi said...

Jangan asal kritik atau tuduh. Baca dulu sejarah dan cek sumber yang disebutkan. Syiah atau Sunni sama saja. Islam tidak diciptakan untuk menjadi Syiah atau Sunni atau Wahabi.

masocad said...

assalamualaikum.
Umar Bin Khattab Radhiyallahuanhu.
terus terang saya belum mbaca buku karangan M Haekal tentang umar tersebut, namun tentu masih banyak literatur islam yang lebih bisa saya percaya dalam menceritakan kehidupan umar bin khattab, sebutlah misalnya shirah ibnu hisyam, shirah nabawiyah ibnu katsir, allmuntaqa, rahiqul makhtum dll, dari kitab2 ahlu sunnah tidak ditemukan kisah-kisah seperti diatas kecuali dengan penafsiran atau pemahaman yang layak, tentu karena Umar adalah sahabat mulia setelah Abu Bakar asshiddiq dan telah disebutkan dalam hadits nabi akan kepemimpinan beliau sepeninggal Abu Bakar dengan sabda Nabi SAW :اقتدوا بالذين من بعدي أبو بكر وعمر
ikutilah kedua orang sepeninggalku yaitu Abu Bakar dan Umar (sunan Tirmizi v 5 p 609).
beliau juga salah seorang periwayat hadits yang banyak kita gunakan, maka tak heran jika imam nawawi menyebutkan hadits dalam kitabnya Arba'in nawawi, hadist pertama dan kedua diriwayatkna oleh beliau.
mengenai nikah mut'ah silakan rujuk kekitab تحريم المتعة في الكتاب والسنة karangan Yusuf Jabir almuhammady yang insyaallah akan dijelaskan secara gamblang oleh beliau.
oya mengenai suni sama saja dengan syiah saya kira perlu diluruskan, karena keduanya memiliki perbedaan yang mendasar, diantara konsep pemahaman sahabat, kitab allah dan bagaimana bersikap terhadap ahlu bait Rasulullah saw dll lebih jelasnya silakan merujuk ke kitb أصول مذهب الشيعة الإمامية الإثني عشرية yang dikarang oleh DR.Nasshir bi abdullah bin ali alqifary, saya setuju dengan perkataan anda bahwa islam tidak diciptakan untuk menjadi syiah atau sunni atau wahabi, karena islam berlandaskan alquran dan sunnah dengan pemahaman yang benar dari generasi terbaik umat ini,marilah kita meyakini dengan ilmu yang telah kita dapatkan dan hendaknya kita menjauhi perpecahan agar dijauhkan Allah dari nerakaNya, wallahu ta'ala a'lam.

Si no name said...

Justru terciptanya Syiah dan Sunni karena Quran sebagai Satu Ilmu yang harusnya bersudut Obyektif menurut Sunnah Rasul-NYA di tanggapi menjadi bersudut subyektif memenuhi kepentingan politik dan ekonomi satu golongan atau bangsa sehingga Al Quran menjadi bermazhab-mazhab yang membikin umatIslam selisih dalam pemahaman/pola pikir, konsekwensinya pada ujud kehidupannya pun terjadi perselisihan bahkan saling memerangi satu sama lain mengatas namakan "Allahu Akbar"

Syekh Billy said...

Saya salut dengan keberanian Anda menyampaikan sikap kritis Anda terhadap salah seorang shahabat Nabi. Salam kenal. Silakan mampir di http://www.jagatalit.com.