Tuesday, 22 July 2008

SPEKULAN “GILA” DAN KRISIS NUKLIR IRAN

Siapa orang yang cukup “gila” dengan berjudi mempertaruhkan uang senilai Rp 45 triliun untuk suatu hal yang kemungkinan terjadinya sangat kecil? Orang-orang pasti menganggap tidak ada orang yang cukup “gila” untuk hal itu. Lagi pula hampir pasti tidak ada orang “gila” yang punya uang senilai Rp 45 triliun. Namun kenyatannya tidaklah demikian.

Sebagaimana termuat dalam situs kantor berita American Free Press bulan Agustus tahun lalu, para pelaku pasar saham dunia khususnya di Eropa dikagetkan dengan ulah spekulan “gila” yang melakukan transaksi derivatif put senilai $4,5 miliar atau hampir setara Rp 45 triliun. Dengan transaksi itu spekulan tersebut berharap dalam waktu satu bulan (sampai tanggal 21 September, pen) pasar saham Eropa akan anjlok paling tidak hingga 33%. Bila harapan itu terwujud ia akan mengantongi keuntungan senilai Rp 20 triliun. Sebaliknya jika tidak terjadi maka ia harus menanggung kerugian senilai Rp 10 triliun. Para pelaku bursa saham Eropa menyebut spekulan yang namanya dirahasiakan tersebut sebagai Bin Laden, mengingat hanya kejadian besar seperti serangan World Trade Center (atau kejadian lain yang lebih hebat lagi) yang mampu membuat pasar saham Eropa anjlok 33%. Kebalikan transaksi put adalah call dimana spekulan bertaruh atas kenaikan harga-harga saham.

Para pelaku bursa saham yakin bahwa spekulan tersebut memiliki informasi yang sangat rahasia tentang berbagai intrik bisnis dan politik global yang hanya dimiliki oleh segelintir orang. Namun mereka hanya bisa menebak-nebak peristiwa besar apa yang bakal terjadi berkaitan dengan transaksi yang tidak masuk akal tersebut. Apakah bencana alam besar, serangan teroris setara tragedi WTC, atau pemerintah Cina yang nekad menggelontorkan cadangan devisanya ke pasar uang global sebagai respons atas kerugian yang dideritanya karena krisis kredit perumahan di Amerika. Pemerintah dan pengusaha Cina telah banyak menanamkan investasinya di Amerika. Akibat krisis kredit perumahan di Amerika akhir-akhir ini, Cina diperkirakan mengalami kerugian hingga US$10 miliar.

Para pelaku pasar uang tentu masih ingat benar ulah spekulan Yahudi George Soros tahun 1997 yang telah menimbulkan krisis moneter di negara-negara Asia Timur. Di saat negara-negara Asia Timur membutuhkan mata uang dolar untuk membayar hutang jangka menengah mereka yang jatuh tempo, George Soros memborong dolar di pasar uang Asia sehingga dolar melonjak nilainya dan menghantam perekonomian negara-negara Asia Timur termasuk Indonesia. Dalam waktu beberapa hari saja hutang luar negara Indonesia yang sebagian besarnya dalam bentuk dolar, secara riel melonjak beberapa kali lipat. Selain itu krisis tersebut juga menghancurkan perekonomian hingga membutuhkan waktu bertahun-tahun dan pengorbanan besar untuk memulihkannya.

Perlu diperhatikan bahwa hutang-hutang luar negeri jangka menengah negara-negara Asia Timur mengalami peningkatan tajam setelah beberapa penulis Yahudi seperti John Naisbit, Alvin Tofler dan kawan-kawan dengan dibantu media-media massa barat dan digaungkan lagi oleh media-media massa lokal, “memprovokasi” negara-negara Asia untuk melakukan pembangunan besar-besaran melalui buku-buku seperti Megatrend, Future Shock, Third Wave, dll. Buku-buku itu semuanya menyanjung-nyanjung kawasan Asia Timur sebagai kawasan paling pesat perkembangannya dan bakal menjadi pusat perekonomian dunia masa depan, sehingga mendorong para pemimpin negara-negara Asia Timur untuk melakukan pembangunan besar-besaran. Ongkos pembangunan itu tentu saja dari “hutang berbunga ganda luar negeri” yang disamarkan oleh media-media massa lokal sebagai “bantuan luar negeri”.

Begitu ampuhnya John Naisbit dan Alvin Tofler menghipnotis sasarannya hingga di negara-negara Asia Timur, termasuk Indonesia terjadi demam “pembangunan berbasis bantuan luar negeri”. Buku mereka laris bak kacang goreng. Para pejabat sipil dan militer, profesional, dosen dan mahasiswa merasa ketinggalan jaman kalau tidak membaca buku tersebut. Berbagai seminar dan forum ilmiah-pun digelar khusus membahas buku-buku tersebut dengan publikasi besar-besaran media massa lokal. Kedatangan John Naisbit dan Alvin Tofler di Indonesia pun disambut bagaikan artis Hollywood. Presiden SBY pun termasuk salah seorang pengagum Tofler. Dalam pidato kenegaraan menyambut Hari Teknologi Nasional tahun 2005 misalnya, beliau dengan bangganya beliau menyebut nama Tofler beberapa kali.

Dampak riel yang masih dirasakan akibat krisis moneter tahun 1997 adalah raibnya dana BLBI ratusan triliun rupiah yang hilang dicuri para konglomerat hitam setelah disodorkan di atas nampan oleh para birokrat pemerintah yang korup. George Soros sendiri, menurut para analis, mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp 9 triliun, yaitu selisih nilai baru (setelah mengalami kenaikan) dolar yang dimilikinya dikurangi nilai dolar saat diborongnya (sebelum kenaikan). Namun keuntungan paling besar tentunya adalah para bankir pemberi pinjaman yang nilainya boleh jadi ratusan triliun rupiah. John Naisbit dan Alvin Tofler sendiri cukup mendapatkan “recehannya”. Sedangkan media massa lokal, organiser dan narasumber acara-acara seminar dan forum ilmiah sudah cukup puas mendapatkan remah-remahnya.

Tujuh tahun yang lalu sebelum tragedi WTC juga terjadi keanehan di pasar modal. Menurut CBS News pada tanggal 6 September 2001 terjadi lonjakan transaksi atas saham American Airlines dan United Airlines, dua meskapai penerbangan yang terlibat dalam serangan WTC. Pada saat itu, demikian CBS News, terjadi transaksi put atas saham kedua maskapai tersebut hingga 25 lipat dari kondisi normal. Pelaku transaksi tersebut adalah spekulan yang berasal dari bank terbesar Jerman Deutsche Bank. Saat itu Deutsche Bank baru saja membeli bank Banker’s Trust yang jabatan wakil presdirnya dipegang oleh AB Krongard. Pada bulan Maret 2001 Krongard diangkat oleh Presiden Bush sebagai Direktur Eksekutif CIA.

Setelah bursa saham dibuka kembali setelah ditutup akibat tragedi WTC saham United Airlines dan American Airlines melorot 40% dan Deutsche Bank meraup keuntungan besar. Lebih mengherankan lagi adalah saham Morgan Stanley dan Merrill Lynch, dua perusahaan terbesar yang berkantor di WTC juga mengalami booming transaksi put menjelang Tragedi WTC

Yang menarik untuk dianalisa adalah fakta bahwa CIA ternyata sudah mengetahui kemungkinan rencana serangan terhadap WTC. Dalam sebuah briefing dengan Presiden Bush bulan Agustus 2001 bahkan kemungkinan serangan itu khusus dibahas. Lagipula CIA memiliki kontak kuat dengan Osama bin Laden mengingat ia adalah mantan binaan CIA sendiri. Namun semua fakta itu tidak pernah menjadi bahan penyidikan karena Presiden Bush sendiri tidak pernah mengijinkan dibentuknya komisi independen penyidik tragedi WTC. Alih-alih membentuk komisi penyidik independen, Presiden Bush justru menginisiasi UU Patriot Act yang salah satu pasalnya melarang semua penyidikan dikaitkan dengan perusahaan-perusahaan asing yang melayani bandara-bandara tempat tinggal landasnya pesawat-pesawat jet yang terlibat dalam serangan WTC. Beberapa perusahaan asing tersebut, khususnya yang melayani jasa keamanaan yang bertanggung jawab atas masuk keluarnya orang dan barang di bandara-bandara tersebut, ternyata milik warga Israel.

Penulis menduga spekulan “Bin Laden” melakukan aksinya berdasarkan perhitungan bahwa Amerika menyerang Iran karena alasan pengembangan senjata nuklir oleh negara Teluk Persia itu. Pada bulan-bulan Agustus dan September memang terjadi spekulasi kuat tentang aksi tersebut menyusul ancaman Amerika yang semakin kuat kepada Iran termasuk aksi penggelaran pasukan sekutu di Teluk Persia dan aksi penyusupan militer Inggris ke perairan Iran. Hanya sentimen anti-perang rakyat Amerika saja yang membuat Presiden Bush menunda rencana tersebut. Apalagi setelah kalangan intelegen Amerika mengumumkan hasil investigasinya atas program nuklir Iran dan menyebutkan Iran telah menghentikan program nuklirnya sejak tahun 2003.

Sampai saat ini tidak ada perubahan yang signifikan dari saham-saham di bursa-bursa saham Eropa dan dipastikan spekulan “Bin Laden” mengalami kerugian besar. Namun apalah artinya kerugian Rp 10 triliun dibandingkan kekayaan yang telah dipupuk oleh para penguasa sektor keuangan dunia selama puluhan hingga ratusan tahun. Tagihan mereka kepada pemerintah Amerika saja mencapai 9 triliun dolar atau sekitar Rp 90.000 triliun (sampai saat ini hutang pemerintah Amerika mencapai angka US$ 9 triliun, pen). Lagi pula mereka masih optimis Presiden Bush masih cukup “gila” untuk melakukan aksinya menyerang Iran sebelum masa jabatannya berakhir.

SEPUTAR INDEPENDENSI BANK SENTRAL


Indonesian Free Press -- Independensi bank sentral merupakan suatu “kebenaran” yang harus diikuti oleh semua negara di dunia modern sekarang ini. Nilai kebenaran tersebut nyaris setara dengan konsep demokrasi dalam dunia politik ataupun konsep persaingan bebas dalam dunia ekonomi.

Dalam rangka menetapi kebenaran tersebut dahulu penulis sangat kagum dengan Gubernur bank sentral Jerman Karl Otto Pohl yang mengundurkan diri dari jabatan demi menjaga independensi Bundesbank (bank sentral Jerman) dari intervensi pemerintah pada akhir dekade 1980-an. Penulis juga mendukung penuh upaya perlawanan yang dilakukan Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin terhadap Presiden Abdurrahman Wahid yang berusaha menyingkirkannya dari jabatan. Penulis juga terkagum-kagum pada otoritas moneter Norwegia yang memindahkan kantor pusat bank sentral dari ibukota Oslo ke kota Trondhaim yang berjauhan dalam rangka menjaga independensi bank sentral dari intervensi pemerintah.

Dalam pemahaman penulis, terlepas dari berbagai teori moneter yang pernah penulis pelajari, fungsi utama bank sentral adalah menjaga kestabilan nilai uang dan ketersediaan modal bagi dunia usaha dalam rangka menjamin pertumbuhan ekonomi yang stabil, mantap dan berkesinambungan.

Namun seiring perkembangan jaman, penulis sering dibingungkan dengan berbagai kasus di mana bank sentral tidak menjalankan fungsi tersebut dengan semestinya dan justru melakukan kebijakan yang bertentangan. Banyak sekali terjadi kasus dimana pada saat dunia usaha membutuhkan modal, bank sentral justru melakukan kebijakan tight money. Contoh mutakhirnya terjadi baru-baru ini dimana Bank Indonesia baru saja menaikkan suku bunga (BI rate). Padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa pada saat ini sebagian besar dana masyarakat yang semestinya bisa didistribusikan untuk mendorong dunia usaha yang kekurangan modal, justru menumpuk di Bank Indonesia. Berdasarkan data Bank Indonesia, per-Januari 2008 dana masyarakat yang disimpan dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI) mencapai Rp 272 triliun, jumlah yang sangat berarti untuk mendorong dunia usaha yang membutuhkan modal.

WARNA WARNI BENDERA PARTAI


Suatu hari di tahun 532 M di ibukota kerajaan Romawi, Konstantinopel. Puluhan ribu rakyat Romawi berkumpul di Hippodrome, stadion kebanggaan Romawi tampat biasa diadakan pertunjukan gladiator, pacuan kuda dan aneka lomba kesukaan rakyat Romawi saat itu. Namun bukannya menyaksikan pertunjukan, mereka ternyata tengah merencanakan kudeta terhadap kekuasaan Maharaja Justinianus, raja besar Romawi yang salah satu warisannya, Codex Justinianus, dihargai sebagai salah satu sistem hukum terbaik sepanjang sejarah.

Saat itu rakyat Romawi terbagi dalam dua golongan, yaitu partai biru dan partai hijau. Kedua partai itu berdiri bukan atas dasar idiologi tertentu, atau berdasarkan ide dari sekelompok orang yang mempunyai visi dan misi tertentu. Kedua partai itu berdiri “secara kebetulan” dan “dengan sendirinya”.

Awalnya adalah di Hippodrome terdapat empat sudut tempat empat tim gladiator berkumpul sebelum bertanding melawan tim lain. Tiap sudut diberi tanda warna berbeda-beda, dua di antaranya biru dan hijau. Keempat tim gladiator memiliki pendukung sendiri-sendiri. Saking fanatiknya dukungan terhadap tim-tim tersebut hingga rakyat Romawi pun terpecah ke dalam empat golongan warna. Dalam proses selanjutnya, mirip proses koalisi permanen di dunia politik modern, keempat golongan warna itu pun terpolarisasi menjadi dua golongan saja yaitu partai biru dan partai hijau. Sangat boleh jadi partai ecek-ecek dari Romawi ini merupakan cikal bakal partai-partai politik jaman modern saat ini.

Pemberontakan dipicu oleh kenyataan bahwa maharaja secara de facto telah berada di bawah kendali istrinya, Theodora, mantan pelacur yang dibenci rakyat. Singkat kata rakyat tidak menginginkan kekuasaan jatuh ke tangan pihak yang tidak disukainya.

Saat itu pemberontakan hampir berhasil menumbangkan Maharaja Justinianus setelah pasukan kerajaan dikalahkan dalam pertempuran sengit di dalam Hippodrome. Namun saat kemenangan berada di depan mata, tiba-tiba muncul rasa saling curiga di antara kedua golongan bahwa golongan yang lain bakal menyingkirkan mereka setelah berkuasa. Maka kedua golongan itupun saling serang hingga segelintir orang saja yang berhasil menyelamatkan diri dari maut dan mengakhiri pemberontakan dengan cara yang sangat tragis.

Saat ini pun di Indonesia muncul fenomena sebagaimana fenomena di jaman Romawi, namun dengan kuantitas yang lebih besar. Berbagai golongan bersaing untuk memperebutkan kursi kekuasaan sebagai Bupati, Walikota, Gubernur hingga Presiden. Berbagai warna bendera pun turut berkibar di tengah-tengah persaingan itu. Perang bendera bahkan dipastikan bakal lebih ramai lagi saat Pemilu dilangsungkan tahun depan.

Namun penulis agak khawatir, sebagaimana fenomena jaman Romawi, berkibarnya berbagai macam warna bendera itu tidak dilandasi oleh idiologi atau idealisme tertentu yang bisa dipercaya dapat memakmurkan rakyat. Hampir semua partai “mengkhianati” landasan idiologinya sendiri. Partai yang mengaku nasionalis justru paling suka menjual asset-asset strategis bangsa kepada orang asing. Partai yang berazas agama justru menolak agama menjadi dasar hukum negara. Partai sekuler justru menggunakan simbol-simbol agama untuk menggaet konstituen. Dan yang paling baru adalah sebuah partai yang mengaku berazas Islam dan bergerak di masjid-masjid berubah haluan menjadi “Partai Liberal” yang aktivitasnya berpindah ke hotel dan kafe-kafe.

Tapi itulah realitas politik. Kekuasaan dan uang mengalahkan idealisme. Anggapan bahwa “politik itu kotor” mungkin merupakan keimanan manusia modern di seluruh dunia. Bukankah pemerintahan Partai Buruh Inggris di bawah PM Tony Blair justru membantu Amerika dalam “perang melawan terorisme” yang dikobarkan Amerika. Padahal teroris yang dikejar Amerika justru telah menghancurkan simbol kapitalisme World Trade Center, dan hal itu mestinya menyenangkan Partai Buruh, Partai Sosialis dan Partai Komunis serta partai-partai berhaluan kiri di seluruh dunia. Fakta sebenarnya adalah bahwa Perdana Menteri Tony Blair, seorang tokoh pejuang hak-hak buruh, ternyata seorang komisaris sebuah perusahaan kapitalis Amerika.

Mungkin fakta yang mencoreng idealisme golongan sosialis/komunis itu sudah diketahui umum. Tapi siapa peduli? Sama halnya dengan ketidak pedulian para pendukung partai nasionalis Indonesia terhadap tingkah pemimpinnya yang mengkhianati idealisme golongan nasionalis dengan menjual aset-aset strategis negara kepada orang asing. Sama halnya dengan para pendukung partai Islam yang tidak peduli dengan ulah pemimpinnya yang dengan seenaknya mengubah haluan partai dari Partai Islam pembela kepentingan umat Islam menjadi “partai terbuka” milik semua orang.

Kembali ke jaman Romawi. Kebencian rakyat Romawi kepada seorang pelacur yang mampu menundukkan raja mereka tidak lebih dari sikap yang berlebih-lebihan. Saat itu seks bebas dan pelacuran merupakan bagian kehidupan masyarakat sehari-hari. Meskipun agama Kristen, sebagaimana agama wahyu Yahudi dan Islam yang melarang perzinahan, sudah diterima sebagai agama resmi negara. Seluruh penduduk dewasa Romawi adalah penggemar pelacuran. Dari gembel hingga kaisar, dan dari penjahat sampai pendeta. Famosa, julukan untuk pelacur tercantik dan terpopuler, adalah bagian raja, dan yang lain mendapat sisanya.

Sampai jaman modern pun politik dan seks nyaris tidak dapat dipisahkan. Bukankah rakyat Perancis membiarkan pemimpin mereka, Perdana Menteri Sarkozy memelihara gundik yang dibawa ke manapun ia pergi. Negara para ulama, Mesir pun mengijinkan perilaku zinah di rumah mereka dengan mengijinkan Sarkozy tidur satu kamar dengan gundiknya saat berkunjung ke Mesir. Hanya di Arab Saudi kebiasaan Sarkozy itu dilarang.

Tahun lalu Indonesia pun sempat digegerkan oleh ulah seorang politisi senior yang terbongkar memelihara seorang gundik. Ironisnya politisi itu nyaris diangkat sebagai menteri agama karena kesalehan dan aktivitas dakwahnya sebagai aktivis ormas Islam. Terbongkarnya kebiasaan Gubernur New York Eliot Spitzer memelihara gundik hingga menggemparkan Amerika dan menjadi berita dunia baru-baru ini, hanyalah fenomena gunung es dari perlaku menyimpang para politisi dan penguasa.

Pameo “Politik itu kotor” belum bisa dihilangkan. Bahkan oleh politisi-politisi yang berasal dari partai-partai agama.

***

Supremasi Yahudi bukan Omong Kosong


Berita-berita di media massa nasional bulan Desember 2007: Lima orang pengurus wilayah organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, Muhamaddiyah dan NU, berkunjung ke Israel. Salah satu agenda mereka adalah menghadiri perayaan hari raya keagamaan Yahudi Hanukkah yang ditandai dengan penyalaan lampu menorah.

Pada tanggal 4 Desember 2007 lalu sebuah menorah (sebuah benda berbentuk sembilan sula yang ujung-ujungnya berupa lampu atau lilin, simbol utama agama Yahudi, oleh ummat Islam disebut sebagai lambang pohon gorgot sebagaimana disebut dalam hadits Nabi Muhammad) raksasa didirikan di pelataran, tepat di depan istana presiden Gedung Putih, Washington DC, Amerika).

Apa masalahnya?

Masalahnya sebenarnya sangat banyak dan mendasar, kontroversial bahkan cenderung provokatif. Bagaimana mungkin di lokasi “sakral” seperti Gedung Putih dimana bahkan salib (lambang agama Kristen yang dianut oleh mayoritas rakyat Amerika) dilarang didirikan, sebuah lambang agama minoritas bisa berdiri.

Masih ada lagi kontroversi lainnya: Peresmian bangunan tersebut dilakukan oleh pejabat publik, Jaksa Agung Michael Mukasey. Padahal sebagai negara sekuler Amerika melarang hal-hal yang terkait dengan agama dikaitkan dengan simbol-simbol kenegaraan: tempat-tempat publik dan pejabat-pejabat publik. Untuk yang satu ini pemerintah Amerika bahkan melarang kebiasaan berdoa bersama (secara Kristen) di sekolah-sekolah publik (milik pemerintah).

Masih ada lagi kontroversi lainnya: Menorah adalah sebuah lambang rasisme. Tepatnya menorah dibuat oleh bangsa Yahudi untuk mengingatkan kaum Yahudi bahwa orang-orang Yahudi, sebagai manusia pilihan Tuhan, dilarang melakukan asimilasi (pembauran) dengan orang-orang non-Yahudi. Padahal sebagai negara yang mengklaim diri sebagai lokomotif demokrasi, Amerika mestinya mengharamkan simbol-simbol rasisme.

Masih ada lagi kontroversi lainnya: Menorah besar kini berdiri di ratusan bangunan pemerintah di seluruh Amerika, sementara lambang-lambang agama lain termasuk Kristen dan apalagi Islam, dilarang. Selain di pelataran, menorah juga berdiri di dalam istana Gedung Putih. Menorah itu, bukan salib, tragisnya menjadi benda upacara peringatan hari Natal di Gedung Putih yang dilakukan oleh George Bush, Presiden Amerika yang beragama Kristen.

Yang ini mengejutkan: Menorah berdiri di ratusan kantor pemerintah dan gedung parlemen di negara-negara Eropa yang selama ini dikenal sebagai negara sekuler. Menurut situs lubavitch.com milik kelompok Yahudi garis keras chabad lubavitch, sampai saat ini setidaknya ada 10.000 tempat publik di seluruh dunia, terutama lapangan-lapangan umum, dihiasi dengan menorah, mulai dari kota-kota besar Amerika dan Eropa, hingga New Delhi di India dan Peking di China.

Perayaan hari Hanukkah yang ditandai dengan penyalaan lampu menorah dilakukan untuk memperingati “kemenangan” bangsa Yahudi atas bangsa Yunani di tanah Palestina abad 2 Sebelum Masehi. Peperangan antara Yahudi melawan Yunani terjadi murni karena masalah agama. Orang-orang Yahudi marah karena raja Yunani yang menguasai Palestina dimana bangsa Yahudi tinggal, Anthiochus IV, memadukan ritual-ritual Yunani pada upacara-upacara keagamaan Yahudi. Anthiocus melakukan hal itu karena kenyataan terjadinya asimilasi antara bangsa Yahudi dengan Yunani. Merasa terancam kemurnian agamanya terganggu, di bawah pimpinan Macabbees bangsa Yahudi memberontak dan berhasil mengalahkan bangsa Yunani.

Dan meskipun bangsa Yunani menerima asimilasi dengan Yahudi, orang-orang Yahudi dengan sangat kejam membalas “kekurang ajaran” orang-orang Yunani mengotori agama mereka. Kekejaman itu bahkan tidak terbayangkan oleh orang-orang jaman dahulu di mana standar moral masih sangat rendah dibanding jaman sekarang. Setelah dimutilasi, tubuh orang-orang Yunani (maaf, pen) direbus di dalam kuali. Ususnya (ma’af. pen) dijadikan ikat pinggang. Semuanya itu tercatat dalam manuskrip-manuskrip kuno yang masih ada sampai sekarang.

Latar belakang itulah yang menyebabkan perayaan hari raya Hannukah, sampai saat ini oleh orang-orang Yahudi dianggap sebagai kemenangan agama dan bangsa Yahudi dari agama dan bangsa lainnya sekaligus mengukuhkan diri sebagai bangsa pilihan Tuhan.

Pembangunan simbol Yahudi di tempat-tempat publik berbagai negara di dunia menunjukkan dominasi Yahudi tidak lagi sebagai sebuah ilusi. Bahkan sebelum menorah-menorah itu berdiri orang-orang yang “memiliki informasi baik” telah tahu bahwa Yahudi, bangsa yang paling dibenci oleh bangsa-bangsa lain di dunia karena kelicikan dan kekejamannya, secara riel telah menguasai dunia melalui militer Amerika dan NATO, jaringan media massa, perusahaan-perusahaan trans-nasional, high paid professionals, politisi, public figure hingga tokoh-tokoh agama non-Yahudi.

Dominasi Yahudi tidak datang seketika. Sampai awal abad 20 mayoritas rakyat Amerika tidak mengenal libur hari Sabtu (Sabbath). Sentimen anti Yahudi pun masih sangat tinggi di sebagian besar rakyat Amerika. Namun semuanya itu berubah dengan sangat drastis. Orang-orang Yahudi berhasil memaksakan hari Sabtu sebagai hari libur nasional. Simbol-simbol Yahudi pun menggusur simbol-simbol Kristen di tempat-tempat publik termasuk Gedung Putih. Sampai saat ini pun orang-orang Yahudi masih terus berusaha menyingkirkan simbol-simbol Kristen. Kasus terakhir yang tengah marak saat ini adalah tuntutan organisasi-organisasi Yahudi agar bentuk susunan kursi dalam gedung parlemen Amerika diubah karena menurut mereka membentuk tanda salib.

Yang sangat ironis justru adalah nasib orang-orang kulit putih di Amerika yang mayoritas beragama Kristen. Sebagai pendiri Amerika dan etnis mayoritas, sedikit demi sedikit mereka tersingkir dari domainnya. Secara demografis dan sosiologis kedudukan mereka mulai tersingkir oleh etnis kulit hitam dan etnis pendatang lainnya. Di panggung bisnis dan politik mereka tersingkir oleh Yahudi. Media massa, film-film Hollywood dan dunia hiburan (yang dikuasai Yahudi) pun cenderung tidak berpihak kepada mereka. Di beberapa kota termasuk New Orleans, orang-orang kulit putih terpaksa menyingkir ke pinggiran karena kalah bersaing dengan orang-orang kulit hitam dan para imigran. Apalagi dengan rencana diterapkannya undang-undang imigrasi baru yang memberikan hak kewarganegaraan bagi 20 juta pendatang haram, maka orang kulit putih akan semakin terdesak.

Tidak heran bila saat ini muncul kelompok-kelompok ekstremis kulit putih yang bertujuan mengembalikan dominasi kulit putih di Amerika. Beberapa aksi mereka yang terkenal adalah peledakan gedung federal di Oklahoma City serta insiden Waco. Aspirasi kaum kulit putih yang terpinggirkan itu dapat dilihat dengan jelas di beberapa media massa dan situs internet seperti davidduke, counterpunch, american free press, barnes review dll.

Seiring dengan maraknya pembangunan menorah di berbagai penjuru dunia, di Indonesia sendiri simbol-simbol Yahudi beberapa waktu terakhir ini mulai banyak bermunculan. Di beberapa sudut kota Jakarta muncul graffity berbentuk bintang daud (lambang utama Yahudi selain menorah). Di Bandung seorang caleg Gubernur Propinsi Jawa Barat memasang simbol bintang daud di spanduk-spanduk kampanyenya. Beberapa seniman dan selebriti, termasuk pentolan group band Dewa, Ahmad Dhani (diduga seorang keturunan Yahudi Jerman), tanpa takut menggunakan aksesoris bintang daud. Seorang mantan presiden pun tanpa merasa risih mengaku menjadi anggota LSM Yahudi dan dengan kedok demokrasi, HAM dan kebebasan berekspresi (kedok yang sama yang diucapkan para agen Yahudi di seluruh dunia sejak Revolusi Perancis, pen) terus-menerus meneriakkan kepentingan Yahudi. Semuanya itu paralel dengan menggemanya wacana pembukaan hubungan resmi dengan Israel yang ditentang keras ummat Islam Indonesia.

Saat ini para birokrat pemerintah dan politisi Indonesia sudah tidak alergi lagi berhubungan dengan orang-orang Yahudi, hal yang masih sangat tabu beberapa tahun lalu. Para pengusaha? Apalagi. Hanya kalangan ummat Islam saja ---yang berdasarkan rasa solidaritasnya kepada rakyat Palestina dan bangsa Arab yang masih dijajah Israel, serta karena keyakinan agama ---, yang “alergi Yahudi”. Kunjungan para ulama ke Israel merupakan test case bagi ummat Islam Indonesia. Memang pimpinan NU dan Muhammadiyah mengaku tidak tahu-menahu kunjungan anggotanya ke Israel. Namun hal itu tetap menjadi pertanyaan ummat. Mungkinkah kelima orang ulama itu berani berkunjung ke Israel tanpa backing siapa-siapa di tanah air? Bukankah mereka menghadapi resiko yang sangat besar? (Minimal diturunkan dari kepengurusan organisasi dan maksimal fatwa mati oleh ulama yang menentang tindakan mereka).

Sepak terjang Yahudi yang kotor sebenarnya sudah sering kita rasakan. Beberapa waktu lalu misalnya, Monsanto, perusahaan agribisnis milik Yahudi menyuap seorang Menneg LH yang sayangnya kasusnya di-“peti eskan”. Monsanto juga telah menyelundupkan produk ilegal kapas transgenik ke Indonesia setelah menyuap beberapa pejabat teras Departeman Pertanian. Penyelundupan daging ayam “haram” asal Amerika yang pernah diributkan media massa beberapa waktu lalu diduga juga dilakukan oleh perusahaan ini. Monsanto adalah perusahaan agribisnis terbesar dunia yang paling kontroversial yang sering dikecam kalangan pecinta lingkungan karena produk-produknya yang tidak ramah lingkungan di samping praktik-praktik ilegal yang dilakukannya.

Secara de facto sebenarnya Yahudi sudah menancapkan kekuasaannya di Indonesia, melalui penguasaan saham-saham perusahaan Indonesia, dan juga melalui spion-spionnya yang bertebaran di kursi birokrasi sipil dan militer, LSM, media massa, artis, rokhaniawan, budayawan, cendekiawan hingga politisi. Bukankah mantan Kasad Jendral Ryamizard Ryacudu pernah menyatakan bahwa ada puluhan ribu spion asing yang tinggal di Indonesia? Hanya karena adanya resistensi umat Islam saja maka dominasi Yahudi masih tampak “malu-malu kucing”.

Terkait kunjungan ulama Indonesia ke Israel kini ummat Islam tinggal menunggu reaksi organisasi-organisasi massa Islam. Jika NU dan Muhammadiyah tidak memberikan sanksi apa-apa kepada kelima ulama maka jelas sudah kunjungan mereka telah mendapat restu dari pimpinan organisasi mereka. Jika itu yang terjadi, apalagi jika MUI pun diam seribu basa, maka “harapan” tinggal pada ormas-ormas Islam “radikal” seperti MMI dan FPI.

Lima orang pengurus wilayah NU dan Muhammadiyah sebenarnya hanya batu loncatan saja. Yang dibidik oleh kaum zionis adalah NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi massa Islam terbesar di negara Islam terbesar di dunia, Indonesia. Jika NU dan Muhammadiyah dapat “dijinakkan”, maka kedua organisasi itu bakal menjadi bemper bagi dominasi Yahudi di Indonesia. Suatu saat mungkin tidak hanya pengurus wilayah NU dan Muhammadiyah saja yang datang ke Israel, melainkan para pimpinan pusatnya. Dan bila hubungan mesra Israel dengan NU dan Muhammadiyah sudah terjalin, maka bersiap-siaplah kita untuk melihat menorah raksasa berdiri megah di depan istana negara dan ambisi ummat Yahudi menjadi penguasa dunia tinggal di depan mata karena Indonesia sebagai negara Islam terbesar di dunia berhasil ditaklukkan.

Penerimaan dominasi Yahudi oleh bangsa Indonesia membawa implikasi yang sangat mendalam baik dari segi ketatanegaraan Indonesia maupun dari segi keimanan ummat Islam yang mayoritas di Indonesia. Penerimaan terhadap dominasi Yahudi berarti menerima bentuk-bentuk penjajahan dan penindasan karena terbukti Israel-lah bangsa satu-satunya di dunia yang masih mempraktekkan hukum apartheid dan penjajahan yang bertentangan dengan konstitusi Indonesia. Dari segi agama penerimaan terhadap Yahudi berarti menentang isi Al Qur’an dan hadits-hadits nabi Muhammad S.A.W yang secara tegas melarang ummat Islam menjalin hubungan dengan mereka setelah terbukti watak mereka yang jahat.

Meski dominasi Yahudi sudah di depan mata, namun penulis masih percaya pada takdir mulia yang melekat pada bangsa ini. Hanya bangsa Nusantara Indonesia-lah yang punya pengalaman sejarah mengalahkan kekuatan-kekuatan besar jahat dunia. Indonesia pernah mengalahkan imperalisme Mongolia, kolonialisme Eropa dan juga komunisme. Insya Allah anak cucu Raden Wijaya, Gadjah Mada, Singamangaraja, Hasanuddin dan Diponegoro juga akan mengalahkan Zionisme Yahudi.

***

PILIH DOLAR ATAU LIBERTY DOLLAR


Karena nilainya yang tidak stabil, Wakil Presiden Jusuf Kalla memutuskan Indonesia tidak lagi menggunakan mata uang dolar dalam setiap transaksi migas di pasar internasional.

(Berita-berita di media massa nasional bulan Nobember 2007).

Pada tanggal 14 November lalu terjadi peristiwa yang cukup mengagetkan di kota Evansville, Indiana, Amerika Serikat. Belasan petugas keamanan bersenjata dari FBI (kepolisian pusat) dan IRS (penyidik pajak) menyerbu kantor NORFED, produsen dan distributor uang emas dolar yang dikenal dengan nama Liberty Dollar.

Selama enam jam lebih para petugas mengumpulkan dan menyita dokumen dan dua ton logam mulia (emas, perak dan platina) dari kantor tersebut. Dan meskipun peristiwanya sangat menarik, media-media massa utama Amerika, kecuali beberapa media massa independen yang umumnya relatif kecil, diam seribu bahasa.

Ada apa di balik peristiwa itu?

Hal itu terkait dengan masalah legalitas “mata uang dollar” yang beredar di masyarakat, dan masalah itu secara mendasar menyentuh konstitusi Amerika. Sebagian orang, yang diwakili NORED menganggap mata uang dolar yang beredar di masyarakat dan diterbitkan oleh bank sentral (Federal Reserve Bank) adalah ilegal dan merupakan bentuk penipuan negara terhadap rakyat. Sedangkan pemerintah dan bank sentral menganggap mata uang dolar yang beredar di masyarakat adalah mata uang yang sah menurut undang-undang dan mata uang dolar selain itu adalah ilegal.

NORFED dibentuk tahun 1998 dengan tujuan menggantikan mata uang dolar terbitan Federal Reserve (The Fed). Sebagai tandingan dolar buatan The Fed, NORFED mencetak mata uang logam emas, perak. Selain itu untuk kepraktisan NORFED juga mencetak “uang kertas” berupa nota yang menjamin kepemilikan uang logam NORFED yang dapat dipertukarkan.

Tahun lalu “serangan” terhadap NORFED dimulai oleh pemerintah yang menganggap NORFED menipu masyarakat. Selanjutnya serangan pemerintah semakin keras hingga Presiden Bush sendiri mengancam akan malakukan tindakan keras. Mengantitipasi tindakan pemerintah, NORFED selalu menganjurkan para pengguna “uang kertas”-nya untuk menggantinya dengan uang logam. Dari sekitar 20 juta dolar uang Liberty Dollar yang dicetak NORFED, hanya 1 juta dolar yang berupa “uang kertas”.

NORFED mengklaim mata uangnya sebagai “dorongan kepada masyarakat untuk mendapatkan mata uang yang bebas inflasi sekaligus melindungi daya beli masyarakat.”

Para pendukung mata uang logam menuduh serangan pemerintah terhadap sistem mata uang alternatif tersebut sebagai bentuk ketakutan yang berlebihan dan merupakan upaya untuk mengalihkan perhatian terhadap runtuhnya kepercayaan terhadap uang kertas dolar.

Sebenarnyalah mata uang logam memiliki legalitas yang lebih kuat. Konstitusi Amerika menyebutkan bahwa “semua negara bagian dilarang membuat alat pembayaran hutang kecuali dengan koin emas dan perak”. Selain itu undang-undang Coinage Act tahun 1792 menyebutkan bahwa mata uang dollar sebagai standar nilai dari emas dan perak seberat masing-masing 25,5 grain dan 412,5 grain. Konstitusi Amerika juga menyebutkan bahwa “mata uang yang sah di Amerika harus “dapat diartikan” sebagai emas dan perak Amerika.”

Namun yang terjadi saat ini adalah tidak ada satu mata uang dollar pun yang mengandung perak sejak tahun 1968. Sedangkan produksi koin emas dollar telah dihentikan sejak tahun 1933 pada masa kepresidenan Franklin D. Rossevelt. Uang kertas keluaran The Fed diterbitkan pertama kali tahun 1963 tanpa menyertakan pernyataan terkenal yang biasanya terdapat di sebelah atas kiri yang berbunyi: “Nota ini adalah alat pembayaran yang sah untuk semua hutang baik umum maupun pribadi, dan dapat ditebus dengan “lawful money” (emas atau perak) di Departemen Keuangan maupun Bank Sentral (The Fed)”. Uang kertas baru ini oleh senator Ron Paul disebutnya sebagai “FRAUD” atau penipuan, yang disingkat dari Federal Reserve Accounting Unit Dollars.

Selama lima tahun (1963-1968) beredar dua jenis uang dolar, yaitu kertas lama yang dapat ditukar dengan logam mulia dan uang kertas baru keluaran The Fed yang tidak dapat ditukar. Namun mulai tahun 1968 bank-bank, kecuali bank sentral, menolak menukarkan semua uang kertas dengan emas dan perak. Akhirnya semua uang kertas yang dapat ditukar emas dan perak itu disimpan oleh bank-bank dan tinggallah di peredaran hanya uang kertas keluaran The Fed yang tidak memiliki nilai intrinsik.

Bila dahulu uang kertas hanya sebuah catatan bahwa pemegang uang tersebut memiliki simpanan emas dan perak di brankas pemerintah, sehingga uang kertas tersebut bisa diterima sebagai alat tukar-menukar, maka sekarang tidak lagi.

Penulis ingin mengilustrasikan sedikit tentang terciptanya uang kertas. Pada jaman dahulu alat tukar menukar yang sah dan terpercaya adalah koin emas dan perak. Uang kertas pertama muncul karena pemerintah suatu negara yang kekurangan uang untuk membiayai belanjanya (biasanya karena perang) berhutang kepada pemilik modal (secara kebetulan mereka umumnya berdarah Yahudi karena saat itu hanya etnis Yahudi-lah yang menghalalkan riba). Sebagai jaminan atas pengembalian hutang yang dipinjamnya pemerintah mengeluarkan nota di atas kertas yang menyebutkan nilai hutang tersebut. Semakin banyak hutang pemerintah, semakin banyak pula nota hutang yang dikeluarkan. Selanjutnya oleh pemilik modal nota-nota tersebut mulai digunakan sebagai alat jual beli. Karena adanya jaminan pemerintah, orang mau menukarkan propertinya dengan “uang kertas” tersebut karena percaya setiap saat “uang kertas” tersebut dapat ditukarkan dengan emas atau perak.

Pada tahap ini sebenarnya telah terjadi penipuan. Pemerintah dan pemilik modal telah menipu masyarakat karena dengan nota tersebut seolah-olah pemerintah masih mempunyai cadangan emas dan perak yang cukup, padahal tidak lagi. Bila pemilik “uang kertas” ingin menukarnya dengan emas atau perak, maka ia tidak akan mendapatkannya.

Kejahatan semakin besar lagi saat hak untuk mengeluarkan “uang kertas” tidak lagi dipegang oleh pemerintah, melainkan oleh para pemilik modal seperti dalam kasus di Amerika atau Inggris misalnya. Karena hal ini berarti menyerahkan nasib seluruh rakyat ke tangan segelintir orang tanpa dasar hukum apapun. Pemilik modal dapat seenaknya mengeruk seluruh kekayaan negara dan memperlakukan rakyat bahkan pemerintah negara tersebut sesukanya. Bila menginginkan pemerintahan jatuh, mereka cukup mencetak uang kertas sebanyak-banyaknya, inflasi pun akan melambung, depresi terjadi dan tumbanglah pemerintah. Bila ingin mengeruk kekayaan mereka cukup menarik uang dari peredaran sehingga deflasi pun terjadi dimana harga barang-barang melorot. Setelah itu mereka tinggal memborongnya dengan uang yang mereka cetak sendiri.

Dengan munculnya kembali uang koin emas dan perak sebagai alat tukar-menukar, tentu saja para pemilik modal yang menguasai uang kertas merasa terancam. Tidak heran jika mereka, melalui pemerintah yang dikendalikannya, mengancamnya dengan tindakan hukum. Namun tentu saja tidak semudah itu mengingat konstitusi Amerika sendiri melindungi uang koin. Diperkirakan masalah ini akan menjadi menjadi sebuah isu yang besar seiring semakin banyaknya penggunaan koin emas dan perak di Amerika.

Saat ini NORFED mengklaim telah ada 10.000 asosiasi perdagangan dan 100.000 pengguna mata uang keluaran NORFED. Untuk melancarkan operasinya NORFED telah mengoperasikan 80 kantor kas di seluruh negeri.(Dimuat di Harian Batam Pos, 2007)

Monday, 21 July 2008

Bahaya Transaksi Derivatif

“At the same time we must intensively patronize trade and industry, but, first and foremost, speculation, the part played by which is to provide a counterpoise to industry: the absence of speculative industry will multiply capital in private hands and will serve to restore agriculture by freeing the land from indebtedness to the land banks. What we want is that industry should drain off from the land both labor and capital and by means of speculation transfer into our hands all the money of the world, and thereby throw all the GOYIM into the ranks of the proletariat. Then the GOYIM will bow down before us, if for no other reason but to get the right to exist”. (Protokol 6-6 Protocols of Learned Elders of Zion)

Membaca tulisan Fajar AS berjudul “Spekulan, Malapetaka Bahan Makanan & BBM Global” di harian Waspada 12 Juni 2008, saya teringat pada tulisan saya di sebuah harian nasional terbitan Batam setahun lalu berjudul “Ancaman Transaksi Derivatif”. Kedua tulisan sama-sama mencermati bahaya transaksi-transaksi spekulasi (derivatif) terhadap perekonomian global. Perbedaannya hanyalah data. Bila dalam tulisan saya tercatat GNP global masih sekitar $ 40 triliun, maka tahun lalu (dalam tulisan Fajar AS, pen.) sudah meningkat menjadi $ 48 triliun. Sementara itu nilai transaksi derivatif tahun 2006 masih sekitar $ 380 triliun, maka untuk tahun 2007 (tulisan Fajar AS, pen.) nilainya sudah membengkak menjadi $ 516 triliun.

Saya sangat setuju dengan misi yang disampaikan dalam tulisan itu. Terlepas penilaian saya bahwa tulisan Fajar AS sama sekali tidak memberikan analisis tentang korelasi antara transaksi spekulasi, malapetaka bahan makanan & BBM global serta hubungan antara subsidi pemerintah sebesar Rp 2.300 triliun dengan kesejahteraan rakyat, atau kalaupun sudah tersedia strategi pembangunan yang tepat darimana subsidi sebesar itu dikeluarkan pemerintah sementara untuk APBN yang hanya berkisar ratusan triliun saja pemerintah harus berhutang sana-sini.

Transaksi derivatif adalah transaksi-transaksi spekulatif atas turunan (derivate artinya adalah turunan, pen.) dari komoditi-komiditi riel. Contohnya adalah saham yang merupakan turunan dari asset-asset riel perusahaan, surat-surat berharga yang juga merupakan derivatif dari asset-aseet riel yang dijaminkan, termasuk juga uang kertas yang merupakan derivatif dari cadangan emas suatu negara.

Sebenarnya kekhawatiran mengenai dampak transaksi derivatif sudah lama disampaikan banyak orang. Pada tahun 1995-an misalnya majalah terkemuka Amerika, Newsweek menulis tentang bahaya transaksi ini. Kekhawatiran Newsweek adalah perkembangan kuantitas (jenis-jenis transaksi) dan kualitas (nilai transaksi) yang tidak terkira, jauh melampaui nilai transaksi riel (ini bisa terjadi karena sebuah derivasi dapat ditransaksikan berulang-ulang oleh banyak orang dan dengan berbagai jenis transaksi, tanpa batas). Dengan trend yang tidak berubah maka suatu saat perekonomian akan kolaps. Saat itu terjadi ketika para spekulan bosan memegang portofolio fiktif (saham, sertifikat, surat berharga lain termasuk uang kertas) dan menukarnya dengan portofolio riel (tanah, rumah, perhiasan, property, komoditi, makanan, dsb). Pada saat itu ternyata nilai portofolio riel jauh lebih sedikit dibandingkan nilai portofolio fiktif turunannya sehingga memicu kenaikan harga barang-barang yang tidak terkira.

Pada saat itulah terjadi depresi besar yang dampaknya tidak bisa dibayangkan. Jika fenomena Depresi Besar (Great Depression) tahun 1930-an saja, dimana perekonomian belum sebesar dan terintegrasi seperti sekarang, telah memicu terjadinya Perang Dunia II, maka boleh jadi depresi besar berikutnya akan memicu Perang Dunia III.

Dunia sebenarnya telah beberapa kali mengalami krisis atau depresi ekonomi akibat ulah para spekulan selain peristiwa Depresi Besar. Yang paling terkenal tentu saja Krisis Moneter tahun 1997 yang melanda kawasan Asia Timur. Fenomena ini sebenarnya sudah diawali sejak akhir dekade 1980-an saat dunia dilanda demam buku-buku karangan John Naisbitt dan Alvin Tofler seperti Megatrend, Future Shock, Third Wave dll. Buku-buku itu menghipnotis penduduk negara-negara Asia Timur dengan harapan yang melambung tentang kesejahteraan. Buku-buku itu menyebutkan Asia Timur adalah kawasan paling pesat pertumbuhan ekonominya dan bakal menjadi pusat perekonomian dunia.

Hal ini mendorong negara-negara di kawasan ini untuk memaksakan pembangunan besar-besaran. Dan karena tidak memiliki modal, negara-negara itu, terutama Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina, menggantungkan pembangunannya pada pinjaman dan “bantuan” luar negeri. Sebagian besar pinjaman itu berjangka waktu menengah yang jatuh temponya akhir dekade 1990-an. Dan pada saat negara-negara itu membutuhkan dolar untuk membayar hutangnya, para spekulan terlebih dahulu telah memborong dolar di pasar uang Asia sehingga nilai tukar dolar melambung tinggi. Pada saat itulah terjadi krisis moneter di kawasan Asia Timur.

Karena harus mengeluarkan jauh lebih besar resource-nya untuk membayar hutang, negara-negara Asia Timur mengalami depresi. Sampai saat ini pun dampak itu masih dirasakan Indonesia yang ditunjukkan dengan pendapatan per-kapita rakyat yang tidak pernah mencapai angka sebelum krisis. Apalagi bila mengingat sebagian anggaran pembangunan harus disisihkan hanya untuk membayar bunga hutang BLBI milik para konglomerat pengemplang yang harus ditanggung pemerintah dan dibebankan kepada rakyat. Nilainya mencapai Rp 35 triliun setahun, jumlah yang sangat besar untuk membantu para pengusaha kecil, atau untuk membangun sejuta rumah sederhana bagi rakyat miskin.

Besaran nilai transaksi-transaksi derivatif dan hasilnya pasti tidak pernah terbayangkan orang kebanyakan. Misalnya saja bagaimana Bill Gates hanya dalam waktu satu bulan, antara Agustus 2007 dan September 2007, mendapat tambahan kekayaan sebesar 3,29 miliar dolar (sekitar 32 triliun rupiah) tanpa kerja karena harga saham Microsoft naik 6,58 dolar per-saham di bursa saham New York. George Soros, yang oleh PM Malaysia Mahathir Mohammad dituduh sebagai spekulan penyebab krisis moneter 1997, dikabarkan mendapatkan keuntungan hingga $ 900 juta karena aksi borong dolarnya meski Soros sebenarnya hanyalah seorang highly paid professional atau front runner dari para pemilik modal sebenarnya. Eksistensi Soros tidak jauh berbeda dengan Rupert Murdoch yang bergerak di bidang pers atau Donald Trump yang bergerak di bidang property dan hiburan.

Namun transaksi spekulatif derivatif adalah zero sum game. Tidak menciptakan nilai tambah apapun. Keuntungan salah satu pihak merupakan kerugian pihak yang lain. Surat kabar American Free Press tahun lalu pernah menulis, seorang spekulan “gila” melakukan transaksi derivatif put senilai $4,5 miliar atau lebih dari Rp 40 triliun. Dengan transaksi itu spekulan tersebut berharap dalam waktu satu bulan (sampai tanggal 21 September 2008) pasar saham Eropa akan anjlok hingga 33%. Bila ekspektasi itu terwujud ia akan mengantongi keuntungan senilai Rp 20 triliun. Sebaliknya jika tidak terjadi maka ia harus menanggung kerugian senilai Rp 10 triliun. Para pelaku bursa saham Eropa menyebut spekulan yang namanya dirahasiakan tersebut sebagai Bin Laden, mengingat hanya kejadian besar seperti serangan World Trade Center (atau kejadian lain yang lebih hebat lagi) yang mampu membuat pasar saham Eropa anjlok 33%. Dipastikan spekulan itu rugi Rp 10 triliun karena ekspektasinya tidak tercapai.

Para analisis memperkirakan spekulan tersebut berani mempertaruhkan hartanya karena percaya Amerika akan menyerang Iran (saat itu konflik Amerika-Iran seputar program nuklir Iran tengah memuncak) sehingga mengakibatkan krisis energi dunia yang berimbas pada melorotnya indeks saham bursa-bursa saham dunia.

Namun apalah artinya Rp 10 triliun jika spekulan tersebut ternyata adalah salah satu pemilik obligasi pemerintah Amerika yang nilainya mencapai $ 9 triliun, atau hampir senilai Rp 90.000 triliun. Total kewajiban pemerintah Amerika (termasuk hutang) saja bahkan mencapai $ 50 triliun. Dipastikan sebagian besar dari kewajiban itu adalah disebabkan transaksi derivatif. Jumlah itu tidak akan pernah terlunasi meski ditanggung oleh seluruh rakyat Amerika.

Sebagian orang sangat yakin seyakin besok matahari terbit dari timur bahwa para spekulan-lah yang telah membuat harga komoditas dan BBM melambung berlipat-lipat sementara jumlah permintaan tidak pernah naik signifikan mengingat kenaikan penduduk dunia hanya berkisar 1-2% setahun. Sebagian orang tahu bahwa bursa minyak dunia New York yang menentukan harga minyak dunia sebenarnya berada di Rockefeller Center, kantor milik keluarga raja minyak Rockefeller. Sedangkan bursa emas London yang menentukan harga emas dunia berada di kantor keluarga Rothschild di London.

Mencermati fenomena transaksi spekulatif rasanya kurang afdhol jika tidak menyebut sebuah dokomen rahasia Protokol Zion yang bocor ke publik tahun 1905 di Rusia. Meski banyak yang menuduh dokomen ini rekayasa, namun banyak pula yang percaya dokumen itu asli dibuat oleh sekelompok orang tertentu (Yahudi) untuk menguasai dunia melalui skenario-skenario yang canggih, matang, juga keji. Keaslian dokumen tersebut dapat dianalisis berdasarkan fakta-fakta sejarah yang terjadi yang kejadiannya mirip dengan skenario pada Protokol Zion, seperti revolusi komunisme di Rusia (1908), Depresi Besar (1929-1930-an), Perang Dunia (1911-1918), runtuhnya negara-negara kerajaan Eropa (paska Perang Dunia), fenomena negara-negara yang terjerat hutang berkepanjangan dsb.

Dokumen itu juga menyinggung secara rinci mengenai transaksi derivatif. Disebutkannya bahwa perekonomian global harus berdiri di atas dasar spekulasi karena hanya dengan ini dapat dijamin kekayaan akan dikuasai oleh para pemilik modal. Tanpa spekulasi maka secara alamiah perekonomian akan tumbuh dan membuat semua orang sejahtera. Dan ini tidak diinginkan oleh orang-orang Yahudi karena merasa sebagai manusia istimewa pilihan Tuhan mereka menganggap paling berhak mewarisi dunia. Dengan spekulasi yang menghancurkan ekonomi maka kesejahteraan dapat dihilangkan dan kekayaan ekonomi berpindah tangan dalam sekejab ke tangan mereka.(Dimuat di Harian Batam Pos, 2007)

Pelajaran dari Haiti


Kekurangan pangan merupakan sebuah masalah yang tengah menjadi perhatian dunia akhir-akhir ini selain krisis minyak. Ekonom Malthus bahkan sudah mengeluarkan postulatnya seratus tahun lebih, yaitu bahwa pertumbuhan penduduk seperti deret ukur tidak sebanding dengan pertumbuhan sumber daya alam yang hanya seperti deret hitung sehingga manusia cenderung berada dalam ancaman kekurangan pangan.

Berbagai negara saat ini tercatat tengah dilanda kekurangan pangan: Korea Utara, Pakistan, Afghanistan, Burkina Faso, Cameroon, Pantai Gading, Mesir, Guinea, Mauritania, Mexico, Moroko, Senegal, Uzbekistan, Yaman dan masih banyak lagi. Indonesia pun tidak kalah mengkhawatirkannya dibandingkan negara-negara tersebut di atas. Kasus kelangkaan kedelai dan kasus meninggalnya keluarga Basse di Makassar belum lama ini seolah-oleh memberi legitimasi bahwa Indonesia, negara yang sejak dahulu dikenal sebagai negara subur makmur itu kini tengah dilanda krisis pangan.

Namun krisis yang paling ekstrem terjadi di Haiti. Karena krisis tersebut maka terjadi kerusuhan besar-besaran di seluruh negeri yang berbuntut jatuhnya pemerintahan Perdana Menteri Jacques-Eduard Alexis.

Media-media massa pada umumnya menyebutkan krisis pangan dunia akhir-akhir ini terjadi karena berbagai faktor seperti naiknya harga BBM dunia (yang mendorong naiknya biaya produksi pangan), perubahan iklim, kenaikan permintaan oleh negara-negara berpenduduk padat seperti Cina dan India, serta adanya pengalihan produksi pangan untuk produksi biofuel. Analisis media-media massa itu tidak pernah menghasilkan kesimpulan yang jelas.

Sebenarnya penulis tidak setuju dengan pendapat Malthus, atau pendapat-pendapat yang melegitimasi faktor-faktor tersebut di atas sebagai penyebab terjadinya krisis pangan. Penulis percaya bahwa manusia telah diberikan kemampuan untuk mengatasi berbagai kekurangan dengan akalnya. Teknologi yang dimiliki manusia telah memungkinkan produksi pangan dunia malampaui kebutuhan. Dengan teknologi, tanaman bahkan dapat hidup dan berproduksi di media yang paling ekstrim sekalipun seperti padang pasir.

Penulis lebih percaya pada kesalahan tata niaga dan kebijakan ekonomi di tingkat nasional, regional hingga global yang dikendalikan oleh kepentingan sekelompok pemilik modal yang hanya mementingkan keuntungan pribadi tanpa memikirkan nasib masyarakat. Contoh nyatanya adalah kasus korupsi yang dilakukan Kabulog Widjanarko Puspoyo. Widjanarko tentu bekerja tidak sendirian. Ia hanya menjalankan apa yang dikehendaki para pemilik modal yang mengambil keuntungan dari bisnis tata niaga beras di Indonesia.

Dan bila sumber sumber masalah itu sudah diketahui, maka masalah kekurangan pangan dapat dipastikan tidak pernah terjadi. Misalnya saja kita tidak perlu repot-repot memikirkan mengekspor beras karena produksi beras nasional belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan. Motif apa di balik wacana ekspor beras di berbagai media massa nasional belum lama ini kalau bukan motif keuntungan pribadi para pelaku bisnis beras. Dan bila ekspor beras benar-benar dilakukan maka sudah barang tentu ketahanan pangan nasional akan semakin rentan saja.

Kasus yang sama sebenarnya terjadi pada komoditi minyak bumi maupun minyak goreng. Bagaimana mungkin Indonesia bisa mengalami kelangkaan BBM dan minyak goreng sementara Indonesia adalah salah satu negara penghasil BBM dan kelapa sawit utama dunia. Mengapa sebagian besar hak eksploitasi minyak diberikan kepada asing. Mengapa sebagian besar dari produksi minyak mentah Pertamina (sisa dari hasil eksploitasi minyak mentah yang sebagian besarnya dikuasai asing) harus diekspor ke luar negeri dengan harga murah dan Pertamina mengimpor kembali minyak olahan dari luar negeri dengan harga tinggi?

Lebih detil mengenai krisis pangan penulis mengambil contoh kasus Haiti. Tiga puluh tahun lalu Haiti adalah negara swasembada beras. Tahun 1986, setelah tumbangnya rejim korup Jean Claude Duvalier, IMF memberikan pinjaman kepada Haiti senilai 24,6 juta dolar karena Duvalier melarikan kas negara ke luar negeri. Namun pinjaman itu disertai persyaratan-persyaratan yang memberatkan perekonomian Haiti. Persyaratan dimaksud adalah penurunan tarif impor beras sehingga pasar Haiti lebih terbuka bagi produk beras dari luar negeri.

Hanya dalama dua tahun beras impor dari Amerika membanjiri Haiti dan para petani lokal kehilangan penghasilannya. Beras Amerika lebih rendah harganya karena pemerintah Amerika memberikan subsidi. Sebagian lagi beras Amerika yang beredar di Haiti adalah beras yang berlabel “bantuan kemanusiaan”. Kesemuanya mematikan para petani.

Namun meski para pemilik modal sudah berhasil menguasai bisnis beras Haiti, mereka tetap tidak pernah puas. Pada tahun 1994, Amerika melalui lembaga-lembaga donor IMF dan Bank Dunia memaksa Presiden Jean Bertrand Aristide untuk lebih lebar lagi membuka pasar Haiti bagi produk luar negeri. Begitu teganya Amerika memperlakukan Haiti, negara kecil paling miskin di Amerika Latin dengan pendapatan per-kapita kurang dari 400 dolar. Saat ini Haiti, negara yang 35 tahun lalu berswasembada beras, adalah pengimpor beras terbesar dari Amerika dengan jumlah mencapai 240.000 metrik-ton per-tahun.

Cato Institute, sebuah lembaga penelitian Amerika pernah melaporkan bahwa beras adalah komoditi yang mendapat subsidi besar-besaran dari pemerintahnya dengan total subsidi mencapai 1 miliar dolar setahun. Akibatnya adalah ratusan juta petani di negara-negara miskin kehilangan pekerjaannya karena beras produksinya tidak dapat bersaing dengan beras Amerika. Dan saat negara lain menjadi tergantung kepada beras Amerika, para kapitalis Amerika mempermainkan harga beras sesukanya. Dan inilah yang terjadi di Haiti.

Ironisnya, pada saat Amerika melalui IMF dan World Bank menekan Haiti untuk menurunkan tarif impor, Amerika sendiri menerapkan tarif impor yang sangat tinggi, antara 3 sampai 24 persen, sehingga produk asing tidak bisa masuk.

Ketergantungan Haiti atas Amerika tidak saja pada komoditi beras, melainkan juga gula. Padahal Haiti dahulu dikenal sebagai produsen gula utama dunia. Saat ini kebutuhan gula Haiti dipenuhi oleh produksi gula Amerika yang diproduksi di Dominika dan Florida.

Di seluruh dunia diperkirakan terdapat sekitar 1 miliar penduduk hidup di bawah angka kemiskinan. Akibat krisis pangan dunia akhir-akhir ini dikhawatirkan sebanyak 850 penduduk terancam kelaparan. Selain itu sebanyak 33 negara di dunia terancam mengalami krisis sosial karena kekurangan pangan. Demikian pernyataan Presiden World Bank Robert Zoelich baru-baru ini.

Dalam kasus Haiti, Amerika memang mengulurkan bantuan, tetapi tetap dengan reserve. Berbeda dengan Venezuela, negara musuh Amerika, yang tanpa reserve mendrop 350 ton makanan ke Haiti, bantuan Amerika dengan syarat: dibeli dari petani Amerika, dibungkus di Amerika dan dikirim dengan kapal Amerika yang biayanya memakan separoh dari total nilai bantuan. Total bantuan Amerika untuk mengatasi krisis pangan dunia “hanya” 200 juta dolar.

Keprihatinan atas tata niaga perdagangan dunia yang tidak fair itu sempat dinyatakan oleh Presiden Brazil President Brazil Luiz Inacio Lula da Silva usai mengunjungi Haiti. Katanya, “Negara-negara kaya harus mengurangi subsidi dan tarif agar negara-negara terbelakang bisa mendapatkan keuntungan dari perdagangan. Jika dunia tidak menyelesaikan sistem perdagangan yang tidak fair ini, setiap saat akan terjadi kerusuhan seperti di Haiti.

Sunday, 20 July 2008

Kontradiksi Bangsa Inggris


Bangsa Inggris adalah satu bangsa dengan identitas diri yang sangat kuat sehingga membentuk rasa nasionalisme yang sangat kuat pada diri setiap orang Inggris. Itulah sebabnya mengapa Inggris paling “susah” untuk bergabung dengan Uni Eropa karena menganggap diri “lebih unggul” dibandingkan negara-negara lainnya di Eropa. Itu pula sebabnya mereka “ngotot” mempertahankan mata uangnya poundsterling meskipun Uni Eropa sudah memiliki matang uang sendiri Euro. Bagi mereka poundsterling adalah representasi paling utama terhadap eksistensi bangsa Inggris. Bila pounds hilang, maka berarti hilang pula eksistensi bangsa Inggris dan itu sangat ditentang oleh sebagian besar warga Inggris.

Romo Mangun, dalam sebuah tulisannya di Harian Kompas sebelum meninggal menggambarkan bagaimana kebanggaan orang Inggris terhadap bangsanya. Mereka yang tinggal di negara-negara jajahan lebih memilih melahirkan anak di kapal Inggris yang tengah berlabuh di pelabuhan daripada di rumah sakit. Karena anak yang lahir di kapal Inggris dianggap lebih memiliki darah Inggris daripada yang lahir di tanah jajahan.

Padahal sebenarnya Inggris memiliki banyak hal yang sangat kontradiktif terhadap “rasa kebanggaan nasionalis” yang berlebihan tersebut. Sebagai contoh, kesebelasan Inggris masih dipimpin oleh pelatih asal Italia, Fabio Capello. Kebijaksanaan luar negerinya yang “membebek” pada Amerika juga membuat eksistensi bangsa Inggris patut dipertanyakan. Dan kalau kita belajar sejarah, maka kontradiksi itu tampak jauh lebih besar lagi, termasuk pada “legalitas” raja-raja Inggris sendiri, simbol paling kuat sekaligus sakral bagi bangsa Inggris yang membuat mereka lebih memilih negara konstitusi monarki daripada negara republik atau bentuk negara yang lebih demokratis lainnya. Konon karena alasan menodai kesucian raja Inggris Putri Diana yang putranya bakal menjadi raja, dibunuh karena berencana kawin dengan keturunan imigran muslim asal Mesir, Dody el Fayed.

Pertama marilah kita mempelajari asal-usul bangsa Inggris. Bangsa Inggris sebenarnya terbentuk dari percampuran dari berbagai bangsa yang berasal dari luar Inggris. Bangsa pertama yang datang ke Inggris sekitar tahun 700 SM adalah Celtic yang berasal dari Eropa Tengah. Selama ratusan tahun bangsa-bangsa Celtic berbondong-bondong. Sebelum bangsa Romawi menguasai Inggris beberapa tahun sebelum masehi, terakhir adalah bangsa Belgic bermigrasi ke Inggris dan menempati wilayah tenggara Inggris sementara bangsa Celtic bergerak ke barat dan utara. Romawi menguasai sebagian besar Inggris kecuali wilayah Caledonia di sebelah utara yang tidak pernah tertaklukkan, sehingga Kaisar Hadrian (117-138) membangun Tembok Hadrian untuk mengisolasi Caledonia. Selama ratusan tahun kebudayaan Romawi turut membentuk budaya Inggris hingga Romawi hengkang dari Inggris pada tahun 410.

Sampai saat itu penguasa Inggris adalah bangsa Celtic hingga datangnya suku bangsa Angles dan Saxon dari Jerman yang kemudian menguasai seluruh wilayah selatan dan timur Inggris. Mereka mengklaim wilayah mereka sebagai England (Angel-land) dan menjuluki wilayah lainnya yang dikuasai suku Celtic di barat sebagai Weallas (sekarang menjadi Wales) yang artinya tanah orang asing. Sedangkan wilayah utara Tembok Hadrian dan sebagian Irlandia tetap dikuasai suku Celtic yang juga dianggap orang asing oleh orang-orang Anglo-Saxon. Sejak saat itu sejarah dan budaya Inggris terbentuk melalui dialektika politik dan kekuasaan antara suku bangsa Celtic dan Anglo-Saxon yang masing-masing mengklaim sebagai penguasa Inggris. Dialektika itu terkadang berlangsung damai, namun lebih sering diwarnai peperangan dan pertentangan hebat. Di antara dialektika perang tersebut adalah Perang Bannockburn dan Perang Culloden Moor. Gambaran Perang Bannockburn dapat dilihat dalam film Braveheart yang dibintangi Mel Gibson. Sedangkan perang Culloden Moor berlangsung sangat dramatis. Saat itu pasukan Celtic yang dipimpin “Bonnie Prince” Charles Edward Stuart hampir menguasai seluruh Inggris termasuk ibukota London, dan King George II sudah bersiap mengungsi ke Jerman. Hanya karena keteledoran strategi saja maka Bonnie Prince gagal merebut London.

Antara dialektika kekuasaan Celtic-Anglo-Saxon yang intens tersebut diselingi dengan kedatangan bangsa Normandia Perancis di bawah pimpinan Williams Penakluk yang datang ke Inggris dan merebut kekuasaan pada abad XI. Selanjutnya tanpa reservse bangsa Normandia turut membentuk jatidiri bangsa Inggris hingga sekarang sementara wajah perseteruan Celtic-Anglo-Saxons masih nampak sampai sekarang. Sebagai buktinya bangsa Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara (Celtic) masih mempertahankan tim sepakbolanya sendiri dan tidak mau menyatu dengan tim sepakbola Inggris (Anglo-Saxon). Sedangkan Irlandia setelah melalui perjuangan ratusan tahun akhirnya memperolah kemerdekaannya dari Inggris pada awal abad 21.

Tidak dapat dibantah, kejayaan Inggris di masa lalu dengan semboyannya The Sun Never Set in the British Empire telah membuat nasionalisme bangsa Inggris sangat kuat. Namun melihat kenyataan bahwa asal mula bangsa Inggris sendiri yang berasal dari berbagai suku di Eropa daratan membuat hal itu patut dipertanyakan. Terlebih lagi bila melihat fakta bahwa integrasi Inggris sebagai sebuah bangsa yang solid masih belum terwujud sampai sekarang.

Sekarang masih kita lihat legalitas raja-raja Inggris yang begitu dibanggakan bangsa Inggris. Selain pernah diperintah oleh orang Perancis (Williams Penakluk), Inggris pernah diperintah oleh orang Belanda (King Williams of Orange) tahun 1688, dan Jerman (King George of Hanover) tahun 1714. Keturunan King George I, raja asal Jerman yang tidak bisa berbahasa Inggris itu sampai saat ini masih memerintah Inggris. Selama ratusan tahun Inggris juga diperintah oleh para “pencuri” (Tory) dan “perusuh” (Whig).

Ada kasus menarik mengenai orang Jerman yang menjadi raja Inggris. Pada waktu Perang Dunia I ketika sentimen anti-Jerman sangat kuat di Inggris keluarga kerajaan Inggris mengubah nama keluarganya yang berbau Jerman, Saxe-Coburg-Gotha, dan menggantinya dengan nama Windsor.

Saat ini pun bangsa Inggris masih menghadapi dilema tentang siapakah calon pengganti Ratu Elizabeth II yang sudah memasuki 80 tahun. Putra mahkota Pangeran Charles dianggap cacat karena status perkawinannya Putri Diana yang amburadul sementara sebagai raja ia memegang amanat sebagai “Defence of the Faith”. Dan kalaupun Parlemen dan gereja Anglikan meloloskan, masih terdapat masalah tentang gelar apa yang bakal dipakai Pangeran Charles sebagai raja. Ada dua kemungkinan gelar yang akan dipakai dan keduanya mengandung kontroversi, yaitu King Charles III atau King George VI. Orang Celtic Skotlandia lebih menyukai gelar pertama dan membenci gelar kedua. Sedangkan orang Anglo-Saxon lebih menyukai gelar kedua dan membenci gelar pertama. Orang Skotlandia membenci nama George karena dianggap sebagai orang asing (Jerman) yang menyerobot tahta Inggris. Sedangkan orang Anglo-Saxon membenci nama Charles karena menganggap raja Charles I dan Charles II yang kental darah Celtic-nya sebagai biang kekacauan di Inggris.

Masalah pemilihan gelar juga terjadi waktu Elizabeth menggantikan ayahnya King George V sebagai raja dan memilih gelar Elizabeth II. Ini karena orang Skotlandia tidak pernah mengakui Elizabeth I sebagai raja mereka.

Orang Inggris pasti akan tersinggung bila dikatakan mereka sebenarnya diperintah oleh orang Yahudi yang menguasai institusi-institusi penting negeri itu: bank sentral, pers, perusahaan-perusahaan multinasional, parlemen, parpol, hingga perdana menteri. Namun mereka pasti akan lebih tersinggung lagi bila dikatakan ternyata mereka pernah diperintah oleh raja yang beragama Islam. Faktanya adalah di Departemen Numismatical Musium Inggris (British Museum) terdapat sebuah koin emas berumur lebih dari 1230 tahun yang dikeluarkan Offa, Raja Mercia, yang memerintah di daerah sekitar Sungai Trent antara tahun 757-796 Masehi. Pada koint tersebut terdapat tulisan ‘There is no Deity but Allah, The One, Without Equal, and Muhammad is the Apostle of Allah’. Selain itu di sekeliling tepi koin terdapat tulisan, ‘Muhammad is the Apostle of Allah, Who sent him (Muhammad) with the doctrine and the true faith to prevail over every other religion.’

Rakyat Inggris mungkin juga akan tersinggung bila dikatakan Islam sangat berperan dalam pembentukan budaya bangsa Inggris, karena dalam kenyataannya bahasa Inggris yang sangat dibanggakan itu ternyata banyak mengadopsi bahasa Arab.
Adapun kata-kata dalam bahasa Inggris yang diadopsi dari bahasa Arab di antaranya adalah: abutilon acequia admiral adobe afrit aladdin albacore albatross alborak alcalde alcazar alchemy alcor alcove aldebaran alembic alfalfa alforja algarroba algebra algol algorithm alhambra alibaba alidade alizarin alkali alkanet almagest almanac amalgam amber anil antimony apricot arak arroba arsenal artichoke assegai attar azimuth azoth azure balas barbary barberry bard bedouin benzoin betelgeuse bezoar blighty bonito borax bougie buckram burgoo calibre camel camphor candy carafe carat caraway cipher coffee cotton crimson damascene dragoman durra elemi elixir fakir falafel fardel fellah felucca fennec gazelle gerbil ghoul gibraltar giraffe guitar hajji halal halvah hammam harem hazard henna imam jar jasmine jemadar jennet jerboa jinnee julep kat kebab khamsin kismet kohl lemon lilac lime loofah lute macramé magazine marabout marcasite marzipan mastaba mattress mezereum mihrab minaret mohair monsoon mosque mozarab mummy muslin nadir noria nucha ogive olibanum orange oud pia mater rahat lokum ramadan rambla razzia realgar ream rigel rook ryot safari saffron sahara saice sash satin scarlet senna sequin sesame sheikh sherbet soda sofa souk spinach sugar sumac summit swahili syrup tabby tabla tahina taj mahal talc talisman tamarind tambourine tare tariff tarragon trafalgar trona vega vizier zarf zedoary zenith zero.

Krisis Politik Turki

Diam-diam tanpa banyak publikasi media massa internasional, negeri Turki akhir-akhir ini tengah menghadapi ketegangan politik yang setiap saat dapat berujung pada kudeta militer dan kerusuhan sosial massif.

Ketegangan itu berpuncak pada tanggal 1 Juli lalu saat polisi Turki menangkap 23 tokoh terkenal Turki yang diduga tengah merencanakan kudeta terhadap pemerintahan Perdana Menteri Erdogan dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP). Disusul seminggu kemudian dengan kejadian penyerangan di depan Kantor Konsulat Amerika di Istambul yang merengut nyawa enam orang termasuk personil polisi.

Para tokoh yang ditangkap diduga tergabung dalam sebuah kelompok rahasia Ergenekon. Mereka terdiri dari anggota militer termasuk beberapa mantan jendral, jurnalis, hakim, pengusaha dan tokoh-tokoh politik sekuler. Misi utama kelompok itu adalah mengembalikan Turki sebagai negara sekuler yang mereka anggap terancam oleh kiprah partai AKP yang Islamis. Penangkapan itu menyusul rangkaian aksi serupa yang telah dilakukan pemerintah sejak bulan Juni tahun lalu setelah ditemukannya sejumlah peledak di sebuah tempat milik anggota Ergenekon.

Perlu dicatat bahwa dalam konteks Turki saat ini polisi adalah aparatus pemerintah. Sedangkan militer adalah institusi yang berseberangan secara politik dengan pemerintah. Sedangkan pengadilan adalah lembaga yudikatif yang secara tradisional, bersama dengan militer, menjaga prinsip sekularisme Turki. Institusi lain pendukung pemerintah dan berseberangan dengan militer-pengadilan adalah Presiden dan Parlemen yang didominasi oleh anggota dari partai AKP.

Menurut media-media massa pendukung pemerintah, media-media massa kelompok anti militer dan media-media massa kelompok sosialis, Ergenekon tengah merencanakan serangkaian aksi-aksi untuk mendestabilisasikan negara dan berujung pada kudeta militer terhadap pemerintah. Di antara aksi-aksi itu adalah demonstrasi besar-besaran di 40 kota. Di antara aksi tersebut akan diwarnai penembakan terhadap demonstran yang dilanjutkan dengan pembunuhan terhadap beberapa tokoh politik terkenal.

Semuanya itu merupakan puncak perseteruan antara kalangan sekuler dukungan militer dengan kelompok Islam yang memanas kembali paska kemenangan partai Islam AKP dalam pemilu tahun 2002 disusul dengan terpilihnya Abdullah Gul, tokoh AKP, menjadi presiden tahun lalu yang mengakhiri dominasi kalangan sekuler di kursi kepresidenan.

Sejak 40 tahun terakhir telah terjadi empat kali kudeta militer terhadap pemerintah karena dianggap melanggar konstitusi. Kudeta terahir terjadi tahun 1997. Bagi kalangan sekuleris, dasar negara sekuler adalah harga mati yang tidak bisa ubah, bahkan bila perubahan itu melalui cara demokrasi sekalipun. Pandangan itu bahkan telah menjadi semacam phobia atau bahkan penyakit paranoid, karena bahkan hanya sebuah jilbab penutup kepala, dianggap sebagai ancaman yang harus disingkirkan jauh-jauh, seperti terjadi tahun 2003 saat Presiden dan para jendral memboikot acara kenegaraan karena istri ketua parlemen Bülent Arinc hadir dengan mengenakan jilbab. Hal itu pula yang terjadi tahun 2007 lalu saat kalangan sekuler berusaha mengganjal Abdullah Gul menjadi presiden karena sang istri adalah wanita muslimah yang berjilbab.

Dan setelah kegagalan upaya legal untuk menjegal amandemen konstitusi yang membolehkan wanita berjilbab di universitas negeri, kalangan sekularis melakukan upaya–upaya rahasia untuk mendelegitimasi pemerintah guna memberi alasan melakukan kudeta.

Di antara anggota Ergenekon yang ditangkap terdapat Jendral Veli Kucuk, anggota kelompok militer rahasia yang sering menculik politisi Kurdi. Ia tercatat juga terkait dengan pembunuhan seorang hakim tahun 2006. Ergenekon juga diduga kuat sebagai pelaku peledakan atas kantor koran Cumhuriyet tahun yang sama, pembunuhan wartawan Hrant Dink tahun 2007 serta pembunuhan penulis Necip Hablemitoglu tahun 2002. Seorang pengacara anggota Ergenekon, Yasin Aydin, kini tengah disidang sebagai tersangka pembunuh Hrant Dink. Ergenekon juga diduga telah merencanakan pembunuhan terhadap pemenang hadiah Nobel, sastrawan Orhan Pamuk hingga menyebabkan Pamuk mengasingkan diri ke luar negeri.

Selain itu juga ditemukan indikasi hubungan antara Ergenekon dengan upaya kudeta militer yang batal dilakukan tahun 2004 dan 2005 terhadap pemerintahan Erdogan. Tahun lalu majalah Nokta mempublikasikan bocoran buku harian milik mantan Panglima AL Admiral Ozden Ornek. Menurut buku harian itu beberapa jendral dipimpin oleh Sener Aydin merencanakan dua operasi militer terpisah tahun 2004 dan 2005 untuk mengkudeta pemerintah. Jendral Eruygur, salah seorang yang ditangkap polisi tanggal 1 Juli lalu merupakan salah seorang yang banyak disebut dalam buku harian tersebut.

Awalnya Ornek mengaku buku harian tersebut benar. Namun setelah berita itu menjadi isu politik yang sangat panas, Ornek membantahnya. Namun bagaimanapun berdasarkan penelitian berbagai pihak independen dinyatakan bahwa buku tersebut asli adanya.

Kini, setelah pendulum politik bergerak menjauh, kalangan sekuler terus melakukan perlawanan. Media-media massa utama yang merupakan pendukung tradisional sekularisme berusaha mendiskreditkan pemerintah dengan menuduh rangkaian penangkapan tersebut sebagai melanggar demokrasi di negeri itu. Koran Cumhuriyet pada tanggal 2 Juli lalu misalnya menulis: penyidikan Ergenekon telah berubah menjadi operasi untuk memberangus oposisi. Sedangkan Turkish Daily News mempertanyakan legalitas penyidikan. Namun upaya paling serius kalangan sekuler adalah tuntutan hukum atas legalitas pemerintahan PM Erdogan yang dianggap telah melanggar konstitusi negara. Apalagi diketahui bahwa lembaga yudikatif Turki, selain militer, adalah institusi yang paling ketat menjaga sistem sekularisme Turki. Mahkamah Konstitusi kini tengah memproses tuntutan itu. Bila dikabulkan, maka AKP bisa dibubarkan dan para tokohnya termasuk Perdana Manteri Erdogam dan Presiden Abdullah Gul, dikenakan hukuman larangan melakukan kegiatan politik.

Baru-baru ini suratkabar Taraf melaporkan bocoran pertemuan rahasia antara Osman Paksut, wakil ketua Mahkamah Konstitusi dengan Jendral Ilker Basbug pada tanggal 4 Maret lalu. Pertemuan tersebut terjadi hanya berselang dua hari setelah partai-partai sekularis mengajukan tuntutan ke Mahkamah Konstitusi.

Ancaman kudeta militer

Turki sudah berpengalaman dalam soal kudeta militer. Namun kali ini ancaman itu terasa sangat serius. Aksi kekerasan di depan kantor konsulat Amerika di Istambul tanggal awal Juli lalu membuktikan seriusnya masalah itu.

Selain kasus Ergenekon, pemerintah PM Erdogan telah terlibat dalam “perang rahasia” melawan militer. Meski terus mendapat tekanan dari kalangan sekularis dukungan militer, Erdogan dengan bersembunyi di balik implementasi persyaratan keanggotaan Uni Eropa, secara sistematis berusaha mengurangi kekuatan militer. Salah satu upaya itu adalah menghapuskan pengawasan militer terhadap media massa dengan menghilangkan unsur militer dalam lembaga sensor media massa, RTUK. Selain itu undang-undang yang mengancam kebebasan pers juga dihapuskan dalam konstitusi. Dan langkah strategis yang paling serius adalah mereformasi lembaga Dewan Keamanan Nasional yang selama ini menjadi kekuatan politik kalangan militer. Bila langkah ini berhasil, maka lembaga ini hanya akan diisi oleh para pejabat sipil dan hanya menyisakan satu kursi untuk kepala staff gabungan militer. Sebelumnya semua kepala staff angkatan masuk dalam keanggotaan lembaga ini. Selain itu pimpinan lembaga ini diisi oleh pejabat sipil. Reformasi militer lain yang dilakukan Erdogan adalah penghapusan Pengadilan Keamanan Negara.

Namun yang mungkin menjadi hal yang paling menyakitkan kalangan militer adalah ketentuan baru yang mengharuskan anggaran militer ditetapkan oleh pemerintah. Sebelumnya hal ini menjadi hak mutlak militer. Tidak heran bila karenanya militer menaruh kebencian yang sangat kuat kepada Erdogan, selain sentimen yang telah berakar kuat di kalangan militer terhadap segala sesuatu yang berbau Islam.

Selain berita tentang pertemuan rahasia pemimpin militer dan Mahkamah Konstitusi membahas tuntutan pembubaran AKP, Taraf juga mempublikasikan dokumen rahasia yang berisi detil rencana aksi penggulingan pemerintah yang diawali dengan kerusuhan massal dan diakhiri dengan kudeta militer.

Dalam dokumen yang disebut sebagai Activity Table disebutkan: Perlunya meningkatkan hubungan antara militer dengan kalangan akademisi, hakim agung, wartawan dan artis yang mempunyai kemampuan pengendalian opini publik. Kondisi dan kesempatan yang tepat akan diciptakan di tingkat Kepala Staff Gabungan, Deputi Kepala Staff Gabungan, para komandan, dan Sekretaris Jendral Staff Gabungan. Para pembentuk opini harus memiliki kualitas yang dibutuhkan untuk membela langkah-langkah militer.

Pelajaran Bagi Indonesia

Apa yang terjadi di Turki merupakan salah satu riak-riak dari apa yang diramalkan Samuel Huntington sebagai Perang Peradaban (Clash of Civilization), yaitu perang antara kebudayaan Barat melawan kebudayaan Islam.

Setelah dikalahkan oleh Barat sejak abad pertengahan dan berpuncak pada jatuhnya kekuasaan kekhilafahan Turki tahun 1920 dan tenggelam dalam alam penjajahan fisik dan mental, Islam kini muncul kembali sebagai sebuah kekuatan sosial-politik dan budaya. Di negara-negara yang mayoritas rakyatnya beragama Islam, telah muncul kesadaran umum untuk kembali kepada nilai-nilai agama. Tidak terkecuali di Indonesia. Namun barat tentunya tidak menginginkan munculnya kekuatan Islam yang dapat mengancam eksistensinya. Dengan dalih menjaga demokrasi, sekularisme, kebebasan, persamaan hak, ekonomi bebas hingga isu perang melawan terorisme, mereka berusaha keras membendung aspirasi politik Islam.

Meski mungkin disanggah oleh sebagian kalangan yang khawatir terjadinya perpecahan di Indonesia, riak-riak kecil Perang Kebudayaan sebenarnya sudah terjadi di Indonesia dengan intensitas yang lebih kecil daripada di Turki. Bentrokan antara massa Islam dengan massa AKKBP di Monas beberapa waktu lalu adalah riak-riak kecil itu.