Sunday, 5 July 2009

Ravolusi Amerika Jilid II?


“The inability of Colonists to get power to issue their own money permanently out of the hands of George III and the international bankers was the prime reason for the Revolutionary War.” (Benjamin Franklin)


Saya adalah penyuka ilmu sejarah. Sejak kecil, di sela-sela kegiatan bermain, saya suka membaca buku-buku sejarah milik kakak-kakak saya yang kebetulan terdapat di rumah saya (saya punyak 7 orang kakak yang semuanya bersekolah). Dan karena kebiasaan itu saya mendapat nilai tinggi dalam pelaran sejarah sejak SMP hingga SMA. Bahkan semasa SMP saya mendapat julukan "anak'e Tayani" alias anaknya Bapak Tayani guru sejarah. Ini karena setiap kali Pak Tayani mengajukan pertanyaan, saya yang selalu mengacungkan jari untuk menjawab.

Dan di antara pelajaran sejarah, saya paling suka dengan sejarah Amerika. Amerika memang negeri yang paling banyak menarik minat dan perhatian saya. Saya masih ingat kalau dulu saya hafal luar kepala nama-nama negara bagian Amerika dan ibukotanya serta letaknya di dalam peta. Jangan tanya sejarahnya.

Namun sekitar tiga tahun lalu saya heran melihat banyaknya fakta sejarah Amerika yang dipaparkan oleh Michael Collins Piper dalam buku "The New Jerussalem" dan "High Priest of War" yang tidak saya ketahui. Salah satunya adalah pembakaran Gedung Putih oleh tentara Inggris tahun 1814. Saya berusaha mencari referensi tentang peristiwa itu, meski tidak terlalu ngotot, namun tidak saya temukan. Hingga akhirnya sekitar seminggu lalu saya mendapatkannya di YouTube.

Dari informasi yang saya dapatkan saya baru mengetahui bahwa pada tahun 1812 Inggris menyerbu Amerika. Namun yang lebih mengejutkan lagi adalah latar belakang peristiwa tersebut adalah ambisi keluarga Rothschild untuk menguasai penciptaan dan peredaran uang Amerika yang gagal karena tidak disetujuinya perpanjangan masa kerja First Bank of America (bank sentral pertama Amerika yang dikuasai oleh keluarga Rothschild) hingga Nathan Rothschild berteriak lantang: "Kita kembalikan Amerika ke era kolonial."

Kini saya tahu, pelajaran sejarah yang saya terima di bangku sekolah dan juga dari buku-buku sejarah yang banyak beredar di toko-toko ternyata masih jauh dari cukup untuk memahami sejarah yang sebenarnya.

Akibat serbuan Inggris maka Presiden Madison dan Congress Amerika akhirnya menyetujui dibentuknya bank sentral Amerika yang baru bernama Second Bank of America tahun 1916 dengan masa kerja hingga tahun 1836.

Pada tahun 1836 Amerika dipimpin oleh Presiden Andrew Jackson, seorang religius sekaligus penjelajah legendaris yang namanya tidak kalah berkibar dibanding James "Pisau" Bowie dan Sam Houston "sang pembebas Texas". Dengan gagah berani, ia menolak memperpanjang masa kerja Second Bank of America meski menerima puluhan ancaman pembunuhan dan satu percobaan pembunuhan yang gagal. Kepada delegasi bankir yang menghadapnya untuk melobi perpanjangan masa kerja Second Bank of America, ia mengatakan:

"Tuan-tuan. Saya mempunyai orang-orang yang telah lama mengawasi Anda. Anda menggunakan dana masyarakat untuk mempermainkan harga barang-barang kebutuhan masyarakat. Jika untung Anda membaginya di antara Anda sendiri. Tapi jika rugi Anda membebankannya kepada masyarakat. Anda berkata, jika bank sentral tidak diperpanjang maka 50.000 keluarga Amerika akan menderita karenanya. Tapi itu adalah salah Anda. Namun sebaliknya jika Saya menyetujui usul Anda (memperpanjang bank sentral) maka 500.000 keluarga Amerika akan menderita, dan itu menjadi dosa saya. Anda adalah ular berbisa dan pencuri. Saya katakan kepada Anda, saya akan menghancurkan Anda. Dengan rahmat Tuhan, saya akan menghancurkan Anda."

Selama 77 tahun sejak Presiden Andrew Jackson menolak memberikan kekuasaan penciptaan uang kepada bank sentral swasta, para pemimpin Amerika terus-menerus mengalami tekanan untuk menyerahkan kekuasaan tersebut kepada para bankir yahudi dengan ancaman pembunuhan. Tercatat lima orang Presiden Amerika meninggal karena pembunuhan sepanjang waktu itu. Mereka adalah William Henry Harrison (diracun tahun 1841), Zachary Taylor (diracun tahun 1850), Abraham Lincoln (ditembak tahun 1865), James Garfield (ditembak tahun 1881), dan William McKinley Jr. (ditembak tahun 1901). Presiden James Buchanan juga mengalami percobaan pembunuhan dengan racun tahun 1857, namun gagal.

Namun akhirnya keteguhan para pemimpin Amerika dalam mempertahankan konstitusinya (kekuasaan penciptaan uang hanya pada Congress) hancur juga dengan kepemimpinan Woodrow Wilson, presiden petualang cinta yang lemah integritasnya. Karena terdesak dengan ancaman terbongkarnya skandal cinta yang dilakukannya, Woodrow Wilson menyetujui Federal Reserve Act tahun 1913 yang memberikan kekuasaan penciptaan uang kepada bank sentral swasta.

Kini setelah rakyat Amerika menyerahkan nasibnya kepada Federal Reserve, hutang yang ditanggung negara mencapai 11 triliun dollar dan semakin bertambah setiap tahun dengan bunga yang harus dibayar mencapai ratusan miliar dolar setahun atau beberapa kali lipat APBN Indonesia. Dan meski rakyat Amerika harus berkorban sebesar itu (membayar bunga hutang melalui pajak yang mereka bayar), kondisi ekonomi Amerika justru semakin memburuk. Pabrik-pabrik ditutup atau pindah ke luar negeri, jutaan rakyat menganggur dan kehilangan rumah akibat krisis finansial.

Namun mimpi buruk sebenarnya justru baru dimulai dengan mengalirnya jutaan imigran dari Mexico, Asia dan Karibia. Mereka turut menggerogoti APBN dan membebani ekonomi Amerika mengakibatkan mundurnya kualitas pelayanan sosial dan memerosotkan Amerika ke tingkat negara berkembang.

Meski sebagaimana pendapat Michael Moore dalam bukunya "Stupid White Men", puluhan juta rakyat Amerika masih buta hurup dan sekitar 30% dari populasinya tidak pernah membaca koran atau majalah, sebagian dari mereka sudah menyadari hal ini dan tangah mempersiapkan diri untuk melakukan revolusi. Dan bila itu terjadi, ini adalah pengulangan sejarah karena rakyat Amerika juga pernah melakukan revolusi yang mengantarkan mereka ke pintu kemerdekaan tahun 1774. Saat itu pun motifnya sama, yaitu membebaskan diri dari cengkeraman para kapitalis yahudi.

Friday, 3 July 2009

Cerita yang Tidak Diungkap Hollywood


Baru-baru ini "Defiance", film terbaru Hollywood yang bertema perang dunia II, dirilis di Amerika dan diputar serentak di 1.800 bioskop di sana. Sebagaimana film-film Hollywood yang bertema sama, film ini menggambarkan pengorbanan dan kepahlawanan orang-orang yahudi sebagaimana belasan film-film sejenis seperti Sophie's Choice, Shindler's List, The Pianist dll.

Namun di Polandia, sejak tahun 2008 beredar luas film bertema perang dunia II dari sudut pandang sangat jauh berbeda. Film tersebut berjudul "Katyn", menceritakan tentang pembunuhan massal 20.000 perwira tentara Polandia oleh tentara komunis yahudi Uni Sovyet di hutan Katyn pada tahun 1940. Para korban pembunuhan massal tersebut merupakan tulang punggung bangsa Polandia yang mayoritas beragama katholik, sebelum diduduki regim komunisme.

Dan mengapa Hollywood "melupakan" fakta sejarah seperti ini? Tidak lain karena Hollywood dikendalikan oleh keturunan yang sama dengan keturunan para pembantai di hutan Katyn tahun 1940. Bagi mereka film merupakan senjata efektif untuk menghancurkan identitas kristen sebagai pemersatu bangsa kulit putih untuk digantikan dengan agama baru, "holocoust".

Film "Katyn" disutradarai oleh sutradara terkenal Andrej Wajda (82 tahun) yang ayahnya menjadi salah satu korban pembantaian massal di hutan Katyn. Film ini mendapat sambutan luas di Polandia dan dianggap memiliki keunggulan artistik sehingga mendapat nominasi Oscar untuk ketegori film asing terbaik tahun lalu. Namun pemenangnya justru film "The Counterfeiters", film propaganda kacangan bertema holocoust dari Jerman.



TRAGEDI KATYN

Paparan berikut ini diambil dari Wikipedia. Bahkan media yang oleh sebagian kalangan dianggap pro-yahudi sehingga dijuluki Kikepedia (kike adalah julukan bagi yahudi "hitam") ini masih dapat menggambarkan motif di belakang peristiwa pembantaian di hutan Katyn:

Pada awal perang, Sovyet menduduki Polandia timur dan Jerman menduduki Polandia barat. Dan karena sistem mobilisasi Polandia mewajibkan semua sarjana menjadi perwira, maka Sovyet mendapatkan kemudahan untuk menawan semua kalangan berpendidikan yang menjadi korban utama pembantaian di hutan Katyn. Di antara mereka yang meninggal terdapat seorang laksamana, dua jendral, 24 kolonel, 79 letkol, 258 mayor, 654 kapten, 17 kapten kapal, 3,420 perwira staff, 7 pendeta, 3 tuan tanah, 1 bangsawan tinggi, 43 pegawai pemerintah, 85 prajurit, dan 131 pengungsi. Selain itu para korban meliputi 20 profesor, 300 ilmuwan, beberapa ratu ahli hukum, insinyur, pilot serta penulis dan jurnalis. Secara keseluruhan Sovyet membunuh hampir separoh dari jumlah perwira di Polandia.

Pada tahun 1945, Maurice Shainberg adalah asisten Kolonel Grigory Zaitzev yang menjadi komandan Sovyet di kamp tawanan Katyn. Dalam bukunya yang berjudul "Breaking from the KGB" (1986) Shainberg, orang Polandia, menceritakan bagaimana ia menemukan buku harian sang kolonel yang membuka tabir peristiwa pembantaian di hutan Katyn yang sebelumnya dituduhkan Sovyet dilakukan oleh tentara Nazi Jerman.

Dalam diari tersebut tertulis bagaimana Sovyet mencoba mendindoktrinasi dan mengintimidasi para tawanan (yang dilihat dari status dan jumlahnya, merupakan tulang punggung bangsa Polandia) untuk melupakan sejarah dan budaya bangsanya dan menjadi bangsa baru yang pro-komunis Sovyet. Para tawanan menolak dan itu menjadi penyebab mereka dibantai.


DIARI KOLONEL ZAITZEV

Saat diangkat sebagai komandan kamp tawanan Katyn, Zaitzev diingatkan rekan-rekannya bahwa rakyat Polandia adalah para panganut katholik yang fanatik serta patriotis. Namun ia percaya diri bahwa semua itu bisa diatasinya dan mengubah mereka menjadi para kader komunis yang tangguh.

Para tawanan Polandia biasanya bekerja antara jam 6 pagi hingga 6 sore. Di malam hari mereka mendapatkan sesi indoktrinasi komunisme. Namun sebagian besar dari mereka menolak sesi ini meski mendapat ancaman keras. Seorang perwira berteriak lantang: "Sebagai rakyat Polandia, kami memahami negeri kami. Tidak ada satupun di antara kami yang ingin mendiktekan aspirasi kami kepada bangsa lain, dan kami juga tidak ingin bangsa lain mendiktekan aspirasinya kepada kami. Kami bukan fasis namun juga bukan komunis. Kami adalah orang-orang katholik yang ta'at."

Suatu saat seorang pendeta tentara bernama Jozwiak mengangkat salib yang membelenggunya sembari menyanyikan lagu-lagu rokhani yang diikuti oleh seluruh tawanan. Malam harinya ia ditahan di ruang interogari untuk "menjinakkannya". Namun berbagai methode penyiksaan, termasuk melukai tubuhnya dan memasukkannya ke dalam kandang berisi tikus-tikus besar yang kelaparan, tidak mampu menjinakkannya sehingga akhirnya ia dieksekusi mati.

Tentara Sovyet mengira hukuman yang diberikan kepada Jozwiak akan membuat para tawanan jera, namun mereka kaliru. Para tawanan justru semakin beringas untuk memberontak. Untuk melemahkan para tawanan, Soyvet mengurangi secara drastis ransum makanan disusul aksi eksekusi-eksekusi terbuka terhadap para tawanan yang kelalahan dan tidak bisa bekerja. Para tawanan melawan dengan kampak dan tongkat hingga sebanyak 192 tawanan tewas tertembak dalam satu aksi kerusuhan.

Bahkan dalam kondisi putus asa dan tanpa harapan untuk selamat, para tawanan masih tetap mempertahankan keyakinan agamanya. Mereka sering berdoa bersama-sama: "Kami prajurit Polandia dan tawanan pasukan Sovyet telah disingkirkan di tempat asing. Kami memohon kepadamu Tuhan, agar menyelamatkan negeri kami. Selamatkan kami dari penjara Jerman dan Sovyet. Kami menawarkan diri kami sebagai pengorbanan untuk kemerdekaan negeri kami."

"Tugas kami sangatlah mustahil untuk dilaksanakan," tulis Zaitzev. "Orang yang tidak pernah bertemu orang Polandia tidak akan pernah mengerti bagaimana sulitnya merubah pandangan hidup mereka terhadap kami. Tidak ada siksaan apapun yang dapat menghentikan mereka menyanyi (lagu-lagu rokhani). Mereka orang-orang yang keras dan memiliki harga diri. Setiap hari mereka semakin lemah fisiknya, namun kemarahan dan kebencian mereka semakin besar."

Untuk mengenang tragedi hutan Katyn pemerintah Polandia telah menetapkan tanggal 13 April sebagai hari libur nasional. Sebuah komisi bersama Polandia-Rusia juga telah dibentuk untuk menyatukan pandangan antara kedua negara atas tragedi tersebut. Namun banyak hal yang masih belum terpecahkan karena Rusia khawatir pengakuan adanya kejahatan kemanusiaan akan membuat mereka harus membayar kompensasi mahal sebagaimana dialami Jerman.



PROPAGANDA YAHUDI

Tujuan yahudi penyembah setan (masih ada sebagian kecil yahudi yang berpegang pada ajaran agama Ibrahim dan Musa dan percaya pada kita Taurat, sebagian besar lainnya lebih percaya pada para rabi dan kita Talmud) dan para kompradornya adalah mengubah dunia menjadi satu tatanan dunia baru dimana mereka menjadi penguasa dan seluruh penduduk dunia sebagai pelayan mereka. Untuk mencapai hal itu mereka berupaya menghancurkan empat pilar utama kebudayaan manusia: ras, agama, bangsa dan keluarga.

Komunisme adalah alat propaganda mereka yang cukup efektif menghancurkan empat pilar kebudayaan manusia tersebut. Setelah mengeksekusi seluruh bangsawan, rokhaniawan, dan kalangan intelektual Rusia, Polandia adalah sasaran berikutnya (pola serupa juga dilakukan di tempat-tempat di mana komunisme berkuasa: Cina, Kamboja, Vietnam, Kuba dll. Indonesia pun nyaris mengalami pembantaian serupa seandainya PKI tidak ditumpas terlebih dahulu oleh TNI dan ormas-ormas Islam).

Yahudi penyembah setan bermaksud merubah agama-agama di dunia dengan agama baru penyembah setan dan berhala. Selain menumpas secara fisik kalangan elit intelektual dan agamawan, mereka mengkampanyekan nilai-nilai moral baru yang bertentangan dengan nilai-nilai sosial masyarakat: homoseksualisme, single parent, feminisme, demokrasi, dlsb. Mereka juga menciptakan aliran-aliran politik hingga agama baru yang memecah belah sistem sosial masyarakat.

Anda boleh menganggap ini semua "terlalu mengada-ada". Namun saya katakan, semua ini telah teridentifikasi oleh orang-orang cerdik pandai sejak ribuan tahun lalu. Kitab-kitab kuno agama-agama wahyu seperti injil dan Qur'an juga telah menyebut-nyebut persekongkolan mereka dan akibat yang ditimbulkannya. Al Qur'an menyebutkan bahwa kerusakan yang ditimbulkan mereka sangat hebat hingga gunung pun hancur oleh karenanya. Qur'an juga menyebutkan salah satu ciri mereka yaitu mereka sering berkoar-koar mengadakan "perbaikan" meski sebaliknya mereka berbuat kerusakan. Hukuman bagi mereka, menurut Qur'an adalah dipotong tangan dan kakinya secara menyilang dan diusir dari negerinya.

Anda mungkin pernah berpartisipasi dengan program-program seperti Millenium Development Goal, Figh Hunger dan sebagainya. Percayalah itu semua adalah program-program "perbaikan" omong kosong mereka. Seandainya mereka serius mengadakan perbaikan, maka dalam satu bulan dunia ini tidak akan ada lagi kelaparan dan peperangan-peperangan.

Israel Bantai Binatang-binatang Bonbin Gaza


Ini adalah fakta yang tidak pernah diungkap oleh sebagia besar media massa: tentara Israel membantai binatang-binatang yang menghuni kebun binantang Gaza dalam aksi penyerbuan ke Gaza awal tahun ini.

Tentara Israel yang menurut klaim pemerintah Israel merupakan "tentara paling bermoral di dunia" itu menembaki binatang-binatang tersebut dalam jarak dekat di dalam kandangnya. Selain membunuhi binatang, tentara Israel juga menghancurkan gedung-gedung yang ada di area tersebut.

Berita tentang kebiadaban ini sebenarnya telah muncul di Gulf News, media massa yang terbit di Abu Dhabi tgl 25 Januari lalu, namun diabaikan oleh media massa barat. Mesin pencari Google pun (yang dimiliki oleh milioner pendukung Israel) setali tiga uang, menyembunyikan fakta ini dari peredaran dunia maya.

Ketika ditanya mengapa tentara Israel menyerang kebun binatangnya, seorang penjaga menjawab, "Saya tidak tahu. Anda harus menanyakan sendiri kepada mereka. Ini adalah tempat yang aman tempat orang-orang tak bersalah menghibur diri."

Ketika ditanya klaim Israel bahwa pejuang Palestina menembakkan senapan dari tempat tersebut, sang penjaga membantah. "Kami semua kecuali binatang-bintang telah melarikan diri sebelum tentara Israel datang ke sini."

Selama empat tahun berdirinya kebun binatang Gaza merupakan tempat favorit penduduk terutama anak-anak Gaza, muslim maupun kristen, yang langka sarana hiburan. Dan karena itu Israel menghancurkannya.

Sunday, 28 June 2009

Mengapa Nixon Diimpeach?


Pada bulan Februari 1973 Israel menembak jatuh pesawat penumpang sipil milik meskapai penerbangan Libya yang secara tidak sengaja memasuki wilayah pendudukan Israel. Insiden itu menewaskan seluruh penumpang dan awaknya yang berjumlah 114 orang dan menimbulkan kemarahan masyarakat dunia kepada Israel, termasuk Amerika.

Atas tindakan "bodoh" tersebut Presiden Amerika saat itu, Richard M. Nixon mengungkapkan kekecewaannya kepada sahabatnya, pendeta evangelical Billy Graham, dan menyatakan tidak akan lagi memberikan dukungan kepada Israel. Tidak hanya itu, ia bahkan merencanakan untuk membangkitkan sentimen anti-semit di Amerika.

“Dengan tindakan ini, mereka kehilangan seluruh dukungan dukungan yang mereka dapatkan selama ini. Kitalah satu-satunya kawan mereka sekarang. Oh (peristiwa ini) sangat menyedihkan," kata Nixon.

Selanjutnya terjadilah sebuah percakapan antara Nixon dan Graham yang pada saat itu apalagi dalam konteks saat ini, dianggap sangat anti-semit. Graham membeberkan kejahatan-kejahatan Israel, khususnya terhadap ummat Kristen. Graham yang saat itu berumur 54 tahun membeberakan rencana jahat Israel untuk mengusir orang-orang kristen dari wilayah yang dikuasai Israel serta upaya-upaya sistematis yahudi untuk memisahkan agama kristen dari kehidupan sosial masyarakat Amerika.

"Mereka menyerang langsung ke gereja. Ada gejala-gejala yang jelas dirasakan di wilayah-wilayah dimana mereka telah mendapatkan dukungan," kata Graham.

Nixon membalas, "Apa yang menjadi perhatian saya adalah jauh di dalam negeri ini terdapat perasaan sentimen anti-semit yang sangat tinggi dan yang harus dilakukan hanyalah membangkitkannya."

Selanjutnya Graham menyinggung tentang upaya sistematis yahudi menyebarkan pornografi. Ia juga menyinggung tentang "gereja setan" yang disebut-sebut dalam injil yang menurutnya merujuk kepada sinagog yahudi.

Kita semua mengetahui bagaimana Presiden Nixon jatuh dari kekuasaannya. Telepon pribadinya disadap, rekamannya dikirim ke koran milik zionis yahudi Washington Post, dipublikasikan, terjadi kampanye besar-besaran anti Nixon, Congress mengancam mengimpeach, Nixon pun mundur.

Inilah Amerika. Sebuah kejahatan besar yang mengancam keamanan nasional dan diancam hukuman mati (penyadapan telepon presiden) justru digunakan untuk menurunkan sang presiden dari kekuasaan yang diperolehnya secara demokratis. Ironi ini sama dengan tewasnya John F. Kennedy di hadapan mata ribuan rakyat Amerika dan hingga saat ini belum diketahui jelas motif di belakang pembunuhan keji tersebut.

(Catatan: Presiden Clinton dalam kesaksiannya pada kasus Monica Lewinski juga pernah mengeluh tentang penyadapan di kantornya yang tidak bisa dihentikannya).

Rekaman percakapan antara Nixon dan Graham yang sebenarnya merupakan dokumen rahasia negara ini baru-baru ini muncul di media-media massa dan menimbulkan kontroversi baru. Kali ini Billy Graham lah yang menjadi korbannya.

"Rekaman percakapan itu hanya memperkuat keyakinan kami mengenai sosok berpengaruh namun telah retak, yang sangat dalam terinfeksi perasaan anti-semit sehingga tidak lagi bisa merasakannya," kata Abe Foxman, Direktur Anti Defamation League, sebuah LSM yahudi Amerika yang sangat berpengaruh, merujuk kepada Nixon, presiden ke 37 Amerika yang dikenal anti-semit.

"Menarik juga informasi itu menyangkut anti-semitisme Billy Graham. ... Meski tidak pernah menyampaikan perasaan anti-semitnya secara terbuka, Billy Graham tidak dapat dipungkiri merupakan cerminan kepalsuan anti-semitisme klasik."

Melalui juru bicaranya Billy Graham membantah pernyataan tersebut. Kepada USA Today, Rabu (24/6) Billy Graham mengatakan dirinya tidak pernah memiliki perasaan anti-semit dan pernyataannya harus dilihat dalam konteks pembicaraan dengan presiden. Mengenai "gereja setan" Graham mengatakan hal itu tidak menunjuk kepada yahudi secara khusus, melainkan orang-orang yang tidak menjalankan nilai-nilai tradisi yahudi.

Kasus anti-semit yang menimpa Graham bukan yang pertama kali. Pada tahun 2002 (lagi-lagi) rekaman pernyataannya pada tahun 1972 yang dianggap berbau anti-semit muncul ke permukaan. Akibatnya Graham harus membuat pernyataan permohonan maaf secara terbuka kepada publik.

Apa yang dikatakan Billy Graham pada tahun 1972 itu? Hanyalah keluhan tentang dominannya pengaruh yahudi di media massa Amerika.

Kematian Michael Jackson dan Teori Konspirasi


"Orang mungkin menolak perkataan saya dan menganggap saya sebagai orang tua yang gila. Namun berdasar pada berbagai peristiwa yang terjadi saat ini di Timur Tengah dan juga peristiwa-peristiwa lainnya yang mungkin bakal terjadi dalam waktu dekat, saran saya adalah: jika ada waktu sejenak orang-orang mau menghentikan menonton pertunjukan Britney Spears, Desperate Housewives dan pertunjukan sepakbola dan mendengar, mendengar dengan serius peristiwa-peristiwa yang telah terjadi karena peristiwa-peristiwa itu akan terjadi dan terjadi lagi. Karena, seperti kata pepatah, macan tidak akan pernah kehilangan belangnya".

(Phil Tourney, awak kapal perang Amerika USS Liberty yang selamat dari serangan mematikan pasukan Israel di Laut Tengah tahun 1967)



Sekali lagi dunia kehilangan seorang superstar dengan meninggalnya Michael Jackson, Jumat (26/6) lalu. Dan sekali lagi perhatian dunia tercurah kepada sesosok manusia populer dan melupakan persoalan-persoalan serius yang tengah melanda dunia: peperangan-peperangan, kemiskinan, kelaparan, kriminalitas, kerusakan lingkungan, keruntuhan moral dan persoalan-persoalan lain yang semakin lama semakin berat. Semuanya itu sengaja diciptakan oleh sekelompok orang jahat yang berusaha untuk menguasai dunia.

Jangan bilang saya berhalusinasi, meracau atau penganut teori konspirasi karena kalau demikian Anda juga menuduh orang-orang bijak dan para nabi sebagai peracau. Bukankah agama-agama dunia mengajarkan adanya kekuatan jahat yang selalu berusaha menyesatkan manusia serta adanya kehancuran dunia yang disebabkan perang akhir jaman? Bukankah dalam agama kristen terdapat keyakinan adanya figur jahat penyebar fitnah besar dunia yang dikenal sebagai anti-Christ? Dan bukankah agama Islam juga mengajarkan adanya Dajjal yang menyesatkan sebagian besar umat manusia sebelum dibunuh oleh Isa Al Masih dalam perang besar akhir jaman. Dan kalau Anda masih menganggap saya meracau, coba jawab pertanyaan saya: mengapa mata uang dollar memuat simbol paganisme kuno berupa piramid dan biji mata?

Michael Jackson pernah mengatakan kepada teman dekatnya melalui telepon yang tersadap dan sempat beredar di publik, bahwa dirinya menjadi korban konspirasi yahudi yang telah menjungkalkan kariernya sedemikian hebat. Semua itu dimulai dengan kasus hukum yang menimpanya berkaitan dengan kontraknya dengan produser rekaman raksasa Sony. Selanjutnya masalah berganti masalah terus menimpa dirinya termasuk kasus tuduhan pelecehan seksual terhadap anak-anak. Semua itu menghabiskan energinya, termasuk hartanya sehingga property paling berharga miliknya, Neverland, dijualnya. Bahkan setelah ia mengasingkan diri ke Arab, persoalan hukum terus mengejarnya. Terakhir ia berperkara dengan seorang pangeran Arab menyangkut kontrak kerjasama produksi musik. Dikabarkan saat meninggal, Jacko masih meninggalkan setumpuk hutang.

Pada saat yang sama Michael Jackson dikabarkan telah tertarik pada Islam dan diam-diam telah memeluk agama ini sebagai keyakinannya.

Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kekuatan jahat yang tengah menjerumuskan dunia dalam kebinasaan, bekerja tanpa diketahui masyarakat. Tentu saja demikian, karena kalau tidak maka mereka tentu akan mengalami kesulitan sebagaimana kelompok rahasia Illuminati mengalami kehancuran karena terbongkar rahasianya dan diberangus oleh penguasa Bavaria (Jerman) pada abad 19.

Selain menjaga kerahasiaan, mereka juga pandai menciptakan pengalihan perhatian (deception). Contohnya ketika masyarakat intelektual mulai mempertanyakan tentang motif di balik Tragedi WTC yang tidak bisa dijelaskan oleh versi pemerintah, mereka memunculkan Michael Moore (pembuat film Fahrenheit dan penulis buku "Stupid White Men") untuk mengalihkan kecurigaan pelaku Tragedi WTC kepada keluarga George W. Bush yang sebenarnya hanyalah operator belaka.

Adapun untuk masyarakat umum kebanyakan, pengalihan perhatian yang mereka lakukan adalah dengan menciptakan budaya pop, hedonisme, materialisme dlsb. Dengan sebagian besar manusia terobsesi dengan hal-hal yang populer, selebritis, dan simbol-simbol materi lainnya, mereka melupakan hakikat sebenarnya penciptaan manusia di bumi untuk beribadah kepada Tuhan, menebarkan kebaikan kepada sesama dan mencegah terjadinya kejahatan.

Dan lihatlah apa yang terjadi di dunia saat ini dimana kebudayaan pop sudah menjadi budaya global. Orang masih sibuk membahas sepakbola, model rambut Britnesy Spears, atau film terbaru James Bond pada saat rakyat Palestina, Irak, Afghanistan, Kashmir, Somalia dan rakyat di belahan dunia lainnya dilanda peperangan dan kelaparan. Mereka baru menyadari kekeliruan setelah kekuatan jahat itu mengalihkan sasarannya kepada mereka. Sebagaimana ribuan rakyat Amerika yang kehilangan pekerjaan dan rumahnya karena krisis finansial yang disebabkan ulah Bernard Madoff dan kawan-kawannya. Atau seperti keluarga korban tragedi WTC. Atau seperti Phil Tourney yang selamat dari serangan terencana Israel atas kapal USS Liberty yang ditujukan untuk menyeret Amerika ke dalam Perang Arab-Israel di pihak Israel (tentunya setelah menimpakan tuduhan serangan atas kepal USS Liberty dilakukan oleh Arab).

Kematian Michael Jackson, sebagaimana Marilyn Monroe, Elvis Presley atau Lady Diana adalah kejahatan konspirasi. Bukan karena alasan para pelakunya yang sudah memiliki pengalaman melakukan kejahatan serupa sepanjang sejarah (biasanya digunakan alasan klasik seperti serangan jantung, overdosis, atau kecelakaan), juga karena motif pengalihan perhatian tersebut.

Ingat kata-kata bijak Ronggowarsito: Suatu saat dunia akan dilanda oleh "jaman edan" dan sebagian besar orang turut menjadi gila untuk mempertahankan hidup. Namun keselamatan adalah bagi mereka yang "eling" (ingat kepada Tuhan) dan waspada.

DPR AS TUNTUT KETERBUKAAN THE FED


Federal Reserve Bank (The Fed) atau bank sentral Amerika, bank swasta yang diberi kekuasaan untuk menciptakan uang dollar dan bekerja secara rahasia dan serba eksklusif termasuk mendapat keistimawaan bebas pajak (meski sebenarnya melanggar UU), kembali mendapat sandungan kecil. DPR Amerika atau Senat, baru-baru ini menuntut The Fed untuk membuka dokumen-dokumen terkait dengan pemberian dana talangan (bailout) yang diberikannya kepada Bank of America yang diduga telah disalah gunakan untuk melakukan akuisisi terhadap Merryl Lynch (salah satu perusahaan investasi terbesar Amerika).

Tuntutan keterbukaan tersebut sebenarnya bukan yang pertama kali. Beberapa bulan lalu Bloomberg, salah satu media massa informasi bisnis terkemuka Amerika mengajukan tuntutan berdasarkan UU kebebasan informasi kepada The Fed, untuk membuka informasi tentang alokasi dana talangan (yang nilainya mencapai ratusan miliar bahkan mungkin triliunan dollar) yang dikeluarkan The Fed. Namun tuntutan tersebut, sebagaimana tuntutan-tuntutan serupa yang pernah diajukan, tidak pernah mendapatkan respon yang diharapkan.

Senator Dennis Kucinich (Demokrat-Ohio), yang mengepalai Sub-komisi Kebijakan Domestik Senat AS saat ini dikabarkan tengah berupaya mencari informasi mengenai motif-motif tertentu di balik akuisisi pengambil-alihan tersebut yang diduga menggunakan dana talangan pemerintah. Menurut anggota senat Edolphus Towns (D-N.Y.) dan Darrell Issa (R-Calif.), dokumen-dokumen yang diminta senat di antaranya adalah email, catatan-catatan tanya jawab, dan dokumen-dokumen lain yang penting.

Ketika Bank of America menyelesaikan proses akuisisi atas Merryl Lynch bulan Januari lalu dengan nilai $30 miliar, bank raksasa tersebut baru saja mendapat tambahan dana talangan (bailout) senilai $20 sehingga total dana talangan yang diterima mencapai $45 miliar.

Kucinich dan Towns ingin mengetahui detil-detil sebenarnya di balik kedua kejadian yang berdekatan waktunya tersebut. Mereka khawatiwrr dana talangan (yang semestinya hanya untuk melakukan restrukturisasi internal) justru digunakan untuk mengambil alih perusahaan lain dengan persetujuan The Fed.

Dalam kesaksiannya di depan komisi senat tgl 11 Juni lalu, CEO Bank of America Kenneth Lewis menolak dana talangan digunakan untuk proses akuisisi. Namun ia tidak membantah bahwa Departemen Keuangan dan The Fed lah yang telah mendorong akuisisi tersebut.

“Saya percaya orang-orang yang berkomitmen dan bermaksud baik, baik di kalangan pemerintahan maupun swasta, telah bekerja keras untuk mencegah hancurnya sistem keuangan global yang telah menjalar dalam ekonomi global," katanya.

Namun Kuninich bersikukuh menuduh Bank of America melakukan akuisisi untuk mendapatkan lebih banyak dana segar dari talangan pemerintah yang dikucurkan Departemen Keuangan maupun The Fdd.

"Berdasarkan kebijakan-kebijakan the Fed yang bersifat rahasia dan tidak akuntabel dalam menangani masalah krisis keuangan, banyak pertanyaan masih tidak terjawab hingga sekarang seputar akuisisi Bank of America-Merrill Lynch,” kata Kucinich dalam rapat tersebut.

“Cerita tentang merger Bank of America dengan Merrill Lynch dengan bantuan subsidi yang diberikan rakyat (melalui dana talangan) menimbulkan banyak pertanyaan tentang bagaimana manajemen perusahaan finansial raksasa bekerja di luar hukum,” tambahnya.

Saturday, 27 June 2009

Pembunuhan Neda Soltan dan Program Destabilization 2.0


Pertimbangkan skenario ini. Aksi teorisme terhadap gedung WTC 11 September 2001 telah dipersiapkan sebelumnya. Sistem pertahanan udara Amerika yang sangat canggih dan berlapis-lapis (bahkan dapat menembak jatuh setiap burung yang terbang di atas wilayah Amerika) terutama di kota-kota strategis Washington dan New York, telah sengaja dilumpuhkan oleh otoritas keamanan Amerika sendiri. Hal ini memungkinkan lima pesawat jet penumpang besar yang dikendalikan oleh remote control dari pusat pengendalian lalu lintas udara leluasa terbang menuju sasarannya masing-masing. Awak kru CNN telah berada di tempat yang strategis untuk merekam tragedi runtuhnya gedung WTC sehingga hanya berselang 10 menit setelah serangan terhadap salah satu menara WTC, CNN dapat merekam secara langsung kejadian pesawat jet yang menghantam menara WTC satunya lagi (waktu normal yang dibutuhkan untuk memersiapkan program acara live memakan waktu berjam-jam). Super thermite (material canggih penemuan teknologi modern yang mampu melembekkan materi paling keras seperti besi dan beton) telah dioleskan di tiang-tiang menari WTC dan bom-bom dinamit telah dipasang di tiang-tiang itu. Beberapa menit setelah hantaman pesawat jet terhadap kedua menara, dinamit diledakkan dan meruntuhkan kedua menara WTC bagaikan rumah kartu.

Versi di atas tentu lebih masuk akal dibandingkan versi pemerintah yang digembar-gemborkan media massa barat ke seluruh dunia: sekelompok teroris bersenjata pisau cutter (bom plastik dan senjata api lebih sulit dilacak oleh pelacak sinar X standar di pelabuhan-pelabuhan udara, dibandingkan pisau cutter) membajak lima pesawat dari lima pelabuhan udara yang berbeda secara simultan. Selanjutnya para pembajak yang baru kursus pilot itu mengarahkan pesawat jet besar tersebut menuju sasaran, dengan gaya manuver yang lebih hebat dibandingkan para pilot pesawat jet paling berpengalaman. Dan karena hantaman badan pesawat serta panas yang diakibatkan oleh kebakaran bahan bakar pesawat, kedua menara WTC (yang tahan gempa maupun kebakaran hebat) itu runtuh.

Lalu bandingkan dengan skenario kejadian yang terjadi di Iran yang menimpa Neda Agha Soltan pada saat gencar terjadi demonstrasi besar-besaran di Teheran menentang hasil pemilu baru-baru ini. Seorang sniper agen rahasia CIA menempati posisi siap tembak di atas gedung. Seorang agen rahasia pemandu di bawah menginformasikan keberadaan Neda yang baru saja keluar dari mobilnya. "Ia baru saja keluar dari mobilnya. Sasaran yang ideal," kata agen rahasia pemandu.

Agen sniper membidikkan senjatanya ke sasaran yang telah ditunjuk agen pemandu, menarik pelatuk, dan menggeleparlah Nada di jalan beraspal dengan luka tembak. Tidak lama kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya sementara penembak dan pemandunya meninggalkan tempat kejadian secara diam-diam. Semua kejadian tersebut direkam oleh agen CIA lainnya, atau komprador lokalnya, dari tempat yang tidak terlalu jauh. Kemudian dalam waktu kurang dari satu jam rekaman tersebut sampai di meja redaksi media massa-media massa barat dan tidak lama kemudian menyebar ke seluruh dunia dengan judul: "Aparat Keamanan Iran Menindas Aksi Demonstrasi Damai yang Demokratis".

Tentu saja skenario pembunuhan oleh inteligen CIA lebih masuk akal daripada tuduhan media massa terhadap aparat keamanan Iran. Neda ditembak di tempat yang jauh dari lokasi bentrokan antara demonstran dengan aparat keamanan. Bahkan ia tengah melakukan aktivitas bisnisnya di lokasi yang aman, bukan melakukan demonstrasi. Satu hal lagi, ia ditembak dari belakang.

Dan soal aksi demonstrasi yang damai dan demokratis itu pun jauh dari yang dikatakan. Para demonstran yang lebih banyak membentangkan spanduk-spanduk berbahasa Inggris daripada bahasa persia itu melakukan aksi-aksi anarkis seperti membakar kendaraan dan fasilitas umum, merusak kantor-kantor dan perusahaan-perusahaan, menyerang aparat keamanan hingga membunuhi anggota milisi Basiji tak bersenjata (terdapat 8 orang milisi yang tewas dibantai para demonstran). Padahal otoritas pemilihan umum Iran telah memberikan kesempatan pihak-pihak yang kecewa dengan hasil pemilu untuk mengajukan tuntutan. Tidak sekedar itu, otoritas pemilu bahkan telah melakukan penghitungan ulang di beberapa tempat yang dicurigai terjadi kecurangan.


Peran Soros, CIA, dan Mossad Dalam Pemilu Iran

Penghitungan suara pemilu 12 Juni masih berlangsung ketika Mir-Houssein Mousavi, pimpinan oposisi yang menjadi salah satu kandidat presiden mengumumkan kemenangannya. Tindakan ini tidak lain dimaksudkan untuk menjadi legitimasi gugatan yang akan diajukannya jika hasil pemilu sebenarnya tidak sesuai dengan klaimnya.

Dan benar saja. Setelah KPU Iran menyatakan Ahmadinejad memenangkan pemilu dengan suara mencapai 63%, Mousavi langsung menolak hasil penghitungan dan meminta pemilihan ulang. Dan ketika otoritas pemilu Iran memintanya untuk mengajukan keberatan resmi untuk diproses oleh Dewan Penjaga Revolusi (Guardian Council) atau lembaga tertinggi yang berhak memutuskan hasil pemilu jika terjadi perselisihan, Mousavi justru menyerukan para pendukungnya untuk melakukan aksi-aksi demonstrasi yang berujung pada tindakan anarkis, seraya menuduh Guardian Council tidak berkompeten untuk memutuskan perkara pemilu. Bahkan ketika pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei menyerukan penghitungan ulang di beberapa tempat yang dipersengketakan, Mousavi tidak bergeming dan aksi-aksi demonstrasi justru semakin tidak terkendali.

Tidak ada bahasa lain, Mousavi sebenarnya telah menyerukan pemberontakan. Namun pemerintah Iran (Presiden hanya menjalankan salah satu fungsi pemerintahan. Fungsi lainnya seperti keamanan dan inteligen dipegang oleh Dewan Revolusi yang diketuai oleh Ali Khamenei) masih menahan diri dengan tidak menangkap Mousavi. Namun ketika Mousavi dan pendukungnya mengabaikan perintah Khamenei untuk menghentikan aksi-aksi demo anarkis, bahkan justru balik menuntut Khamenei untuk mundur, aparat keamanan tidak memiliki alternatif lain selain menindak para demonstran dengan keras hingga dilaporkan belasan orang meninggal dunia (termasuk Neda Soltan, namun di luar 8 anggota milisi Badiji yang tewas dikeroyok demonstran).

Apa yang dilakukan Mousavi tidak lain karena dirinya mendapat dukungan kuat pemerintah, dinas inteligen dan media massa barat. Media massa barat berlomba-lomba membuat tuduhan-tuduhan palsu tentang pemilu Iran. Contoh paling menyolok dilakukan BBC yang memuat gambar ribuan demonstran pendukung Ahmadinejad yang diklaimnya sebagai pendukung Mousavi. Setelah dikritik oleh para pembacanya dan menjadi pembicara di milis-milis dan blog-blog, BBC baru mengganti gambar tersebut tanpa disertai permintaan maaf kepada pembacanya, apalagi kepada Ahmadinejad.

Internet, juga membantu operasi disinformasi tentang pemilu Iran (meski juga menjadi sarana efektif para blogger dan netter yang netral untuk menyerukan kebenaran dan mengkounter disinformasi). Pada tgl 13 Juni (sehari setelah pemilu) ribuan "tweet" membanjiri Twitter berupa gambar-gambar kekerasan yang dilakukan aparat keamanan Iran terhadap para demonstran, hampir semuanya berbahasa Inggris, dengan gambar-gambar yang identik alias dihasilkan oleh sumber yang sama.

Fenomena disinformasi ini disajikan dengan tepat oleh Jerussalem Post, media massa terbitan Israel. Jerussalem Post bahkan menyebutkan kemungkinan keterlibatan Mossad dalam aksi tersebut. Selain itu YouTube (sudah menjalin kerjasama dengan Anti Demafation League atau LSM Yahudi Amerika untuk menyensor video-video anti Israel) menyediakan link "Breaking News" yang menghubungkannya dengan video-video peristiwa terkini di Iran.

Fenomena di Iran bisa digambarkan sebagai sebagai program Destabilization 2.0, yaitu program terbaru menjungkalkan pemerintahan demokratis yang tidak disukai oleh zionis Amerika. Namun Iran menjadi tempat favorit penerapan program ini karena program awal Destabilization 1.0 adalah penggulingan perdana menteri Iran terpilih Mohammad Mosaddeq tahun 1953 yang tidak disukai karena menasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak asing. Gerakan reformasi Indonesia tahun 1998 termasuk dalam program sejenis yang dijalankan setelah Presiden Soeharto tidak lagi bisa dikendalikan, bahkan justru berbalik haluan politik menjadi pro-Islam.

Program-program sejenis lainnya adalah Revolusi Mawar di Georgia (2003), Destabilization 1.8 untuk Revolusi Oranye di Ukrainia (2004) dan Destabilization 1.9 untuk Revolusi Cedar di Lebanon (2005). Untuk aksi-aksi demonstrasi pendukung Mousavi media massa barat bahkan sebenarnya telah memberikan julukan baru: Revolusi Hijau.

Untuk menggulingkan Mossadeq (Destabilization 1.0), CIA dikirim ke Iran untuk melancarkan serangkaian aksi teror dengan sasaran masjid-masjid dan organisasi-organisasi Islam. Kemudian media massa menuduh aksi-aksi tersebut dilakukan oleh Mossadeq (seorang nasionalis sekuler) sehingga kemudian timbul perselisihan antara kelompok nasionalis sekuler dengan organisasi-organisasi Islam.

Kekacauan politik yang timbul dari aksi-aksi tersebut kemudian menjadi dasar terdinya kudeta militer terhadap Mosaddeq yang berujung pada pengangkatan Shah Iran sebagai pemimpin tertinggi Iran yang menjalankan pemerintahan diktator. Shah selanjutnya menjadi sekutu terpercaya barat di Iran. Demikian kentaranya keterlibatan CIA dalam peristiwa itu sehingga Presiden Obama sendiri belum lama ini mengakui dengan terus-terang hal itu.

Setelah suksesnya program Destabilization 1.0, CIA mengembangkan program kelanjutannya, Destabilization 1.1 yang lebih rumit sedikit dengan menyertakan operasi intelegen ekonomi. Ini dimulai dengan kedatangan IMF memberikan "program bantuan" kepada diktator negara berkembang dengan imbalan bunga mencekik dan proyek-proyek yang boros yang didiktekan IMF yang semua dananya mengalir balik ke IMF dan hanya sebagian kecil yang terserap dalam pembangunan atau mengalir ke kantong-kantong keluarga dan kroni sang diktator. Setelah negeri penerima bantuan kolaps karena korupsi dan hutang yang membengkak, IMF kembali menawarkan "bantuan restrukturisasi" yang berujung pada perampokan habis-habisan sumber kekayaan negeri tersebut. Program ini pun sukses dilaksanakan di banyak negara, dari Jamaica, Burma, Chili, Zimbabwe hingga Indonesia. Pada tahun 2001 program ini dibongkar oleh ekonom pemenang nobel Joseph Stiglitz, namun baru benar-benar dipahami secara menditail oleh masyarakat setelah terbitnya buku karangan John Perkin "Confessions of an Economic Hitman".

Meski tergolong efektif, teknik ini telah diketahui publik dunia sehingga diperlukan program lainnya yang lebih canggih. Maka lahirlah program Destabilization 1.2 yang melibatkan LSM-LSM pro-demokrasi seperti Open Society Institute (OSI), Freedom House, National Endowment for Democracy dan LSM turunannya di negara sasaran seperti JIL dan Yayasan Tifa (Indonesia). Sumber dananya berasal dari figur-figur kontroversial seperti spekulan pasar uang George Soros, Bill Gates, atau Warren Buffet.

LSM-LSM ini melatih, mendukung, memobilisasi, dan mendanai gerakan-gerakan demokrasi di negara-negara berkembang sebagai operasi rahasia untuk mendestabilisasi kondisi politik negara tersebut. Kemudian setelah terjadi pergantian kekuasaan, mereka menempatkan agen-agennya yang telah dibina lama untuk duduk di kursi kekuasaan. Selain di Indonesia (gerakan reformasi 1998), operasi ini berhasil dilaksanakan di Ukraine (Revolusi Oranye 2004), Lebanon (Revolusi Cedar 2005), Georgia (Revolusi Mawar 2003).

Namun meski sukses, skenario tersebut mulai terbongkar dan di sebagian negara korban operasi muncul gerakan tandingan seperti Revolusi Apel di Moldova dan blok oposisi pimpinan Hizbullah di Lebanon. Di Indonesia pun telah muncul kesadaran masyarakat tentang adanya gerakan neoliberal yang membuat ekonomi Indonesia terpuruk. Untuk itu disusunlah program operasi baru Destabilization 2.0 yang kini tengah dipraktikkan di Iran. Program ini melibatkan media internet secara intensif seperti Twitter, Facebook, YouTube dll. Dan seperti program-program sebelumnya, program terakhir ini pun telah terbongkar kedoknya bahkan sebelum membuahkan hasil berupa pergantian regim anti-Amerika (Ahmadinejad dan Dewan Revolusi) menjadi regim pro-Amerika (Mousavi).

Keterangan gambar: penembakan Neda Soltan

Monday, 22 June 2009

Keterkaitan Tragedi WTC dengan Kebangkrutan GM


Apa kaitan antara kebangkrutan perusahaan pembuat mobil General Motors (GM) dengan tragedi World Trade Center (WTC) New York tahun 2001? Jawabnya adalah kedua tragedi tersebut dilakukan oleh orang-orang yang sama yang disebut sebagai zionis Yahudi.

Sebagaimana tragedi WTC, kebangkrutan GM disebut-sebut media massa sebagai peristiwa yang wajar meski mengandung kejanggalan-kejanggalan yang jika dilihat dengan akal sehat tampak jauh berbeda. Dalam peristiwa tragedi WTC misalnya. Jika kita melihat bagaimana sistem pertahanan udara Amerika yang sangat canggih dan berlapis-lapis, terutama di kota-kota paling penting Washington dan New York, lumpuh total, maka kita bisa menyimpulkan peristiwa ini melibatkan pihak keamanan Amerika sendiri.

Hal yang sama terjadi dalam kebangkrutan GM. Bagaimana mungkin sebuah perusahaan pembuat mobil terbesar di dunia (pembuat mobil yang produknya paling laris di dunia), bisa bangkrut. Sebagaimana tragedi WTC, kebangkrutan GM disebabkan oleh skenario internal. Namun yang mengejutkan adalah keduanya dilakukan oleh kelompok orang yang sama.

General Motors dinyatakan bangkrut pada 2 Juni 2009 lalu saat pemerintah Amerika baru saja memberikan talangan puluhan miliar dollar. Kebangkrutan ini menjadi peristiwa kebangkrutan perusahaan terbesar dalam sejarah industri manufaktur Amerika. Kebangkrutan ini sebenarnya juga bisa dilihat sebagai kebangkrutan bangsa Amerika karena peranan GM yang luar biasa dalam sejarah industrialisasi Amerika bisa dianggap sebagai simbol Amerika. Namun tragisnya, media massa, rakyat dan pemerintah Amerika melihat peristiwa ini seperti angin lalu belaka.

Pada tahun 2007 GM tercatat sebagai produsen mobil terbesar di dunia dengan produksi mencapai 9,4 juta mobil (13% produksi mobil global), atau mengalami kenaikan 3% dari tahun sebelumnya. Selama tiga tahun berturut-turut sejak 2005 produksi mobil perusahaan tersebut tidak pernah kurang dari 9 juta unit. Periode tersebut adalah periode terbaik sepanjang sejarah GM yang telah berusia 100 tahun labih dimana GM berhasil melalui periode-periode kesulitan ekonomi global yang sangat serius seperti Depresi Besar tahun 1930-an dan Perang Dunia II. Lalu apa yang salah sehingga dalam waktu dua tahun saja sejak periode terbaik 2007 perusahaan mengalami kebangkrutan?

Jawabnya bisa dilacak sejak tahun 2000 saat George Richard (Rick) Wagoner diangkat sebagai CEO. Bulan terakhir sebelum pengangkatan Wagoner harga saham GM mencapai $93. Di hari pengangkatan Wagoner harga saham GM melorot menjadi $69.81. Di akhir tahun harga saham melorot lagi menjadi $51. Namun meski Wagoner terus membawa suasana kebangkrutan, ia kembali diangkat sebaai CEO pada tgl 1 Mei 2003 dan terus bertahan hingga 29 Maret 2009. Selama periode itu GM mengalami kerugian hingga $85 miliar. Mengapa GM terus menjual mobil lebih banyak namun juga mengalami kerugian lebih besar? Ini yang tidak masuk akal. Dan mengapa mempertahankan orang yang terus menerus memberikan kerugian selama sembilan tahun? Ini lebih tidak masuk akal.

Pada tahun 2008 GM menjual 8,35 juta mobil dengan berbagai nama merk seperti Buick, Cadillac, Chevrolet, GMC, GM Daewoo, Holden, Hummer, Opel, Pontiac, Saab, Saturn, Vauxhall and Wuling. Pasar terbesar produk GM adalah Amerika, diikuti Cina, Brazil, Inggris, Kanada, Rusia, dan Jerman. Meski mencatat rekor penjualan tertinggi selama tahun 2005-2007, dalam semester pertama tahun 2008 GM mengalami kerugian hingga $18.8 miliar. Pada bulan Oktober harga saham GM melorot hingga 76 persen, dan mulai membuat rencana merger dengan Chrysler, perusahaan mobil saingan GM.

Pada saat rencana merger GM-Chrysler, Chrysler dimiliki oleh (80%) perusahaan Cerberus Capital Management, pimpinan Stephen A. Feinberg dan Jacob Ezra Merkin. (Cerberus adalah nama mahluk mitologi berbentuk anjing berkepala tiga dari neraka). Selain itu Feinberg dan Merkin juga memiliki General Motors Acceptance Corp. (GMAC), anak perusahaan yang mengurusi finansial GM.

Pada tahun 2006 GM menjual 51% saham GMAC kepada perusahaan Feinberg, Cerberus Capital Management LP. Selanjutnya Feinberg menunjuk Jacob Ezra Merkin sebagai direktur GMAC. Jika saja merger tersebut terjadi maka Feinberg dan Merkin akan menjadi pemilik saham mayoritas baik GM maupun Chrysler. Inilah skenarionya, membangkrutkan GM untuk diambil alih.

Setelah Cerberus menguasai GMAC, mereka menaikkan persyaratan kredit kepemilikan mobil GM sehingga mengancam penjualan GM. Cerberus diduga melakukan taktik ini untuk memaksa GM menjual sisa saham GMAC kepadanya.

Sebelum menjadi CEO, Ezra Merkin adalah salah satu pemilik Bank Leumi yang berpusat di Israel, juga sebuah bank di Swiss. Ia pernah mengadakan pertemuan rahasia dengan Ariel Sharon (saat itu PM Israel) dan Ehud Olmert (kemudian menjadi PM Israel) di New York City 10 September 2001, atau sehari sebelum Tragedi WTC. Saat itu Merkin memberi sumbangan $500 juta kepada Sharon.

Merkin adalah seorang kriminalis. Ia salah satu tokoh kunci yang terlibat dalam skenario Ponzi yang dilakukan Bernard Madoff yang merugikan para nasabahnya hingga $50 miliar dimana kurang dari $1 miliar saja yang berhasil diidentifikasi penyidik Amerika. Diduga sebagian dana tersebut dilarikan Merkin ke Israel dan Swiss.

Baik Feinberg maupun Merkin, keduanya memiliki saham di Bank Leumi di Israel yang diswastanisasi oleh pemerintahan Benjamin Netanyahu. Bank Leumi memiliki beberapa cabang di luar negeri termasuk di Swiss yang berfungsi sebagai money launder.

Pada tgl 30 Desember 2008 pemerintah Amerika memberikan talangan sebesar $6 miliar kepada GMAC yang dipimpin Merkin dan Feinberg. (Feinberg adalah sosok yang sangat misterius hingga bahkan buku kumpulan biographi Who's Who menulisnya telah meninggal dunia!). Talangan tersebut merupakan tambahan dari talangan sebelumnya sebesar $13,4 miliar yang diberikan pemerintah kepada GM dan Chrysler.

Merkin menjabat sebagai eksekutif sejak November 2006. Selama kepemimpinannya GMAC mengalami kerugian hingga $8 miliar. Meski merugikan GMAC dan keterkaitannya dengan kasus Madoff, pemerintah Amerika tidak merasa keberatan untuk terus memberikan talangan (yang dibiayai oleh pajak rakyat) kepada perusahaan Merkin.

Jacob Ezra Merkin, seorang yahudi orthodox dan seorang zionis sejati baru mengundurkan diri dari GMAC pada 9 Januari 2009.

GMAC adalah perusahaan yang menarik untuk dikuasai. Menjadi anak perusahaan GM sejak 1919, GMAC menyediakan kredit senilai $1.4 trillion untuk membiayai kepemilikan 162 juga mobil GM. Meski awalnya hanya didirikan untuk membantu pembiayaan konsumen GM, GMAC kemudian merambah ke sektor lain seperti real estate dengan mendirikan GMAC Commercial Mortgage (GMACCM). Perusahaan terakhir ini lah yang membantu keuangan Larry Silverstein dan Frank Lowy (mantan pasukan komando Israel) untuk membeli kompleks World Trade Center pada bulan Juli 2001, atau hanya dua bulan sebelum tragedi WTC terjadi.

Dalam proses tersebtu GMAC Commercial Mortgage menjual obligasi senilai $563 juta yang kemudian digunakan Silverstein membeli WTC. Direktur keuangan GMAC saat itu adalah Eric A. Feldstein, kelahiran Brookline, Massachusset tahun 1959. Feldstein telah bekerja di GM sejak 1981 hingga 1991 dan menjadi "regional treasurer" di Eropa antara 1991-1993. Tahun 1996 ia diangkat menjadi wakil presiden merangkap direktur keuangan GMAC sekaligus chairman di GMAC Mortgage Group, dimana ia mengawasi semua aspek keuangan perusahaan.

Pada bulan November 1997 Feldstein diangkat sebagai direktur keuangan GM dan sebulan kemudian diangkat sebagai vice president. Pada bulan Juni 2001 (3 bulan sebelum tragedi WTC) Feldstein menjabat sebagai vice presiden dan direktur keuangan sekaligus. Setelah GM dan GMAC mengalami kerugian pada tahun 2008, Feldstein bergabung dengan Feinberg dan Merkin di Cerberus sebagai executive vice president. Mungkin karena mereka bertiga, maka perusahaan mereka diberinama Cerberus yang artinya sekali lagi adalah anjing neraka berkepala tiga.

Eric Feldstein adalah anak dari Donald Feldstein, tokoh zionis yahudi terkemuka di daerah New York dan New Jersey. Donald dan Silverstein (pemilik WTC) memiliki hubungan melalui UJAF (Jewish Appeal-Federation Jewish Philanthropies), sebuah organisasi penggalang dana untuk Israel. Donald dan Larry menjadi direktur eksekutif. Hubungan tersebut menjadi satu alasan mengapa Eric Feldstein menggunakan dana GMAC untuk membantu Larry membeli WTC. Melalui organisasi-organisasi yahudi seperti UJAF, B'nai B'rith, ADL, SWC, Jewish Freemasons dlsb, jaringan yahudi bekerja secara rahasia.

Pada bulan Juni 2008 Eric Feldstein bergabung dengan Eton Park Capital Management dan menjadi salah satu eksekutifnya. Eton Park, sebuah perusahaan penjamin keuangan dimiliki oleh Eric M. Mindich, mantan eksekutif Goldman Sachs, dan Alan R. Batkin yang menjadi senior partner. Batkin adalah figur yang memiliki koneksi tinggi. Sebagai contoh ia pernah menjadi vice chairman Kissinger Associates Inc. Antara 1990 dan 2006. Selain itu ia juga menjadi eksekutif beberapa perusahaan Israel lainnya seperti Israel Discount Bank (IDB) dan Discount Investment Corporation, Ltd. (The IDB adalah salah satu bank yang menjadi money launder kasus Madoff).

Selain itu Alan R. Batkin juga menjabat sebagai dewan gubernur Tel Aviv University selain sebagai eksekutif PEC Israel Economic Corp (anak perusahaan Discount Investment Corporation, Ltd). Ia juga menjadi CEO dari Orama Ltd, anak perusahaan IDB Group yang didirikan tahun 1999 untuk mendukung industri teknologi Israel.

Antara tahun 1972-1990 (14 tahun) ia menjabat sebagai Managing Director Lehman Brothers. Ia juga tercatat pernah menduduki jabatan penting di beberapa perusahaan raksasa lainnya yang dimiliki oleh jaringan zionis yahudi seperti Overseas Shipholding Group Inc (OSG), Hasbro Inc, Infinity Broadcasting Corp.

Namun jasa Batkin terhadap gerakan zionisme yahudi belum seberapa dibandingkan ayahhya, Stanley Irving Batkin. Stanley pernah menerima penghargaan Medali Perdana Menteri tahun 1974 dan Medali Kota Jerussalem tahun 1976, yang hanya diberikan kepada orang-orang yang dianggap berjasa besar bagi Israel. Stanley telah mengabdikan dirinya kepada negara Israel sejak terbentuk tahun 1948. Di antara jasanya adalah menjadi eksekutif di beberapa organisasi Zionist Organization of America, State of Israel Bond Committee, Jewish Theological Seminary, State of Israel Bonds, Israel's Weizmann Institute of Science, Friends of Bezalel Academy of Arts & Design, Inc., dan Yeshiva University Museum.

Kebohongan "Kecurangan Pemilu Iran"


Tidak ada pemilu di dunia dimana Amerika menaruh perhatian demikian besar selain pemilu di Iran yang baru saja dilaksanakan 12 Juni lalu. Bagaikan paduan suara, para pejabat dan media massa Amerika (juga negara-negara barat lainnya) berteriak-teriak keras mengecam hasil pemilu Iran yang dimenangkan oleh Mahmoud Ahmadinejad atas lawannya yang didukung Amerika dan barat, Hossein Mousavi. Mereka juga berteriak-teriak (meski tidak sekeras di Iran) pemilu di Venezuela dan Palestina yang dimenangkan oleh pemimpin yang dibencinya meski pemilu tersebut berjalan demokratis. Sebaliknya mereka bersuka ria menyambut "kemenangan" sekutunya dalam pemilu legislatif di Lebanon meski faktanya dimemenangkan oleh pihak oposisi dengan perolehan suara hingga 55%.

Hasil pemilu Iran merupakan kasus klasik dalam politik dimana tokoh incumbent yang populis (Ahmadinejad) memenangkan pemilu dengan meyakinkan (63,3%), sementara lawannya yang didukung barat (Mousavi) hanya memperoleh suara seadanya (34,2%). Hal ini mirip dengan kemenangan Peron (Argentina), Chavez (Venezuela), Evo Morales (Bolivia) dan Lula da Silva (Brazil).

Pemilu kali ini mencatat rekor kepesertaan rakyat yang mencapai 80% lebih. Kubu oposisi yang dipimpin Mousavi menentang hasil pemilu dengan menggelar aksi-aksi demonstrasi yang berujung pada aksi-aksi kekerasan seperti pembakaran kendaraan dan kantor-kantor serta bentrokan dengan aparat keamanan.

Hampir semua spektrum pembentuk opini masyarakat barat seperti politisi, media massa cetak dan elektronik hingga website internet, secara seragam mencap pemilu Iran sebagai kecurangan. Mereka semua menyerukan apa yang diserukan kubu oposisi Iran dan memuji-muji para demonstran sebagai pembela demokrasi. Mereka secara tersamar mendorong oposisi untuk melakukan revolusi politik demi mengganti regin kekuasaan.

Para politisi demokrat maupun republikan sama-sama mengecam pemerintah Iran dan mendukung para demonstran. The New York Times, CNN, Washington Post, dan media massa Amerika lainnya menyuarakan tuntutan Israel untuk melakukan sangsi keras kepada Iran dan menyebut rencana dialog Presiden Obama dengan pemerintah Iran telah "mati".


Tuduhan-tuduhan Penuh Kebohongan

Tgl 17 Juni lalu situs internet BBC ketahuan melakukan kebohongan publik dengan memuat gambar pendukung Ahmadinejad yang diklaimnya sebagai pendukung Mousavi. Setelah dikritik para pembaca yang kritis, BBC menggantinya dengan gambar yang lain.

Itu adalah salah satu bentuk kampanye besar-besaran yang dilakukan barat untuk mendeskreditkan hasil pemilu Iran demi kepentingan kandidat yang didukungnya, Mousavi. Kampanye tersebut demikian kotornya sehingga BBC, media yang memiliki reputasi terhormat di kalangan media massa internasional "tega" melakukan cara-cara kotor.

Para pemimpin politik dan media massa barat menolak kemenangan Ahmadinejad karena merasa bahwa kandidat pilihannya tidak mungkin kalah. Selama berbulan-bulan mereka memborbardir masyarakat dengan berita-berita dan ulasan-ulasan tentang kegagalan pemerintahan Iran di bawah kepemimpinan Ahmadinejad. Mereka mengutip pernyataan tokoh-tokoh masyarakat, mantan pejabat, pedagang, semuanya dari kalangan menengah atas perkotaan pendukung Mousavi, untuk membuktikan bahwa Mousavi telah memenangkan pemilu. Kemenangan Mousavi dipuji-puji sebagai kemenangan "kehendak rakyat untuk perubahan".

Beberapa waktu sebelum pemilu media massa barat memuji-muji kondisi di Iran sebagai kondisi yang ideal dalam negera demokrasi yang tengah menghadapi pemilu. Namun begitu diketahui bahwa Mousavi kalah, bahkan di kalangan sukunya sendiri etnis Azeris, mereka ramai-ramai menuduh pemilu yang mendapat pengawasan dari dalam dan luar negeri itu berlangsung curang.

Yang mencengangkan adalah, meski para pendukung Mousavi terus gencar melakukan aksi demo anarkis (di beberapa tempat diselingi aksi aksi pengeboman yang diduga dilakukan oleh inteligen barat, termasuk di makam pemimpin Revolusi Iran Imam Khomeini yang menewaskan dua orang), namun mereka tidak pernah mengajukan keberatan secara resmi. Bahkan meski pun otoritas penyelenggara pemilu menyatakan kesediaan melakukan penghitungan ulang, mereka menganggapnya sebagai angin lalu. Mereka justru mengintensifkan aksi-aksi demonstrasi melawan peringatan pihak keamanan yang mengancam akan menindak tegas aksi mereka. Fakta-fakta itu semua semakin membuka kedok adanya kaitan antara kepentingan asing dengan aksi-aksi demonstrasi yang digelar pendukung Mousavi.

Media massa barat hanya melihat satu pihak saja dalam konflik pemilu Iran, yaitu pihak oposisi dan mengabaikan fakta bahwa Ahmadinejad pun memiliki pendukung yang banyak, jauh lebih banyak dibandingkan Mousavi. Ahmadinejad didukung oleh mayoritas rakyat Iran terutama rakyat kebanyakan yang banyak menikmati kemajuan ekonomi di bawah kepemimpinan Ahmadinejad yang populis. Sebaliknya Mousavi hanya mendapat dukungan kuat di kalangan kelas menengah-atas di kota besar yang minoritas.

Beberapa pakar yang menjadi narasumber langganan media massa, seperti Gideon Rachman dari Financial Times, mengklaim bahwa kemenangan Ahmadinejad dengan perolehan suara hingga 63% termasuk di proponsi yang mayoritas dihuni etnis Azeri (etnis asli Mousavi), tidak masuk akal. Menurutnya kemenangan Ahmadinejad, kalau memang ia yang menang, paling realistis adalah 51%. Di atas itu adalah kecurangan dan itu menjadikan wajar aksi-aksi demonstrasi pendukung Mousavi.

Faktanya adalah Ahmadinejad bahkan menang di daerah Azeri berkat kebijakan-kebijakan ekonominya yang memuaskan masyarakat keturunan Azeri seperti kredit murah untuk petani dan pengusaha kecil dan pemutihan kredit macet. Musavi hanya menang di kota-kota besar di daerah Azerbeijan Barat serta di pusat kota Teheran. Sisanya yang jauh lebih besar menjadi miliknya Ahmadinejad.

Penolakan media massa barat terhadap kemenangan Ahmadinejad sebenarnya bertentangan dengan beberapa jajak pendapat yang diadakan di Amerika. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan dua orang pakar Iran dan dimuat di Washington Post 15 Juni menunjukkan bahwa Ahmadinejad menang lebih besar daripada hasil pemilu. Di daerah Azeri Ahmadinejad bahkan unggul mutlak atas Mousavi. Pooling itu juga menunjukkan klaim Mousavi didukung oleh kelas atas dan pemilih usia muda terbantahkan. Satu-satunya kelompok yang konsisten mendukung Mousavi adalah para mahasiswa, sarjana, pengusaha dan kelas atas. Mereka terpusat di utara Teheran.

Secara umum Ahmadinejad di propinsi-propinsi kaya minyak dan penghasil produk-produk kimia dimana para pekerja kilang minyak dan pabrik kimia menentang privatisasi perusahaan-perusahaan publik yang diusulkan kalangan "kelas atas". Selain itu sentimen agama yang dipicu oleh kebijakan perang Amerika dan Israel di Timur Tengah (termasuk di dalam negeri Iran melalui aksi-aksi inteligen) membuat sebagian besar rakyat Iran yang beragama Islam Syiah mendukung Ahmadinejad yang "berani" melawan Amerika. Sebaliknya mereka menolak kandidat oposisi yang dianggap lembek terhadap Amerika.

Pendek kata rakyat melihat bahwa Ahmadinejad telah berbuat baik dalam masalah keamanan nasional, integritas bangsa, dan kesejahteraan sosial. Sebagian besar rakyat Iran masih menghargai nilai-nilai sosial dan solidaritas dibanding para pendukung Mousavi yang "individualis".

Dalam konteks liberalisme ekonomi yang saat ini menjadi paham ekonomi dominan di dunia, Ahmadinejad bisa dilihat sebagai ekonom kerakyatan. Sebaliknya Mousavi dan pendukungnya dianggap sebagai ekonom pasar. Dan rakyat Iran sudah memutuskan untuk memilih ekonomi kerakyatan daripada ekonomi pasar yang hanya menguntungkan para pemilik modal dan koruptor.

Kritikan Mousavi terhadap kebijakan luar negeri Ahmadinejad yang anti-barat hanya didengar oleh para mahasiswa, pengusaha dan orang-orang kaya di Teheran Utara dan justru memisahkan mereka dengan suara rakyat kebanyakan. Kekalahan mereka membuktikan jauhnya mereka dari aspirasi rakyat Iran.

Kemenangan Ahmadinejad semestinya menyadarkan Amerika dan barat. Bahkan mendukung kelompok "elit" yang tidak didukung mayoritas rakyatnya, hanya memberikan keamanan semu, yang setiap saat akan dapat meledak dan menghancurkan kepentingan mereka. Sejarah akan melihat bahwa regim-regim diktator korup dukungan mereka seperti presiden Mesir, raja Yordania, raja Saudi, PM Lebanon, Presiden Palestina, Presiden Pakistan, sebentar lagi akan tumbang oleh suara rakyat.

Sampai saat ini sebagian besar pemimpin negara barat (kecuali Menlu Inggris David Milliband dan Presiden Perancis Nicholas Sarkozy, keduanya yahudi) tidak mempermasalahkan hasil pemilu di Iran dan hanya menyerukan pemerintah untuk memperlakuan demonstran dengan lunak. Presiden Barack Obama pun tidak pernah menyatakan untuk menghentikan rencananya melakukan dialog dengan pemerintahan Iran. Namun sayangnya media massa hanya mau menyuarakan kepentingan zionis yahudi yang menginginkan barat dan khususnya Amerika melakukan tekanan lebih keras kepada Iran.

NATO YANG KEWALAHAN DI AFGHANISTAN


Beberapa waktu terakhir ini di media-media massa kita sering kali mendengar kabar tentang ovensif pasukan NATO di Afghanistan disertai angka-angka korban di pihak Taliban yang sangat signifikan sehingga mungkin kita berfikir bahwa NATO akan segera memenangkan peperangannya di Afghanistan. Namun fakta sebenarnya ternyata jauh dari yang diberitakan.

Menurut koran The Independent tgl 12 Juni lalu, saat ini pasukan NATO di Afghanistan justru tengah bertahan menghadapi ofensif besar-besaran pasukan Taliban. Dan pasukan Inggris yang berada di medan perang paling intensif harus menderita parah.

Menurut keterangan pejabat NATO yang dikutip The Independent, serangan Taliban telah meningkat 73% dan tingkat kematian pasukan NATO akibat serangan Taliban meningkat 78%. Serangan terhadap personil pemerintah Afghanistan juga meningkat sebanyak 64%. Pada bulan Mei lalu kematian personil militer Inggris mencapai 12 orang, bulan kematian tertinggi kedua selama pendudukan NATO di Afghanistan.

Ofensif Taliban tersebut menjadi perhatian khusus dalam pertemuan para menteri pertahanan NATO di Belanda baru-baru ini. Menhan Amerika Robert Gates mendesak agar NATO melakukan langkah-langkah serius untuk menghentikan ofensif tersebut dan menambahkan bahwa "kesabaran rakyat Amerika sangat tipis' terkait dengan masalah di Afghanistan yang semakin banyak memakan korban.

Jendral David Petraeus, komandan tertinggi Amerika di Timur Tengah mengatakan bahwa kekerasan telah meningkat tingkat tertinggi minggu lalu. Ia juga mengakui bahwa telah terjadi peningkatan intensitas serangan Taliban yang signifikan sejak dua tahun lalu. "Masih ada banyak masa sulit ke depan," kata Jendral David seraya mengingatkan rencana pemilu Afghanistan bulan Agustus mendatang.

Periode bulan Januari-Maret tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu menunjukkan peningkatan serangan bom dan ranjau hingga 87% dengan tingkat kematian meningkat 60%.

Beberapa pejabat militer NATO mengungkapkan bahwa tingginya tingkat serangan Taliban disebabkan Taliban tetap aktif melakukan ofensif meskipun di musim dingin yang biasanya digunakan Taliban untuk beristirahat. Di propinsi Helmand di mana pasukan Inggris ditempatkan, tingkat serangan Taliban mencapai 12 serangan per-hari. Adapun di Kandahar, tempat kelahiran Taliban dan medan perang paling intensif di masa lalu, tingkat serangan Taliban mencapai 4 serangan per-hari.

Propinsi Helmand menjadi medan favorit Taliban karena kondisinya yang bergunung-gunung. Helmand juga menjadi pusat komando Taliban serta penghasil 44% opium Afghanistan yang merupakan produsen opium terbesar di dunia. Meski saat berkuasa Taliban menumpas habis perdagangan opium Afghanistan, di masa perang opium menjadi salah satu sumber keuangan Taliban.

Sebanyak 12.000 dari 30.000 pasukan tambahan Amerika yang dikirim presiden Obama telah ditempatkan di Helmand. Dengan pertimbangan Amerika akan melancarakan ovensif besar-besaran di musim panas mendatang (sekitar bulan Juli), Taliban memutuskan untuk mendahului melakukan ovensif.

Di sisi lain Amerika sebagai pimpinan pasukan koalisi NATO di Afghanistan terus dilanda frustasi. Ini tampak jelas dengan dipecatnya Jenderal David McKiernan selaku komandan pasukan Amerika di Afghanistan, Senin 11 Mei lalu. Padahal kepemimpinan jenderal ini di Afghanistan belum sampai setahun.

Sebenarnya David McKiernan dipandang sebagai orang yang berhasil dalam memegang komando militer AS. Dia berhasil dalam agresi AS di Irak, namun menghadapi medan perang Afghanistan, dia menjadi stress dan frustasi. Ia bahkan pernah mengatakan bahwa AS tidak akan menang dalam perang di Afghanistan. Tentu saja pernyataan ini membuat Washington meradang karena selama ini Amerika terkenal dengan peralatan militernya yang canggih.

Aneh memang mendengar pernyataan seorang jenderal dengan ribuan pasukan dan kecanggihan peralatan militernya mengatakan hal seperti itu. Pernyataan sang jenderal inilah yang diduga menjadi salah satu alasan kenapa ia diturunkan dari jabatannya.

Pentagon pun telah menunjuk penggantinya, yaitu Jenderal Stanley McChrystal. Dia adalah seorang jenderal yang dikagumi Pentagon karena menjadi tokoh kunci dalam agresi ke Irak. Ia adalah mantan kepala pasukan khusus yang berhasil menangkap salah satu buronan yang paling dicari di Irak.

Sampai akhir tahun ini jumlah tentara AS di Afghanistan mencapai 68.000 orang, dua kali lipat dari masa pemerintahan Bush. Walau demikian, jumlah tersebut masih jauh di bawah 130.000 tentara yang masih berada di Irak. McKiernan dan panglima AS lainnya mengatakan sumber daya yang mereka perlukan di Afghanistan masih mengurus Irak.

Latar belakang Stanley yang mempunyai ‘integritas baik’ ini membuat pemerintahan AS mengangkatnya menjadi komandan dengan tujuan memenangkan Perang Afghanistan melawan Taliban secepatnya. Komando baru di bawah McChrystal akan bertanggung jawab atas strategi baru Obama dalam mengatasi serangan milisi yang kian brutal dan kuat. Strateginya, bergantung pada kemampuan pasukan khusus dan taktik mengatasi pemberontakan yang dikuasai McChrystal. Jenderal baru tersebut dikabarkan juga memahami cara-cara pendekatan non-militer menghadapi Taliban.

Dilihat dari kekuatan Taliban-Afghanistan sendiri, sebenarnya peralatan tempur mereka hanya dipersenjatai dengan senjata yang sederhana, sisa peperangan dengan Uni Soviet. Di sisi lain pasukan AS dan sekutunya dilengkapi dengan senjata-senjata canggih ditambah lagi dengan pesawat-pesawat tanpa awak, pengebom, dan senjata pemusnah massal yang dilarang seperti bom fosfor.

Dari Afghanistan sendiri dilaporkan, baru-baru ini tentara sekutu menggunakan senjata fosfor untuk melawan milisi Taliban. Serangan fosfor tersebut terjadi di Bala Buluk, sebuah distrik di sebelah barat Provinsi Farah. Akibat serangan membabibuta ini korban tewas lebih dari 140 warga sipil. Menurut salah satu dokter yang bekerja di Rumah Sakit Internasional Heart, Beberapa warga desa mengalami luka bakar yang tidak biasa.

"Salah satu korban yang dibawa ke sini mengatakan 22 anggota keluarganya mengalami luka bakar. Sebuah bom yang meledak menyebarkan serbuk putih dan orang yang terkena serbuk itu langsung terbakar," kata Dokter Jalali, salah seorang dokter di rumah sakit setempat.

Nader Nadery, seorang pejabat kominsi independen HAM Afghanistan juga mengkhawatirkan senjata kimia tersebut karena kebanyakan target serangannya lebih banyak menimbulkan korban warga sipil.

Alih-alih memerangi apa yang disebut oleh Amerika sebagai “teroris”, rupanya para agresor menghalalkan segala cara walau korban dari pihak sipil telah banyak berjatuhan. Malah dengan sikap acuhnya, AS ingin terus melanjutkan agresinya di Afghanistan. Hal ini diungkapkan oleh Penasehat Keamanan Nasional AS, Jenderal James Jones yang sepertinya ingin terus menjajah Afghanistan.

“Seharusnya Presiden Afghanistan Hamid Karzai paham bahwa AS harus memberikan dukungan penuh pada kekuatan pasukan AS di Afghanistan,” kata Jones.

Walaupun segala cara telah digunakan, tetap saja tentara-tentara AS dan sekutunya hanya akan menggali kubur sendirinya karena para pejuang Taliban Afghanistan tetap eksis.

Seorang pengamat militer AS pernah mengatakan, kekuatan peralatan militer yang canggih belum tentu dapat memenangkan sebuah peperangan, karena kekuatan peralatan bukanlah yang utama. Masih ada kekuatan lain yang bisa mengalahkan kekuatan yang canggih tersebut, yaitu kekuatan semangat dalam diri yang justru dimilki oleh pejuang Taliban.