Thursday, 11 November 2010

Sang Terpilih (12)


Keterangan gambar: Bintang Daud dan el diablo sign


"Organisasi" dimana Subagyo bekerja secara diam-diam adalah sebuah perkumpulan freemason yang berpusat di Washington, Amerika. Organisasi ini bertujuan menyatukan benua Asia Timur, Amerika dan Eropa menjadi satu satuan ekonomi dan "negara super" yang memiliki konstitusi dan institusi-institusi kenegaraan sendiri seperti pemerintahan, parlemen, pengadilan, birokrasi, angkatan bersenjata dan polisi. Sampai lima tahun lalu ide seperti ini hanya dianggap sebagai sebuah "teori konspirasi". Namun melihat secara kasat mata Uni Eropa telah menjelma menjadi sebuah "negara super", orang-orang liberal idiot pencibir "teori konspirasi" itu kini diam membisu seperti membisunya Barack Obama, Hillary Clinton, Hoesni Mubarrak, Raja Jordania dan Raja Saudi al Wahabi atas sikap keras kepala Israel yang terus membangun pemukiman yahudi di daerah pendudukan di bumi Palestina.

Ada banyak organisasi freemason lainnya, yang tertinggi adalah Bilderberger Group yang berusaha menyatukan dunia dalam satu pemerintahan global dengan orang-orang yahudi sebagai penguasanya tentunya. Namun bahkan di atas Bilderberger Group sendiri terdapat organisasi freemason tertinggi yang tidak diketahui keberadaannya. Mereka terdiri dari wakil keluarga-keluarga yahudi paling berpengaruh di dunia seperti Rothschild dan Rockefeller.

Sangat jauh dari sangkaan sebagian orang yang menyebutnya sebagai tradisi orang kulit putih Eropa, freemason adalah tradisi yahudi kuno. Nama dasarnya, mason atau batu bata, merujuk pada arsitek-arsitek kuno yang telah membangun bangunan-bangunan "ajaib" pada masanya, termasuk piramid, taman gantung Babylonia, dan Kuil Solomon. Karena keahliannya tersebut, para arsitek itu dianggap orang-orang yang menerima langsung pengetahuan artisekturnya dari malaikat, atau bahkan dianggap tukang sihir yang bekerjasama dengan jin. Pendek kata mereka adalah manusia-manusia istimewa, setara para nabi. Arsitek yang paling menginspirasi gerakan freemason adalah Hiram Abief, pembangun Kuil Sulaiman.

Awalnya gerakan freemason didasari pada semangat pencarian ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Namun dalam perkembangannya gerakan ini bercampur baur dengan ritual penyembahan dewa matahari dan semangat chauvinisme yahudi yang rasialis dan imperalis. Gerakan ini juga dibalut dengan budaya penyembahan berhala dan setan kuno Kabbalah. Dewa sesembahan mereka adalah dewa matahari Osiris yang dilambangkan dengan biji mata yang melihat segalanya. Para pemimpin gerakan ini memiliki cita-cita untuk mengembalikan kejayaan kerajaan yudea dengan pembangunan kembali Kuil Solomon di Jerussalem sebagai tujuan akhirnya. Mereka juga percaya dengan nubuat-nubuat dalam kitab-kitab yahudi kuno yang menyebutkan bakal datangnya Messiah akhir jaman yang akan memimpin kaum yahudi menjadi penguasa dunia yang damai sejahtera. Namun sebelumnya dunia harus mengalami perang akhir jaman di sekitar bukit Her Megiddo (Armageddon).

Kini gerakan itu telah mencapai separuh dari tahapan yang mereka rencanakan, yaitu mendirikan negara Israel sebagai batu pijakan mereka menghadapi Armageddon. Kini mereka tengah berupaya kuat mewujudkan ambisi terakhirnya menguasai dunia demi menyambut kedatangan Messiah yang dinantikan. Dan ambisi itu kini bisa dikatakan sudah 90% tercapai. Hanya ada 10% hambatan dari umat Islam yang mempunyai semangat anti-yahudi yang tinggi sebagaimana agamanya mengajarkan. Karena perlawanan umat Islam itu pula kini bahkan pijakan kaum yahudi di Israel belum sepenuhnya aman. Rencana Israel menguasai kota Jerussalem mendapat perlawanan luar biasa hebat dari rakyat Palestina, bangsa yang secara teoritis telah hancur lebur. Ambisi Israel menguasai Lebanon juga berantakan karena perlawanan Hizbollah. Dalam skup lebih luas kini bahkan muncul kekuatan militer Islam yang berani secara terbuka menantang Israel, yaitu Iran sehingga Iran menjadi incaran berikutnya untuk diserang oleh kekuatan militer Amerika dan sekutu-sekutunya. Sejak adanya perlawanan Hizbollah, sejak tahun 1985 Israel bahkan terus-menerus harus kehilangan wilayah pendudukannya di Lebanon. Bukannya berkembang ke tepi Sungai Nil hingga sungai Eufrat sebagaimana cita-cita para pendiri freemason dan gerakan zionisme, wilayah Israel justru terus menyusut. Saat ini pun pasukan pendudukan Amerika dan sekutunya di Afghanistan dan Irak yang sebenarnya bekerja untuk Israel, harus bersiap-siap hengkang dengan muka tertunduk karena perlawanan gerilyawan Islam di negeri-negeri itu.

Anehnya, sebagaimana umat yahudi, nasrani, dan agama-agama lainnya di dunia, umat Islam juga percaya dengan adanya perang akhir jaman. Namun tentu dengan versi sendiri. Dalam satu hadits nabi Muhammad yang terkenal disebutkan sebelum kiamat akan terjadi perang besar antara umat Islam melawan yahudi dimana pada akhirnya umat Islam akan memburu orang-orang yahudi seperti memburu tikus perusak padi. Orang-orang yahudi itu bersembunyi di balik pohon dan bebatuan, namun pada saat itu bahkan pohon dan bebatuan akan berpihak kepada orang-orang muslim dan memberitahukan keberadaan orang-orang yahudi itu untuk dibunuhi seperti tikus. Itulah yang membuat rakyat Palestina tetap bersemangat untuk melawan penindasan Israel meski hanya bersenjatakan batu dan ketapel. Semangat itu pula yang membuat rakyat Afghanistan dan Irak terus melawan pasukan pendudukan Amerika dan sekutu-sekutunya dan mengusir mereka seperti mengusir kodok ke kolam.

Gerakan freemason meliputi beberapa cabang dan memiliki berbagai tingkatan. Masing-masing memiliki metode kerja dan ritual yang berbeda-beda. Biasanya seorang anggota tingkat rendahan tidak menyangka bahwa apa yang dikerjakannya untuk "organisasi", berakhir pada organisasi lain yang lebih tinggi yang sama sekali tidak dikenalnya. Seorang anggota Lions Club sentimentil yang menyumbangkan sebagian hartanya untuk organisasi tentu tidak menyangka sumbangannya ternyata digunakan Mossad, CIA dan M16 untuk menyebar luaskan ekstasi dan seks bebas di kalangan generasi muda, atau untuk menyebarkan virus flu burung ke kawasan Asia Timur. Seorang Sri Mulyati, Budiloyo, Heloh S Namidub, atau Jendral BKD, belum tentu tahu bahwa Rp 150 triliun bunga hutang yang dibayarkan Indungsia untuk bank-bank dan lembaga-lembaga donor asing setiap tahunnya, sebagiannya masuk ke Israel untuk mendanai pembangunan pemukiman-pemukiman yahudi di wilayah pendudukan, sementara Indungsia sendiri mengalami kesulitan membangun infrastruktur atau meningkatkan pelayanan sosial karena beban bunga yang kelewat besar itu.

Di antara agen "organisasi" Indungsia yang paling sibuk melayani "organisasi" akhir-akhir ini tentu saja adalah Jendral Polisi Bambang Karso Dhemit atau oleh pers sering disingkat Jendral BKD. Tidak lain karena ia adalah "foreman" untuk proyek "perang melawan terorisme" yang dilancarkan "organisasi" untuk menghancurkan Islam di Indungsia.

Tuesday, 9 November 2010

Sang Terpilih (11)


Keterangan gambar: sebuah ruang sinagog dengan "checkered floor"


Salah satu agenda "organisasi" yang paling memuakkan di mata Subagyo adalah penyebar luasan homoseksual di masyarakat. Bersama dengan agenda lainnya seperti pornografi dan pornoaksi, homosksualisme adalah satu alat ampuh untuk menghancurkan tatanan sosial masyarakat sehingga tidak ada lagi kekuatan yang bisa menjadi penghambat agenda utama "organisasi" yaitu menguasai dunia dengan memperbudak masyarakatnya.

Sebagai anggota "organisasi" Subagyo diwajibkan untuk mendukung program itu meski secara pribadi ia merasa muak melihat orang-orang homoseks yang sakit jiwa itu diberi keleluasaan. Gerakan ini sebenarnya sudah berjalan cukup lama jauh sebelum Subagyo menjadi presiden. Yang mencolok mata adalah kehadiran mereka di dunia hiburan dan televisi. Untuk yang terakhir "organisasi" bahkan telah menempatkan banyak agennya, orang-orang gay dan lesbian, sebagai produser hingga pemimpin redaksi. Tidak heran jika di stasiun-stasiun televisi banyak bermunculan program-program dan bintang-bintang televisi pro-homoseksual.

Dan gerakan homoseksualisasi di Indungsia semakin menguat setelah munculnya kasus pembunuh berantai Ryan, yang oleh media massa kemudian dijadikan sebagai ikon homoseksualisme di Indungsia. Karena pengaruh "organisasi" lah maka Ryan tidak benar-benar dihukum mati sebagaimana hukuman formal yang dijatuhkan pengadilan atas kekejiannya membantai korban-korbannya. Sebaliknya Ryan justru tampil sebagai selebritis: mengadakan pesta ulang tahun, membuat album rekaman, menulis buku, semuanya dilakukan di penjara. Soal menulis buku tentu saja bukan Ryan yang menulisnya sendiri mengingat intelektualismenya yang jeblok, meski di buku itu ditulias seolah-olah Ryan lah yang menjadi penulisnya. Sebenarnya seorang wartawan gay penerima beasiswa jurnalisme di Harvard University yang telah menulisnya.

Baru-baru ini media massa gencar memberitakan Ryan diwawancarai media massa terkenal dari Amerika. Terakhir dikabarkan ia akan menikahi seorang gadis putri tunggal seorang pengusaha Singapura. Tentu saja pengusaha itu orang yahudi karena tidak ada orang normal yang mau menikahkan putrinya dengan seorang gay maniak seperti Ryan. Lagipula dengan isu pernikahan itu bukankah nama Ryan kembali "moncer"?

Untuk mendukung program ini Subagyo sebenarnya diminta "organisasi" untuk bersama agen-agen "organisasi" di parlemen untuk menfasilitasi penerapan UU Transgender yang memberi hak sosial-politik-ekonomi sepenuhnya kepada orang-orang gay dan lesbian, selain juga hak untuk menikah sesama jenis. Dengan UU ini semua orang yang memperlihatkan ketisak sukaannya secara terbuka terhadap homoseksual bisa dikenai hukuman penjara. Misalnya saja mentertawakan seorang bencong yang berdandan menor, atau sekedar membicarakan mereka secara sembunyi-sembunyi.

UU ini sudah diterapkan di beberapa negara bagian di Amerika dan Eropa, tapi belum bisa sama sekali diterapkan di negara yang manyoritas rakyatnya beragama Islam, karena Islam mengutuk keras perilaku seksual menyimpang ini. Dengan sopan Subagyo menjelaskan kepada George Soros yang menjadi penghubung dirinya dengan "organisasi", bahwa rakyat Indungsia belum siap menerima undang-undang seperti itu. "Diperlukan dua tiga tahun lagi, dengan upaya yang lebih massif dan sistematis," kata Subagyo.

George Soros bisa menerima penjelasan Subagyo, tapi ia bersikeras mendudukkan agennya, seorang lesbian, menjadi menteri pendidikan untuk menebar luaskan virus homoseksual di kalangan anak sekolah. Namun karena selama ini konvensi yang berlaku seorang menteri pendidikan adalah jatahnya organisasi keislaman terbesar, maka orang tersebut akhirnya ditempatkan di pos menteri kesehatan, menggantikan menteri kesehatan lama yang telah secara lancang berani menentang agenda "organisasi" dalam kasus wabah flu burung. Menteri kesehatan baru yang lesbian itu adalah seorang mantan aktifis LSM yang berhasil mengeruk kekayaan melimpah dari isyu kemiskinan yang diusungnya. Ia berasal dari sebuah keluarga yang dari buyutnya telah menjadi agen "organisasi" di Indungsia sejak jaman kolonialis.

Meski tidak seheboh Amerika dimana "organisasi" menempatkan 150 orang gay dan lesbian di jajaran kabinet presiden Barack Obama, dalam kabinet Subagyo "organisasi" setidaknya telah menempatkan beberapa orang gay dan lesbian. Di antaranya Sri Mulyati, mantan menteri keuangan yang kini bekerja di kantor pusat IMF di Washington. Memang ia tidak nampak sebagai seorang lesbian mengingat ia telah berkeluarga dan punya anak. Tapi sebuah upacara inisiasi "organisasi" yang ekstrem telah merubah orientasi seks Sri Mulyati untuk selamanya.

Berbicara tentang pornografi dan homoseksualitas di Indungsia orang seharusnya menyorot fenomena Ahmad Sani, seorang seniman musik papan atas Indungsia yang merupakan keturunan yahudi Jerman melalui darah ibunya yang kawin dengan seorang tokoh politik Islam pribumi. Dengan "Rikiblik Cinta"nya ia menyihir generasi muda Indungsia untuk mencintai gaya hidup hedonisme, free sek dan homoseksualisme. Tanda bahwa ia adalah seorang anggota tingkat tinggi "organisasi" adalah lantai rumahnya yang bercorak petak catur atau disebut "checkered floor". Demikian tinggi tingkatannya sehingga saat ia merayakan pesta ulangtahun putra tertuanya, tokoh-tokoh nasional Indungsia "jew ass sucker" berbondong-bondong datang ke rumahnya. Di antaranya adalah pejabat negara, diplomat, seniman terkenal, wartawan senior, jendral, artis terkenal, akademisi hingga tokoh agama.

Beberapa tahun lalu Ahmad Sani melakukan blunder yang nyaris menghancurkan kariernya. Dalam sebuah acara live di sebuah stasiun televisi milik George Soros, tentunya melalui kaki tangannya yang adalah seorang bankir pribumi, Ahmad Sani menginjak-injak logo bertuliskan kaligrafi Islam. Hanya karena perlindungan ketua ormas Islam besar-lah yang membuat karier Sani terus berkibar. Namun karena sang pelindung sudah meninggal, Sani kini harus lebih berhati-hati lagi agar nasibnya tidak sama dengan pendahulunya yang harus meringkuk di penjara setelah melecehkan Nabi Muhammad dengan menempatkannya sebagai tokoh terpopuler nomor 48 di belakang namanya sendiri.

Tanpa diketahui publik, setidaknya setahun sekali di atas "checkered floor" rumah Sani diadakan ritual penyembahan setan yang diikuti oleh para anggota "organisasi" lokal. Salah satu acara yang ditunggu-tunggu para peserta upacara adalah orgi atau pesta seks, karena pesertanya di antaranya adalah artis-artis cantik dan gantheng menejemen "Rikiblik Cinta".

Monday, 8 November 2010

The Fed and Jekyll Island is Back


Beberapa waktu lalu cerita tentang dominasi yahudi di dunia perfilm-an Hollywood oleh orang-orang yahudi dan liberal idiot dicap sebagai teori konspirasi belaka. Namun kini orang-orang yahudi telah dengan berani lantang berteriak: "Kami memang menguasai Hollywood, lalu mau apa?", demikian judul headline sebuah majalah di Amerika beberapa waktu lalu.

Demikian juga cerita tentang konspirasi pembentukan bank sentral Amerika (The Fed) di Jekyll Island 100 tahun yang lalu. Sebagaimana halnya dengan soal dominasi yahudi di Hollywood, kini orang-orang yahudi seakan berteriak lantang: "Kami memang melakukan konpirasi di Jekyll Island, lalu mau apa?''

Tepat seratus tahun yang lalu, November 1910, sekelompok bankir dan birokrat korup Amerika, mengadakan pertemuan rahasia di Jekyll Island, untuk merancang pembentukan bank sentral Amerika (The Fed), sebuah konspirasi jahat yang membuat seluruh rakyat Amerika hingga rakyat seluruh dunia, menjadi budak-budak bankir yahudi internasional.

Secara singkat konspirasi jahat ini bisa dijelaskan sebagai berikut. Lembaga legislatif Amerika, Congress, alih-alih menyerahkan wewenang pencetakan uang kepada institusi pilihan rakyat yaitu pemerintah, menyerahkan wewenang yang sangat penting itu kepada konsorsium bankir swasta internasional yang untuk mengelabuhi masyarakat diberi nama Federal Reserve. Selanjutnya pemerintah, demi menjalankan roda pemerintahannya diharuskan meminjam uang yang dibutuhkan kepada konsorsium dengan dikenakan biaya bunga yang dibayar dimana cicilan hutang pokok dan bunganya harus dibayar dari pajak penghasilan yang dibebankan kepada rakyat. Agar bisa menjalankan fungsinya secara optimal, konsorsium tersebut diberikan kebebasan mutlak untuk menentukan kebijakan moneter: menentukan jumlah uang beredar, menentukan tingkat suku bunga dlsb.

Dengan kewenangan-kewenangan tersebut konsorsium secara de facto telah menjadi penguasa tertinggi Amerika, karena mereka bisa membuat perekonomian hancur berantakan atau berkembang pesat. Terlebih lagi para anggota konsorsium menjadi manusia-manusia paling kaya sedunia. Bagaimana tidak, mereka cukup bermodal tumpukan kertas untuk mengubahnya menjadi lembaran-lembaran uang milik mereka yang digunakan sebagai alat penukar yang syah. Dan karena mata uang yang mereka cetak telah menjadi mata uang perdagangan internasional, seluruh dunia menjadi tergantung kepada mereka.

Dengan kewenangan yang demikian tinggi ini bahkan Congress, apalagi pemerintah, tidak diperbolehkan melakukan audit terhadap The Fed. Secara de facto mereka bahkan yang menentukan sendiri para eksekutif The Fed, meski untuk penyamaran pimpinan The Fed seolah-olah ditunjuk oleh Presiden.

Dengan konspirasi jahat itu kini pemerintah Amerika harus mengeluarkan $200 - 300 miliar setahun, atau sekitar 2 - 3 x lipat APBN Indonesia, untuk membayar beban bunga hutangnya. Presiden Kennedy pernah mengeluarkan perintah (executive order) menerbitkan uang kertas buatan pemerintah sendiri yang dicetak berdasarkan cadangan perak milik pemerintah. Namun sebelum perintah itu terealisasi, beliau terbunuh oleh sebuah konspirasi jahat. Kennedy bukan presiden pertama Amerika yang dibunuh karena masalah itu. Sebelumnya Abraham Lincoln juga mengalami nasib yang sama.

Mengenai konspirasi jahat ini, Bertie Charles Forbes, pendiri majalah Forbes yang terkenal itu menulis:

"Picture a party of the nation's greatest bankers stealing out of New York on a private railroad car under cover of darkness, stealthily riding hundred of miles South, embarking on a mysterious launch, sneaking onto an island deserted by all but a few servants, living there a full week under such rigid secrecy that the names of not one of them was once mentioned, lest the servants learn the identity and disclose to the world this strangest, most secret expedition in the history of American finance. I am not romancing; I am giving to the world, for the first time, the real story of how the famous Aldrich currency report, the foundation of our new currency system, was written... The utmost secrecy was enjoined upon all."

Dan kini, setelah kedudukan The Fed sangat kuat, mereka seolah mengejek masyarakat yang kritis terhadap peran dan kedudukan mereka. "Kami memang melakukan konspirasi, lalu mau apa?"

Tepat 100 tahun setelah sekompok bankir dan birokrat Amerika korup melakukan konspirasi jahatnya di Jekyll Island, The Fed mengadakan konperensi di pulau yang terletak di lepas pantai negara bagian Georgia itu. Konperensi dibuka tgl 5 November dengan kata sambutan oleh Presiden Federal Reserve Atlanta, Dennis Lockhart. Selanjutnya pada tgl 6 November serangkaian presentasi dan diskusi disajikan oleh para pejabat The Fed, yaitu:

1. President of The Fed, Ben Bernanke: 'Federal Reserve: Past and Present'

2. President of Federal Reserve Atlanta, Dennis Lockhart: 'A Return to Jekyll Island: The Origins, History, and Future of the Federal Reserve'.

3. President of Federal Reserve Bank of Philadelphia, Charles Plosser: 'To Establish a More Effective Supervision of Banking: How the Birth of the Fed Altered Bank Supervision'

4. President of Federal Reserve Bank of Cleveland, Sandra Pianalto: 'The Promise and Performance of the Federal Reserve as Lender of Last Resort 1914-1933'.

5. President of Federal Reserve Bank of Dallas, Richard Fisher menjadi moderator diskusi berjudul: 'Where It All Began: International Trade, the Market for Acceptances, and the Making of Lending of Last Resort in Britain'

6. President of Federal Reserve Bank of St. Louis, James Bullard menjadi moderator diskusi bertema 'From Passing Legislation to Building an Institution: Perspectives on the Early Years of the Federal Reserve System'

7. President of Federal Reserve Bank of St. Louis, James Bullard menjadi moderator diskusi bertema 'The Fed from the Treasury-Fed Accord (1951) until the End of Monetary Targeting (1982)'.

8. President of Federal Reserve Bank of Richmond, Jeffrey Lacker menjadi moderator diskusi berjudul 'The Recent Financial Turmoil: New Directions for Monetary Policy Analysis'.

9. President of Federal Reserve Bank of Chicago, Charles Evans will menjadi moderator diskusi panel berjudul 'The Role of Research in Monetary Policy Deliberations'.

10 President of Federal Reserve Bank of Minneapolis, Narayana Kocherlakota menyampaikan presentasi berjudul: 'Policy and Asset Bubbles'.


Sekali lagi, para konspirator itu telah berteriak lantang: "Kami memang melakukan konspirasi jahat, lalu mau apa?"

Sunday, 7 November 2010

Sang Terpilih (10)


Keterangan gambar: Beberapa anggota tingkat tinggi "organisasi"



Jika ditanyakan kepada para lembaga-lembaga keuangan internasional itu, bagaimana jika Indungsia tidak sanggup lagi membayar cicilan dan bunganya yang mencekik leher? Mereka dengan senang hati akan memberikan tambahan hutang lagi kepada Indungsia yang khusus digunakan untuk mencicil piutang mereka. Lalu bagaimana jika hutang-hutang yang mereka berikan kepada Indungsia dilunasi saja? Mereka pasti akan keberatan, karena dengan demikian berarti mereka tidak lagi akan mendapatkan keuntungan dari bunga pinjaman yang mereka berikan.

Ya, tidak lebih karena lembaga-lembaga keuangan internasional itu adalah kumpulan rentenir yahudi. Namun di tangan mereka, praktik yang dikutuk agama-agama sepanjang peradaban manusia itu berubah menjadi sebuah "kebajikan". Media-media massa menyebut setiap pemberian pinjaman berbunga mencekik leher itu sebagai "bantuan". "Indungsia Mendapat Bantuan $4 Miliar dari IMF", adalah contoh dari ilusi yang dilakukan "organisasi" melalui media massa kaki tangannya. Yang semestinya adalah "IMF Kembali Menjerat Indungsia dengan Tambahan Hutang $4 Miliar".

Salah seorang wartawan senior binaan "organisasi" kini menjadi direktur sebuah BUMN strategis. Ialah yang telah berani membangkang Presiden Subagyo dengan memadamkan listrik di bandara internasional ibukota. Dahulunya ia hanya seorang wartawan bodhong yang setiap hari nongkrong di warung kopi berdiskusi dengan teman-teman sesama wartawan bodhong tentang siapa yang bisa "ditanduk" hari ini. Nasibnya berubah drastis setelah ia mendapatkan "wangsit" melalui mimpinya bertemu dengan seorang pendeta shaolin untuk mengubah namanya dengan membalikkan namanya dari belakang ke depan. Nama aslinya Budiman Sholeh kemudian digantinya menjadi Heloh S Namidub. Selain itu dalam wangsitnya itu ia juga diperintahkan untuk mendirikan patung kuda perunggu di dalam rumahnya. Ia yang adalah putra seorang kiai kampung, memenuhi wangsit itu. Aneh bin ajaib, nasibnya kemudian berubah 180 derajat.

Sejak saat itu Heloh S, yang nama aslinya adalah Sholeh, menjadi terobsesi dengan segala hal yang berbau Cina. Hampir setiap bulan ia pergi jalan-jalan ke negeri tirai bambu itu. Ia mendirikan yayasan kerjasama antar pengusaha Cina-Indungsia. Putra semata wayangnya pun dikawinkan dengan putri seorang pengusaha Cina. Dan ketika ia mengalami penyakit ginjal yang membuat ginjalnya harus diganti, ia memilih dirawat di Cina dan mendapat donor ginjal dari seorang warga Cina. Satu lagi, konon ia menjalin affair dengan direktur keuangan tempatnya bekerja, seorang wanita Cina tentu saja. Namun seorang wartawan senior, sesama wartawan bodhong teman sepermainan Sholeh yang nasibnya tidak juga berubah, mempunyai kisah sendiri. Menurutnya sejak kecil Sholeh memang telah terobsesi dengan Cina karena cintanya kepada seorang gadis keturunan Cina tetangganya, ditolak mentah-mentah.

Selain media massa, para ekonom birokrat "teh botol" adalah orang-orang yang paling bertanggungjawab atas terjadinya pemerasan lintah darat berkedok "bantuan" tersebut. Bagi mereka hutang adalah kewajiban dan meminta mereka berfikir bagaimana agar Indungsia terbebas dari hutang adalah seperti meminta seekor kucing untuk beranak anjing. Dan salah satu "teh botol" itu tentu saja adalah Budiloyo. Dalam acara debat politik di televisi menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden, seorang kandidat menyampaikan sebuah program yang cemerlang, yaitu menunda pembayaran hutang selama beberapa tahun agar anggaran pemerintah bisa digunakan untuk membangun infrastuktur dan investasi pembangunan sehingga perekonomian negara menjadi cukup kuat untuk menanggung beban hutang yang menumpuk. Secara moral sebenarnya Indungsia bahkan berhak untuk menyatakan menolak membayar hutang yang dipupuk oleh regim-regim korup selama ini yang lebih banyak masuk ke kantong pribadi para pejabat dan pengusaha kroninya. Tapi oleh Budiloyo ide tersebut disindirnya sebagai "tidak realistis". Tentu saja karena Budiloyo adalah kader "organisasi" yang baik.

Sebagaimana Subagyo, Budiloyo tidak pernah menjadi seorang Islam yang sebenarnya meski ia selalu berusaha mencitrakan diri sebagai seorang Islam, khususnya setelah terpilih sebagai kandidat wakil presiden. Tiba-tiba saja ia yang dari SD hingga SMA sekolah di sekolah kristen, mengaku sebagai mantan kader ormas Islam terbesar. Istrinya pun, seorang kristen Jawa bernama Christina, tiba-tiba disuruhnya berkerudung. Sebagaimana juga Subagyo, Budiloyo tetap menjalankan ritual-ritual penyembahan berhalanya seperti kebiasaan membakar kemenyan di tiap hari Jum'at, serta percaya pada angka-angka keramat. Kalau Subagyo menyukai angka 9, maka Budiloyo menyukai angka 13.

Pesawat Baru untuk Nicholas "Marie Antoinette" Sarkozy


Meski tidak sepenuhnya setuju dengan gambaran hiperbola tentang "Marie Antoinette", mengingat Revolusi Perancis adalah sebuah konspirasi yahudi. (Saya pernah membaca karya-karya sastra Voltaire. Penuh provokasi dan agitasi, terutama di tengah masyarakat Perancis yang relatif masih konservatif di masa itu. Adalah kesalahan fatal raja Louis XVI dan Sri Paus tidak menghukum matinya dari awal, sebagaimana juga bapak "Trias Politica" JJ Rosseaou dan para provokator lainnya yang bekerja untuk para bankir yahudi). Saya terima gambaran itu sebagai sebuah "given". Dan dengan gambaran itu saya tuliskan artikel ini.

Dengan kondisi keuangan negara yang semakin menghimpit hingga memaksa pemerintah menaikkan batas usia pensiun yang mengakibatkan berbagai kerusuhan, Presiden Perancis Nicholas "Sayan" Sarkozy justru bersiap-siap memiliki pesawat kepresidenan baru seharga 151 juta euro atau senilai lebih dari Rp 2 triliun. Inilah fenomena yang saya sebut sebagai anomali "judeo capitalism" (orang menyebutnya kapitalisme, liberalisme, neo-liberalisme dll) dimana para bankir kapitalis yahudi mendapatkan segalanya, para penjilatnya cukup mendapatkan remah-remahnya, dan rakyat semakin sengsara.

Hal ini tak urung memicu kontroversi cukup kuat, tidak hanya di Perancis tapi juga di seluruh Eropa. Beberapa "sahabat" Sarkozy, termasuk Kanselir Jerman Angle Merkel menyarankannya untuk menunda penggunaan pesawat itu hingga kondisi politik Perancis meredam, meski untuk itu pemerintah Perancis harus menanggung biaya perawatan dan penyimpanan pesawat yang tidak sedikit. Sarkozy, Merkel, dan PM Italia Berlusconi adalah tiga sekawan "jew ass sucker". Mereka, bersama Presiden Barack Obama berkomplot memboikot upacara pemakaman Presiden Polandia yang meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang tahun lalu, meski Polandia adalah negara sekutu anggota Uni Eropa dan NATO, karena sang presiden adalah penentang agenda bankir kapitalis untuk menyatukan Eropa dalam satu pemerintahan fasis.

Sumber-sumber diplomatik Jerman menyebutkan Merkel menyarankan Sarkozy untuk menunda penggunaan pesawat tersebut dalam pertemuan mereka akhir bulan Oktober lalu. Saat parlemen Perancis menyetujui usulan Sarkozy untuk menaikkan batas umur pensiun dari 60 tahun ke 62 tahun hingga memicu kerusuhan buruh dan pegawai, pesawat kepresidenan baru Sarkozy tengah menjalani tes penerbangan akhir di atas Samudra Hindia dan wilayah administratif Perancis di sebelah selatan Samudra Pasicik.

Merkel dan para pemimpin Eropa lainnya menganggap pesawat kepresidenan tersebut, sebuah pesawat jet berbadan lebar Airbus A330-200, bisa memicu kerusuhan lebih parah. Namun di antara pejabat Perancis sendiri terjadi perbedaan pandangan. Sebagian membenarkan saran Merkel, sebagian lainnya bersikeras mengabaikan saran tersebut.

Kalangan oposisi tentu saja mengkritik Sarkozy sebagai telah bertindak seperti Marie Antoinette, permaisuri Raja Louis XVI yang dikenal sebagai pemboros. Mereka menggambarkan Sarkozy telah bertindak tidak sesuai realitas.

Popularitas Sarkozy kini tengah berada di titik terendah. Polling terakhir yang diadakan Journal du Dimanche memperlihatkan tingkat "approval rating" Sarkozy menurun ke tingkat 29%, terendah sepanjang masa kepresidenan Sarkozy. Para pengawal kepresidenan Sarkozy juga harus bekerja ekstra keras setelah terjadinya berbagai kerusuhan menentang Sarkozy.

Untuk menghindari kritikan, anggaran pesawat baru itu diambilkan dari anggaran pertahanan, bukan anggaran istana kepresidenan. Pesawat itu didisain untuk menampung 60 penumpang dengan dilengkapi berbagai fasilitas super seperti ruang konperensi, kamar presidential suite, shower pribadi dan dapur.

"Seberapa sering presiden harus terbang jauh sehingga diperlukan kamar tidur, shower dan dapur?" sindir seorang politisi oposan.

Thursday, 4 November 2010

Sang Terpilih (9)


Keterangan gambar: orang-orang terpilih



Sebenarnya Subagyo pernah terpikir untuk melakukan pembangkangan. Itu saat rasa kemanusiaannya muncul menyadari bahwa kerusakan yang dilakukan organisasi dan antek-anteknya terhadap rakyat Indungsia, juga rakyat negara-negara lainnya, begitu besar. Tapi buru-buru dibuang pikiran itu jauh-jauh. Ia manyadari, sebagai presiden negara besar pun dirinya tidak memiliki daya apapun di hadapan "organisasi".

Subagyo menyadari betul apa yang dialami dua pendahulunya karena membangkang "organisasi". Presiden pertama dikudeta oleh militer binaan "organisasi". Presiden kedua pun dikudeta oleh gerakan "reformasi" setelah mencoba main mata dengan umat Islam dan menyingkirkan kader-kader "organisasi" lainnya. Subagyo juga sadar dengan yang dialami oleh Saddam Hussein dan Zia Ul Haq. Yang pertama, negaranya diserbu besar-besaran oleh pasukan koalisi pimpinan Amerika setelah pembunuh-pembunuh "organisasi" gagal mengeksekusinya karena ia menggunakan pengawal pribadi yang semuanya berdandan dan berwajah mirip dirinya. Yang kedua, helikopternya diledakkan meski telah berusaha menjadikan duta besar Amerika sebagai perisainya.

Dan masih banyak lagi pemimpin-pemimpin dunia selain mereka. Idi Amin misalnya. Setelah dikudeta dan dihukum mati, iapun mengalami pembunuhan kharakter yang luar biasa, di antaranya digambarkan sebagai seorang kanibal. Padahal ia adalah seorang muslim yang ta'at.

Sekali saja ia membangkang, maka segala pangkat dan kedudukannya menjadi tidak berarti. Ingat dengan matinya listrik bandara setelah ia menunda privatisasi pengelolaan bandara internasional di ibukota? Bahkan setelah ia meminta dilakukan tindakan terhadap "sabotase" itu, listrik di bandara justru kembali mati. Sebagai presiden ia bahkan tidak bisa mengontrol birokrasinya sendiri. Apalagi parlemen, kehakiman, dan pers.

Inilah hikmah dari "demokrasi", kekuasaan yang dibagi-bagi antara eksekutif, legislatif dan yudikatif. Tidak akan pernah ada seorang pemimpin suatu negara yang kuat karena demokrasi ini. Dengan kata lain, tidak akan pernah muncul seorang pemimpin yang bisa melawan "organisasi". Padahal hampir sepanjang peradaban manusia, demokrasi baru muncul di penghujungnya, dan dalam waktu singkat menghancurkan semua tatanan sosial yang ada, yaitu pemerintahan yang dipimpin oleh semangat ketuhanan. Bahkan peradaban yang pernah mencoba menjadikan konsep mirip demokrasi, yaitu Romawi, membuang jauh-jauh konsep ini karena hanya menimbulkan kekacauan. Jauh dari demokrasi seperti sekarang, yang dilakukan orang-orang Romawi adalah mengangkat dua orang konsul sebagai pemimpin tertinggi. Satu orang dari golongan bangsawan, satunya lagi dari golongan pedagang. Tentu saja rakyat kebanyakan tidak mendapatkan bagian kekuasaan. Semua keputusan harus disetujui kedua konsul karena jika salah satunya tidak setuju, ia bisa menggunakan hak veto untuk membatalkan. Bahkan ketika para pendiri negara Amerika Serikat hendak memerdekakan negaranya, pikiran pertama mereka adalah mengangkat seorang raja. Mereka bahkan sempat menghubungi Charles II, mantan raja Inggris yang menjadi pelarian di Italia, untuk menjadi raja Amerika.

Sistem konsul di Romawi, penyingkiran Raja Charles II dari singasananya, dan juga konsep "demokrasi" yang kini menjadi sebuah keharusan di negara-negara seluruh dunia, semuanya adalah rekayasa "organisasi" dan para pendahulunya.

Drama Pengadilan Politik PBB di Lebanon


Dua orang pegawai PBB untuk "Pengadilan Khusus untuk Lebanon" (Special Tribune for Lebanon, pengadilan internasional yang dibentuk untuk mengadili kasus pembunuhan mantan PM Lebanon, Rafiq Hariri tahun 2005), dengan kawalan polisi tiba di sebuah klinik di kawasan selatan Beirut, Kamis pagi (28/10). Mereka telah mengadakan perjanjian sebelumnya dengan kepala klinik setempat untuk bertemu di tempat itu.

Namun saat mereka tiba, mereka telah dihadang oleh sekitar 200-an wanita Shiah. Beirut Selatan memang kawasan yang dominan dihuni oleh kaum Shiah. Mereka mengusir kedua orang asing itu (seorang berkewarganegaraan Perancis, satunya lagi Australia). Pegawai PBB perempuan bahkan dijambak rambutnya sementara yang laki-laki didorong-dorong pergi. Keduanya gagal menjalankan misi yang ditugaskan.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa dua orang pegawai PBB diperlakukan demikian oleh penduduk sipil Lebanon?

Keduanya sebenarnya tengah menjalankan sebuah misi besar "pengadilan politik" PBB untuk mendeskreditkan Hizbollah, kelompok perlawanan yang menjadi batu penghalang agenda Israel-Amerika untuk menguasai Lebanon. Sebagaimana diketahui, sementara pemerintah dan sebagian besar kelompok politik lebih suka menjadi "anak manis" Israel dan Amerika, Hizbollah dengan konsisten melakukan perlawanan heroik atas penjajahan fisik dan politik Lebanon oleh Israel. Hizbollah-lah yang telah berhasil mengusir Israel dari semua wilayah Lebanon yang diduduki sejak tahun 1985. Hizbollah bahkan secara gemilang berhasil mengalahkan Israel dalam Perang Lebanon-Israel th 2006. Maka Hizbollah harus dihabisi.

Sejauh ini Hizbollah masih bertahan dari "serangan politik" Israel setelah serangan militer selalu mengalami kegagalan. Tahun 2008 misalnya, Hizbollah menggagalkan upaya Israel, melalui pemerintahan boneka dari kelompok Sunni, PM Fuad Siniora, untuk merampas jaringan telekomunikasi Hizbollah yang menjadi tulangpunggung kekuatan Hizbollah. Kini upaya lainnya tengah dilakukan, yaitu melalui pengadilan internasional PBB.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pengadilan itu bakal menjatuhkan vonis bersalah terhadap beberapa anggota senior Hizbollah atas kematian Rafiq Hariri. Tentu saja vonis itu jauh dari "fair" dan bebas kepentingan politik. Sebelumnya pengadilan yang sama telah menuduh Syria sebagai dalang pembunuhan Hariri, tuduhan yang secara efektif menghancurkan pengaruh Syria di Lebanon. Namun karena lemahnya bukti, di samping kesediaan Syria untuk "membantu" Amerika menyelesaikan masalahnya di Irak, tuduhan pun dihentikan. Kini tuduhan yang sama dialamatkan ke Hizbollah. Dan kedua pegawai PBB yang diusir itu adalah bagian dari konspirasi politik itu. Tentu saja Israel yang paling diuntungkan karena pembunuhan Hariri tidak pernah disentuh.

Hal-hal seperti itu telah sering terjadi sebelumnya. Ketika terjadi tragedi Lockerbie, yaitu pesawat penumpang Amerika yang jatuh di Skotlandia, Amerika langsung menuduh Syria berada di balik serangan teroris tersebut. Namun setelah Syria bersedia membantu Amerika dalam Perang Teluk I untuk mengusir Irak dari Kuwait tahun 1991, tuduhan dialihkan ke Libya.

Kepala klinik yang sedianya bertemu dengan kedua pegawai PBB itu, seorang Shiah dan simpatisan Hizbollah sebagaimana sebagian besar penduduk Beirut Selatan, tentu saja tahu apa yang diinginkan kedua pegawai PBB itu, yaitu data nomor telepon anggota-anggota senior Hizbollah yang istri, ibu, atau saudara perempuannya pernah dirawat di klinik itu. Dengan diketahuinya nomor itu, inteligen Israel dengan mudah "mencangkokkannya" ke dalam rekaman data nomor-nomor telepon yang terjadi pada hari-hari menjelang dan pada saat terjadi pembunuhan Rafiq Hariri. Rekaman data itulah yang akan dijadikan bukti untuk menvonis Hizbollah.

Perlu diketahui beberapa waktu lalu 11 pegawai Lebanese Alpha Company, perusahaan seluler terbesar Lebanon, ditangkap karena dugaan menjadi spion Israel. Hizbollah menuduh Israel telah memasukkan nomor-nomor telepon anggota-anggotanya dalam catatan rekaman telepon untuk dijadikan bukti keterlibatan Hizbollah.

Maka sang kepala klinik memberitahu Hizbollah tentang rencana kedatangan kedua pegawai PBB tersebut. Hizbollah pun mengirimkan wanita-wanita itu, meski secara resmi tentu saja menolak mengakuinya. Dan konspirasi Israel kembali mengalami kegagalan.

Tuesday, 2 November 2010

Di Balik Gerakan "Pecinta Kebenaran"


Keterangan gambar: Teori Konspirasi Manusia Kadal karya David Icke


Sebagian di antara mereka disebut-sebut sebagai para "revisionist" dan "holocoust deniers", yaitu orang-orang yang menentang klaim pembantaian 6 juta orang yahudi oleh Jerman dalam Perang Dunia II. Namun tidak ada sebutan baku terhadap mereka, kecuali sebutan-sebutan yang dibuat oleh mereka sendiri seperti "pecinta kebenaran" atau kelompok "gerakan kesadaran". Mereka adalah orang-orang yang berjuang memberi kesadaran pada masyarakat tentang adanya konspirasi jahat sekelompok orang untuk menguasai dunia dan memperbudak umat manusia yang telah bekerja secara sistematis sepanjang sejarah manusia.

Di antara mereka saya mengetahui sebagian, di antaranya seperti Frank Waltner, Christopher Bollyn, David Duke, Patrick Grimm, Rixon Steward, Brother Nathaneal (Real Zionist News), Philip Marlowe (Incogman), Joe Cortina, Mark Glenn, Lasha Darkmoon dll. Mereka adalah orang-orang yang menurut pengamatan saya, jujur dalam manyampaikan kebenaran meski tidak bisa dibantah memiliki beberapa bias pemikiran seperti bias Islam dan sebagainya.

Saya suka membaca artikel-artikel Christopher Bollyn di blog-nya, bollyn.com karena kedalaman investigasi dan analisisnya terutama terkait konspirasi serangan WTC. Saya lebih suka lagi membaca artikel-artikel Philip Marlowe di blognya incogman.net, karena gaya bahasanya yang lugas, tegas, langsung ke jantung persoalan sehari-hari, dan sering kali jenaka terlebih dengan gambar ilustrasinya. Namun saya paling suka membuka situs truthseeker.co.uk karena banyaknya kontributor dan artikel yang update setiap harinya.

Di sisi yang lainnya "gerakan kesadaran" juga mengenal nama-nama seperti Alex Jones, Jeff Rense, Michael Collins Piper, David Icke dll yang sayangnya oleh kelompok pertama justru dituduh sebagai "agent provokator", "pengalih perhatian" dan sebagainya. Saya percaya sepenuhnya dengan tuduhan-tuduhan itu.

Alex Jones yang dikenal sebagai pembongkar rahasia organisasi "Bilderberber Group" oleh Brother Nathaneal dibongkar rahasianya sebagai kaki tangan Edgar Bronfman, seorang zionist fundamentalis mantan ketua World Jewish Organization, dengan misi utama mengalihkan perhatian publik dari konspirasi Israel dan yahudi ke sekelompok orang dari berbagai golongan etnis dan agama yang tergabung dalam lembaga-lembaga semi rahasia seperti Bilderberger Group, Trilateral Commision dan Council for Foreign Relation. Michael Collins Piper oleh Christopher Bollyn berhasil dibongkar sebagai agen CIA dengan tugas mendeligitimasi tulisan-tulisan Bollyn mengenai konspirasi serangan WTC sekaligus mengalihkan perhatian publik dari para konspirator utama (Keluarga Rothschild, keluarga Rockefeller dll) ke operator-operatornya (Edgar Bronfman, Donald Trump, dll). David Icke dikenal sebagai pengalih perhatian dengan menggiring pembacanya untuk percaya pada hal-hal yang tidak ilmiah seperti mahluk setengah biawak sebagai "grand conspirator" segala isu dan permasalahan di dunia. Adapun Jeff Rense dituduh memicu Islamphobia dan memecah belah kekuatan gerakan anti konspirasi selain juga sering membahas hal-hal tidak ilmiah seperti alien dan UFO.

Dahulu saya adalah pengagum Michael Collins Piper, kontributor situs independen American Free Press sebelum dibongkar kedoknya oleh Christopher Bollyn. Saya bahkan memiliki dua buku masterpiece-nya: "New Jerussalem" dan "High Priest of War". Sebagaimana karyanya yang lain, "Final Judgement", Piper banyak mengungkap konspirasi orang-orang yahudi di Amerika. Namun yang menimbulkan saya kala itu adalah ia banyak menyembunyikan keberadaan para konspirator eselon tertinggi di Amerika seperti keluarga Rockefeller dan para bankir yahudi. Ia bahkan bersikeras bahwa Rockefeller adalah seorang WASP (kulit putih kristen). Eselon tertinggi yang disebut Piper sebagai konspirator adalah keluarga Bronfman yang menurut saya hanya berada di eselon ketiga yang peranannya bahkan masih di bawah George Soros.

Dahulu saya juga penggemar situs-situs independen seperti DemocracyNow, Counterpunch, dan Antiwar. Tapi kini saya tahu, ketiganya hanyalah "pengalih perhatian" sebagaimana American Free Press tempat Michael Collins Piper bekerja.


Rense vs Glenn

Akhir-akhir ini di kalangan gerakan "pecinta kebenaran" terjadi sebuah gejolak yang cukup menghebohkan, yaitu perseteruan antara Jeff Rense dan Mark Glenn. Perseteruan ini dipicu oleh kritikan Mark Glenn atas terbitnya artikel karya Devvy Kids berjudul “Islam a cancer oozing across America” di situs milik Jeff Rense. Terpicu oleh kesadaran bahwa Jeff Rense telah terlibat dalam konspirasi mengadu domba antara umat Islam dan Kristen, Glenn pun menelepon Jeff Rense dan meminta Rense untuk konsisten memperjuangkan "kebenaran" dan menhindari tulisan-tulisan yang bersifat islamphobia. Teguran itu merupakan puncak dari kekecewaan Glenn pada Rense yang memang sering memuat tulisan-tulisan yang bersifat Islamphobia. Namun alih-alih berterima kasih atas peringatan itu, Rense justru marah dan mengancam "mengirimkan" para detektif FBI dan Department of Homeland Security untuk mengobrak-abrik rumah Glenn.

Ancaman Rense membuka kedok siapa dia sebenarnya, yaitu "agen penguasa mapan" dan "pro status quo". Dan seolah belum cukup, beberapa "pecinta kebenaran" pun berhasil membuka hubungan Fense dengan kalangan "penguasa mapan". Lisa Guliani dari Wing TV misalnya, menemukan fakta bahwa Rense adalah putra dari Arthur F. Rense, eksekutif Summa Corporation dan Hughes Aircraft, salah satu produsen pesawat militer terbesar di dunia. Keduanya milik Howard Hughes, salah seorang pemain utama dalam industri "military complex" yang merupakan salah satu basis ekonomi utama kalangan "penguasa mapan" global selain perbankan, minyak, dan industri informasi-hiburan.

Yang menjadi konsern dalam tulisan ini adalah bahwa kita harus berhati-hati dalam menilai media-media massa yang mengklaim atau diklaim sebagai "independen" atau "jujur". Karena "penguasa mapan" dunia telah memainkan ilusinya, menciptakan satu gerakan untuk menyembunyikan gerakan lainnya, atau menciptakan dua pihak yang saling bermusuhan untuk menetralisir gerakan ketiga yang tidak dikehendakinya: komunisme melawan kapitalisme, demokrat melawan republik. Seringkali juga untuk menetralisir sebuah gerakan oposan, mereka menyusupkan agennya untuk membuat kekacauan seperti saat memasukkan Saran Palin dalam gerakan Tea Party Movement di Amerika. (Tidak mengerti Saran Palin? Jangan baca blog ini). Atau saat mereka memasukkan Jeff Rense, Alex Jones, atau David Icke dalam gerakan "pecinta kebenaran".

I BEG YOU TO NOTE THAT AMONG THOSE MAKING ATTACKS UPON US WILL ALSO BE ORGANS ESTABLISHED BY US, BUT THEY WILL ATTACK EXCLUSIVELY POINTS THAT WE HAVE PRE-DETERMINED TO ALTER. WE CONTROL THE PRESS (Protocol 12 Protocols of Learned Elders of Zion)

Meski demikian saya masih percaya dengan kebenaran hakiki yang diberikan Allah Tuhan semesta Alam. Allah memadamkan tiap api kerusakan yang dinyalakan mereka. Allah juga melakukan kontra konspirasi atas aksi-aksi mereka, dan Allah adalah konspirator terbaik. Aksi-aksi Mark Glenn, Christopher Bollyn, Brother Nathaneal membuka kedok para "pencinta kebenara" palsu, atau peran internet yang telah membangunkan kesadaran jutaan masyarakat dunia tentang kejahatan "penguasa mapan", adalah kontra konspirasi yang dilakukan Tuhan.

Saturday, 30 October 2010

Sang Terpilih (8)


Keterangan gambar: Pertemuan SBY dan George Soros di atas checkered floor, simbol freemasonry global.


Dari "organisasi" Subagyo banyak belajar "seni" berkuasa dengan tipu daya. Misalnya saja tentang subsidi BBM yang sebenarnya hanya ilusi belaka sebagaimana juga halnya dengan subsidi listrik. Selain pemerintah juga harus terus-menerus menekankan pentingnya investasi dan hutang luar negeri sedemikian rupa sehingga rakyat mengira tanpa itu semua perekonomian negara akan hancur.

Namun tidak ada ilusi yang lebih "canggih" daripada ilusi APBN. Dengan dalih demi memicu pembangunan, APBN harus dibuat sebesar mungkin hingga melebihi pendapatan negara. Untuk menutupi kekurangannya, pemerintah tentu saja berhutang ke lembaga-lembaga keuangan internasional yang notabene adalah sindikat bankir yahudi. Defisit APBN dan hutang luar negeri itu terjadi setiap tahun sedemikian rupa sehingga seolah-olah sebagai sebuah "kebijaksanaan yang arif" yang telah menjadi konvensi. Hanya karena akal sehat paling sederhana sekalipun tidak bisa menerima "hutang" dan filosofi "besar pasak daripada tiang" sebagai sebuah "kearifan", kebiasaan itu tidak ditetapkan sebagai undang-undang.

Sebagai contoh, target penerimaan negara tahun 2011 diperkirakan mencapai Rp 1.104 triliun. Jumlah yang sebenarnya cukup besar untuk mengurusi pemerintahan, membiayai penyelenggaraan birokrasi negara, membayar gaji aparat negara, dan membangun infrastruktur. Namun jumlah itu menjadi tidak berarti karena belanja negara dibuat melambung tinggi hingga APBN harus defisit 1,8% senilai Rp 127 triliun. Anggaran yang begitu tinggi itu sebagian besar darinya digunakan untuk membiayai hal-hal yang tidak penting, seperti proyek-proyek mubazir semacam pembangunan gedung baru DPR yang mencapai Rp 1,7 triliun dan rehab perumahan anggota DPR yang mencapai Rp 1 miliar tiap rumah, plesiran pejabat yang mencapai Rp 20 triliun, belanja baju dinas presiden yang mencapai Rp 70 juta per-bulan dsb. Bahkan dengan pemborosan-pemborosan itu semua, biaya penyelenggaraan negara sesungguhnya tidak mencapai Rp 1.000 triliun. Namun karena APBN telah ditetapkan dengan undang-undang untuk defisit, maka pemerintah tetap harus berhutang.

Dengan modus seperti itu kini hutang pemerintah Indungsia telah mencapai Rp 3 ribu triliun lebih dan bunga yang harus dibayar setiap tahun mencapai Rp 150 triliun. Dijamin hutang itu tidak akan pernah bisa lunas karena tidak akan pernah ada seorang presiden pun bisa melunasi hutang itu semua selama menjabat. Sebaliknya beban yang harus ditanggung rakyat, karena APBN dibiayai dengan pajak yang dibayar rakyat, semakin besar dari tahun ke tahun.

Sebelum APBN ditetapkan, sebelumnya perusahaan listrik negara (Pelina) mengajukan anggaran ke pemerintah dengan permintaan tambahan subsidi sebesar 15% dengan alasan untuk meningkatkan pelayanan. Permintaan itulah yang membuat APBN dinaikkan defisitnya dari 15% menjadi 18%. Namun di sini Pelina melakukan permainannya sendiri. Sebenarnya mereka tidak perlu meminta subsidi pemerintah jika saja mereka melakukan efisiensi. Namun alih-alih melakukan efisiensi, mereka terus menaikkan tarif listrik yang lucunya hampir selalu disetujui pemerintah dan DPR tanpa pernah melakukan audit terhadapnya. Tentu saja karena sebagian besar saham perusahaan listrik negara dikuasai anak-anak perusahaan milik anggota "organisasi", lagipula dengan itu semua permainan pat gulipat APBN berjalan lebih mudah.

Perusahaan minyak dan gas negara (Permigas) akhir-akhir ini melakukan permainan lainnya selain modus "subsidi". Demi memuluskan agenda "organisasi" untuk meningkatkan harga BBM setara harga internasional yang berarti keuntungan para anggota "organisasi" turut meningkat, Permigas melakukan "tekanan" untuk menghilangkan "subsidi" BBM yang selama ini diberikan kepada pengguna premium, BBM kelas paling rendah yang banyak dikonsumsi masyarakat kebanyakan. Namun tekanan itu dilakukan secara tidak fair. Untuk membuat masyarakat meninggalkan premium dan beralih menggunakan BBM yang lebih mahal, diam-diam mereka sengaja menurunkan kualitas premium. Dan meskipun sangat banyak masyarakat yang mengalami kerugian karena mesin kendaraan mereka mengalami kerusakan, pemerintah tidak pernah mengambil tindakan apapun untuk menghentikan aksi Permigas.

Sekedar tambahan, untuk semakin meyakinkan bahwa "organisasi" telah benar-benar menguasai BUMN-BUMN itu, CEO baru kedua BUMN telah menghapuskan segala hal yang terkait dengan nasionalisme Indungsia seperti misalnya kebiasaan mengadakan upacara bendera peringatan kemerdekaan setiap tanggal 17. BUMN telekomunikasi yang telah dimiliki "organisasi" melalui anak perusahaan di Malaysia dan Singapura bahkan telah mengganti logo perusahaan dengan simbol bintang daud yang sedikit disamarkan demi menghindari kecurigaan umat Islam. Simbol serupa juga sudah dipasang di atas gedung departemen keuangan saat Sri Mulyati masih menjadi menteri.

Dahulu para ekonom mengenalkan konsep DSR (Debt Service Ratio) sebagai indikator jumlah hutang luar negeri yang diperkenankan untuk mendukung perekonomian. Indikator ini merupakan rasio antara jumlah cicilan pokok dan bunga hutang luar negeri yang dibayar dengan nilai ekspor dalam satu tahun. DSR menunjukkan tingkat likuiditas yang dimiliki suatu negara untuk membiayai perdagangan luar negeri. Semakin tinggi DSR semakin tidak likuid perekonomian negeri tersebut sehingga hutang luar negeri harus diturunkan.

Namun seiring berjalannya waktu, jumlah cicilan pokok dan bunga hutang semakin besar jauh melebihi kenaikan ekspornya, sehingga DSR ikut membengkak. Tentu saja para pengamat ekonomi dan media massa mempersoalkan hal itu. Untuk mengatasi masalah itu, maksudnya agar agenda menjerumuskan negara ke lembah hutang dan membuatnya semakin tergantung pada "organisasi", tidak terganggu oleh gerutuan para ekonom dan media massa, maka pemerintah kemudian mengganti konsep DSR dengan DGR. Dengan konsep ini rasio nilai cicilan pokok dan bunga menjadi kecil karena tidak lagi dibandingkan dengan nilai ekspor, melainkan dengan GNP yang nilainya jauh lebih besar.

"Lihatlah, rasio hutang kita masih kecil, jadi biarlah kita menambah hutang lagi," demikian kira-kira yang dikatakan pemerintah kepada masyarakat yang tidak paham perihal masalah ekonomi. Media massa dan para ekonomi yang "telah terkooptasi", tentu saja diam membisu.

Lagi Tentang Pembunuhan Ritual


Cerita tentang pembunuhan dengan motif ritual mungkin tidak pernah hinggap dalam pikiran kebanyakan orang di jaman modern ini. Cerita itu demikian mencengangkan sehingga orang pasti akan menganggapnya sebagai sebuah cerita fiksi.

Ketika Nabi Ibrahim, bapak bangsa semit, melakukan praktik ritual berdarah dengan menyembelih putranya, sebenarnya ia hanya melakukan kebiasaan orang-orang pada jaman itu. Dan meski kemudian Tuhan melarang Ibrahim melakukana hal seperti itu tidak berarti kebiasaan itu juga ditinggalkan oleh semua orang. Sebagian orang masih melakukannya hingga sekarang. Hanya bedanya kalau kegiatan ini dilakukan secara terbuka, kini dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Namun sebelum Anda menganggap ini sebagai sebuah ilusi, ada baiknya Anda lihat gambar plakat di atas. Plakat yang umum dijumpai di banyak bangunan kuno di Eropa itu menunjukkan sebuah upacara ritual yahudi dimana diperlihatkan beberapa orang rabbi (pemuka agama yahudi) memegani seorang bayi sementara seorang rabbi lainnya menyayat leher bayi tersebut dengan pisau. Dan jika Anda penasaran dengan adanya pembunuhan ritual, silahkan searching Arnold Leese dan bukunya yang terkenal “JEWISH RITUAL MURDER”.

Pada tgl 1 Mei 1989 (hari komunisme dunia yang diperingati sebagai hari buruh internasional) program talk show terkenal, Oprah Winfrey Show diisi dengan acara bincang-bincang dengan tema “Mexican Satanic Cult Murders”. Dalam acara itu dihadirkan bintang tamu rahasia yang disebut sebagai Rachel, seorang wanita yang berasal dari keluarga yahudi Chicago yang sering melakukan upacara ritual berdarah.

Dalam pengantarnya Oprah mengatakan, “Rachel mengatakan telah menyaksikan upacara pengorbanan anak-anak selain juga mengalami sendiri pelecehan seks.” Rachel menimpali, “Saya lahir di tengah keluarga yang mempercayai dan mempraktikkan hal itu.”

Oprah: “Rachel berasal dari sebuah keluarga yang … orang tentunya menyangka sebagai keluarga yahudi yang baik. …. Dan ternyata kalian semua memuja setan di dalam rumah kalian?”

Rachel: “Benar. Ada banyak keluarga yahudi lainnya di seluruh negeri ini yang melakukan hal itu, bukan hanya keluarga saya.”

Acara itu tentu saja membahayakan eksistensi orang-orang yahudi, khususnya di Chicago, yang bersama Jew York merupakan “ibukota kaum yahudi sedunia”. Dan tentu saja Oprah pun harus kehilangan pekerjaannya kalau saja ia tidak segera meminta ma’af kepada kaum yahudi di Chicago dan berjanji akan menjadi mesin propaganda yang tangguh bagi misi kaum yahudi di Amerika seperti kampanye holocoust memorial, gender bending, homoseksual (Oprah sendiri seorang lesbian), dan anti-white movement.

Ketika tokoh yahudi Chicago JudgeMarovitz meninggal tahun 2001, oprah turut hadir dalam pemakamannya. Saat ditanya wartawan mengenai hubungannya dengan Morovitz, Oprah menjawab: “Ia adalah teman sejati yang telah menolong saya saat saya sangat membutuhkannya.” Namun tentu saja Oprah menolak menyebutkan jasa Marovitz yang telah menyelamatkan kariernya.

Pengaruh yahudi yang sedemikian kuat bisa dilihat dari perjalanan karier Presiden Barack Obama. Dari seorang yang bukan siapa-siapa, bahkan jauh dari kriteria seorang pemimpin ideal, Obama muncul sebagai orang paling berpengaruh di dunia “maya” (karena dunia nyata dikuasai oleh orang-orang yahudi). Obama berhutang budi pada mafia politik yahudi di Chicago yang dimotori miliuner Penny Pritzker dan beberapa petualang politik yahudi seperti Rahm Emmanuel (seorang gay mantan penari balet, putra seorang tokoh teroris Israel dan pernah menjadi tentara Israel) dan David Axelrod. Chicago juga menjadi basis utama raja mafia Amerika Meyer Lansky yang pada masanya merupakan boss dari Al Capone (tapi tentu saja media massa dan film-film Hollywood lebih suka menonjolkan peran Capone demi melindungi keberadaan Lansky). Lansky bersama rekan yahudinya, Bugsy Siegel, mendirikan kota hiburan Las Vegas, namun demi menguasai sepenuhnya kota itu Lansky pun membunuh Bugsy. Lansky menghabiskan hari tuanya di Israel hingga meninggal.

Mitra bisnis utama Lansky adalah keluarga Bronfman, raja bisnis minuman keras dari Kanada yang pada masa Capone menyelundupkan berdrum-drum minuman keras ke Amerika setiap harinya dan mengeruk keuntungan berlimpah ruah. Kemudian dari bisnis itulah keluarga Bronfman mengembangkan bisnisnya hingga kini menjadi salah satu raja bisnis di Amerika Utara dengan menguasai beberapa bidang bisnis sekaligus seperti hiburan (memiliki salah satu studio film besar Hollywood), media massa (termasuk Vanity Fair dan New Yorker), penerbitan (Randhom House penerbit novel the Da Vinci Code), kimia dan agribisnis (Dupont) dan sebagainya. Pada tahun 1990-an generasi kedua Bronfman, Edgar Bronfman, memimpin World Jewish Organization dan melakukan kampanye Holocoust Industry yang berhasil memeras industri perbankan Swiss senilai miliaran dolar.

Kini kita kembali ke topik utama.

Antara bulan Oktober 1955 dan Desember of 1956, di Chicago Amerika, sebanyak lima anak menghilang secara misterius dan kemudian mayatnya ditemukan dalam kondisi yang menunjukkan mereka telah menjadi korban pembunuhan ritual yahudi.

Kelima anak-anak itu adalah kakak beradik laki-laki John dan Anton Schuessler, Jr. dan kawan bermain mereka Robert Peterson, serta dua kakak beradik perempuan Barbara dan Patricia Grimes. Kematian mereka sampai sekarang tetap “tidak terpecahkan” oleh penyidik. Saya sengaja memberikan tanda kutip karena kasus ini tergolong mudah dipecahkan berdasarkan bukti-bukti fisik yang ada, namun menjadi sulit karena melibatkan “kekuatan” yang secara politik sangat berpengaruh di Amerika.

Kelima korban ditemukan dalam kondisi telanjang bulat, kehabisan darah, namun tanpa tanda-tanda adanya pemerkosaan. Menurut laporan patologis kelima jenasah masih hidup selama beberapa waktu sejak dilaporkan menghilang meski dengan kondisi cuaca yang sangat dingin saat itu kelimanya diduga meninggal tidak lama setelah dibuang dalam kondisi terluka dan telanjang. Pergelangan tangan dan kaki kelima jenazah menunjukkan tanda mereka diikat kuat sebelum meninggal. Kelima jenazah menunukkan tanda-tanda luka sayatan dan pukulan yang tidak mematikan. Namun karena darah yang mengalir dari luka-luka itu mengakibatkan mereka meninggal karena kehabisan darah. Hanya jenazah Bobby Peterson (14 tahun) yang menunjukkan luka yang lebih parah berupa pukulan benda tumpul di kepala dan cekikan di leher. Mungkin karena ia melakukan perlawanan keras.

Kelima janazah mengalami luka-luka yang sangat khas ditunjukkan oleh korban pembunuhan ritual, seperti luka yang disebut sebagai stigmata, yaitu luka-luka yang dialami oleh Yesus Kristus dalam penyalibannya. Selain itu mulut dan mata kelima korban juga dimutilasi sedemikian rupa sehingga polisi tidak mengijinkan jenazahnya untuk dilihat orang.

Pembunuh yang Kaya

Para ahli forensik menemukan tanda-tanda yang menunjukkan jenazah korban pembunuhan pernah diangkut menggunakan mobil sedan Packard, jenis mobil mewah saat itu yang hanya digunakan oleh orang-orang kaya.

Media Massa yang Bungkam

Chicago Sun Times edisi sore menuliskan laporan mengenai pembunuhan itu sebagai sebuah pembunuhan bermotif ritual sekaligus memunculkan spekulasi keberadaan sebuah sekte agama sebagai pelakunya. Namun hanya beberapa menit setelah koran tersebut beredar di jalanan, beberapa truk dikirimkan Chicago Sun Times untuk menarik kembali koran tersebut dari peredaran untuk selanjutnya dibakar di tempat sebelumnya koran-koran itu dicetak.

Namun delapan kopi koran edisi khusus itu berhasil didapatkan oleh Lyle Clark Van Hyning, aktifis wanita yang menerbitkan jurnal Women's Voice. Saat ia menelepon Chicago Sun Times untuk menanyakan alasan penarikan koran edisi khusu tersebut, ia mendapat jawaban penarikan tersebut disebabkan karena adanya keberatan dari banyak orang serta kekhawatiran terjadinya kerusuhan rasial.

Didasarkan oleh kecurigaannya, Van Hyning kemudian mengirimkan satu kopian buku Arnold Leese “JEWISH RITUAL MURDER” kepada Anton Schuessler Sr, ayah dari dua orang korban pembunuhan, John dan Anton Schuessler Jr. Terkejut dengan isi buku Leese, Anton langsung pergi ke kantor polisi setempat untuk melaporkan kemungkinan motif pembunuhan ritual dalam kasus kematian anaknya.

Sang Ayah yang Malang


Apa yang dilakukan Anton Schuessler mungkin menjadi sesuatu yang paling disesalinya kemudian. Alih-alih menindaklanjuti laporan Anton, kapolsek Cook County, Joseph Lohman yang juga seorang yahudi, justru memerintahkan penangkapan terhadap Anton dengan tuduhan pembunuhan terhadap anaknya sendiri. Selanjutnya Lohman memerintahkan detektif setempat, Harry Gloss, juga seorang yahudi, untuk melakukan penyidikan atas kasus tersebut.

Saya sudah mengatakan kasus ini demikian mengerikannya sehingga lebih mirip seperti cerita fiktif. Baiklah saya lanjutkan.

Setelah menahan Anton Schuessler di ruang tahanan dan memerintahkan seorang detektif yahudi untuk melakukan penyidikan, sheriff Joseph Lohman, yang juga seorang yahudi, memerintahkan deputy sheriff bernama Horowitz, juga seorang yahudi, untuk menggeledah rumah keluarga Schuessler. Tidak hanya itu, mereka juga melakukan intimidasi terhadap keluarga Schuessler yang tersisa, mengancam mereka untuk tidak berbicara kepada orang lain, dan melakukan penahanan rumah.

Dua orang detektif Chicago yang dikirim untuk membantu kasus itu kemudian, James Lynch dan James McMahon, hanya bisa menemukan barang-barang bukti yang rusak atau hilang.

Sementara itu setelah gagal mendapatkan bukti yang bisa mengarahkan Anton sebagai terdakwa pembunuhan putra-putranya sendiri, meski telah dilakukan interogasi secara massif termasuk dengan alat pendeteksi kebohongan, Sheriff Lohman malah mengirimkan Anton ke klinik penderita penyakit mental yang dikelola oleh Dr. Leon Steinfeld (lagi-lagi seorang yahudi) di Des Plaines, Illinois. Begitu sampai di klinik, Anton langsung menjalani shock therapy dengan menggunakan alat terapi kejut, sedemikian rupa sehingga Anton meninggal para hari itu juga.

Kematian-kematian misterius tersebut tentu saja membuat warga Chicago marah sehingga memaksa otoritas hukum Chicago menyeret Dr. Leon ke pengadilan. Di depan hakim Dr. Leon bersikukuh bahwa Anton Schuessler mengalami halusinasi dan "paranoid delusions". Ia juga bersikukuh Anton meninggal karena komplikasi jantung. Tuduhan itu tentu mengada-ngaada karena Anton adalah pria yang sehat yang tidak pernah mengalami masalah dengan jantungnya.

Akhirnya Dr. Leon divonis bebas, namun demi menghindari kerusuhan rasial dilarikan ke Swiss dan tidak lama kemudian ditemukan tewas di kamar hotelnya di pelarian. Polisi Swiss menyatakan kematian Dr. Leon karena "bunuh diri".

Sementara itu kembali di Chicago, koroner setempat, Dr. menemukan bukti-bukti yang menunjukkan kematian Anton Schuessler karena pembunuhan oleh Dr. Leon. Ia pun menyerahkan bukti-bukti yang diperolehnya ke jaksa wilayah. Namun alih-alih ditindaklanjuti, Thomas McCarron justru mengalami berbagai intimidasi untuk tidak memperpanjang masalah itu, di antaranya pemboman di halaman rumahnya.

Dalam setiap cerita tentang yahudi, hampir selalu disertai dengan kejahatan bermotif ekonomi. Demikian pula halnya dengan Dr. Leon. Beberapa bukti yang ditemukan kemudian menunjukkan bahwa selama masa Perangn Dunia II Dr. Leon terlibat dalam jaringan bisnis ilegal pembuatan surat keterangan dokter palsu untuk menghindar dari kewajiban mengikuti wajib militer. Untuk setiap surat keterangan yang diberikan, Dr. Leon memungut biaya $2.000. Sebagian besar komsumennya adalah orang-orang yahudi.

Sepeninggal Dr. Leon, kecurigaan dan kemarahan massa terhadap komunitas yahudi Chicago tidak juga berakhir. Maka Irv Kupcinet, seorang kolumnis surat kabar yahudi, mengadakan acara penggalangan dana untuk janda Anton Schuessler yang malang. Kupcinet berhasil mengumpulkan sumbangan senilai $100.000 (setara $2 juta sekarang) dari kalangan masyarakat yahudi untuk "uang tutup mulut".

Kini kenangan pahit pembunuhan ritual yang terjadi tahun 1955 itu masih terus dirasakan rakyat Amerika. Tempat ditemukannya jenasah-jenasah pembunuhan itu kini menjadi salah satu tempat paling "berhantu" di Amerika dan menjadi salah satu tujuan wisata mistik. Sebuah prasasti batu berdiri di tempat itu. Orang-orang yahudi tanpa mengenal lelah terus berusaha memindahkan monumen itu.