Friday, 10 February 2012

DRAMA POLITIK DAN KEMANUSIAAN DI SYRIA


"Kelompok-kelompok teroris bersenjata hari Minggu (5/12) menyerang masyarakat sipil dan aparat keamanan di beberapa area di Homs. Aparat keamanan pun memburu mereka dan terlibat pertempuran melawan mereka. Teroris bersenjata meledakkan dua bom di belakang gedung "Technical Services" di kawasan al-Dablan. Teroris juga menembakkan mortir ke beberapa sasaran di Homs sementara sebagian lainnya mendobrak rumah-rumah di kawasan Idleb Governorates. Sejumlah masyarakat sipil berusaha melarikan diri dari serangan ke sebuah masjid di Rastan City, dimana para teroris kemudian membakar masjid tersebut, membunuh dan melukai warga sipil yang berada di dalamnya".

Demikain laporan kantor berita Syria, SANA, tgl 6 Februari lalu. Namun tentu saja yang tertulis di sebagian besar media-media massa di seluruh dunia jauh berbeda. Alih-alih mereka semua menuduh pasukan Syria-lah sebagai terorisnya dan kelompok-kelompok teroris sebagai demonstran sipil tak bersenjata.

Presiden Barack Obama pun, sebagaimana dikutip media-media massa di seluruh dunia termasui Indonesia, mengecam pemerintahan Presiden al Assad di Syria atas peristiwa tersebut. Katanya, "Assad harus menghentikan kampanye pembunuhan massal dan kejahatannya terhadap rakyatnya sendiri. Ia harus menyingkir dan membiarkan transisi demokrasi berjalan dengan segera."

Sebagaimana sebelumnya di Irak dan Libya, Amerika, Inggris dan Perancis berupaya menggoal-kan resolusi PBB untuk melakukan intervensi militer berdasarkan tuduhan pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan regim penguasa. Hanya saja bedanya, kali ini untuk kasus Syria, skenario ini digagalkan oleh Rusia dan Cina yang memveto resolusi PBB tersebut.

Bukan masalah sepele, karena dalam hal ini telah berhadap-hadapan dua kekuatan besar dunia yang berkepentingan terhadap keamanan kawasan Timur Tengah. Seperti biasa, barat, dengan menggunakan pengaruh media massa menampilkan skenario aktor baik melawan aktor jahat. Mereka mencoba mengatakan kepada dunia "di sudut ini kita memiliki para pejuang kemanusiaan yang berupaya menegakkan demokrasi di Syria, dan di sudut sana adalah pemerintahan fundamentalis anti demokrasi yang menindas rakyat". Ini seperti skenario film Hollywood tentang polisi dan penjahat, namun kenyataannya tentu saja jauh berbeda.

Dan Rusia serta Cina memandang kasus Syria dengan jauh lebih adil. Mereka melihat kekerasan di Syria disebabkan oleh banyak sumber. Ada pemerintahan yang sah di satu pihak dan para teroris pemberontak di sisi lainnya. Sama seperti kasus-kasus lainnya di seluruh dunia ketika aparat keamanan berupaya menegakkan keamanan dari sekelompok kecil teroris maupun penjahat. Bedanya adalah para teroris dan penjahat di Syria berjumlah jauh lebih besar, terlatih, bersenjata lengkap, dan didanai oleh negara-negara asing: Amerika, Inggris, Perancis, Turki, dan negara-negara Arab badui. Israel seperti biasa tentu saja tidak pernah mengeluarkan sepersen pun uang meski mereka paling berkepengingan dengan masalah Syria. Mereka hanya mengirimkan agen-agen profesionalnya yang pada akhirnya biaya operasional mereka pun ditagihkan ke sekutu-sekutunya. Amerika dan Eropa biasanya yang menanggung semua biaya. Namun kali ini, karena melibatkan negara-negara Arab gurun, mereka terakhir inilah yang harus menanggung semua biayanya.

Jelas, masalah di Syria jauh lebih kompleks dari skenario film kartun "Tom and Jerry".

Resolusi PBB tentang Syria yang berusaha digoal-kan barat adalah berdasar proposal yang dibuat oleh Liga Arab yang dibuat dengan tergesa-gesa, tanpa membiarkan tim pemantau yang dikirim mereka di Syria menyelesaikan terlebih dahulu tugasnya. Ditambah proposal tersebut ditandatangani oleh Sekjen Liga Arab Nabyl El Araby yang telah lama dipandang sebagai "alat" kepentingan barat. Sama hal-nya dengan ketua IAEA yang baru, Yukiya Amano, yang telah mengeluarkan laporan tidak fair mengenai masalah nuklir Iran dengan mengandalkan "laporan inteligen negara-negara anggota" alias Amerika, Inggris, dan Perancis, yang berarti juga tersisip laporan inteligen Israel.

Apa yang terjadi di Syria saat ini adalah kabar buruk bagi rakyat Syria yang telah menjadi korban terorisme yang disponsori negara-negara barat. Namun di sisi lain terdapat kabar baiknya, yaitu Rusia dan Cina kini tidak bisa lagi mentolerir kejahatan kemanusiaan terjadi di Syria sebagaimana di Irak dan Libya. Tampaklah dengan jelas sudah, kekuatan politik yang mengendalikan negara-negara barat sudah kehilangan akal sehat untuk mencapai tujuannya. Mereka harus dihentikan.



PEMBERONTAKAN AKAN TUMPAS DALAM "BEBERAPA HARI"

Sebuah sumber militer Syria, sebagaimana dikutip kantor berita milik kelompok militan Hizbollah, "Al Manar" hari Rabu (8/2), menyebutkan operasi militer besar-besaran akan dilancarkan untuk menumpas para pemberontak bersenjata di Syria. Menurut sumber tersebut operasi militer akan tuntas dalam beberapa hari sebelum dilangsungkannya konperensi Partai Ba'ath yang berkuasa.

Tentara Syria melancarkan ofensif besar-besaran hanya sehari setelah Rusia dan Cina memveto resolusi DK PBB tentang Syria, Sabtu (4/2). Operasi militer berlangsung serentak di beberapa wilayah seperti Zabadani dan Bloudan. Sumber tersebut menyebutkan pemberontakan di Baba Amro, Madaya, telah berhasil ditumpas setelah pemimpin pemberontakan berhasil dibunuh.

Sumber tersebut menyebutkan operasi militer kali ini akan "lebih dari keras" karena pemerintah Syria telah menerapkan "kebijakan militer konklusif".

Sumber tersebut membantah operasi militer ini baru dilakukan setelah mendapat dukungan Rusia. Menurutnya Rusia sejak 5 bulan lalu telah memberikan dukungan bagi dilakukannya operasi militer untuk menumpas pemberontakan. Namun pemerintah menahan diri untuk menghindari jatuhnya korban.

"Para pejabat Rusia selalu menekankan bahwa tidak ada satu negara pun yang boleh membiarkan kelompok-kelompok bersenjata berada di wilayahnya, atau membiarkan satu wilayahnya lepas dari kekuasaan," kata sumber tersebut.


Ref:
"Showdown in Syria: All roads lead to Tehran"; Adrian Salbuchi – Russia Today February 7, dalam thetruthseeker.co.uk; 8 Februari 2012

"Syria Initiates Military Option, Russia Supportive: Syrian Source"; almanar.com.lb; 8 Februari 2012

Wednesday, 8 February 2012

TENGOK KE TIMUR, LIHAT PEMENANG SEBENARNYA


Wartawan senior Inggris yang terkenal, Robert Fisk, adalah salah seorang wartawan yang sangat intens mendiskerditkan pemerintahan Syria di bawah Presiden Bashar al Assad. Demikian intensnya ia menyerang regim Syria hingga saya nyaris tidak percaya penulis independen ini telah mengkhianati hati nuraninya sendiri dengan tidak melihat fenomena kerusuhan Syria dari sudat pandang yang netral.

Namun akhirnya Fisk menyadari kekeliruannya. Dalam tulisan terakhirnya di harian Independen Inggris tgl 7 Februari, ia mengakui bahwa Bashar al Assad telah menjadi pemenang dalam konflik politik yang tengah melanda Syria.

"Tidak, mungkin untuk waktu yang lama," tulis Fisk mengenai kemungkinan Bashar al Assad terjungkal dari kekuasaannya.

Dan alih-alih mengecam Rusia dan Cina karena pembelean mereka yang gigih terhadap Bashar al Assad dalam sidang DK PBB minggu lalu, Fisk mencoba mengerti posisi mereka dengan membandingkannya dengan langkah yang dilakukan Amerika saat membela Israel dalam aksi-aksinya yang brutal terhadap Palestina.

"Lihatlah kawasan Timur Tengah dari jendela istana kepresidenan Syria yang berada di atas kawasan tua Kota Damaskus. Benar bahwa negara-negara Teluk (GCC) telah memusuhi Syria. Benar bahwa Turki telah memusuhi Syria meski diam-diam menawarkan suaka politik kepada Bashar. Namun lihatlah di sebelah timur dan apa yang dilihat Bashar? Iran yang setia berdiri di sampingnya. Irak (sekutu baru Iran di kawasan Arab) yang setia, menolak sanksi atas Syria. Dan di sebelah barat, si kecil Lebanon yang setia, menolak sanksi atas Syria. Maka dari ujung timur perbatasan Afghanistan hingga ke Laut Tengah, Assad melihat satu garis lurus persekutuan pendukungnya yang mencegahnya, setidaknya hingga saat ini, kejatuhan ekonomi Bashar.

Fisk juga mengakui bahwa "yang menjadi masalah adalah bahwa barat terlalu terpedaya dengan cerita-cerita dan kuliah mengada-ada yang diberikan lembaga-lembaga kajian tentang lemahnya Iran, tidak bisa dipercayanya Irak, jahatnya Syria dan terlalu takutnya Lebanon, sehingga tidak bisa melihat kepalsuan gambaran itu dan menyadari bahwa Bashar al Assad tidak sendirian. Ini bukan berarti puja-puji atau dukungan bagi Assad untuk tetap berkuasa, melainkan suatu kenyataan," tulis Fisk.


RUSIA KECAM BALIK BARAT ATAS VETO

Sementara itu, kecaman-kecaman keras bernada kurang sopan yang dilakukan para pemimpin barat terhadap aksi veto yang dilakukan Rusia dan Cina terhadap draft resolusi Syria yang disusun Liga Arab dan Uni Eropa, membuat Rusia dan Cina berang. Sebelumnya utusan Amerika di PBB menyatakan "jijik" terhadap Rusia dan Cina sementara menhan Perancis mengatakan Rusia dan Cina patut "mendapat tendangan di pantat".

"Beberapa komentar dari para pejabat barat tentang resolusi DK PBB, saya ingin katakan, tidak patut dan berbentuk histeria," kata menlu Rusia Sergey Lavrov kepada wartawan di Moscow, Senin (5/2).

"Komentar-komentar histeris semacam itu ditujukan untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi. Saya ingat sebuah pepatah, siapa yang marah biasanya adalah yang bersalah," tambahnya. Pasti maksudnya adalah bahwa yang paling bertanggungjawab atas kerusuhan-kerusuhan di Syria adalah mereka yang mengecam Rusia.

Lavrov mengecam draft resolusi PBB karena hanya menyalahkan Assad dalam kerusuhan di Syria dan memintanya mundur dari jabatan. Padahal, kata Lavrov, terdapat banyak pihak yang turut bertanggungjawab atas kerusuhan di Syria.

Cina juga membantah tuduhan barat dalam hal ini. "Cina tidak memiliki kepentingan apapun dalam isu Syria. Kami tidak melindungi seseorang, kami juga tidak bermaksud menentang seseorang. Namun kami menjaga keadilan dan tingkah laku yang bertanggungjawab," kata jubir kemenlu Cina, Liu Weimin kepada wartawan.

Sementara dubes Syria di PBB, Bashar Al-Jaafari, menanggapi komentar sinis Amerika atas Rusia dan Cina dengan mengatakan, "Apakah ia juga merasa jijik dengan 60 veto yang dilakukan Amerika atas resolusi PBB yang ditujukan untuk mewujudkan perdamaian di Timur Tengah dan menyelesaikan konflik Arab-Israel?”



Sumber: almanar.com.lb; 7 Februari 2011

RUSIA DAN RAHASIA DARI FATIMA


Saat saya membaca berita tentang sambutan meriah rakyat Syria atas kedatangan menlu Rusia, Sergey Lavrov di Damaskus, Senin (6/2), untuk bertemu presiden Bashar al Assad, saya langsung teringat dengan tulisan mengenai "Rahasia Fatima" yang belum saya selesaikan. Namun sebelum saya menuliskan tentang hal itu, saya paparkan dahulu apa yang mendasari tulisan ini.

Minggu lalu Rusia, bersama Cina kembali memveto resolusi DK-PBB yang mengutuk regim Bashar al Assad dan menuntutnya mundur dari kekuasaan (veto pertama dilakukan akhir tahun lalu). Veto ini secara efektif berhasil mencegah satu lagi bencana kemanusiaan yang bakal dilakukan zionisme internasional. Bisa diprediksi dengan sangat mudah, sekali resolusi tersebut lolos, maka zionisme internasional dengan menggunakan tangan Amerika dan NATO serta sekutu-sekutunya akan menyerang Syria dan membantai ribuan warganya yang tidak bersalah sebagaimana telah terjadi di Afghanistan, Irak, Pakistan dan terakhir di Libya.

Maka sebagai bentuk terima kasih, ribuan warga Syria dengan sangat antusias menyambut kedatangan Lavrov dan mengelu-elukan Rusia dan Cina. Mereka membanjiri jalanan kota Damaskus hingga ke bandara sembari mengibar-ngibarkan bendera Rusia dan Syria.

"Terima kasih Rusia, terima kasih Cina!" teriak sebagian warga.

Kini kembali ke topik tentang "Rahasia Fatima". Pada tulisan pertama sudah disebutkan mengenai Rahasia Ketiga yang tidak juga dibuka oleh gereja Vatican, hal mana menimbulkan banyak spekulasi di masyarakat Katholik seluruh dunia. Paus Johannes Paulus II sempat mengemukakan alasan penolakan Vatikan untuk membuka Rahasia Ketiga Fatima. Dalam sebuah pertemuan dengan sekelompok pemuka agama Katholik di Jerman, ia mengatakan, (diringkaskan)

"Jika ada suatu pesan yang mengabarkan tentang bencana hebat yang menelan jutaan manusia dan tidak ada sesuatu pun yang bisa mencegah bencana itu, untuk apa gunanya mengabarkan pesan itu?"

Memang akhirnya Vatikan membuka pesan Rahasia Ketiga Fatima pada tgl 26 Juni 2000, namun apa yang disampaikan tidak seperti yang diperkirakan masyarakat, termasuk dengan apa yang diisyarakatkan oleh Paus Johannes Paulus II. Dengan kata lain, ada kecurigaan kuat, pesan rahasia itu telah dimanipulir oleh Vatikan demi tujuan tertentu. Namun bagaimana pun, pesan itu tetap memberi gambaran yang cukup "mengerikan", tentang bencana dan perang besar yang menghancurkan peradaban manusia, termasuk menumpaskan seluruh pemuka agama Katholik hingga pimpinan tertingginya, Paus. Berikut Rahasia Ketiga Fatima yang dilansir oleh Vatikan dalam bahasa Inggris:

"I write in obedience to you, my God, who command me to do so through his Excellency the Bishop of Leiria and through your Most Holy Mother and mine."

"After the two parts which I have already explained, at the left of Our Lady and a little above, we saw an Angel with a flaming sword in his left hand; flashing, it gave out flames that looked as though they would set the world on fire; but they died out in contact with the splendour that Our Lady radiated towards him from her right hand: pointing to the earth with his right hand, the Angel cried out in a loud voice: 'Penance, Penance, Penance!' And we saw in an immense light that is God: 'something similar to how people appear in a mirror when they pass in front of it' a Bishop dressed in White 'we had the impression that it was the Holy Father'. Other Bishops, Priests, men and women Religious going up a steep mountain, at the top of which there was a big Cross of rough-hewn trunks as of a cork-tree with the bark; before reaching there the Holy Father passed through a big city half in ruins and half trembling with halting step, afflicted with pain and sorrow, he prayed for the souls of the corpses he met on his way; having reached the top of the mountain, on his knees at the foot of the big Cross he was killed by a group of soldiers who fired bullets and arrows at him, and in the same way there died one after another the other Bishops, Priests, men and women Religious, and various lay people of different ranks and positions. Beneath the two arms of the Cross there were two Angels each with a crystal aspersorium in his hand, in which they gathered up the blood of the Martyrs and with it sprinkled the souls that were making their way to God
."


Yang menarik saya (blogger) adalah bukan rahasia ketiga ini, melainkan rahasia kedua yang menyebutkan bahwa berbagai bencana di dunia tidak akan berhenti sebelum bangsa Rusia "bertobat". Dan setelah Rusia "bertobat", ia akan menjadi "penyelamat" bagi umat manusia.

Sebagaimana bangsa besar Eropa lainnya, Inggris, Perancis, dan Jerman, Rusia telah lama menjadi incaran yahudi internasional untuk ditundukkan. Dan setelah melalui berbagai peristiwa tragedi yang secara sistematis dipicu oleh konspirasi yahudi, Rusia pun akhirnya jatuh ke tangan yahudi yang menggunakan tangan gerakan komunisme Bolshevik pada tahun 1917. Inilah negara aristokrat Eropa terakhir dan terbesar yang jatuh ke tangan yahudi setelah sebelumnya Inggris melalui revolusi Perang Sipil abad XVI dan Perancis melalui Ravolusi Perancis pada abad XVIII.

Tuhan tidak pernah menimpakan bencana besar pada umat manusia tanpa sebelumnya memberi peringatan. Komet besar sebelum tragedi G-30 S PKI, adalah salah satu contohnya. Begitu pun di Eropa. Sebelum Perancis mengalami tragesi kemanusiaan terbesar dalam sejarahnya, yaitu Revolusi Perancis tahun 1789, suatu peringatan sudah diberikan ketika secara misterius seorang kurir gerakan ekstremis yahudi "Illuminati" ditemukan tewas tersambar petir. Polisi Bavaria yang memeriksa mayat sang kurir menemukan surat rahasia rencana besar pengambil-alihan negara-negara aristokrat Eropa oleh Illuminati. Pemerintah Bavaria pun bertidak sigap, organisasi "Illuminati" langsung dibubarkan dan para pemimpinnya ditangkap dan dihukum mati. Pemerintah Bavaria juga mengirimkan surat peringatan tentang bahaya gerakan-gerakan Freemasons yang saat itu marak terjadi di Eropa dan banyak dianut oleh para aristokrat Eropa yang tanda sadar telah telah diperalat oleh yahudi. Namun peringatan itu diabaikan Raja Perancis, Louis XVI, yang akhirnya harus dibayar mahal dengan nyawanya yang tercabut secara keji. Seorang raja yang dihormati, tewas mengenaskan di hadapan rakyatnya sendiri yang tidak berdaya dengan cara di-guilottine (alat eksekusi inovasi kaum yahudi, hasil dari kharakter mereka yang suka dengan kekejian).

Setelah peristiwa itu, orang-orang yahudi membantai jutaan rakyat Perancis yang dianggap "kontra revolusi", terutama kalangan bangsawan, kelas menengah terdidik, dan kaum agamawan. Slogan mereka di antara orang-orang yahudi sendiri adalah "gantung raja terakhir dengan usus paus terakhir, meski kepada rakyat umum mereka berteriak: "Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan".

Rakyat Perancis bukan tanpa perlawanan. Jendral Lafayette yang legendaris, seorang pembela raja, mati-matian berusaha menyelamatkan nyawa raja. Namun ia tidak berdaya setelah "Dewan Revolusi" mengirimnya berperang ke luar negeri. Ribuan petani pun memberontak dan berusaha membebaskan raja, namun ditenggelamkan ke sungai oleh jendral pemimpin mereka yang ternyata adalah seorang pengikut yahudi.

Ah, Perang Sipil Inggris tidak kalah menyeramkan. Raja Charles yang dicintai rakyatnya pun digantung. Dan mayat-mayat yang dimutilasi dan dicongkel matanya berserakan di mana-mana. Awalnya hanya perkara sepele. Orang-orang yahudi mendirikan sekte Kristen ekstrim (Ordo Jesuit) yang memperjuangkan nilai-nilai "yahudi" diterapkan dalam agama Kristen, seperti libur hari Sabtu (Sabbath). Namun perkara sepele itu kemudian menjadi pemecah belah bangsa Inggris yang berujung pada perang saudara yang menelan ribuan kalau tidak jutaan, korban jiwa. Namun tentu ini semua tidak pernah ditulis oleh "bagawan" sejarah Indonesia, Sartono Kartodirjo yang menulis buku tebal tentang Revolusi Perancis, namun tanpa satu kata pun menyebutkan peran yahudi.

Pada tahun 1917, sebagaimana ditulis dalam artikel pertama, peringatan Tuhan melalui tiga anak kecil dari Fatima mulai terjadi. Pada tahun ini pula, revolusi Bolshevik Rusia mencapai momentum. Singkat kata, sebagaimana di Inggris dan Perancis, revolusi di Rusia ini menelan korban jutaan warga Rusia, yang hampir semuanya adalah penganut setia agama Katholik.

Dmitri Volkogonov, kepala satu komisi khusus Parlemen Rusia pernah mengungkapkan bahwa: "Antara tahun 1929 hingga 1952 sebanyak 21,5 juta rakyat Rusia ditindas. Sepertiga di antaranya ditembak mati dan sisanya dipenjara hingga mati."

Olga Shatunovskaya, seorang anggota Komisi Pengawas Partai Komunis semasa pemerintahan Perdana Menteri Khrushchev tahun 60-an mengatakan: "Antara 1 January 1935 hingga 22 Juni 1941, sebanyak 19,840,000 musuh rakyat ditangkap. Di antara mereka sebanyak 7 juta ditembak di penjara dan sebagian besar sisanya meninggal di penjara."

Namun tentu saja semua itu adalah angka "moderat" karena berasal dari sumber resmi pemerintah. Sebagian ahli memperkirakan jumlah korban jiwa selama pemerintahan komunis yahudi di Rusia mencapai 60 juta jiwa. Angka itu termasuk sekitar 7 juta jiwa penduduk Ukraina yang meninggal kelaparan setelah pemerintah merampas semua hasil panen gandum rakyat. Setelah mendapati jumlah ekskutornya kurang memadai untuk melakukan pembunuhan massal, komunis yahudi Rusia memilih cara efektif yaitu dengan sengaja membuat rakyat mati kelaparan.

Saya teringat dengan cerita tentang dua wartawan "liberal idiot" dari Amerika yang diutus koran mereka untuk meliput peristiwa Revolusi Bolshevik. Seorang di antaranya adalah John Reed, orang yang kemudian menjadi terkenal karena bukunya yang mengguncang dunia "Ten Days that Shock the World", yang kemudian menjadi pendiri partai komunis Amerika dan terakhir mati sebagai "pahlawan komunisme" dan dimakamkan di Uni Sovyet, meski para komunis Sovyet diam-diam menganggapnya sebagai seorang "useful idiot" .

Seorang lainnya, sayang saya lupa namanya (belum sempat searching internet), bernasib berbeda. Dianggap sebagai seorang "idiot", ia dibiarkan mengelana ke seluruh penjuru Uni Sovyet. Dan pengalaman yang dilihatnya sungguh mengguncang sisi kemanusiaannya hingga akhirnya menjadi pembenci komunisme dan yahudi. Ia melihat mayat berserakan di mana-mana dalam kondisi mengenaskan. Para petani yang disalib di pintu rumahnya sendiri, biarawati yang diperkosa dan alat kelaminnya dirusak, serta anak-anak sekolah yang diberondong senapan mesin saat belajar hingga darah dan ceceran otak berserakan tidak hanya di dinding, namun juga hingga di langit-langit kelas. Ini bukan cerita fiksi bung. Ini cerita nyata.

Dan komunis yahudi Rusia (Uni Sovyet) tentu saja dengan senang hati mengekspor metode komunis "menguasai dengan kekerasan" ke seluruh dunia. Maka pembunuhan massal pun terjadi di negara-negara di mana komunis berkuasa: Cina, Vietnam, Kamboja, Kuba, dll. Indonesia pun nyaris menjadi ladang pembantaian oleh orang-orang komunis kalau saja tidak ada perlawanan kaum santri Islam dan tentara nasionalis. Anda mungkin pernah mendengar cerita jaman PKI dahulu di berbagai daerah di Indonesia, tentang orang-orang yang memerintahkan penduduk untuk menggali lubang perlindungan di rumah masing-masing untuk "menyelamatkan diri" dari bahaya peperangan. Ternyata lubang itu digunakan untuk mengubur sang pemilik rumah sendiri, dan orang-orang yang memerintahkan penggalian itu adalah kader-kader PKI. Ini bukan cerita fiksi bung. Ini cerita nyata. Kalau tidak percaya tanyakan saja pada Pramoedya Ananta Toer.


Bersambung....

Tuesday, 7 February 2012

PEMBANTAIAN DI SYRIA DILAKUKAN TERORIS ASING


(TEMUAN TIM ISPEKSI LIGA ARAB YANG DISEMBUNYIKAN)


"Sesungguhnya sebagian dari orang-orang badui di sekitar Madinah, juga sebagian orang-orang Madinah, sungguh keterlaluan dalam kemunafikan" (QS At Taubah: 101)


Betapa munafiknya organisasi orang-orang Arab ini (Liga Arab). Menutup mata terhadap nasib rakyat Palestina yang selama 60 tahun terusir dari tanah airnya sebagai pengungsi dan sisanya hidup di negeri jajahan Israel, plus harus menerima aksi-aksi kekerasan Israel setiap hari. Dan jangan lupa, rakyat Gaza masih diblokade Israel. Mereka juga menutup mata saat Israel berkali-kali menyerbu Lebanon hingga menimbulkan ribuan korban jiwa warga sipil. Namun kini mereka dengan "gagah berani" melakukan intervensi terhadap sauraranya sendiri, Syria, satu-satunya negara Arab yang masih berani melawan Israel. Demikian vulgarnya intervensi tersebut hingga mereka berani menuntut presiden Syria untuk mengundurkan diri dan meminta Syria menerapkan sistem "demokrasi". Negeri-negeri orang-orang badui yang melarang para wanita menyetir mobil ini berani menggurui Syria, negeri yang sudah memiliki parlemen sejak tahun 1930-an, soal demokrasi.

Memang tidak semua orang Arab berwatak badui munafik. Rakyat Lebanon dan Syria sudah berperadaban tinggi sejak masih berada dalam kekuasaan Yunani dan Romawi. Demikian pula rakyat Mesir. Namun tidak demikian dengan bangsa-bangsa Arab barui gurun seperti Saudi, Qatar dan negara-negara Teluk yang tergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC), yang juga mendapat julukan sinis sebagai Gulf Counter-revolution Club). Dan sialnya, seiring melemahnya pengaruh negara-negara Arab modern seperti Libya, Mesir dan Syria karena konflik sosial politik internal, Liga Arab kini praktis dikendalikan oleh negara-negara Arab badui itu yang telah menjadi "orang-orang kaya baru" karena minyak.

Terkait dengan konflik Syria, negara-negara badui itu sangat keras menyuarakan pergantian kekuasaan di Syria. Pemimpin Qatar bahkan dengan lantang menyuarakan agar Liga Arab mengirimkan pasukannya ke Syria. Seandainya saja Liga Arab mengirimkan tentaranya ke Palestina, tentu Palestina sudah merdeka dari jajahan Israel.

Lalu episode pengiriman tim ispeksi Liga Arab pun berlangsung untuk memantau perkembangan di Syria setelah terjadinya tarik ulur politik yang intensif antara kekuatan-kekuatan internasional seputar Syria, 1 blok mendukung pemerintah Syria (Rusia, Cina, Iran, Irak, plus sebagian ekuatan politik di Lebanon dan Palestina) dan blok lainnya menuntut pergantian kekuasaan Syria (Amerika-Israel, Eropa dan negara-negara Arab badui). Namun terjadi banyak keanehan ketika tim inspeksi ini bekerja. Ketika kepala tim inspeksi, seorang jendral militer dari Sudan, mengisyaratkan keadaan di Syria "cukup menjanjikan", tiba-tiba tim ini ditarik. Namun setelah mendapat banyak kecaman karena penarikan itu, tim inspeksi pun dikirim kembali untuk tugas yang diperpanjang selama 1 bulan. Namun kembali secara tiba-tiba negara-negara Arab badui menarik wakilnya dalam tim inspeksi sehingga tim ini pun gagal melanjutkan tugasnya. Dan seolah tidak pernah berhenti melakukan kejutan, negara-negara Arab badui itu mendesakkan resolusi Liga Arab yang meminta presiden Syria, Bashar al Assad untuk mengundurkan diri. Dan perkembangan terakhirnya sebagaimana kita ketahui baru-baru ini, resolusi PBB yang menyuarakan suara Liga Arab itu gagal setelah diveto oleh Rusia dan Cina.

Kini kita kembali ke isu seputar tim inspeksi Liga Arab. Setelah selama sebulan melakukan pekerjaannya yang tidak benar-benar tuntas, tim beranggotakan 160 orang itu menyimpulkan kesimpulan yang mengejutkan: tidak ada tindakan represif yang dilakukan regim Bashar al Assad. Sebaliknya aksi-aksi kekerasan justru dilakukan kelompok-kelompok teroris yang berasal dari luar Syria.

Namun karena pengaruh negara-negara Arab badui, terutama Qatar yang saat ini menjadi ketua Liga Arab setelah "membeli" jabatan itu dari Palestina, laporan itu bagaikan tertelan bumi. Namun kebusukan tetap berbau busuk. Laporan itu bocor juga dan telah tersebar luas berkat internet. Dan inilah ringkasan dari laporan tersebut:

Tidak ada tindakan kekerasan terorganisir yang dilakukan pemerintah terhadap para demonstran sipil. Sebaliknya terdapat geng-geng bersenjata yang bertanggungjawab atas kematian ratusan warga sipil Syria dan lebih dari 1.000 aparat keamanan Syria (blogger memastikan geng-geng bersenjata itu di antaranya al Qaida, JI dan ekstremis-ekstremis Salafi teman-teman Umar Pathek yang dilatih oleh Mossad dan CIA dan didanai Saudi Wahabiah dan negara-negara Arab badui). Geng-geng bersenjata itu menggunakan taktik teror seperti membom kendaraan umum, membom kereta api pangangkut minyak, membom kantor-kantor pemerintah, serta membom jembatan dan pipa-pipa minyak.

Korban yang terjadi karena serangan pasukan Syria kebanyakan adalah anggota-anggota geng bersenjata.

Organisasi oposisi Syria yang bermarkas di Turki, Syrian National Council (semacam TNC di Libya) pada dasarnya adalah organ dari organisasi Ikhwanul Muslimin yang berafiliasi dengan pemerintah Saudi dan Qatar dengan Israel sebagai payung di belakangnya. Sedangkan sayap militer oposisi, Free Syrian Army, hanya sebagian kecil yang merupakan bekas tentara dan pejabat Syria yang membelot. Namun sebagian besar anggota mereka adalah kelompok militan asing yang dipersenjatai oleh negara-negara GCC, khususnya kelompok-kalompok Salafi.

Kini kita tahu mengapa Liga Arab menghentikan secara tiba-tiba tim inspeksi mereka di Syria dan memaksakan resolusi Liga Arab dan PBB untuk menggusur pemerintahan Bashar al Assad, tidak lain karena laporan tersebut di atas. Rusia sangat marah karena langkah Liga Arab ini, selain karena menghentikan kerja tim inspeksi bentukan sendiri, juga karena mengabaikan permintaan Rusia untuk menunda pembahasan resolusi PBB hingga menlu dan kepala inteligen Rusia bertemu presiden Bashar al Assad.

Kini situasinya berbalik, konspirasi jahat zionis internasional telah terbongkar. Negara-negara oposisi Amerika seperti Rusia dan Cina, plus negara-negara Amerika latin, Iran, hingga Pakistan, India dan Afrika Selatan, dengan tegas menolak intervensi asing terhadap Syria. Selain itu poros Uni Eropa-Turki-Amerika-Saudi GCC memiliki perbedaan agenda sendiri-sendiri atas Syria.



Sumber:
"Arab league monitors find slaughter in Syria the work of foreign-backed subversives-Exposed: The Arab agenda in Syria"; Pepe Escobar – Asia Times February 4, 2012 dalam thetruthseeker.co.uk; 7 Februari 2012

Monday, 6 February 2012

GANTUNG PARA SUBVERTOR HUTANG


Beberapa tahun lalu presiden SBY dengan bangga dan menepuk dada mengumumkan kepada rakyat Indonesia bahwa Indonesia telah terbebas dari hutang luar negeri setelah melunasi semua kewajiban terhadap IMF. Namun ternyata hal itu adalah tipuan murahan. Pura-pura melunasi hutang IMF, pemerintah justru menambah besar hutang dari sumber-sumber lintah darat lain. Akibatnya, hutang pemerintah Indonesia justru semakin membengkak dari tahun ke tahun.

Berikut adalah data jumlah hutang luar negeri pemerintah Indonesia yang dirilis Departemen Keuangan baru-baru ini.

Tahun 2007 jumlah utang Rp 1.389 triliun (rasio terhadap PDB 37%). Berupa pinjaman Rp 586 triliun dan surat utang Rp 803 triliun

Tahun 2008 jumlah utang Rp 1.637 triliun (rasio 33%). Beruba pinjaman Rp 730 triliun dan surat utang Rp 906 triliun

Tahun 2009 jumlah utang Rp 1.591 triliun (rasio 29%). Berupa pinjaman Rp 611 triliun dan surat utang Rp 979 triliun

Tahun 2010 jumlah utang Rp 1.677 triliun (rasio 27%). Berupa pinjaman Rp 612 triliun dan surat utang Rp 1.064 triliun

Tahun 2011 jumlah utang Rp 1.803 triliun (rasio 25%). Berupa pinjaman Rp 616 triliun dan surat utang Rp 1.188 triliun

Tahun 2012 jumlah utang Rp 1.937 triliun. Berupa pinjaman Rp 615 triliun dan surat utang Rp 1.322 triliun

Peningkatan hutang tersebut tentu saja diikuti juga dengan peningkatan beban bunga yang harus dibayar. Datanya adalaha sbb:

2007 pembayaran bunga utang Rp 79,806 triliun
2008 pembayaran bunga utang Rp 88,43 triliun
2009 pembayaran bunga utang Rp 93,782 triliun
2010 pembayaran bunga utang Rp 88,383 triliun
2011 pembayaran bunga utang Rp 106,584 triliun
2012 pembayaran bunga utang Rp 122,218 triliun

Presiden SBY dikabarkan prihatin dengan kondisi ini dan terus mengingatkan para menterinya untuk tegas mengurangi utang luar negeri. Ini adalah penipuan lain SBY. Menteri Keuangan tidak akan pernah bisa menambah hutang tanpa persetujuan presiden. Lagipula seharusnya ia tahu, kecuali seorang idiot moron kuadrat, pemerintah tidak pernah bisa menghabiskan anggaran (APBN) yang telah ditetapkannya sendiri. Jadi mengapa pemerintah selalu ngotot menetapkan defisit APBN yang harus dipenuhi dengan hutang luar negeri? Semestinya bukan saja tanpa harus menambah hutang, pemerintah justru mendapatkan surplus dana anggaran yang jumlahnya sangat signifikan, mencapai Rp 100 triliun lebih setiap tahunnya, jumlah akumulatifnya lebih dari cukup untuk membangun jembatan Selat Sunda dan membangun infrastuktur besar-besaran di seluruh pulau di Indoensia serta mengentaskan kemiskinan di Indonesia.

SBY telah meminta persentase utang pemerintah terhadap PDB di 2014 harus ditekan menjadi paling besar 22%. Ini juga penipuan lain. Sebagai seorang doktor ekonomi ia semestinya tahu bahwa tidak ada angka ideal dari jumlah hutang luar negeri. Hutang tetap hutang besar maupun kecil. Dahulu para ahli ekonomi (provokator kapitalisme) menetapkan standar ideal hutang berdasarkan konsep DSR (debt service ratio) atau rasio jumlah pembayaran hutang terhadap nilai ekspor dalam setahun. Namun seiring semakin membengkaknya hutang, rasio itu dianggap tidak cocok lagi untuk mengimbangi nafsu berhutang pemerintah, maka digantilah dengan konsep rasio hutang terhadap PDB.

Saya ilustrasikan sbb: PDB sebuah negara adalah $1.000 miliar, total ekspornya $10 miliar, total hutang luar negeri $10 miliar. Dengan mengunakan konsep DSR, rasio hutangnya adalah $10 miliar/$10 miliar x 100% = 100%. Namun dengan menggunakan konsep rasio PDB menjadi $10 miliar/$1.000 miliar x 100% = 1%.

Tampak rasio PDB menjadi lebih kecil yaitu hanya 1%, padahal jumlah hutangnya sama saja dengan rasio DSR yang mencapai 100%. Inilah trik untuk mengelabuhi masyarakat.

Beban pembayaran bunga yang tinggi tentu saja menyerap kemampuan pemerintah untuk membangun dan pada akhirnya mengurangi tingkat kesejahteraan rakyat. Lebih parahnya lagi hutang yang tidak perlu itu bukannya digunakan untuk hal-hal produktif yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, namun justru digunakan untuk berfoya-foya para pejabat pemerintah. Tunjangan ini itu, fasilitas ini itu, studi banding kesana kemarin, membangun kantor-kantor mewah dan sebagainya.

Saatnya bagi SBY untuk tidak lagi sekedar berwacana, menebar citra dan berkeluh kesah. Rakyat sudah muak dengan itu semua. Hentikan konspirasi menghancurkan negeri dengan motif hutang luar negeri. Atau suatu saat kelak rakyat, yang harus menanggung beban hutang yang Anda ciptakan, akan mengencingi makam Anda dan memaki-maki Anda beserta keturunan Anda. Krisis Yunani dan yang sebentar lagi juga akan menimpa Amerika dan negara-negara Eropa, cukup untuk menjadi pelajaran.

Sunday, 5 February 2012

IRAN, SASARAN BERIKUT PARA BANKIR KAPITALIS YAHUDI


Kini terbuka sudah alasan zionis internasional menyerang Libya dan membunuh Moammar Khadaffi. Libya, bersama Syria dan

Iran, adalah sedikit dari beberapa negara yang masih "merdeka" dari infiltrasi perbankan internasional (baca yahudi) dan tidak memiliki hutang kepada negara dan lembaga keuangan asing. Dan Moammar Khadafi telah merencanakan untuk semakin melepaskan Libya dari jeratan perbankan internasional dengan mencampakkan dolar sebagai alat pembayaran penjualan minyaknya.

Lupakan soal isu nuklir, tujuan utama negara-negara barat menyerang Syria dan Iran adalah untuk menjadikan keduanya budak sistem keuangan internasional yahudi yang telah melilit dunia sejak beberapa abad lalu dan semakin mencekik di era modern ini.

Namun rakyat Syria dan Iran, sebagaimana juga Lebanon, Mesir, Tunisia, Irak, dan Afghanistan (kecuali Saudi Wahabiah dan negara-negara Arab badui di kawasan Teluk Parsi), telah sadar dengan bahaya itu. Mereka pun melawan, dan dalam hal Iran, perlawanan dipastikan akan lebih kuat.

"Barat harus sadar bahwa mereka tidak akan bisa memaksa Republik Islam Iran untuk tunduk kepada keinginan mereka dan meremehkan semangat Iran untuk meraih kejayaan dan kebebasan, menciptakan teknologi canggih dan menjaga hak-haknya," kata Kazem Jalali, anggota parlemen Iran baru-baru ini mengomentari sanksi ekonomi yang diterapkan Amerika dan Uni Eropa.

"Barat tengah berupaya mempolitisasi keadaan sebelum dilakukannya pembicaraan nuklir dengan Iran karena mereka sadar bahwa sanksi ekonomi terhadap Iran tidak akan berhasil karena dunia tidak terbatas pada mereka saja," tambahnya.

Tindakan sanksi ekonomi kepada suatu negara yang tidak melakukan pelanggaran internasional seperti Iran (Iran adalah anggota IAEA dan program nuklirnya adalah program yang legal) merupakan pelanggaran hukum internasional, setara dengan aksi
militer. Sanksi-sanksi tersebut di antaranya berbentuk larangan membuat kontrak baru perdagangan dan eksplorasi minyak dengan Iran dan menghentikan kontrak yang tengah berjalan terhitung mulai Juli tahun ini. Sanksi ekonomi juga berupa pembekuan asset-asset Iran di seluruh Eropa dan Amerika.

Namun seperti kata Jalali, sanksi-sanksi itu tidak akan efektif mempengaruhi ekonomi Iran. Iran masih memiliki pasar minyaknya sendiri. India, baru-baru ini menyatakan akan tetap membeli minyak Iran dengan menggunakan emas sebagai alat pembayarannya agar tidak bersinggungan dengan sanski yang diterapkan Amerika dan Eropa. Cina juga tidak bergeming untuk tetap membeli minyak Iran meski menkeu Amerika secara pribadi telah melakukan lobi ke Cina. Cina dan India adalah importir terbesar minyak Iran mencapai 40% total ekspor minyak Iran yang mencapai 2,5 juga barrel per-hari. Beijing juga menggunakan emas sebagai alat pembayaran minyak Iran.

Iran boleh saja terisolasi di Amerika dan Eropa, namun Iran masih memiliki sekutu-sekutu kuat. Iran dan Venezuela telah menandatangani proyek kerjasama senilai $4 miliar, termasuk di bidang perbankan. India telah menjamin akan membeli minyak
Iran karena Iran telah menjadi mitra bisnis yang menguntungkan India sejak lama. Yunani menentang sanksi ekonomi Uni Eropa karena mereka menikmati kemudahan yang diberikan Iran berupa fasilitas pembayaran berjangka untuk pembelian minyaknya. Korsel dan Jepang juga meminta pengecualian (untuk tidak turut mengenakan sanksi) karena mereka tergantung dengan suplai minyak Iran. Dan hubungan ekonomi Iran dengan Rusia semakin kuat dari tahun ke tahun.

Dan sekutu ekonomi terkuat Iran adalah Cina, importir terbesar minyak Iran. 15% dari total konsumsi minyak dan gas Cina berasal dari Iran, membuat Cina, sebagaimana juga Rusia, manganggap keamanan Iran sebagai keamanan mereka sendiri. Nilai perdagangan kedua negara mencapai $30 miliar setahun dan pada tahun 2015 nanti diproyeksikan akan mencapai $50 miliar. Pada dasarnya Cina bahkan akan diuntungkan dengan adanya sanksi Amerika dan Eropa karena Cina akan mendapatkan harga yang lebih murah.

Untuk memahami fenomena global dewasa ini adalah dengan memahami hubungan antara kepentingan zionisme dengan mata uang dolar sebagai alat pembayaran internasional. Minyak adalah "darah" bagi perekonomian dunia. Dan dolar adalah alat pembayaran bagi perputaran minyak di dunia. Sementara perang adalah "metode" untuk "mengatasi" masalah tersumbatnya perputaran tersebut.

Siapa bisa membantah bahwa kepentingan negara Israel tergantung pada perputaran dolar sebagai alat pembayaran minyak? Tentu saja rencana pembayaran minyak dengan emas mengganggu kepentingan Israel dan zionisme. Dan lebih mengganggu lagi jika
sebuah negara "bandhel" seperti Iran, atau Libya dan Syria, akan menggunakan cara lain dalam bisnisnya, lepas dari jeratan sistem keuangan global.

Melonjaknya harga minyak dunia akan memberikan keuntungan besar bagi para pedagang minyak dunia yang semuanya adalah para kapitalis zionis. Sudah barang tentu sebagian keuntungan itu akan mengalir ke Israel, negara bentukan keluarga Rothschild, bapak kapitalis internasional berdarah yahudi (Anda liberal idiot yang menganggap semuanya itu sebagai "teori konspirasi" belaka, silakan berkunjung ke gedung Mahkamah Agung Israel. Di sana, di atap gedung, terdapat dua simbol besar penyembahan setan, yaitu salib terbalik dan piramida dengan satu mata di tengahnya sebagaimana pada gambar mata uang dollar).

Setelah menghancurkan dan menguasai ladang minyak Irak dan Libya, para kapitalis internasional itu mengalihkan sasarannye ke ladang-ladang minyak Iran. Dengan menghancurkan ladang-ladang minyak Iran, harga minyak akan meroket dan durian runtuh akan menimpa para kapitalis yahudi internasional. Perang juga menjadikan sumber penghasilan lain bagi mereka yang tidak kalah menggiurkan: perdagangan senjata. Bahkan plastik pembungkus mayat terbuat dari bahan turunan minyak bumi.

Rockefeller, tokoh besar kapitalis internasional lainnya asal Amerika, mengatakan, "kompetisi adalah suatu dosa." Apalagi jika kompetitornya adalah negara seperti Iran meski Iran sebenarnya bukan ancaman bagi Amerika ataupun Israel, 2 negara yang telah menumpuk ratusan hingga ribuan bom nuklir yang tentu saja Iran sadar betul, menyerang keduanya berarti bencana besar bagi Iran. Namun jika Iran diserang, tentu ia tidak akan duduk berpangku tangan.

Mantan komandan Mossad, Meir Dagan, mengatakan dalam suatu acara talkshow, "Serangan Israel atas Iran akan menyeret dunia ke perang regional."

Menurut Dagan, sekutu Iran, Hamas dan Hizbollah akan membombardir Israel dengan roket dan rudal. Syria juga akan terlibat dalam perang dengan menggempur Israel. Israel dipastikan akan mengalami kehancuran hebat.


Sumber:
"Iran, Gold and Oil – The Next Banksters War"; Sartre – BATR January 29, 2012; dalam thetruthseeker.co.uk; 3 Februari 2012

IRAN SUKSES LUNCURKAN SATELIT BUATAN SENDIRI


Menyambut hari Revolusi Iran yang berlangsung tgl 1 sampai 11 Februari mendatang, Iran sukses meluncurkan satelit buatan sendiri "Navid-e Elm-o Sanat" dengan roket yang juga buatan sendiri, "Safir". Peluncuran berlangsung hari Jum'at pagi waktu setempat (3/2). Keberhasilan ini semakin mengukuhkan Iran sebagai pemimpin teknologi ruang angkasa di dunia Islam.

Satelit seberat 50 kg itu berhasil diluncurkan ke orbitnya pada ketinggian 250 hingga 370 km dari permukaan bumi.

Kepala Badan Ruang Angkasa Iran (ISA), Hamid Fazeli, mengatakan kepada pers usai peluncuran bahwa satelit "Navid" dilengkapi dengan peralatan oberservasi canggih yang mampu mengirimkan gambar presisi tinggi seluruh permukaan bumi. Satelit tersebut ditugaskan untuk mengumpulkan data-data cuaca yang berguna untuk memprediksi cuaca sebagaimana juga bencana alam.

Fazeli menambahkan bahwa satelit diharapkan akan mengorbit bumi sekali setiap 90 menit untuk mengirimkan gambar dan data-data ke stasiun pengendali di bumi.

Satelit "Navid-e Elm-o Sanat" adalah satelit telekomunikasi sekaligus juga satelit obeservasi dan ilmu pengetahuan yang data-data yang dikumpulkannya berguna untuk berbagai bidang.

Iran pertama kali meluncurkan satelit buatan sendiri bernama "Omid" pada tahun 2009. Sejak saat itu Iran telah beberapa kali meluncurkan satelit buatan sendiri ke ruang angkasa. Satelit "Omid" mengorbit bumi 15 kali sehari dan mengirimkan data melalui dua frekuensi radio dengan delapan antena ke bumi.

Iran adalah salah satu dari 24 negara anggota dan pendiri "United Nations’ Committee on the Peaceful Uses of Outer Space" yang didirikan pada tahun 1959.



Sumber:
"Iran successfully launches new satellite into orbit"; Press TV – February 3, 2012 dalam thetruthseeker.co.uk; 4 Februari 2012

Saturday, 4 February 2012

Cendikiawan Malaysia Puji Keberanian dan Konsistensi Iran Lawan Barat


Sabtu, 04 Februari 2012 , 15:51:00 WIB
Laporan: Widian Vebriyanto, rakyatmerdekaonline.com



Seorang Cendikiawan muslim Malaysia memuji konsistensi dan keberanian bangsa Iran menentang kebijakan ekspansionis Barat sejak negara tersebut mendeklarasikan diri menjadi Republik Islam Iran tiga dekade lalu.

Hal tersebut disampaikan Pemimpin Sekretariat Himpunan Ulama Rantau Asia (SHURA) Abdul Ghani Shamsuddin dalam sebuah pernyataannya untuk menyambut hari ulang tahun yang ke-33 berdirinya Republik Islam Iran yang jatuh pada 11 Februari nanti.

"Prestasi Revolusi Islam dan martabat bangsa Iran telah membuat frustrasi Barat, prestasi bangsa Iran ini adalah sumber kebanggaan bagi seluruh umat Islam dunia." ujar Shamsuddin sebagaimana dilansir situs resmi pemerintah Iran, IRNA (Sabtu, 4/2).

Cendekiawan Malaysia itu menambahkan bahwa kemajuan Iran juga telah merangsang kebangkitan negara-negara lain, khususnya negara Islam. Hal ini, lanjutnya, akan mengancam masa depan sistem hegemonik dunia yang dikuasai AS dan Barat.[zul]

Friday, 3 February 2012

IRAN PERINGATI REVOLUSI ISLAM


Jutaan rakyat Iran di seluruh negeri memperingati HUT ke 33 Revolusi Iran yang berlangsung sejak tgl 1 Februari (hari kepulangan Imam Khomeini dari pengasingan) hingga 11 Februari (hari tumbangnya regim Shah Iran).

Ribuan warga Iran mengunjungi makam Khomeini dan sebuah parade digelar di kompleks syuhada revolusi di Teheran. Peringatan revolusi juga termasuk program-program budaya di 30.000 masjid di seluruh Iran, termasuk juga kompetisi olahraga, pameran-pameran foto dan festival film.


PELUNCURAN SENJATA BARU
Sebagai tradisi yang telah dilakukan beberapa tahun terakhir, dalam peringatan hari revolusi Iran juga memamerkan senjata-senjata baru buatannya. Pameran persenjataan baru Iran kali ini digelar di pangkalan udara al-Anbiya, Teheran. Di antara senjata baru yang digelar adalah peluru artileri pintar dan kotak hitam pintar yang digunakan baik untuk pesawat militer maupun sipil.

"Ini adalah langkah besar lainnya yang dilakukan Iran untuk memenuhi kebutuhan industri persenjataannya. Kotak hitam "Shaheb" menggunakan metode baru pemotretan dan intepretasi gambar dan suara. Kotak hitam ini tahan terhadap kondisi ekstrim sesuai standar internasional," kata menhan Iran, Jendral Vahidi, kepada pers Iran yang meliput acara pameran, Kamis (2/2).

Jendral Vahidi menambahkan "Shaheb" mampu menyimpan dan memproses data berupa gambar dan rekaman elektronik lain hingga selama 2.200 jam serta 40 jam rekaman komunikasi pilot. "Shaheb" juga bisa menangani 30 kamera yang ditempatkan di dalam pesawat dan merekam hingga 10 jam gambar dan suara.

Vahidi juga memamerkan sistem pertahanan udara baru yang ditujukan untuk sasaran ketinggian rendah. "Sistem pertahanan udara baru ini sanggup mendeteksi pesawat-pesawat tanpa awak, pesawat-pesawat siluman serta rudal-rudal penjelajah," kata Vahidi.

Namun yang paling menyita perhatian adalah peluru artileri pintar yang dikendalikan dengan sinar laser dan mampu menembak sasaran bergerak dengan tepat dengan jarak tembak hingga 20 km.

Jendral Vahidi menglaim teknologi peluru pintar ini hanya dikuasai oleh 5 negara di dunia, termasuk Iran.



Sumber: almanar.com.lb; 2 Februari 2012

Thursday, 2 February 2012

BAGAIMANA IRAN MENGALAHKAN AL AMERIKA


Keterangan gambar: kapal-kapal cepat Iran menghancurkan sasaran dalam sebuah latihan perang.



Sejarah mencatat banyak peristiwa peperangan dimana pasukan kecil bisa mengalahkan pasukan yang jauh lebih besar. Cerita David melawan Goliath adalah salah satu cerita kuno tentang hal itu. Pasukan Alexander The Great mengalahkan balatentara Darius the Great, flotilla Inggris mengalahkan armada Spanyol di Travalgar, pasukan gerilya Raden Wijaya yang mengalahkan balatentara ekspedisi Mongol, atau pasukan Muslim yang dipimpin Rosulullah yang mengalahkan balatentara Quraisy di Badar, adalah cerita-cerita klasik. Di jaman modern kita melihat bagaimana milisi semi-militer Hizbollah mengalahkan balatentara pasukan Israel yang jumlah dan persenjataannya jauh lebih kuat, atau saat pasukan tank Jendral Guderian meluluhlantakkan seluruh pasukan Perancis dalam Perang Dunia II. Dan contoh paling afdhol tentu saja ketika para gerilyawan "sandal jepit" Taliban menelikung pasukan "Goliath" Amerika dan NATO di Afghanistan.

Dan bangsa Iran (dahulu Persia) adalah (mungkin) yang paling berpengalaman dalam hal ini. Selain kalah dari Alexander (dari Machedonia), pasukan mereka yang besar harus menelan kekalahan melawan pasukan Yunani di Marathon, atau kalah melawan pasukan Islam di bawah panglima Saad bin Abi Waqqash. Dan pengalaman paling pahit terjadi saat armada laut raksasa mereka kalah melawan armada kecil Yunani dalam pertempuran Teluk Salamis, Yunani beberapa abad sebelum masehi. Iran telah belajar dari pengalaman masa lalu.

Bukan jumlah pasukan atau keunggulan teknologinya yang menentukan kemenangan pertempuran, melainkan taktik dan kecerdasan panglima perang. Dalam pertempuran Salamis misalnya, Yunani cerdas dengan menjebak armada Persia untuk bertempur di selat yang sempit sehingga jumlah pasukan menjadi tidak berarti. Namun di atas segalanya, penentu kemenangan suatu pertempuran adalah semangat pasukan yang diilhami oleh cita-cita dan keyakinan mulia.

Besarnya kekuatan pasukan dan persenjataannya bisa menjebak. Sebelum dan pada masa awal Perang Dunia II para ahli strategi militer menganggap kekuatan laut ditentukan oleh besarnya kaliber dan jumlah meriam kapal-kapal perangnya. Dan pada saat itu Inggris dianggap sebagai kekuatan laut terkuat di dunia karena banyaknya armada kapal perangnya. Dan kepercayaan itu semakin kuat setelah Inggris berhasil menghancurkan armada laut Jerman dalam Perang Atlantik. Namun setelah Jepang berhasil menenggelamkan 2 kapal penjelajah berat Inggris di Laut Cina selatan --- yang dikirim dari Eropa untuk menghentikan laju invasi Jepang ke Asia Selatan, dalam waktu singkat dengan menggunakan pesawat-pesawat torpedo yang diluncurkan melalui kapal induk, doktrin laut yang dipercaya selama berabad-abad itu runtuh seketika. Namun beruntung bagi sekutu karena masih ada Amerika, yang seperti Jepang juga mengembangkan model angkatan laut baru yang ditulang punggungi oleh kapal induk.

Kondisi yang dihadapi Yunani saat menghadapi Parsi jaman dahulu kini juga dihadapi pasukan Iran. Mereka harus menghadapi armada musuh yang jauh lebih superior, yaitu Amerika yang jika semua angkatan laut di dunia digabungkan, secara kuantitatif tidak akan bisa mengalahkan Amerika. Sebagai ilustrasi Amerika mempunyai 11 kapal induk, jumlah yang masih lebih besar dari semua kapal induk negara-negara lain di dunia (Rusia 1, Cina 1, Perancis 1, Thailand dan India 1).

Untuk mengalahkan armada Amerika dalam pertempuran laut di sekitar Teluk Parsia dan Teluk Oman, Iran menerapkan beberapa strategi sbb:
1. Mengembangkan rudal dan torpedo anti kapal dengan akurasi dan kecepatan tinggi.
2. Mengembangkan kapal-kapal cepat (speedboat) berpeluru kendali.
3. Memanfaatkan kondisi perairan seefektif mungkin, di antaranya menyembunyikan persenjataannya di pulau-pulau terpencil, di antara puluhan pelabuhan besar dan kecil, di antara puluhan perkampungan nelayan dan ribuan kapal yang lalu-lalang setiap harinya, sehingga memungkinkan mereka melakukan serangan dadakan yang mematikan.
4. Menerapkan struktur komando yang lebih independen hingga ke unit-unit tempur terkecil seperti kapal-kapal cepat.
5. Menekankan doktrin perang jihad.

Di sisi lain armada Amerika dan sekutunya justru berada di situasi yang kurang menguntungkan. Harus bertempur di selat yang sempit yang diapit tebing tinggi, kapal-kapal Amerika menjadi sasaran empuk senjata-senjata artileri, rudal, ranjau, dan persenjataan penghancur kapal lainnya.

Majalah "New York Times" edisi terbaru menuliskan laporan utamanya tentang Perang Teluk II antara Iran melawan Amerika dan sekutunya. New York Times dengan yakin menyatakan bahwa persoalannya bukan lagi "mungkinkah" perang terjadi, melainkan "kapan" mulainya. Persiapan juga sudah dilakukan Amerika dan sekutunya untuk menyerang Iran. Selain penumpukan pasukan di negara-negara sekutunya yang berbatasan langsung atau berdekatan dengan Iran seperti Azerbeijan, Turki, dan negara-negara Teluk, Amerika saat ini tengah memobilisasi pasukan besar di pulau Socotra, Yaman dan pulau Masirah, Oman. Pada bulan Februari ini jumlah pasukan yang berada di kedua pulau diperkirakan akan mencapai 50.000 pasukan, ditambah 50.000 pasukan lainnya di negara-negara Teluk, jumlahnya sama dengan yang diperlukan Amerika saat menyerang Irak tahun 1991 dalam Perang Teluk I. Belum lagi pasukan yang telah ditempatkan di perbatasan Azerbeijan-Iran, serta Afghanistan yang jumlahnya mencapai 100.000 pasukan. Dan tidak boleh dikesampingkan adalah kedatangan 10.000 tentara Amerika di Israel dengan kedok "latihan perang".

Sementara untuk kekuatan lautnya Amerika telah menempatkan 2 kapal induk di kawasan konflik yaitu USS Carl Vinston dan USS Abraham Lincoln. Pada minggu pertama bulan Maret jumlahnya akan ditambah dengan kapal induk USS Enterprise dan kapal induk Perancis, Charles de Gaulle. Inggris juga telah menempatkan beberapa kapal perangnya di kawasan konflik. Sekitar 2 minggu lalu USS Carl Vinston memimpin flotilla kapal perang, termasuk kapal perang Perancis dan Inggris, melintasi Selat Hormuz. Bermaksud memberi peringatan kepada Iran, pejabat tinggi Iran justru meledek bahwa Amerika tidak berani sendirian melawan Iran.

Pada tahun 1993 penyanyi Sting mengeluarkan album "Ten Summoner's Tale" yang salah satu lagunya sangat saya sukai yaitu, "Something the Boy Said". Lagu itu menceritakan satu pasukan besar yang mendarat di suatu wilayah konflik. Dengan jumlah pasukan yang besar dan persenjataan kuat para anggota pasukan sangat percaya diri untuk menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Namun seorang kapten dicemaskan dengan peringatan putranya saat akan berangkat: "pasukan akan menjadi santapan burung pemakan bangkai".

Misipun berlangsung, namun dengan hasil yang mengecewakan. Satu demi satu pasukan tewas sia-sia hingga akhirnya seluruh pasukan mempertanyakan missi yang diembannya dan bertanya kepada sang kapten tentang ramalan sang putra.

Pada tahun yang sama Amerika mendapatkan pengalaman pahit saat anggota-anggota pasukannya dibantai gerlyawan Somalia dan jenasahnya diseret-serat seperti binatang. 10 tahun kemudian nasib yang sama dialami pasukan Amerika di Irak ketika mayat-mayat tentara mereka digantung di atas jembatan kota Fallujah. Belum lagi apa yang mereka alami di Afghanistan untuk tidak disebutkan Vietnam. Atau saat 200 tentara mereka tewas karena serangan bom di Beirut tahun 1983 yang memaksa Amerika menarik diri dari Lebanon.

Secara kuantitatif militer Iran, dengan anggaran tahunannya hanya sebesar $7, memang tidak seimbang dengan Amerika yang anggaran pertahanan tahun 2008 saja mencapai $619 miliar. Daripada menghadapi langsung secara frontal, Iran akan memanfaatkan titik lemah armada musuh. Iran akan "memanfaatkan kelemahan musuh dengan menggunakan taktik gerilya laut, serangan dadakan dan mengeroyok ramai-ramai dengan kapal-kapal kecil yang cepat. Iran juga akan menggunakan strategi perang panjang yang melelahkan Amerika dengan sengaja membuat Selat Hormuz sebagai kawasan berbahaya, melalui aksi-aksi sabotase misalnya, tanpa harus menutupnya secara penuh.


SIMULASI PERANG YANG MENGEJUTKAN AMERIKA
Saat digelar latihan perang "Great Prophet V" yang dilaksanakan Iran, April 2010, dunia dikejutkan dengan beberapa persenjataan baru Iran seperti speedboat kecepatan tinggi yang dilengkapi peluru kendali yang dirancang berdasar disain superboat tercepat di dunia milik Inggris, "Bladerunner". Iran juga memamerkan rudal-rudal anti-kapal dan torpedo kecepatan tinggi serta pesawat tempur dan maupun mata-mata tanpa awak.

Semuanya itu belum menjadi perhitungan Amerika saat mereka menggelar simulasi perang laut melawan Iran tahun 2002 dengan sandi "Millennium Challenge". Dengan parameter-parameter yang dibuat semirip mungkin dengan kemampuan militer Iran, simulasi itu memberikan hasil yang mengejutkan. Dalam waktu sehari saja setelah Iran melakukan ovensif, 16 kapal perang Amerika tenggelam, termasuk 1 kapal induk, beserta 20.000 nyawa para pelautnya. Sebuah gambaran menyeramkan yang akan menjadi bencana terbesar Amerika sepanjang sejarah. Maka buru-buru Amerika mengubah parameternya untuk memberikan kemenangan bagi mereka.

Jendral marinir Paul K. Van Riper yang terlibat dalam simulasi tersebut mengatakan kepada "New York Times" perihal simulasi tersebut tahun 2008, “Jumlah kapal yang terlibat meningkatkan kemampuan mereka, baik secara mental maupun fisik," merujuk pada studi yang dilakukan korps marinir pada kehidupan liar. Meski dengan ukuran tubuh yang jauh lebih kecil, satu kawanan srigala mampu membunuh mangsa yang jauh lebih besar.
"Bukan masalah ukuran atau kemampuan individu, melainkan bagaimana satu kawanan datang dari berbagai arah sekaligus," katanya merujuk pada kapal-kapal cepat Iran.



KOMANDO JIHAD
Mental dan semangat pasukan Amerika sangat jauh berbeda dengan semangat pasukan Iran. Dengan moral rendahnya sebagaimana dipertontonkan di Abu Ghraib, tentara Amerika akan seperti pasukan dalam lagu "Something the Boy Said", yang ketakutan hanya karena suatu cerita takhayul. Sebaliknya, sebagaimana kebanyakan rakyat Irak yang menganut Shiah, semangat jihad selalu tertanam kuat di dalam jiwanya.

Tentara Iran, terlebih pasukan elit Tentara Pengawal Revolusi, percaya bahwa pemimpin tertinggi mereka merupakan wakil Tuhan di bumi yang tengah mempersiapkan kedatangan Imam Mahdi. Semua tugas yang mereka kerjakan mereka anggap sebagai ibadah, dan kematian syahid adalah puncak keinginan tertinggi mereka.

Pada th 1997, komandan Tentara Pengawal Republik Iran, Mohsen Rezaei mengatakan, "Iran tidak akan pernah memulai perang. Namun jika Amerika menyerang, kami akan mengubah kawasan Teluk sebagai ladang pembantaian bagi mereka. Tidak ada tempat lain sebaik Teluk Parsi untuk menghancurkan kekuatan Amerika."