Seorang pengunjung blog ini baru-baru ini menegur saya melalui komentarnya pada postingan "ANTARA ANWAR IBRAHIM DAN HABIBIE". Menurutnya saya tidak boleh menyalahkan Habibie atas terjadinya fenomena penguasaan negeri ini oleh kaki tangan "para penguasa global jahat yang berada di balik tirai" (merujuk pada para kapitalis global berdarah yahudi peyembah berhala seperti keluarga Rothschild, Rockefeller, dll.), karena Habibie tidak memahami hal-hal seperti itu.
Saya teringat dengan satu ayat dalam Al Qur'an yang saya lupa nama surat-nya dan ayat ke berapa (mohon ma'af karena saya memang bukan ahli agama). Ayat itu menceritakan suatu dialog antara manusia, setan dan Tuhan pada saat dilakukan "pangadilan akhir" di alam akhirat kelak. Dalam dialog tersebut digambarkan seorang manusia pendosa yang mengeluh kepada Tuhan bahwa dirinya hanya mengikuti apa yang diperintahkan setan kepadanya, dan karenanya ia meminta untuk diampuni dosa-dosanya. Ia meminta agar Tuhan menjatuhkan hukumannya hanya kepada setan yang telah menipunya. Sang setan pun mengejek manusia pendosa itu dengan mengingatkan bahwa manusia telah dibekali dengan akal dan pikiran, mengapa masih bisa tertipu oleh bujuk rayu setan. Akhirnya Tuhan pun memerintahkan manusia dan setan untuk bersama-sama menjalani hukuman di neraka.
Dalam konteks Habibie dan "para penguasa global jahat yang berada di balik tirai", Habibie seperti manusia pendosa dalam ayat Al Qur'an tersebut di atas. Beliau tidak bisa lepas dari tanggungjawab atas ketidak tahuannya (kalau memang beliau tidak tahu) tentang konspirasi jahat yang telah menjerat Indonesia selama dan setelah gerakan reformasi tahun 1997-1998. Apalagi kalau ternyata beliau sebenarnya tahu adanya konspirati itu, tentu dosanya lebih besar lagi.
Sunday, 30 December 2012
Friday, 28 December 2012
PASUKAN KHUSUS ISRAEL BERADA DI SYRIA
Tentara khusus Israel telah berada di dalam Syria sejak lama demi memastikan keberadaan senjata-senjata kimia Syria dan menjadikannya target yang akan direbut. Laporan ini pertama kali muncul di situs-situs berita online Syria termasuk Syria Truth dan dikonfirmasi oleh majalah Jerman Focus yang melaporkan pasukan penyusup Israel tersebut adalah satuan elit khusus "Sayeret Matkal".
Syria Truth sebenarnya telah melaporkan bulan Juli lalu tentang keberadaan satuan elit tersebut yang memasuki Syria melalui perbatasan Turki dan melewati Aleppo dengan bantuan mantan komandan militer Syria di Aleppo yang membelot, Kolonel Abdel Jabbar Akidi. Selanjutnya suatu pertemuan terjadi di Turki antara para ahli senjata kimia Israel dan mantan komandan satuan senjata kimia Syria yang membelot ke Turki Jendral Adnan Sello.
Lebih jauh Focus melaporkan bahwa keberadaan satuan elit Israel tersebut bersamaan dengan kedatangan pasukan-pasukan khusus barat terutama Amerika dan Perancis di perbatasan Jordania-Syria.
"Pasukan khusus Perancis direncanakan akan memasuki Syria setelah kejatuhan Bashar al Assad untuk menguasai senjata-senjata kimia Syria agar tidak jatuh ke tangan pemberontak dan teroris," tulis Focus.
Syria Truth sebenarnya telah melaporkan bulan Juli lalu tentang keberadaan satuan elit tersebut yang memasuki Syria melalui perbatasan Turki dan melewati Aleppo dengan bantuan mantan komandan militer Syria di Aleppo yang membelot, Kolonel Abdel Jabbar Akidi. Selanjutnya suatu pertemuan terjadi di Turki antara para ahli senjata kimia Israel dan mantan komandan satuan senjata kimia Syria yang membelot ke Turki Jendral Adnan Sello.
Lebih jauh Focus melaporkan bahwa keberadaan satuan elit Israel tersebut bersamaan dengan kedatangan pasukan-pasukan khusus barat terutama Amerika dan Perancis di perbatasan Jordania-Syria.
"Pasukan khusus Perancis direncanakan akan memasuki Syria setelah kejatuhan Bashar al Assad untuk menguasai senjata-senjata kimia Syria agar tidak jatuh ke tangan pemberontak dan teroris," tulis Focus.
ANTARA ANWAR IBRAHIM DAN HABIBIE (3)
Pada suatu hari di awal tahun 2000 secara tidak terduga saya bertemu dan kemudian terlibat dalam pembicaraan intensif dengan legenda jazz Indonesia almarhum Bill Saragih, di lobi hotel Novotel Batam.
Sebenarnya saya janjian dengan musisi jazz senior IR untuk wawancara usai pagelaran musik Jazz yang diselenggarakan Batam Jazz Forum (BJF) di Hotel Novotel. --- BJF adalah kelompok penggemar musik jazz yang sangat dinamis dan sangat intens menggelar acara-acara apresiatif terhadap musik jazz ketika musik jazz Indonesia tengah mengalami "mati suri" kala itu. Puncaknya adalah keberhasilan mereka menggelar acara festival jazz skala internasional Batam International Jazz Festival tahun 2001---. Namun setelah beberapa lama ditunggu, yang muncul justru Bill Saragih.
"Pasti IR ngerjain Om Bill," pikir saya.
Yah, IR memang memiliki selera humor yang cukup besar. Setiap diskusi dengannya tentang musik jazz di Indonesia selalu disertai dengan canda dan lelucon. Maka ketika saya mendengar penuturannya bahwa ia adalah seorang pejabat BIN berpangkat bintang tiga, saya hanya tersenyum. Bahkan ketika ia menjanjikan untuk mengangkat karier saya di dunia jurnalisme karena kedekatannya dengan bos surat kabar saya, saya hanya tersenyum. Kelak kemudian saya baru serius menanggapi perngakuannya itu setelah karier saya naik dengan cepat. Lagipula bukankah para intel Indonesia suka membongkar identitasnya demi kebanggaan diri? Saya juga pernah berkenalan dengan seorang pejabat eselon II Pemprov Sumut yang dengan bangga mengaku sebagai intel BIN. Sebaliknya seorang teman saya sesama wartawan yang saya yakini telah menjadi intel BIN justru menutup erat-erat eksistensinya.
Kembali ke Om Bill Saragih. Setelah basa-basi berkenalan, Om Bill berubah menjadi pihak yang lebih banyak aktif berbicara dan saya hanya menjadi pendengar yang tidak perlu mengajukan pertanyaan apapun. Yah, karena memang saya tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya sehingga lupa dengan tugas jurnalisme saya.
Sebenarnya saya janjian dengan musisi jazz senior IR untuk wawancara usai pagelaran musik Jazz yang diselenggarakan Batam Jazz Forum (BJF) di Hotel Novotel. --- BJF adalah kelompok penggemar musik jazz yang sangat dinamis dan sangat intens menggelar acara-acara apresiatif terhadap musik jazz ketika musik jazz Indonesia tengah mengalami "mati suri" kala itu. Puncaknya adalah keberhasilan mereka menggelar acara festival jazz skala internasional Batam International Jazz Festival tahun 2001---. Namun setelah beberapa lama ditunggu, yang muncul justru Bill Saragih.
"Pasti IR ngerjain Om Bill," pikir saya.
Yah, IR memang memiliki selera humor yang cukup besar. Setiap diskusi dengannya tentang musik jazz di Indonesia selalu disertai dengan canda dan lelucon. Maka ketika saya mendengar penuturannya bahwa ia adalah seorang pejabat BIN berpangkat bintang tiga, saya hanya tersenyum. Bahkan ketika ia menjanjikan untuk mengangkat karier saya di dunia jurnalisme karena kedekatannya dengan bos surat kabar saya, saya hanya tersenyum. Kelak kemudian saya baru serius menanggapi perngakuannya itu setelah karier saya naik dengan cepat. Lagipula bukankah para intel Indonesia suka membongkar identitasnya demi kebanggaan diri? Saya juga pernah berkenalan dengan seorang pejabat eselon II Pemprov Sumut yang dengan bangga mengaku sebagai intel BIN. Sebaliknya seorang teman saya sesama wartawan yang saya yakini telah menjadi intel BIN justru menutup erat-erat eksistensinya.
Kembali ke Om Bill Saragih. Setelah basa-basi berkenalan, Om Bill berubah menjadi pihak yang lebih banyak aktif berbicara dan saya hanya menjadi pendengar yang tidak perlu mengajukan pertanyaan apapun. Yah, karena memang saya tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya sehingga lupa dengan tugas jurnalisme saya.
Thursday, 27 December 2012
SISTEM PERTAHANAN UDARA RUSIA SANDUNGAN INTERVENSI NATO DI SYRIA
21 bulan lebih konspirasi Amerika dan zionis internasional gagal menumbangkan regim Bashar al Assad, dan NATO masih bersabar untuk tidak melakukan intervensi langsung. Mengapa? Salah satu jawabannya adalah sistem pertahanan udara Syria yang dipasok Rusia.
Rusia diketahui telah mengirimkan sistem-sistem pertahanan udara canggih ke Syria sejak pecahnya kerusuhan bulan Maret 2011 lalu. Dan karena personil militer Syria belum memiliki keahlian untuk mengoperasikan peralatan-peralatan itu, personil militer Rusia bahkan berada di Syria untuk mengoperasikannya. Tidak heran jika seorang analis militer Syria menuduh Rusia-lah yang sebenarnya telah menembak jatuh pesawat tempur Turki yang masuk ke wilayah Syria beberapa waktu lalu.
Jatuhnya pesawat tempur Turki itu mungkin saja membawa implikasi serius bagi rencana intervensi NATO terhadap Syria sehingga sampai saat ini rencana tersebut tidak pernah direalisasikan. Padahal negara-negara sekutu Arab Amerika seperti Qatar dan Saudi begitu "ngebet" untuk dilakukannya intervensi. Baru-baru ini Amerika berada pada satu titik terdekat bagi dilakukannya serangan udara dengan mengirimkan 2 kapal induknya ke perairan Syria setelah menuduh Syria menggunakan senjata kimia. Namun kemudian kapal-kapal induk itu ditarik kembali.
Salah seorang petinggi AU Rusia Mayjend Alexander Leonov, baru-baru ini mengatakan, "Pertahanan udara Syria bukanlah omong kosong. Itulah sebabnya tidak satupun yang pernah serius untuk melakukan serangan udara terhadapnya."
Pernyataan itu juga bukan "omong kosong". Pertahanan udara Syria terdiri dari 2 divisi yang berkekuatan 50.000 personil militer atau 2 kali kekuatan udara Libya. Secara keseluruhan Syria memiliki ribuan meriam udara dan 130 battere pertahanan udara yang setiap batterenya terdiri dari selusin peluncur rudal.
Rusia diketahui telah mengirimkan sistem-sistem pertahanan udara canggih ke Syria sejak pecahnya kerusuhan bulan Maret 2011 lalu. Dan karena personil militer Syria belum memiliki keahlian untuk mengoperasikan peralatan-peralatan itu, personil militer Rusia bahkan berada di Syria untuk mengoperasikannya. Tidak heran jika seorang analis militer Syria menuduh Rusia-lah yang sebenarnya telah menembak jatuh pesawat tempur Turki yang masuk ke wilayah Syria beberapa waktu lalu.
Jatuhnya pesawat tempur Turki itu mungkin saja membawa implikasi serius bagi rencana intervensi NATO terhadap Syria sehingga sampai saat ini rencana tersebut tidak pernah direalisasikan. Padahal negara-negara sekutu Arab Amerika seperti Qatar dan Saudi begitu "ngebet" untuk dilakukannya intervensi. Baru-baru ini Amerika berada pada satu titik terdekat bagi dilakukannya serangan udara dengan mengirimkan 2 kapal induknya ke perairan Syria setelah menuduh Syria menggunakan senjata kimia. Namun kemudian kapal-kapal induk itu ditarik kembali.
Salah seorang petinggi AU Rusia Mayjend Alexander Leonov, baru-baru ini mengatakan, "Pertahanan udara Syria bukanlah omong kosong. Itulah sebabnya tidak satupun yang pernah serius untuk melakukan serangan udara terhadapnya."
Pernyataan itu juga bukan "omong kosong". Pertahanan udara Syria terdiri dari 2 divisi yang berkekuatan 50.000 personil militer atau 2 kali kekuatan udara Libya. Secara keseluruhan Syria memiliki ribuan meriam udara dan 130 battere pertahanan udara yang setiap batterenya terdiri dari selusin peluncur rudal.
PERANG DINGIN JILID II RUSIA VS AMERIKA
Jika selama era komunisme Uni Sovyet, Rusia telah terlibat perang dingin dengan Amerika, kini perang dingin serupa sepertinya kembali terjadi dengan eskalasi yang tampaknya akan semakin meningkat.
Beberapa waktu lalu Rusia telah meloloskan UU yang menganggap NGO penerima dana asing sebagai “agen asing” yang mendapat perlakuan khusus, beberapa UU yang bisa dianggap sebagai anti-Amerika, akan segera disyahkan.
Baru-baru ini parlemen Rusia, Duma, mensyahkan “Dima Yakovlev Law” yang melarang kegiatan NGO-NGO Amerika di Rusia. UU ini juga menangkal pejabat-pejabat Amerika yang dianggap telah memenjarakan atau memperlakukan warga Rusia secara tidak patut. Penangkalan juga telah diterapkan terhadap para aparat keamanan dan inteligen Amerika yang terlibat dalam penculikan warga Rusia. Yang paling menonjol dalam UU tersebut adalah pelarangan warga Amerika untuk mengadopsi anak-anak Rusia.
Nama “Dima Yakovlev” diambil dari nama seorang anak Rusia yang tewas di Amerika setelah orang tua angkatnya meninggalkannya di dalam mobil. Dima adalah satu contoh saja dari banyaknya anak-anak Rusia yang mendapat perlakukan tidak patut dari orang tua angkatnya di Amerika. Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir terdapat 19 anak-anak Rusia yang tewas akibat dibunuh secara sengaja ataupun tidak, oleh orang tua angkatnya di Amerika.
UU tersebut juga mencakup aspek ekonomi dimana Rusia mewajibkan seluruh impor daging dari Amerika harus melalui uji kesehatan terlebih dahulu dengan alasan untuk mencegah penyakit yang ditimbulkan oleh zat “additive” ractopamine. Amerika sendiri menganggap zat ractopamine sebagai aman sehingga tidak memerlukan uji kesehatan. Hal itu membuat Amerika menuduh Rusia telah melanggar peraturan WTO.
Beberapa waktu lalu Rusia telah meloloskan UU yang menganggap NGO penerima dana asing sebagai “agen asing” yang mendapat perlakuan khusus, beberapa UU yang bisa dianggap sebagai anti-Amerika, akan segera disyahkan.
Baru-baru ini parlemen Rusia, Duma, mensyahkan “Dima Yakovlev Law” yang melarang kegiatan NGO-NGO Amerika di Rusia. UU ini juga menangkal pejabat-pejabat Amerika yang dianggap telah memenjarakan atau memperlakukan warga Rusia secara tidak patut. Penangkalan juga telah diterapkan terhadap para aparat keamanan dan inteligen Amerika yang terlibat dalam penculikan warga Rusia. Yang paling menonjol dalam UU tersebut adalah pelarangan warga Amerika untuk mengadopsi anak-anak Rusia.
Nama “Dima Yakovlev” diambil dari nama seorang anak Rusia yang tewas di Amerika setelah orang tua angkatnya meninggalkannya di dalam mobil. Dima adalah satu contoh saja dari banyaknya anak-anak Rusia yang mendapat perlakukan tidak patut dari orang tua angkatnya di Amerika. Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir terdapat 19 anak-anak Rusia yang tewas akibat dibunuh secara sengaja ataupun tidak, oleh orang tua angkatnya di Amerika.
UU tersebut juga mencakup aspek ekonomi dimana Rusia mewajibkan seluruh impor daging dari Amerika harus melalui uji kesehatan terlebih dahulu dengan alasan untuk mencegah penyakit yang ditimbulkan oleh zat “additive” ractopamine. Amerika sendiri menganggap zat ractopamine sebagai aman sehingga tidak memerlukan uji kesehatan. Hal itu membuat Amerika menuduh Rusia telah melanggar peraturan WTO.
Tuesday, 25 December 2012
DJANGO YANG BUKAN LAGI DJANGO
Cukup sudah "kekonyolan" yang ditampilkan industri Hollywood yang dikuasai orang-orang yahudi. Selama ini mereka telah begitu massif "mengangkat" orang-orang kulit hitam demi memarginalkan orang-orang kulit putih, pendiri bangsa Amerika modern, agar mereka lebih leluasa menguasai Amerika juga negara-negara milik kulit putih lainnya. Namun kali ini saya tidak bisa lagi berdiam diri.
Mereka kini mengganti tokoh fiktif legendaris Django, jago tembak dalam film cowboy yang identik dengan aktor kulit putih Franco Nero, dengan aktor kulit hitam Jammie Fox. Saya tahu dan tidak peduli para yahudi Hollywood bakal mengganti tokoh-tokoh fiksi kulit putih menjadi kulit hitam: James Bond, Superman hingga Jesus Kristus. Namun tokoh Django berkulit hitam? Sangat menjengkelkan saya.
Tokoh Django yang dibintangi aktor kulit putih Franco Nero, adalah tokoh film pertama yang saya kenal. Saya masih ingat bagaimana saya dan almarhum Bapak saya dahulu sangat menyukai tokoh ini. Sepanjang ingatan saya, Django adalah film layar lebar yang pertama kali saya tonton saat saya masih balita.
Mengganti sosok Franco Nero dengan aktor kulit hitam adalah hal yang tidak terbayangkan. Namun inilah yang terjadi kini dengan munculnya film "Django Unchained" yang dirilis Hollywood menyambut liburan akhir tahun. Disutradarai oleh Quentin Tarrantino, film ini dengan sangat kurang ajar menggantikan tokoh Django yang kulit putih dengan aktor kulit hitam.
Torrentino memang dikenal sebagai penjilat pantat yahudi. Salah satu film buatannya yang menjadi kesukaan para zionis adalah film yang dibintangi aktor Bratt Pitt berjudul "Inglourious Basterd" yang secara vulgar menggambarkan balas dendam orang-orang yahudi dan cecere-cecerenya pada orang-orang Nazi Jerman dalam Perang Dunia II. Dan film "Django Unchained" adalah film jilat pantat yahudi-nya yang terbaru. Tanpa mengurangi hormat saya pada Torrentino yang telah menciptakan film-film kesukaan saya seperti "Pulp Fiction" dan "Kill Bill", harus saya katakan, "Tarrantino, you're really "jew ass sucker" bastard!".
Sebagaimana mereka mendorong arus imigrasi warga kulit hitam dan kulit berwarna ke negara-negara Eropa, Australia dan Amerika, yahudi berupaya memarginalkan orang-orang kulit putih dengan menggunakan sarana film. Setidaknya sejak tahun 1980-an kita bisa melihat jejak-jejak upaya tersebut. Awalnya mereka menjadikan aktor-aktor kulit hitam sebagai tokoh pendukung (misalnya film "Miami Vice" atau film "The A Team"). Selanjutnya mereka menjadikan aktor-aktor kulit hitam sebagai orang-orang yang cerdas (biasanya digambarkan sebagai ahli komputer) dan hebat (misalnya film "Die Hard" atau "Jurrasic Park"). Tidak berhenti sampai di situ, mereka kemudian menjadikan orang-orang kulit hitam sebagai panglima perang (Independence Day), presiden (Deep Impact) hingga Tuhan (Almighty).
Mereka kini mengganti tokoh fiktif legendaris Django, jago tembak dalam film cowboy yang identik dengan aktor kulit putih Franco Nero, dengan aktor kulit hitam Jammie Fox. Saya tahu dan tidak peduli para yahudi Hollywood bakal mengganti tokoh-tokoh fiksi kulit putih menjadi kulit hitam: James Bond, Superman hingga Jesus Kristus. Namun tokoh Django berkulit hitam? Sangat menjengkelkan saya.
Tokoh Django yang dibintangi aktor kulit putih Franco Nero, adalah tokoh film pertama yang saya kenal. Saya masih ingat bagaimana saya dan almarhum Bapak saya dahulu sangat menyukai tokoh ini. Sepanjang ingatan saya, Django adalah film layar lebar yang pertama kali saya tonton saat saya masih balita.
Mengganti sosok Franco Nero dengan aktor kulit hitam adalah hal yang tidak terbayangkan. Namun inilah yang terjadi kini dengan munculnya film "Django Unchained" yang dirilis Hollywood menyambut liburan akhir tahun. Disutradarai oleh Quentin Tarrantino, film ini dengan sangat kurang ajar menggantikan tokoh Django yang kulit putih dengan aktor kulit hitam.
Torrentino memang dikenal sebagai penjilat pantat yahudi. Salah satu film buatannya yang menjadi kesukaan para zionis adalah film yang dibintangi aktor Bratt Pitt berjudul "Inglourious Basterd" yang secara vulgar menggambarkan balas dendam orang-orang yahudi dan cecere-cecerenya pada orang-orang Nazi Jerman dalam Perang Dunia II. Dan film "Django Unchained" adalah film jilat pantat yahudi-nya yang terbaru. Tanpa mengurangi hormat saya pada Torrentino yang telah menciptakan film-film kesukaan saya seperti "Pulp Fiction" dan "Kill Bill", harus saya katakan, "Tarrantino, you're really "jew ass sucker" bastard!".
Sebagaimana mereka mendorong arus imigrasi warga kulit hitam dan kulit berwarna ke negara-negara Eropa, Australia dan Amerika, yahudi berupaya memarginalkan orang-orang kulit putih dengan menggunakan sarana film. Setidaknya sejak tahun 1980-an kita bisa melihat jejak-jejak upaya tersebut. Awalnya mereka menjadikan aktor-aktor kulit hitam sebagai tokoh pendukung (misalnya film "Miami Vice" atau film "The A Team"). Selanjutnya mereka menjadikan aktor-aktor kulit hitam sebagai orang-orang yang cerdas (biasanya digambarkan sebagai ahli komputer) dan hebat (misalnya film "Die Hard" atau "Jurrasic Park"). Tidak berhenti sampai di situ, mereka kemudian menjadikan orang-orang kulit hitam sebagai panglima perang (Independence Day), presiden (Deep Impact) hingga Tuhan (Almighty).
MOSSAD PELAKU PEMBANTAIAN SANDY HOOK?
Siapa yang paling ahli dalam membunuhi anak-anak, selain Israel? Tentu saja tidak ada. Dan siapa yang bertanggungjawab dalam pembunuhan anak-anak sekolah di Sandy Hook, Connecticut baru-baru ini? Israel? Sangat mungkin.
Pemilihan lokasi pembantaian itu sendiri sangat mengundang perhatian seolah sengaja memberikan tanda tertentu tentang maksud dari pembantaian itu. “Sandy” berarti penjaga manusia atau senjata, dan “hook” bisa berarti merampas atau mengumpulkan. “Sandy hook” berarti merampas senjata.
Jika dikaitkan dengan konteks saat ini, dimana isu kepemilikan senjata telah menjadi perhatian publik selama bertahun-tahun, maka “sandy hook” berarti operasi untuk merampas senjata-senjata api yang saat ini banyak dimiliki oleh sebagian masyarakat Amerika. Harap dicatat bahwa kepemilikan senjata api merupakan sesuatu hal yang dilindungi oleh konstitusi Amerika.
Pembantaian Sandy Hook, sebagaimana pembantaian-pembantaian massal sebelumnya di Amerika, adalah suatu operasi rahasia yang ditujukan untuk menciptakan ketakutan massal bagi masyarakat Amerika terhadap kepemilikan senjata api. Ujung-ujungnya adalah dilakukannya amandemen konstitusi bagi larangan kepemilikan senjata api.
Sebuah sub-komite Senat baru saja mengeluarkan laporan berdasarkan laporan-laporan dari berbagai lembaga keamanan dalam negeri selama tahun 2009 – 2011. Hasilnya adalah sama sekali tidak ada ancaman teroris dari dalam negeri. Namun pada saat yang sama Department of Homeland Security (lembaga non-konstitusi setingkat menteri yang dibentuk setelah Serangan WTC 2001. Kini dipimpin seorang lesbian berdarah yahudi bernama Elena Kagan) menumpuk sejumlah besar senjata api, termasuk 1,5 miliar renteng peluru kaliber 40 mm dan amunisi “hollow-point” yang dilarang Konvensi Geneva. FEMA (lembaga federal yang menangani bencana nasional) diam-diam juga telah membangun ratusan kamp pengungsi rahasia dan menumpuk jutaan peti mati.
Pemilihan lokasi pembantaian itu sendiri sangat mengundang perhatian seolah sengaja memberikan tanda tertentu tentang maksud dari pembantaian itu. “Sandy” berarti penjaga manusia atau senjata, dan “hook” bisa berarti merampas atau mengumpulkan. “Sandy hook” berarti merampas senjata.
Jika dikaitkan dengan konteks saat ini, dimana isu kepemilikan senjata telah menjadi perhatian publik selama bertahun-tahun, maka “sandy hook” berarti operasi untuk merampas senjata-senjata api yang saat ini banyak dimiliki oleh sebagian masyarakat Amerika. Harap dicatat bahwa kepemilikan senjata api merupakan sesuatu hal yang dilindungi oleh konstitusi Amerika.
Pembantaian Sandy Hook, sebagaimana pembantaian-pembantaian massal sebelumnya di Amerika, adalah suatu operasi rahasia yang ditujukan untuk menciptakan ketakutan massal bagi masyarakat Amerika terhadap kepemilikan senjata api. Ujung-ujungnya adalah dilakukannya amandemen konstitusi bagi larangan kepemilikan senjata api.
Sebuah sub-komite Senat baru saja mengeluarkan laporan berdasarkan laporan-laporan dari berbagai lembaga keamanan dalam negeri selama tahun 2009 – 2011. Hasilnya adalah sama sekali tidak ada ancaman teroris dari dalam negeri. Namun pada saat yang sama Department of Homeland Security (lembaga non-konstitusi setingkat menteri yang dibentuk setelah Serangan WTC 2001. Kini dipimpin seorang lesbian berdarah yahudi bernama Elena Kagan) menumpuk sejumlah besar senjata api, termasuk 1,5 miliar renteng peluru kaliber 40 mm dan amunisi “hollow-point” yang dilarang Konvensi Geneva. FEMA (lembaga federal yang menangani bencana nasional) diam-diam juga telah membangun ratusan kamp pengungsi rahasia dan menumpuk jutaan peti mati.
AKSI-AKSI DEMO MELANDA TURKI TERKAIT SYRIA
Regim PM Recep Erdogan mulai menuai hasil dari kebijakan politik luar negerinya. Ratusan demonstran berbaris menuju kantor Recep Erdogan di Ankara, Jum’at (21/12), memprotes tindakan keras aparat kepolisian terhadap demonstrasi mahasiswa yang menyebabkan beberapa mahasiswa mengalami luka-luka dan sebagian lainnya menjalani tahanan.
Ratusan demonstran meneriakkan kecaman kepada Erdogan sambil membentangkan spanduk tuntutan pembebasan demonstran yang ditahan paska terlibat bentrok dengan aparat keamanan di Middle East Technical University (METU), Selasa (18/12). Bentrokan terjadi saat para mahasiswa memprotes kedatangan Erdogan yang datang untuk menyaksikan siaran peluncuran satelit Turki oleh roket milik China. Para mahasiswa menentang kebijakan luar negeri Turki, di antaranya soal campur tangan Turki di Syria serta penggelaran rudal Patriot di perbatasan Syria.
Polisi menembakkan gas air mata dan meriam air untuk mengusir mahasiswa. Sekitar 50 mahasiswa mengalami luka-luka dalam bentrokan tersebut dan 12 lainnya ditangkap polisi dan menjalani penahanan. Seorang mahasiswa, Baris Barisik, mengalami gagar otak setelah tertimpa bom gas air mata.
Aksi keras polisi tersebut memicu kemarahan di kalangan akademisi dan kubu oposisi. Mereka menuduh pemerintahan partai AKP yang dipimpin Erdogan telah berubah menjadi pemerintahan otoriter.
Sekelompok akademisi METU melakukan mogok belajar-mengajar pada hari Kamis (20/12) untuk memprotes aksi kekerasan polisi. Aksi aparat keamanan juga mendapat kecaman media massa Turki dan juga para aktifis HAM.
Ratusan demonstran meneriakkan kecaman kepada Erdogan sambil membentangkan spanduk tuntutan pembebasan demonstran yang ditahan paska terlibat bentrok dengan aparat keamanan di Middle East Technical University (METU), Selasa (18/12). Bentrokan terjadi saat para mahasiswa memprotes kedatangan Erdogan yang datang untuk menyaksikan siaran peluncuran satelit Turki oleh roket milik China. Para mahasiswa menentang kebijakan luar negeri Turki, di antaranya soal campur tangan Turki di Syria serta penggelaran rudal Patriot di perbatasan Syria.
Polisi menembakkan gas air mata dan meriam air untuk mengusir mahasiswa. Sekitar 50 mahasiswa mengalami luka-luka dalam bentrokan tersebut dan 12 lainnya ditangkap polisi dan menjalani penahanan. Seorang mahasiswa, Baris Barisik, mengalami gagar otak setelah tertimpa bom gas air mata.
Aksi keras polisi tersebut memicu kemarahan di kalangan akademisi dan kubu oposisi. Mereka menuduh pemerintahan partai AKP yang dipimpin Erdogan telah berubah menjadi pemerintahan otoriter.
Sekelompok akademisi METU melakukan mogok belajar-mengajar pada hari Kamis (20/12) untuk memprotes aksi kekerasan polisi. Aksi aparat keamanan juga mendapat kecaman media massa Turki dan juga para aktifis HAM.
Saturday, 22 December 2012
ANTARA ANWAR IBRAHIM DAN HABIBIE (2)
Ketika Habibie bertemu dengan putri sulung Anwar Ibrahim, Nurul Izzah, di sela-sela pertemuan Habibie dan Presiden Estrada dari Filipina, akhir tahun 1998 di hotel Melia Panorama Batam (hotel milik keluarga Habibie), saya hanya berjarak beberapa puluh meter dari mereka, tengah menjalankan tugas jurnalisme di kawasan Jodoh, Batam. Saya baru mendapat kesempatan bertemu Habibie kala mengikuti pertemuan beliau dengan PM Malaysia Mahathir Mohammad di Nongsa Point Marina & Resort, tahun 1999.
Pertemuan di Hotel Melia Panorama, sebagaimana pertemuan Habibie dan Anwar Ibrahim di Kuala Lumpur dan Jakarta (kunjungan balasan dalam pemutaran perdana film Habibie & Ainun) baru-baru ini, merupakan rangkaian dari kedekatan keduanya yang terpupuk oleh satu kepentingan politik bersama.
Mengenal lebih dekat Anwar Ibrahim, bau zionisme sangat kuat melekat pada dirinya. Betapa tidak, beliau memiliki hubungan yang cukup dekat dengan banyak figur fundamentalis zionis seperti William Cohen (mantan menhan era presiden Bill Clinton), Paul Wolfowitz (mantan Presiden Bank Dunia, wakil menhan era presiden George W. Bush Jr, dubes Amerika untuk Indonesia, arsitek utama Perang Irak dan Afghanistan), Medeline Albright (mantan menlu era Presiden Bill Clinton), Michel Camdesus (mantan Managing Director IMF), dan James Wolfensohn (mantan Presiden Bank Dunia).
Selama krisis moneter Negara-negara Asia Timur tahun 1997, Anwar yang kala itu menjabat sebagai wakil perdana menteri merangkap menteri keuangan, mengadakan pertemuan-pertemuan intensif dengan Michel Camdesus. Hubungan dekat keduanya tampak dari cara pertemuan mereka yang selalu diawali dan diakhiri dengan jabat tangan dan pelukan hangat. Perdana menteri Mahathir Mohamad yang mengetahui plot zionis internasional sebagai penyebab krisis moneter, melihat Anwar telah berkhianat untuk memuluskan agenda zionisme melalui IMF, yaitu menguasai sumber-sumber ekonomi Malaysia dengan cara licik. Maka dengan tegas Mahathir pun memecat Anwar dan kemudian memenjarakannya dengan perkara pidana. Langkah ini diikuti Mahathir dengan menolak uluran tangan IMF dan menetapkan kurs mata uang tetap (fixed rate) terhadap dollar. Langkah ini jitu meredam krisis dan Malaysia berhasil selamat dari krisis, bahkan kemudian berhasil bangkit menjadi negara yang jauh lebih maju secara ekonomi.
Pertemuan di Hotel Melia Panorama, sebagaimana pertemuan Habibie dan Anwar Ibrahim di Kuala Lumpur dan Jakarta (kunjungan balasan dalam pemutaran perdana film Habibie & Ainun) baru-baru ini, merupakan rangkaian dari kedekatan keduanya yang terpupuk oleh satu kepentingan politik bersama.
Mengenal lebih dekat Anwar Ibrahim, bau zionisme sangat kuat melekat pada dirinya. Betapa tidak, beliau memiliki hubungan yang cukup dekat dengan banyak figur fundamentalis zionis seperti William Cohen (mantan menhan era presiden Bill Clinton), Paul Wolfowitz (mantan Presiden Bank Dunia, wakil menhan era presiden George W. Bush Jr, dubes Amerika untuk Indonesia, arsitek utama Perang Irak dan Afghanistan), Medeline Albright (mantan menlu era Presiden Bill Clinton), Michel Camdesus (mantan Managing Director IMF), dan James Wolfensohn (mantan Presiden Bank Dunia).
Selama krisis moneter Negara-negara Asia Timur tahun 1997, Anwar yang kala itu menjabat sebagai wakil perdana menteri merangkap menteri keuangan, mengadakan pertemuan-pertemuan intensif dengan Michel Camdesus. Hubungan dekat keduanya tampak dari cara pertemuan mereka yang selalu diawali dan diakhiri dengan jabat tangan dan pelukan hangat. Perdana menteri Mahathir Mohamad yang mengetahui plot zionis internasional sebagai penyebab krisis moneter, melihat Anwar telah berkhianat untuk memuluskan agenda zionisme melalui IMF, yaitu menguasai sumber-sumber ekonomi Malaysia dengan cara licik. Maka dengan tegas Mahathir pun memecat Anwar dan kemudian memenjarakannya dengan perkara pidana. Langkah ini diikuti Mahathir dengan menolak uluran tangan IMF dan menetapkan kurs mata uang tetap (fixed rate) terhadap dollar. Langkah ini jitu meredam krisis dan Malaysia berhasil selamat dari krisis, bahkan kemudian berhasil bangkit menjadi negara yang jauh lebih maju secara ekonomi.
“PERANG PEMBEBASAN DAMASKUS II” YANG KEMBALI GAGAL
Pertengahan tahun ini, beberapa bulan yang lalu, para pemberontak Syria gagal mewujudkan apa yang mereka sebut sebagai perang “Pembebasan Damaskus”. Kini pun upaya yang sama telah dilakukan pemberontak, dan kembali mengalami kegagalan.
Sejak bulan November lalu pemberontak kembali melakukan ofensif besar-besaran di berbagai provinsi di Syria dengan sasaran utama ibukota Damaskus. Namun mereka kembali gagal mewujudkan ambisinya menduduki Damaskus dan menjatuhkan pemerintahan Bashar al Assad, meski dukungan tanpa batas telah diberikan oleh negara-negara barat, Turki dan negara-negara Arab teluk. Media-media barat dan Arab pun tanpa henti menggembar-gemborkan kemenangan pemberontak dan kejatuhan Bashar al Assad yang sudah di ujung tanduk. Media-media barat tanpa kekritisan sedikit pun menelan mentah-mentah semua informasi dari LSM bantukan inteligen barat yang berbasis di London, Syrian Observatory for Human Rights (SOHR). Informasi sampah yang dikeluarkan lembaga yang dijalankan seorang pedagang pakaian itu dipublikasikan selayaknya fakta aktual. Dan sebagaimana media-media barat dan Arab, SOHR pun menyuarakan kejatuhan Damaskus yang sudah dekat.
Koran Mesir “Al Ahram” bahkan mengklaim bahwa, “penduduk ibukota Syria Damaskus mendapatkan serangan brutal dari pasukan militer yang berada di luar kota serta dari kawasan Gunung Qasiun yang berada di atas ibukota.”
Klaim seperti itu hendak mengesankan bahwa para pemberontak telah menguasai sebagian kota Damaskus hingga kota itu harus mendapatkan serangan oleh militer Syria dari luar kota. Media-media massa juga menjadi mesin propaganda massif bagi para pemberontak.
Sejak bulan November lalu pemberontak kembali melakukan ofensif besar-besaran di berbagai provinsi di Syria dengan sasaran utama ibukota Damaskus. Namun mereka kembali gagal mewujudkan ambisinya menduduki Damaskus dan menjatuhkan pemerintahan Bashar al Assad, meski dukungan tanpa batas telah diberikan oleh negara-negara barat, Turki dan negara-negara Arab teluk. Media-media barat dan Arab pun tanpa henti menggembar-gemborkan kemenangan pemberontak dan kejatuhan Bashar al Assad yang sudah di ujung tanduk. Media-media barat tanpa kekritisan sedikit pun menelan mentah-mentah semua informasi dari LSM bantukan inteligen barat yang berbasis di London, Syrian Observatory for Human Rights (SOHR). Informasi sampah yang dikeluarkan lembaga yang dijalankan seorang pedagang pakaian itu dipublikasikan selayaknya fakta aktual. Dan sebagaimana media-media barat dan Arab, SOHR pun menyuarakan kejatuhan Damaskus yang sudah dekat.
Koran Mesir “Al Ahram” bahkan mengklaim bahwa, “penduduk ibukota Syria Damaskus mendapatkan serangan brutal dari pasukan militer yang berada di luar kota serta dari kawasan Gunung Qasiun yang berada di atas ibukota.”
Klaim seperti itu hendak mengesankan bahwa para pemberontak telah menguasai sebagian kota Damaskus hingga kota itu harus mendapatkan serangan oleh militer Syria dari luar kota. Media-media massa juga menjadi mesin propaganda massif bagi para pemberontak.
Subscribe to:
Posts (Atom)









