Wednesday, 31 May 2017

Kecebong Kejeblos Lagi


KOMPAS TV... Halooowww :D
KECEBONG, SALAH Lagi... maksudnya mau menjadikan MASKOT anak itu, untuk Menggantikan si DESI (Denny Siregar) yang mulai SURAM, Tapi sayangnya Tidak Sesuai Harapanmu lagi yah Bong :D :D :D

Karena Tukang COPAS, itu banyak termasuk kalian juga tukang COPAS, nah anak ini termasuk Tukang COPAS yang TIDAK SANTUN, krn Tidak Menaruh Nama dari SIAPA dia COPAS Tulisan itu pada Status FB nya, jadi IJIN pun tidak...

Kontrak Politik Radikal FPI dengan Anies-Sandi*

Oleh : Hersubeno Arief (Konsultan Media dan Politik)

Indonesian Free Press -- Front Pembela Islam (FPI) kembali bikin heboh. Selain kasus hukum yang tengah membelit Imam Besar Habib Rizieq Shihab, yang tengah ramai mendapat sorotan adanya tuduhan anggota FPI mengintimidasi seorang dokter wanita di Solok, Sumatera Barat.
*Benarkah FPI kelompok radikal, garis keras yang kerjanya hanya bikin rusuh dan onar?*
Keberadaan kelompok-kelompok semacam FPI inilah yang ditengarai menjadikan media asing terutama negara-negara Barat menilai kemenangan Anies-Sandi pada Pilkada DKI sebagai kemenangan “kelompok radikal”. Kemenangan “kelompok intoleran.”
Maklumlah bila kita bicara FPI yang terbayang adalah sekelompok orang berseragam putih, sebagian memakai gamis dan bersorban, sedang menghancurkan beberapa lokasi hiburan malam di beberapa kota, terutama kota besar seperti Jakarta.

Tangan-Tangan Setan Masih Mencengkram Iran (4)

Indonesian Free Press -- Pada bulan September 2013, Menlu Iran Javad Zarif membuat kicaun di Tweeter, "Happy Rosh Hashanah", merujuk pada Tahun Baru Yahudi.

Hal itu memancing respons luas di antara pengikutnya, di antaranya Christine Pelosi, putri dari politisi senior Amerika yang dikenal sebagai pendukung berat zionis, Nancy Pelosi. Christine membalas kicauan Zarif: "Terima kasih. Namun tahun baru akan semakin manis bila Anda mengakhiri penolakan terhadap holocaust, Tuan."

Tanpa diduga Christine Pelosi, ia mendapat respons dari Zarif: "Iran tidak pernah menolak holocoust."

Lebih mengejutkan lagi Zarif menyindir Ahmadinejad, mantan Presiden Iran dari kubu konservatif yang dikenal sebagai penolak mitos holocoust.

Monday, 29 May 2017

Tangan-Tangan Setan Masih Mencengkeram Iran (3)

Indonesian Free Press -- Pada suatu hari setelah berakhirnya suatu peperangan, Rosulullah mendapatkan seseorang yang pernah berjasa kepadanya namun berperang di pihak musuh, tertawan. Demi dilihatnya orang itu, maka Rosul memerintahkan agar orang itu dibebaskan, sementara tawanan-tawanan lainnya ditawan dan dihukum mati.

Nasib berkebalikan dialami oleh Houshang Asadi, jurnalis dan anggota partai komunis Iran. Menjalin persahabatan dengan Ali Khamenei selama dipenjara bersama tahun 1974 di penjara Moshtarek, setelah Khamenei terpilih menjadi Presiden Iran tahun 1981, Khamenei justru memerintahkan Asadi ditahan lagi di penjara Moshtarek dan selama enam tahun menjalani penyiksaan secara sistematis.

BPK Diduga Bakal Melawan Balik Bongkar Kasus-Kasus Besar KPK

Indonesian Free Press -- Aksi KPK melakukan OTT terhadap auditor BPK menimbulkan sejumlah besar pertanyaan. Benarkan itu murni tindakan anti-korupsi, atau aksi untuk tawar-menawar kepada BPK untuk tidak mendiskreditkan KPK berkaitan dengan kinerja keungan KPK yang diduga bobrok.

Sejumlah pengamat menilai aksi KPK tersebut berkaitan dengan rencana BPK untuk merilis laporan keuangan KPK yang amburadul dan diduga kuat terjadi penyalahgunaan anggaran negara oleh institusi super-body itu. Ini belum termasuk sejumlah kasus korupsi besar yang tidak dituntaskan KPK, seperti korupsi pembelian lahan RS Sumber Waras oleh terpidana penistaan agama Basuki Cahaya Purnama (Ahok). Sebagaimana diketahui, dalam kasus ini BPK telah merekomendasikan adanya tindakan korupsi oleh Ahok. Namun hal itu diabaikan oleh KPK.

PROXY WAR DAN NEO IMPERIALISME!

Indonesian Free Press -- Dalam beberapa kesempatan, Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo mengingatkan Indonesia saat ini tengah menghadapi bahaya proxy war atau perang asimetris. Proxy war terjadi di Indonesia melaui beberapa cara, di antaranya narkoba, konflik antar kelompok, maupun terorisme. Panglima TNI mengingatkan tentang Proxy War sebagai ancaman nyata bagi Indonesia. Jenderal Gatot Nurmantyo mengingatkan ancaman Proxy War yang menyerbu seluruh lini kehidupan bernegara, berbangsa, bahkan sudah hadir di tengah kehidupan keluarga kita.

Ancaman itu, menurut Panglima seperti demo anarkis buruh, tawuran pelajar dan mahasiswa, adu domba TNI-Polri, upaya memecahbelah parpol, rekayasa sosial dengan memanfaatkan media dan maraknya penyalahgunaan narkoba. Panglima mengingatkan semua itu sudah didesain dan dikendalikan dari luar oleh tangan-tangan yang tidak kelihatan dengan memanfaatkan orang dalam. Sehingga tidak disadari, bahwa bangsa ini sedang menuju kehancuran.

Friday, 26 May 2017

Menko Maritim Minta Maaf setelah Berbohong

Indonesian Free Press -- Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan meminta maaf kepada masyarakat setelah berbohong perihal kematian bapaknya yang diklaimnya telah dibunuh oleh PKI.

"Almarhum ayah saya adalah seorang sopir bus Sibualbuali di Sumatera Utara. Beliau kemudian bekerja keras sehingga menjadi pegawai Caltex dan dikirim kuliah ke Cornell University, Amerika Serikat. Meninggalnya almarhum ayah saya tidak ada kaitannya dengan PKI," kata Luhut dalam hak jawab yang disampaikan kepada VIVA.co.id, Kamis (25 Mei).

Saat Ini, 80 Persen Ekonomi Nasional Dikuasai China

Indonesian Free Press -- Mantan Anggota Komisi III DPR, Djoko Edhi, menilai bahwa era reformasi saat ini lebih berbahaya dibandingkan dengan zaman Orde Baru (Orba). Kata Edhi, hal itu disebabkan karena saat ini etnis China ingin menguasai politik dan ekonomi Indonesia.

"Di Orde Baru itu terkendali dan dibatasi China tidak boleh masuk politik, militer dan birokrat," ujar Edhi kepada Jitunews.com, di Kompleks Senayan, Jakarta, Selasa (23/5).
 Politisi PAN ini juga memaparkan bahwa 80 persen ekonomi nasional Indonesia justru dikuasai China. Dan mirisnya, ungkap Edhi, umat Islam serta masyarakat asli Indonesia yang menjadi mayoritas tidak menikmatinya. Hal itu disebabkan, kaum mayoritas tidak pernah dapat bersatu.