Monday 13 July 2009

Rahasia di Balik Kematian Michael Jakson


Meski diabaikan oleh media massa, fakta bahwa Michael Jackson terlibat dalam masalah anti-semitisme tidak dapat disembunyikan. Simak saja lagu They Dont't Care About Us yang ditembangkannya tahun 1995. Dengan gamblang Michael menunjukkan kebenciannya terhadap yahudi: “Beat me / hate me /You can never break me /Will me / thrill me / you can never kill me / Jew me, sue me / Everybody do me / Kick me, kike me / Don’t you black or white me.”

Dalam lirik lagu di atas tampak jelas kata jew dan kike yang tidak lain adalah yahudi. Bahkan kata kike merupakan istilah yang mengandung konotasi negatif: yahudi hitam jelek.

Dalam sebuah acara Good Morning America yang disiarkan stasiun televisi ABC tgl 22 November 2005 disiarkan isi rekaman suara Michael Jackson yang tengah mengeluh tentang perlakuan orang-orang yahudi terhadapnya yang disampaikannya kepada mantan manajernya, Marc Schaffel. " Mereka menghisap saya seperti lintah. Saya sangat lelah menghadapinya. Saya adalah orang paling populer di dunia, menghasilkan banyak uang, mobil mewah, dan segalanya, dan berakhir sebagai oran yang tidak punya apapun. Ini semua adalah konspirasi. Semuanya ini dilakukan oleh orang-orang yahudi."

Tidak lama kemudian direktur ADL, LSM yahudi paling berpengaruh dalam mengendalikan kehidupan sosial politik di Amerika memberikan responnya. "Michael Jackson memiliki sentimen kuat anti yahudi. Dan sepertinya hal ini menjadi masalah setiap waktu dalam hidupnya. Ia selalu menyalahkan yahudi. Adalah menyedihkan bahwa Michael Jackson terinfeksi oleh pandangan-pandangan lama yang negatif tentang yahudi sebagai penguasa segalanya, pencuri uang dan manipulatif."

ADL bahkan secara resmi telah menyatakan Michael Jackson sebagai anti-semit. Dan karena tekanan-tekanan yang dialami Michael Jackson maka saudaranya, Jeremy Jackson mengajak Michael untuk bergabung dengan organisasi Nation of Islam sekaligus pindah agama ke Islam. Pada tgl 18 Desember 2003 New York Post melaporkan bahwa Michael Jackson telah resmi bergabung dengan Nation of Islam, organisasi orang-orang Islam kulit hitam Amerika. Selanjutnya pada tgl 24 Februari 2007, San Francisco Chronicle melaporkan, "Raja Pop Michael Jackson telah memberikan konfirmasi tentang kepindahan agamanya ke Islam, demikian beberapa laporan dari Timur Tengah. Koran Arab-Israeli Panorama mengklaim Jackson telah mengumumkan kepindahan agama tersebut dan dan rencananya untuk tinggal di Bahrain.”

Mantan pembantu rumah tangga Jackson, Grace Rwaramba mengungkapkan bahwa kepindahan Michael Jackson tersebut disebabkan ia terlalu sering diganggu oleh orang-orang di sekelilingnya. Selain konspirasi yahudi yang telah menggerogoti keuangannya untuk mengatasi berbagai tuduhan pedhofilia serta perkara kontraknya dengan Sony Music, orang-orang dekatnya sendiri sering memanfaatkannya, termasuk orang-orang dari Nation of Islam. Ia mencontohkan orang-orang Nation of Islam telah menyewa property mahal dan membebankannya kepada Michael. Mereka juga mengeruk keuntungan sendiri dari sebuah panampilan Michael di Jepang.

Figur paling menyolok dari Nation of Islam yang terlibat dalam memanfaatkan Michael adalah Leonard Muhammad, anak menantu dari Louis Farrakhan, sang pemimpin tertinggi Nation of Islam.

Roger Friedman dari Fox News dalam laporannya tgl 14 Januari 2004 mengatakan, “Kepala staff Nation of Islam, Leonard Muhammad saat ini telah menjalankan manajemen Michael Jackson. Ia duduk di kursi utama dalam pertemuan yang dihadiri para pengacara dan akuntan Michael Jackson."

Dengan Leonard sebagai manajer, Friedman menyatakan Nation of Islam telah mempengaruhi kehidupan pribadi Michael, termasuk anak-anak Michael yang akhirnya menimbulkan perselisihan dengan ibu anak-anak Michael, Debbie Rowe, yang menurut Friedman adalah seorang wanita yahudi yang dengan demkian anak-anak Michael menurut budaya yahudi otomatis dianggap sebagai orang yahudi.

Individu lain yang terlibat dalam kehidupan Michael adalah Dr. Tohme R. Tohme yang menjadi juru bicara resmi Michael. Ia adalah pebisnis asal Lebanon yang mengaku memiliki jaringan bisnis besar di Senegal. Padahal kenyataannya, menurut Friedman, Dr. Tohme tidak memiliki sertifikat dokter dan pemerintah Senegal juga membantah keberadaan bisnisnya di Senegal.

Tohme dan mitra bisnisnya, James Weller yang juga orang berpengaruh di Nation of Islam pernah mengeluarkan ancaman terhadap dua orang kreditor Michael yang bermaksud menjual memoribilia Michael. Sebaliknya kedua kreditor tersebut kemudian menuntut Michael Jackson.

Orang lain yang dekat dengan Michael, bahkan menjadi orang terakhir berada di dekat Michael saat sakratul maut, adalah Dr Conrad Murray. Ia adalah dokter pribadi Michael yang tinggal satu rumah dengannya. Ia orang yang dinyatakan menangani Michael saat menderita gagal jantung di rumahnya, beberapa saat sebelum dinyatakan meninggal. Ternyata ia juga dokter palsu yang tidak mempunyai sertifikat sebagai tenaga medis ataupun kardiologi. Pada tahun 1992 ia adalah pebisnis yang bangkrut.

Dengan kondisi fisik Michael yang tidak memungkinkan, Dr Tohme telah bersekongkol dengan AEG Live untuk mengadakan konser keliling dunia di 50 tempat. Bos AEG Live adalah Phillip Anschutz, seorang yahudi yang pernah dijuluki majalah Fortune sebagai eksekutif paling rakus di Amerika tahun 2002.

Setelah kontrak ditandatangani AEG membayar $10 juta untuk manajemen Michael. AEG juga menunjuk Conrad Murray sebagai dokter pribadi Michael. Alih-alih membaik, Michael justru semakin menderita akibat dicekoki dengan berbagai obat seperti Demerol, Dilaudid, Vicodin, Soma, Xanax, Zoloft, Paxil dan Prilosec. Pada titik ini Michael terjatuh dalam jeratan konspirasi jahat sebagaimana Elvis Presley yang juga meninggal karena obat-obatan.

No comments:

Post a Comment