Tuesday 1 June 2010

Hormat untuk Rakyat Gaza


Mairead Maguire, Peraih Nobel Perdamaian

Pengantar blogger:

Setelah kegagalan Israel menduduki Gaza dengan meninggalkan Gaza yang hancur lebur, negara-negara di dunia yang diprakarsai oleh PBB, Uni Eropa dan Amerika berkomitmen untuk membantu pembangunan kembali Gaza dengan dana bantuan senilai $4 miliar. Dan hallo, hingga kini satu senpun tidak pernah diterima rakyat Palestina di Gaza. Negara-negara itu, yang mulutnya berbuih tentang "Millenium Development Goal", "Fight Hunger Programme", "Pembangunan", "HAM", "Peduli Lingkungan" dan "Demokrasi" dan "dubya!", diam seribu bahasa saat rakyat Gaza dibantai di depan mata di siang bolong.

Namun di antara miliaran penduduk dunia yang lebih peduli dengan Piala Dunia, Britney Spears, dan American Idols, masih terdapat segelintir orang yang peduli terhadap penderitaan rakyat Gaza. Saat ini mereka tengah berlayar dari Turki menuju Gaza, menembus blokade laut Israel dengan resiko kehilangan nyawa, demi membantu rakyat Palestina di Gaza. Tulisan ini saya dedikasikan bagi gerakan pembebasan Gaza dan bagi seluruh rakyat Palestina
.


--------------------

Saya tidak pernah berhenti untuk mengagumi semangat hidup manusia. Selama kunjungan terakhir saya di Gaza bulan Oktober 2008, saya begitu kagum dan terinspirasi oleh kekuatan orang-orang yang saya saksikan. Dengan keteguhan harapan atas penderitaan, cinta tetap bertahan hidup.

Gaza merupakan negeri kecil sepanjang 27 mil dan lebar 6 mil. Negeri ini dibatasi oleh Israel, Laut Tengah dan Mesir di bagian selatan. Dihuni oleh sekitar 1,5 juta orang, Gaza merupakan salah satu kawasan terpadat di dunia dengan 50% di antara penduduknya berusia di bawah 18 tahun. Dua pertiga penduduk Gaza berstatus pengungsi yang menjadi korban tindakan agresi Israel.

Rakyat Gaza telah mengalami penderitaan selama 40 tahun pendudukan Israel, dan meski Israel menarik diri dari Gaza tahun 2005, Israel masih tetap mengontrol segala aspek kehidupan rakyat Gaza. Hamas secara demokratis terpilih sebagai pemerintah Palestina sejak tahun 2006 dan telah menguasai Gaza sejak tahun 2007. Sejak saat itu pula Israel menerapkan blokade total terhadap Gaza. Secara mendasar blokade tersebut merupakan sebuah tindakan keji oleh Israel. Hanya sejumlah kecil barang-barang kebutuhan dasar dibolehkan Israel masuk ke Gaza, hanya untuk membuat rakyat Gaza sekedar bisa bertahan hidup tanpa kecukupan nutrisi. Ini masih ditambah dengan pembatasan/pelarangan atas kebutuhan hidup mendasar lainnya seperti kesehatan dan kebutuhan material pembangunan fisik.

Tindakan Israel ini merupakan aksi "Collective Punishment (penghukuman massal)” terhadap umat manusia yang merupakan tindakan ilegal berdasar Article 33 Konvensi Jenewa. Namun "budaya kekebalan hukum" yang senantiasa diterima Israel membuat Israel terus-terus melakukan kejahatan ini di bawah tatapan mata para pemimpin dunia yang diam membisu.

Menurut seorang profesor Israel, Israel telah merubah Gaza menjadi penjara terbuka terbesar di bumi. Dibatasi oleh daratan, lautan dan udara, satu setengah juta rakyat Gaza hidup terpenjara, enam pintu perbatasan yang menghubungkan dengan dunia luar telah ditutup, termasuk di Rafah di Mesir. Lapangan udara telah dihancurkan, dan pelabuhan-pelabuhan telah diblokade oleh kapal-kapal perang. (Bahkan Israel menembaki mati semua binatang di satu-satunya kebun binatang dan satu tempat hiburan favorit di Gaza selama aksi penyerbuan awal tahun 2009, blogger).

Rakyat Gaza dipaksa oleh Israel untuk menjalani kehidupan yang penuh penderitaan. Blokade tersebut telah mempengaruhi segala aspek kemanusiaan yang bisa dibayangkan baik fisik maupun mental. Kematian karena kurangnya pelayanan kesehatan yang tersedia terus saja terjadi. Semangat dan kecerdasan anak-anak Palestina dihancurkan oleh ketiadaan sarana belajar (Palestina adalah salah satu negara dengan rasio doktor/PhD tertinggi di dunia, blogger). Bea siswa yang disediakan universitas-universitas mancanegara tidak bisa didapatkan karena mereka tidak bisa meninggalkan tempat akibat blokade.

Tindakan Israel yang memecah belah, memblokade dan menguasai Palestina menghancurkan kehidupan keluarga rakyat Palestina. Rakyat Palestina di Gaza tidak bisa lagi mengunjungi keluarga dan kerabatnya di Tepi Barat. Istri dipisahkan dari suami dan anak-anak dipisahkan dari orang tua. Di seluruh wilayah pendudukan Israel di Palestina terdapat banyak cerita yang seragam mengenai penindasan kemanusiaan. Rakyat Palestina di Tepi Barat senantiasa terganggu oleh para pendatang ilegal yahudi serta adanya pembangunan pemukiman-pemukiman ilegal yahudi yang merampas wilayah Palestina. Tidak terhitung jumlah rakyat Palestina yang rumahnya hancur karena serbuan Israel, kini tinggal di puing-puing bangunan, kemah-kemah terbuka, atau menumpang di rumah kerabatnya. Setiap hari terdapat rakyat Palestina di Jerussalem Timur diusir dari tempat tinggalnya sendiri oleh Israel.

Namun penderitaan paling menyedihkan adalah yang dialami anak-anak Gaza. Selama kunjungan saya ke Gaza bulan Oktober 2008 saya mengunjungi daerah bernama Khankhounis. Dalam kunjungan-kunjungan saya di daerah-daerah konflik selama bertahun-tahun saya tidak pernah menyaksikan kondisi yang begitu menyedihkan sebagaimana di Gaza. Kami berjalan dari rumah ke rumah yang seluruhnya hancur. Beberapa orang berusaha menyelamatkan barang-barangnya yang tersisa di tengah-tengah tumpukan sampah. Para ibu berusaha keras menhindarkan anak-anaknya dari bermain di tempat-tempat kotor dan jorok.

Para tokoh masyarakat mengatakan, mereka tidak bisa membangun kembali rumah-rumah mereka yang hancur karena Israel tidak mengijinkan material dan perlengkapan masuk ke Gaza. Guru-guru tidak lagi mempunyai alat tulis, para dokter kehabisan obat-obatan dan anak-anak kekurangan gizi. Seorang bapak berkata kepada saya, "Jika saya memberikan uang kepada Anda dan nanti kapal-kapal "Free Gaza Movement" datang berlabuh di Gaza, maukah Anda membelikan saya susu? Anak-anak saya kekurangan susu.

Pada bulan Juni 2009, 21 orang anggota "Free Gaza Movement" termasuk saya berlayar ke Gaza dari Lebanon, namun kapal tentara Israel membajak kami di perairan internasional dan memaksa kami mendarat di Israel, memenjarakan kami salama seminggu dan kemudian mengusir kami pergi.

Sejak akhir tahun 2008 keadaan di Gaza semakin memburuk akibat aksi penyerbuan Israel di Gaza. Penyakit akibat sampah, kekurangan gizi serta obat-obatan bukan suatu hal terburuk yang dihadapi anak-anak Palestina, melainkan bom dan senjata Israel yang telah membunuh 1.400 rakyat Gaza, 400 di antaranya anak-anak, dalam aksi penyerbuan Israel. Tanah-tanah pertanian kini tercemar oleh limbah nuklir yang disebarkan Israel melalui senjata "depleted uranium bomb".

Dimanakah harapan itu? Di manakah kasih sayang itu di tengah-tengah miliaran penduduk dunia terhadap penderitaan dan ketidakadilan yang dialami rakyat Pelestina? Seluruh dunia telah gagal menjalankan kewajibannya dan tampak tidak berdaya dan tidak peduli terhadap kebiadaban Israel. Namun syukur masih ada sekelompok orang yang masih peduli. Dan dengan kepedulian itu "Freedom Flotilla" (armada kebebasan, sekelompok kapal pemberi bantuan kepada rakyat Gaza, blogger) akan berlayar ke Gaza dan mencoba mendobrak blokade Israel atas Gaza. Armada kecil ini terdiri dari 8 kapal yang dikoordinir oleh Turki dan Yunani, dipenumpangi oleh 600 orang dari 60 negara, kami akan berlayar bulan Mei 2010. Armada ini akan ditemani oleh kapal kargo dari Irlandia, MV Rachel Corrie. Kargo ini memuat berton-ton material bangunan, semen, peralatan medis, serta bantuan khusus dari Norwegia. Misi ini kembali akan membuka mata dunia mengenai aksi blokade ilegal Israel. Dalam aksi demonstrasi kekuatan masyarakat dunia kami berharap bisa membuka kesadaran masyarakat dunia.

Kami berharap misi ini akan bisa mengakhiri blokade. Saat kami berlabuh di Gaza dalam misi Free Gaza Movement I bulan Oktober 2008, kami menginap di hotel Marna House. Pemilik hotel sangat gembira menyambut kami dan bercerita bahwa sejak penutupan pelabuhan Gaza karena blokade Israel, kami adalah pengunjung asing pertama setelah 40 tahun pendudukan Israel. Akan sangat menggembirakan rakyat Gaza jika pelabuhan bisa kembali dibuka sehingga rakyat Gaza bisa bebas untuk pergi dan datang di negerinya sendiri dan bersatu dengan saudara dan kerabatnya yang hidup terpisah, memperdagangkan barang-barang produksinya dan membeli barang-barang yang dibutuhkan dari luar.

Perjalanan kali ini adalah perjalanan ketiga saya menuju Gaza dan ini semua telah menunjukkan kepada saya bahwa orang bisa membuat perubahan. Free Gaza Movement dimulai oleh beberapa orang yang dipenuhi ide dan keberanian untuk mewujudkan perubahan. Namun di atas itu semua kami terinspirasi oleh rakyat Gaza yang gagah berani yang dengan keramah-tamahan dan kasih sayangnya menyambut kami di tengah-tengah penderitaan mereka. Mereka mewakili sisi terbaik kemanusiaan dan kami bangga menjadi pendukung mereka mempertahankan kebebasan dan nilai-nilai mulia umat manusia.

No comments:

Post a Comment