Thursday 29 December 2011

BAGAIMANA HIZBOLLAH "MENYIKUT" CIA DI LEBANON


Keterangan: gaya tabik Hizbollah yang meniru gaya tabik Nazi Jerman, merupakan bentuk ejekan kepada Israel.


Hizbollah dan CIA telah lama terlibat perang inteligen di Lebanon. CIA menuduh Hizbollah sebagai pelaku aksi pemboman terhadap barak marinir Amerika di Beirut yang menewaskan 200 personil militer Amerika dan memaksa pasukan Amerika hengkang dari Lebanon tahun 1984, meski saat itu Hizbollah belum resmi terbentuk. Sebaliknya Hizbollah menuduh CIA sebagai pelaku pemboman yang ditujukan kepada petinggi Hizbollah, Sayyed Fadlallah tahun 1985, yang menewaskan puluhan warga sipil Lebanon sementara Sayyed Fadlallah sendiri selamat.

(Terdapat perbedaan tajam antara kedua aksi pemboman, jika Hizbollah menyerang sasaran militer, CIA mentargetkan sasaran sipil. Selain itu metode Hizbollah juga berbeda dengan metode orang-orang salafi/Al Qaida yang mengirimkan orang-orang bodoh untuk bunuh diri, Hizbollah mengirimkan truk yang dikendalikan dari jarak jauh).

Dan sejak kekalahan Israel atas Hizbollah tahun 2006 yang disusul oleh kolaps-nya jaringan inteligen Israel di Lebanon, CIA kini lebih mengintensifkan kerjanya di Lebanon, sebagian darinya demi membantu inteligen Israel. Namun sebagaimana dinas inteligen Israel, Mossad, CIA pun kini mengalami kehancuran setelah Hizbollah berhasil mengidentifikasi para agen CIA di Lebanon, lengkap dengan metode kerja dan tempat-tempat "hangout" mereka.

Media cetak Lebanon yang dekat dengan Hizbollah, "As-Safir" baru-baru ini membuat laporan mengenai keberhasilan Hizbollah menghancurkan jaringan mata-mata CIA sebagaimana telah disiarkan oleh televisi Lebanon, "Almanar", baru-baru ini.

"Jika terungkapnya identitas seorang mata-mata dianggap sebagai kekalahan besar, kekalahan sebesar apa jika sebuah jaringan besar terbongkar?" tulis "As-Safir".

"CIA di Lebanon aktif bekerja untuk inteligen Amerika yang cakupan kerjanya tidak terbatas di Lebanon saja, namun juga meliputi wilayah Syria. Di tingkat Lebanon, aktifitas mereka ditujukan terutama untuk memata-matai gerakan perlawanan anti-Israel (Resistance), khususnya setelah perang tahun 2006, dalam rangka memperbaiki kerugian yang timbul setelah kekalahan Israel dalam perang tersebut serta hancurnya jaringan inteligen Israel di negeri ini. Maka Amerika memilih agen-agen terbaiknya untuk bekerja di Lebanon, untuk menjalankan aktifitas inteligen yang rumit," tambah "As-Safir".

"Jelas bahwa keputusan CIA untuk bekerja sebagai agen inteligen Israel membuat aparat keamanan kelompok perlawanan memusatkan perhatian pada inteligean CIA di Lebanon. Sebagai konsekuensinya perlawanan menganggap perlawanan terhadap mereka sama pentingnya dengan perlawanan terhadap inteligen Israel, dan perang inteligen terjadi dalam 2 front sekaligus dalam satu waktu," tambah "As-Safir" lagi.

As-Safir menjelaskan dalam laporannya bahwa CIA memilih para agennya dalam 2 metode:

1. Rekrutmen reguler dimana CIA menerima agen-agen baru (biasanya lulusan sarjana terbaik dari universitas-universitas terkemuka Amerika; blogger) yang kemudian dididik untuk menjadi agen rahasia profesional. Dalam masa pendidikan itu seorang agen rahasia baru dilatih menyamar sebagai pebisnis, profesional, ahli komunikasi, peneliti, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang bisa menutupi identitas mereka.

2. Dengan memilih orang-orang kualified, yang memiliki keahlian profesional khusus seperti dokter, arsitek, atau profesor universitas. Sebelumnya mereka menjalani penyidikan mendalam secara diam-diam mengenai latar belakang, status sosial ekonomi, dan kecenderungan politiknya sebelum membawa mereka ke CIA. Selanjutnya mereka mendapat pelatihan khusus secara intensif sebagai agen sebelum dikirim kembali sebagai profesi semula namun dengan menyandang tugas khusus inteligen.

Metode untuk menyembunyikan identitas agen rahasia adalah elemen dasar suksesnya pekerjaan seorang agen rahasia. Jika identitas seorang agen terbuka, maka agen bersangkutan harus segera diganti karena kalau tidak justru akan membahayakan pekerjaan suatu jaringan inteligen secara keseluruhan.

Pekerja diplomat adalah salah satu kedok yang sering digunakan CIA untuk menyembunyikan diri. Biasanya CIA merekrut para diplomat profesional untuk dikirim ke negeri tujuan. Terkadang mereka bekerja 2 kaki, depertemen luar negeri dan CIA, atau 1 kaki saja tanpa sepengetahuan departemen luar negeri.

Mengenai kesuksesan Hizbollah membongkar jaringan CIA di Lebanon, "As-Safir" meringkasnya ke dalam 3 kemungkinan:

1. Hizbollah lama berhasil mengidentifikasi agen-agen CIA dan menunggu waktu untuk membongkarnya. Waktu yang dipilih adalah saat Hizbollah hendak melakukan inisiatif politik, atau sebagai reaksi politik atas aksi musuh.

2. Hizbollah berhasil menanamkan agen ganda ke dalam jaringan CIA. Merekalah yang kemudian menjadi sumber informasi bagi Hizbollah mengenai nama-nama para agen CIA, tempat-tempat pertemuan, termasuk juga program-program kerja CIA di Lebanon.

3. Hizbollah dan sekutu-sekutunya di dalam maupun luar Lebanon menempatkan agen-agen terlatih untuk mengikuti pergerakan agen-agen CIA. Agen-agen terlatih inilah yang kemudian membongkar jaringan CIA di Lebanon sebagaimana identitas para agen rahasia CIA.

Sebagai kesimpulan "As-Safir" menulis:

Keberhasilan Hizbollah mengidentifikasi secara akurat nama agen-agen rahasia CIA di Lebanon dan aktifitasnya menunjukkan bahwa jaringan CIA di Lebanon telah hancur dan harus dibangun jaringan baru untuk menggantikannya. Membentuk jaringan baru ini membutuhkan waktu dan dana yang tidak sedikit.

Namun lebih dari itu, As-Safir menulis, reputasi CIA sebagai dinas inteligen terbesar dan paling berpengalaman di dunia, dikalahkan oleh Hizbollah.

"Dari sudut pandang gerakan perlawanan, hal ini menunjukkan bahwa mereka yang telah berhasil menghancurkan kekuatan Israel, menghancurkan tank-tank Merkava Israel yang melegenda, mengatasi pasukan-pasukan elit dan menghancurkan kapal perang Israel, serta mengalahkan Mossad, kini menambahkan kesuksesan mereka dengan mengalahkan CIA yang menjadi kaki tangan Mossad.... dalam waktu yang jauh lebih cepat dari yang bisa dibayangkan Israel."



Sumber:
"As-Safir: How Did the Resistance Infiltrate CIA’s Secret Structure?"; almanar.com.lb; 23 Desember 2011

No comments:

Post a Comment