Thursday, 2 September 2010

MENGAPA TAKUT PADA MALAYSIA


Pada tahun 1521 sebuah armada besar Kerajaan Islam Demak berlayar dari pelabuhan Jepara menuju Malaka. Dari jumlah kapal yang turut berlayar, ukuran kapal serta persenjataan yang dibawa, armada yang berangkat itu adalah sebuah armada raksasa untuk ukuran saat itu. Kapal-kapal dalam armada tersebut dilengkapi dengan senjata meriam api cetbang, senjata yang pada masa kejayaan Majapahit merupakan senjata paling canggih di dunia. Dengan senjata itu pula Majapahit muncul sebagai kerajaan maritim terkuat di dunia pada saat itu.

Tujuan armada Demak tersebut adalah membebaskan kerajaan Islam Malaka yang merupakan keturunan dari kerajaan Islam Samodra Pasai di Aceh, dari pendudukan penjajah Portugis. Sejak masa kerajaan Sriwijaya, Singasari, Majapahit hingga Demak, semenanjung Malaka merupakan wilayah kekuasaan raja-raja Nusantara (Indonesia).
Portugis, bersama dengan Spanyol saat itu adalah kerajaan superpower di dunia karena persenjataan meriam ledaknya (berbeda dengan cetbang yang hanya bisa membakar, meriam ledak Portugis bisa menghancurkan kapal yang dikenainya). Setelah kalah oleh kerajaan Tuban (penerus kekuasaan Majapahit sebelum Demak) dalam perang memperebutkan Tuban serta terusir dari Jakarta oleh kekuatan militer Demak, Portugis akhirnya mengalihkan kekuatannya merebut Malaka sebagai kota pelabuhan yang strategis di Selat Malaka.

Melihat Malaka dikuasai Portugis, tentu saja Demak sebagai penguasa Nusantara tidak mau diam berpangku tangan. Maka dikirimkanlah armada besar sebagaimana disebutkan di atas. Dalam menghadapi pertempuran di Malaka, Demak menggalang kekuatan kerajaan-kerajaan bawahannya di Nusantara seperti kerajaan Bugis, Aceh, Melayu termasuk tentunya sisa-sisa pasukan kerajaan Malaka. Pasukan koalisi Nusantara dipimpin oleh Sultan Demak, Pati Unus.

Tidak berlebihan jika dikatakan Perang Malaka tahun 1521 adalah salah satu perang laut terbesar sepanjang sejarah karena melibatkan dua kekuatan laut terbesar di dunia pada masa itu.

Memang pada akhirnya pasukan koalisi Nusantara kalah melawan armada laut Portugis yang lebih canggih persenjataannya. Pati Unus sendiri tewas dalam peertemupran itu. Namun serbuan Demak terhadap Malaka, plus pengalaman kekalahan di Tuban dan Jakarta membuat Portugis yang sekali lagi adalah negara superpower dunia, sadar diri untuk tidak meluaskan kekuasaannya ke Nusantara. Lagipula Demak sama sekali belum runtuh. Di masa pemerintahan Sultan Trenggono pengganti Adipati Unus, Demak mencoba sekali lagi untuk merebut Malaka, meski gagal karena kematian Sultan Trenggono dalam perang meluaskan pengaruh Islam ke ujung timur Pulau Jawa. Sebagian pasukan ekspedisi yang sempat dikirim ke Malaka bermarkas di daerah yang kini bernama Trengganu, nama turunan dari Sultan Trenggono.

Maksud tulisan ini adalah mengingatkan kembali kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa kita adalah bangsa yang kuat. Kita telah membuat gentar Portugis dengan militansi banga ini. Kita pernah mengalahkan tentara Mongol yang pada masanya adalah tentara paling kuat di dunia, yang telah menaklukkan Cina, Eropa dan kekhalifahan Abassiyah di Baghdad, sehingga banga Cina pun tidak pernah berani melakukan aksi militer di Nusantara meski memiliki armada laut yang kuat di bawah kepemimpinan Laksamana Cheng Ho. Lebih jauh Indonesia bahkan mengalahkan kekuatan kolonialis-imperalis Belanda-Jepang-Inggris serta kekuatan komunisme. Hanya Indonesia, satu-satunya negara di dunia bisa malakukan kekuatan kolonialis dan komunis sekaligus.

Malaysia? Negara bekas taklukan Indonesia itu kemerdekaannya saja diberi oleh Inggris. Malaysia adalah bangsa yang tidak pernah mengalami peperangan. Kita akan ajarkan Malaysia bagaimana cara berperang agar mereka menjadi lebih dewasa, bukan mental orang kaya baru sebagaimana menjangkiti sebagian besar rakyat Malaysia saat ini.

Tapi sayangnya harapan itu tidak mungkin tercapai selama Indonesia dipimpin oleh pemimpin korup yang lebih mementingkan kepentingan asing daripada memajukan rakyat sendiri. Dan selama itu pula Indonesia, bangsa yang kaya dengan SDM unggul dan kekayaan alam yang melimpah, tetap dipandang remeh oleh bangsa lain, bahkan oleh bangsa Malaysia sekali pun.

Lihatlah bagaimana presiden Indonesia, karena takut tidak bisa menghidupi 2 juta rakyatnya yang menjadi TKI di Malaysia, membiarkan harga diri seluruh bangsa besar ini diinjak-injak Malaysia, bekas negara taklukan Indonesia itu. Padahal dengan kecerdasan minimal saja, masalah 2 juta TKI itu bisa diselesaikan dengan mudah. Buat jalan trans Kalimantan, buka ladang dan kebun di sana, maka 2 juta TKI itu akan terserap tenaga kerjanya. Belum lagi Irian Jaya, surga sumber daya alam yang belum terjamah.

Kenapa itu semua tak dilakukan? Karena para pemimpin kita hanya menjalankan peran sebagai pelayan kepentingan asing. Mereka tidak mau membangun infrastuktur di Kalimantan, Irian, Sulawesi, dan Sumatera karena akan membuat Indonesia maju dan orang-orang asing itu takut dengan bangsa Indonesia yang maju. Mereka lebih memilih membangun Jembatan Suramadu untuk dijadikan obyek wisata daripada jembatan Selat Sunda yang jauh lebih strategis nilainya. Mereka tidak mau membatasi penjualan mobil asing di Indonesia dan menyediakan sistem transportasi massal yang nyaman dan aman, karena komisi besar yang mereka terima dari industri mobil Jepang, Eropa dan Amerika. Meski oleh karenanya kota-kota besar di Indonesia menjadi macet dan kotor karena polusi. Mereka lebih memilih membangun gedung DPR triliunan rupiah daripada insfrastruktur, meski untuk itu APBN menjadi defisit dan harus dipenuhi dengan hutang luar negeri yang menjerat leher anak cucu.

Jangan-jangan bahkan para pemimpin itu mendapatkan dana sumbangan dari perusahaan-perusahaan Malaysia dalam masa kampanye lalu.

2 comments:

Zyovanni said...

Good buat pemikiran anda, anda mungkin benar ketika berbicara yahudi. tapi dalam masalah agama anda salah besar dengan menyimpulkan dari sumber yang tidak valid, dengan nalar anda. Islam itu sumbernya Al-Qur'an dan Assunnah, disana ada sejarah, hukum dll. ketika pemikiran anda sampai pada penghinaan pada para sahabat. maka anda telah salah besar dengan nalar anda yang menentang sesuatu yang pasti haq, walau bertentangan dengan akal.

blog dana said...

ane ijin share di blog ane gan