Thursday, 27 October 2011

DALAM JERATAN HUTANG



Mengurus ekonomi negara secara prinsip tidak berbeda dengan mengurus ekonomi keluarga atau perusahaan. Dengan menggunakan prinsip efisiensi, efektititas serta produktifitas maka sebuah keluarga, perusahaan dan juga negara dijamin 100% bakal mengalami kemajuan ekonomi dan kemakmuran.

Jika sebuah keluarga atau perusahaan memiliki sumber pendapatan sebesar $ 1 juta setahun, maka prinsip efisiensi, efektititas dan produktifitas akan membuat keluarga atau perusahaan membelanjakan pendapatannya itu untuk hal-hal yang produktif (memberikan hasil yang lebih besar dibanding biaya yang dikeluarkan), efisien (menggunakan modal yang seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil tertentu), dan efektif (memilih kegiatan produktif yang paling besar keuntungannya).

Dan semuanya akan semakin sempurna jika memperhatikan kebijaksanaan: kehati-hatian dan kebijaksanaan. Tidak menghabiskan uangnya untuk satu kegiatan/investasi/proyek melainkan ke beberapa kegiatan/investasi/proyek demi mengurangi resiko. Selain itu tabungan juga menjadi satu hal yang penting dalam hal ini. Dengan pendapatan yang dimilikinya, keluarga dan perusahaan yang bijak akan menyisihkan sebagian darinya untuk tabungan. Fungsi tabungan ini di samping untuk jaga-jaga juga merupakan bentuk kekayaan riel. Dengan adanya tabungan yang semakin besar dari tahun ke tahun, sebuah keluarga atau perusahaan semakin mapan secara ekonomi, semakin makmur dan kaya.

Dalam konteks Indonesia, dengan RAPBN yang diprediksi mencapai Rp 1.500 triliun mestinya kita membelanjakannya di bawah jumlah itu sehingga kita bisa menabung. Tidak ada kewajiban, hukum, atau pun tuntunan moral yang mengharuskan kita menghabiskan semua pendapatan (anggaran berimbang) apalagi besar pasak daripada tiang (defisit). Dalam kedua hal itu tuntunan moral bahkan mengutuknya. Dunia tidak akan kiamat dan rakyat tidak akan sengsara jika kita mengabaikan dua prinsip itu. Jika setiap tahun kita menyisihkan sebagian pendapatan negara untuk menabung maka cadangan devisa dan aset-aset negara akan bertambah banyak dari tahun ke tahun yang mana bisa digunakan untuk mengatasi berbagai krisis yang melanda seperti bencana alam, krisis ekonomi, peperangan dan sebagainya. Cadangan devisa dan aset-aset kekayaan negara itu juga bisa digunakan untuk menambah kuantitas dan kualitas pembangunan serta subsidi kepada rakyat seperti kesehatan, pendidikan dan fasilitas sosial sehingga secara riel rakyat menikmati kesejahteraan.

Belanja negara juga harus efektif, efisien, produktif, bijak dan hati-hati. Proporsi belanja rutin yang lebih besar dari anggaran pembangunan adalah melanggar prinsip-prinsip di atas. Pembangunan infrastruktur yang tidak merata juga melanggar prinsip-prinsip di atas. Bukannya Jawa yang pembangunan infrastrukturnya digenjot habis-habisan, mestinya Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Iran yang kekayaan alamnya masih terbengkalai. Inilah prinsip efektifitas. Dan bukannya membail-out Bank Century, membeli pesawat kepresidenan atau membangun gedung DPR baru, mestinya mensubsidi industri nasional strategis seperti Mobnas, IPTN, INKA, PAL, PINDAD, membuka lahan-lahan pertanian dan perkebunan di luar Jawa. Inilah prinsip efisiensi sekaligus efektifitas.

Membangun infrastuktur jalan raya dan kereta api di Kalimantan, misalnya, akan memberikan keuntungan ekonomi yang luar biasa. Karena dengan adanya transportasi yang memadai, akan menimbulkan multiplier effect yang luar biasa bagi perekonomian. Cukup bagi pemerintah untuk membangun sarana infrastruktur dan memeliharanya, maka rakyat sendiri dari petani miskin dan pengusaha UKM hingga investor kaya, yang akan menggerakkan roda perekonomian, menciptakan nilai tambah produksi dan pendapatan nasional serta menyerap tenaga kerja.

Tapi anehnya dalam realisasi pengelolaan ekonomi Indonesia, hal penting ini justru diabaikan. Kita pernah menggunakan prinsip anggaran berimbang (semua pendapatan dihabiskan pada tahun itu juga), bahkan prinsip anggaran defisit seperti sekarang dilakukan pemerintahan kita. Akibatnya kita bukannya tambah kaya dan makmur, justru semakin terlilit dengan hutang luar negeri yang menggunung dari tahun ke tahun. Semua sumber daya dan pendapatan negara habis untuk membayar bunga hutang. Dan pada akhirnya kelak, kita semua bakal bangkrut karena beban hutang sebagaimana kini dialami negara-negara Eropa.

Presiden SBY baru-baru ini mengatakan, APBN defisit tidak akan lagi diterapkan pada tahun 2014, saat ia sudah tidak lagi berkuasa. Betapa na'ifnya kita dan betapa kejamnya penguasa menjadikan rakyatnya sengsara.

Berikut adalah gambaran kehancuran ekonomi Amerika akibat salah kelola ekonomi negara yang saya transkripkan dari artikel "In Debt Up To Our Eyeballs" di blog The Economic Collapse Blog tgl 18 Oktober 2011:

Seluruh sistem finansial dunia barat didisain untuk menjadi pusaran hutang. JUmlah total hutang selalu bertambah dari tahun ke tahun. Kini, jumlah total hutang kita sangat membelalakkan mata dan sepertinya semua orang kini berbicara tentang "pengurangan hutang".

Namun di dunia dengan sistem ekonominya berdasarkan hutang, adakah suatu cara pengurangan hutang tanpa menimbulkan krisis ekonomi yang menghancurkan?

Pemerintahan negara-negara barat telah banyak menghambur-hamburkan uang seperti "tidak ada lagi hari esok", dan kini "hari esok" itu telah datang dan seluruh hutang itu tiba-tiba menimpa kita dengan keras. Para politisi berlarian ke sana kemari berusaha mengatasi krisis dengan "rencana kebijakan", namun sebenarnya tidak ada satu kebijakanpun yang bisa mengatasi masalah hutang itu. Dan dalam beberapa tahun ke depan kita akan memanen apa yang telah kita semai.

Pada tahun fiskal 2011, pemerintah Amerika memiliki defisit anggaran mendekati $1,3 triliun. Ini adalah tahun ketiga dimana defisit anggaran pemerintah mencapai di atas $1 triliun. Yang menyedihkan, kebanyakan rakyat Amerika tidak memiliki gambaran betapa besar nilai uang $1 triliun itu. Namun satu atau dua gambaran berikut mungkin bisa menolong.

Jika pada suatu hari di masa Yesus lahir, seseorang mulai membelanjakan uang $1 juta (setara sekitar Rp 9 miliar) setiap hari, orang itu tidak akan sampai menghabiskan $1 triliun hingga saat ini. Dan jika seseorang mulai membelanjakan uang $1 dolar (setara sekitar Rp 9 ribu) setiap detik, maka orang itu akan membutuhkan waktu 31.000 tahun untuk menghabiskan uang sebesar $1 triliun.

Beberapa orang beranggapan mungkin pajak kepada orang kaya bisa mengatasi masalah. Baik, jika Bill Gates memberikan seluruh harganya kepada pemerintah, itu hanya cukup untuk mengatasi defisit selama 15 hari.

Bukan, bukan itu sebenarnya masalahnya. Masalahnya adalah "masalah belanja". Setiap tahun pemerintah menghabiskan $20 miliar untuk membangun tenda dan bangunan darurat di Irak dan Afghanistan, lebih besar nilainya dari yang dihabiskan untuk pemeliharaan sistem kereta api selama 20 tahun. Saat ini hutang pemerintah Amerika telah menembus angka $13 triliun. Dengan defisit anggaran yang semakin besar, tidak lama lagi hutang Amerika akan mencapai $15 tiliun.

Kini hutang itu telah mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, dan pemerintah Amerika tidak merasa khawatir untuk terus menambahnya. Hore.

Katakanlah pemerintah Amerika akhirnya sadar untuk tidak lagi menambah hutang dan mulai mencicilnya saat ini juga, $1 per-detik. Maka diperlukan waktu 440.000 tahun untuk mencicil hutang-hutang itu.

Dan yang lebih parah adalah, bukannya berusaha mengurangi hutang, pemerintah Amerika justru semakin gencar berhutang. Amerika adalah negara kaya. Pemasukan pemasukan pemerintah dari pajak dan lain-lainnya mencapai $2 triliun lebih, atau hampir 20 x lipat total anggaran negara Indonesia. Tapi jumlah yang luar biasa besar itu menjadi tidak berarti saat penguasa pengkhianat rakyat yang korup berkuasa. Pemerintah harus berhutang lagi hingga $1,3 triliun untuk menutupi defisit anggarannya yang sebagian besar berupa proyek-proyek tak berguna bagi kepentingan rakyatnya, seperti anggaran pertahanan dan perang, atau anggaran untuk membiayai ibu negara shopping ke Paris dengan menggunakan pesawat kepresidenan.

Psda awal dekade 1980-an, Presiden Ronald Reagan menyatakan bahwa hutang nasional merupakan bentuk krisis nasional. Kini hutang itu telah berkembang 14 x dari saat Reagan disumpah menjadi presiden. Sesuatu telah menjadi menakutkan, kesalahan yang menakutkan. Pada tahun 2001 APBN Amerika hanya mencakup 18% dari total GDP. Kini angka itu telah melonjak menjadi 24%. Belanjat negara telah bergerak ke arah yang salah. Dan sebagian besar dari belanja itu masuk kantong beberapa individu Amerika.

Eropa kini menghadapi masalah hutang yang sama. Bahkan kehancuran ekonomi mungkin akan terjadi terlebih dahulu di Eropa sebelum Amerika. Yunani, Portugal, Irlandia, dan Italia kini memiiki rasio hutang-GDP mencapai 100% lebih. Spanyol juga mengalami masalah yang sama.

Saat ini Yunani, Portugal, Irlandia, Italia dan Spanyol memiliki total hutang hingga $3 triliun euro lebih.

Seluruh dunia kini terperosok ke dalam kubangan hutang. Menurut "Economist" total hutang pemerintah negara-negara di seluruh dunia mencapai 40 trillion dollar, itu belum termasuk hutang "kewajiban-kewajiban di masa mendatang" seperti yang harus ditanggung pemerintah.

Bagaimana mungkin negara-negara terjerembab ke dalam hutang? Kombinasi 2 hal-lah yang menjadi penyebabnya: para pemimpin korup yang membiarkan orang-orang jahat mengendalikan mereka di belakang layar, dan rakyat yang bodoh.

NEGARA PALESTINA DAN HUKUM INTERNASIONAL


"Kami muak dengan politik double standard Amerika. Mereka mendukung gerakan kebebasan di Mesir, Tunisia, Libya, dan Yaman, namun saat sampai di Palestina, mereka berhenti. Kami bertanya, mengapa?" kata Muhammad Ali in Ramallah, warga Palestina di Ramallah dalam wawancara dengan Washington Post, 23 September 2011

Palestina akhirnya mengajukan permohonan resmi untuk menjadi angota penuh PBB, sebuah langkah yang ditentang habis-habisan oleh Israel dan Amerika. Dengan status anggota penuh, Israel tidak bisa lagi "main-main" dengan Palestina dalam isu perdamaian kedua negara. Dengan keanggoataan penuh Palestina di PBB, Israel tidak akan lagi bisa seenak-nya menindas rakyat Palestina.

"Kini adalah waktunya kebenaran datang dan rakyat Palestina menunggu jawaban dunia. Akankah dunia akan membiarkan Israel melanjutkan pendudukannya, satu-satunya praktik penjajahan di dunia yang masih ada? Akankah dunia membiarkan Israel menjadi negara yang berdiri di atas hukum dan akuntabilitas? Akankah dunia membiarkan Israel menginjak-injak resolusi PBB, Mahkamah Internasional, serta mayoritas negara-negara di dunia?"

"Waktunya telah tiba bagi rakyat Palestina yang gagah berani, setelah berpuluh tahun tersingkir dari tanah airnya, pendudukan kolonialis, serta penderitaan tanpa henti, untuk hidup sebagaimana bangsa-bangsa lainnya di dunia. Merdeka dalam sebuah negara yang berdaulat." demikain pidato Presiden Palestina Mahmoud Abbas di depan sidang umum PBB, 23 September lalu.

Pidato Abbas mendapat sambutan meriah dari delegasi negara-negara PBB yang berdiri sambil bertepuk tangan. Sementara delegasi Amerika duduk dengan muka kecut. Sementara pada saat yang sama penembak-penembak jitu Israel bersiaga di dengan membidikkan senapannya ke arah penduduk Palestina di check point-check point di Tepi Barat.


KEMUNAFIKAN AMERIKA

"Satu tahun yang lalu saya berdiri di podium ini menyerukan pembentukan negara Palestina merdeka. Saat itu dan sekarang saya percaya bahwa rakyat Palestina patut memiliki negara sendiri," pidato Barack Obama di depan majelis yang sama tgl 21 September 2011.

Namun pada saat yang bersamaan, Obama mengkritik permohonan Abbas menjadikan Palestina sebagai anggota penuh PBB merupakan "pengalih perhatian". Sedangkan menlu Amerika Hillary Clinton mengatakan "pemecahan dua negara" dan bentuk akhir perdamaian harus melalui perundingan langsung antara Palestina dan Israel.

Menurut Francis A. Boyle, ahli hukum internasional University of Illinois yang pernah menjadi penasihat hukum organisasi PLO serta penasihat mantan Presiden Palestina Yasser Arafat, perundingan dengan Israel adalah Rencana A. Namun setelah Israel selalu mengabaikan perundingan bahkan menolak melaksanakan hasil perundingan yang telah disepakati, Palestina sudah seharusnya menjalankan Rencana B, yaitu meningkatkan status keanggotaan Palestina di PBB menjadi anggota penuh. Rancana B bukan "pengalih perhatian" sebagaimana dituduhkan Obama. Itu adalah keputusan yang jitu. Dengan keanggotaan penuh PBB, hak-hak Palestina akan lebih dihormati. Dengan status itu Palestina bisa menyeret para pejabat Israel yang terlibat dalam pelanggaran HAM dan hukum internasional terhadap Palestina. Dan setiap penduduk Palestina di seluruh dunia menjadi warga PBB. Palestina tidak lagi dicap sebagai "bangsa tanpa negara".

Kini rakyat dunia menunggu keputusan DK PBB mengenai permohonan Palestina yang rencananya akan diputuskan bulan depan dengan bayang-bayang ancaman veto dari Amerika.

Namun menurut Boyle, meskipun nantinya Amerika memveto keputusan DK PBB untuk menerima keanggoataan penuh Palestina, Palestina masih bisa mendapatkan status tersebut melalui Sidang Umum PBB yang digelar membahas Resolusi PBB tentang Uniting for Peace Resolution 377 (1950).


Sumber:
"Obama, Palestinian Statehood, and International Law"; Christopher Bollyn; bollyn.com; 14 September 2011

Sunday, 23 October 2011

HANYA DI SYRIA


Hanya di Syria, seseorang bisa membeli 1 liter bensin seharga 15 SL (Syrian Lira, 1 SL setara sekitar 2$), sementara harga minyak dunia adalah 40 SL. Hanya di Syria, seseorang berhak mendapat perawatan gratis di rumah sakit, bahkan jika harus menjalani operasi. Hanya di Syria, pajak penghasilan hanya 5% untuk mereka yang berpenghasilan tinggi sementara yang berpenghasilan rendah tidak dikenakan pajak. Hanya di Syria semua anak bisa bersekolah gratis dari SD hingga universitas.

Hanya di Syria, hutang luar negerinya sebesar 0$. Hanya di Syria, yang sistem ekonominya berubah dari sosialis ke sistem pasar bebas dan nilai tukar mata uangnya terhadap mata uang asing relatif konstan dan stabil. Hanya di Syria, terdapat lebih dari 1 juta pengungsi Palestina dengan hak-hak kewarganegaraan yang sama dengan penduduk asli tanpa diskriminasi sedikit pun. Hanya di Syria, terdapat 2 juta pengungsi Irak saat terjadi serangan Amerika, dan tidak satupun dari mereka yang tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Hanya di Syria, seseorang bisa duduk makan di restoran dan mendapatkan Presiden dan sang istri sedang makan di meja sebelah. Hanya di Syria kita menjumpai seorang penganut Shiah menikah dengan penganut Alawite (satu sekte Islam yang mengagungkan sepupu Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib, namun bukan Shiah. Banyak terdapat di Syria, Lebanon dan Turki) yang ibunya penganut Sunni dengan saudara ipar seorang penganut Kristen dengan saudara sepupu seorang Kurdi atau Druze (satu sekte agama yang mencampurkan kayakinan Islam dengan Kristen, banyak terdapat di Lebanon dan Syria).

Hanya di Syria, yang pemerintahannya telah mengeluarkan undang-undang parpol, undang-undang media massa, undang-undang pemilu, dan undang-undang pemerintahan daerah. Mereka juga telah mengeluarkan amnesti massal dan peraturan-peraturan lainnya demi mengubah negara menjadi lebih demokratis. Dan lucunya pemerintahan negara-negara tetangga meminta sang presiden untuk "mendengarkan tuntutan rakyat" dan bertindak demokratis hingga menuntut dilakukannya pemilihan umum yang dipercepat disertai pengunduran diri sang presiden. Sementara negara-negara tetangga itu tidak pernah melakukan hal-hal yang dituntutnya itu. Mereka menuntut dilakukannya amandemen undang-undang Syria sementara jika ada seorang warga mereka meneriakkan kata "konstitusi", ia akan dijebloskan ke penjara dengan tuduhan melakukan tindakan "bid'ah".

Hanya di Syria dimana para pelaku aksi-aksi kerusuhan menentang pemerintah mengklaim sebagai gerakan non-sektarian, namun dengan lantang meneriakkan slogan-slogan seperti: "Alawite ke peti mati, Kristen ke Beirut," atau "Muslim dan Kristen menghancurkan Alawite!", atau "kami tidak ingin melihat seorang Alawite pun", atau "O Alawite, O penyembah berhala, kami akan menguburkanmu!.

Hanya di Syria dimana para pelaku aksi-aksi kerusuhan menentang pemerintah mengklaim sebagai gerakan nasional tanpa campur tangan asing. Namun lucunya banyak di antara mereka berteriak-teriak: "O Israel, kami akan korbankan jiwa dan ragaku untukmu!", atau "Bandar (seorang pangeran kerajaan saudi salafiyun wahabiah), Hariri (mantan PM Lebanon, pengkhianat rakyat yang kini tinggal di pengasingan di Perancis), kami ingin Al-Jazeera (televisi Qatar)," atau slogan-slogan lainnya seperti "Tidak untuk Iran atau Hezbollah, kami menginginkan orang yang takut kepada Allah!" Belum lagi mereka yang berteriak-teriak meminta Amerika dan Eropa untuk turut campur dalam gerakan mereka.

Bodohnya mereka mengklaim sebagai gerakan damai, namun para syeikh mereka menyerukan "jihad" melawan aparat pemerintah dan siapa pun yang tidak sepemikiran dengan mereka. Mereka yang menyerukan gerakan damai itu telah membantai tentara dan penduduk sipil beserta keluarga mereka, menggantung dan memutilasi korban-korbannya sesuai dengan kebencian sekterian mereka. Mereka pula yang telah menembaki polisi dan penduduk sipil dari puncak menara masjid dengan menggunakan senjata Amerika.

Para syeikh wahabi-salafi itu mengambil makna "Ifta'" (kewajiban berdasar fatwa dan menggunakannya untuk membakar kesombongan sektarian, namun tidak pernah melakukan reformasi apapun atau menjaga kepentingan masyarakat sebagaimana klaim mereka. Betapa munafiknya mereka! Tinta fatwa mereka belum kering terkait dengan kutukan mereka terhadap berbagai bentuk demonstrasi dan revolusi di Mesir, Tunisia dan negara-negara lain! Bagaimana bisa mereka membanggakan diri telah mencetak jutaan kopi fatwa tentang larangan berdemonstrasi di Saudi Arabia, Qatar, dan Bahrain.

Bagaimana mereka bisa berpidato dengan penuh kefanatikan menyerukan pembantaian terhadap semua penganut Alawite, pengusiran orang Kristen dari Syria, menyingkirkan semua penganut Ismaelis, Druze dan Sufisme. Dan inilah fatwa dari "syeikh" Saleh Al-Luhaidan tentang kewajiban melenyapkan 1/3 penduduk Syria untuk menyelamatkan 2/3 lainnya, sementara ia mengutuk aksi demonstrasi di Saudi Arabia dan negara-negara lainnya sebagai dosa besar karena menyebabkan kekacauan dan kehancuran.

Fatwa menentang aksi demonstrasi di Saudi Arabia, Bahrain, Tunisia, Mesir adalah sebuah bentuk dukungan bagi para penguasa moderan yang memilih untuk menyerah terhadap Israel. Itu adalah tindakan politik "melayani Israel" yang tidak ada dasarnya dengan agama. Jika tidak, bagaimana penjelasannya mengapa dalam hal Syria dan hanya Syria, fatwa-fatwa itu menjadi bertolak belakang?

Mengapa kerusuhan di Syria menjadi sebuah "revolution" sementara di tempat lain dicap sebagai "pelanggaran hukum"? Kebohongan-kebohongan itu berakhir dengan sendirinya setelah mereka membongkar sendiri kejahatan konspirasi mereka terhdaap Syria, membuat rakyat Syria sadar dan melawan dengan sekuat tenaga.

Sangat menggelikan, pimpinan Al Qaida Ayman Al-Zawahri dalam pidatonya menyambut ulang tahun kesepuluh Tragedi WTC menuduh pemerintah Syria melakukan "kejahatan yang buruk" terhadap rakyatnya sendiri. Ia juga menyerukan rakyat Syria untuk terus melakukan aksi kerusuhan hingga pemerintah tumbang. Seorang warga Arab mungkin bertanya-tanya: mengapa sikap Al Qaida se-irama dengan Amerika dan sekutunya? Mereka tentu tengah melayani kepentingan Israel sembari membuang jauh-jauh kepentingan Arab (Syria adalah salah satu negara Arab).

Negara-negara Arab tertentu dan televisi-televisi asing melancarkan tuduhan-tuduhan paling buruk yang bisa dibayangkan berdasarkan prinsip "kebohongan dan kebohongan hingga rakyat akhirnya percaya". Berbagai "keajaibatn" muncul dari para awak televisi yang katanya profesional itu. Saksi mata adalah orang yang paling bisa dipercaya, dan orang bisa menemukan seorang analis di sana-sini dan tidak satu pun mereka yang berada di Syria. Tak satu pun dari mereka yang melaporkan korban-korban di pihak pemerintah, setiap hari mayat-mayat aparat keamanan ditemukan dimana-mana yang gambar-gambarnya hanya dimuat oleh media-media massa Syria.

Para pengamat itu tidak memiliki informasi apapun tentang pembantaian aparat keamanan oleh para perusuh, dan jika pun mereka menyebutkan peristiwa itu mereka membalikkan faktanya: "aparat keamanan pemerintah membunuh mereka karena menolak perintah untuk menembak para demonstran yang tidak bersenjata"

Hanya di Syria, dari sebuah gerakan yang mengklaim diri sebagai "Revolusi nasional Arab" orang mendengar slogan-slogan seperti "O Israel, bisakah aku mengorbankan darahku untukmu?". Dan sebagai tambahan, salah satu tokoh gerakan itu Farid Al-Ghadiri, adalah orang yang telah berkunjung ke Israel tahun 2007, menjadi tamu kehormatan parlemen Israel hingga dikecam olah para anggota parlemen Israel keturunan Arab. Kini ia berpidato: "suatu hari bendera Israel akan berkibar di Damascus, karena negara Syria adalah negara damai, baik, dan membenci kebencian, namun Bashar Al-Assad telah memaksa rakyatnya untuk bersikap sebaliknya."

Pengkhianat yang kini tinggal di Washington itu berkoar bahwa inteligen Lebanon mendukung aksi kerusuhan di Syria karena menganggap tumbangnya Assad merupakan keuntungan nasional Lebanon. Ia juga menyerukan dunia internasional untuk melakukan campur tangan di pihak rakyat Syria. "20 rudal yang menghantam kantor-kantor inteligen Syria cukup untuk membuat regim Assad tumbang". Ia pasti tidak menghitung bahwa "keseimbangan regional" sudah berubah paska kekalahan Israel melawan Hizbollah tahun 2006.



Dari: "Only in Syria ..."; Sadeq Khanafer; almanar.com.lb; 4 Oktober 2011

Hezbollah di Moscow Diskusikan Perkembangan Politik


Sebuah delegasi Hizbollah tiba di Moscow, Rabu (19/10) untuk membicarakan perkembangan terakhir Lebanon dan kawasan sekitar dengan para pejaba Rusia. Ini adalah kunjungan resmi Hizbollah pertama ke Rusia sekaligus menunjukkan dukungan Rusia kepada organisasi ini.

Media massa Rusia, RIA Novosti, melaporkan bahwa parlemen Rusia adalah pihak yang telah mengundang Hizbollah. Delegasi Hizbollah dipimpin oleh anggota parlemen Lebanon, Mohammad Raad dengan anggota lain seperti anggota parlemen Hassan Fadlallah dan Nawwar al-Sahili. Menurut informasi para anggota delegasi Hizbollah menyampaikan peran "kelompok perlawanan", istilah bagi kelompok penentang Israel di Lebanon yang dipimpin Hizbollah, dalam melindungi Lebanon dari agresi Israel, serta berbagai langkah yang diambil barat untuk menghancurkan kelompok ini, mengontrol pengambilan keputusan Lebanon serta menguasai SDA-nya.

Selain bertemu anggota parlemen Rusia, delegasi Hizbollah juga bertemu dengan deputi menlu Mikhail Bogdanov, Kamis (20/10).

Kepada media massa Rusia yang menemuinya, Mohammad Raad mengatakan bahwa kunjungan tersebut dimaksudkan untuk "menunjukkan keinginan kedua pihak untuk meningkatkan kerjasama dan koordinasi antara Lebanon dan Rusia."

"Kami bertukar pendapat mengenai situasi di Lebanono dan dunia Arab, mendiskusikan berbagai upaya yang dilakukan Amerika dan NATO untuk mendestabilisasi keamanan Timur Tengah," kata Raad usai bertemu para anggota parlemen Rusia, di antaranya ketua komisi hubungan luar negeri parlemen Rusia, Konstantin Kosachyov.


Israel Ketakutan, "Perlawanan" Bertambah Kuat

Sehari setelah kunjungannya ke Rusia, Mohammad Raad, dalam sebuah acara wisuda di Beirut, Sabtu (15/10), mengatakan bahwa gerakan Revolusi Arab (Arab Springs) yang saat ini tengah melanda negara-negara Arab, mungkin akan menjadi korban kepentingan Amerika dan sekutunya.

Namun ia juga mengingatkan bahwa masa ketergantungan kepada pihak asing telah lewat dan semangat perlawanan semakin bertambah kuat. "Tidak ada yang bisa membelenggu semangat ini," kata Raad.

Raad menyesalkan masih adanya kekuatan-kekuatan politik lokal yang menyandarkan diri kepada kekuatan asing. "Mereka telah mengaitkan nasib mereka dengan kepentingan asing dengan harapan mereka akan mendapat bagian dalam kakuatan global."

Menurut Raad, Israel kini mengalami ketakutan untuk melakukan konsfrontasi langsung dengan "perlawanan" karena sadar dengan kekuatan "perlawanan" dan kelemahan sendiri.



Sumber:
almanar.com.lb, 16 Oktober 2011.

MOSSAD DAN RENCANA PEMBUNUHAN DUBES SAUDI


Seorang pejabat inteligen Pakistan hari Minggu lalu (16/10) menyatakan bahwa Manssor Arbabsiar, warga negara Amerika keturunan Iran yang dituduh menjadi pelaku rencana pembunuhan dubes Saudi, telah menerima kartu identitas palsu dari dinas rahasia Israel Mossad tiga bulan yang lalu.

"Orang yang menjadi tertuduh dalam kasus ini telah menerima dokumen ID dari dinas inteligen Israel, Mossad, tiga bulan yang lalu," tulis harian Pakistan berbahsa Urdu, "Nation", mengutip keterangan seorang pejabat inteligen Pakistan yang tidak disebutkan namanya.

Menurut pejabat tersebut Arbabsiar menjadi bagian dari operasi inteligen Mossad bersandi "Foss Fling”, dengan tujuan menimpakan sebuah kesalahan kepada Iran agar Amerika terjebak untuk memerangi Iran.

"Manssor adalah warga keturunan Iran dan hubungan Iran-Amerika tidaklah normal dan baik sehingga akan mendapat perhatian tinggi dari inteligen Amerika. Maka Iran tidak akan menggunakan individu semacam itu jika ingin membunuh dubes Saudi," tambah Nation.

Dalam tuduhan terbarunya Amerika, Selasa (18/10), menuduh Iran berencana membunuh dubes Saudi di Washington dengan menggunakan tangan kartel obat bius Mexico, kelompok Zetas. Sehari kemudian menlu Iran Ali Akbar Salehi menyatakan penolakannya atas tuduhan itu, menjadi penolakan yang ketiga kalinya. Menlu Iran menyebutkan tuduhan itu sebagai "tidak rasional".

"Secara sepihak melakukan tuduhan tanpa menunjukkan bukti dan melakukan kampanye media terhadap Iran adalah tindakan yang tidak sesuai dengan logika hukum, dan hanya bisa dianggap sebagai pertunjukan media dan politik," tambah kemenlu Iran.


IRAN INGATKAN SAUDI

Iran Ingatkan Saudis untuk tidak terjebat dengan skenario Amerika untuk menciptakan permusuhan antara Iran dengan Saudi.

Menlu Iran, Ali Akbar Salehi has suggested to Saudi authorities to exercise discretion about the recent anti-Iran allegation by the US and not to be entrapped by the publicity stunt.

Menurut Ali, Iran adalah negara yang telah mengalami berbagai bentuk terorisme sejak revolusi tahun 1979. Ia menambahkan bahwa Iran menjalankan politik luar negerinya berdasar prinsip "kebijakan dan kemanusiaan".


TUDUHAN MENGGELIKAN

Seorang analis Amerika, Juan Cole dalam kasus ini mengetakan: "Jika Arbabsiar (tertuduh) adalah aset inteligen Iran, ia tentu akan diingatkan untuk menghindari satu hal yang menjadi bahan monitoring di Amerika, yaitu transfer uang lebih dari 10.000 dolar. Satu-satunya cara aman untuk menghindari hal itu adalah dengan cara tunai, dan tidak seorang pun dalam dinas inteligen Iran yang sedemikian bodoh untuk tidak menyadari hal itu."

Arbabsiar, warga negara Amerika kelahiran Iran dikenal sebagai pribadi yang dipenuhi dengan berbagai catatan kriminal, termasuk penipuan. Seorang seperti dia akan selalu dalam pengawasan pihak keamanan Amerika. ADalah tidak masuk akal bahwa dinas inteligen Iran akan menggunakannya sebagai aset.

Mitra bisnis Arbabsiar, seorang pengusaha Texas David Tomscha, mengatakan kepada Associated Press tentang Arbabsiar: "sedikit malas. Ia bukan seorang 'mastermind'. Saya tidak pernah membayangkan ia merencanakan sebuah konspirasi seperti itu. Maksud saya, ia tidak tampak sebagai seorang politisi, lebih tepat sebagai seorang pebisnis.”

Robert Baer, seorang mantan agen rahasia CIA dengan spesialisasi tentara elit Iran, Quds Force (institusi Iran yang dituduh terlibat dalam konspirasi), mengatakan: "Quds Force adalah organisasi yang sangat baik. Mereka tidak akan duduk bersama seseorang yang mereka tidak kenal dan merencanakan sesuatu. Mereka menggunakan kaki tangan dan mereka sangat ahli dalam hal ini. Tuduhan itu sangat tidak sesuai dengan kharakteristik Al Quds yang oleh banyak analis dianggap sebagai agensi inteligen yang sangat ahli. Ide bahwa Al Quds menggunakan seorang seperti Arbabsiar adalah menggelikan."

“Ini adalah kasus yang sangat aneh, tidak sesuai dengan model operasi rahasia Iran," kata Alireza Nader, seorang analis dari Rand Corporation dan penulis dari sebuah buku tentang pasukan Pengawal Revolusi Iran.



Sumber: almanar.com.lb; 17 Oktober 2011

Monday, 17 October 2011

Khamenei: Iran Tetap Jadi Pemenang


Pemimpin spiritual sekaligus pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Sayyed Ali Khamenei pada hari Rabu (12/10), menyatakan bahwa Iran mampu mengubah berbagai tekanan dan sanksi internasional dengan kesempatan yang mampu memberikan berbagai kemajuan di berbagai bidang yang menjadi contoh kemajuan di kawasan sekitarnya. Kemajuan-kemajuan tersebut bahkan lebih pesat daripada yang telah dicapai selama puluhan tahun.

Demikian isi pidato Khamenei di hadapan puluhan ribu massa di kota Kermansyah, Iran Barat. Massa tersebut mengikuti pidato Khamenei dengan sangat antusias. Mereka bahkan telah berkumpul sejak malam hari sebelumnya di jalan-jalan sekitar Lapangan Azadi, tempat dimana Khamenei berpidato.

Selain memuji kemajuan yang telah dicapai Iran, Khamenei juga menyinggung berbagai aksi kerusuhan menentang kapitalisme dan pemerintahan korup yang terjadi di dunia barat, khususnya di Amerika, yang kini telah memasuki minggu ketiga. Menurut Khamenei pemerintah Amerika telah melakukan tindakan kekerasan terhadap para demonstran yang "lebih keras dibandingkan aksi kekerasan yang dilakukan regim-regim diktator di dunia yang terbelakang." Namun semua itu tidak juga berhasil menghentikan aksi.

Khamenei juga menyinggung slogan-slogan yang digunakan para demonstran: "Kami adalah 99% mayoritas". Menurutnya 1% dari warga elit Amerika, para kapitalis dan birokrat, adalah yang kini melakukan peperangan di Irak dan mendukung negara Israel untuk menjadikan "tumor kanker Israel" tetap hidup di kawasan Timur Tengah.

Khamenei juga memuji peranan rakyat Iran yang telah mendukung sistem Islami yang menjadikan Revolusi Iran berbeda dengan revolusi-revolusi lainnya di seluruh dunia.

Menyinggung pemilu parlementer yang akan diselenggarakan Iran Maret 2012 mendatang, Khamenei menghimbau seluruh masyarakat turut berpartisipasi meski ada berbagai provokasi untuk menggagalkan pelaksanaannya. Khamenei menghimbau rakyat untuk memilih kandidat yang terpercaya yang "tidak terkait dengan kekuasaan uang".



AS ISYARATKAN LAMPU HIJAU SERANG IRAN

Sementara itu menyusul tuduhan Amerika terhadap keterlibatan Iran dalam sebuah rencana pembunuhan dubes Arab Saudi di Amerika, para pengamat politik memandangnya sebagai sebuah sinyal bahwa Amerika mengijinkan Israel untuk menyerang Iran.

"Tuduhan rekayasa pemerintahan Obama terhadap Iran menunjukkan tanda "ok" bagi dilakukannya serangan militer Israel atas Iran yang akan dilakukan Israel dalam waktu 2 bulan ke depan. Demikian menurut informasi rahasia seorang pejabat militer," tulis Paul Joseph Watson dalam situs Propagandamatrix tgl 13 Oktober lalu.

Menurut analisis Paul, Israel khawatir dengan kampanye "serang Iran" yang mengendur akhir-akhirnya, terutama dengan tawaran "damai" yang diberikan Iran serta respons positif dari beberapa sekutu barat seperti Jerman. Menurut Paul tenggat waktu 2 bulan bagi dilakukannya serangan adalah menyesuaikan dengan kedatangan iklim musim dingin yang kurang mendukung untuk dilakukan serangan.

Tanda lampu hijau itu tampak semakin jelas mengingat tuduhan rencana pembunuhan dubes Saudi itu hanya berselang 10 hari setelah pertemuan antara menhan Amerika, Leon Panetta dengan menhan Israel Ehud Barak tgl 3 Oktober lalu di Israel yang agenda utamanya adalah membahas keinginan Israel untuk menyerang Iran.

"Dalam beberapa minggu terakhir telah terjadi diskusi intensif di kalangan militer dan inteligen Israel mengenai perlu tidaknya dilakukan serangan terhadap Iran. Tampak yang mengemuka adalah tentang bagaimana untuk meyakinkan Amerika turut serta dalam penyerangan, atau, paling tidak mendukung Israel jika serangan itu kemudian memicu perang yang lebih luas," tulis Patrick Seale dalam koran Gulf News baru-baru ini.

Dan sementara aparat inteligen Amerika mempersiapkan bukti-bukti yang akan digunakan untuk menyalahkan Iran dalam tuduhan pembunuhan dubes Saudi, Time Magazine melaporkan bahwa pemerintahan Barack Obama mempersiapkan diri untuk menggunakan tuduhan itu sebagai alasan melakukan tindakan keras terhadap Iran, jauh di luar sekedar sanksi dan pengucilan.

"Jika pemerintah gagal mendapat dukungan bagi dilakukannya sanksi lebih keras terhadap Iran setelah menyampaikan bukti-bukti, bola panas akan kembali ke presiden Obama," tulis Tony Karon dalam Time Magazine.

“Setelah menyampaikan tuduhan bahwa Iran telah melampaui "garis merah", ia akan mandapat tekanan untuk bertindak, atau menghadapi resiko dicap sebagai "orang yang lemah terhadap Iran" dalam pemilihan presiden mendatang," tambahnya.

Para ahli politik internasional secara konsisten telah memberi peringatan tentang rencana serangan Israel terhadap Iran tahun ini. Pada bulan Juli lalu, misalnya, seorang mantan pejabat CIA Robert Baer memberi informasi kepada sebuah media independen Los Angeles bahwa Israel akan menyerang Iran pada bulan September untuk menggagalkan permintaan Palestina untuk diakui sebagai anggota definitif PBB.

Sementara mantan diplomat senior Amerika,Steve Pieczenik, dalam wawancara dalam Alex Jones Show minggu lalu mengatakan dengan tegas bahwa tuduhan pembunuhan dubes Saudi adalah sebuah rekayasa yang sangaja dibuat untuk menjustifikasi serangan terhadap Iran. Pieczenik juga mengingatkan bahwa Israel baru saja mendapat kiriman sejumlah besar rudal penghancur bunker bawah tanah dari Amerika.

Di lain sisi Kolonel (Purn) US Army Anthony Shaffer mengungkapkan kepada Paul Watson bahwa tidak ada catatan apapun mengenai rencana pembunuhan dubes Saudi itu dalam arsip FBI, menunjukkan rencana itu sebagai suatu "fantasi" belaka.

Selain itu kini telah menjadi pengetahuan sebagian orang bahwa orang yang dituduh menjadi perancang rencana pembunuhan itu adalah seorang pemabuk dan pengunjung setia rumah bordil yang oleh teman-teman dekatnya disebut dengan panggilan "joke".



Sumber:
1. "Sayyed Khamenei: Islamic Iran Remained Victorious despite Seige, Sanctions"; almanar.com.lb; 12 Oktober 2011
2. "Sources: US Gives Israel Green Light For Iran Strike"; Paul Joseph Watson; Propagandamatrix; 13 Oktober 2011

Sunday, 16 October 2011

ISRAEL YANG AKHIRNYA MENUNDUKKAN DIRI


Karena kesombongan orang-orangnya (yahudi), Israel tidak pernah mau meminta ma'af kepada bangsa manapun yang dizaliminya. Tidak kepada Amerika yang kapal USS Liberty-nya dibom pada tahun 1967 hingga 40 penumpangnya tewas. Tidak kepada Turki yang 9 warga negaranya dibunuh secara keji di atas kapal Mavi Marmara yang tengah berlayar di perairan internasional tahun lalu. Tidak kepada bangsa Palestina yang tanah-airnya telah dirampok dan rakyatnya diusir dari kampung halamannya. Tidak kepada bangsa Lebanon yang selama puluhan tahun mengalami serangan barbar pasukan Israel.

Sebaliknya, betapa tinggi hatinya orang-orang yahudi Israel itu. Ketika PM Turki mengecam presiden Israel, Shimon Peres, karena kekejaman Israel atas penduduk Gaza pada sebuah diskusi di sela-sela pertemuan "World Economic Forum" di Davos Yunani tahun 2009, menlu Israel memanggil dubes Turki di Israel dan mendampratinya seperti orang tua mendamprat anak kecil, sembari duduk di kursi yang lebih tinggi dari tamu-nya itu.

Demikian juga terhadap bangsa Mesir, setelah mereka membunuh 6 polisi Mesir di perbatasan Gaza tgl 18 Agustus lalu. Namun tidak seperti penguasanya yang "penjilat pantat yahudi", rakyat Mesir cukup memiliki harga diri. Mereka marah, membakar kedubes Israel dan membuat dubes Israel lari tunggang-langgang kembali ke negeri asalnya. Maka Israel berfikir ulang. Menolak minta ma'af dan membuat hubungannya dengan Mesir terputus tentu bukan pilihan yang rasional. Mesir negara besar dengan puluhah juta penduduknya yang bisa menenggelamkan Israel.

Dalam sebuah pernyataan pers, Selasa (11/10), menhan Israel, Ehud Barak menyatakan bahwa Israel menyatakan permintaan ma'af atas kematian aparat keamanan Mesir Agustus lalu.

Dan seolah "tamparan" kepada Israel karena permintaan ma'af itu masih kurang keras, Israel juga "terpaksa" berkompromi dengan kelompok musuhnya, Hamas dengan membebaskan 1.000 warga Palestina yang ditawanannya untuk ditukar dengan seorang prajuritnya yang ditawan Hamas.

KEMBALINYA SANG JAGOAN RUSIA


Wajahnya muncul di media-media massa Rusia beberapa waktu lalu. Bertelanjang dada menunjukkan otot-otot tubuhnya yang kekar, menenteng senjata laras panjang, dan di bawah kakinya tergeletak seekor harimau Siberia yang ditembaknya setelah menteror penduduk. Itulah Vladimir Putin, mantan Presiden yang kini menjabat sebagai perdana menteri Rusia.

Pada masa kepemimpinannya sebagai Presiden, Putin berhasil mengembalikan Rusia dari keterpurukan ekonomi-sosial-politik akibat birokrasi korup serta kerakusan para "oligarch" dan "mafiya" yahudi, menjadi negara maju dan dihormati kawan dan lawan. Untuk melakukan itu semua, ia telah memenjarakan banyak birokrat korup dan "oligarch" dan "mafiya" yahudi yang rakus. Namun setelah kepresidenan dipegang penerusnya, Dimitri Medvedev, Rusia mengalami kemunduran dalam hal integritas dan harga diri bangsa. Sikap Medvedev yang pro-Amerika-lah yang membuat Rusia seolah tenggelam dalam percaturan internasional. Satu demi satu pengaruh Rusia lepas begitu saja, terakhir adalah Libya. Di bawah Medvedev pula sekutu Rusia lainnya, Syria, mengalami kerusuhan akibat intervensi Amerika dan sekutu-sekutunya dengan Rusia hanya bisa melongo. Padahal Syria adalah sekutu strategis Rusia yang bisa dilihat dari keberadaan pangkalan AL Rusia di sana.

Namun kemunculan kembali Putin dalam pemerintahan, meski belum dikukuhkan secara resmi, telah membawa perubahan signifikan. Bersama Cina, Rusia menggagalkan resolusi DK PBB tentang sanksi terhadap Syria yang bisa menjadi pintu masuk bagi intervensi militer Amerika dan sekutunya sebagaimana terjadi di Libya. Rusia juga dengan tegas menolak sanksi yang hendak dikenakan Amerika dan sekutu-sekutunya atas Iran terkait adanya "rencana pembunuhan dubes Saudi di Amerika" yang menurut Amerika dilakukan oleh inteligen Iran. Tidak hanya itu, Rusia tengah mengkaji penggelaran sistem pertahanan udara "Alexander" di Syria. Dan saat tulisan ini dibuat, Putin tengah berada di Cina untuk bertemu para pejabat tertinggi Cina membahas kerjasama kedua negara menghadapi dominasi Amerika dan sekutunya.

Menurut berbagai analisis politik, kemunculan kembali Putin sebagai presiden Rusia yang memiliki kekuasaan eksekutif lebih besar daripada perdana menteri, sepertinya bakal tidak terhindarkan lagi. Meski Medvedev kemungkinan juga bakal bersaing dalam pemilihan presiden yang dilakukan sidang umum parlemen mendatang, Putin memiliki dukungan politik lebih luas. Di samping partai berkuasa United Russia (partainya Putin dan Medvedev), Putin juga mendapat dukungan partai-partai lain yang membentuk aliansi "The Populer Front".

Banyak kalangan politik Rusia yang mengkhawatirkan masa depan Rusia dengan gaya kepemimpinan Medvedev dengan motonya, "the state of law and establishments." Mereka mengkhawatirkan Rusia akan hancur, cepat atau lambat, tenggelam dalam pengaruh barat, diawali dengan revolusi sosial sebagaimana terjadi di negara-negara Eropa Timur di masa lalu, dan Arab sekarang ini. Mereka menganggap moto yang diusung Medvedev justru akan memperlemah Rusia. Rusia harus teguh dalam persatuan, dan tajam dalam menghadapi berbagai situasi internasional. Dan semua itu tercermin dalam gaya kepemimpinan Putin.

Publik masih ingat bagaimana reaksi Putin yang sangat tegas dan cepat dalam menghadapi situasi darurat. Dan hal itu telah menyelamatkan Rusia. tSaat Chenchnya nyaris lepas dari kekuasaan karena kepemimpinan pendahulunya yang lemah, Putin mengambil tindakan tegas dengan mengirimkan pasukan menggempur para pemberontak dan mengembalikan Chenchya dalam genggaman. Bahkan saat para pemberontak Chechnya mencoba melakukan aksi penyanderaan ratusan warga Rusia dalam satu gedung opera untuk memaksa Rusia berunding, Putin mengakhirinya dengan serbuan militer. Begitu juga saat negeri tetangganya, Georgia, menyerang wilayah protektorat Rusia, Ossetia Selatan, Putin bereaksi cepat. Georgia digempur habis hingga pasukan Georgia lari terbirit-birit.


TAKKAN TINGGALKAN SYRIA
Rusia telah banyak kehilangan pengaruh di berbagai negara yang dahulunya merupakan sekutunya: Irak, Aljazair, Libya, Yaman. Namun kehilangan Syria sebagai sekutu adalah hal paling menyakitkan Rusia karena Syria adalah sekutu yang sangat strategis. Syria memberi akses Rusia ke Laut Tengah, selain posisinya sebagai "penjaga punggung" Rusia di Timur Tengah. Di Syria pula Rusia menempatkan pangkalan AL-nya.

Munculnya kembali Putin ke kancah politik segera menyadarkan Rusia untuk menjaga aset terpenting mereka itu. Dan hal itu sudah dilakukan dengan memveto draft resolusi DK PBB tentang sanksi terhadap Syria, yang bisa menjadi pintu masuk dilakukannya intervensi militer Amerika dan sekutunya.

Tidak hanya itu, Rusia kini mempertimbangkan untuk menggelar sistem pertahanan udara paling canggihnya, "Alexander", di Syria sebagai respons atas penggelaran sistem pertahanan udara Amerika di Eropa Timur dan Turki. Pelatihan terhadap personil militer Syria yang bakal menangangi sistem senjata canggih itu kini bahkan telah dilakukan di Rusia.

Jika "Alexander" jadi dipasang di Rusia, akan mengubah keseimbangan militer Timur Tengah secara sangat signifikan. Israel yang selama ini menjadi penguasa udara di kawasan itu akan dibuat tidak berdaya oleh Syria dan lawan-lawan Israel seperti Hizbollah dan Hamas akan semakin berani menyerang Israel.

Friday, 14 October 2011

RAKYAT SYRIA TERIMA KASIH PADA RUSIA-CINA


Puluhan ribu rakyat Syria, Rabu (12/10) lalu tumpah ruah di jalanan kota Damaskus mengungkapkan dukungan kepada Presiden Bashar al Assad. Mereka juga mengungkapkan terima kasihnya kepada pemerintah Rusia dan Rusia yang telah menggagalkan resolusi DK PBB tentang sanksi kepada Syria.

Aksi massa itu merupakan aksi spontanitas sebagai respon atas seruan di situs jejaring Facebook untuk mendukung presiden Assad dengan nama akun "My homeland, Syria". Dalam seruan di situs tersebut juga disebutkan agenda aksi, yaitu mengungkapkan terima kasih kepada pemerintah Rusia dan Cina yang telah "berdiri menentang konspirasi jahat terhadap Syria", sekaligus juga "meningkatkan persatuan dan solidaritas dengan keluarga korban kerusuhan".

Para demonstran juga mengungkapkan kecaman terhadap "Syrian National Council (SNC)", organisasi yang membawahi kelompok-kelompok penentang pemerintahan al Assad pro-Amerika-Israel yang dibentuk dengan fasilitas pemerintah Turki tgl 2 Oktober lalu.

Beberapa plakad di sekitar distrik Sabaat Bahrat berbunyi: "Tentara dan rakyat bersama Anda, Bashar al-Assad" dan "Syria negeri kita dan Assad presiden kita." Foto-foto Bashar al Assad mendominasi kawasan itu.

Rusia dan China, keduanya anggota tetap DK PBB, pada 4 Oktober lalu menggunakan hak vetonya untuk menggagalkan resolusi PBB yang akan memberi sanksi kepada Syria jika tidak "menghentikan tindakan kekerasan kepada para demonstran".


Sumber:
"Syrian Masses Thank Russia & China, Voice Support to Assad"; almanar.com.lb; 13 Oktober 2011.

Sex Orgy Dunia Modern


Gambar: Kate Middleton dan Emma Sayle


Pada jaman dahulu beberapa sekte agama kuno, suku-suku bangsa tertentu, memiliki kebiasaan mengadakan pesta seks bebas (orgi), baik dengan motif ritual maupun sekedar penyaluran nafsu belaka. Kerajaan Romawi dalam sebagian besar sejarahnya juga dipenuhi dengan pesta-pesta semacam itu. Bahkan sudah menjadi adat kebiasaan bahwa seorang kaisar Romawi memiliki satu pelacur simpanan yang dikenal dengan "Famosa", dan salah satu "famosa" itu kemudian menjadi maharani Romawi, Theodora. Satu sekte yahudi di Turki yang salah satu anggotanya adalah Kemal Attaturk, secara diam-diam hingga sekarang, juga mengadakan ritual orgi. Demikian pula beberapa organisasi rahasia mason serta kelompok-kelompok metal penyembah setan.

Pada tahun 2005 koran Inggris Sunday Mirror menulis laporan berjudul “Pesta Seks Terbesar Orang-orang Kaya dan Kotor". Pesta itu diorganisir oleh pengusaha properti Jonathan Friedman, politisi sayap-kanan anti Uni Eropa David Russell Walters, serta Emma Sayle yang juga sahabat dari istri baru pangeran William, Kate Middleton.

Lokasi pesta seks itu adalah di sebuah sumah besar mewah di London milik Edward (Eddie) Davenport.

Di antara peserta pesta itu adalah Sarah Cox yang merupakan pengawal pribadi PM Tony Blair.

"Setelah melepaskan pakaiannya, Cox dan pacarnya yang juga polisi, menerjunkan diri ke dalam pesta seks di atas kasur seluas 20x14 kaki."

"Hanya kalangan elit Inggris, termasuk bangsawan, politisi, pengacara, birokrat, yang diijinkan menjadi anggota persaudaraan rahasia yang mengadakan pesta pertamanya tahun 2005 malam minggu lalu."

"Para bankir dan broker dari Citigroup, Credit Suisse, Deutschebank dan Commerzbank bergabung dalam pesta 'bebas untuk semua' bersama ilmuwan, pengacara, direktur perusahaan, presenter TV, model fashion, dan atlet Olimpiade."

"Tamu-tamu cantik telah terbang dari New York, Paris, Italia, Jerman, dan Belanda, khusus untuk pesta itu," tulis Sunday Mirror.

Enam tahun kemudian, 9 Oktober 2011 lalu koran Inggris lainnya, Daily mail, melaporkan:

"Monthira Sanan-Ua adalah pacar Lord Eddie Davenport yang berasal dari Thailand. Ia menjadi tuan rumah bagi beberapa pesta orgi yang diadakan di mansion milik Davenport di London, 33 Portland Place."

"Ia mengatakan: Mereka terdiri dari berbagai kalangan, orang-orang penting seperti hakim dan investor. Sekali saya melihat seorang bintang Hollywood terkenal yang sangat tampan. Saya telah melihat semua tamu penting yang hadir, semuanya. Teman saya bergumam, 'hai lihat ada seorang hakim dan polisi di sebelah sana. Saya telah melihat dari Paris Hilton, Hugh Grant, Pete Doherty, Kate Moss, Russell Brand dan Colin Farrell… Semuanya melewati pintu rumah kami."

"Saya ingat James Blunt, Sarah Ferguson, Mick Jagger, Juliette Lewis, Victoria Beckham, Michael Caine, Hugh Lawrie, Vivienne Westwood, Victoria Silvstedt, Jordan, Mark Ronson, ada banyak lagi," tulis Daily Mail mengutip Sanan-Ua.

Daily Mail juga melaporkan mengenai adanya pesta serupa yang dirancang oleh Michel Nihoul di sebuah "chateau" di Belgia. Pesta ini dilaporkan diikuti oleh seorang mantan komisioner Uni Eropa, hakim-hakim, para politisi senior, pengacara dan polisi.

Nihoul adalah satu dari teman dekat Marc Dutroux, seorang psikopat yang telah membunuh anak-anak. Seorang saksi, Regina Louf memberikan kesaksiannya mengenai suatu pesta orgi yang diselingi adegan penyiksaan terhadap seorang anak kecil hingga tewas terbunuh.

Sementara itu sebuah harian besar di Omaha, Amerika, melaporkan testimoni beberapa anak dari Omaha yang terbang bersama politisi top Larry King dengan menggunakan pesawat pribadinya, menuju tempat berlangsungnya beberapa event politik dan pesta-pesta seks.

"Salah seorang anak itu mengaku melihat George Bush (mantan presiden) dalam satu pesta yang diadakan Larry."(Franklin Credit Union Child-Sex Scandal).



Sumber:
"Sex Orgy"; Aangirfan.blogspot; 12 Oktober 2011 dalam thetruthseeker.co.uk; 13 Oktober 2011

Thursday, 13 October 2011

LIAM FOX BUKAN "USEFUL IDIOT"


"Useful idiot" adalah satu istilah yang pertama kali digunakan oleh gembong komunis Rusia, Lenin, untuk orang-orang non-yahudi komunis yang karena kebodohannya mendukung komunisme yahudi mati-matian. Mereka-lah yang oleh orang-orang yahudi komunis dijadikan kelinci percobaan, pion yang bisa dikorbankan sewaktu-waktu demi kepentingan dominasi komunisme yahudi.

(Dalam blog ini saya selalu mengaitkan komunisme dengan yahudi karena memang komunisme adalah buah karya yahudi yang digunakan untuk menguasai dunia melalui revolusi berdarah)

Baru-baru ini terjadi skandal menghebohkan, namun lagi-lagi ditutup-tutupi oleh media massa yang notabene dikuasai yahudi, termasuk di Indonesia, yaitu pengunduran diri menhan Inggris Liam Fox setelah hubungan kotornya dengan seorang agen asing bernama Adam Werritty terkuak ke publik.

Berumur 17 tahun lebih muda dibanding Fox (blogger menduga kuat keduanya adalah sepasang homoseksual), Adam menjadi "penasihat tidak resmi" Fox. Saat Fox masih menjabat menhan Inggris, Adam nyaris selalu mendampinginya dalam berbagai acara resmi kenegaraan, meski ia sama sekali tidak memiliki jabatan apapun. Terakhir Adam ditempatkan Fox sebagai pengurus sebuah lembaga think tank bentukan Fox, ‘The Atlantic Bridge’.

Hubungan itu kemudian menjadi sebuah skandal memalukan setelah terbongkar kedok Adam sebagai seorang agen asing, khususnya Israel. Dalam kaitan ini mantan diplomat senior yang menjadi penulis, Craig Murray, menulis di harian "Daily Mail" tentang Fox dan Adam yang disebutnya sebagai "useful idiot" yang bekerja untuk Israel.

"Tidak hanya Adam Werritty dibayar untuk mengikuti semua kegiatan menhan, uang itu berasal dari kantong orang-orang yang siap untuk mempromosikan kepentingan pemerintahan asing, terutama Amerika, Israel dan Sri Lanka. Sementara Amerika adalah sekutu dekat, kepentingan politik dan ekonominya tidak selalu sama dengan Inggris. Israel bukan sekutu militer Inggris. Bahkan sering terjadi peselisihan kepentingan antara keduanya dalam masalah Timur Tengah, sebagaimana dalam insiden penyerangan terhadap kapal kemanusiaan Gaza yang menewaskan warga negara Turki. Turki adalah sekutu dekat Inggris, anggota penting NATO.”

Murray memperkirakan dana yang mengalir ke kantong Werritty berasal dari lobi Israel dan Mossad. Selanjutnya ia mengajukan pertanyaan dalam tulisannya, "mungkinkah Mossad telah memainkan Fox dan Adam tanpa mereka berdua sadari?”

Namun Murray melupakan beberapa fakta yang menunjukkan Fox bukanlah seorang idiot. Apa yang ia lakukan semuanya dengan kesadaran penuh. Ia bekerja untuk Israel dan yahudi. Ia pernah berpidato, "Musuh Israel adalah musuh kita dan ini adalah perang dimana kita berdiri bersama atau kita semua jatuh dengan tercerai-berai." Ia seorang pendukung zionisme dengan menjadi anggota "Conservative Friends of Israel". Fox juga mendukung perang ilegal di Irak serta menyerukan sanksi terhadap Iran.

Jadi Fox bukanlah seoran idiot yang tidak menyadari untuk apa dan kepada siapa ia bekerja. Dalam hal Israel, ia sama dengan PM David Cameron dan para politisi lainnya yang baru-baru ini mengamandemen yurisdiksi Inggris yang memungkinkan seorang penjahat perang Israel tinggal di Inggris dengan aman.

Namun arus sudah berubah arah. Hubungan kotor para politisi Inggris dengan Israel dan orang-orang yahudi telah menjadi perhatian umum. Tinggal menunggu waktu terjadi pemicu yang akan menghancurkan hubungan kotor itu.

DUKUNGAN RAKYAT LEBANON GAGALKAN KONSPIRASI ATAS SYRIA


Rombongan konvoi "Mary (2)" beranggotakan 151 wanita Lebanon telah tiba di kota Aleppo, Sabtu (8/10), dalam satu misi sosial politik mendukung rakyat Syria dari konspirasi asing yang hendak menghancurkan Syria. Misi mereka juga mencerminkan persaudaraan antara rakyat kedua negara.

Yang pertama ditemui rombongan konvoi di Aleppo adalah Grand Mufti Republik Syria, Ahmad Bader Eddin Hassoun, di Masjid Agung Ummayad. Dalam pertemuan itu anggota rombongan konvoi menyatakan belasungkawa atas kematian putra sang mufti akibat aksi kerusuhan yang melanda Syria.

Mufti Ahmad Bader Eddin Hassoun dalam pertemuan itu mengungkapkan bahwa Syria menjadi target sasaran konspirasi asing (tidak menyebutkan Israel-Amerika-Saudi-Turki) karena sikap politiknya yang tegas membela hak-hak dan kepentingan rakyat Arab, terutama kemerdekaan Palestina serta dukungannya terhadap "perlawanan" rakyat Lebanon dan Palestina terhadap Israel.

"Delegasi wanita Lebanon ini telah mengirimkan pesan kepada negara-negara Arab bahwa Lebanon telah membayar dengan darah mereka atas konspirasi asing terhadap mereka, maka jangan biarkan hal ini terjadi di Syria."

Sementara itu Gubernur Aleppo, Muaffaq Khallouf menyambut hangat kedatangan delegasi dari Lebanon itu dengan menambahkan bahwa berbagai kerusuhan di Syria berawal dari ekspresi kehendak rakyat yang legal, namun berubah menjadi aksi-aksi pembunuhan dan vandalisme. Ia juga mengatakan bahwa rakyat Syria kini telah sadar dengan konspirasi asing terhadap Syria dengan menggunakan kebohongan dan tipuan melalui televisi dan media massa untuk menekan Syria.

Pimpinan delegasi para wanita Lebanon itu, Samar al-Haj mengatakan kepada wartawan bahwa kedatangan mereka ke Syria dimaksudkan untuk menunjukkan kepada masyarakat internasional bahwa Syria dalam keadaan baik sekaligus membantah berbagai klaim tanpa dasar yang disebarkan oleh media massa.

Para anggota konvoi itu kemudian menghadiri pemeran kerajinan di Aleppo, dengan 45 di antara anggota mereka menjadi peserta pameran.



KONSPIRASI YANG GAGAL
Hari ini saya (blogger) baru saja membaca berita running text Metro TV tentang seruan oposisi Syria bagi dilakukannya dialog dengan pemerintah Syria. Ini mengkonfirmasi berbagai berita yang menyebutkan gagalnya upaya penggulingan pemerintahan Presiden Bashar al Assad yang dilakukan blok Israel-Amerika-Saudi-Turki untuk digantikan dengan regim baru yang pro-Amerika Cs.

Pernyataan gagalnya konspirasi asing di Syria sebelumnya telah disampaikan oleh anggota parlemen Syria, Khaled Abboud kepada situs resmi Al-Manar, terutama setelah Cina dan Rusia memveto resolusi DK PBB tentang Syria.

Menurut Abboud, konspirasi asing terhadap Syria telah hancur dan berakhir setelah pemerintah Syria berhasil mengatasi berbagai aksi kekerasan yang dilancarkan para konspirator. Ia menunjuk pernyataan Presiden Bashar al Assad bahwa krisis telah berakhir dan kota-kota tempat terjadinya kerusuhan telah mulai berbenah diri, sebagai sebuah realitas.

Abboud juga menunjuk insiden pelemparan terhadap dubes Amerika untuk Syria, Robert Ford, Kamis (6/10) yang dilakukan para demonstran anti-Amerika. Insiden tersebut adalah yang kedua dialami Ford sejak krisis politik dan kerusuhan terjadi di Syria. Menurut Abboud Robert Ford menjadi sasaran kemarahan rakyat Syria karena keterlibatannya yang menyolok dalam upaya menggoyahkan pemerintahan Syria sejak mula krisis terjadi. Pada bulan JUli lalu kedubes Amerika di Damaskus diserbu massa yang marah setelah Ford menemui para pemberontak di kota Homs.

"Rakyat Syria memberi pesan kepada Amerika untuk tidak lagi turut campur dalam urusan dalam negeri Syria. Mereka mengatakan kepada Amerika bahwa bahkan jika terjadi konflik antar kelompok politik di Syria, Amerika tidak berhak turut campur. Rakyat Syria memahami adanya konspirasi asing, maka Amerika dan Eropa harus sadar kembali dan diyakinkan bahwa kepemimpinan Syria akan tetap kuat," kata Abboud kepada Almanar.


SUMBER: almanar.com.lb; 10 Oktober 2011

AKSI PROTES AMERIKA MELUAS


Aksi protes menentang korupsi kalangan elit, kemiskinan, serta ketimpangan sosial di Amerika yang dimulai 2 minggu lalu di New York, kini telah meluas ke lebih dari 1.000 kota di seluruh Amerika. Demikian laporan berbagai media independen, meski media-media massa mapan (jew ass sucker) mengabaikan peristiwa ini.

Setelah tiga minggu aksi demo tanpa henti di Zuccotti Park di Manhattan, New York, para demonstran akhirnya berhasil memenangkan perhatian masyarakat, termasuk para politisi Amerika. Pemimpin Partai Hijau sekaligus mantan kandidat presiden, Ralph Nader turut berperan meningkatkan semangat para demonstran.

Gerakan "Duduki Wall Street", yang menjadi nama dari gerakan aksi-aksi demonstrasi yang melanda Amerika, dilandasi ketidak puasan masyarakat terhadap kerakusan perusahaan-perusahaan besar terutama perusahaan keuangan yang berpusat di kawasan Wall Street, New York, yang diduga menjadi penyebab krisis ekonomi-sosial Amerika saat ini.

Pada akhir pekan lalu website "Occupy Together," yang menjadi sarana komunikasi penghubung gerakan, mengkonfirmasi bahwa gerakan dan aksi-aksi demonstrasi akan dilakukan di lebih dari 1.000 kota, sebagai bentuk solidaritas terhadap gerakan "Duduki Wall Street".

Pada hari Kamis (6/10) para demonstran memulai aksi demo "October 2011" dengan menduduki Freedom Plaza, sebuah taman di dekat kantor kepresidenan, White House. Aksi serupa terjadi juga di kawasan bisnis di Washington DC. Di ibu kota Amerika ini aksi "Occupy DC" juga digelar oleh para demonstransi dari kalangan muda dengan menduduki kawasan McPherson Square.

"Kami ingin dihentikannya investasi melalui privatisasi. Kami ingin (pemerintah dan perusahaan raksasa) mulai memikirkan nasib 99% rakyat. Kami ingin uang kami diinvestasikan di sektor sosial dan kesejahteraan masyarakat," kata seorang demonstran.

Para aktifis gerakan menghimbau aksi-aksi pendudukan itu akan terus berlangsung meski di musihm dingin. Mereka membentangkan spanduk-spanduk yang di antaranya bertuliskan: "We are the 99 percent" untuk menunjukkan bahwa gerakan dilakukan oleh 99% rakyat Amerika di luar 1% orang-orang terkaya Amerika.


Sumber: almanar.com.lb; 10 Oktober 2011

Monday, 10 October 2011

ISRAEL CURI KITAB INJIL KUNO SYRIA


Dinas inteligen Israhell, Mossad, berhasil mencuri 11 kitab kuno Perjanjian Lama yang disimpan di Syria. Sebagian kitab kuno itu sudah berusia 1.000 tahun.

Koran Israel, Yedioth Ahronoth, Rabu (5/10), mengklaim bahwa orang-orang yahudi Israel sangat bangga dengan keberadaan kitab-kitab kuno tersebut dan siap untuk mengawal keberadaannya hidup mati. Keberadaan kitab-kitab kuno itu, kata mereka, juga membawa iklim baru yang lebih damai di Israel.

Kitab-kitab kuno itu yang disebut juga dengan "The Damascus Books" dianggap sebagai kumpulan kitab suci Perjanjian Lama paling kuno setelah "Aleppo Codex".

"Pemerintahan PM Yitzak Rabin memutuskan untuk membawa kitab-kitab itu ke Israel pada tahun 1995. Intitusi-institusi pertahanan, lembaga-lembaga pemerintahan serta para imigran dari Syria turut serta dalam operasi rahasia itu," tulis Yedioth Ahronoth.

Eliyahu Hasson, pimpinan masyarakat yahudi asal Syria yang kala itu menjabat sebagai Menteri Transportasi mengatakan, "Ini adalah operasi intelegen paling penting dimana kami berpartisipasi di dalamnya."

Namun begitu, orang-orang yang terlibat dalam operasi menyatakan bahwa operasi itu menelan biaya yang besar dan disupervisi langsung oleh para pejabat-pejabat tinggi Israel.

Menurut koran itu dalam perjalannya dari Syria ke Israel, kitab-kitab suci itu terlebih dahulu berpindah tempat ke New York, ke rumah komando Mossad di sana. Kitab-kitab suci itu ditempatkan di dalam kontainer berwarna abu-abu, tanpa ada yang menyangka di dalamnya berisi benda sangat bernilai.

"Sebagian dari kisah perjalanan kitab-kitab suci itu masih belum jelas, dan beberapa bagian di antaranya tidak bisa dipublikasikan," tulis Yedioth Ahronoth.

Sejak berada di Israel, kitab-kitab suci itu kini disimpan di Perpustakaan Nasional Givat Ram yang berada di kompleks kampus Hebrew University di Jerusalem. Rencananya kitab-kitab suci kuno itu akan dipamerkan hari Rabu malam (12/10) di hadapan orang-orang yahudi dari berbagai penjuru dunia.


Sumber:
"Israel Steals Eleven Holy Books from Syria"; almanar.com.lb; 7 Oktober 2011

DI AMBANG PINTU SERANGAN ISRAEL ATAS IRAN


Saat ini kemungkinan terjadinya serangan militer Israel atas Iran demi menghentikan program nuklir Iran sepertinya tidak bisa lagi dielakkan. Dengan pernyataan-pernyataan keras PM Israel Benjamin Netanyahu dan Menhan Ehud Barak serta Presiden Barack Obama yang membutuhkan dukungan komunitas yahudi dalam pemilihan presiden Amerika tahun depan, kemungkinan itu telah berada di tahap "ambang batas".

Awal minggu lalu media-media massa Israel memberitakan pertemuan rahasia antara Menhan Amerika dengan Menhan Israel, Ehud Barak, di Israel. Ini adalah pertemuan kedua mereka hanya dalam waktu 2 minggu terakhir. Pertemuan pertama di Washington, DC di mana kala itu Barak juga bertemu Direktur CIA David Petraeus. Menurut media massa Israel pertemuan tersebut membahas keinginan Israel menyerang Iran.

"Barak dan PM Benjamin Netanyahu dipercaya menginginkan serangan terhadap Iran, sementara Amerika telah kehabisan kata-kata untuk menyatakan keberatannya. Pendahulu Panetta, Robert Gates, telah berulangkali menyatakan keberatannya atas rencana serangan Israel dengan menyatakan serangan itu akan membawa konsekwensi besar."

“Admiral Michael Mullen, yang bulan lalu pensiun dari jabatannya sebagai kepala staffa gabungan, telah menyampaikan beberapa peringatan kepada Netanyahu yang mengklarifikasi penolakan Amerika atas serangan tersebut."

"Akhir-akhir ini pemerintahan Obama menahan diri dari pernyataan langsung terhadap kemungkinan serangan Israel," demikian tulis media massa terbesar Israel, Haaretz.

Pada tgl 26 September lalu Benjamin Netanyahu dalam sebuah wawancara televisi mengulang kembali perkembangan program nuklir Iran, dengan mengatakan bahwa "waktunya sangat pendek" sebelum Iran memiliki kemampuan membuat senjata nuklir dan menjadi ancaman serius keamanan Israel dan dunia.

Satu-satunya hal yang bisa membuat Israel menyerang Iran adalah keyakinan para pemimpin mereka bahwa Amerika akan berada di belakang mereka, terlebih lagi menjelang pemilu Amerika tahun depan yang membuat semua kandidat presiden mempertimbangakan serius dukungan etnis yahudi yang sangat kuat. Dan jika putusan sudah dibuat, Israel tidak akan memberitahukan siapapun, termasuk Amerika, sebelum melakukan serangan. Israel tidak akan memberi kesempatan presiden Amerika, misalnya, untuk meminta waktu mengkaji serangan Israel dengan para pembantunya. Dan sejarah sudah membuktikan, Amerika tidak pernah bisa menolak mendukung Israel, bahkan untuk suatu kebijakan yang sangat tidak populer seperti menyerang negara tetangga.

Para pemimpin Israel juga mengerti dengan apa yang dilakukan para pendahulu mereka menghadapi para Presiden Amerika. Jika tuntutan mereka dikabulkan Israel, mereka akan memberikan tuntutan yang lebih keras. Pada tahun 1980 PM Israel Menachem Begin dibuat marah dengan tuntutan Presiden Jimmy Carter untuk menyerahkan Sinai kepada Mesir. Begin kemudian berteriak-teriak kepada para pendukungnya, juga kepada orang-orang yahudi Amerika bahwa jika Carter terpilih lagi menjadi presiden, ia akan memaksa Israel mengakui kedaulatan Palestina. Orang-orang yahudi pun mengalihkan dukungannya kepada kandidat lain, Ronald Reagan yang akhirnya membuat Carter kalah.

Mereka kini berfikir, jika Obama dibiarkan memenangkan kursi kepresidenan untuk periode keduanya, ia akan merasa bebas bertindak atas Israel dan memperkeras tekannya kepada Israel untuk berdamai dengan Palestina dengan mengorbankan keinginan Israel.

Selain "hambatan Amerika" yang kini tampak melemah, Netanyahu dan Barak kini tidak lagi memiliki penentang dalam pemerintahan Israel. Sebagaimana dikatakan mantan direktur Mossad, Meir Dagan kepada pers beberapa waktu lalu, selama ini ia bersama kepala staff gabungan Letjend Azkenazi serta Direktur Sin Beth (dinas keamanan Israel), berhasil mencegah ambisi Netanyahu dan Barak untuk menyerang Iran yang dikatakan Meir sebagai "hal paling bodoh yang pernah didengarnya". Kini mereka bertiga sudah pensiun sehingga relatif tidak ada lagi halangan bagi ambisi Netanyahu dan Barak.

Sementara itu Yaakov Katz, koresponden senior Jerusalem Post, melaporkan:
"Kunjungan terakhir Leon Panetta ke Israel membawa misi mencegah Israel untuk menyerang Iran. Itu pada tahun 2009 saat ia menjabat sebagai direktur CIA. Minggu ini Panetta akan kembali detang ke Israel, sebagai menhan, dimana ia akan berdiskusi dengan Ehud Barak. Iran kembali akan menjadi agenda utama pembahasan. Apa yang akan ia dapatkan dalam pertemuan itu kemungkinan tidak akan menyenangkannya."

"Menurut beberapa analisis, peluang Israel menyerang Iran mungkin semakin besar. ... Panetta mungkin akan menggunakan kunjungannya untuk membujuk Israel untuk tidak menyerang... Ia mungkin juga ingin mendapatkan jaminan bahwa Israel tidak akan "mengejutkan" (menyerang tanpa pemberitahuan) Amerika," lapor Katz.

Menurut Katz, Panetta tidak akan bertemua Barak 2 kali dalam 2 minggu serta terbang ribuan mil ke Israel hanya untuk membicarakan sanksi atas Iran. "Saya mencium bau perang di udara. Demi Tuhan saya harap saya salah, karena ribuan orang akan tewas jika saya benar," tulis Katz.



Sumber:
"Haaretz: Panetta Arrives In Israel For ‘Urgent Consultations’ On Iran"; Richard Silverstein – Eurasia Review; 3 Oktober 2011 dalam thetruthseeker.co.uk; 5 Oktober 2011

Friday, 7 October 2011

SANG TERPILIH (RELOADED)


Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indungsia harus memainkan beberapa peran antagonis dalam percaturan politik Indungsia. Namun itu semua hanyalah bagian kecil dari konspirasi besar melemahkan Indungsia sebagai bangsa yang memiliki potensi kuat untuk menjadi bangsa yang kuat dan maju. Dengan kondisi sosial, politik, hukum dan ekonomi yang carut marut, akan membuat rakyat kehilangan kepercayaan pada institusi negara. Dan pada akhirnya rakyat akan putus asa dengan kehidupan yang baik sehingga rela menerima sebuah regim baru, yang tidak lain adalah regim kapitalis yahudi global yang dipenuhi dengan slogan-slogan indah namun sebenarnya menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan.

Peran antagonis pertama KPK adalah mengambangkan kasus korupsi Bank Centurion meski bukti-bukti sudah begitu gamblang terbuka di hadapan publik. Setelah setahun setengah lebih KPK menerima rekomendasi parlemen untuk menyidik dugaan kuat terjadinya korupsi kasus Bank Centurion, KPK terus saja berdalih kekurangan bukti untuk membawa terduga utama kasus ini, Wapres Budiloyo dan mantan menkeu Sri Mulyati yang kini menjadi pejabat tinggi IMF. Tentu saja, karena Budiloyo dan Sri Mulyati adalah kader tingkat tinggi "organisasi" di Indungsia.

Sebenarnya dalam kasus Bank Centurion ini terdapat satu hal misterius besar yang luput dari perhatian publik karena memang pers turut berperan memendam hal ini. Siti Fathimah, seorang deputi gubernur Bank Sentral yang menolak keras kebijakan talangan kepada Bank Centurion, secara misterius mengalami koma hingga kini. Ia memang sengaja disingkirkan agar tidak menghalangi "perampokan" dana masyarakat dan negara oleh Budiloyo dkk.

Peran antagonis kedua KPK adalah pengambangan kasus suap pemilihan deputi senior Bank Sentral. Aneh bin ajaib, dalam kasus ini KPK memenjarakan para penerima suap, namun terduga kuat penyuapnya, deputi senior Bank Sentral, Miranda Bir Tenan, tidak tersentuh hukum sama sekali. Lagi-lagi karena sang deputi senior adalah kader tinggi "organisasi".

Perang antagonis lainnya adalah pembangkangan KPK terhadap lembaga yang telah melahirkannya sekaligus lembaga perwakilan rakyat, lembaga konstitusional, yaitu parlemen. Inilah kurang ajarnya KPK, lembaga inkonstitusional sementara ini berani menolak panggilan konsultasi lembaga perwakilan rakyat.

KPK kini lebih sibuk menghambur-hamburkan uang rayat demi "menjual citra" daripada meningkatkan kinerja yang dinilai semakin tida memuaskan publik. Dan kini, KPK kembali memainkan peran antagonis: beberapa pajabat terasnya terlibat dalam pelanggaran etika. Namun lagi-lagi KPK membuat publik kecewa dan putus asa. Komite Etik yang dibentuknya membebaskan orang-orang tidak berintegritas itu dari sangkaan pelanggaran.

Setelah tersingkirnya ketua KPK terdahulu karena dijebak dalam kasus pembunuhan konspiratif oleh Subagyo dan mantan kapolri Karso Dhemit, kini KPK dipenuhi orang-orang oportunis dan munafik. Ketua Komite Etik bentukan KPK misalnya, Abdullah Hahehihua, adalah anggota sekte wahabi-salafiyun yang munafik. Suatu saat ia bersumpah tidak akan pernah mencalonkan diri menjadi ketua KPK karena, katanya, Islam melarang seseorang mencalonkan diri menjadi pejabat publik, kecuali dipilih. Kini ia adalah calon Ketua KPK paling ambisius yang sebelumnya menjalani proses pendaftaran oleh yang bersangkutan sendiri.

Dan Hahehihua tidaklah sekontroversi Chandra Kamsyah, wakil ketua KPK yang suka dugem dan bertemu orang-orang bermasalah di bar dan kafe. Kamsyah adalah menantu dari Nurcholik Mandjid, tokoh Islam liberal Indungsia. Mandjid telah meninggal beberapa tahun yang lalu setelah gagal menjadi calon presiden dari sebuah parpol besar yang dkenal publik sarat dengan koruptor. Ia menderita gagal ginjal setelah menjalani operasi cangkok ginjal di Cina. Konon ginjal cangkokannya berasal dari mayat pejabat komunis Cina yang dihukum mati karena korupsi. Akibat gagal ginjal itu menimbulkan dampak mengerikan, seluruh tubuhnya menghitam sebelum akhirnya meninggal. Orang-orang yang tidak suka padanya dengan gampang menuduhnya mengalami kutukan karena telah kafir dengan ajaran Islam liberalnya.

Namun semua itu tidak seheboh fakta ini jika saja masyarakat mengetahui: semua peralatan komunikasi dan inteligen KPK adalah buatan Israel, yang memungkinkan Mossad leluasa menyadap segala informasi yang diperoleh KPK. Meski dalam kasus ini KPK bukan satu-satunya lembaga yang menjadi "kuda troya" Israel, seperti Pusat Analisis Transaksi Keuangan dan komisi pemilu misalnya.

Sementara itu, di tengah kekacauan sosial, ekonomi dan politik yang melanda Indungsia akhir-akhir ini ada seorang menteri yang dengan gigih namun diam-diam terus melakukan korupsi. Sebagai menteri perdagangan ia mengobral ijin impor berbagai komoditas kontroversial demi mendapatkan fee yang sebanyak-banyaknya. Ia mengijinkan impor pesawat terbang dari Cina yang terbukti tidak layak terbang, Ia mengijinkan impor garam dapur yang membuat para petani garam lokal menangis karena garam buatannya tidak laku. Ia juga mengijinkan impor buah-buahan dan sayur-mayur dari Cina, negeri asal engkongnya, sehingga lagi-lagi para petani lokal mengangis.

Dan akhir-akhir ini Subagyo menghabiskan malam-malamnya dengan bertapa di salah satu ruangan di Istana Negara, memohon kepada Sang Hyang Widi agar memberkati istrinya menjadi calon penggantinya kelak.

BILA ISRAEL MARAH PADA NORWEGIA


Hubungan politik Israel dengan Norwegia sudah tidak harmonis jauh hari sebelum serangan teroris zionis di Norwegia yang menewaskan puluhan warga sipil bulan Juli lalu. Ketidak harmonisan itu pulalah yang diduga kuat menjadi latar belakang Mossad melancarkan operasi teror pembantaian massal melalui agennya, Anders Behring Breivik. Misalnya saja pada bulan Maret 2011, atau 4 bulan sebelum serangan teroris, pemerintah Israel dan kalangan yahudi se-dunia dibuat berang dengan pernyataan seorang anggoa parlemen Norwegia dari Partai Buruh yang berkuasa, yang menyatakan "holocoust" sebagai kebohongan. Namun daftar itu jauh lebih banyak lagi.

Pada bulan November 2010 pemerintah Israel juga dibuat berang dengan keikutsertaan pelajar-pelajar Norwegia yang dibiayai pemerintahan Kota Trondheim dalam acara pagelaran drama “Gaza Monologues” yang menggambarkan penderitaan anak-anak Gaza akibat pendudukan Israel. Drama yang ditulis oleh warga Palestina itu ditampilkan di markas besar PBB di New York. Selain itu serangkaian pameran seni "pro-Palestina" juga ditampilkan di Damaskus, Beirut dan Amman dengan dukungan penuh departemen luar negeri Norwegia. Dalam pameran itu di antaranya ditampilkan gambar-gambar anak-anak Palestina yang tewas di samping helm pasukan Israel yang menyerupai helm pasukan Nazi Jerman, yang berlumuran darah.

Norwegia juga turut membantu distribusi film dokumenter "Tears of Gaza” ke berbagai festival di seluruh dunia. Menurut Israel film tersebut dibuat secara tidak fair dengan mengabaikan Hamas, roket-roket yang ditembakkan ke Isreal, serta hak Israel untuk membela diri. Dalam film itu ditampilkan warga Gaza berteriak-teriak, "bunuh yahudi!" yang diterjemahkan Norwegia menjadi "bunuh Israel!"

Sebagai tambahan, buku yang ditulis oleh 2 orang dokter Norwegia yang berada di Gaza saat invasi Israel tahun 2008-2009 juga telah diterbitkan. Buku berjudul "Eyes in Gaza" itu menggambarkan kekejaman Israel di Gaza itu menjadi buku terlaris di Norwegia dan bahkan direkomendasikan oleh menlu Norwegia, Jonas Gahr Støre.

Kedubes Israel di Norwegia dengan keras memprotes keterlibatan pemerintah Norwegia dalam kampenya pendeskreditan Israel. "Pemerintah Norwegia selalu berbicara mengenai "pengertian" dan "rekonsiliasi", namun sejak perang Gaza Norwegia telah menjadi superpower dalam hal penyebaran multimedia yang ditujukan untuk mendelegitimasi Israel dengan menggunakan uang pajak yang dibayar rakyat."

Deputi Menlu Israel, Daniel Ayalon mengatakan dalam pertemuan dengan anggota parlemen Norwegia bahwa "kegiatan-kegiatan semacam itu telah membuang jauh kesempatan untuk rekonsiliasi dan telah merangssang radikalisasi di kalangan Palestina sehingga menolak untuk berkompromi."

Pemerintah Norwegia menanggapi kritik tersebut dengan mengatakan bahwa pemerintah mendukung kebebasan berekspresi dan tidak akan mengintervensi semua kegiatan seni, termasuk semua isi-nya.



Sumber:
"Israel: Norway inciting against us"; Itamar Eichner; 15 November 2010 dalam thetruthseeker.co.uk; 23 Juli 2011

TIKUS-TIKUS YAHUDI DI BALIK TRAGEDI WTC-911 (2)


Richard Perle

Dijuluki sebagai mata-mata kecil Israel yang cerdik, Perle menulis artikel: "A Clean Break: A New Strategy for Securing the Realm", yang mendorong pemusnahan etnis Palestina di wilayah pendudukan serta penggulingan penguasa Irak, IRan dan Syria (Irak sudah terwujud, Syria tengah dalam perjuangan, Iran mengalami kegagalan).

Pada tahun 1970-an ia dipecat sebagai staff Senator Henry Jackson’s setelah ketahuan menyelundupkan dokumen-dokumen rahasia Amerika ke Israel. Ia memiliki dua kewarganegaraan, Israel dan Amerika.


Paul Wolfowitz

Tokoh favorit orang-orang liberal idiot Indonesia, terutama saat masih menjabat sebagai dubes Amerika di Jakarta.

Ia adalah deputi menhan pada saat terjadi serangan WTC-911 dan tokoh utama kaum neocons yang berupaya mendorong dominasi militer Amerika untuk mendukung kepentingan Israel sembari menghancurkan negara-negara muslim yang "mbalelo". Ia menjadi arsitek utama invasi atas Irak tahun 2003.

Pada tahun 2004 menjadi terduga kasus mata-mata untuk Israel setelah salah seorang staff-nya, Larry Franklin, tertangkap menyerahkan data-data tentang Iran kepada Israel.

Terakhir ia terlibat skandal moral dengan menjalin hubungan istimewa dengan staff perempuannya saat menjabat sebagai Presiden Bank Dunia. Sebagaimana para zionis Amerika, ia memiliki 2 passport, Amerika dan Israel.


Douglas Feith
Sebagai deputi menhan bidang kebijakan, Feith membawahi 2 badan rahasia di bawah kementrian pertahanan, yaitu Counter Terrorism Evaluation Group serta Office of Special Plans. Misi utama kedua lembaga itu adalah mengkampanyekan informasi palsu tentang program senjata pemunah massal Irak untuk menjadi alasan Amerika menyerbu Irak, negara Arab terkuat yang berani melawan Israel.

Pada tahun 1997 ia mempublikasikan sebuah artikel panjang berjudul "A Strategy for Israel.” Pada tahun 1998, menjadi salah seorang pejabat publik Amerika yang menyurati presiden Clinton untuk menumbangkan Saddam Hussein. Saddam "diincar" kaum zionis terutama karena keberaniannya menembakkan rudal-rudalnya ke Israel dalam Perang Teluk I tahun 1990.

Feith menjadi salah seorang dari 18 pendiri organisasi "Satu Jerussalem" yang misinya menggagalkan Perjanjian Oslo yang ditandatangani Israel, Palestina dan Amerika. Perjanjian ini sebenarnya memberikan harapan bagi masyarakat seluruh dunia bahwa konflik Palestina-Israel akan berakhir. Dalam perjanjian itu Israel setuju meninggalkan seluruh wilayah Palestina yang diduduki, menghentikan pembangunan pemukiman yahudi di wilayah pendudukan, termasuk merundingkan status kota Jerussalem, kemungkinan dibagi dua masing-masing untuk Palestina dan Israel. Namun tidak lama setelah ditandatanginya perjanjian itu PM Israel Yitzak Rabin, yang dianggap bertindak di luar keinginan para elit yahudi internasional yang berkuasa di balik layar, tewas dibunuh. Sejak itu para pemimpin Israel membuang perjanjian Oslo ke "tong sampah".

Kembali ke Douglas Feith, ia juga menjadi direktur Foundation for Jewish Studies. Sama seperti teman-temannya sesama penganut aliran neo konservatif (neocons), Feith pernah terlibat skandal mata-mata untuk kepentingan Israel. Pada tahun 1976 ia dipecat dari jabatannya di Dewan Keamanan Nasional karena skandal itu. Ia juga memiliki kewarganegaraan ganda, Israel dan Amerika.


Phillip Zelikow

Zionis yahudi Amerika ini diangkat menjadi Direktur Eksekutif Komisi 9/11. Ia-lah yang paling bertanggungjawab atas pembuatan laporan penyidikan tragedi WTC yang dipenuhi dengan kebohongan yang luar biasa, termasuk tidak disebutkannya keruntuhan gedung WTC 7 yang tanpa ada sebab akibat jelas.

Zelikow adalah "orang dalam" pemerintahan presiden George "Dubya" Bush, Jr. yang menjadi anggota tim persiapan pemerintahan George Bush, Jr pada awal tahun 2000. Antara tahun 1989-91 Zelikow bergabung bersama Condaleeza Rice dalam Dewan Keamanan Nasional (lembaga inskonstitusional yang memiliki pengaruh sangat besar) dan pada tahun 1995 mereka berdua menulis buku bersama. Antara tahun 1996-98 Zelikow menjadi Direktur Aspen Strategy Group, sebuah lembaga think tank, yang anggotanya antara lain adalah Condaleeza Rice (sebagaimana para zionis wanita lainnya, ia seorang lesbian), Dick Cheney dan Paul Wolfowitz.

Berdasarkan catatan wikipedia, Zelikow menyebut dirinya sebagai ahli dalam bidang pembuatan mitos-mitos publik atau "public presumptions":

“Prof. Zelikow’s area of academic expertise is the creation and maintenance of, in his words, ‘public myths’ or ‘public presumptions’ which he defines as ‘beliefs (1) thought to be true (although not necessarily known with certainty) and (2) shared in common within the relevant political community.’ In his academic work and elsewhere he has taken a special interest in what he has called ‘searing’ or ‘molding’ events (that) take on ‘transcendent’ importance and therefore retain their power even as the experiencing generation passes from the scene. . . . He has noted that ‘a history’s narrative power is typically linked to how readers relate to the actions of individuals in the history; if readers cannot make the connection to their own lives, then a history may fail to engage them at all.”

Pada tahun 1998 Zelikow menulis sebuah paper bersama mantan direktur CIA yang juga seorang yahudi, John M. Deutch berjudul “Catastrophic Terrorism” dimana mereka menyampaikan sebuah visi tentang sebuah "peristiwa yang membawa perubahan", "mirip seperti tragedi Pearl Harbour yang akan membagi masa lalu dan masa depan menjadi sebelum dan sesudah" serta "membuat perspektif baru dalam kebijakan politik Amerika". Ia menulis:

“…akibat dari horor dan kekacauan yang melampaui kemampuan kita untuk mendeskripsikannya. Seperti bencana terorisme yang mengubah sejarah Amerika. Ini mencakup korban nyawa dan harta benda yang tidak pernah terjadi dalam sejarah, yang menghancurkan perasaan aman warga Amerika, seperti percobaan nuklir Uni Sovyet tahun 1949. Sebagaimana Pearl Harbor, kejadian itu akan membagi masa lalu dan masa depan kita menjadi sebelum dan sesudah. Pemerintah akan meresponsnya dengan menerapkan kebijakan "draconian" mencabut kebebasan sipil, mengijinkan dilakukannya kegiatan mata-mata kepada seluruh warga negara, penahanan para tersangka dan penggunaan kekuatan bersenjata yang mematikan."

Dan kini, secara "ajaib" segalanya berjalan sebagaimana diharapkan Zelikow. Setelah tragedi WTC, pemerintah dan Congress setuju menerapkan UU Patriot Act yang sangat facsis. Tidak hanya itu, Amerika juga telah merencanakan menerapkan UU Real ID Act yang mewajibkan seluruh warganegara dipasangi chip yang memungkinkan aparat keamanan mengontrol keberadaan seluruh warga negara, setiap saat.

Tidak hanya itu, sebagai "ahli rekayasa persepsi publik" yang menjabat sebagai Direktur Komisi Penydik Tragedi WTC, ia berhasil memoles tragedi WTC dari sebuah operasi inteligen biadab antara pemerintah Amerika dan Israel, menjadi kejahatan Al Qaida dan teroris muslim.

Kebusukan Zelikow kemudian terungkap saat ia mengaku dengan jujur bahwa invasi Amerika dan sekutunya ke Irak adalah untuk melindungi keamanan Israel.



CATATAN BLOGGER: Banyaknya para zionis Amerika yang tertangkap karena menjadi mata-mata Israel, meski kemudian dilepas kembali kecuali Jonathan Pollard, menunjukkan masih adanya "perlawanan" dari sebagian aparat inteligen Amerika non-zionis, terhadap dominasi yahudi.

(Berambung)

Thursday, 6 October 2011

SALING SERANG IRAN-AL QAIDA


Tanya : Al Qaida punya majalah sendiri?
Jawab : Ya. Memangnya kenapa?
Tanya : Bagaimana mungkin. Organisasi mereka dimusuhi orang di mana-mana, di dunia barat bahkan di dunia muslim. Orang-orang mereka dikejar-kejar aparat keamanan di mana-mana. Bagaimana mungkin bisa menerbitkan majalah?
Jawab : Ya, begitulah. Al Qaida memang hebat.
Tanya : Bagaimana bentuk majalahnya?
Jawab : Ini.
Tanya : Tampak tidak seperti majalahnya orang-orang Islam radikal. Lebih mirip majalahnya orang-orang liberal idiot model barat. Lihat nama majalahnya, "Inspire" dan judul artikel utamanya di bawah gambar cover Osama bin Laden, "Sadness, Contentment and Aspiration", sangat tidak Islami, jauh dari model majalah dengan misi Islam sebagaimana diklaim Al Qaida.
Jawab : Ya begitulah, Al Qaida memang hebat.



Tuduhan-tuduhan Iran bahwa Tragedi WTC-911 adalah kejahatan konspirasi Amerika membuat gerah kelompok Al Qaida. Tentu saja, karena tuduhan itu jika diterima masyarakat berarti menghancurkan eksistensi Al Qaida yang dituduh, dan juga mengklaim diri, sebagai pelaku serangan teroris tersebut, meski banyak ahli dan juga blogger sendiri percaya Al Qaida hanya alat bagi Israel-Amerika untuk menjustifikasi kampanye "perang melawan terorisme" yang tujuan akhirnya menghancurkan musuh-musuh Israel.

Fakta bahwa Al Qaida bermakna "toilet", adalah sebuah kejanggalan bagi sebuah kelompok yang mengklaim sebagai pejuang Islam, kecuali kelompok itu justru dibentuk oleh musuh-musuh Islam.

Baru-baru ini majalah terbitan Al Qaida bernama "Inspire" mengeluarkan pernyataan yang menyerang Presiden Iran Ahmadinejad. Menurut editorial majalah ini tuduhan-tuduhan yang sering dilontarkan Ahmadinejad tentang kejahatan konspirasi Amerika-Israel di balik Tragedi WTC adalah disebabkan Iran "cemburu" terhadap Al Qaida.

"Bagi Iran, Al Qaida adalah kompetitor dalam memperebutkan simpati masyarakat muslim di seluruh dunia. Al Qaida berhasil melakukan hal yang tidak bisa dilakukan Iran. Itulah sebabnya Iran sengaja mendiskreditkan WTC-911, dan cara apa paling ampuh untuk mencapai hal itu? Teori konspirasi," tulis Inspire.

Majalah "Ispire" berisi berbagai isu terkait terorisme dan "jihad", termasuk berbagai "kiat" melakukan serangan terorisme. Salah satu artikel dalam edisi terbaru Inspire berjudul "Bagaimana membuat bom di dapur Ibu Anda?". Saat tidak mengajarkan terorisme majalah ini menampilkan artikel-artikel bernada anti-barat, sebagian ditulis oleh para pemimpin teroris. Blogger tidak tahu, karena memang tidak pernah melihat majalah tersebut, apakah Abu Bakar Ba'asyir, Umar Pathek dan "tokoh-tokoh teroris Indonesia" sebagaimana sering dituduhkan kepada mereka, pernah tertulis namanya di majalah itu. Edisi terakhir Inspire juga menampilkan eulogy tentang Osama bin Laden dengan judul "Sadness, Contentment and Aspiration".

Menanggapi "serangan" Al Qaida itu Ahmadinejad melakukan serangan balik. Menurutnya Inspire dijalankan oleh agen-agen CIA dan Mossad, bukan para pejuang Islam.



Sumber:

"Iran Fires Back at Al Qaeda With Another CIA Conspiracy", thetruthseeker.co.uk, 30 September 2011

1983, KEKALAHAN MEMALUKAN AMERIKA DI LEBANON


Tahun 1983 adalah tahun kemenangan Israel yang sangat gemilang. Menyusul invasinya terhadap Lebanon tahun 1982, Israel sukses mengusir musuh yang memusingkannya dengan berbagai serangan ke Israel, gerilyawan PLO, dari Lebanon. Tidak hanya itu, Israel juga sukses memaksa pemerintah Lebanon yang dipimpin pemimpin oportunis, Presiden Amin Gemayel, menandatangani perjanjian damai yang memberi hadiah Israel sebagian besar wilayah Lebanon sebagai wilayah pendudukan. Dan selanjutnya, demi menjaga kemenangan itu, Amerika dan Perancis mengirimkan pasukannya dengan kedok "penjaga perdamaian PBB".

Namun kemenangan itu buyar seketika setelah Amin Gemayel dibom oleh rakyatnya sendiri yang kecewa kepadanya. Hancurnya kemenangan Israel itu semakin besar setelah barak pasukan Amerika dan Perancis dibom oleh pejuang Lebanon yang menimbulkan korban militer sangat besar sehingga memaksa kedua negara menarik pasukannya dari Lebanon. Dan seolah kesialan yang terus menimpa, para pejuang Lebanon di bawah "kepemimpinan" Hizbollah berhasil mengusir Israel dari sebagian besar wilayah Lebanon yang diduduki.

Pemboman barak pasukan Amerika dan Perancis di Beirut, Lebanon, terjadi tgl 23 Oktober 1983, saat dua buah truk bermuatan bom menerobos barak kedua pasukan yang berada di tempat terpisah. Serangan beruntun itu menewaskan 299 pasukan Amerika dan Perancis. Organisasi Jihad Islam mengklaim sebagai pelaku pemboman.

Korban di barak militer Amerika adalah 220 marinir, 18 personil AL dan 3 pasukan AD ditambah 50 pasukan lainnya mengalami luka-luka. Sejak perang Iwo Jima dalam Perang Dunia II, serangan itu menjadikan korban terbesar korps Marinir Amerika dalam sehari operasi militer dan menjadi serangan mematikan terbesar terhadap pasukan Amerika sejak Perang Dunia II. Kekuatan ledakan yang menghancurkan barak militer Amerika itu setara dengan kekuatan ledakan 5.400 kg TNT.

Sementara dalam serangan terhadap barak pasukan Perancis, dua menit setelah serangan di barak militer Amerika, 58 pasukan payung Perancis tewas dan 15 lainnya mengalami luka-luka, menjadikannya serangan paling mematikan terhadap pasukan Perancis sejak Perang Kemerdekaan Aljazair.

Meski dibantah oleh pemerintah Amerika dan Perancis, tidak bisa dipungkiri serangan itu menjadi penyebab ditariknya pasukan kedua negara di Lebanon.

Para pengamat percaya, serangan tersebut disebabkan oleh kebencian rakyat Lebanon kepada pasukan asing Amerika dan Perancis. Kebentian itu terutama melanda kaum Muslim dan Druze (satu sekte agama yang menggabungkan keyakinan Islam dan Kristen, banyak terdapat di Lebanon), terlebih lagi kaum Muslim Shiah yang kebanyakan tinggal di daerah Beirut Barat dan sekitar airport tempat di mana markas pasukan asing itu berada.

Mereka melihat dengan jelas "pasukan perdamaian" itu sama sekali tidak membawa perdamaian. Mereka turut campur dalam pertempuran dalam Perang Sipil yang tengah berkecamuk di Lebanon, dengan memihak kepada kelompok-kelompok pasukan pro-Israel, seperti milisi Maronite Katholik. Kebencian itu semakin memuncak setelah pasukan Armada VI Amerika menembakkan bom-bomnya ke kawasan ke kawasan milisi anti-Israel di pegunungan Shuf, menewaskan banyak warga sipil Lebanon. Pasukan Perancis juga tidak kalah agresif. Sebulan sebelum serangan atas barak militer Amerika dan Perancis, pasukan Perancis melakukan serangan udara besar-besaran atas kawasan Lembah Bekaa.

Hal ini sebenarnya menimbulkan kekhawatiran di kalangan perwira Amerika yang berfikir sportif, bahwa Amerika tidak lagi dipercaya sebagai "pasukan perdamian" dan lebih berperan sebagai "pasukan pendudukan", sehingga memicu serangan balasan.

Pemimpin gerakan Amal Shiah, Nabih Berri, yang awalnya mendukung kehadiran pasukan perdamaian asing, meminta Amerika dan Perancis meninggalkan Lebanon dan menuduh mereka telah melakukan pembantaian terhadap warga sipil Lebanon serta menciptakan "iklim kekerasan" terhadap warga Shiah. Kelompok Jihad Islami mengancam pasukan keamanan internasiongl, bahwa "bumi akan bergetar kecuali pasukan asing meninggalkan Lebanon pada tahun baru 1984."

Dibutuhkan waktu berhari-hari bagi upaya evakuasi korban pemboman, karena para pekerja penyelamat terus mendapat serangan dari penembak-penembak jitu lokal. Seorang penembak jitu itu di antaranya adalah seorang gadis remaja berumur 18 tahun yang akhirnya tewas ditembak pasukan keamanan. Para korban pemboman selanjutnya diterbangkan ke kapal USS Iwo Jima yang berlabuh di lepas pantai Lebanon. Sebagian lainnya diterbangkan ke rumah sakit militer Inggris di Cyprus dan rumsah sakit militer Amerika di Jerman.

Setelah pemboman itu beberapa kelompok Muslim Shiah mengklaim sebagai pelaku serangan. Salah satunya, Free Islamic Revolutionary Movement, bahkan memberikan identitas pelaku serangan, yaitu Abu Mazen dan Abu Sijaan.

Setelah bertahun-tahun penyidikan, Amerika menyimpulkan serangan tersebut dilakukan oleh kelompok Hizbollah yang kala itu masih berupa gerakan bawah tanah. Hizbollah dengan dukungan Syria dan Iran juga dianggap bertanggungjawab atas serangan terhadao kedubes AS di Beirut, bulan April 1983. Hizbollah baru mendeklarasikan diri sebagai sebuah organisasi pada tahun 1985. Baik Hizbollah maupun Iran serta Syria menolak tuduhan itu.

Pada tahun 1985 sebuah pengadilan Amerika secara diam-diam menjatuhkan hukuman kepada Imad Mughniyah, pemimpin Hizbollah, sebagai dalang serangan atas barak militer Amerika dan Perancis. Mughniyah meninggal tahun 2008 di Damaskus dalam sebuah serangan bom mobil yang diduga kuat dilakukan Mossad dan CIA.

Penulis Lebanon, Hala Jaber mengklaim Iran dan Syria terlibat dalam serangan dengan memberikan bantuan kepada tersangka, Imad Mughniyeh dan Mustapha Badredeen. Jaber menulis:

"Imad Mughniyeh dan Mustapha Badredeen menjadi pelaku operasi yang didukung Syria dan Iran. Mughniyeh adalah orang yang pernah mendapat latihan dari satuan Force 17 PLO. Misi mereka adalah mengumpulkan informasi dan rincian tentang kedubes Amerika dan merancang sebuah rencana untuk menjamin maksimalnya dampak serangan tanpa meninggalkan jejak. Pertemuan-pertemuan digelar di kedubes Iran di Damaskus. Mereka terkadang ditemui oleh dubes Iran untuk Syria, Hojatoleslam Ali-Akbar Mohtashemi, yang memainkan peran penting dalam pembiayaan Hizbollah. Dengan bantuan beberapa pejabat senior inteligen Syria, rencana akhir disiapkan. Kendaraan dan bahan peledak disiapkan di Lembah Bekaa yang berada di bawah pengawasan pasukan Syria."

Banyak analis yang percaya Iran memegang peran kunci dalam serangan tersebut. Motivasinya adalah balasan terhadap dukungan Amerika kepada Irak dalam Perang Iran-Irak yang berlangsung sejak tahun 1980 hingga 1988. Kala itu Amerika baru saja memberikan kredit pembelian senjata kepada Irak senilai $2.5 miliar, dan pada saat yang sama membekukan penjualan senjata ke Iran. Beberapa minggu sebelum serangan Iran memperingatkan Amerika bahwa tindakan mempersenjatai musuk Iran akan mendapat balasan setimpal.


RESPON AMERIKA
Amerika telah melakukan tindakan "pengecut" dengan membunuhi warga sipil Lebanon hingga menyebabkan serangan terhadap pasukannya yang mematikan. Namun menanggapi serangan itu Amerika melakukan tindakan tidak kalah "pengecut". Setidaknya para pejuang Lebanon telah melakukan serangan terhadap sasaran militer, tidak seperti Amerika dan Perancis.

Sebagai respon atas serangan tersebut AL Amerika melakukan pemboman besar-besaran ke wilayah Pegunungan Shauf tgl 9 Januari 1984, termasuk dengan menggunakan kapal penjelajah terbesar di dunia kala itu, USS New Jersey. Pada tgl 8 Februari USS New Jersey menembakkan hampir 300 bom ke posisi milisi Druze dan tentara Syria di Lembah Bekaa, Beirut Timur. Ini adalah pemboman laut besar-besaran Amerika sejak Perang Korea, menewaskan ratusan warga Lebanon, kebanyakan Shiah dan Druze.

Perancis juga melakukan serangan terhadap posisi yang dicurigai sebagai lokasi pasukan Pengawal Revolusi Iran di Lembah Bekaa. Pasukan elit Iran itu memang secara diam-diam diterjunkan ke Lebanon, terutama membantu milisi Hizbollah dan Amal Shiah sekutunya. Presiden Amerika dan Perancis juga telah menyetujui serangan terhadap kediaman tokoh Shiah Sheik Abdullah di Baalbek serta lokasi-lokasi milisi Shiah dan Pengawal Revolusi Iran. Namun menhan Casper Weinberger berhasil mencegah keputusan itu, khawatir dengan pembalasan Iran dan Syria mengingat keterlibatan mereka atas serangan barak militer Amerika-Perancis masih belum bisa dipastikan.

Sebelumnya pada bulan Desember 1983, pesawat-pesawat tempur Amerika dari kapal induk USS John F. Kennedy dan USS Independence melakukan serangan terhadap posisi pasukan Syria.

Selain itu dinas inteligen Amerika, CIA, juga melakukan aksi balas dendam sendiri. Pada tgl 8 Maret 1985, sebuah truk berisi bom meledak di Beirut, membunuh lebih dari 80 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya, hampir semuanya warga sipil. Ledakan terjadi di dekat blok apartemen tempat tinggal Sheikh Mohammad Hussein Fadlallah, seorang ulama Shiah yang dianggap sebagai pemimpin spiritual Hizbollah. Meski dibantah Amerika, serangan itu diyakini publik sebagai serangan terorisme CIA.

Fadhallah mengatakan, "Mereka mengirimi saya surat dan saya mendapatkan pesan mereka, dan sebuah tanda di bekas bangunan yang hancur bertuliskan: buatan Amerika."

Robert Fisk, seorang wartawan senior, juga mengklaim agen CIA-lah yang telah meletakkan bom dan bukti-bukti keterlibatan itu dituliskannya di sebuah artikel di koran Washington Post.



PENARIKAN PASUKAN AMERIKA
Takut menghadapi serangan susulan terhadap pasukannya, Amerika segera menarik pasukannya dari Beirut dan memindahkannya ke atas kapal-kapal perang di lepas Pantai Lebanon. Pada tgl 7 Februari 1984, Presiden Reagan memerintahkan pasukan Marinir memulai penarikan dari Lebanon yang selesai dilakukan pada tgl 26 Februari 1984. Empat bulan kemudian seluruh pasukan perdamaian internasional ditarik dari Lebanon.

Di sisi lain, mundurnya Amerika dari Lebanon setelah serangan atas barak militernya justru meningkatkan citra Hizbollah. Meski Hizbollah secara resmi menolak terkait serangan tersebut, namun tampak di mata publik sebagai pelakunya, setidaknya setelah kelompok ini memuji-muji "dua martir mujahidin yang telah menimbulkan kerugian hebat bagi Amerika, yang tidak pernah dialami Amerika sejak Perang Vietnam". Hizbollah dianggap sebagai "ujung tombak perjuangan jihad muslim menentang pendudukan asing."



MALANGNYA AMERIKA
Penderitaan Amerika akibat serangan tersebut semakin parah setelah menyadari bahwa Israel, sekutu utama yang mana Amerika berkubang darah membelanya di bumi Lebanon, tidak membagi informasi intelegennya yang bisa mencegah serangan itu terjadi.

Tentu saja Israel membantah tuduhan tersebut. Namun sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan inteligen internasional bahwa Israel tidak bisa dipercaya dalam kerjasama inteligen. Sebagaimana dikatakan mantan menhan Amerika Robert Gates belum lama ini bahwa Israel adalah "sekutu yang buruk" yang "pelit dalam membagi informasi inteligen".

Casper Weimberger sekalu menteri pertahanan kala itu, hingga sekarang tidak mengetahui pasti pelaku serangan atas barak militer Amerika dan Perancis tahun 1983. Dalam sebuah wawancara tahun 2001 ia mengatakan, "Kita masih belum memiliki pengetahuan nyata tentang pelaku pemboman itu."

Mantan agen Mossad, Victor Ostrovsky, dalam bukunya yang sangat terkenal, "By Way of Deception" menyatakan bahwa Mossad sebenarnya mengetahui informasi mengenai rencana serangan tersebut, namun mereka sangaja menyembunyikan informasi itu dan tidak membaginya dengan inteligen Amerika. Menurut Victor pimpinan Mossad kala itu, Nahum Admoni menganggap tidak perlu membagi informasi kepada Amerika karena kewajiban Mossad hanya melindungi kepentingan Israel, bukan Amerika. Lebih jauh Victor menambahkan bahwa di kalangan perwira intel Israel terdapat pandangan bahwa, "jika Amerika telah memutuskan untuk terjun di Lebanon, maka biarkanlah merasakan sendiri pahitnya."

Untuk memahami hal ini memang diperlukan pengetahuan mengenai kharakter dan watak orang-orang yahudi. Dengan kecerdasan dan kekuasaannya yang dimiliki, orang-orang yahudi memang cenderung tidak menghargai orang lain (non yahudi), bahkan termasuk terhadap sekutu terpercayanya sekalipun. Terkadang hal itu menjadi "keisengan" mereka untuk mempermainkan orang lain, hanya untuk menunjukkan keunggulan mereka atas orang lain.

Maka kita bisa menyaksikan dedengkot Al Qaida Ayman Al-Zawahiri berpose di depan kain bermotif simbol negara Israel, Bintang Daud. Boleh jadi itu ketidak sangajaan. Namun sangat boleh jadi itu memang kesengajaan orang-orang Mossad untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka-lah yang sebenarnya pengendali segalanya.


Sumber: "1983 Beirut barracks bombing"; Wikipedia.