Sunday, 28 June 2009

Mengapa Nixon Diimpeach?


Pada bulan Februari 1973 Israel menembak jatuh pesawat penumpang sipil milik meskapai penerbangan Libya yang secara tidak sengaja memasuki wilayah pendudukan Israel. Insiden itu menewaskan seluruh penumpang dan awaknya yang berjumlah 114 orang dan menimbulkan kemarahan masyarakat dunia kepada Israel, termasuk Amerika.

Atas tindakan "bodoh" tersebut Presiden Amerika saat itu, Richard M. Nixon mengungkapkan kekecewaannya kepada sahabatnya, pendeta evangelical Billy Graham, dan menyatakan tidak akan lagi memberikan dukungan kepada Israel. Tidak hanya itu, ia bahkan merencanakan untuk membangkitkan sentimen anti-semit di Amerika.

“Dengan tindakan ini, mereka kehilangan seluruh dukungan dukungan yang mereka dapatkan selama ini. Kitalah satu-satunya kawan mereka sekarang. Oh (peristiwa ini) sangat menyedihkan," kata Nixon.

Selanjutnya terjadilah sebuah percakapan antara Nixon dan Graham yang pada saat itu apalagi dalam konteks saat ini, dianggap sangat anti-semit. Graham membeberkan kejahatan-kejahatan Israel, khususnya terhadap ummat Kristen. Graham yang saat itu berumur 54 tahun membeberakan rencana jahat Israel untuk mengusir orang-orang kristen dari wilayah yang dikuasai Israel serta upaya-upaya sistematis yahudi untuk memisahkan agama kristen dari kehidupan sosial masyarakat Amerika.

"Mereka menyerang langsung ke gereja. Ada gejala-gejala yang jelas dirasakan di wilayah-wilayah dimana mereka telah mendapatkan dukungan," kata Graham.

Nixon membalas, "Apa yang menjadi perhatian saya adalah jauh di dalam negeri ini terdapat perasaan sentimen anti-semit yang sangat tinggi dan yang harus dilakukan hanyalah membangkitkannya."

Selanjutnya Graham menyinggung tentang upaya sistematis yahudi menyebarkan pornografi. Ia juga menyinggung tentang "gereja setan" yang disebut-sebut dalam injil yang menurutnya merujuk kepada sinagog yahudi.

Kita semua mengetahui bagaimana Presiden Nixon jatuh dari kekuasaannya. Telepon pribadinya disadap, rekamannya dikirim ke koran milik zionis yahudi Washington Post, dipublikasikan, terjadi kampanye besar-besaran anti Nixon, Congress mengancam mengimpeach, Nixon pun mundur.

Inilah Amerika. Sebuah kejahatan besar yang mengancam keamanan nasional dan diancam hukuman mati (penyadapan telepon presiden) justru digunakan untuk menurunkan sang presiden dari kekuasaan yang diperolehnya secara demokratis. Ironi ini sama dengan tewasnya John F. Kennedy di hadapan mata ribuan rakyat Amerika dan hingga saat ini belum diketahui jelas motif di belakang pembunuhan keji tersebut.

(Catatan: Presiden Clinton dalam kesaksiannya pada kasus Monica Lewinski juga pernah mengeluh tentang penyadapan di kantornya yang tidak bisa dihentikannya).

Rekaman percakapan antara Nixon dan Graham yang sebenarnya merupakan dokumen rahasia negara ini baru-baru ini muncul di media-media massa dan menimbulkan kontroversi baru. Kali ini Billy Graham lah yang menjadi korbannya.

"Rekaman percakapan itu hanya memperkuat keyakinan kami mengenai sosok berpengaruh namun telah retak, yang sangat dalam terinfeksi perasaan anti-semit sehingga tidak lagi bisa merasakannya," kata Abe Foxman, Direktur Anti Defamation League, sebuah LSM yahudi Amerika yang sangat berpengaruh, merujuk kepada Nixon, presiden ke 37 Amerika yang dikenal anti-semit.

"Menarik juga informasi itu menyangkut anti-semitisme Billy Graham. ... Meski tidak pernah menyampaikan perasaan anti-semitnya secara terbuka, Billy Graham tidak dapat dipungkiri merupakan cerminan kepalsuan anti-semitisme klasik."

Melalui juru bicaranya Billy Graham membantah pernyataan tersebut. Kepada USA Today, Rabu (24/6) Billy Graham mengatakan dirinya tidak pernah memiliki perasaan anti-semit dan pernyataannya harus dilihat dalam konteks pembicaraan dengan presiden. Mengenai "gereja setan" Graham mengatakan hal itu tidak menunjuk kepada yahudi secara khusus, melainkan orang-orang yang tidak menjalankan nilai-nilai tradisi yahudi.

Kasus anti-semit yang menimpa Graham bukan yang pertama kali. Pada tahun 2002 (lagi-lagi) rekaman pernyataannya pada tahun 1972 yang dianggap berbau anti-semit muncul ke permukaan. Akibatnya Graham harus membuat pernyataan permohonan maaf secara terbuka kepada publik.

Apa yang dikatakan Billy Graham pada tahun 1972 itu? Hanyalah keluhan tentang dominannya pengaruh yahudi di media massa Amerika.

Kematian Michael Jackson dan Teori Konspirasi


"Orang mungkin menolak perkataan saya dan menganggap saya sebagai orang tua yang gila. Namun berdasar pada berbagai peristiwa yang terjadi saat ini di Timur Tengah dan juga peristiwa-peristiwa lainnya yang mungkin bakal terjadi dalam waktu dekat, saran saya adalah: jika ada waktu sejenak orang-orang mau menghentikan menonton pertunjukan Britney Spears, Desperate Housewives dan pertunjukan sepakbola dan mendengar, mendengar dengan serius peristiwa-peristiwa yang telah terjadi karena peristiwa-peristiwa itu akan terjadi dan terjadi lagi. Karena, seperti kata pepatah, macan tidak akan pernah kehilangan belangnya".

(Phil Tourney, awak kapal perang Amerika USS Liberty yang selamat dari serangan mematikan pasukan Israel di Laut Tengah tahun 1967)



Sekali lagi dunia kehilangan seorang superstar dengan meninggalnya Michael Jackson, Jumat (26/6) lalu. Dan sekali lagi perhatian dunia tercurah kepada sesosok manusia populer dan melupakan persoalan-persoalan serius yang tengah melanda dunia: peperangan-peperangan, kemiskinan, kelaparan, kriminalitas, kerusakan lingkungan, keruntuhan moral dan persoalan-persoalan lain yang semakin lama semakin berat. Semuanya itu sengaja diciptakan oleh sekelompok orang jahat yang berusaha untuk menguasai dunia.

Jangan bilang saya berhalusinasi, meracau atau penganut teori konspirasi karena kalau demikian Anda juga menuduh orang-orang bijak dan para nabi sebagai peracau. Bukankah agama-agama dunia mengajarkan adanya kekuatan jahat yang selalu berusaha menyesatkan manusia serta adanya kehancuran dunia yang disebabkan perang akhir jaman? Bukankah dalam agama kristen terdapat keyakinan adanya figur jahat penyebar fitnah besar dunia yang dikenal sebagai anti-Christ? Dan bukankah agama Islam juga mengajarkan adanya Dajjal yang menyesatkan sebagian besar umat manusia sebelum dibunuh oleh Isa Al Masih dalam perang besar akhir jaman. Dan kalau Anda masih menganggap saya meracau, coba jawab pertanyaan saya: mengapa mata uang dollar memuat simbol paganisme kuno berupa piramid dan biji mata?

Michael Jackson pernah mengatakan kepada teman dekatnya melalui telepon yang tersadap dan sempat beredar di publik, bahwa dirinya menjadi korban konspirasi yahudi yang telah menjungkalkan kariernya sedemikian hebat. Semua itu dimulai dengan kasus hukum yang menimpanya berkaitan dengan kontraknya dengan produser rekaman raksasa Sony. Selanjutnya masalah berganti masalah terus menimpa dirinya termasuk kasus tuduhan pelecehan seksual terhadap anak-anak. Semua itu menghabiskan energinya, termasuk hartanya sehingga property paling berharga miliknya, Neverland, dijualnya. Bahkan setelah ia mengasingkan diri ke Arab, persoalan hukum terus mengejarnya. Terakhir ia berperkara dengan seorang pangeran Arab menyangkut kontrak kerjasama produksi musik. Dikabarkan saat meninggal, Jacko masih meninggalkan setumpuk hutang.

Pada saat yang sama Michael Jackson dikabarkan telah tertarik pada Islam dan diam-diam telah memeluk agama ini sebagai keyakinannya.

Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kekuatan jahat yang tengah menjerumuskan dunia dalam kebinasaan, bekerja tanpa diketahui masyarakat. Tentu saja demikian, karena kalau tidak maka mereka tentu akan mengalami kesulitan sebagaimana kelompok rahasia Illuminati mengalami kehancuran karena terbongkar rahasianya dan diberangus oleh penguasa Bavaria (Jerman) pada abad 19.

Selain menjaga kerahasiaan, mereka juga pandai menciptakan pengalihan perhatian (deception). Contohnya ketika masyarakat intelektual mulai mempertanyakan tentang motif di balik Tragedi WTC yang tidak bisa dijelaskan oleh versi pemerintah, mereka memunculkan Michael Moore (pembuat film Fahrenheit dan penulis buku "Stupid White Men") untuk mengalihkan kecurigaan pelaku Tragedi WTC kepada keluarga George W. Bush yang sebenarnya hanyalah operator belaka.

Adapun untuk masyarakat umum kebanyakan, pengalihan perhatian yang mereka lakukan adalah dengan menciptakan budaya pop, hedonisme, materialisme dlsb. Dengan sebagian besar manusia terobsesi dengan hal-hal yang populer, selebritis, dan simbol-simbol materi lainnya, mereka melupakan hakikat sebenarnya penciptaan manusia di bumi untuk beribadah kepada Tuhan, menebarkan kebaikan kepada sesama dan mencegah terjadinya kejahatan.

Dan lihatlah apa yang terjadi di dunia saat ini dimana kebudayaan pop sudah menjadi budaya global. Orang masih sibuk membahas sepakbola, model rambut Britnesy Spears, atau film terbaru James Bond pada saat rakyat Palestina, Irak, Afghanistan, Kashmir, Somalia dan rakyat di belahan dunia lainnya dilanda peperangan dan kelaparan. Mereka baru menyadari kekeliruan setelah kekuatan jahat itu mengalihkan sasarannya kepada mereka. Sebagaimana ribuan rakyat Amerika yang kehilangan pekerjaan dan rumahnya karena krisis finansial yang disebabkan ulah Bernard Madoff dan kawan-kawannya. Atau seperti keluarga korban tragedi WTC. Atau seperti Phil Tourney yang selamat dari serangan terencana Israel atas kapal USS Liberty yang ditujukan untuk menyeret Amerika ke dalam Perang Arab-Israel di pihak Israel (tentunya setelah menimpakan tuduhan serangan atas kepal USS Liberty dilakukan oleh Arab).

Kematian Michael Jackson, sebagaimana Marilyn Monroe, Elvis Presley atau Lady Diana adalah kejahatan konspirasi. Bukan karena alasan para pelakunya yang sudah memiliki pengalaman melakukan kejahatan serupa sepanjang sejarah (biasanya digunakan alasan klasik seperti serangan jantung, overdosis, atau kecelakaan), juga karena motif pengalihan perhatian tersebut.

Ingat kata-kata bijak Ronggowarsito: Suatu saat dunia akan dilanda oleh "jaman edan" dan sebagian besar orang turut menjadi gila untuk mempertahankan hidup. Namun keselamatan adalah bagi mereka yang "eling" (ingat kepada Tuhan) dan waspada.

DPR AS TUNTUT KETERBUKAAN THE FED


Federal Reserve Bank (The Fed) atau bank sentral Amerika, bank swasta yang diberi kekuasaan untuk menciptakan uang dollar dan bekerja secara rahasia dan serba eksklusif termasuk mendapat keistimawaan bebas pajak (meski sebenarnya melanggar UU), kembali mendapat sandungan kecil. DPR Amerika atau Senat, baru-baru ini menuntut The Fed untuk membuka dokumen-dokumen terkait dengan pemberian dana talangan (bailout) yang diberikannya kepada Bank of America yang diduga telah disalah gunakan untuk melakukan akuisisi terhadap Merryl Lynch (salah satu perusahaan investasi terbesar Amerika).

Tuntutan keterbukaan tersebut sebenarnya bukan yang pertama kali. Beberapa bulan lalu Bloomberg, salah satu media massa informasi bisnis terkemuka Amerika mengajukan tuntutan berdasarkan UU kebebasan informasi kepada The Fed, untuk membuka informasi tentang alokasi dana talangan (yang nilainya mencapai ratusan miliar bahkan mungkin triliunan dollar) yang dikeluarkan The Fed. Namun tuntutan tersebut, sebagaimana tuntutan-tuntutan serupa yang pernah diajukan, tidak pernah mendapatkan respon yang diharapkan.

Senator Dennis Kucinich (Demokrat-Ohio), yang mengepalai Sub-komisi Kebijakan Domestik Senat AS saat ini dikabarkan tengah berupaya mencari informasi mengenai motif-motif tertentu di balik akuisisi pengambil-alihan tersebut yang diduga menggunakan dana talangan pemerintah. Menurut anggota senat Edolphus Towns (D-N.Y.) dan Darrell Issa (R-Calif.), dokumen-dokumen yang diminta senat di antaranya adalah email, catatan-catatan tanya jawab, dan dokumen-dokumen lain yang penting.

Ketika Bank of America menyelesaikan proses akuisisi atas Merryl Lynch bulan Januari lalu dengan nilai $30 miliar, bank raksasa tersebut baru saja mendapat tambahan dana talangan (bailout) senilai $20 sehingga total dana talangan yang diterima mencapai $45 miliar.

Kucinich dan Towns ingin mengetahui detil-detil sebenarnya di balik kedua kejadian yang berdekatan waktunya tersebut. Mereka khawatiwrr dana talangan (yang semestinya hanya untuk melakukan restrukturisasi internal) justru digunakan untuk mengambil alih perusahaan lain dengan persetujuan The Fed.

Dalam kesaksiannya di depan komisi senat tgl 11 Juni lalu, CEO Bank of America Kenneth Lewis menolak dana talangan digunakan untuk proses akuisisi. Namun ia tidak membantah bahwa Departemen Keuangan dan The Fed lah yang telah mendorong akuisisi tersebut.

“Saya percaya orang-orang yang berkomitmen dan bermaksud baik, baik di kalangan pemerintahan maupun swasta, telah bekerja keras untuk mencegah hancurnya sistem keuangan global yang telah menjalar dalam ekonomi global," katanya.

Namun Kuninich bersikukuh menuduh Bank of America melakukan akuisisi untuk mendapatkan lebih banyak dana segar dari talangan pemerintah yang dikucurkan Departemen Keuangan maupun The Fdd.

"Berdasarkan kebijakan-kebijakan the Fed yang bersifat rahasia dan tidak akuntabel dalam menangani masalah krisis keuangan, banyak pertanyaan masih tidak terjawab hingga sekarang seputar akuisisi Bank of America-Merrill Lynch,” kata Kucinich dalam rapat tersebut.

“Cerita tentang merger Bank of America dengan Merrill Lynch dengan bantuan subsidi yang diberikan rakyat (melalui dana talangan) menimbulkan banyak pertanyaan tentang bagaimana manajemen perusahaan finansial raksasa bekerja di luar hukum,” tambahnya.

Saturday, 27 June 2009

Pembunuhan Neda Soltan dan Program Destabilization 2.0


Pertimbangkan skenario ini. Aksi teorisme terhadap gedung WTC 11 September 2001 telah dipersiapkan sebelumnya. Sistem pertahanan udara Amerika yang sangat canggih dan berlapis-lapis (bahkan dapat menembak jatuh setiap burung yang terbang di atas wilayah Amerika) terutama di kota-kota strategis Washington dan New York, telah sengaja dilumpuhkan oleh otoritas keamanan Amerika sendiri. Hal ini memungkinkan lima pesawat jet penumpang besar yang dikendalikan oleh remote control dari pusat pengendalian lalu lintas udara leluasa terbang menuju sasarannya masing-masing. Awak kru CNN telah berada di tempat yang strategis untuk merekam tragedi runtuhnya gedung WTC sehingga hanya berselang 10 menit setelah serangan terhadap salah satu menara WTC, CNN dapat merekam secara langsung kejadian pesawat jet yang menghantam menara WTC satunya lagi (waktu normal yang dibutuhkan untuk memersiapkan program acara live memakan waktu berjam-jam). Super thermite (material canggih penemuan teknologi modern yang mampu melembekkan materi paling keras seperti besi dan beton) telah dioleskan di tiang-tiang menari WTC dan bom-bom dinamit telah dipasang di tiang-tiang itu. Beberapa menit setelah hantaman pesawat jet terhadap kedua menara, dinamit diledakkan dan meruntuhkan kedua menara WTC bagaikan rumah kartu.

Versi di atas tentu lebih masuk akal dibandingkan versi pemerintah yang digembar-gemborkan media massa barat ke seluruh dunia: sekelompok teroris bersenjata pisau cutter (bom plastik dan senjata api lebih sulit dilacak oleh pelacak sinar X standar di pelabuhan-pelabuhan udara, dibandingkan pisau cutter) membajak lima pesawat dari lima pelabuhan udara yang berbeda secara simultan. Selanjutnya para pembajak yang baru kursus pilot itu mengarahkan pesawat jet besar tersebut menuju sasaran, dengan gaya manuver yang lebih hebat dibandingkan para pilot pesawat jet paling berpengalaman. Dan karena hantaman badan pesawat serta panas yang diakibatkan oleh kebakaran bahan bakar pesawat, kedua menara WTC (yang tahan gempa maupun kebakaran hebat) itu runtuh.

Lalu bandingkan dengan skenario kejadian yang terjadi di Iran yang menimpa Neda Agha Soltan pada saat gencar terjadi demonstrasi besar-besaran di Teheran menentang hasil pemilu baru-baru ini. Seorang sniper agen rahasia CIA menempati posisi siap tembak di atas gedung. Seorang agen rahasia pemandu di bawah menginformasikan keberadaan Neda yang baru saja keluar dari mobilnya. "Ia baru saja keluar dari mobilnya. Sasaran yang ideal," kata agen rahasia pemandu.

Agen sniper membidikkan senjatanya ke sasaran yang telah ditunjuk agen pemandu, menarik pelatuk, dan menggeleparlah Nada di jalan beraspal dengan luka tembak. Tidak lama kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya sementara penembak dan pemandunya meninggalkan tempat kejadian secara diam-diam. Semua kejadian tersebut direkam oleh agen CIA lainnya, atau komprador lokalnya, dari tempat yang tidak terlalu jauh. Kemudian dalam waktu kurang dari satu jam rekaman tersebut sampai di meja redaksi media massa-media massa barat dan tidak lama kemudian menyebar ke seluruh dunia dengan judul: "Aparat Keamanan Iran Menindas Aksi Demonstrasi Damai yang Demokratis".

Tentu saja skenario pembunuhan oleh inteligen CIA lebih masuk akal daripada tuduhan media massa terhadap aparat keamanan Iran. Neda ditembak di tempat yang jauh dari lokasi bentrokan antara demonstran dengan aparat keamanan. Bahkan ia tengah melakukan aktivitas bisnisnya di lokasi yang aman, bukan melakukan demonstrasi. Satu hal lagi, ia ditembak dari belakang.

Dan soal aksi demonstrasi yang damai dan demokratis itu pun jauh dari yang dikatakan. Para demonstran yang lebih banyak membentangkan spanduk-spanduk berbahasa Inggris daripada bahasa persia itu melakukan aksi-aksi anarkis seperti membakar kendaraan dan fasilitas umum, merusak kantor-kantor dan perusahaan-perusahaan, menyerang aparat keamanan hingga membunuhi anggota milisi Basiji tak bersenjata (terdapat 8 orang milisi yang tewas dibantai para demonstran). Padahal otoritas pemilihan umum Iran telah memberikan kesempatan pihak-pihak yang kecewa dengan hasil pemilu untuk mengajukan tuntutan. Tidak sekedar itu, otoritas pemilu bahkan telah melakukan penghitungan ulang di beberapa tempat yang dicurigai terjadi kecurangan.


Peran Soros, CIA, dan Mossad Dalam Pemilu Iran

Penghitungan suara pemilu 12 Juni masih berlangsung ketika Mir-Houssein Mousavi, pimpinan oposisi yang menjadi salah satu kandidat presiden mengumumkan kemenangannya. Tindakan ini tidak lain dimaksudkan untuk menjadi legitimasi gugatan yang akan diajukannya jika hasil pemilu sebenarnya tidak sesuai dengan klaimnya.

Dan benar saja. Setelah KPU Iran menyatakan Ahmadinejad memenangkan pemilu dengan suara mencapai 63%, Mousavi langsung menolak hasil penghitungan dan meminta pemilihan ulang. Dan ketika otoritas pemilu Iran memintanya untuk mengajukan keberatan resmi untuk diproses oleh Dewan Penjaga Revolusi (Guardian Council) atau lembaga tertinggi yang berhak memutuskan hasil pemilu jika terjadi perselisihan, Mousavi justru menyerukan para pendukungnya untuk melakukan aksi-aksi demonstrasi yang berujung pada tindakan anarkis, seraya menuduh Guardian Council tidak berkompeten untuk memutuskan perkara pemilu. Bahkan ketika pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei menyerukan penghitungan ulang di beberapa tempat yang dipersengketakan, Mousavi tidak bergeming dan aksi-aksi demonstrasi justru semakin tidak terkendali.

Tidak ada bahasa lain, Mousavi sebenarnya telah menyerukan pemberontakan. Namun pemerintah Iran (Presiden hanya menjalankan salah satu fungsi pemerintahan. Fungsi lainnya seperti keamanan dan inteligen dipegang oleh Dewan Revolusi yang diketuai oleh Ali Khamenei) masih menahan diri dengan tidak menangkap Mousavi. Namun ketika Mousavi dan pendukungnya mengabaikan perintah Khamenei untuk menghentikan aksi-aksi demo anarkis, bahkan justru balik menuntut Khamenei untuk mundur, aparat keamanan tidak memiliki alternatif lain selain menindak para demonstran dengan keras hingga dilaporkan belasan orang meninggal dunia (termasuk Neda Soltan, namun di luar 8 anggota milisi Badiji yang tewas dikeroyok demonstran).

Apa yang dilakukan Mousavi tidak lain karena dirinya mendapat dukungan kuat pemerintah, dinas inteligen dan media massa barat. Media massa barat berlomba-lomba membuat tuduhan-tuduhan palsu tentang pemilu Iran. Contoh paling menyolok dilakukan BBC yang memuat gambar ribuan demonstran pendukung Ahmadinejad yang diklaimnya sebagai pendukung Mousavi. Setelah dikritik oleh para pembacanya dan menjadi pembicara di milis-milis dan blog-blog, BBC baru mengganti gambar tersebut tanpa disertai permintaan maaf kepada pembacanya, apalagi kepada Ahmadinejad.

Internet, juga membantu operasi disinformasi tentang pemilu Iran (meski juga menjadi sarana efektif para blogger dan netter yang netral untuk menyerukan kebenaran dan mengkounter disinformasi). Pada tgl 13 Juni (sehari setelah pemilu) ribuan "tweet" membanjiri Twitter berupa gambar-gambar kekerasan yang dilakukan aparat keamanan Iran terhadap para demonstran, hampir semuanya berbahasa Inggris, dengan gambar-gambar yang identik alias dihasilkan oleh sumber yang sama.

Fenomena disinformasi ini disajikan dengan tepat oleh Jerussalem Post, media massa terbitan Israel. Jerussalem Post bahkan menyebutkan kemungkinan keterlibatan Mossad dalam aksi tersebut. Selain itu YouTube (sudah menjalin kerjasama dengan Anti Demafation League atau LSM Yahudi Amerika untuk menyensor video-video anti Israel) menyediakan link "Breaking News" yang menghubungkannya dengan video-video peristiwa terkini di Iran.

Fenomena di Iran bisa digambarkan sebagai sebagai program Destabilization 2.0, yaitu program terbaru menjungkalkan pemerintahan demokratis yang tidak disukai oleh zionis Amerika. Namun Iran menjadi tempat favorit penerapan program ini karena program awal Destabilization 1.0 adalah penggulingan perdana menteri Iran terpilih Mohammad Mosaddeq tahun 1953 yang tidak disukai karena menasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak asing. Gerakan reformasi Indonesia tahun 1998 termasuk dalam program sejenis yang dijalankan setelah Presiden Soeharto tidak lagi bisa dikendalikan, bahkan justru berbalik haluan politik menjadi pro-Islam.

Program-program sejenis lainnya adalah Revolusi Mawar di Georgia (2003), Destabilization 1.8 untuk Revolusi Oranye di Ukrainia (2004) dan Destabilization 1.9 untuk Revolusi Cedar di Lebanon (2005). Untuk aksi-aksi demonstrasi pendukung Mousavi media massa barat bahkan sebenarnya telah memberikan julukan baru: Revolusi Hijau.

Untuk menggulingkan Mossadeq (Destabilization 1.0), CIA dikirim ke Iran untuk melancarkan serangkaian aksi teror dengan sasaran masjid-masjid dan organisasi-organisasi Islam. Kemudian media massa menuduh aksi-aksi tersebut dilakukan oleh Mossadeq (seorang nasionalis sekuler) sehingga kemudian timbul perselisihan antara kelompok nasionalis sekuler dengan organisasi-organisasi Islam.

Kekacauan politik yang timbul dari aksi-aksi tersebut kemudian menjadi dasar terdinya kudeta militer terhadap Mosaddeq yang berujung pada pengangkatan Shah Iran sebagai pemimpin tertinggi Iran yang menjalankan pemerintahan diktator. Shah selanjutnya menjadi sekutu terpercaya barat di Iran. Demikian kentaranya keterlibatan CIA dalam peristiwa itu sehingga Presiden Obama sendiri belum lama ini mengakui dengan terus-terang hal itu.

Setelah suksesnya program Destabilization 1.0, CIA mengembangkan program kelanjutannya, Destabilization 1.1 yang lebih rumit sedikit dengan menyertakan operasi intelegen ekonomi. Ini dimulai dengan kedatangan IMF memberikan "program bantuan" kepada diktator negara berkembang dengan imbalan bunga mencekik dan proyek-proyek yang boros yang didiktekan IMF yang semua dananya mengalir balik ke IMF dan hanya sebagian kecil yang terserap dalam pembangunan atau mengalir ke kantong-kantong keluarga dan kroni sang diktator. Setelah negeri penerima bantuan kolaps karena korupsi dan hutang yang membengkak, IMF kembali menawarkan "bantuan restrukturisasi" yang berujung pada perampokan habis-habisan sumber kekayaan negeri tersebut. Program ini pun sukses dilaksanakan di banyak negara, dari Jamaica, Burma, Chili, Zimbabwe hingga Indonesia. Pada tahun 2001 program ini dibongkar oleh ekonom pemenang nobel Joseph Stiglitz, namun baru benar-benar dipahami secara menditail oleh masyarakat setelah terbitnya buku karangan John Perkin "Confessions of an Economic Hitman".

Meski tergolong efektif, teknik ini telah diketahui publik dunia sehingga diperlukan program lainnya yang lebih canggih. Maka lahirlah program Destabilization 1.2 yang melibatkan LSM-LSM pro-demokrasi seperti Open Society Institute (OSI), Freedom House, National Endowment for Democracy dan LSM turunannya di negara sasaran seperti JIL dan Yayasan Tifa (Indonesia). Sumber dananya berasal dari figur-figur kontroversial seperti spekulan pasar uang George Soros, Bill Gates, atau Warren Buffet.

LSM-LSM ini melatih, mendukung, memobilisasi, dan mendanai gerakan-gerakan demokrasi di negara-negara berkembang sebagai operasi rahasia untuk mendestabilisasi kondisi politik negara tersebut. Kemudian setelah terjadi pergantian kekuasaan, mereka menempatkan agen-agennya yang telah dibina lama untuk duduk di kursi kekuasaan. Selain di Indonesia (gerakan reformasi 1998), operasi ini berhasil dilaksanakan di Ukraine (Revolusi Oranye 2004), Lebanon (Revolusi Cedar 2005), Georgia (Revolusi Mawar 2003).

Namun meski sukses, skenario tersebut mulai terbongkar dan di sebagian negara korban operasi muncul gerakan tandingan seperti Revolusi Apel di Moldova dan blok oposisi pimpinan Hizbullah di Lebanon. Di Indonesia pun telah muncul kesadaran masyarakat tentang adanya gerakan neoliberal yang membuat ekonomi Indonesia terpuruk. Untuk itu disusunlah program operasi baru Destabilization 2.0 yang kini tengah dipraktikkan di Iran. Program ini melibatkan media internet secara intensif seperti Twitter, Facebook, YouTube dll. Dan seperti program-program sebelumnya, program terakhir ini pun telah terbongkar kedoknya bahkan sebelum membuahkan hasil berupa pergantian regim anti-Amerika (Ahmadinejad dan Dewan Revolusi) menjadi regim pro-Amerika (Mousavi).

Keterangan gambar: penembakan Neda Soltan

Monday, 22 June 2009

Keterkaitan Tragedi WTC dengan Kebangkrutan GM


Apa kaitan antara kebangkrutan perusahaan pembuat mobil General Motors (GM) dengan tragedi World Trade Center (WTC) New York tahun 2001? Jawabnya adalah kedua tragedi tersebut dilakukan oleh orang-orang yang sama yang disebut sebagai zionis Yahudi.

Sebagaimana tragedi WTC, kebangkrutan GM disebut-sebut media massa sebagai peristiwa yang wajar meski mengandung kejanggalan-kejanggalan yang jika dilihat dengan akal sehat tampak jauh berbeda. Dalam peristiwa tragedi WTC misalnya. Jika kita melihat bagaimana sistem pertahanan udara Amerika yang sangat canggih dan berlapis-lapis, terutama di kota-kota paling penting Washington dan New York, lumpuh total, maka kita bisa menyimpulkan peristiwa ini melibatkan pihak keamanan Amerika sendiri.

Hal yang sama terjadi dalam kebangkrutan GM. Bagaimana mungkin sebuah perusahaan pembuat mobil terbesar di dunia (pembuat mobil yang produknya paling laris di dunia), bisa bangkrut. Sebagaimana tragedi WTC, kebangkrutan GM disebabkan oleh skenario internal. Namun yang mengejutkan adalah keduanya dilakukan oleh kelompok orang yang sama.

General Motors dinyatakan bangkrut pada 2 Juni 2009 lalu saat pemerintah Amerika baru saja memberikan talangan puluhan miliar dollar. Kebangkrutan ini menjadi peristiwa kebangkrutan perusahaan terbesar dalam sejarah industri manufaktur Amerika. Kebangkrutan ini sebenarnya juga bisa dilihat sebagai kebangkrutan bangsa Amerika karena peranan GM yang luar biasa dalam sejarah industrialisasi Amerika bisa dianggap sebagai simbol Amerika. Namun tragisnya, media massa, rakyat dan pemerintah Amerika melihat peristiwa ini seperti angin lalu belaka.

Pada tahun 2007 GM tercatat sebagai produsen mobil terbesar di dunia dengan produksi mencapai 9,4 juta mobil (13% produksi mobil global), atau mengalami kenaikan 3% dari tahun sebelumnya. Selama tiga tahun berturut-turut sejak 2005 produksi mobil perusahaan tersebut tidak pernah kurang dari 9 juta unit. Periode tersebut adalah periode terbaik sepanjang sejarah GM yang telah berusia 100 tahun labih dimana GM berhasil melalui periode-periode kesulitan ekonomi global yang sangat serius seperti Depresi Besar tahun 1930-an dan Perang Dunia II. Lalu apa yang salah sehingga dalam waktu dua tahun saja sejak periode terbaik 2007 perusahaan mengalami kebangkrutan?

Jawabnya bisa dilacak sejak tahun 2000 saat George Richard (Rick) Wagoner diangkat sebagai CEO. Bulan terakhir sebelum pengangkatan Wagoner harga saham GM mencapai $93. Di hari pengangkatan Wagoner harga saham GM melorot menjadi $69.81. Di akhir tahun harga saham melorot lagi menjadi $51. Namun meski Wagoner terus membawa suasana kebangkrutan, ia kembali diangkat sebaai CEO pada tgl 1 Mei 2003 dan terus bertahan hingga 29 Maret 2009. Selama periode itu GM mengalami kerugian hingga $85 miliar. Mengapa GM terus menjual mobil lebih banyak namun juga mengalami kerugian lebih besar? Ini yang tidak masuk akal. Dan mengapa mempertahankan orang yang terus menerus memberikan kerugian selama sembilan tahun? Ini lebih tidak masuk akal.

Pada tahun 2008 GM menjual 8,35 juta mobil dengan berbagai nama merk seperti Buick, Cadillac, Chevrolet, GMC, GM Daewoo, Holden, Hummer, Opel, Pontiac, Saab, Saturn, Vauxhall and Wuling. Pasar terbesar produk GM adalah Amerika, diikuti Cina, Brazil, Inggris, Kanada, Rusia, dan Jerman. Meski mencatat rekor penjualan tertinggi selama tahun 2005-2007, dalam semester pertama tahun 2008 GM mengalami kerugian hingga $18.8 miliar. Pada bulan Oktober harga saham GM melorot hingga 76 persen, dan mulai membuat rencana merger dengan Chrysler, perusahaan mobil saingan GM.

Pada saat rencana merger GM-Chrysler, Chrysler dimiliki oleh (80%) perusahaan Cerberus Capital Management, pimpinan Stephen A. Feinberg dan Jacob Ezra Merkin. (Cerberus adalah nama mahluk mitologi berbentuk anjing berkepala tiga dari neraka). Selain itu Feinberg dan Merkin juga memiliki General Motors Acceptance Corp. (GMAC), anak perusahaan yang mengurusi finansial GM.

Pada tahun 2006 GM menjual 51% saham GMAC kepada perusahaan Feinberg, Cerberus Capital Management LP. Selanjutnya Feinberg menunjuk Jacob Ezra Merkin sebagai direktur GMAC. Jika saja merger tersebut terjadi maka Feinberg dan Merkin akan menjadi pemilik saham mayoritas baik GM maupun Chrysler. Inilah skenarionya, membangkrutkan GM untuk diambil alih.

Setelah Cerberus menguasai GMAC, mereka menaikkan persyaratan kredit kepemilikan mobil GM sehingga mengancam penjualan GM. Cerberus diduga melakukan taktik ini untuk memaksa GM menjual sisa saham GMAC kepadanya.

Sebelum menjadi CEO, Ezra Merkin adalah salah satu pemilik Bank Leumi yang berpusat di Israel, juga sebuah bank di Swiss. Ia pernah mengadakan pertemuan rahasia dengan Ariel Sharon (saat itu PM Israel) dan Ehud Olmert (kemudian menjadi PM Israel) di New York City 10 September 2001, atau sehari sebelum Tragedi WTC. Saat itu Merkin memberi sumbangan $500 juta kepada Sharon.

Merkin adalah seorang kriminalis. Ia salah satu tokoh kunci yang terlibat dalam skenario Ponzi yang dilakukan Bernard Madoff yang merugikan para nasabahnya hingga $50 miliar dimana kurang dari $1 miliar saja yang berhasil diidentifikasi penyidik Amerika. Diduga sebagian dana tersebut dilarikan Merkin ke Israel dan Swiss.

Baik Feinberg maupun Merkin, keduanya memiliki saham di Bank Leumi di Israel yang diswastanisasi oleh pemerintahan Benjamin Netanyahu. Bank Leumi memiliki beberapa cabang di luar negeri termasuk di Swiss yang berfungsi sebagai money launder.

Pada tgl 30 Desember 2008 pemerintah Amerika memberikan talangan sebesar $6 miliar kepada GMAC yang dipimpin Merkin dan Feinberg. (Feinberg adalah sosok yang sangat misterius hingga bahkan buku kumpulan biographi Who's Who menulisnya telah meninggal dunia!). Talangan tersebut merupakan tambahan dari talangan sebelumnya sebesar $13,4 miliar yang diberikan pemerintah kepada GM dan Chrysler.

Merkin menjabat sebagai eksekutif sejak November 2006. Selama kepemimpinannya GMAC mengalami kerugian hingga $8 miliar. Meski merugikan GMAC dan keterkaitannya dengan kasus Madoff, pemerintah Amerika tidak merasa keberatan untuk terus memberikan talangan (yang dibiayai oleh pajak rakyat) kepada perusahaan Merkin.

Jacob Ezra Merkin, seorang yahudi orthodox dan seorang zionis sejati baru mengundurkan diri dari GMAC pada 9 Januari 2009.

GMAC adalah perusahaan yang menarik untuk dikuasai. Menjadi anak perusahaan GM sejak 1919, GMAC menyediakan kredit senilai $1.4 trillion untuk membiayai kepemilikan 162 juga mobil GM. Meski awalnya hanya didirikan untuk membantu pembiayaan konsumen GM, GMAC kemudian merambah ke sektor lain seperti real estate dengan mendirikan GMAC Commercial Mortgage (GMACCM). Perusahaan terakhir ini lah yang membantu keuangan Larry Silverstein dan Frank Lowy (mantan pasukan komando Israel) untuk membeli kompleks World Trade Center pada bulan Juli 2001, atau hanya dua bulan sebelum tragedi WTC terjadi.

Dalam proses tersebtu GMAC Commercial Mortgage menjual obligasi senilai $563 juta yang kemudian digunakan Silverstein membeli WTC. Direktur keuangan GMAC saat itu adalah Eric A. Feldstein, kelahiran Brookline, Massachusset tahun 1959. Feldstein telah bekerja di GM sejak 1981 hingga 1991 dan menjadi "regional treasurer" di Eropa antara 1991-1993. Tahun 1996 ia diangkat menjadi wakil presiden merangkap direktur keuangan GMAC sekaligus chairman di GMAC Mortgage Group, dimana ia mengawasi semua aspek keuangan perusahaan.

Pada bulan November 1997 Feldstein diangkat sebagai direktur keuangan GM dan sebulan kemudian diangkat sebagai vice president. Pada bulan Juni 2001 (3 bulan sebelum tragedi WTC) Feldstein menjabat sebagai vice presiden dan direktur keuangan sekaligus. Setelah GM dan GMAC mengalami kerugian pada tahun 2008, Feldstein bergabung dengan Feinberg dan Merkin di Cerberus sebagai executive vice president. Mungkin karena mereka bertiga, maka perusahaan mereka diberinama Cerberus yang artinya sekali lagi adalah anjing neraka berkepala tiga.

Eric Feldstein adalah anak dari Donald Feldstein, tokoh zionis yahudi terkemuka di daerah New York dan New Jersey. Donald dan Silverstein (pemilik WTC) memiliki hubungan melalui UJAF (Jewish Appeal-Federation Jewish Philanthropies), sebuah organisasi penggalang dana untuk Israel. Donald dan Larry menjadi direktur eksekutif. Hubungan tersebut menjadi satu alasan mengapa Eric Feldstein menggunakan dana GMAC untuk membantu Larry membeli WTC. Melalui organisasi-organisasi yahudi seperti UJAF, B'nai B'rith, ADL, SWC, Jewish Freemasons dlsb, jaringan yahudi bekerja secara rahasia.

Pada bulan Juni 2008 Eric Feldstein bergabung dengan Eton Park Capital Management dan menjadi salah satu eksekutifnya. Eton Park, sebuah perusahaan penjamin keuangan dimiliki oleh Eric M. Mindich, mantan eksekutif Goldman Sachs, dan Alan R. Batkin yang menjadi senior partner. Batkin adalah figur yang memiliki koneksi tinggi. Sebagai contoh ia pernah menjadi vice chairman Kissinger Associates Inc. Antara 1990 dan 2006. Selain itu ia juga menjadi eksekutif beberapa perusahaan Israel lainnya seperti Israel Discount Bank (IDB) dan Discount Investment Corporation, Ltd. (The IDB adalah salah satu bank yang menjadi money launder kasus Madoff).

Selain itu Alan R. Batkin juga menjabat sebagai dewan gubernur Tel Aviv University selain sebagai eksekutif PEC Israel Economic Corp (anak perusahaan Discount Investment Corporation, Ltd). Ia juga menjadi CEO dari Orama Ltd, anak perusahaan IDB Group yang didirikan tahun 1999 untuk mendukung industri teknologi Israel.

Antara tahun 1972-1990 (14 tahun) ia menjabat sebagai Managing Director Lehman Brothers. Ia juga tercatat pernah menduduki jabatan penting di beberapa perusahaan raksasa lainnya yang dimiliki oleh jaringan zionis yahudi seperti Overseas Shipholding Group Inc (OSG), Hasbro Inc, Infinity Broadcasting Corp.

Namun jasa Batkin terhadap gerakan zionisme yahudi belum seberapa dibandingkan ayahhya, Stanley Irving Batkin. Stanley pernah menerima penghargaan Medali Perdana Menteri tahun 1974 dan Medali Kota Jerussalem tahun 1976, yang hanya diberikan kepada orang-orang yang dianggap berjasa besar bagi Israel. Stanley telah mengabdikan dirinya kepada negara Israel sejak terbentuk tahun 1948. Di antara jasanya adalah menjadi eksekutif di beberapa organisasi Zionist Organization of America, State of Israel Bond Committee, Jewish Theological Seminary, State of Israel Bonds, Israel's Weizmann Institute of Science, Friends of Bezalel Academy of Arts & Design, Inc., dan Yeshiva University Museum.

Kebohongan "Kecurangan Pemilu Iran"


Tidak ada pemilu di dunia dimana Amerika menaruh perhatian demikian besar selain pemilu di Iran yang baru saja dilaksanakan 12 Juni lalu. Bagaikan paduan suara, para pejabat dan media massa Amerika (juga negara-negara barat lainnya) berteriak-teriak keras mengecam hasil pemilu Iran yang dimenangkan oleh Mahmoud Ahmadinejad atas lawannya yang didukung Amerika dan barat, Hossein Mousavi. Mereka juga berteriak-teriak (meski tidak sekeras di Iran) pemilu di Venezuela dan Palestina yang dimenangkan oleh pemimpin yang dibencinya meski pemilu tersebut berjalan demokratis. Sebaliknya mereka bersuka ria menyambut "kemenangan" sekutunya dalam pemilu legislatif di Lebanon meski faktanya dimemenangkan oleh pihak oposisi dengan perolehan suara hingga 55%.

Hasil pemilu Iran merupakan kasus klasik dalam politik dimana tokoh incumbent yang populis (Ahmadinejad) memenangkan pemilu dengan meyakinkan (63,3%), sementara lawannya yang didukung barat (Mousavi) hanya memperoleh suara seadanya (34,2%). Hal ini mirip dengan kemenangan Peron (Argentina), Chavez (Venezuela), Evo Morales (Bolivia) dan Lula da Silva (Brazil).

Pemilu kali ini mencatat rekor kepesertaan rakyat yang mencapai 80% lebih. Kubu oposisi yang dipimpin Mousavi menentang hasil pemilu dengan menggelar aksi-aksi demonstrasi yang berujung pada aksi-aksi kekerasan seperti pembakaran kendaraan dan kantor-kantor serta bentrokan dengan aparat keamanan.

Hampir semua spektrum pembentuk opini masyarakat barat seperti politisi, media massa cetak dan elektronik hingga website internet, secara seragam mencap pemilu Iran sebagai kecurangan. Mereka semua menyerukan apa yang diserukan kubu oposisi Iran dan memuji-muji para demonstran sebagai pembela demokrasi. Mereka secara tersamar mendorong oposisi untuk melakukan revolusi politik demi mengganti regin kekuasaan.

Para politisi demokrat maupun republikan sama-sama mengecam pemerintah Iran dan mendukung para demonstran. The New York Times, CNN, Washington Post, dan media massa Amerika lainnya menyuarakan tuntutan Israel untuk melakukan sangsi keras kepada Iran dan menyebut rencana dialog Presiden Obama dengan pemerintah Iran telah "mati".


Tuduhan-tuduhan Penuh Kebohongan

Tgl 17 Juni lalu situs internet BBC ketahuan melakukan kebohongan publik dengan memuat gambar pendukung Ahmadinejad yang diklaimnya sebagai pendukung Mousavi. Setelah dikritik para pembaca yang kritis, BBC menggantinya dengan gambar yang lain.

Itu adalah salah satu bentuk kampanye besar-besaran yang dilakukan barat untuk mendeskreditkan hasil pemilu Iran demi kepentingan kandidat yang didukungnya, Mousavi. Kampanye tersebut demikian kotornya sehingga BBC, media yang memiliki reputasi terhormat di kalangan media massa internasional "tega" melakukan cara-cara kotor.

Para pemimpin politik dan media massa barat menolak kemenangan Ahmadinejad karena merasa bahwa kandidat pilihannya tidak mungkin kalah. Selama berbulan-bulan mereka memborbardir masyarakat dengan berita-berita dan ulasan-ulasan tentang kegagalan pemerintahan Iran di bawah kepemimpinan Ahmadinejad. Mereka mengutip pernyataan tokoh-tokoh masyarakat, mantan pejabat, pedagang, semuanya dari kalangan menengah atas perkotaan pendukung Mousavi, untuk membuktikan bahwa Mousavi telah memenangkan pemilu. Kemenangan Mousavi dipuji-puji sebagai kemenangan "kehendak rakyat untuk perubahan".

Beberapa waktu sebelum pemilu media massa barat memuji-muji kondisi di Iran sebagai kondisi yang ideal dalam negera demokrasi yang tengah menghadapi pemilu. Namun begitu diketahui bahwa Mousavi kalah, bahkan di kalangan sukunya sendiri etnis Azeris, mereka ramai-ramai menuduh pemilu yang mendapat pengawasan dari dalam dan luar negeri itu berlangsung curang.

Yang mencengangkan adalah, meski para pendukung Mousavi terus gencar melakukan aksi demo anarkis (di beberapa tempat diselingi aksi aksi pengeboman yang diduga dilakukan oleh inteligen barat, termasuk di makam pemimpin Revolusi Iran Imam Khomeini yang menewaskan dua orang), namun mereka tidak pernah mengajukan keberatan secara resmi. Bahkan meski pun otoritas penyelenggara pemilu menyatakan kesediaan melakukan penghitungan ulang, mereka menganggapnya sebagai angin lalu. Mereka justru mengintensifkan aksi-aksi demonstrasi melawan peringatan pihak keamanan yang mengancam akan menindak tegas aksi mereka. Fakta-fakta itu semua semakin membuka kedok adanya kaitan antara kepentingan asing dengan aksi-aksi demonstrasi yang digelar pendukung Mousavi.

Media massa barat hanya melihat satu pihak saja dalam konflik pemilu Iran, yaitu pihak oposisi dan mengabaikan fakta bahwa Ahmadinejad pun memiliki pendukung yang banyak, jauh lebih banyak dibandingkan Mousavi. Ahmadinejad didukung oleh mayoritas rakyat Iran terutama rakyat kebanyakan yang banyak menikmati kemajuan ekonomi di bawah kepemimpinan Ahmadinejad yang populis. Sebaliknya Mousavi hanya mendapat dukungan kuat di kalangan kelas menengah-atas di kota besar yang minoritas.

Beberapa pakar yang menjadi narasumber langganan media massa, seperti Gideon Rachman dari Financial Times, mengklaim bahwa kemenangan Ahmadinejad dengan perolehan suara hingga 63% termasuk di proponsi yang mayoritas dihuni etnis Azeri (etnis asli Mousavi), tidak masuk akal. Menurutnya kemenangan Ahmadinejad, kalau memang ia yang menang, paling realistis adalah 51%. Di atas itu adalah kecurangan dan itu menjadikan wajar aksi-aksi demonstrasi pendukung Mousavi.

Faktanya adalah Ahmadinejad bahkan menang di daerah Azeri berkat kebijakan-kebijakan ekonominya yang memuaskan masyarakat keturunan Azeri seperti kredit murah untuk petani dan pengusaha kecil dan pemutihan kredit macet. Musavi hanya menang di kota-kota besar di daerah Azerbeijan Barat serta di pusat kota Teheran. Sisanya yang jauh lebih besar menjadi miliknya Ahmadinejad.

Penolakan media massa barat terhadap kemenangan Ahmadinejad sebenarnya bertentangan dengan beberapa jajak pendapat yang diadakan di Amerika. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan dua orang pakar Iran dan dimuat di Washington Post 15 Juni menunjukkan bahwa Ahmadinejad menang lebih besar daripada hasil pemilu. Di daerah Azeri Ahmadinejad bahkan unggul mutlak atas Mousavi. Pooling itu juga menunjukkan klaim Mousavi didukung oleh kelas atas dan pemilih usia muda terbantahkan. Satu-satunya kelompok yang konsisten mendukung Mousavi adalah para mahasiswa, sarjana, pengusaha dan kelas atas. Mereka terpusat di utara Teheran.

Secara umum Ahmadinejad di propinsi-propinsi kaya minyak dan penghasil produk-produk kimia dimana para pekerja kilang minyak dan pabrik kimia menentang privatisasi perusahaan-perusahaan publik yang diusulkan kalangan "kelas atas". Selain itu sentimen agama yang dipicu oleh kebijakan perang Amerika dan Israel di Timur Tengah (termasuk di dalam negeri Iran melalui aksi-aksi inteligen) membuat sebagian besar rakyat Iran yang beragama Islam Syiah mendukung Ahmadinejad yang "berani" melawan Amerika. Sebaliknya mereka menolak kandidat oposisi yang dianggap lembek terhadap Amerika.

Pendek kata rakyat melihat bahwa Ahmadinejad telah berbuat baik dalam masalah keamanan nasional, integritas bangsa, dan kesejahteraan sosial. Sebagian besar rakyat Iran masih menghargai nilai-nilai sosial dan solidaritas dibanding para pendukung Mousavi yang "individualis".

Dalam konteks liberalisme ekonomi yang saat ini menjadi paham ekonomi dominan di dunia, Ahmadinejad bisa dilihat sebagai ekonom kerakyatan. Sebaliknya Mousavi dan pendukungnya dianggap sebagai ekonom pasar. Dan rakyat Iran sudah memutuskan untuk memilih ekonomi kerakyatan daripada ekonomi pasar yang hanya menguntungkan para pemilik modal dan koruptor.

Kritikan Mousavi terhadap kebijakan luar negeri Ahmadinejad yang anti-barat hanya didengar oleh para mahasiswa, pengusaha dan orang-orang kaya di Teheran Utara dan justru memisahkan mereka dengan suara rakyat kebanyakan. Kekalahan mereka membuktikan jauhnya mereka dari aspirasi rakyat Iran.

Kemenangan Ahmadinejad semestinya menyadarkan Amerika dan barat. Bahkan mendukung kelompok "elit" yang tidak didukung mayoritas rakyatnya, hanya memberikan keamanan semu, yang setiap saat akan dapat meledak dan menghancurkan kepentingan mereka. Sejarah akan melihat bahwa regim-regim diktator korup dukungan mereka seperti presiden Mesir, raja Yordania, raja Saudi, PM Lebanon, Presiden Palestina, Presiden Pakistan, sebentar lagi akan tumbang oleh suara rakyat.

Sampai saat ini sebagian besar pemimpin negara barat (kecuali Menlu Inggris David Milliband dan Presiden Perancis Nicholas Sarkozy, keduanya yahudi) tidak mempermasalahkan hasil pemilu di Iran dan hanya menyerukan pemerintah untuk memperlakuan demonstran dengan lunak. Presiden Barack Obama pun tidak pernah menyatakan untuk menghentikan rencananya melakukan dialog dengan pemerintahan Iran. Namun sayangnya media massa hanya mau menyuarakan kepentingan zionis yahudi yang menginginkan barat dan khususnya Amerika melakukan tekanan lebih keras kepada Iran.

NATO YANG KEWALAHAN DI AFGHANISTAN


Beberapa waktu terakhir ini di media-media massa kita sering kali mendengar kabar tentang ovensif pasukan NATO di Afghanistan disertai angka-angka korban di pihak Taliban yang sangat signifikan sehingga mungkin kita berfikir bahwa NATO akan segera memenangkan peperangannya di Afghanistan. Namun fakta sebenarnya ternyata jauh dari yang diberitakan.

Menurut koran The Independent tgl 12 Juni lalu, saat ini pasukan NATO di Afghanistan justru tengah bertahan menghadapi ofensif besar-besaran pasukan Taliban. Dan pasukan Inggris yang berada di medan perang paling intensif harus menderita parah.

Menurut keterangan pejabat NATO yang dikutip The Independent, serangan Taliban telah meningkat 73% dan tingkat kematian pasukan NATO akibat serangan Taliban meningkat 78%. Serangan terhadap personil pemerintah Afghanistan juga meningkat sebanyak 64%. Pada bulan Mei lalu kematian personil militer Inggris mencapai 12 orang, bulan kematian tertinggi kedua selama pendudukan NATO di Afghanistan.

Ofensif Taliban tersebut menjadi perhatian khusus dalam pertemuan para menteri pertahanan NATO di Belanda baru-baru ini. Menhan Amerika Robert Gates mendesak agar NATO melakukan langkah-langkah serius untuk menghentikan ofensif tersebut dan menambahkan bahwa "kesabaran rakyat Amerika sangat tipis' terkait dengan masalah di Afghanistan yang semakin banyak memakan korban.

Jendral David Petraeus, komandan tertinggi Amerika di Timur Tengah mengatakan bahwa kekerasan telah meningkat tingkat tertinggi minggu lalu. Ia juga mengakui bahwa telah terjadi peningkatan intensitas serangan Taliban yang signifikan sejak dua tahun lalu. "Masih ada banyak masa sulit ke depan," kata Jendral David seraya mengingatkan rencana pemilu Afghanistan bulan Agustus mendatang.

Periode bulan Januari-Maret tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu menunjukkan peningkatan serangan bom dan ranjau hingga 87% dengan tingkat kematian meningkat 60%.

Beberapa pejabat militer NATO mengungkapkan bahwa tingginya tingkat serangan Taliban disebabkan Taliban tetap aktif melakukan ofensif meskipun di musim dingin yang biasanya digunakan Taliban untuk beristirahat. Di propinsi Helmand di mana pasukan Inggris ditempatkan, tingkat serangan Taliban mencapai 12 serangan per-hari. Adapun di Kandahar, tempat kelahiran Taliban dan medan perang paling intensif di masa lalu, tingkat serangan Taliban mencapai 4 serangan per-hari.

Propinsi Helmand menjadi medan favorit Taliban karena kondisinya yang bergunung-gunung. Helmand juga menjadi pusat komando Taliban serta penghasil 44% opium Afghanistan yang merupakan produsen opium terbesar di dunia. Meski saat berkuasa Taliban menumpas habis perdagangan opium Afghanistan, di masa perang opium menjadi salah satu sumber keuangan Taliban.

Sebanyak 12.000 dari 30.000 pasukan tambahan Amerika yang dikirim presiden Obama telah ditempatkan di Helmand. Dengan pertimbangan Amerika akan melancarakan ovensif besar-besaran di musim panas mendatang (sekitar bulan Juli), Taliban memutuskan untuk mendahului melakukan ovensif.

Di sisi lain Amerika sebagai pimpinan pasukan koalisi NATO di Afghanistan terus dilanda frustasi. Ini tampak jelas dengan dipecatnya Jenderal David McKiernan selaku komandan pasukan Amerika di Afghanistan, Senin 11 Mei lalu. Padahal kepemimpinan jenderal ini di Afghanistan belum sampai setahun.

Sebenarnya David McKiernan dipandang sebagai orang yang berhasil dalam memegang komando militer AS. Dia berhasil dalam agresi AS di Irak, namun menghadapi medan perang Afghanistan, dia menjadi stress dan frustasi. Ia bahkan pernah mengatakan bahwa AS tidak akan menang dalam perang di Afghanistan. Tentu saja pernyataan ini membuat Washington meradang karena selama ini Amerika terkenal dengan peralatan militernya yang canggih.

Aneh memang mendengar pernyataan seorang jenderal dengan ribuan pasukan dan kecanggihan peralatan militernya mengatakan hal seperti itu. Pernyataan sang jenderal inilah yang diduga menjadi salah satu alasan kenapa ia diturunkan dari jabatannya.

Pentagon pun telah menunjuk penggantinya, yaitu Jenderal Stanley McChrystal. Dia adalah seorang jenderal yang dikagumi Pentagon karena menjadi tokoh kunci dalam agresi ke Irak. Ia adalah mantan kepala pasukan khusus yang berhasil menangkap salah satu buronan yang paling dicari di Irak.

Sampai akhir tahun ini jumlah tentara AS di Afghanistan mencapai 68.000 orang, dua kali lipat dari masa pemerintahan Bush. Walau demikian, jumlah tersebut masih jauh di bawah 130.000 tentara yang masih berada di Irak. McKiernan dan panglima AS lainnya mengatakan sumber daya yang mereka perlukan di Afghanistan masih mengurus Irak.

Latar belakang Stanley yang mempunyai ‘integritas baik’ ini membuat pemerintahan AS mengangkatnya menjadi komandan dengan tujuan memenangkan Perang Afghanistan melawan Taliban secepatnya. Komando baru di bawah McChrystal akan bertanggung jawab atas strategi baru Obama dalam mengatasi serangan milisi yang kian brutal dan kuat. Strateginya, bergantung pada kemampuan pasukan khusus dan taktik mengatasi pemberontakan yang dikuasai McChrystal. Jenderal baru tersebut dikabarkan juga memahami cara-cara pendekatan non-militer menghadapi Taliban.

Dilihat dari kekuatan Taliban-Afghanistan sendiri, sebenarnya peralatan tempur mereka hanya dipersenjatai dengan senjata yang sederhana, sisa peperangan dengan Uni Soviet. Di sisi lain pasukan AS dan sekutunya dilengkapi dengan senjata-senjata canggih ditambah lagi dengan pesawat-pesawat tanpa awak, pengebom, dan senjata pemusnah massal yang dilarang seperti bom fosfor.

Dari Afghanistan sendiri dilaporkan, baru-baru ini tentara sekutu menggunakan senjata fosfor untuk melawan milisi Taliban. Serangan fosfor tersebut terjadi di Bala Buluk, sebuah distrik di sebelah barat Provinsi Farah. Akibat serangan membabibuta ini korban tewas lebih dari 140 warga sipil. Menurut salah satu dokter yang bekerja di Rumah Sakit Internasional Heart, Beberapa warga desa mengalami luka bakar yang tidak biasa.

"Salah satu korban yang dibawa ke sini mengatakan 22 anggota keluarganya mengalami luka bakar. Sebuah bom yang meledak menyebarkan serbuk putih dan orang yang terkena serbuk itu langsung terbakar," kata Dokter Jalali, salah seorang dokter di rumah sakit setempat.

Nader Nadery, seorang pejabat kominsi independen HAM Afghanistan juga mengkhawatirkan senjata kimia tersebut karena kebanyakan target serangannya lebih banyak menimbulkan korban warga sipil.

Alih-alih memerangi apa yang disebut oleh Amerika sebagai “teroris”, rupanya para agresor menghalalkan segala cara walau korban dari pihak sipil telah banyak berjatuhan. Malah dengan sikap acuhnya, AS ingin terus melanjutkan agresinya di Afghanistan. Hal ini diungkapkan oleh Penasehat Keamanan Nasional AS, Jenderal James Jones yang sepertinya ingin terus menjajah Afghanistan.

“Seharusnya Presiden Afghanistan Hamid Karzai paham bahwa AS harus memberikan dukungan penuh pada kekuatan pasukan AS di Afghanistan,” kata Jones.

Walaupun segala cara telah digunakan, tetap saja tentara-tentara AS dan sekutunya hanya akan menggali kubur sendirinya karena para pejuang Taliban Afghanistan tetap eksis.

Seorang pengamat militer AS pernah mengatakan, kekuatan peralatan militer yang canggih belum tentu dapat memenangkan sebuah peperangan, karena kekuatan peralatan bukanlah yang utama. Masih ada kekuatan lain yang bisa mengalahkan kekuatan yang canggih tersebut, yaitu kekuatan semangat dalam diri yang justru dimilki oleh pejuang Taliban.

Saturday, 20 June 2009

Mousavi, Pemilu Iran dan Agen Asing


Saat ini di Iran tengah terjadi krisis politik yang cukup serius politik yang jika tidak dimanaj dengan baik oleh pemerintah dan rakyat Iran, akan dapat menggiring Iran ke jurang kehancuran. Krisis ini terjadi menyusul penolakan salah satu kandidat presiden dari kubu liberal (cenderung berdamai dengan Amerika), Mir-Hossein Mousavi, atas hasil pemilu yang dimenangkan oleh Ahmadinejad dari kubu politik konservatif (anti-Amerika).

Krisis politik ini diwarnai dengan aksi-aksi demonstrasi yang berujung pada tindakan kekerasan yang menelan korban jiwa. Rakyat Iran tentu mampu menyelesaikan persoalan tersebut, jika saja tidak diganggung oleh kepentingan asing yang ingin melemahkan Iran, sebuah negara Isalam yang mampu tampil sebagai pengimbang kekuatan Israel dan Amerika di Timur Tengah. Berkat dukungan Iran-lah (saat negara-negara Islam lainnya menjauhi) maka Hizbollah dan Hamas mampu menghadapi agresi Israel. Hizbollah bahkan tampil sebagai kekuatan politik yang dominan di Lebanon dan memporak-porandakan rencana Israel-Amerika menjadikan negara tersebut sebagai boneka.

Tanda-tanda keterlibatan asing dalam krisis politik Iran bisa dirasakan dengan kengototan kubu Mousavi untuk melakukan aksi-aksi protes besar-besaran, meski kemungkinannya sangat kecil untuk membalikkan hasil pemilu yang dimenangkan Ahmadinejad. Alih-alih mengajukan tuntutan ke Dewan Pengawal yang berwenang memutuskan masalah sengketa pemilu, Mousavi menyulut aksi-aksi demo yang berujung pada tindakan kekerasan.

Selain lemahnya bukti tuduhan kecurangan pemilu, secara de fakto Ahmadinejad sebagai calon incumbent memiliki kekuatan politik yang dominan di Iran. Selain masyarakat kelas menengah-bawah yang banyak diuntungkan dengan program-program ekonomi populis Ahmadinejad, ia masih mendapatkan dukungan penuh dari pasukan Pengawal Revolusi, tulang punggung semangat revolusi Iran yang mampu menghancurkan pengaruh Amerika di Iran.

Aksi-aksi demo yang berujung kekerasan yang dilakukan Mousavi tidak lain dimaksudkan untuk menjadi legitimasi penetrasi asing atas Iran di masa mendatang. Bagi Amerika, hal ini juga menjadi daya tawar yang tinggi dalam perundingan yang akan dilakukannya dengan Iran menyusul kebijakan Presiden Obama yang akan mengadakan perundingan langsung dengan Iran. Hal ini tentunya sudah menjadi perhitungan pemerintah (Ahmadinejad). Dan itu sebabnya pemerintah mengangani aksi-aksi demonstrasi tersebut dengan keras.

Aroma keterlibatan Amerika dalam aksi-aksi demo menentang hasil pemilu yang dilancarkan Mousavi terasa dari komentar para pejabat Amerika di media massa barat yang menentang hasil pemilu. Sebaliknya negara-negara penentang Amerika seperti Korea Utara dan Venezuela langsung memberikan ucapan selamat kepada Ahmadinejad. Bahkan Walid Jumlatt, pemimpin politik Lebanon yang selama ini bersikap anti Ahmadinejad, menyatakan kecurigaannya atas dukungan Amerika kepada Mousavi sebagai sebuah rencana mengintervensi Iran sebagaimana dilakukan Amerika atas Lebanon.

Perlu diketahui bahwa Departemen Luar Negeri Amerika mempunyai meja khusus yang mengatur segala operasi diplomatik maupun inteligen atas Iran. Amerika menghabiskan puluhan juta dolar untuk membiayai kelompok-kelompok pemberontak di Iran dan aktif melakukan aksi-aksi inteligen di Iran.

Jika saja mau melihat ke belakang, maka Mousavi memiliki track record yang menunjukkan kedekatannya dengan Amerika, atau bahkan Israel. Ini cukup mengherankan karena Mousavi pernah menjadi perdana menteri Iran, justru saat Khomeini, tokoh konservatif Iran masih berkuasa penuh di Iran. Namun tindakannya yang mengundurkan diri dari jabatannya setelah kegagalan menangani masalah perang melawan Irak dan selanjutnya menghabiskan hidupnya di luar negeri selam 20 tahun, sedikit memberi gambaran tentang nasioalisme Mousavi yang diragukan.

Mousavi yang berasal dari kelas menengah Iran (kelas yang banyak diuntungkan oleh kekuasaan rejim Shah sebelum Revolusi Iran tahun 1979), memiliki hubungan dengan
Manuchehr Ghorbanifar, seorang pedagang senjata asal Iran yang diduga menjadi agen Mossad, dan terlibat dalam skandal Iran/Contra dalam pemerintahan presiden Reagan.

Dalam sebuah laporan penyidikan skandal Iran/Contra tertulis, "Ghorbanifar, seorang pelarian dari Iran dan mantan agen CIA yang pernah dituduh sebagai penipu (oleh CIA), menjadi broker senjata untuk Iran (dalam skandal Iran/Contra), meminjam uang kepada Khashoggi, dan membayarkan 20% komisi kepada Khashoggi setelah pemerintah Iran membayar."

Time Magazine, mengutip buku The Murky World of Weapons Dealers terbitan tahu 1987 menulis, "Ghorbanifar adalah pelarian politik Iran semasa pemerintahan Ayatullah Ruhollah Khomeini yang telah membekukan bisnisnya di Iran. Kini ia menjadi teman dekat dari Mir Hussein Mousavi, perdana menteri di masa kekuasaan Khomeini. Beberapa pejabat Amerika yang pernah berurusan dengan Ghorbanifar memujinya sebagai mitra yang terpercaya. Namun sebagian yang lain menjulukinya sebagai pembohong yang bahkan tidak dapat mengatakan dengan jujur pakaian yang dikenakannya sendiri."

Kemengangan Ahmadinejad sebenarnya sudah dapat diprediksi jauh sebelum pemilu. Ahmadinejad, yang dengan kebijakan ekonomi populisnya sangat populer di kalangan masyarakat kelas bawah mayoritas. Sedangkan Mousavi hanya populer di kalangan masyarakat kelas atas khususnya di ibukota Teheran. Apalagi Mousavi selama 20 tahun tinggal di luar negeri setelah mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri karena gagal menangani krisis Perang Iran-Irak.

Anomali Politik di Lebanon


Pada tanggal 7 Juni lalu rakyat Lebanon melaksanakan pemilihan umum untuk menentukan wakil-wakil mereka di parlemen. Dengan penuh semangat media massa barat, memberitakan kekalahan kubu oposisi yang dipimpin oleh Hizbollah dan kemenangan "gemilang" kubu pemerintah pro-barat yang dipimpin oleh partai Future Movement pimpinan Sa'ad Hariri yang beraliran Sunni. Tidak lupa mereka mengkaitkannya dengan pidato Barack Obama di Mesir sebagai salah satu faktor penentu kemenangan kubu pemerintah.

Fakta yang sebenarnya adalah kubu oposisi memenangkan pemilu dengan suara 55% dibandingkan kubu pemerintah yang hanya memperoleh 45% suara. Namun karena sistem pemilu yang agak rumit dan "aneh" telah menyebabkan oposisi hanya mendapatkan 45% (57) kursi parlemen dan pemerintah mendapat 55% (71 kursi). Dibandingkan pemilu sebelumnya, oposisi mendapatkan tambahan 1 kursi. Dan sebaliknya pemerintah berkurang 1 kursi.

Kubu pemerintah merupakan koalisi pro barat-Saudi Arabia yang terdiri dari partai Future Movement pimpinan Sa'ad Hariri (Islam Sunni), Phalanges dan Lebanon Force (kristen Maronite), serta Progressive Socialist Party (Druze, satu sekte Islam yang hanya ada di Lebanon) ditambah wakil independen. Sementara itu kubu oposisi yang terdiri dari Hizbollah (Shiah), Amal (Shiah), Syrian Socialist Party (Shiah) dan Free Patriotic Movement (Kristen Maronite) cenderung berpihak kepada Iran dan Syria.

Isu politik paling panas di Lebanon adalah tentang persenjataan Hizbollah. Dengan tekanan dari Amerika dan Uni Eropa, pemerintah terus-menerus melakukan upaya politik untuk memberangus senjata Hizbollah yang telah berhasil mengusir Israel dari Lebanon. Isu ini bahkan sempat menimbulkan pertikaian senjata yang berakhir pada kekalahan pemerintah tahun lalu. Menyusul kekalahan tersebut, Perdana Menteri Fuad Siniora (Islam Sunni) menghentikan tekanannya atas isu senjata Hizbullah. Tidak hanya itu, Siniora juga mengabulkan tuntutan oposisi untuk memberikan 11 kursi menteri dalam pemerintahan serta hak veto kepada kubu oposisi.

Sistem politik di Lebanon sangat janggal dibandingkan dengan prinsip-prindip demokrasi yang memberikan hak lebih besar kepada suara terbanyak. Sistem politik Lebanon adalah sistem distrik berdasar sektarianisme. Setiap kelompok agama mendapat jatah kursi di Parlemen, namun tidak berdasar populasi melainkan berdasarkan kesepakatan tahun 1989 yang diadakan untuk mengakhiri perang saudara yang telah berlangsung 15 tahun.

Sebagai contoh dalam pemilu yang baru berakhir, Shiah dan Sunni memiliki jumlah pemilih terdaftar sebanyak 873,000 and 842,000, namun keduanya mendapatkan kursi yang sama, yaitu 27 kursi. Di sisi lain Kristen Maronite dan Druze memiliki suara terdaftara sebanyak 697,000 dan 186,000. Namun mereka masing-masing mendapat jatah 34 dan 8 kursi, jauh dari proporsi pemilih mereka. Di samping itu terdapat 120.000 pemilih dari luar negeri (ekspatriat) yang memberikan suaranya di tanah air (karena konstitusi melarang pemilihan umum dilaksanakan di luar negeri).

Dengan tingkat pertisipasi pemilihan sebesar 52% dari 3 juta pemilih terdaftar kubu oposisi memperolah 840.000 suara (55% pemilih), dan kubu pemerintah hanya mendapat suara 692.000 suara (45%). Namun sistem pembagian kursi yang berlaku membuat oposisi hanya mendapat 57 kursi sementara pemerintah mendapat 71 kursi (termasuk tambahan 3 kursi dari partai-partai independen). Kejanggalan juga dialami partai Free Patriotic Movement (faksi terbesar dari golongan Kristen Maronite yang tergabung dengan kubu oposisi). Meski memenangkan suara dengan perolehan 52%, partai ini memperoleh kursi lebih kecil dibandingkan partai Kristen Maronite rivalnya yang tergabung dalam kubu pemerintah (Phalangis dan Lebanon Force).

Jadi fakta sebenarnya, berdasarkan prinsip demokrasi, kubu oposisilah yang sebenarnya memenangkan pemilu. Apalagi jika sistem pembagian kursi dirubah, atau pemilu benar-benar dilakukan dengan jujur dan adil. Perlu diketahui bahwa menjelang pemilu beberapa manuver politik dilakukan oleh para tokoh yang semestinya bersikap netral. Misalnya saja Presiden dan Patriach (pemimpin tertinggi Kristen Maronite Lebanon), dua orang figur penting yang semestinya bersikap netral, dalam kenyataannya telah melakukan manuver-manuver politik yang menguntungkan kubu pemerintah. Selain itu ada kecurigaan kuat bahwa sebagian besar pemilih ekspatriat yang berjumlah 120.000 orang telah diorganisir untuk memilih kubu pemerintah.

Kubu oposisi secara riel memenangkan perolehan suara dengan selisih hingga 10%, jauh di atas selisih kemenangan Presiden Obama atas John McCain yang hanya 6%. Namun oleh media massa Obama disebut-sebut memenangkan pemilu dengan gemilang, sementara oposisi Lebanon disebut-sebut kalah telak.

Konstalasi politik Lebanon sangatlah sulit ditebak. Jendral (Pur) Michael Aoun, pemimpin Free Patriotic Movement adalah seorang ikon penentang Syria, namun justru bergabung dengan kubu oposisi yang pro Syria. Di lain pihak Walid Jumlatt, pemimpin Druze yang dahulu merupakan sekutu setia Syria, berada di kubu pemerintah yang anti Syria. Akhir-akhir ini Jumlatt sering memberikan sinyal kuat untuk kembali bergabung dengan kubu pro Syria. Jika ini yang terjadi, maka kubu oposisilah yang akan menjadi pemenang dan berhak untuk membentuk pemerintahan karena komposisi kursi menjadi 65-63 untuk kemenangan kubu oposisi.

Hal menarik untuk disimak nantinya adalah apakah pemerintah mendatang akan tetap mempertahankan konsensus yang telah dibangun bersama kubu oposisi dalam pemerintahan terakhir, yaitu memberikan 1/3 kursi kabinet disertai hak veto kepada kubu oposisi serta mengendapkan pembahasan tentang persenjataan Hizbollah. Setiap pelanggaran atas konsensus tersebut, terutama mengenai isu persenjataan Hibollah yang didiktekan oleh barat kepada pemerintah, dapat mengancam Lebanon kembali berkubang dalam perang sipil. Dengan pengalamannya "mengalahkan" Israel dalam Perang Lebanon tahun 2006, ditambah kemenangan moril yang diperoleh dari hasil pemilu, Hizbollah tidak akan segan-segan untuk menggunakan senjatanya untuk melawan pemerintah sebagaimana dilakukan tahun lalu.

Friday, 12 June 2009

Tidak Terlalu Sulit Membangun Negeri, Tapi .....


Sebagian besar rakyat Indonesia tentu masih bertanya-tanya ---khususnya pada saat-saat seperti sekarang ini dimana pemilihan presiden telah di depan mata---, kenapa Indonesia tidak pernah menjadi bangsa yang makmur meski dikaruniai Allah dengan kekayaan alam yang melimpah serta telah merdeka 60 tahun lebih. Padahal negara-negara lain yang start pembangunannya lebih lambat dan tidak dikaruniai kekayaan alam melimpah, mampu tampil sebagai negara maju yang makmur. Sebut saja Jepang dan Jerman yang hancur lebur setelah Perang Dunia II, Korea Selatan yang pada tahun 1960-an masih tertinggal dibandingkan Indonesia, Cina yang 20-an tahun lalu masih menjadi negara miskin, atau Singapura dan Malaysia yang baru merdeka di tahun 1960-an.

Padahal secara teori mengelola negara sebenarnya tidak terlalu sulit, tidak berbeda jauh dengan prinsip-prinsip mengelola perusahaan atau bahkan keluarga. Dengan semangat kerja yang tinggi, manajemen pembangunan yang efektif dan efisien serta pengelolaan keuangan yang bijaksana, sebuah keluarga, perusahaan dan bahkan negara pasti akan menjadi makmur. Apalagi bila keluarga, perusahaan dan negara tersebut memiliki modal yang besar. Dalam sebuah negara modal dimaksud adalah sumber kekayaan alam.

Yang dibutuhkan oleh sebuah negara untuk bergerak maju secara ekonomi adalah infrastuktur yang baik (transportasi, komunikasi, energi), kondisi sosial politik yang stabil, dan etos kerja masyarakat yang cukup tinggi. Adapun tugas pemerintah adalah mengupayakan kondisi-kondisi tersebut terpenuhi (pelayanan publik yang baik). Jika semua itu terpenuhi maka secara pasti akan tercipta produksi barang dan jasa yang melimpah yang mudah didapatkan oleh rakyat. Dalam konteks makro kondisi tersebut disebut sebagai kondisi "pendapatan nasional tinggi" atau "produktifitas nasional yang tinggi" yang merupakan indikator kesejahteraan rakyat.

Dalam kondisi pendatan nasional yang tinggi ini maka semua warganegara bisa mendapatkan barang dan jasa dengan mudah, dan pemerintah mendapatkan pendapatan pajak yang tinggi dari kegiatan-kegiatan ekonomi rakyatnya. Jika pendapatan pemerintah tersebut dikelola dengan bijaksana, misal dengan meningkatkan kualitas infrastruktur, meningkatkan kualitas pelayanan publik, membuka potensi alam yang terpendam, membantu pembiayaan usaha rakyat, memberi subsidi sektor industri dan pertanian, meningkatkan pendidikan dan kualitas tenaga kerja dll (semuanya itu disebut sebagai pembangunan), maka produktifitas atau pendapatan nasional akan meningkat yang secara otomatis juga meningkatkan pendapatan pemerintah di samping kesejahteraan rakyat.

Dalam kondisi tertentu terdapat masa di mana produktifitas nasional terganggu karena berbagai sebab seperti bencana alam pemerintah sangat dibutuhkan peranannya untuk mengatasi masalah ini. Inilah sebabnya maka pemerintah yang bijaksana tidak akan menghabiskan seluruh pendapatannya, melainkan menyimpan sebagian daripadanya dalam bentuk tabungan atau investasi yang dapat dipergunakan untuk mengatasi kondisi-kondisi krisis. Semakin banyak tabungan atau investasi pemerintah, semakin besar pula kemampuannya untuk melakukan pembangunan dan mengatasi kondisi krisis. Bila semua kondisi tersebut dapat dijaga, dapat dipastikan seiring berjalannya waktu, negara dan rakyatnya akan semakin makmur.

Jika faktor perdagangan luar negeri turut dihitung, maka tentunya kemakmuran akan semakin tinggi lagi. Tingginya produktivitas nasional membuat neraca perdagangan menjadi surplus yang berarti juga menambah cadangan devisa nasional. Cadangan devisa merupakan kekayaan nasional yang dapat digunakan untuk membeli barang-barang dan jasa dari luar negeri untuk kesejahteraan rakyat.

Namun kondisi ini tidak terjadi di Indonesia. Saya melihat ada beberapa faktor, terutama faktor kepentingan asing yang di satu sisi ingin menguras kekayaan alam Indonesia dan di sisi lainnya tidak menginginkan Indonesia muncul sebagai kekuatan yang mengancam hegemoni mereka. Untuk itu mereka terus berupaya menciptakan konflik yang mengganggu kondisi sosial politik dan mendikte kebijakan ekonomi pemerintah yang ujung-ujungnya membuat pemerintah lemah dan tidak mampu menjalankan fungsinya dengan optimal.

Semua itu bisa mereka lalukan karena bekerjasama dengan para komprador domestik seperti para ekonom neoliberal, birokrat dan politisi korup, dan para pemimpin negara yang tamak.

Lihatlah bagaimana pemerintah dan DPR selalu membuat dan melaksanakan kebijakan APBN berimbang (pengeluaran dan pendapatan sama), atau bahkan defisit (pengaluaran lebih besar daripada pendapatan) yang membuat pemerintah tidak pernah memiliki tabungan dan bahkan sebaliknya selalu tergantung kepada hutang luar negeri. Lihatlah bagaimana APBN yang boros dan kurang memenuhi azas manfaat: anggaran pembangunan lebih kecil dibanding anggaran belanja rutin atau alokasi anggaran pembangunan yang tidak tepat sasaran. Lihatlah bagaimana pembangunan infrastruktur tidak pernah optimal: pembangunan jembatan Suramadu lebih diutamakan daripada jembatan Jawa-Sumatera, infrastuktur yang timpang antara Jawa dengna luar-Jawa. Semuanya itu masih diperparah dengan korupsi yang tinggi yang membuat realirasi anggaran lebih rendah daripada yang dikeluarkan (menurut "embah"-nya para ekonom, Sumitro Djojohadikusumo, kebocoran APBN mencapai 30%).

Saya ingin memberikan gambaran sederhana jika saja pemerintah melakukan kebijakan ekonomi yang lebih bijak. Katakanlah dana Rp 100 triliun yang harus dikeluarkan setiap tahun untuk membayar hutang, direskedul untuk digunakan membangun infrastruktur di luar Jawa (termasuk jembatan Jawa-Sumatera), membuka hutan untuk perkebunan serta meningkatkan kualitas TKI (pendapatan yang diberikan oleh TKI kepada perekonomian nasional sangatlah signifikan. Jika kualitasnya ditingkatkan maka kontribusinya dapat meningkat beberapa kali lipat), maka dipastikan pendapatan nasional akan meningkat pesat. Apalagi jika pemerintah mau melakukan kebijakan yang lebih mendasar seperti pengembangan energi alternatif, intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian, transmigrasi, subsisi sektor industri dan pertanian, penerapan kuota perdagangan dan bea masuk untuk melindungi ekonomi nasional dsb.

Saya pernah membayangkan seandainya pemerintah mau mengembangkan industri otomotif tenaga baterai yang secara teknis sangat-sangat memungkinkan dan memiliki keunggulan: bebas polusi dan hemat energi. (Di kota saya Medan, tengah beredar kendaraan roda dua bertenaga batere buatan domestik. Kendaraan ini mampu melaju cukup kencang untuk ukuran transportasi kota dan menempuh jarak 60 km sekali charge). Jika ini dilakukan maka akan terjadi penghematan nasional yang sangat besar. Rakyat dapat mengalokasikan pendapatannya yang sebelumnya dihabiskan untuk konsumsi BBM, untuk konsumsi lain termasuk konsumsi barang-barang produktif. Di sisi pemerintah, penghematan konsumsi BBM dapat digunakan untuk alokasikan pembangunan lain. Keuntungan lainnya adalah pengembangan industri otomotif nasional akan menyerap tenaga kerja dan menciptakan stimulus ekonomi yang besar. Belum lagi dengan penghematan devisa yang sebelumnya dihabiskan untuk membeli kendaraan impor.

Namun mengelola negara, khususnya Indonesia tidak semudah itu. Jangankah melakukan kebijakan mendasar seperti tersebut di atas, untuk sekedar mereskedul hutang luar negeri demi memberi nafas bagi pemerintah untuk membangun saja sudah mendapatkan tantangan ramai-ramai dari para komprador asing di tanah air. "Kepercayaan luar negeri terancam" atau "bertentangan dengan prinsip ekonomi bebas", demikian bahasa yang biasa digunakan para pengamat ekonomi dan politik, birokrat dan politisi, aktivis LSM dan media massa. Dan jika kita berupaya mengembangkan energi nuklir (sumber energi paling efisien dan digunakan oleh semua negara maju) maka para aktivis LSM akan berteriak-teriak menentang. Dalam tahap lebih tinggi maka inteligen asing (melalui para komprador) bermain mengobok-obok keamanan di daerah-daerah hingga ibukota hingga melakukan pembunuhan politik.

Itu semua karena banyak sekali orang Indonesia yang bekerja untuk kepentingan asing daripada kepentingan negaranya sendiri.

Tuesday, 9 June 2009

Memahami Syiah Mengenai Para Sahabat


Saya baru saja membaca buku berjudul "Dialog Sunnah-Syiah" karya tulisan Syeikh Syarafuddin Al-Musawi, ulama syiah dari Lebanon. Buku ini merupakan rangkuman diskusi antara penulis dengan Syaikh Salim Al-Bisyri Al Maliki, rektor lembaga pendidikan Islam paling terkenal, Universitas Al Azhar.

Sebelumnya perlu saya tuliskan bahwa Universitas Al Azhar sebenarnya didirikan oleh dinasti Fathimiyah Mesir yang beraliran syiah sebelum akhirnya dikuasai oleh Sultan Shalahuddin dari Turki yang beraliran Sunni. Hingga kini Al Azhar merupakan lembaga pendidikan Sunni paling berpengaruh di dunia Islam.

Dalam diskusi ini saya mendapat kesan mendalam bahwa, bahkan seorang ilmuwan Islam besar seperti seorang rektor Al Azhar tidak memahami banyak tentang Syiah. Sebagian besar persepsinya tentang Syiah ditentukan oleh lingkungannya, bukan melalui kajian yang dilakukan sendiri secara mendalam. Dalam dialog tersebut tampak kesan bahwa seorang rektor Al Azhar menjadi seperti anak kecil yang bertanya hal-hal mendasar tentang pemahaman Syiah (yang dikuasai di luar kepala oleh anak-anak kecil dari kalangan syiah) yang sebenarnya justru terdapat dalam referensi pokok ajaran Islam, yaitu Al Qur'an dan hadits.

Penasaran mengenai pengetahuan orang-orang Sunni mengenai Syiah, saya pun mengajak berdiskusi tentang Syiah dengan beberapa orang teman yang saya anggap memiliki pengetahuan cukup luas tentang Islam. Salah satu teman yang saya ajak diskusi adalah seorang alumni sebuah pesantren di Jawa Tengah. Kepadanya saya bertanya tentang dalil-dalil dasar yang menjadi pegangan orang-orang Syiah atas keyakinannya. Kepadanya saya hanya sempat mengajukan beberapa pertanyaan tentang nash dalam Al Qur'an yang menyebutkan sifat munafik sebagian besar sahabat Rosulullah, kewajiban menyayangi keluarga Rosulullah serta kesucian keluarga Rosulullah yang menjadikan kita wajib menghormatinya (dalam konteks agama menjadikan mereka sumber rujukan semua masalah agama, dan dalam konteks politik menjadikan mereka pemimpin). Demi Allah, teman saya tersebut tidak mengetahui apa yang saya tanyakan meski banyak sekali nash dalam Al Qur'an, hadis, maupun buku-buku sejarah.

Tentang kemunafikan sebagian besar sahabat disebutkan beberapa kali dalam Al Qur'an. Namun menurut saya yang paling tegas adalah surat Al Jumuah ayat 11: "Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka meninggalkan kamu sedang berdiri berkutbah." serta surat At Taubah ayat 101: "Sesungguhnya sebagian dari orang-orang badui di luar kota dan sebagian orang-orang kota di sekelilingmu mereka sungguh keterlaluan dalam kemunafikan. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka. Kami yang mengetahuinya."

Riwayat yang menyebutkan turunnya surat Al Jumuah ayat 11 tersebut menyebutkan bahwa surat tersebut turun saat Rosulullah yang tengah berkhotbah jumat ditinggalkan oleh para sahabat yang tertarik dengan kedatangan padagang yang baru tiba dari Syiria, kecuali Ali, Hasan, Husein serta segelintir sahabat lain. Saat itu Rosullah berkata: "Seandainya bukan karena kalian (jemaah yang tetap tinggal di dalam masjid), tentu Allah akan menghancurkan kota ini (Madinah) dengan batu."

Tentang kewajiban (saya tekankan sekali lagi kewajiban yang menjadi sebuah dosa bila ditinggalkan) menyayangi kepada keluarga Rosulullah Allah telah berfirman dalam Al Qur'an: "Katakanlah (Muhammad), aku tidak meminta upah atas apa yang telah aku berikan kepadamu kecuali kasih sayang kepada keluargaku." (As Syura: 23). Bahkan salah satu rukun shalat (ibadah utama dalam Islam) yang tidak boleh ditinggalkan adalah bersholawat kepada nabi dan keluarganya: "Allahuma shali ala sayiddina Muhammad, wa alaa ali sayiddina Muhammad."

Al Qur'an juga memberi keistimewaan kepada keluarga nabi Muhammad seperti larangan menerima sedekah, hak mendapatkan pampasan perang, dan hak untuk mendapatkan tunjangan dari negara. Hal ini dimaksudkan Allah agar keluarga nabi Muhammad bisa berkonsentrasi memimpin ummat tanpa harus direpotkan dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Hak ini tidak dimiliki oleh siapapun termasuk para sahabat utama sekali pun.

Sungguh ironis, mencintai keluarga Rosulullah yang merupakan salah satu ajaran pokok Islam justru ditinggalkan sebagian besar ummat Islam. Mencintai keluarga Rosulullah diganti dengan mencintai sahabat. Nash-nash yang sangat jelas pun terkadang diselewengkan untuk menutupi kebenaran. Surat As Syura: 23 diselewengkan terjemahannya menjadi: "Katakanlah (Muhammad), aku tidak meminta upah atas apa yang telah aku berikan kepadamu kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan."

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menghilangkan jasa para sahabat dalam penegakan Islam. Tidak dapat dibantah bahwa para sahabat telah berjasa banyak dalam penegakan Islam. Namun menempatkan sahabat di atas keluarga nabi adalah sama dengan menempatkan anak angkat di atas anak kandung, atau menempatkan teman di atas kerabat yang semuanya itu dilarang dalam Islam.

Apalagi jika sahabat yang dimaksud adalah orang-orang munafik yang disebutkan Allah dalam surat Al Jumuah dan At Taubah. Dan terlebih lagi jika para sahabat dianggap sebagai orang-orang yang maksum (terbebas dari dosa) yang sama sekali tidak memiliki dalil dalam Al Qur'an maupun hadits. Justru sebaliknya keluarga rosul-lah yang telah dijamin bersih dari dosa sebagaimana ditekankan Allah dalam Al Qur'an: "Sesungguhnya Allah akan menghilangkan segala kenistaan dari padamu hai ahlul bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya." (S. Al Ahzab ayat 33).

Bila kita mau kritis sedikit, kita tentu mengetahui bahwa antara sahabat rosul Muhammad S.A.W terdapat beberapa golongan. Jika dibentangkan maka para sehabat berada di antara dua kutub yang bertentangan, yaitu kelompok orang-orang munafik dan
kelompok sahabat yang ikhlas. Di luar itu, dengan tingkat yang lebih tinggi terdapat kerabat dan keluarga rosul. Mereka di antaranya adalah paman nabi Hamzah, sepupu nabi Jafar bin Abu Thalib, sepupu dan anak angkat nabi Ali bin Abi Thalib, cucu
nabi Hasan dan Husein dll, anak-cucu nabi ditambah istri-istri nabi.

Sahabat yang ikhlas adalah para sahabat yang mencintai rosul dan patuh kepadanya tanpa reserve sebagaimana diperintahkan oleh Allah dalam Al Qur'an. Di antara mereka adalah Ammar bin Yassir dan Mushab bin Umair, Abu Dujannah, Bilal, Abu Dzar al Ghifari, Salman al Farisi dll. Abu Dujannah misalnya, adalah seorang sahabat yang rela menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi Rosul dalam Perang Uhud sehingga beliau mati syahid. Ironisnya sejarah hidup mereka tidak banyak diungkap
oleh para sejarahwan, tersisih oleh sosok-sosok sahabat lainnya seperti Abu Bakar, Umar dan Usman.

Sahabat munafik adalah orang-orang mushrik musuh Islam yang berpura-pura masuk Islam. Sebagaimana disebut dalam surat At Taubah ayat 101 para sahabat yang masuk dalam kelompok munafik tidak diketahui meski ada riwayat yang menyebutkan bahwa
menjelang kematian rosul beliau mendapat wahyu tentang orang-orang munafik di sekeliling beliau dan hanya sahabat Hudzaifah saja yang mendapatkan informasi tentang keberadaan mereka. Hudzaifah, seorang sahabat yang sangat wara' membawa rahasia itu hingga ke liang lahat.

Di luar sahabat yang iklhas dan sahabat munafik adalah para sahabat yang beriman kepada Islam namun masih memiliki reserve tertentu. Mereka tampak ikhlas dalam keimanan, namun terkadang bahkan seringkali juga menentang rosulnya. Dengan berat hati karena pasti banyak ditentang oleh sesama muslim, dan tanpa mengurangi penghormatan saya atas jasa-jasa mereka, saya katakan di antara mereka terdapat nama-nama sahabat utama seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Muawiyah.

Saya mencantumkan nama mereka karena dalam banyak riwayat yang diakui validitasnya, mereka seringkali atau setidaknya sekali pernah menentang perintah rosul. Penentangan mereka sudah cukup dianggap sebagai pelanggaran terhadap hukum Islam yang secara tegas memerintahkan orang-orang Islam untuk taat tanpa reserve kepada semua perintah Rosul. Banyak sekali perintah Allah dalam Al Qur'an yang mewajibkan ummat Islam untuk ta'at kepada rosul-nya tanpa reserve. Jangankan menentang perintah Rosul, berbicara kurang sopan saja kepada Rosul telah cukup membuat seorang sahabat kehilangan amal-amalnya.

Terkadang Rosul memang meminta pendapat para sahabat dalam urusan-urusan tertentu. Namun apabila suatu urusan telah ditetapkan oleh Rosul, tidak ada alternatif lain bagi ummat Islam kecuali menurutinya sebagaimana diperintahkan Allah dalam Al Qur'an. Allah juga telah menegaskan dalam Al Qur'an bahwa semua tindakan dan ucapan Rosul bukanlah berasal dari hawa hafsu beliau, melainkan telah diwahyukan terlebih dahulu oleh Allah melalui malaikat Jibril.

Abu Bakar dan Umar tercatat pernah menentang perintah Rosul untuk menghukum mati seorang tokoh khawarij. Abu Bakar dan Umar termasuk sahabat yang enggan melaksanakan ekspedisi Usamah bin Ziyad beberapa hari menjelang kematian Rosul. Usman bin Affan tercatat pernah menentang perintah Rosul untuk menghukum mati seorang musrik pada peristiwa Fattul Makkah. Sedangkan Muawiyah baru masuk Islam setelah tidak ada alternatif lain selain terusir dari Mekkah atau dihukum badan menyusul kejatuhan Mekkah.

Namun di antara para sahabat tidak ada yang lebih banyak menentang Rosul selain Umar bin Khattab. Umar menentang bahkan sampai mempertanyakan kerosulan Muhammad S.A.W dalam peristiwa perjanjian Hudaibiyah. Umar menentang Rosul saat memerintahkan Abu Hurairah mengabarkan kabar gembira pada semua orang yang masuk Islam. Umar menentang perintah Rosul saat Rosul akan menuliskan wasiat menjelang kematian beliau. Bahkan setelah Rosul meninggal Umar berani melakukan ijtihad yang melanggar Al Qur'an dan sunnah Rosul (dalam hal pembagian zakat dan dua mut'ah: mut'ah haji dan mut'ah perkawinan). Dan jauh berbeda dengan Abu Dujannah yang melindungi Rosul hingga syahid, Umar tercatat dalam buku sejarah sebagai seorang sahabat yang lari dari medang Perang Uhud.

Dan lihatlah apa yang dilakukan Usman bin Affan. Setelah bersumpah akan menjalankan semua kebijakan Abu Bakar dan Umar demi menggapai keinginannya menjadi khalifah, kebijakan politik pertama yang dilakukan sebagai khalifah justru mengingkari sumpahnya dengan memecat para pejabat yang dianggkat Umar dan digantikannya dengan sahabat dari keluarganya sendiri.

Semua sahabat dalam kadar tertentu telah berjasa dalam menegakkan Islam. Namun menempatkan mereka lebih tinggi dari haknya adalah sebuah kekeliruan yang harus diluruskan. Apalabi jika penempatan tersebut disertai "penyingkiran" terhadap sahabat lain yang lebih utama.

Supremasi WASP yang Menghilang


Ada keyakinan di sebagian kalangan masyarakat informasi, sebagaimana saya dahulu, bahwa Amerika (dengan demikian juga dunia) dikendalikan oleh sekelompok elit dari kalangan WASP (kulit putih, berbahasa Inggris dan beragama protestan). Mereka melakukan konspirasi melalui organisasi rahasia Skull and Bones dan dinas inteligen bentukannya, CIA, untuk menguasai Amerika dan juga dunia.

Para pemimpin Amerika sebagian besar berasal dari komunitas ini, termasuk aktif dalam organisasi Skull and Bones. Selain CIA yang didirikannya, selama berpuluh tahun anggota Skull and Bones juga menguasai lembaga pengadilan, birokrasi pemerintahan dan sudah barang tentu dunia bisnis. Untuk mempertahankan dominasinya mereka juga berkonspirasi merancang undang-undang pembatasan imigrasi dan pembatasan kelahiran bagi etnis-etnis non WASP.

Pada akhir abad 19, ketika disadari gelombang imigrasi dari negara-negara non WASP seperti Rusia dan negara-negara katholik seperti dan Italia dan Irlandia dapat mengubah struktur demografi Amerika dan mengancam dominasi WASP, maka orang-orang WASP melancarkan program pembatasan polulasi yang dikenal dengan Eugenics Movement. Pahlawan WASP yang paling berjasa dalam hal ini adalah Hakim Agung Oliver Wendell Homes, yang dipilih oleh presiden Teddy Roosevelt yang juga WASP. Oliver dalam satu pidatonya yang terkenal di mahkaham agung Amerika tahun 1928 mengatakan, "adalah lebih baik bagi dunia, daripada menunggu untuk memotong generasi yang rusak karena kejahatan, untuk membiarkan mereka kelaparan karena kebodohan mereka. Masyarakat dapat mencegah generasi yang tidak sehat untuk meneruskan keturunannya. Tiga generasi bodoh sudah cukup."

Maka sejak tahun 1910, satu demi satu negara bagian Amerika mengadopsi undang-undang pembatasan kelahiran yang ditujukan kepada etnis-etnis non WASP. Undang-undang bernuansa rasial juga diterapkan. Pada tahun 1924 misalnya, negara bagian Virginia menerapkan Racial Integrity Act yang melarang orang kulit putih menikah dengan orang kulit hitam. Pada akhir dekade 1920-an sebanyak 39 negara bagian telah menerapkan undang-undang sejenis. WASP juga berhasil mengadopsikan undang-undang anti narkoba yang keras sembari merecoki orang-orang non WASP dengan barang-barang adiktif sehingga antara tahun 1880 dan 1929 orang-orang non WASP yang ditahan di penjara meningkat tajam dari 32.000 menjadi 270.000 orang. Immigration Act yang diadopsi tahun 1924 secara efektif juga berhasil menghentikan gelombang imigrasi dari Rusia dan Eropa Selatan. Pada saat yang sama undang-undang tersebut justru mendorong arus imigrasi yahudi dari Eropa yang sebelumnya mengalir ke Amerika untuk berpindah ke Palestina.

Lebih jauh pada tahun 1927 Mahkamah Agung Amerika melegalkan program sterilisasi bagi orang-orang yang dianggap tidak sehat. Pada masa itu Amerika tidak ubahnya seperti Jerman di bawah kepemimpinan Adolf Hitler. Dan karena Hitler berkuasa pada dekade 1930-an hingga 1940-an, maka bisa dikatakan Hitler hanya mencontoh apa yang dilakukan Amerika.

Namun itu semua adalah masa lalu. Amerika tidak lagi dikuasai oleh WASP, melainkan Yahudi. Yahudi sebaliknya berusaha membuat Amerika sebagai negara terbuka sehingga jutaan imigran gelap maupun legal terus-menerus membanjiri Amerika setiap tahun, ditambah angkat kelahiran yang rendah membuat prosentase WASP semakin kecil. Diperkirakan pada tahun 2040 nanti kulit putih menjadi kelompok minoritas.

Bahkan Mahkamah Agung, lembaga yang selama puluhan tahun menjadi pilar kekuasaan WASP, kini mereka telah menjadi minoritas. Dari sembilan Hakim Agung yang ada, hanya ada seorang WASP, yaitu John Paul Stevens. Itupun sudah sangat uzur dengan umur 88 tahun. Yang lainnya, enam orang Katholik, dua yahudi dan seorang wanita berdarah latin, Sonia Sotomayor.

Dan dengan terpilihnya Barack Obama sebagai presiden, maka secara resmi berakhirlah sudah era dominasi WASP dalam panggung kekuasaan Amerika.

Keterangan gambar: Anggota Skull and Bones. George W Bush (berdiri nomor 6 dari kiri) adalah anggota perkumpulan rahasia ini.

Boediono, Mafia Barkeley dan Neo Liberalisme


Akhir-akhir ini masyarakat tengah disibukkan dengan sebuah isu politik terkait dengan pemilihan presiden yang sebentar lagi akan digelar di Indonesia. Isu itu adalah tentang faham neo-liberalisme yang melekat pada sosok Boediono yang oleh capres SBY digaet sebagai pendampingnya sebagai wakil presiden.

Hal ini wajar saja karena masyarakat yang sudah mulai sadar politik telah menyadari bahwa faham neo-liberal inilah yang telah membuat bangsa Indonesia tidak pernah bisa bangkit dari keterpurukan. Padahal sebagai bangsa besar yang dinugerahi sumber daya alam yang melimpah dan rakyat yang ulet, Indonesia tidak memiliki alasan untuk terpuruk secara ekonomi kecuali sengaja disetting oleh kekuatan jahat dari luar negeri bekerjasama dengan para komprador di dalam negeri.

Boediono sendiri cukup memiliki alasan untuk dicap sebagai penganut faham neo-liberal berdasar track record pendidikan, karier serta kebijakan-kebijakan yang telah dilakukannya sebagai seorang pejabat publik.

Pertama-tama perlu difahami dan disamakan persepsi tentang apa itu neo-liberalisme dan mafia Barkeley. Neo-liberalisme adalah sebuah faham ekonomi yang menginginkan adanya liberalisme (kebebasan) di semua bidang yang pada intinya akan memberikan peluang lebih besar bagi para pemilik modal (asing) untuk semakin banyak menumpuk kekayaannya di seluruh penjuru dunia. Paham neo-liberal juga terkait dengan aspek politik dengan mendorong semua keputusan politik negara-negara dunia untuk mengacu kepada pemberian kebebasan seluas-luasnya bagi para pemilik modal asing sekaligus menafikan peranan negara.

Adapun mafia Berkeley adalah salah satu agen pelaksana agenda neo-liberalisme di Indonesia. Organisasi ini tidak memiliki bentuk formal, namun memiliki sistem regenerasi yang mapan. Generasi awalnya adalah Prof. Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Emil Salim, Soebroto, Moh. Sadli, JB Soemarlin, Adrianus Mooy, dan masih sangat banyak lagi. Yang sekarang dominan adalah Sri Mulyani, Moh. Ikhsan, Chatib Basri, dan masih banyak lagi. Mereka tersebar pada seluruh departemen dan menduduki jabatan eselon I dan II, sampai kepala biro.

Para ekonom tersebut semuanya berasal dari Universitas Indonesia. Saat ini mereka diperkuat juga oleh beberapa ekonom dari UGM seperti Boediono, Anggito Abimanyu, Sri Adiningsih dll. Selain itu sebagai pengalih perhatian, mereka juga berkongkalikong dengan beberapa ekonom yang "menyamar" sebagai "pejuang ekonomi rakyat" seperti Faisal Basri. Ini mirip dengan Probosutejo di jaman Soeharto yang "menyamar" sebagai "pembela kepentingan pengusaha pribumi", atau Gunawan Muhammad yang menyamar sebagai sosok "sosialis" namun sebenarnya bekerja untuk para kapitalis, atau Emil Salim yang "menyamar" sebagai "pejuang lingkungan".

Ciri kelompok itu ialah masuk ke dalam kabinet tanpa peduli siapa presidennya. Mereka mendesakkan diri dengan bantuan kekuatan agresor. Kalau kita ingat, sejak akhir era Orde Lama, Emil Salim sudah menjadi anggota penting dari KOTOE dan Widjojo Nitisastro sudah menjadi sekretaris Perdana Menteri Djuanda. Widjojo akhirnya menjabat ketua Bappenas dan bermarkas di sana.

Setelah itu, presiden berganti beberapa kali. Yang “kecolongan” tidak masuk ke dalam kabinet adalah ketika Gus Dur menjadi presiden. Namun, begitu mereka mengetahui, mereka tidak terima. Mereka mendesak supaya Gus Dur membentuk Dewan Ekonomi Nasional. Seperti kita ketahui, ketuanya adalah Emil Salim dan sekretarisnya Sri Mulyani. Mereka berhasil mempengaruhi atau “memaksa” Gus Dur agar mereka diperbolehkan hadir dalam setiap rapat koordinasi bidang ekuin.

Tidak puas dengan itu, mereka berhasil membentuk Tim Asistensi pada Menko Ekuin yang terdiri atas dua orang saja, yaitu Widjojo Nitisastro dan Sri Mulyani. Dipaksakan bahwa mereka harus ikut mendampingi Menko Ekuin dan menteri keuangan dalam perundingan Paris Club pada 12 April 2000, walaupun mereka sama sekali di luar struktur dan sama sekali tidak dibutuhkan. Mereka membentuk opini publik bahwa ekonomi akan porak-poranda di bawah kendali tim ekonomi yang ada. Padahal kinerja tim ekonomi di tahun 2000 tidak jelek kalau kita pelajari statistiknya sekarang.

Yang mengejutkan, Presiden Megawati mengangkat Boediono sebagai menteri keuangan dan Dorodjatun sebagai Menko Perekonomian. Aliran pikir dan sikap Laksamana Sukardi sangat jelas sama dengan Berkeley Mafia.

Presiden SBY sudah mengetahui semuanya dan tetap saja memasukkan tokoh-tokoh Berkeley Mafia seperti Boediono, Sri Mulyani, Purnomo Yusgiantoro, dan Mari Pangestu ke dalam kabinet pemerintahannya.

Sebutan mafia bagi Mafia Berkeley, selain karena mereka adalah sekelompok ekonom yang dirancang untuk mendukung hegemoni Amerika Serikat (AS) dan merusak ekonomi Indonesia, juga mendapatkan dukungan penuh dari lembaga keuangan internasional seperti IMF dan World Bank untuk selalu mendapatkan kekuasaan di Pemerintahan Indonesia di bidang ekonomi.

Kelompok ini sangat berbahaya karena Mafia Berkeley memang dirancang secara sistematis untuk mengontrol ekonomi Indonesia. Kebijakan ekonomi yang diambil berisi empat strategi utama, yakni: kebijakan anggaran yang ketat dan penghapusan subsidi, meliberalisasi keuangan, meliberalisasi industri dan perdangangana serta melakukan privatisasi. Kebijakan yang mereka jalankan tersebut merupakan hasil rumusan dari IMF, Bank Dunia dan USAID.

Kelompok mafia tersebut telah dipersiapkan secara sistematis oleh kekuatan luar Indonesia selama sepuluh tahun sebelum berkuasa (1956-1966) sebagai bagian dari strategi Perang Dingin menghadapi kekuatan progresif dan revolusioner di kawasan Asia.

Kelompok yang dikenal dengan Mafia Berkeley ini kebanyakan dari generasi pertamanya lulusan Program Khusus di Universitas Berkeley, California. Universitas Berkeley sendiri merupakan salah satu universitas terkemuka di Amerika. Para mahasiswanya terkenal progresif dan mayoritas anti Perang Vietnam.

Namun, program untuk Mafia Berkeley dirancang khusus untuk orang Indonesia yang dipersiapkan untuk di kemudian hari menjadi bagian dari hegemoni global Amerika. Disebut mafia, mengambil idea dari organisasi kejahatan terorganisasi di Amerika, karena mereka secara sistematis dan terorganisasi menjadi alat dari hegemoni dan kepentingan global di Indonesia.

Selain sebagai bagian dari agen hegemoni global Amerika, Mafia Berkeley sekaligus berfungsi sebagai alat untuk memonitor kebijakan ekonomi Indonesia agar sejalan dan searah dengan kebijakan umum ekonomi yang digariskan oleh Washington. Garis kebijakannya adalah Washington Konsensus yang terdiri dari: kebijakan anggaran yang ketat, penghapusan subsidi, liberalisasi keuangan, liberalisasi industri dan perdagangan, serta privatisasi.

Dalam pemerintahan, Mafia Berkeley selalu menargetkan untuk menguasai jabatan di bidang ekonomi dan sumber daya. Jabatan tersebut bisa sebagai menteri, staf ahli maupun posisi lainnya yang langsung berhubungan dalam perumusan kebijakan ekonomi politik. Posisi tersebut sangat strategis.

Menteri Keuangan, misalnya. Selain sebagai penentu kebijakan keuangan negara, sekaligus sebagai bendahara negara. Artinya, tidak satu peser pun uang negara bisa keluar tanpa persetujuan Menteri Keuangan.

Selama 40 tahun lebih berkuasa, kebijakan ekonomi yang dijalankan oleh Mafia Berkeley dalam pemerintahan tidak pernah memberikan perubahan bagi kesejahteraan rakyat. Namun, hingga saat ini, Mafia Berkeley masih bercokol di sektor-sektor vital, seperti di Departemen Keuangan, Departemen Perdagangan, Departemen Energi Sumber Daya dan Mineral, Bank Indonesia, dan departemen lain yang berkaitan dengan sektor ekonomi strategis lainnya.

Kebijakan yang mereka ambil memang tidak pernah mempertimbangkan aspek kesejahteraan rakyat Indonesia. Mereka lebih memprioritaskan untuk melaksanakan perintah dari IMF dan Bank Dunia. Berbagai kebijakan ekonomi yang dikeluarkan justru menghambat kemajuan ekonomi dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Utang luar negeri, liberalisasi perdagangan dan keuangan, pencabutan berbagai macam subsidi (termasuk subsidi BBM) dan privatisasi yang menyerahkan aset milik negara pada pihak swasta maupun pemerintah asing.

Mafia Berkeley mendapat dukungan penuh dari pemerintahan negara maju, khususnya Amerika Serikat dan lembaga dan asosiasi ekonomi internasional. Dukungan tersebut ditunjukkan dengan memberikan citra positif bahkan penghargaan skala internasional terhadap Mafia Berkeley, walaupun mereka belum menunjukkan hasil kerja seperti yang digambarkan dalam penghargaan tersebut. Misalnya, waktu mereka memberikan penghargaan sebagai menteri keuangan terbaik kepada Sri Mulyani. Kita kan tahu, saat itu dia baru saja menjabat sebagai Menkeu, belum melakukan kerja yang berarti, tapi sudah dapat penghargaan internasional.

Mereka akan selalu memberikan kemudahan bagi pergerakan modal asing untuk menguasai perekonomian Indonesia, termasuk memastikan Indonesia tetap membayar utang-utang lama dan meneruskan pembuatan utang baru. Dengan ketergantungan utang ini, Mafia Berkeley bisa tetap berkuasa karena memungkinkan pihak asing untuk mengontrol perekonomian nasional melalui agen mereka, yaitu Mafia Berkeley.

Mereka sudah memposisikan diri sebagai budak Kapitalisme dan agen asing. Mereka akan melayani seluruh kemauan asing yang berkaitan dengan invasi ekonomi untuk memiskinkan Indonesia.

Kaderisasi dalam Mafia Berkeley telah dipersiapkan secara sistematis oleh kekuatan luar Indonesia. Program kaderisasi yang terpenting di dalam Mafia Berkeley adalah melalui pendidikan untuk orang Indonesia yang dipersiapkan untuk di kemudian hari menjadi alat dari hegemoni dan kepentingan global di Indonesia.

Karena mereka mampu melayani dengan baik para majikannya dan rakyat tidak menaruh perhatian serius pada sepak terjang Mafia Berkeley. Belum ada aksi protes dalam bentuk massif yang menggugat kejahatan mereka selama ini. Padahal kekisruhan politik akibat kenaikan BBM yang sekarang terjadi, aktor utamanya adalah Mafia Berkeley.

Untuk membersihkan Mafia Berkeley di pemerintahan kita harus memiliki agenda yang terstruktur dan berjalan simultan. Hal penting yang harus kita lakukan adalah bagaimana memperkuat opini publik, bahwa penyebab kesengsaraan rakyat hari ini adalah Mafia Berkeley. Jika rakyat ingin keluar dari kesengaraan ini maka Mafia Berkeley harus disingkirkan jauh-jauh dari seluruh aspek kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Mereka layak disingkirkan, karena mereka adalah agen asing dan pengkhianat.


Bagaimana dengan Boediono?

Prof Dr Boediono adalah seorang ekonom profesional yang mumpuni dari mazhab trickle down effect. Penganut mazhab ini umumnya lebih mementingkan membantu para pengusaha besar daripada membantu para petani, para pekerja yang bergaji rendah, dan para pencari kerja. Kepiawiaannya dalam pasar uang dan ekonom kapitalis neo-liberalisme membawa namanya menjadi menteri yang sangat disanjung oleh para kapitalis terutama asing. Karena itupula, Boediono sangat disukai oleh lembaga-lembaga Amerika Cs seperti World Bank, Asian Development Bank.

Pada waktu menjabat sebagai Menteri Keuangan saat pemerintahan Megawati Soekarnoputri, dia menyatakan bahwa pada dasarnya subsidi bagi rakyat harus dihapus. Dan ketika para petani tebu meminta proteksi, Boediono dengan enteng menyatakan, ”Kalau petani tebu merasa bahwa menanam tebu kurang menguntungkan, tanamlah komoditas lain yang lebih menguntungkan.”

Tampaknya pendapat Boediono sejalan dengan Taufiq Kiemas, suami Megawati, yang menyatakan subsidi seperti candu. Pada kenyataannya mereka tak konsisten, mereka malah mensubsidi para bankir (Mungkin inilah yang menyebabkan mengapa Taufik Kiemas sempat menolak Prabowo Subiyanto yang mengusung gerakan ekonomi rakyat).

Secara singkat, menurut guru besar ekonomi UGM Prof. Mubyarto, sejak private debt (utang bank swasta) dijadikan public debt (utang negara), sejak utang para konglomerat ”ditalangi” pemerintah, perbankan selalu mendapat subsidi, industri perbankan yang seharusnya menghasilkan pendapatan (revenue) ternyata menjadi beban (expenditure) negara. Pada tahun 1998 saja, ”bunga utang” para konglomerat yang dibebankan kepada APBN besarnya Rp 60 trilliun, empat kali lipat dari anggaran untuk pendidikan yang hanya sekitar Rp 15 trilliun.

Mazhab trickle down effect yang dianut oleh doktor-doktor tamatan Universitas Berkeley dan pengikutnya, pada awalnya membawa kemajuan bagi perekonomian kita meskipun melanggar UUD 1945. Mereka itu melupakan asas koperasi sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 33 UUD 1945 dengan sepenuhnya membantu pengusaha besar, yang dibiarkan pekerja mendapat gaji di bawah upah minimum. Itulah sebabnya Bung Hatta menamakan kelompok ini Mafia Berkeley. Jelas, ekonom-ekonom Mafia Barkeley bertentangan dengan UUD 1945, bertentangan dengan Mazhab Ekonomi Kerakyatan Bung Hatta. Dan ekonom Berkeley Amerika sendirilah yang menghancurkan ekonomi dengan krisis keuangan global 2008. Ini juga membuktikan kegagalan mazhab Barkeley yang mengagung-agungkan Kapitalis dan neo-liberalisme.

Mafia Berkeley berasumsi pemerintah perlu menyubsidi pengusaha besar agar mereka sukses. Dan bila mereka sukses, keuntungannya akan menetes ke bawah. Tetapi pada kenyataannya ketika mereka telah menjadi konglomerat, ketika mereka diimbau oleh Presiden Soeharto agar memberikan 25 persen sahamnya kepada koperasi karyawan, mereka menolak, dan hanya bersedia memberikan 1 persen. Hanya beberapa pengusaha, di antaranya Jusuf Kalla, yang bersedia memberikan 2 persen saham. Artinya mereka tidak ikhlas membagi keuntungan kepada karyawan sendiri.

Sindiran Presiden Soeharto kepada mantan tokoh mahasiswa yang telah menjadi konglomerat bahwa modal mereka hanya ”jaket kuning” tidak menggerakkan hati mereka untuk mengucurkan keuntungan kepada karyawan. Ironisnya, ketika terjadi krisis moneter, para konglomerat bersekongkol dengan kroni Soeharto agar seluruh rakyat Indonesia yang menanggung dan menalangi utang mereka sebesar Rp 650 trlliun berikut bunga. Besar bunganya sekitar 10 persen setiap tahun dan diperkirakan baru lunas pada 2030.

(Sumber: Situs Hizbut Tahrir Indonesia 8 Juli 2006 dan blog Nusantaraku, 13 Mei 2009).