Monday, 28 February 2011

KEADILAN YG AKHIRNYA DATANG KE LIBYA


Revolusi politik di Mesir dan Tunisia boleh saja menjadi pemicu revolusi yang kini tengah melanda Libya. Namun sebenarnya revolusi tersebut telah disemai sejak tahun 1996 oleh sebuah peristiwa “kecil”.

Kala itu Moammar Qadaffi membantai 1.200 tahanan politik di penjara Abu Saleem dekat Tripoli. Beberapa tahun terakhir, sebagaimana keluarga korban diktator Pinochet di Chili melakukan aksi protes tahunan “dansa sendiri” di Santiago, beberapa keluarga korban pembantaian penjara Abu Saleem melakukan aksi demonstrasi damai menuntut keadilan di kota Benghazi.

Pada tgl 14 Februari, didorong oleh aksi-aksi revolusi di berbagai beberapa negara tetangga, demonstrasi para korban pembantaian penjara Abu Saleem berlangsung lebih ramai. Kali ini dilaksanakan di depan markas milisi di Lapangan Berka. Keesokan harinya pemerintah menangkap Fathi Terbl, pengacara yang mewakili tiga kaluarga korban pembantaian Abu Saleem yang juga memiliki saudara kandung yang menjadi korban pembantaian tersebut.

Penangkapan tersebut memicu kemarahan keluarga korban dan warga yang bersimpati pada mereka. Merekapun melakukan aksi protes lebih besar yang dihadiri ratusan demonstran. Pasukan keamanan beraksi keras dengan menembaki para demostran di Lapangan Berka, menewarkan sekitar 20 demonstran.

Bensin telah disiramkan. Benghazi pun berkobar. Qadaffi menghadapi aksi kerusuhan dengan mengirimkan tentara bayaran dari Afrika (Libya adalah bangsa Arab yang secara etnis berbeda dengan orang-orang Afrika) yang sebagai penyamaran mengenakan seragam pekerja konstruksi dengan helm warna kuningnya. Sebagian tentara bayaran itu bahkan mengenakan seragam militer. Tanpa sungkan mereka menembaki demonstran di jalan-jalan dengan berbagai senjata ringan hingga berat termasuk meriam anti-pesawat dan RPG yang digunakan untuk menghancurkan tank. Tank-tank pun menembakkan meriamnya. Tidak hanya itu, bahkan pesawat-pesawat terbang pun dikerahkan untuk membomi para demonstran. Untuk menteror warga, para tentara bayaran itu juga membunuhi warga dengan parang dan kayu pemukul dan menggantung mayat korbannya di jalanan. Mereka bahkan menembaki warga yang tengah mengadakan upacara pemakaman atau beribadah di masjid.

Namun aksi biadab tersebut justru memicu warga, terutama para pemudanya, untuk melawan dengan gigih, bersenjata batu dan apapun yang bisa diraih. Mereka yang telah melihat bagaimana ketidak adilan telah diberikan Qadaffi kepada rakyatnya. Dengan penghasilan minyak yang mestinya bisa memberi mereka pendapatan per-kapita $10.000 setahun, sebagian besar rakyat Libya hidup dengan kurang dari $2 dolar sehari. Sementara keluarga Qadaffi diketahui rakyatnya menjalani hidup yang super mewah.

Saadi Gaddafi, putra ketiga Qadaffi kemudian dikirim untuk menenangkan warga dan tiba di Benghazi tgl 17 Februari. Kepada para demonstran ia berjanji akan melakukan reformasi dan mengajak berdialog. Namun ia menolak permintaan warga untuk menyingkirkan aparat keamanannya dari jalanan.Maka dialog pun terhenti dengan sendirinya dan pertempuran kembali meledak.

Lapangan Berka dan jalan-jalan Benghazi pun berubah menjadi medan perang. Dan dengan bantuan para tentara yang membelot setelah melihat pembantaian keji, rakyat lah yang akhirnya menjadi pemenangnya. Kemenangan rakyat juga terjadi di beberapa kota lainnya.

Kini Qadaffi dan keluarga, pendukung-pendukungnya dan tentara-tentara bayaran Afrika masih bertahan di satu-satunya kota yang masih dikuasai mereka, Tripoli. Qadaffi berikrar untuk mati mempertahankan kekuasaannya. Ikrar tersebut hampir dipastikan bekal dipenuhinya tidak lama lagi.

Sunday, 27 February 2011

TRAGEDI BEDONO DAN IRONI BANGSA INDONESIA


Saya baru saja menyaksikan film seri dokumenter "Bumi dan Manusia" yang ditayangkan stasiun televisi TVOne tgl 26 Februari lalu. Film dokumenter ini menyoroti kehidupan masyarakat Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Demak, Jawa Tengah. Yang membuat saya sangat terkesan dengan film ini adalah fenomena mengenaskan masyarakat di sana yang harus kehilangan kehidupannya karena ratusan hektar lahan sumber penghidupan mereka berupa tambak, sawah, ladang hingga perumahan mereka telah ditelan abrasi laut.

Tidak terkira kerugian dan penderitaan yang dialami masyarakat Bedono ini. Selain kehilangan sumber penghidupan, mereka juga harus menanggung kesulitan hidup yang tidak terkira. Hanya untuk sekolah, beribadah sholat di masjid, atau mengunjungi kerabat, mereka harus berbasah kuyup melintasi jalanan yang kini telah terendam air. Sebagian penduduknya, yang rumahnya telah terendam air sehingga tidak lagi bisa ditinggali, harus merelakan diri meninggalkannya dan pindah ke tempat yang lebih tinggi atau pindah ke daerah lain yang lebih jauh. Namun yang masih bisa berkompromi dengan keadaan yang menyedihkan, karena alasan ekonomi yang tidak memungkinkannya pindah ke tempat lain, harus rela menjalani kehidupan yang bagi sebagian besar orang mungkin dianggap sangat tidak manusiawi.

Yang juga membuat saya sangat terkesan dengan perasaan haru yang sangat adalah bahwa bagi mereka, bencana yang pada tahun 2000 tak pernah terbayangkan itu dianggap sebagai sebuah "bencana biasa".

"Ini semua adalah cobaan dari Tuhan," kata seorang penduduk sembari berjalan menyeberang kubangan air laut yang merendam jalan desa, saat hendak menunaikan ibadah sholat di mushola desa yang untuk mempertahankan keberadaannya telah ditinggikan pondasinya oleh penduduk.

Seorang penduduk lainnya, sembari memperbaiki jaring penangkap ikan yang telah koyak di sana-sini, dengan tersenyum mengatakan bahwa dirinya adalah bekas pengusaha tambak bandeng yang sukses. Ia dan hampir semua warga Bedono lainnya telah kehilangan berhektar-hektar tambak yang selama puluhan tahun menjadi sumber kehidupan keluarga. "Semuanya hilang ditelan laut," katanya sembari tetap tersenyum.

Padahal Desa Bedono, dahulu adalah desa yang "gemah ripah loh jinawi". Sebagian besar penduduk di sana berpenghidupan relatif makmur. "Hampir semuanya ada di sini. Selain ikan dan udang, padi, sayuran hingga buah-buahan juga banyak. Tapi semuanya kini hilang ditelan air laut," kata penduduk lainnya sembari menunjukkan bekas jalan desa yang pada tahun 2000 masih bisa dilalui mobil dan kini telah berubah menjadi aliran sungai.

Tragedi Bedono adalah sebagian kecil dari pahitnya kehidupan di negeri yang subur dan kaya dengan kekayaan alam ini. Ribuan korban Tragedi Lumpur Lapindo tentu tidak kalah mengenaskan dibanding mereka. Dan masih banyak lagi puluhan juta rakyat Indonesia yang kini harus menjalani hidupnya dengan sangat memprihatinkan. Orang-orang miskin di ibukota hingga penduduk miskin di kabupaten-kabupaten di Irian Jaya yang hanya bisa bermimpi untuk bisa memperbaiki rumahnya yang kumuh, karena harga 1 zak semen saja bisa mencapai Rp 1,5 juta akibat tidak adanya sarana transportasi ke sana, di negeri yang telah enam dekade lebih merdeka ini.

Kemudian pikiran saya berpindah ke Jakarta, tempat bermukim para politisi korup yang memimpin negeri ini dan tempat mengalirnya sebagian besar kekayaan negeri ini. Di sini para pemimpin negeri ini telah memutuskan untuk membangun gedung DPR baru senilai lebih dari Rp1 triliun lengkap dengan fasilitas hotel bintang 5, membayar uang muka pesawat kepresidenan sebesar Rp 200 miliar, membiayai renovasi rumah dinas DPRD yang nilainya hampir mencapai Rp 1 miliar tiap rumah, membayar biaya operasional kepresidenan hingga Rp700 miliar setahun, membayar biaya pengadaan furniture istana kepresidenan senilai Rp 2 miliar setahun dan baju dinas kepresidenan sebesar Rp 70 juta sebulan. Namun orang-orang itu masih belum merasa cukup. Mereka terus saja mengeluh tentang gaji mereka. Sementara untuk membiayai segala fasilitas mewah itu dipenuhi dengan berhutang kepada rentenir di luar negeri yang nilainya mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah setahun dan harus ditanggung seluruh rakyat, termasuk rakyat Desa Bedono.

Dan saya hanya bisa membayangkan seandainya revolusi yang tengah bergolak di Timur Tengah itu merembet ke Indonesia.

Wikileaks Tentang Keluarga Qaddafi


Awal tahun 2009 lalu media-media massa barat gencar memberitakan "kehebohan" yang dilakukan Seif al-Islam el-Qaddafi, salah seorang putra dari pemimpin Libya Muammar el-Qaddafi, yaitu pemberian cek senilai $1 juta atau sekitar Rp 10 miliar untuk penyanyi Mariah Carrey yang telah menyanyikan empat lagu untuknya di sebuah pesta di Pulau St. Barts, Caribia.

Di media massa Libya yang dikuasainya, Seif membantah keras berita tersebut. Sebaliknya ia mengungkapkan bahwa orang yang telah membuang-buang uang untuk Mariah Carrey tersebut adalah saudara kandungnya sendiri, Muatassim, yang menurut bocoran Wikileaks merupakan penasihat keamanan Libya.

Wikileaks juga membocorkan informasi menarik tentang Muatassim ini, yaitu tindakannya "memeras" direktur perusahaan minyak nasional Libya senilai $1.2 miliar pada tahun 2008. Uang itu, masih menurut Wikileaks digunakan untuk membiayai pasukan pribadinya sendiri, menyaingi saudaranya yang lain, Khamis, yang menjadi komandan pasukan khusus yang secara efektif menjadi pelindung keluarga Qadaffi.

Saat keluarga Qadaffi berkubang darah mempertahankan kekuasaannya dari para demonstran, Wikileaks membocorkan informasi gaya hidup mewah mereka, nepotisme serta persaingan sengit antar anggota keluarga. Wikileaks menyebut keluarga Qadaffi sebagai “Qadhafi Incorporated” sebagaimana disebutkan oleh kalangan diplomatik Amerika.

Laporan-laporan yang beredar di dunia maya itu tidak urung turut berperan membuat para demonstran semakin keras menuntut pengunduran diri Qadaffi meski “Qadhafi Incorporated” menguasai penuh media massa lokal. Dan persaingan antar anggota keluarga Qadaffi yang masing-masing memiliki pasukan bayaran sendiri, kemungkinan juga turut berperan dalam kerusuhan berdarah yang kini melingkupi negeri kaya minyak ini.

Meski masing-masing putra-putra Qadaffi telah memiliki kedudukan strategis seiring semakin tuanya sang diktator paling lama berkuasa di dunia, Moammar Qadaffi, mereka saling bersaing memperebutkan hak sebagai pemegang francise Coca-Cola. "Semua putra-putra Qadaffi dan orang-orang dekatnya mendapatkan aliran dana dari perusahaan minyak negara dan anak-anak perusahaan-perusahaan," papar Wikileaks mengutip pejabat kedubes Amerika di Libya tahun 2006.

Setahun yang lalu terjadi skandal yang memalukan keluarga Qadaffi dan membuat marah rakyat Libya saat beredar kabar bahwa Mutassim menyewa penyanyi Beyonce dan Usher untuk memeriahkan pesta tahun baru di Pulau St. Barts. Sementara itu salah seorang anak Qadaffi yang lain, Hannibal, melarikan diri dari London menghindari kejaran polisi setelah melakukan kekerasan terhadap istrinya sendiri, Aline. Untuk menghentikan penyidikan polisi Inggris, anak perempuan Qadaffi, Ayesha yang tengah mengandung beberapa bulan, terbang ke London bersama istri kedua Qadaffi Safiya, ibu dari enam anak dari delapan anak Qadaffi. Mereka berdua membujuk Aline untuk membuat laporan palsu dengan menyatakan bahwa kekerasan yang menimpa Aline adalah sebuah kecelakaan yang tidak disengaja.

Di tengah-tengah persaingan antar keluarga, Seif, putra kedua Qadaffi, lebih banyak menghabiskan hidupnya di luar negeri, menghabiskan hari-hari liburnya dengan berburu di New Zealand. Satu yayasannya, Qaddafi International Charity and Development Foundation, telah mengirimkan ratusan ton bantuan kepada korban gempa bumi di Haiti. Ia dianggap sebagai calon kuat pengganti sang ayah.

Pada tahun 2010 lalu, Wikileks mengungkapkan bahwa Seif al-Islam dianggap oleh para pemuda setempat sebagai "harapan" bagi "Libya al-Ghad" (Libya masa depan). Ditambahkannya bahwa generasi muda Libya mengidolakan Seif dan menganggapnya sebagai sosok yang paling tepat untuk memimpin Libya. Mereka menyebut Seif sebagai sosok yang "berbudaya", "berpendidikan", dan "memiliki visi kemajuan bagi Libya", sesuatu yang berbeda dengan saudara-saudara lainnya.

Namun itu adalah masa lalu. Saat ini para demonstran yang didominasi generasi muda meneriakkan slogan-slogan anti Qadaffi dan seluruh keluarganya. Dan adalah Seif pula yang beberapa hari lalu berpidato di televisi mengancam terjadinya perang sipil dan banjir darah jika para demonstran tidak menghentikan aksinya.

Sementara itu Qadaffi yang kini berumur 68 tahun dan telah berkuasa selama 42 tahun itu digambarkan oleh Wikileaks sebagai seorang penderita hypochondria yang takut terbang di atas air dan sering berpuasa Senin-Kamis. Ia adalah penggemar pacuan kuda dan tarian flamenggo. Menyaingi Michael Jackson sang "King of Pop", Qadaffi menggelari diri sebagai “King of Culture” sebagai tambahan atas gelar-gelar lainnya yang telah disematkan padanya. Wikileaks, berdasarkan laporan para diplomatik Amerika di Libya, juga mengungkapkan bahwa Qadaffi selalu dikelilingi dengan serombongan perawat berambut pirang.

Pada tahun 2003, setelah menghentikan program senjata pemusnah massalnya, beberapa pejabat tinggi Amerika mengunjungi Libya. Pada tahun 2009 delegasi Congress yang dipimpin senator Joseph I. Lieberman mengunjungi Libya. Kepada Qadaffi dan Mutassim yang mendampingi, Lieberman mengatakan bahwa Libya adalah "sekutu penting dalam kampanye perang melawan terorisme".

Pada tahun 2008 menlu Condoleezza Rice mengunjungi Libya ---menlu pertama Amerika yang ke Libya sejak tahun 1953, kedubes Amerika di Libya memberikan masukan-masukan kepada kemenlu Amerika. Disebutkannya bahwa Qadaffi "sulit memberi maaf", "hindari kontak mata dengannya" dan "pendiam yang menjengkelkan". Yang agak positif adalah Qadaffi sebagai "pelahap barita yang rakus" yang ingin menyelesaikan koflik Palestina-Israel dengan membentuk negara gabungan bernama "Isratina".

"Seorang intelektual dan filsuf menurut anggapannya sendiri, ia telah lama menginginkan untuk mendapatkan kesempatan berbagi pandangan tentang masalah-masalah dunia dengan Anda", demikian kata diplomat Amerika di Libya kepada Rice.


Dari: "WikiLeaks Cables Detail Qaddafi Family’s Exploits"; Scott Shane; The New York Times; 22 Februari 2011

Barry Edward Domvile, Laksamana Jadi ABK


From that time onwards I had a strong suspicion that there was some mysterious power at work behind the scenes controlling the actions of the figures visibly taking part in the government of the country. I had not the least idea whence this power emanated, nor could I gauge its influence. I was in far too humble a position to make such lofty discoveries. Still, the feeling persisted. We always vaguely referred to this hidden control amongst ourselves as ‘The Treasury.’” Admiral Sir Barry Domville, RN. Assistant Secretary Imperial Defence Committee before the Great War.

If the people really knew, the war would be stopped tomorrow. But, of course, they don’t know and they can’t know. The correspondents don’t write and the censorship would not pass the truth.” British Prime Minister David Lloyd George (1863-1945) speaking to the editor of the Manchester Guardian

I strive not to throw Europe into this criminal adventure. But the States, even the British Crown, are not the masters of their destiny. Powers that elude us are promoting in Great Britain, as in other countries, special interests and an aberrant idealism.” Stanley Baldwin (1867-1947), English statesman; Leader of the Conservative Party & British Prime Minister 1924-29 and 1935-37

——-

Banyak orang, laki-laki dan perempuan, yang mengorbankan hidupnya, karier dan reputasinya, bahkan terkadang kebebasan dan hidupnya, mencoba menyelamatkan negaranya dari apa yang mereka lihat sebagai "cengkereman Judaeo-Masonic". Kebanyakan dari mereka tidak diketahui orang yang secara mengenaskan telah dibutakan matanya dari fakta-fakta menyakitkan yang melingkupi negaranya dan dunia. Lebih jauh reputasi para pemberani ini selalu digambarkan sebagai sosok yang jahat oleh para "sejarahwan korup" yang perlakuannya terhadap sejarah adalah menjadikan sejarah sebagai kemaksiatan, yang sekarang diterima sebagai kebenaran oleh orang-orang.

Dan salah seorang pemberani tersebut adalah Admiral Sir Barry Edward Domvile (1878-1971) yang pernah menyandang jabatan-jabatan terhormat seperti K.B.E. (Knight Commander, Order of the British Empire), C.B.(Companion, Order of the Bath), C.M.G. (Commander, Order of St Michael and St George) assistant secretary on the Imperial Defence Committee, Director of Naval Intelligence (1927-30) dan President of the Royal Naval College (1932-34).

Para sejarahwan liberal dan sejarahwan korup menggambarkan Sir Barry sebagai seorang perwira angkatan laut yang cemerlang yang "terbutakan oleh pandangan politik fasisme".

Sir Barry Edward Domvile mengunjungi Jerman pada th 1935 dan menjadi tamu kehormatan dalam even "Nuremberg Rally" pada bulan September 1936. Kekagumannya pada Jerman (yang bangkit dari keterpurukan menjadi negara maju setelah menyingkirkan pengaruh yahudi; blogger) menuntunnya untuk membentuk poros politik persahabatan Inggris-Jerman (Anglo-German Link), yang anggotanya mencapai 4,300 orang-orang dari kalangan intelektual Inggris dan Jerman. Tujuan organisasi ini adalah:

"Mendorong saling pengertian dan pengetahuan antara rakyat Inggris dan Jerman, dan untuk mengimbangi membajirnya kebohongan-kebohongan informasi yang diusung oleh media massa (yang secara de facto dikuasi kepentingan yahudi; blooger)."

"Histeria perang" yang menjangkiti rakyat Inggris memungkinkan ditetapkannya undang-undang tiranis tanpa melalui perdebatan dan penundaan sekejappun oleh parlemen, yang memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk menahan dan memenjarakan seseorang tanpa proses pengadilan dengan tuduhan "mengancam keamanan negara". Undang-undang tersebut, “Regulation 18b” menjadi dasar pembentukan Defence Regulation Order yang sangat tiranis, yang dengannya rakyat Inggris digiring ke dalam medan Perang Dunia II.

Kala itu ratusan pejabat dan perwira Inggris (termasuk istri dan keluarganya) ditahan hanya karena menentang perang, bukan karena melakukan kejahatan kriminal. Sebagian besar dari mereka adalah para pahlawan Perang Dunia I, yang menyadari bahwa Perang Dunia II adalah sebuah konspirasi jahat terhadap kemanusiaan. Sebagian dari mereka adalah figur-figur terkenal seperti Oswald Mosley, dan sebagian lainnya adalah manusia-manusia "luar biasa" seperti Admiral Sir Barry Domvile.

Faktanya adalah hampir 2.000 orang ditahan oleh perintah mendagri Herbert Morrison dan perdana menteri Winston Churchill. Meski Domvile berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengesankan terlalu "pro-Jerman", kapasitasnya sebagai pimpinan Anglo-German Link cukup untuk membuatnya menjalani penahanan tanpa peringatan ataupun melalui proses pengadilan, selama tiga tahun. Pengalamannya hidup di penjara yang pengab dan kotor sebagai seorang laksamana "luar biasa" dituangkannya dalam sebuah otobiografi berjudul "From Admiral to Cabin Boy" yang ditulis selama dalama tahanan dan dipublikasikan tahun 1947.

Jadi mengapakan para penjaga “kebebasan” dan “demokrasi”, orang-orang yang menuntut rakya Inggris mengorbankan jiwa dan raganya untuk bangsa dan negara tega memenjarakan Domvile? Apakah karena sentimen anti-Jerman yang membuatnya demikian? Atau lebih jauh lagi karena ia telah membuka kedok kejahatan regim pemerintahan dengan semua aparatnya?

Sebelum Perang Dunia I, Domvile, dengan jabatan dan posisinya telah melihat kejahatan pemerintah dan penguasa di belakang layar yang mengendalikannya. Kemudian setelah perang, ia mengikuti acara-acara konperensi perdamaian dan mengenal lebih jauh sosok-sosok politisi berpengaruh seperti Lloyd George dan Churchill. Tentunya ia juga memahami politik global, dan menjadi sosok yang bekerja dengan "hati dan pikiran" untuk menjadi seorang Director Inteligen Angkatan Laut.

Pandangan umumnya atas konstelasi sosial-politik Inggris dan dunia adalah bahwa terdapat hubungan simbiosis antara para politisi korup dan birokrat "belakang layar" yang secara berulang-ulang telah mengkhianati "kepentingan Inggris". Lebih jauh Domvile melihat banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang sangat tidak rasional yang bahkan bisa disebut sebagai "bunuh diri". Secara ringkat disebut: pengkhianatan terhadap bangsa dan rakyat Inggris oleh regim "Liberal Establishment" demikian besar dan mencakup segala aspek yang tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Ada kekuatan tersembunyi dengan agenda sendiri yang berseberangan dengan misi pemerintahan yang rasional. Domvile menuliskan pandangannya tersebut dalam otobiografinya:

"Dari waktu ke waktu saya memiliki kecurigaan kuat bahwa ada suatu kekuatan misterius yang bekerja di belakang layar yang mengendalikan figur-figur dalam pemerintahan negeri ini. Saya tidak mengetahui sajak kapan kekuatan itu terbentuk dan seberapa jauh kekuatan pengaruh mereka. Posisi saya terlalu lemah untuk mengetahui semua itu, namun kecurigaan itu terus bertambah besar. Saya dan teman-teman saya mendefinisikan kekuatan itu sebagai Judmas, karena setelah saya mengetahui jauh kemudian, sumber kekuatan itu adalah kombinasi Judaeo-Masonic, yang pengaruhnya terhadap dunia telah terjadi selama berabad-abad.”

Domvile benar dengan identifikasinya. Kekuatan jahat "belakang layar" itu adalah para "yahudi penyembah berhala". Keturunan orang-orang yang ditinggalkan Musa karena menolak mengikuti perintah Tuhan merebut "negeri yang dijanjikan", keturunan orang-orang yang mengejek Daud dan Sulaiman sebagai "tukang kawin" dan "penyembah berhala", keturunan orang-orang yang telah membunuh Yahya (John the Babtist) dan Zakharia, keturunan orang-orang yang yang telah menkhianati Isa (Jesus), yang setelah ditupas oleh Romawi menjalani diapora, sebagian berasimilasi dengan orang-orang barbar Khazar menjadi yahudi ashkenazi yang kini menguasai panggung ekonomi dan politik global.


Ref:
"Admiral Sir Barry Edward Domvile: From Admiral to Cabin Boy"
truthseeker.co.uk; 16 Februari 2011.

LIBERALISME ALA TEMPO


Pada tgl 21 Februari lalu TEMPO Interaktif menerbitkan sebuah artikel "provokatif" berjudul "Kisah Lesbian Inggris Menikah Secara Islam".

"To the point" saja, gaya artikel-artikel semacam itu adalah sangat tipikal media pengusung liberalisme alias "jehudaisme". Berkedok "jurnalisme yang netral", pada dasarnya itu adalah kampanye terselubung mengajarkan nilai-nilai "jehudaisme" bernama homoseksualisme. Memang sepertinya tidak ada tendensi apapun dalam artikel tersebut, mamaparkan apa adanya "secara berimbang". Tidak ada kritikan sebagaimana pujian. Namun karena terus-menerus ditampilkan di media massa, akan sangat mempengaruhi persepsi publik mengenai homoseksualisme. Yang tadinya dianggap sebagai sebuah "penyakit sosial", homoseksualisme kemudian dianggap sebagai hal yang biasa.

Hanya orang-orang "liberal idiot" yang manganggap homoseksualisme sebagai hal yang biasa. Tidak perlu saya paparkan panjang lebar. Para pembunuh berantai, pelaku sodomi, mutilasi dan pelaku kekerasan seks terhadap anak kecil, hampir semuanya adalah para homoseks. Anda bisa membayangkan jika putra Anda menjadi korban sodomi ala Robot Gedhek dan Baikuni? Atau bahkan menjadi korban pembunuhan berantai Ryan? Demi Tuhan, seumur hidup Anda akan mengutuki para pelaku homoseksual dan menyesali diri mengapa membiarkan homoseksual bergentayangan di sekitar Anda, bahkan muncul di televisi sebagai host, artis dan entertainer terkenal.

Betapa tingginya tingkat kemaksiatan orang-orang yahudi bisa dilihat pada kasus duta besar Israel di El Salvador, Tzuriel Refael. Suatu saat ia ditemukan tergeletak di depan rumah dinasnya di San Salvador dalam keadaan (silahkan menarik nafas dalam-dalam) setengah telanjang dan mabuk, berpakaian khas anggota klub masokis (penggemar seks dengan kekerasan, biasanya diderita oleh orang-orang homoseksual), membawa peralatan mainan seks dan dildo (karet berbentuk alat kelamin laki-laki, maaf) di mulutnya.

Namun yang dilakukan TEMPO Interaktif lebih dari "kampanye" terselubung homoseksualisme. Mereka juga "berani" menyinggung-nyinggung wilayah agama dengan artikel tersebut di atas. Sekedar tambahan, sampai saat ini hanya Islam yang masih konsisten menentang keras homoseksualisme setelah agama-agama lain mulai "berkompromi" dengannya.

Berikut adalah artikel tersebut, kemudian silahkan bandingkan dengan artikel dalam situs incogman.net berikutnya:



Kisah Lesbian Inggris Menikah Secara Islam Tempo - Senin, 21 Februari

TEMPO Interaktif, Sarah dan Asra bertemu pada Ramadan tiga tahun lalu. Mereka berkenalan di sebuah acara buka puasa. "Kami berbincang, lalu sepakat untuk berkencan," kata Asra seperti dikutip dari BBC, Minggu (20/2).

Saat kencan, Asra dan Sarah berbicara dari hati ke hati, bertukar pengetahuan tentang Islam. "Empat jam kami kencan, mulai dari makan malam, minum kopi, berjalan kaki," ujar Sarah. Satu jam setelah kencan, Sarah langsung mengajak Asra menikah. "Terdengar aneh, tapi kami ingin melakukannya secara terhormat."

Asra menerima ajakan menikah Sarah. Mereka setuju untuk melakukan pernikahan secara Islam. Masalah muncul, tradisi nikah secara Islam biasanya dilakukan oleh pasangan pria dan perempuan.

"Beberapa teman mengatakan, kamu tidak perlu Imam resmi, tapi kamu perlu mendatangkan seseorang yang mengetahui Islam dan mengerti Quran," kata Sarah. "Akhirnya ada teman kami yang mau menjadi Imam nikah, dia lesbian juga dan dia katakan upacara pernikahan ini bisa dilakukan di rumahnya."

Tiga bulan setelah Sarah melamar, hari yang ditunggu itu datang. Asra mengenakan baju tradisional Pakistan -shalwar kameez- dan Sarah mengenakan gaun merah muda. "Sebenarnya aku ingin mengenakan gaun kulit tapi Asra tidak setuju," ujar Sarah.

Sarah dan Asra juga menyiapkan sepasang cincin yang dibeli di Camden market. Mereka juga menyiapkan perjanjian menikah. "Kami melihat contoh perjanjian menikah pasangan berbeda jenis di internet," kata Sarah.

Dalam perjanjian menikah itu, Sarah mencantumkan seekor anjing. Bila mereka berpisah, anjing itu tetap milik Sarah. "Aku takut anjing itu diambil Asra," ujar Sarah.

Selain cincin, perjanjian menikah, mereka juga menyiapkan mahar senilai 5 poundsterling atau sekitar Rp 71 ribu. Mahar itu hanya simbol, tapi sampai saat ini mereka masih menyimpan mahar itu.

Upacara pernikahan Sarah dan Asra dihadiri enam teman mereka, selain menjadi tamu, enam orang itu menjadi saksi. Pernikahan mereka juga disaksikan seekor kucing. Seremoni ini berjalan dalam bahasa Arab, tahap-tahapan mereka menikah pun layaknya pasangan berbeda jenis.

Asra dan Sarah menikah secara Islam, namun perjalanan mereka tak mudah. Selain pernikahan sesama jenis ini tidak diperbolehkan secara akidah Islam, orang tua Asra juga menentang.

"Sangat sulit buatku untuk memberitahu kepada keluarga bahwa aku lesbian, mereka tahu aku religius, tapi untuk mengakui aku lesbian sangat sulit," katanya.

Hal berbeda dialami Sarah, sebab dia tumbuh bukan sebagai Muslim. Dia baru menjadi muslim lima tahun lalu. Keluarga Sarah juga menerima bahwa dia seorang lesbian. Namun sepertinya, kata Sarah, mereka ingin aku tidak menjadi Muslim.

Sarah dan Asra tahu mereka melawan dunia, pernikahan mereka juga ditentang mayoritas akademisi Muslim, tapi Sarah merasa itu bukan urusan orang lain. "Ini hubungan antara aku dan Tuhan, mungkin pernikahan ini bukan yang ideal, tapi kami mencoba yang terbaik."

Jumlah umat muslim di Inggris terus bertambah tiap tahun. Sebuah studi memperkirakan satu dari sepuluh warga Inggris beragama Islam pada 2030. Gelombang Islam ini juga menyentuh kaum gay di Inggris. Muslim gay ini bukan hanya berjuang untuk persamaan hak sebagai individu tapi juga persamaan dalam hal menikah.

Beberapa kelompok yang membela kaum gay Muslim di Inggris mulai muncul. Kelompok itu di antaranya, Imaan dan Safra Project. Seorang tokoh yang mengadvokasi pernikahan gay Muslim adalan Imam asal Amerika, Daayiee Abdullah, yang juga seorang gay.

Daayiee Abdullah telah menikahkan beberapa gay di Amerika. Dia juga memberi nasihat kepada gay Muslim di Inggris bagaimana cara melakukan pernikahan secara Islam. "Karena hukum Islam tidak memungkinkan sesama jenis untuk menikah, banyak yang bilang mustahil sesama jenis bisa menikah," kata Daayiee Abdullah.

Tapi, lanjut Daayiee, bila tidak mengizinkan pasangan sesama jenis untuk menikah maka ada pertentangan dengan pesan dalam Quran yang mengatakan setiap orang memiliki pasangan yang membawa kenyamanan.



"Sick Jew Pervs Ignored by Media Hypocrites"

Posted on April 2, 2010 by INCOG MAN


Scumbag rabbi hides his ugly face when escorted before the court. Getting themselves locked-up with filthy Goyim is the real tragedy for any Jew — the Jew community hates that the most — no matter how vile the crime committed!


“A Jew may have sex with a child as long as the child is less than nine years old.” — Sanhedrin 54b

For well over a week now, ABC World News Tonight has been doing reports every single night (for real) about pedophile Catholic priests and how the Pope supposedly covered it all up (he is a former Hitler Youth, you know). Funny, how Easter just happens to be this weekend, huh?


Rabbi Edward Schlaeger dug his kiddie porn.
The Jews have long had it in for the Catholic church and are waging a silent, gradual attack campaign verging on the demonic, when you think about it.

Combine this ancient Jew hatred of Christianity, ownership of the media by the Global Zionist class and greedy lawyers (most often Jewish) looking to make a fast buck off the Vatican, you have yourself a modern-day Witch Hunt. Plus, these accused Catholic priests are virtually always White men — the usual target of choice for PC apparatcheks anyways!

Look, I’m not saying that pedophiles of any persuasion need to be coddled. Far from it. But for the same reasons the media protects the lousy country of Israel, the war-mongering Zionists and all the Jew scam artists (just the exposed ones, now); also give a free pass to all the scumbag Jew perverts wandering around out there. And I mean a lot of them, too.

Click on the “Read the rest” for a big fat dose of filthy Jew perverts!

This whole pervert thing is part and parcel of Jewry. Say what? Yep, Jews are at the forefront of homosexual rights business, since so many of them are so Gay. And Gayness is only a degree or two removed from pedophilia when you look into it (yeah, it’s hard to without barfing). In fact, underaged homos are a hot commodity in the Gay world and that’s why you see so much efforts to indoctrinate the kids in schools. These pervs want fresh meat!

And homosexuals are another big reason why we have these pedophiles in the Catholic church to begin with. These sickos undoubtedly got off on the whole charade! Seems like far too many evil fags were allowed to wear the frock and Gays did purposefully infiltrate a few decades ago. Also, these cases are just the barest handful of Priests and Catholics really out there. The media knows exactly how to wildly inflate things.

But our Jew-controlled media will never, ever let on about the real sicknesses driving America into the gutter. Because to do so, means exposing so much of the real side to the “Chosen Ones” and we know that’s totally verboten.

Consequently, the media will do whatever it can to avoid reporting on any of the Jew side to the story and will distract you with all kinds of dredged-up muck about White, non-Jews anywhere they find it. Pay close attention and you will see this going on — right in front of your face.

But it’s not just in the media. Oh no. The Jews do whatever they can to have these cases quietly taken care of internally, making backroom deals while insisting American courts consider their “religious sensitivities.” It’s all part of the immense Jew arrogance foisted on America and the real politics of Child Rape. The listing below of those that reached the public domain, may in fact only be the tip of the iceberg!

Like, whatever happened to rabbi David Kaye, entrapped by Dateline’s very first “To Catch A Predator” episode? The sick perv walked into a house expecting to have himself some sex with a little boy, but a camera crew met him instead and the old Jew faggot threw an epic hissy fit. For some reason, the case seems to have dropped right out off the radar.

If these pervert Jews can make “aliya” to Israel, there’s a damn good chance they can escape the law. Rabbi Abraham Mondrowitz was wanted for molesting Italian and Jewish boys 25 years ago in Brooklyn NY, but the Israel Supreme Court refused extradition requests from America. Evidently, the Jew is now said to be molesting kids in Israel, too.

But that didn’t stop the Israelis from requesting and getting extradition for rabbi Nachman Stal who fled to Britain after molesting a 14 year-old in Israel. He was recently sentenced to 13 years. And get this: Fellow rabbis praised Stal, saying “there was no problem with him.” Yeah, sure, if you go by the Talmud.

Brooklyn rabbi Baruch Lebovits (right) was convicted this month for sexually assaulting a teenage boy and faces many more additional charges. He’s accused of molesting dozens of boys in the upper West side of New York.

One of his victims, Mordechai Borger, recently jumped to his death off a hotel balcony only two days after getting married. The Rabbi probably ruined the young Jew for his new wife. Don’t hold your breath seeing this story on 60 Minutes!

Chabad-Lubavitcher rabbi Yaakov Weiss was busted for serial molestation of a young boy back in 2008. Weiss ran a Chabad school and was part of an extremist Chabad Jew group going around setting up displays of Menorahs on public property, sanctioned by the State of New York.

Yeshiva teacher David Greenburg was busted just before Christmas last year for molesting a 15 year-old.

Grinning rabbi raped a 7 year old girl: Last month, the police detained rabbi Bryan Bramly (right) in the state of Arizona for raping a little girl in New York ten years ago. Rabbi Bramly was arrested outside his synagogue in Chandler, Arizona.

Maybe the sick mother was following the teachings of the Talmud? “When a grown-up man has intercourse with a little girl it is nothing” (Kethuboth 11b).

The on-going saga of one pervert rabbi:

“December 7, 2006 –Rabbi Yehuda Kolko was arrested in New York City following a long-term investigation, police said. He was charged with four counts of sexual abuse, including two felony counts, and endangering the welfare of a child. The alleged victim was in the first grade during the 2002-03 school year.

May 5, 2006 Rabbi –Yudi Kolko and Yeshiva Torah Temimah were hit with a $20 million civil lawsuit accusing him of molesting two students more than 25 years ago. One of the alleged victims said Rabbi Yehuda Kolko, 60, sexually assaulted him when he was a seventh-grade student.

September 12, 2007 — Rabbi Yehuda Kolko was re-arrested on new charges for allegedly molesting another boy at at Yeshiva Torah Temimah. Rabbi Kolko’s wife was able to raise the bail to $50,000 bond, $25,000 cash within the hour and he was released in time to pray at evening Rosh Hashanah services.

April 2, 2008 – Another civil suit is filed against Rabbi Yehuda Kolko and Yeshiva Torah Temimah. The latest case involves the alleged sexual abuse of a minor, identified as John Doe No. 6, was enrolled at the school when they were between the ages of 11 and 13.”

I can’t seem to recall ABC World News Tonight ever doing a report on any of this. Can you?

– Phillip Marlowe


Giant listing of Jew Perverts:

Case of Shlomo Aviner (Rosh Yeshiva, Ateret Cohanim Yeshiva, Rabbi of Beit El, Israel).

Case of Rabbi Lewis Brenner (Convicted of child molestation. The original charges included 14 counts of sodomy, sexual abuse and endangering the welfare of a child. He agreed to plead guilty to one count of sodomy in the third degree, a Class E felony, in exchange for a sentence of five years’ probation).

Case of Rabbi Ephraim Bryks (Accusations about sexual inappropriate behavior with children started surfacing in the 1980's. Rabbi Bryks is currently a member of the Vaad Harabonim of Queens. The Vaad is a Rabbinical committee that makes important decisions within an orthodox community.)

Case of Rabbi Shlomo Carlebach (Accused of several cases of child molestation, and sexual assault of young women).

Case Rabbi Perry Ian Cohen – Montreal and Toronto Canada (Accused of sexual abuse of a seventeen year old. Fired for sexual impropriety with congregants).

Case of Rabbi Yitzchak Cohen (Accused of sexually harassing students at Bar-Ilan University).

Case of Rabbi Ephraim Goldberg – Boca Raton, Flordia (Pled guilty to one misdemeanor count of exposure of sexual organs in a washroom at a Palm Beach Mall).

Case of Rabbi/Cantor Sidney Goldenberg (Convicted of molesting children. The first complaints came in 1971. He was finally convicted in 1997).

Case of Cantor Joel Gordon (Convicted of having keeping a house of prostitution and involvement in a prostitution ring).

Case of Rabbi Israel Grunwald (Accused of molesting a 15 year old on a 1995 plane flight from Australia to LA. The charge against him were dropped after agreeing to perform 500 hours of community service and to seek counseling. Grunwald was the chief rabbi of an Hungarian Hasidic congregation in Brooklyn, known as the Pupas).

Case of The State of Israel Vs. Sex Offender (Convicted of repeated rape and forced molestation of his graddaughter).

Case of Yehudah Friedlander – Rabbi ‘s Assistant (Accused of molesting a 15 year old on a 1995 plane flight from Australia to LA. Friedlander was the assistant to the chief rabbi of an Hungarian Hasidic congregation in Brooklyn, known as the Pupas).

Case of the Rabbi at Hillel Torah, Chicago, IL (A teacher at the Chicago school was accused of child molestation. His name was not released. The school did everything correctly in attempting to keep the children safe once accusations were made).

Case of Rabbi Solomon Hafner (Accused of sexually abusing a developmentally disabled boy).

Case of Rabbi (Alan J.) Shneur Horowitz (Convicted and sentenced to 10 – 20 years in prison for sodomizing a nine-year-old psychiatric patient. Allegedly, he has assaulted a string of children from California to Israel to New York in the past twenty years. Alan J. Horowitz is an Orthodox rabbi, magna cum laude, M.D., Ph.D. A graduate of Duke University, and was a writer for NAMBLA (North American Man/Boy Love Association).

Case of Jacob Frank and the Frankist Movement (Accused of cultic type practices and sexual offenses).

Case of Rabbi Israel Kestenbaum (Accused of child pornography on the internet).

Case of Rabbi Robert Kirschner (Accused of sexually exploited or harassing three congregants and a synagogue employee).

Case of Rabbi Ze’ev Kopolevitch (Convicted of molesting students at Rosh Yeshiva, Netiv Meir yeshiva high school).

Case of Rabbi Baruch Lanner (Convicted – child molestation).

Case of Rabbi Jerrold Martin Levy (Convicted of two counts of soliciting sex through the Internet and two counts of child pornography. He was sentenced to six years and sex in prison. He was caught in the “Candyman” year-long sting operation by the US government).

Case of Rabbi Pinchas Lew (Accused of exposed himself to a woman).

Case of Rabbi/Psychologist Mordecai Magencey (lost his license to practice in the State of Missouri because of his sexual misconduct with his patients).

Case of Rabbi Richard Marcovitz (Convicted of indecent or lewd acts with a child, and sexual battery).

Case of Rabbi Juda Mintz (Convicted – internet sting on child pornography).

Rabbi Yona Metzger (Accused of sexually misconduct with four men).

Case of Rabbi Avrohom Mondrowitz (Accused of two counts of sex abuse with boys at a special education school in New York).

Case of Cantor Howard Nevison (Accused of molesting his nephew).

Case of Rabbi Michael Ozair (Accused of sexual molestation of a then-14-year-old girl)

Case of Cantor Stanley Rosenfeld (Convicted of molesting a 12-year-old boy he was tutoring.)

Case of Rabbi Charles Shalman (Accused of sexual misconduct toward female congregational members)

Case of Cantor Robert Shapiro (Accused of three counts of rape and four counts of indecent assault and battery to a mentally retarded woman)

Case of Cantor Michael Segelstein (Accused of attempted rape; Chabad – Las Vegas, Nevada)

Case of Rabbi Ze’ev Sultanovitch (Accused of sexually molesting a number of adult yeshiva students at the Merkaz Harav Yeshiva).

Case of Rabbi Melvin Teitelbaum (Accused of three counts of sex crimes against two boys under the age of 14, and one count of assault with intent to commit rape against one boy’s mother. The charges were dropped for lack of evidence).

Case of Rabbi Isadore Trachtman (Accused of cultic type practices and sexual offenses)

Case of Rabbi Hirsch Travis (Rabbi in Monsey, accused of posing as a Brooklyn doctor specializing in infertility problems, and allegedly sexually abusing and assaulting a patient).

Case of Rabbi Matis Weinberg (Accused of cultic type practices and sexual offenses).

Case of Rabbi Yaakov Weiner (Accused of molesting boy at Camp Mogen Avraham, New York).

Case of Rabbi Don Well.

Case of Cantor Phillip Wittlin (Convicted of molesting two girls).

Case of Rabbi Mordechai Yomtov (Convicted of sexual abuse and committing lewd acts against three boys).

Case of Rabbi Sheldon Zimmerman (Violated guidelines concerning “sexual ethics and sexual boundaries” ).

Case of Rabbi Max Zucker (Accused by three women of improperly touching).

Case of Rabbi Elior Chen (ran sadistic cult in Brazil and physically abused little boys. Got a break by being extradited to Israel).

Case of Arie Adler and Marisa Rimland, NY (Arie Adler was accused of molesting his daughter. Marisa Rimland murdered her daughter, and then committed suicide).

Case of Simcha Adler – Ohel Counselor, NY (Plea-bargained charges of sodomy, sexual abuse and two counts of endangering the welfare of a child down to attempted sodomy).

Case of Eugene Loub Aronin – School Counselor, TX (Convicted in 1984 of sexually assaulting a 10-year-old boy).

Case of B’Nai Torah Congegation – Hillel Community Day School janitor, Boca Raton, FL (Accused of child molestation).

Case of Chaim Ciment (Accused and charged with first-degree sexual abuse, after allegations were made that he fondled a 17 year old girl in an elevator).

Case of James A. Cohen – Jewish Youth Group Leader (Convicted child molester, sentenced to 9 years for assaulting 4 boys).

Case of Larry Cohen – Soccer Coach, Lake Oswego, OR (Accused of molesting two individuals).

Case of Lawrence Cohen – School Teacher, NJ (Convicted and sentenced to 10 years in federal prison for transmitting child pornography through his home computer).

Case of Phillip “Eli” Cohen, London, England (Accused of 13 charges of indecently assaulting a boy and four offences of indecently assaulting a girl).

Case of Stuart Cooperman, MD – Pediatrican, Merrick, New York (Accused of molesting six female patients).

Case of Delaware Family (Father accused of alleged child molestation)

Case of Mordechai (Morton) Ehrman – Simcha’s Play Group, Brooklyn, NY (Accused of molesting dozens of students).

Case of Brandon Lee Flagner (Convicted of the kidnapping and aggravated murder of Tiffany Jennifer Papesh a 8-year-old girl. Flagner also claimed to have molested hundreds of girls during his life. While in prison, Flagner convert to Judaism by an Chasidic rabbi.)

Case of Arnold and Jesse Friedman (Capturing the Friedmans) (Convicted sex offender).


Goldberg: Imagine this Jew in your nightmares!
Case of Richard “Steve” Goldberg (Allegedly engaging in sex acts with several girls under 10 in California. He was on the FBI’s ten most wanted fugitives list until recent capture).

Case of Ross Goldstein (Convicting of sodomy in the first degree (three counts) and use of a child in a sexual performance. He was sentenced to four concurrent indeterminated terms of 2 to 6 years imprisonment. Also see: Case of Arnold and Jesse Friedman)

Case of Several Child Sex Offenders in Har Nof 0 Jerusalem, Israel (Outlines several cases of alleged child sex offenders in the charedi town of Har Nof)

Case of David B. Harrington – School Principal / Big Brother, Rockville, MD (Convicted sex offender. Cases from the 1960's – 1980's).

Case of State of Israel Vs. a Sex Offender (Convicted – 68 year old Israeli religious man pled guilty to repeated molestation of his granddaughter, was sentenced to 19 years in jail.

Case of Eric Hindin - Jewish Big Brother Volunteer, Newton, MA (Convicted of 35 counts of child rape. He was sentenced to 20-22 years in prison).


Kline: Now we know what he did under his robes.
Case of Judge Ronald Kline, CA (Accused of possessing child pornography and for allegedly molesting a neighborhood boy 25 years ago).

Case of the Kosher Butcher in Chicago (Accused of molesting children for over 30 years).

Case of Lawrence Nevison - (Convicted of molesting his nephew. He is the brother of Cantor Howard Nevison)

Case of Stuart Nevison - (Convicted of molesting his cousin. He is the brother of Cantor Howard Nevison)

The Case of the Students of Ner Israel Yeshiva in the 1950's (Students accused of sexually molesting a younger student)

Case of the New York Society for the Deaf’s Home (Accused of treating disabled patients “like animals,” beaten, drugged and robbed of their government checks).

Case of Ozzie Orbach, M.D. (Accused of molesting his daughter).

Case of the Rogers Park JCC, Chicago Illinois (This was the first case of alleged mass molestation recorded in Illinois to involve accusations of sexual abuse by a group of adults, consists of 246 allegations that staff members abused children enrolled at the center, according to the Illinois Department of children and Family Services).

Case of Jonathan Rosenthal – Community Police Liason, London, England (Acquitted of sexually assaulting a few children, after a jury used ancient common law right, deciding evidence wasn’t strong enough).

Case of Adam Theodore Rubin – Teacher, Coach and Girl Scout Coordinator (Accused of using a computer to solicit sex with a minor, possession of a controlled dangerous substance and possession of drug paraphernalia).

Case of Georges Schteinberg - Teacher, Rio de Janeiro, Brazil (Accused of possession of child pornography. Charges dropped when Schteinberg fled the country).


Scher made his escape back to Crime Central.
Case of Aryeh Scher - Israeli vice-consul, Rio de Janeiro, Brazil (Accused of possession of child pornography. Charges dropped when Scher fled the country).

Case of Usef Sagiv Ofri — worked in the Israel Consulate in Atlanta, Georgia (Arrested in 2006 for sexual exploitation of children and kiddie porn).

Case of David Schwartz – Camp Counselor, Culver City, CA (Convicted and sentenced to one year in residential treatment and five years’ probation for molesting a 4-year-old boy in his care at summer camp. A six-year prison sentence was suspended).

Case of Jerrold Schwartz – Scoutmaster, NY (Convicted and sentenced to 8 years in prison for multiple counts of sodomizing his former scout ).

Case of Irwin Silverman – Chief Counsel to U.S. secretary of interior 1933-53 (Accused of molesting his daughter Sue William Silverman).

Case of Paul Slifer – Teacher (Accused of sexually assaulting a several students, and impersonating a doctor).

Case of Ari Sorkin – Synagogue Youth Worker, Elkins Park, PA (Accused of molesting a 16 yr. old girl).

Case of Tel Aviv Arts School, Tel Aviv, Israel

Case of Dr. Saul and Judith Wasserman (Accused of molesting their daughter)

Case of David Douglas Webber – Mashgiach (Kashrut Supervisor), Canada (Convicted and sentenced to six years for possessing child pornography and molesting seven boys over the past eight years).

Tuesday, 22 February 2011

Republik Weimar Jerman


Ketika isu "kebohongan" SBY tengah gencar-gencarnya menjadi pemberitaan media-media nasional, dua kali saya melihat pernyataan ekonom senior mantan menko perekonomian Rizal Ramli di televisi yang menyebut tentang "ironi bangsa Jerman". Menurutnya bangsa Jerman yang sangat maju budayanya menjadi hancur karena "kejahatan Hitler". Secara tidak langsung Ramli hendak menyamakan Hitler dengan SBY.

Saya memang setuju dengan pendapat Rizal bahwa kepemimpinan yang lemah sebagaimana ditunjukkan SBY akan membawa kehancuran bagi bangsa Indonesia. Namun saya tidak setuju jika menyamakan SBY dengan Hitler. Dengan segala kepakarannya tersebut, bahkan seorang Rizal Ramli belum memahami realitas sejarah Jerman karena termakan "propaganda yahudi".

Republik Weimar Jerman, negeri yang terbentuk paska Perang Dunia I dimana Hitler berada sebelum membentuk gerakan nasionalis-sosialis NAZI, adalah negeri yang sudah hancur dalam segala aspek. Apa yang telah dilakukan Hitler justru sebuah keberhasilan pembangunan yang sangat luar biasa, yang sayangnya dilupakan orang karena sejarah memang telah menempatkannya di tempat yang "salah". Dari sebuah negara yang gagal (failed state), di bawah kepemimpinan Hitler, Jerman tampil menjadi negara makmur secara ekonomi, stabil secara sosial politik dan kuat secara militer. Semua itu bisa dicapai Hitler karena keberhasilannya "menyingkirkan" orang-orang yahudi dari panggung politik dan ekonomi dan membuat Jerman mendiri secara ekonomi, terlepas dari jeratan hutang terhadap para bankir yahudi.

Kehancuran segala aspek tersebut sengaja diciptakan secara sistematis demi menciptakan kondisi ideal agar Jerman jatuh ke dalam cengkeraman komunisme. Sebagaimana tercantum dalam "Protocols of Learned Elders of Zion" atau Protokol Zions, setelah Rusia Jerman adalah sasaran komunisme berikutnya. Sebagai dasarnya adalah Perjanjian Versailles yang mengakhiri Perang Dunia I yang sangat merugikan Jerman dan membuat perekonomian Jerman hancur karena harus membayara kompensasi perang yang tidak tertanggungkan. Sebagian besar konspirator Perjanjian Versailles adalah yahudi. Di antaranya Max Warburg, tangan kanan keluarga Rothschild yang juga menjadi konspirator pembentukan bank sentral Amerika tahun 1913. Yang lainnya adalah Hugo Pruess, penulis konstitusi Republik Weimar Jerman. Sebelum kemunculan Nazi, Jerman sudah nyaris jatuh ke tangan komunisme. Orang-orang komunis bahkan telah merebut kekuasaan di provinsi Bavaria. Tapi Hitler dengan Nazi-nya menggagalkan konspirasi jahat tersebut.

Secara umum kehancuran Republik Weimar meliputi kondisi sbb: hyper-inflasi, angka pengangguran yang tinggi, hutang pemerintah yang menggunung, kelaparan, kriminalitas, dekadensi moral, hukum yang tidak bekerja dan sebagainya. Tentu saja ada satu ciri lain yang tidak bisa diabaikan, yaitu kesenjangan sosial ekonomi yang luar biasa lebar dengan orang-orang yahudi berada di puncak strata sosial-ekonomi. Tragisnya, orang-orang kaya Jerman harus kehilangan harta bendanya karena kebangkrutan ekonomi untuk diborong oleh orang-orang yahudi dengan harga murah.

Selain menguasai sumber-sumber ekonomi dan keuangan, orang-orang yahudi juga menguasai secara eksklusif semua aspek sosial-politik Jerman kala itu: pengadilan dan pers. Sebelum kemenangan Nazi tahun 1933, pers Jerman dikuasai oleh tiga orang yahudi: Leopold Ullstein, August Scherl, dan Rudolf Mosse. Selain itu ada figur bernama Berliner Tageblatt yang dianggap sebagai pembentuk opini publik terkemuka Jerman, dan Theodor Wolff, seorang wartawan yahudi yang juga aktif berpolitik.

Antara tahun 1925-1929 empat dari enam anggota Dewan Direktur bank sentral Jerman adalah yahudi, termasuk Jakob Goldschmidt dan Rudolf Havenstein. Dengan keberadaan mereka, kepentingan kapitalis yahudi menjadi prioritas dan mata yang Jerman menjadi tidak berharga karena hyper-inflasi.

Dengan konstitusinya yang dibuat oleh Hugo Pruess, segala bentuk pornografi dan "kebebasan berekspresi" membanjiri Jerman, menghancurkan ikatan moral yang menjadi pembentuk kekuatan bangsa. Berbagai macam literatur, film, drama, dan karya seni yang mengkampanyekan pornografi beredar luas di Jerman. Sedemikian rendah moral masyarakat Jerman waktu itu karena ulah yahudi, seorang sastrawan Jerman berdarah yahudi memperingatkan rekan-rekannya atas kemungkinan munculnya sentimen anti-yahudi.

"Bahkan orang-orang Romawi tidak mengenal bentuk kemaksiatan Berlin, dimana ratusan laki-laki berdandan perempuan dan perempuan berdandan laki-laki menari-nari di muka umum. Berlin telah menjadi Babylon," kata Stefan Zweig sang sastrawan yahudi Jerman.

Penerbitan-penerbitan besar milik yahudi seperti Benjamin Harz, Leon Hirsch, dan Jacobsthal gencar menerbitkan buku-buku yang bertentangan dengan nilai-nilai moral Kristen. Beberapa di antara buku-buku tersebut sudah nampak kemaksiatannya dilihat dari judulnya saja: “Sittengeschichte des Lasters” (History Of Morals and Vices), “Bilderlexikon der Erotic” (Picture Lexicon of Eroticism), “Sittengischichte des Geheime und Verbotene” (History of the Secret and the Forbidden), dll.

Di sisi lain para aktifis sosial Jerman gencar mengkampanyekan kebebasan aborsi, suatu hal yang kala itu sangat dianggap tak bermoral. Di antara mereka adalah Dr Max Hodann, Dr Lothar Wolf, Martha Ruben-Wolf, dan Alfons Goldschmidt.

Namun tentu saja semua itu masih belum seberapa jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Sigmund Freud, sang "Bapak Sexisme". Secara efektif menghancurkan nilai-nilai moral, Freud menciptakan teori psikoanalisis yang menetapkan bahwa seks adalah motif dasar manusia yang membentuk semua kepribadian dan kharakter. Menurutnya, manusia yang "sehat secara psikologis" adalah manusia yang "membebaskan" keinginan-keinginan seks-nya tersalurkan. Hal ini masih diperparah lagi oleh Nitzche sang "Bapak Atheisme" yang mengajarkan manusia untuk "meninggalkan Tuhan". Baik Freud maupun Nitzche adalah orang-orang yahudi.

Dunia film dan teater Republik Weimar juga dikuasai orang-orang yahudi seperti Josef von Sternberg, Bertolt Brecht, Erich Pommer dan sebagainya. Maka film-film porno pun dengan lancar beredar luas di masyarakat: “Sundige Mutter” (Sinful Mama), “Wenn Ein Weib Den Weg Verliert” (When A Woman Loses Her Way), “Zieh Dich Aus” (Get Undressed), “Tausend Nackte Frauen” (One Thousand Naked Women) dll.

Namun setelah Hitler menguasai Jerman, semua kemaksiatan itu dibongkarnya habis dan nilai-nilai moral Kekristenan dikembalikan oleh-nya. Tidak mengherankan jika Hitler mendapat dukungan kuat kalangan gereja, termasuk gereja Vatikan.

Inilah Amerika, Moron!


Anda mungkin salah satu dari orang-orang yang mengagumi Hillary Clinton, menlu Amerika saat ini yang juga istri mantan Presiden Bill Clinton. Namun mulai saat ini saya minta Anda untuk mengubah kekaguman Anda kepada Hillary menjadi sesuatu yang lain yang lebih berarti, simpati pada rakyat Palestina misalnya. Setiap Anda melihat wajah Hillary atau mendengar namanya disebut, ingatlah nasib rakyat Palestina yang selama enam puluh tahun lebih nasibnya tidak berubah setelah negeri dan tanah airnya dirampas oleh Israel di bawah perlindungan Amerika.

Lebih jauh, Hillary Clinton tidak hanya terlibat dalam kejahatan kemanusiaan terhadap rakyat Palestina dengan menjadikan dirinya "boneka" Israel, ia bersama suaminya adalah kriminal yang terlibat dalam banyak kasus kejahatan. Ini semua dimungkinkan karena Amerika telah jatuh ke dalam kekuasaan zionis yahudi, kekuasaan mana yang justru menjadikan para kriminal sebagai pemimpin negara karena mereka lebih mudah "dikendalikan" daripada orang-orang yang "bersih". Dan jangan berfikir Amerika sebagai negara demokratis, karena pada dasarnya Amerika justru telah berubah menjadi negara fasis. Dan Hillary Clinton telah menunjukkan satu contoh kecil saja.

Pada tgl 15 Februari lalu Hillary berpidato di Universitas George Washington mengkritik pemerintah Iran dan negara-negara Timur Tengah yang menangkapi para demonstran anti pemerintah. Pada saat yang sama, ia memerintahkan anak buahnya, di depan matanya dan di hadapan ribuan mata audiens, melakukan aksi yang bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Seorang veteran perang berumur 71 yang memprotes pidatonya dengan berdiri membelakanginya, diseret keluar ruangan dan dipukuli aparat keamanan dan pengawal Hillary, di depan muka Hillary dan di hadapan ribuan audiens. Hillary tidak menghentikan pidatonya walau sedetik saat aparat keamanan menyerat Ray McGovern, seorang pensiunan analis inteligen CIA aktifis veteran yang mengenakan t-shirt bertuliskan "Veterans for Peace".

Padahal yang dilakukan McGovern sama sekali bukan tindakan ilegal, apalagi bila diukur dalam standar negara demokratis. Ia hanya berdiri membisu membelakangi Hillary yang tengah berpidato. Namun di negara fasis, tindakan itu menyebabkannya harus mengalami tindakan keras aparat keamanan. Saat dijebloskan ke ruang tahanan setelah diseret dan dipukuli di depan publik, tubuhnya yang renta itu dipenuhi luka-luka. Yang bisa dilakukan McGovern saat diseret keluar ruangan adalah berteriak, "Jadi inilah America?"

Partnership for Civil Justice Fund (PCJF) yang menjadi pembela McGovern dalam pernyataannya mengatakan, “Ini adalah bentuk paling nyata lip service yang dilakukan menlu Hillary Clinton. Pada saat berbicara tentang demokrasi dan hak menyatakan pendapat, McGovern secara ditangkap dan diperlalukan secara brutal hanya karena melakukan ekspresi damai menentang pidatonya," kata pengacara PCJF Mara Verheyden-Hilliard.

Saat ini McGovern menjadi aktifis di LSM "Tell the Word", bagian penerbitan dari gereja Church of the Saviour yang berpusat di Washington, D.C.

Revolusi Bahrain dan Yaman yang Mengancam Amerika-Israel


Husni Mubarak setidaknya bersikap lebih "jantan" dibanding penguasa Bahrain, negeri yang mayoritas penduduknya bermazhab Shiah namun dipimpin oleh keluarga kerajaan bermazhab Sunni. Mubarak mengirimkan pendukungnya yang berpakaian sipil untuk berhadapan muka dengan para penentangnya. Sebaliknya, penguasa Bahrain mengirimkan polisi bersenjata lengkap untuk menyerang para demonstran yang sedang tidur.

Tanpa peringatan, ratusan polisi bersenjata berat menyerbu Lapangan Mutiara, Manama, Kamis (17/2), seraya menembakkan senjata laras panjang, gas air mata, hingga granat ke tengah-tengah demonstran anti-pemerintah yang sebagian besar darinya tengah terlelap tidur. Setidaknya 5 orang langsung tewas di tempat karena serbuan itu dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.

Bahrain adalah negara boneka lain Amerika di Timur Tengah. Di negeri inilah bahkan terdapat pangkalan Armada V AL Amerika. Sangat sulit mempercayai tindakan keras aparat keamanan itu tanpa persetujuan Amerika yang khawatir negara sekutu paling strategis ini "jatuh" ke tangah musuhnya, Iran, mengingat mayoritas penduduknya bermazhab Shiah sebagaimana Iran. Apalagi tindakan pengecut aparat keamanan kepada demonstran sangatlah typikal "zionist style".

Duta besar Amerika di Bahrain adalah J. Adam Ereli, seorang yang memiliki kewarganegaraan ganda Amerika-Israel. Ayahnya adalah seorang teroris zionis anggota kelompok Haganah. Mengikuti naluri kepengecutannya, ia melarikan diri ke Amerika saat demonstrasi menentang regim kerajaan Bahrain meletus bulan Januari lalu menyusul aksi demonstrasi di Tunisia dan Mesir. Ereli tentu tahu, dengan struktur sosial-politik-ekonomi yang tidak adil, Bahrain sangat mudah disulut kerusuhan sosial. Dan yang sangat ditakuti Ereli dan orang-orang Israel serta para zionis di seluruh dunia adalah saat pemerintahan demokratis terbentuk di Bahrain, kepentingan Amerika dan Israel turut terancam.

Tentang Ereli ini Christopher Bollyn, seorang jurnalis independen anti-zionisme, pernah menulis artikel berjudul "The Israeli Who Runs the Obama White House" tahun 2008. Dalam tulisan itu disebutkan:

"Ereli mengawasi kebijakan politik Amerika di Irak dan Teluk Persia. Mengapa rakyat Amerika membiarkan orang-orang Israel seperti Ereli membajak kebijakan politik luar negeri Amerika. Mengapa kewarganegaraan ganda Ereli tidak dipandang sebagai ancaman bagi keamanan nasional Amerika? Mengapa media-media massa mengabaikan banyaknya orang-orang berkewarganegaraan ganda Amerika-Israel menduduki posisi-posisi strategis dalam pemerintahan Amerika. Ayah Ereli, Ereli Kaplan (nama aslinya Eleizher Kaplan, diubah menjadi Ereli untuk menyembunyikan keyahudiannya di muka publik) adalah anggota kelompok teroris zionis, Hagana. Putra seorang terosis ini telah mengendalikan kebijakan luar negeri Amerika di Timur Tengah selama dua dekade. Seperti orang-orang Israel lainnya yang telah saya buka kedoknya: Rahm Emanuel, Michael Chertoff, dan Daniel Samuel Senor, mereka adalah agen-agen inteligen Israel yang dikirim ke Amerika pada tahun 1950-an. Mereka adalah agen-agen zionis yang dibina untuk mengendalikan pemerintahan Amerika. Ini adalah sebuah infiltrasi yang sangat serius yang tidak boleh dibiarkan oleh rakyat Amerika. Kita tidak bisa membiarkan agen-agen asing mengendalikan negeri ini untuk menjadikannya hancur."

Sementara itu duta besar Amerika di Yaman, negara Arab lainnya yang menjadi sekutu Amerika-Israel, adalah Gerald Feierstein, juga yahudi Israel pemegang kewarganegaraan ganda. Yaman adalah negara di mana kini Amerika dan Israel menjalankan operasi inteligen "false flag" dengan menjadikan Al Qaida (hampir semuanya adalah anggota perkumpulan orang-orang na'if jemaah wahabi-salafiyun) sebagai operatornya dengan tujuan akhir mengamankan jalur minyak Teluk Aden. Al Qaide bekerja secara tandem dengan para perompak laut Somalia untuk kepentingan Amerika-Israel.

Feierstein pernah bekerja sebagai pejabat penting kementrian luar negeri Amerika sebagai Principal Deputy Assistant Coordinator dan Deputy Assistant Coordinator for Programs di Kantor Koodinator untuk Counterterrorism antara tahun 2006-2008. Ia juga pernah menjabat sebagai Desk Officer Kementrian Luar Negeri untuk wilayah Nepal, Pakistan, dan Mesir; Deputy Director Kantor Urusan Semenanjung Arab; Direktur Kantor Urusan Pakistan, Afghanistan, dan Bangladesh; dan Directur Kantor Urusan Regional Biro Timur Dekat.

Namun jika Ereli, Feierstein, Rahm Emmanuel dan kawan-kawan harus menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk meraih posisi yang diincar, Martyn Indyx lain halnya. Yahudi zionis asal Inggris ini hanya membutuhkan waktu sehari untuk menjadi warga negara Amerika dan langsung diangkat oleh Presiden Bill Clinton menjadi pejabat di departemen pertahanan. Tidak lama kemudian ia bahkan diangkat menjadi seorang duta besar.

"Inglourious Basterds" yang Sebenarnya


Sudah pernah melihat film Hollywood "Inglourious Basterds" yang dibintangi Bratt Pitt? Dalam film tersebut diperlihatkan salah seorang tokoh utama, seorang yahudi yang diperankan Eli Roth (aktor yahudi homoseksual, jelas terlihat dari bentuk mulutnya yang lebar bak karet), yang memukuli orang-orang Jerman yang kalah perang, dengan tongkat baseball.

Adalah mengherankan bahwa film yang sangat mengkampenyekan kekerasan itu lolos di peredaran. Namun bukan hal itu yang akan dibahas di film ini. Yang akan dibicarakan adalah bahwa film ini menunjukkan watak dasar orang yahudi yang pendendam, suka kekerasan, dan pengecut. Dan apa yang ditunjukkan Eli Roth dalam film tersebut hanyalah secuil kisah kekejian orang-orang yahudi terhadap orang-orang Jerman paska Perang Dunia II. Buku "An Eye for an Eye: The Untold Story of Jewish Revenge Against Germans in 1945" karya John Sacks (Basic Books, New York, 1993) adalah buku yang menggambarkan dengan jelas hal itu semua.

Salah seorang tokoh nyata yahudi yang gemar melakukan kekejian seperti Eli Roth adalah Solomon "Shlomo" Morel, yahudi Polandia yang telah membunuh ratusan tawanan perang Jerman di Polandia. Sejak tahun 1993 hingga meninggal tahun 2007 ia tinggal di Israel untuk menghindari pengadilan Polandia yang mendakwanya telah melakukan kejahatan perang. Dan seperti biasa Israel melindungi "anak-anaknya" yang baik. Ingat Meyer Lansky, gembong dan "bapak mafia", "Don of Dons" Amerika yang juga menghabiskan masa tuanya di Israel? Dan masih banyak lagi para kriminal yahudi yang bersembunyi di Israel.

Salomon (Solomon atau Shlomo) Morel lahir di Garbów, 15 November 1919. Setelah runtuhnya Uni Sovyet tahun 1993 dituntut oleh Institute of National Remembrance for War Crimes and Crimes Against Humanity, Polandia, termasuk pembuhunan balas dendam terhadap 1,500 tawanan perang. Ia terbang ke ibu pertiwi Israel dan mendapat perlindungan hukum di sana. Pemerintah Polandia berulangkali meminta Israel mengeskstradisinya ke Polandia, namun ditolak.

"Morel membawa serta para pengawal berdarah yahudi dan Polandia ke barak nomor 7 tempat tawanan Nazi atau para pemuda Nazi ditahan, seringkali dalam keadaan mabuk. Barak itu disebut dengan nama Deutsches Haus atau “brown barracks. Morel menyuruh para tawanan itu menyanyikan lagu-lagu mars Nazi, kemudian mulai memukuli mereka. Tergantung pada "mood"-nya, Morel terkadang memukul menggunakan tangan kosong, gagang pistol, batang besi atau batang kayu. Para pengawal biasanya menggunakan batang kayu.

Morel biasanya bertanya pada tawanan, "berapa pukulan yang diinginkan". Jika jawabannya dianggap kurang memuaskan berarti dianggap 50 pukulan. Menurut banyak laporan, upacara penyiksaan itu berlangsung setiap malam. Jika menggunakan kayu, Morel akan memukulkannya hingga patah. Mayat-mayat dibiarkan tergeletak di lantai. Saat subuh baru mayat-mayat itu baru diangkut dengan pedati ke pemakaman Rawa River dimana mereka dikubur dalam satu kuburan massal." Demikian tulis "An Eye for an Eye..."

Wednesday, 16 February 2011

Pemboman Dresden, Pembantaian Keji Sekutu atas Jerman


Selama ini kita hanya mendapatkan informasi sepihak mengenai Perang Dunia II, yaitu informasi dari pihak pemenang, yaitu sekutu Amerika-Inggris-Perancis-Uni Sovyet dan negara-negara ZOG (zionist occupied goverments) lainnya. Kita jarang sekali, kalau tidak bisa dikatakan tidak pernah, mengetahui dari sudut pandang lawan sekutu, yaitu Jerman-Italia-Jepang. Kita misalnya tidak pernah mengetahui motif Hitler membiarkan ratusan ribu Tentara Ekspedisi Inggris yang terkepung di Dunkirk, Perancis, melarikan diri kembali ke Inggris. Kita tentu saja juga jarang, kalau tidak dikatakan tidak pernah, mendengar tentang peristiwa Pemboman Dresden meski itu adalah sebuah peristiwa paling memilukan dalam Perang Dunia II.

Dresden pada tahun 1945 adalah kota yang indah dengan 650.000 penduduknya yang ramah tamah. Pada tgl 13 Februari 1945 kota ini dipenuh sesaki oleh sekitar 750.000 pengungsi Jerman yang melarikan diri dari kekejaman tentara komunis-yahudi Uni Sovyet. Mereka berkemah di taman-taman dan tanah lapang yang ada, bahkan di trotoar dan jalan-jalan. Mereka merasa aman di sana karena Dresden bukan kota yang memiliki fasilitas militer target serangan musuh. Sebaliknya Dresden adalah "kota rumah sakit" yang memiliki 25 rumah sakit dan fasilitas medis besar. Mereka juga sadar bahwa menurut hukum internasional, kota mereka tidak mungkin menjadi sasaran serangan militer sebagaimana Jerman juga tidak pernah menyentuh "kota-kota pendidikan" Inggris seperti Oxford dan Cambridge.

Namun anggapan mereka keliru. Pada jam 10.15 malam sebanyak 800 pesawat bomber dan pesawat-pesawat tempur pengawal Inggris memenuhi langit Dresden dan menumpahkan berton-ton bom penghancur. Ribuan orang tewas maupun luka-luka dalam satu serangan tersebut. Saat pesawat-pesawat itu menghilang dari langit, penduduk dan pengungsi yang selamat keluar dari persembunyian untuk memberikan pertolongan para korban. Demikian juga ribuan penolong dari kota-kota dan desa-desa sekitar bergegas menuju Dresden. Mereka tidak pernah membayangkan peristiwa tragis yang baru saja terjadi. Tentu saja mereka juga tidak pernah menyangka bahwa berhentinya serangan hanya tipuan belaka. Karena saat jalan-jalan dipenuhi para penolong dan korbannya, gelombang kedua serangan udara Inggris kembali datang.

Serangan kedua memberikan dampak kehancuran yang lebih besar dari kota yang masih dipenuhi bara api oleh serangan pertama itu. Api berkobar lebih hebat lagi membakar. Demikian hebat kebakaran tersebut dan panas yang ditimbulkannya hingga para penolong dari luar kota kesulitan untuk memasuki kota. Sementara ribuan penduduk Dresden dan pengungsi terbakar hidup-hidup hingga ke tulang.

Cerita tentang kengerian peristiwa itu tidak terkatakan. Saat anak-anak kecil yang terpisah dari orang tuanya terjebak di dalam genangan aspal yang meleleh karena panas. Atau saat anak-anak kecil terinjang-injak oleh orang-orang yang berebut jalan menyelamatkan diri. Hal seperti ini tentunya tidak pernah dialami rakyat Inggris, Amerika dan sekutu-sekutunya.

Bencana kemanusiaan ini belum berhenti karena keesokan harinya giliran Amerika unjuk gigi. Sebanyak 400 pesawat pembom menumpahkan muatannya dan pesawat-pesawat tempur menembaki orang-orang di jalanan termasuk para tenaga medis yang tengah merawat pasiennnya di sepanjang tepi Sungai Elbe.

Namun itu semua masih belum berakhir karena tiga serangan lanjutan telah direncanakan tentara sekutu: 15 Februari, 3 Maret, dan 17 April 1945 dengan total pesawat pengebom mencapai 1.172 unit. Korban tewas diperkirakan mencapai 400.000 jiwa, atau bahkan lebih. Dan karena Jerman tidak memiliki cukup orang untuk melakukan evakuasi, mayat-mayat hanya disemprot dengan disinfektan atau api kemudian dikubur bersama reruntuhan bangunan.

Sebagaimana ditulis oleh Jendral Patton, kamandan pasukan sekutu yang berhasil mengalahkan dan menduduki Jerman, dalam buku hariannya, pemerintahan sipil sekutu, terutama Amerika dan Inggris, secara sistematis berupaya melakukan pembersihan etnis terhadap warga kulit putih Jerman, semata-mata dengan motif balas dendam orang-orang yahudi kepada mereka. Antara 800.000 sampai 1,1 juta tawanan perang Jerman dibiarkan tinggal di kamp tawanan tanpa atap dan alas selama berbulan-bulan menahan kelaparan, kepanasan dan kedinginan. Warga sipil Jerman diusir dari rumah-rumah mereka untuk diisi oleh orang-orang yahudi yang didatangkan dari Uni Sovyet dan Eropa Timur. Sekitar 500.000 tawanan perang lainnya, sipil maupun militer, dikirim ke Siberia untuk menjalani kerja paksa. Bagi para wanita Jerman, masa-masa terakhir regim Nazi adalah neraka sesungguhnya. Mereka hanya mempunyai dua pilihan: diperkosa oleh tentara Uni Sovyet atau dibom oleh pesawat pembom Amerika dan Inggris.

Diperkirakan sekitar 5 juta warga Jerman secara sistematis dibiarkan mati kelaparan selama 5 tahun setelah perang oleh tentara sekutu yang menduduki Jerman.

Dan karena yahudi mengontrol pemerintahan dan media massa barat, bahkan warga Jerman sendiri tidak banyak mengetahui tentang tragedi Dresden. Yahudi menginginkan hak eksklusif sebagai korban perang, hingga meski korban perang justru bukan orang yahudi, mereka terus saja mengkampanyekan "holocoust". Tujuannya tentu agar mereka bisa tetap terus "memeras" seluruh masyarakat di dunia. Hingga kini misalnya, negara-negara barat terus memberikan bantuan "kompensasi korban perang" kepada Israel. Pada dekade 90-an, ketika memori rakyat Eropa tentang "holocoust" meredup, orang-orang yahudi dibawah koodinasi World Jewish Association mengkampanyekan "holocoust" yang oleh pengkritiknya disebut sebagai "holocoust industry". Mereka memeras perbankan Jerman dan Swiss dengan dalih mendapatkan keuntungan ilegal dari dana-dana masyarakat yahudi yang hangus selama perang, hingga dalam sekali tepuk berhasil meraup miliaran dolar. Namun, seperti biasa, dana kompensasi itu sebagian besar justru masuk ke kantong pribadi tokoh-tokoh yahudi, bukan para korban perang sebenarnya.

"Holocoust industry" adalah upaya-upaya sistematis orang-orang yahudi untuk melanggengkan kenangan palsu "holocoust" sembari mendapatkan keuntungan melimpah darinya. "Holocoust industry" termasuk museum-museum holocoust di beberapa negara barat, pendidikan "holocoust", LSM-LSM, buku-buku, film-film dan sebagainya. Film-film Hollywood tentang Perang Dunia II hampir pasti juga bagian dari "holocoust industry".

Ketika rakyat Ukraina ingin memperingati peristiwa "Holomador", lobi internasional yahudi menolaknya dengan keras. "Holomador" adalah "etnis cleansing" terhadap rakyat Ukraina oleh regim komunis Uni Sovyet yang didirikan dan dijalankan secara eksklusif oleh orang-orang yahudi. Ukraina yang adalah lumbung gandum mengalami bencana kelaparan massal yang menewaskan sekitar 7 juta penduduknya karena hasil panen dirampas oleh regim komunis sebelum terjadinya Perang Dunia II. Mereka juga menentang peringatan pembantaian etnis Armenia oleh Kemal Attaturk, seorang yahudi "domne" Turki.

Tujuan lainnya agar hak eksklusif korban perang hanya menjadi milik yahudi adalah untuk memberi alasan mereka melakukan terorisme terhadap rakyat Palestina. Mereka berharap masyarakat dunia memaklumi pendudukan yahudi atas Palestina karena "yahudi membutuhkan negeri sendiri" setelah mengalami "holocoust".


Ref:
Richard Odorfer; "Destruction of Dresden: Man’s worst massacre"; Herald-Zeitung; 13 February 2011 dalam truthseeker.co.uk; 15 Februari 2011.

Cina Geser Jepang sebagai Negara Ekonomi Terbesar Kedua


Cina menggeser Jepang sebagai negara terbesar kedua secara ekonomi setelah Amerika, gelar yang telah disandang Jepang sejak tahun 1968. Ekonomi Jepang memang tumbuh 3,9% tahun lalu, pertumbuhan positif pertama selama tiga tahun terakhir, namun tidak mampu menahan kemajuan Cina yang sangat pesat. GDP Jepang tahun lalu adalah sebesar $5.4742 triliun, lebih kecil dari Cina yang mencapai $5.8786 triliun, sebagaimana dipublikasikan oleh pemerintah Jepang.

Pada dekade 1980-an pertumbuhan ekonomi Jepang yang meroket menimbulkan kekaguman sekaligus kekhawatiran, namun pertumbuhan itu melemah setelah gelembung ekonomi sektor properti meledak. Selama dekade 1990-an ekonomi Jepang tidak pernah benar-benar pulih dan hingga kini masih terus-menerus dilanda deflasi, angka usia ketergantungan yang tinggi dan hutang publik yang menggunung.

Saat ini Cina adalah pasar otomotif sekaligus pengguna energi terbesar di dunia. Kini Cina tengah mengejar Amerika untuk menjadi negara terbesar secara ekonomi yang kemungkinan bisa tercapai antara dekade 2020-2030. Sebelum menggeser Jepang, empat tahun lalu Cina sukses menggeser Jerman sebagai negara ekonomi terbesar ketiga di dunia.

Bulan Januari lalu surplus perdagangan Cina mengalami penurunan tajam, dari $13,1 miliar bulan Desember 2010 menjadi $6,5 miliar, terendah selama 9 bulan terakhir. Hal ini karena melonjaknya impor terkait adanya tahun baru Cina dimana impor melonjak sebesar 51% sementara ekspor "hanya" 38%. Namun setelah semua itu berlalu diperkirakan surplus perdagangan kembali akan "menggila".

Memang, secara per-kapita penghasilan rakyat Cina masih jauh lebih rendah dibanding Jepang sekitar 1 banding 7. Namun kemakmuran rakyat Cina telah dirasakan Jepang dengan melonjaknya turis Cina yang datang ke Jepang tahun lalu yang mencapai 1,41 juta wisatawan. Status "orang kaya baru" membuat mereka sangat royal membelanjakan uangnya untuk mendapatkan barang-barang buatan Jepang yang terkenal.

Menteri ekonomi Jepang, Kaoru Yosano, menggambarkan ekspansi ekonomi Cina sebagai hal yang positif bagi Asia dan ia berharap terjalinnya hubungan ekonomi yang lebih erat antara kedua negara.

“Sebagai entitas ekonomi kami tidak bersaing untuk ranking, namun bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sebagai negara tetangga kami menyambut kemajuan ekonomi Cina."

Kuartal terakhir tahun lalu Jepang mengalami kemerosotan pertumbuhan ekonomi menjadi 1,1% dari kuartal sebelumnya yang mencapai 3,35%. Kemunduran itu diduga disebabkan oleh menurunnya ekspor dan serta penurunan konsumsi masyarakat meski hal itu diperkirakan akan segera pulih kembali.

Lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s menurunkan rating kredit negeri ini bulan lalu, hal yang baru terjadi setelah sembilan tahun terakhir. S&P menyatakan partai penguasa Jepang gagal menerapkan strategi ekonomi untuk hutang publik yang kini telah mencapai 2x GDP.


Ref:
Julia Collewe; "China overtakes Japan as world’s second-largest economy"; The Gaurdian; 14 Februari 2011

Iran Segera Luncurkan Beberapa Satelit


Iran sampai saat ini adalah satu-satunya negara Islam yang telah meluncurkan sendiri setelit buatannya ke luar angkasa. Dan karena teknologi luar angkasa sampai saat ini dianggap sebagai teknologi yang paling rumit dan canggih, bisa dikatakan Iran adalah negara Islam paling maju.

Menurut kantor berita AFP saat ini Iran tengah merencanakan untuk meluncurkan beberapa satelit buatannya ke luar angkasa yang direncanakan pada bulan Maret 2012, menyusul keberhasilan uji coba pelucuran satelit yang dilakukan pada bulan Februari 2009 dengan menggunakan roket Safir-2. Hal itu disampaikan oleh Presiden Ahmadinejad dalam peringatan ulang tahun Revolusi Iran tgl 11 Februari lalu di Teheran. Setiap tahun Iran menggunakan momen peringatan Hari Revolusi sebagai "batu penanda" kemajuan teknologinya.

"Saya harap mulai akhir tahun ini hingga Maret 2012 serta bulan-bulan berikutnya kita akan menyaksikan beberapa peluncuran satelit buatan kita sendiri," kata Ahmadinejad sekaligus memperkenalkan empat prototip baru satelit Iran.

Keempat prototip satelit tersebut adalah Rasad, Fajr, Zafar dan Amir Kabir-1. Selain itu Ahmadinejad juga memperkenalkan prototip roket pembawa satelit Safir-B1. Sampai saat ini Iran memang belum mengoperasikan satelit buatannya sendiri, namun dengan pernyataan Ahmadinejad harapan tersebut sepertinya akan segera dipenuhi.

Pada bulan Februari 2009 Iran sukses meluncurkan satelit ujicoba Omid (Harapan) menggunakan roket Safir-2 buatan sendiri. Setahun kemudian, Februari 2010, Iran sukses meluncurkan roket Kavoshgar-3 berisi kapsul ke ruang angkasa yang berisi beberapa binatang percobaan seperti kura-kura, tikus dan cacing. Inilah peluncuran mahluk hidup pertama ke ruang angkasa yang dilakukan negara Islam.

Satelit Fajr yang diperkenalkan Ahmadinejad tersebut di atas adalah satelit mata-mata yang dirancang oleh departemen pertahanan, sementara Amir Kabir-1 yang tidak disebutkan fungsi detilnya dibuat oleh Amir Kabir University, Teheran. Di sisi lain satelit Rasad dibuat oleh Malek Ashtar University, Teheran yang memiliki hubungan kerjasama dengan Tentara Pengawal Revolusi. Adapun satelit Zafar masih dirahasiakan perancangnya. Media-media massa Iran minggu lalu melaporkan bahwa roket Safir-B1 bisa membawa satelit seberat 50 kg ke orbit ellips setinggi 300-450 km dari permukaan bumi.

Kemajuan teknologi roket dan luar angkasa Iran telah menjadi sorotan masyarakat internasional akhir-akhir. Apalagi kalau bukan isu pengembangan nuklir. Percobaan nuklir yang kini gencar dilakukan Iran ditambah kemajuan teknologi roket dan satelit adalah kombinasi yang sempurna untuk menciptakan rudal nuklir. Namun Iran berkukuh bahwa percobaan nuklirnya adalah untuk tujuan damai di bawah pengawasan lembaga nuklir PBB.



Kemajuan-kemajuan lainnya

Dalam setahun terakhir kita menyaksikan satu demi satu pencapaian teknologi sipil dan militer Iran yang mengagumkan. Dalam seminggu terakhir kita juga melihat dua kemajuan teknologi militer yang luar biasa, yaitu radar jarak jauh yang diperkenalkan ke publik tgl 12 Februari dan rudal anti kapal yang diperkenalkan tgl 7 Februari.

Pada tgl 12 Februari lalu Brigjen Hamid Arzhangi wakil komandan pangkalan udara Khatam al-Anbiya mempublikasikan dua radar pertahanan udara baru yang masing-masing berdaya jangkau 1.000 km dan 3.000 km. Menurut Arzhagi antena kedua radar tersebut telah dipasang dan sistem keseluruhan akan segera terpasang. Arzhangi juga mengungkapkan sistem monitor baru yang memungkinkan transfer data dari inteligen ke komando berlangsung jauh lebih cepat.

Khatam al-Anbiya berfungsi mengkoordinasikan sistem pertahanan udara AD Iran dengan Korps Pengawal Revolusi (Islamic Revolution Guards Corps). Iran telah berhasil melakukan ujicoba penggunaan peralatan komunikasi terbaru pada bulan November tahun lalu. Iran saat itu juga berhasil melakukan ujicoba generasi terbaru sistem pertahanan udara buatan sendiri.

Sistem pertahanan udara baru yang diberi nama Mersad itu mampu mendeteksi dan menembak jatuh pesawat tempur musuh yang terbang rendah maupun tinggi. Mersad juga mampu digunakan dalam perang elektronik dan bisa dihubungkan dengan radar dan sistem pertahanan udara lainnya.

Sebelumnya pada tgl 7 Februari Mayor Jendral Muhammad Ali Jafari mengadakan jumpa pers memperkenalkan senjata rudal anti-kapal terbaru.

"Rudal baru ini mampu terbang dengan kecepatan supersonik dan tidak bisa dilacak oleh musuh," kata Ali Jafari seraya menambahkan bahwa rudal tersebut memiliki daya jangkau hingga 300 km dengan daya akurasi yang tinggi.

Dengan rudal baru ini Iran bisa menenggelamkan kapal-kapal yang berlayar di Teluk Persia khususnya di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur vital suplai minyak ke negara-negara barat. Jafari mengumumkan rudal baru tersebut akan mulai dioperasikan dalam "beberapa hari".

Iran memulai program pembangunan militernya sejak Perang Iran-Irak tahun 1980-1988 saat mana Amerika dan Eropa yang menjadi pemasok persenjataan Iran semasa pemerintahan Shah Pahlevi mengembargo Iran. Sejak itu Iran berupaya keras mengembangkan sendiri persenjataan militernya untuk menggantikan persenjataan barat yang mengembargonya. Kini persenjataan militer yang sudah bisa dibuat sendiri olah Iran meliputi pesawat tempur, tank hingga rudal siluman dan pesawat tempur tanpa awak.

Tuesday, 15 February 2011

Antara Kairo dan Jerussalem


Gilad Atzmon; "Cairo and Jerusselem"; gilad.co.uk; 12 Februari 2011


"Ini adalah kekuatan moral dari tindakan tanpa kekerasan," demikian komentar pertama Presiden Barack Obama mengenai Revolusi Mesir yang baru saja berlangsung. Namun masih belum jelas siapa figur "tanpa kekerasan" versi Mesir sebagaimana Mandela di Afrika Selatan, Gandhi di India, atau Martin Luther King. Tidak lain karena rakyat Mesir sendiri yang telah mengejahwantahkan gerakan tanpa kekerasan tersebut.

Jerusalem (Israel), zionis, dan beberapa elemen gerakan "kiri" telah berupaya menghancurkan citra muslim, Islam dan Arab selama berpuluh tahun. Kini rakyat Mesir (dan juga Tunisia; blogger) telah membuktikan bagaimana Islam yang cinta damai itu sebenarnya.

Tidak seperti revolusi-revolusi di barat yang dipenuhi dengan gelimangan darah, di Kairo jutaan kaum muslim harus rela menunggu dengan sabar selama 18 hari untuk memastikan pesan moralnya didengarkan oleh penguasa tiran. Hari demi hari, mereka berdiri di jalan-jalan menunjukkan kesabaran sekaligus keteguhan hati. Lima kali sehari mereka berdoa (sholat) bersama, memenuhi kewajibannya tetap terjaga. Itu semua mengingatkan kita bahwa Islam berasal dari kata "salaam" yang maknanya adalah "damai", tanpa kekerasan.

Rakyat Mesir tanpa bisa dibantah telah menjadi "pembawa misi" kedamaian Islam. Hanya dalam waktu dua minggu mereka telah berhasil menghancurkan penyakit "Islamophobic" yang dihembuskan para zionis. Dalam waktu singkat tersebut mereka juga telah menanamkan benih-benih harapan di dalam hati kita semua. Mereka sebenarnya telah mengingatkan kita mengenai makna sebenarnya tentang demokrasi dan kebebasan.

Mesir, negara Arab terbesar dan paling berpengaruh, baru saja sukses meluncurkan gerakan demokrasinya kemarin. Sebagaimana kita ketahui, demokrasi di dunia Arab adalah berarti Islam. Minggu ini masyarakat barat telah mendapatkan kesempatan untuk menemukan sebuah keimanan yang dipenuhi harmoni dengan kedamaian (Islam; blogger). Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat Eropa dan Amerika secara ajaib disadarkan dari penyakit "Islamophobic". Ketakutan tentang Islam dan muslim telah tersingkir. Banyak dari kita yang menyambut baik pilihan rakyat Mesir: Islam, salam dan Persaudaraan Muslim (Ikhwanul Muslimin).

Dua hari yang lalu James Clapper, Direktur National Intelligence Amerika cukup berani untuk mengaku bahwa Ikhwanul Muslimin adalah sebuah kelompok "yang sangat heterogen, yang mencari tujuan sosial daripada politik, yang dalam mencapai tujuannya menjauhi cara-cara kekerasan.”

Jika ada yang tidak bisa memahami fenomena ini, Amerika telah menghabiskan waktu enam bulan lebih untuk mengamandemenkan kebijakan luar negeri berbau zionisnya. Amerika hanya memiliki waktu yang sangat sempit untuk mendapatkan sekutu baru di Timur Tengah. Bagi Amerika dan Eropa ini adalah masalah hidup dan mati.

Dalam beberapa bulan mendatang para memimpin barat harus menyesuaikan diri dengan kenyataan baru. Saya pikir bahwa, meski masih dipengaruhi secara kuat oleh lobi-lobi zionis yahudi, mereka akan mengakui secara terbuka tentang kekuatan dan keindahan Islam. Mereka akan berupaya "mengambil hati" satu miliar warga muslim di seluruh dunia. Dan untuk itu mereka harus cepat bertindak.

Sementara dalam beberapa hari mendatang, Israel harus menghadapi kenyataan pahitnya. Mereka berada dalam kondisi sebagaimana api yang akan padam. Negara yahudi tidak bisa dipungkiri adalah entitas yang berbahaya, dan kita hanya bisa berdoa dalam kehancurannya itu tidak menyeret dunia dalam kehancuran juga. Bagi mereka yang tidak memahami, Israel telah menumpuk kekuatan yang sangat menghancurkan (nuklir; blogger). Lebih jauh, pilihan untuk "tijitibeh" atau mati satu mati semua adalah salah satu ajaran moral mereka yang diajarkan di kitab-kitab suci. Samson dan Masada adalah dua contoh nyata dari hal itu.

Adalah lebih baik jika mengakui pada diri sendiri bahwa, tidak seperti Kairo, Jerussalem secara inheren adalah "kekerasan". Kondisi seperti ini sudah tentu sangatlah rapuh. Tantangan terbesar para pemimpin dunia saat ini adalah secara damai "membubarkan" negara Israel sehingga mereka tidak lagi memiliki kesempatan lagi untuk merealisasikan impuls-impuls jahatnya.

Sunday, 13 February 2011

SANG TERPILIH (25)


Permainan terakhir Subagyo, merancang kerusuhan-kerusuhan berbau sara, adalah agenda lama "organisasi" yang telah diterapkan sejak Indungsia merdeka. Sebagai negara Islam terbesar di dunia, "organisasi" zionis menganggap perlu untuk memainkan politik "pecah belah dan kuasai" atasnya. Yang paling disukai adalah membenturkan "mainstream" Islam dengan sekte-sekte minoritas yang didanainya, atau membenturkannya dengan pemerintah. Dengan begitu aspirasi umat Islam tidak akan pernah sampai pada tataran eksekusi sehingga umat Islam terus-menerus menjadi umat marginal. Dengan marginalnya umat Islam yang mayoritas, otomatis Indungsia bisa dikendalikan oleh sekelompok kecil oligarkis, oportunis dan komprador asing.

Agenda ini sebenarnya sangat membahayakan, karena konflik terbuka yang melibatkan umat Islam akan menimbulkan kerusuhan massal. Karena inilah Subagyo selalu berusaha menghindarinya meski George Soros dan agen-agen "organisasi" di Indungsia seperti para aktifis LSM korup, pers korup, birokrat dan politikus korup, cendekiawan dan pengamat politik korup, hingga tokoh agamawan korup, terus berusaha mengkompori Subagyo. Tapi di saat kondisi Subagyo yang terjepit oleh berbagai manufer lawan-lawan politiknya yang berhasil memanfaatkan kelemahannya sebagai pemimpin, langkah tersebut akhirnya disetujui Subagyo.

Langkah pertama adalah merancang kerusuhan sara di sebuah daerah tertinggal yang masyarakatnya yang religius namun juga masih memandang hormat budaya "jagoan" dan "jawara". Beberapa orang anggota sekte Ahmadiyah bentukan imperalis Inggris di India, yang telah dilarang pemerintah untuk mengadakan kegiatan dakwah karena resistensi umat Islam mayoritas, sengaja memprovokasi warga dengan mengadakan acara pengajian akbar. Sebagian aktifis Ahmadiyah itu tentu saja adalah agen provokator dengan tingkah lakunya yang secara kasar dan "petenthang petentheng". Sampai tahap ini saja sudah cukup untuk memicu kerusuhan massal. Apalagi dengan pengerahan agen-agen provokator di pihak masyarakat, lengkap dengan para juru kamera yang dalam hitungan menit telah menyebarkan rekaman video kekerasan ke media-media massa dan menciptakan kegemparan massal.

Aksi kerusuhan massal itu kemudian disusul dengan aksi-aksi sejenis di daerah lain. Kemudian para agen "organisasi" ramai-ramai menuntut tindakan keras pemerintah kepada ormas-ormas Islam yang langsung diamini oleh Subagyo.

Sikap para agen "organisasi" dan Subagyo tentu saja sangat bias dan tidak fair. Masyarakat hanya merespon provokasi yang dilakukan para aktifis Ahmadiyah. Justru para aktifis Ahmadiyah-lah yang telah melanggar ketentuan hukum yang melarang mereka melakukan kegiatan dakwah. Tapi anehnya justru masyarakat Islam yang disalahkan. Lagipula bukankah aksi-aksi kekerasan itu tampak jelas sebagai operasi inteligen "false flag": merancang suatu peristiwa kekerasan yang kesalahannya ditimpakan pada orang atau kelompok yang bukan pelaku agar bisa menjadi alasan bagi diadakannya tindakan terhadap orang atau kelompok yang diincar. Ini mirip operasi inteligen di balik Tragedi WTC 2001.

Sadar atau tidak Subagyo telah menjerumuskan diri dalam permainan yang sangat membahayakan yang mungkin saja menjerumuskannya sebagaimana presiden Tunisia Ben Ali dan presiden Mesir Husni Mubarak. Jika ia memaksakan menindak keras ormas-ormas Islam, sementara membiarkan Ahmadiyah yang terus menerus melakukan provokasi, maka ia akan dicap sebagai musuh Islam, kafir yang halal untuk dilawan.

Dan dalam urusan ini umat Islam Indungsia tidak memiliki kompromi kecuali melawan, sebagaimana mereka pernah melawan penjajah kafir Belanda dan orang-orang komunis PKI.

Korbankan Diktator, Selamatkan Kepentingan


Sepanjang sejarah dunia modern, setidaknya setelah Perang Dunia 2, kita seringkali menyaksikan sebuah ironi politik yang dilakukan Amerika: menyingkirkan begitu saja para diktator yang telah mengabdikan dirinya untuk Amerika selama belasan hingga puluhan tahun. Dan kini kita baru saja menyaksikan dua peristiwa sejenis secara berurutan dalam jangka waktu yang sangat pendek: tersingkirnya Presiden Tunisia Ben Ali dan Presiden Mesir Husni Mubarak. Dan seperti biasanya, Amerika menyampakkan mereka begitu saja, tidak bersedia melindungi dan menyambut mereka dari pelariannya setelah puluhan tahun mengabdikan diri mereka kepada Amerika sembari menindas rakyatnya sendiri.

Di masa lalu kita telah melihat pengalaman sejenis dialami oleh diktator Trujillo dari Dominika, Shah Reza Pahlevi dari Iran, Presiden Diem di Vietnam, diktator Somoza dari Nicaragua, Batista di Kuba, Marcos di Filipina, Pinochet di Chile, Soeharto di Indonesia, dan lain-lainnya.

Di antara para diktator tersebut yang cukup beruntung adalah Somoza dan Batista yang diberikan tempat perlindungan di pelarian. Trujilo dan Diem bahkan harus menebus nyawanya yang dicabut oleh agen-agen rahasia CIA karena menolak mengikuti perintah Amerika di saat terjadi krisis politik.

Ketika rakyat memberontak terhadap regim-regim tersebut, secara standar Amerika melakukan tiga langkah sbb: secara resmi membuat pernyataan mendukung prosed demokrasi dan pergantian kekuasaan, secara diam-diam menyatakan dukungan pada diktator lama, dan secara diam-diam juga berusaha mencari calon penguasa baru yang bisa meneruskan "pengabdiannya" kepada Amerika. Bari Amerika tidak ada hubungan yang abadi melainkan kepentingan yang abadi.

Beberapa faktor yang diperhitungkan Washington untuk tetap mendukung atau menyingkirkan regim-regim diktatornya adalah: kemampuan diktator mengendalikan kerusuhan, kekuatan pendukung-pendukung sang diktator terutama militer serta keberadaan calon pengganti. Satu faktor lagi tentu saja adalah usia sang diktator. Semakin tua sang diktator, semakin tidak disukai Amerika meski memiliki kemampuan untuk mengendalikan kekuasaan dan memiliki pendukung kuat. Dalam hal terakhir ini sangat tampak pada diri Husni Mubarak. Meski masih memiliki pendukung kuat, termasuk mampu memobilisasi puluhan ribu massa pendukung untuk menandingi massa demontran penentangnya, usianya yang sudah 82 tahun sangat tidak menjamin keberlangsungan regimnya.

Terlalu lama menunggu untuk bersikap atas gerakan revolusi rakyat yang mengancam diktator dukungannya sangatlah berbahaya, karena semakin lama gerakan berlangsung, semakin menghancurkan dampaknya. Jika awalnya rakyat hanya menuntut keadilan, terakhir rakyat menuntut perubahan sistem secara keseluruhan termasuk penguasa dan aparatusnya serta sistem politik. Miskalkulasi tentu saja sering terjadi seperti dalam kasus Batista di Kuba dan Shah Iran. Karena terlalu lama membiarkan status quo dan mendukung diktator penguasa, gerakan sosial kemudian berubah menjadi revolusi yang membongkar habis sistem politik yang tadinya pro-Amerika menjadi anti-Amerika.

Kesalahan perhitungan juga terjadi di Nikaragua. Karena terlalu lama membiarkan Somoza dalam posisinya meski tetap mengkritik kediktatorannya, gerakan rakyat berubah menjadi revolusi yang membongkar habis sistem pemerintahan Nikaragua menjadi komunis yang sangat anti-Amerika, termasuk menasionalisasi perusahaan-perusahaan Amerika yang berada di sana.

Pada tahun 1980-an Amerika mulai merubah sikap menghadapi gerakan-gerakan rakyat melawan diktator yang didukungnya. Alih-alih ngotot mempertahankan sang diktator, Amerika mulai bersikap lunak, yaitu mendukung perubahan yang demokratis namun tanpa merusak sistem, struktur dan idiologi pemerintahan. Dengan demikian kepentingan Amerika masih tetap bisa terjaga.


Pelajaran Sejarah dan Implikasinya


Presiden Barack Obama sebenarnya sangat menyayangkan kalau harus kehilangan Husni Mubarak, bahkan ketika aksi-aksi demonstrasi menentang Mubarak sudah sedemikian massif. Secara formal ia memang mendesak Mubarak untuk memenuhi tuntutan rakyat. Namun secara diam-diam ia mengirimkan Frank Wisner, seorang yang memiliki kepentingan bisnis kuat dengan regim Mubarak dan karenanya menentang upaya penumbangan Mubarak dari kekuasaan. Alasan paling kuat tentu saja karena tumbangnya Mubarak bisa menjadi preseden bagi penumbangan regim-regim boneka Amerika lainnya seperti di Honduras, Mexico, Jordania, Aljazair, dan bahkan mungkin Indonesia.

Faktor lain tentu saja adalah adanya tekanan lobi kalangan zionis Isreal maupun Amerika sendiri untuk mempertahankan Barak, sekutu paling strategis Israel di Timur Tengah. Pemerintah Israel bahkan melakukan pendekatan-pendekatan diplomatik yang intensif ke negara-negara barat untuk tetap mendukung Mubarak.

Akibatnya Amerika terkesan agak lambat dalam menghadapi krisis Husni Mubarak. Amerika sibuk untuk mencari figur pengganti Mubarak yang sesuai dengan keinginan mereka, berusaha mempertahankan sistem politik dan birokrat sipil-militer yang selama puluhan tahun menjadi kepanjangan tangan Amerika, serta mencari formula transisi kekuasaan yang bisa mengendurkan mobilisasi dan radikalisme massa.

Hambatan utama penumbangan Mubarak dari kekuasaan adalah adanya sejumlah besar aparatur negara yang masih setia pada Mubarak. Mereka meliputi 325.000 aparat inteligen CSF (Central Security Forces) dan 60,000 anggota Garda Nasional yang komandonya berada langsung di bawah Mendagri dan Mubarak sendiri. Sementara 450.000 tentara nasional yang mendapat hak-hak istimewa selama puluhan tahun, terlalu sulit untuk merubah "mindset" mereka untuk tidak loyal kepada Mubarak. Mereka tentu juga tidak menginginkan terjadinya perubahan kekuasaan negara yang nantinya berujung pada pengadilan atas kekayaan mereka. Mereka menyadari bahwa kekayaan dan privilege yang mereka terima dari Mubarak adalah berasal dari Amerika.

Obama tentu saja menginginkan aparatur birokrat dan militer tersebut tetap utuh. Namun ia juga harus bisa meyakinkan mereka untuk mau mengganti Mubarak dan menggantinya dengan regim baru yang bisa menyurutkan gerakan revolusi yang semakin lama semakin cenderung anti-Amerika dan Israel.

Amerika mulanya mencoba berunding dengan para demonstran tentang prospek gerakan revolusi ke depan. Amerika berusaha meyakinkan para demonstran untuk menerima tawaran Mubarak untuk berunding, namun ditolak demonstran sebelum terlebih dahulu Mubarak menyatakan mengundurkan diri. Kemudian tawaran Mubarak untuk tidak mengikuti pemilu mendatang (bulan September) juga ditolak demonstran.

Maka kemudian melalui utusannya, Frank Wisner, Amerika mengusulkan kepada Mubarak sebuah upaya "trial and error", uji kekuatan sekaligus dengan harapan bisa menghancurkan gerakan revolusi. Mubarak pun pada tgl 3 Februari mengirim ribuan aparaturnya yang setia dan preman yang sengaja dilepas dari penjara, dengan berpakaian sipil, menyerang para demonstran yang berdemo di Lapangan Thahrir. Upaya ini pun gagal karena perlawanan sengit para demonstran. Setelah ribuan korban menjadi korban aksi tersebut, Amerika dan Uni Eropa pun meminta Mubarak menghentikan aksinya. Namun nasi sudah menjadi bubur: demonstran semakin radikal dan militer mulai merasa berkewajiban untuk melindungi rakyat. Yang terakhir inilah yang kemudian membuat Mubarak menyerah terhadap tuntutan rakyat.

Kini Mubarak telah mundur dengan nasib ke depannya yang tidak jelas. Amerika berhadap militer yang kini menjadi penguasa transisi, masih bisa diajak berkompromi. Namun tentu saja itu tidak mudah. Sebagian besar rakyat Mesir telah muak dengan peran antagonis yang telah dimainkan Mesir di bawah Mubarak selama 30 tahun: menjadi "anjing penjaga" Israel dan pelayan Amerika yang membiarkan saudara-saudaranya rakyat Palestina di Gaza dibunuhi di depan mata dalam aksi militer-sosial-politik paling keji sepanjang sejarah dunia modern yang dilakukan Israhell.


Ref:
James Petras; "Washington Faces the Arab Revolts: Sacrificing Dictators to Save the State"; truthseeker.co.uk; 8 Februari 2011.