Tuesday, 31 March 2020

Saat Big Pharma, Pejabat dan Media Massa Sibuk Beritakan Pencarian Vaksin Dokter-Dokter Cina Sembuhkan Pasien Coronavirus dengan Vitamin C

Indonesian Free Press -- Kalangan mapan (pemerintah, media massa dan kapitalis/industri besar) kembali menunjukkan watak culasnya dalam masalah wabah global coronavirus. Saat ini mereka sibuk mencari vaksin coronavirus dengan menggunakan dana publik demi keuntungan miliaran dollar bagi industri farmasi (Big Pharma) dengan mengabaikan obat murah yang telah terbukti handal menangani coronavirus, yaitu vitamin C.

Seperti ditulis Dr. Leon Tressell di situs SouthFront, 27 Maret, Andrew W. Saul, Pemimpin Redaksi jurnal medis Orthomolecular Medicine News Service merangkum dengan baik tentang ini semua:

“Ortodoksi medis secara obyektif berfokus pada pencarian vaksin dan / atau obat untuk coronavirus COVID-19. Sementara mereka mencari apa yang akan menjadi pendekatan yang sangat menguntungkan, kami memiliki vitamin C, metode yang sudah ada, terbukti secara klinis untuk mengobati apa yang menyebabkan kematian pasien coronavirus: sindrom pernafasan akut yang parah atau pneumonia.”

Sunday, 29 March 2020

AS Perkuat Pertahanan di Sekitar Kedubes di Baghdad di Tengah Ancaman Perang dgn PMU

* PMU Gelar Latihan Perang


Indonesian Free Press -- Amerika meningkatkan pertahanan di sekitar kompleks Kedubesnya di Babhdad, Irak, di tengah ancaman perang melawan milisi PMU dukungan Iran.

Seperti dilaporkan Press TV hari ini (29 Maret), seorang anggota parlemen senior Irak mengatakan bahwa Amerika telah meningkatkan pertahanannya di Baghdad bersamaan dengan persiapan Amerika untuk menyerang kekompok Popular Mobilization 

Units (PMU), atau lebih dikenal dengan nama Hashd al-Sha’abi. Serangan dilakukan sebagai respons atas serangan-serangan roket yang diduga dilakukan kelompok ini atas pangkalan-pangkalan Amerika termasuk kompleks Kedubes AS beberapa minggu terakhir, terutama setelah pembunuhan oleh Amerika terhadap panglima pasukan khusus Iran Jendral Soleimani dan seorang komandan senior PMU.Abu Mahdi al-Muhandis, awal Januari lalu.

Wednesday, 25 March 2020

VT Bongkar Identitas Penyebar Pertama Covid 19 dari Amerika

Indonesian Free Press -- Veterans Today (VT) mengungkap identitas tentara Amerika peserta olimpiade militer di Wuhan, Cina, Oktober tahun lalu yang diduga sebagai penyebar awal wabah Covid19. Ia adalah seorang atlit balap sepeda wanita yang juga seorang tentara yang sering terlibat dalam opeasi inteligen.

"Media China Global Times hari ini merilis nama Staff Sgt Maatje Benassi, seorang pembalap sepeda profesional (wanita keturunan Belanda) yang bepartisipasi dalam olimpiade militer di Wuhan dan telah dinyatakan positif COVID 19. Ia juga disebut-sebut sebagai 'pengemudi diplomat bersenjata' dengan sejarah berhubungan dengan operasi-operasi militer yang melibatkan figur-figur dalam RussiaGate," tulis VT.

Benassi adalah pengemudi bagi Jendral James Jones, ShadowNet, (George Webb) dan bekerja untuk inteligen militer AS.  ShadowNet dan Psy-Group besama dengan Cambridge Analytica adalah bagian dari penyidikan yang dilakukan Mueller (Direktur FBI) yang mencari informasi tentang hubungan mereka dengan Paul Manafort (sudah dipenjara) dan Donald Trump Jr. (belum dipenjara), dalam skandal hubungan Donald Trump dengan Rusia.

Tuesday, 24 March 2020

VT: COVID 19 Dibuat Amerika Sejak 2006

*Cina juga terlibat


Indonesian Free Press -- Sebuah dokumen resmi menunjukkan bahwa virus Covid 19 diteliti oleh Amerika sejak tahun 2006 dan berhasil menjadi senjata biologi pada tahun 2015 setelah diujicoba oleh University of North Carolina, Harvard dan laboratorium milik Food and Drug Administration di Arkansas. Demikian seperti dilaporkan Veterans Today (VT) hari ini (24 Maret).

Dokumen yang dimaksud VT adalah sebuah penelitian berjudul "A SARS-like cluster of circulating bat coronaviruses shows potential for human emergence" yang dilakukan oleh University of North Carolina dan didanai oleh USAID/CIA. Salah satu hal yang menarik dalam penelitian itu adalah bahwa Cina juga terlibat dalam pengembangan senjata biologi Covid 19.

"Key Laboratory of Special Pathogens and Biosafety, Wuhan Institute of Virology, Chinese Academy of Sciences, Wuhan, China telah menyediakan virus kelelawar Wuhan yang kemudian digunakan dalam penelitian di Amerika," tulis VT

Monday, 23 March 2020

Trump Tunjuk Jendral untuk Ambil Alih Negara Jika Krisis Covid 19 Tak Terkendali

Indonesian Free Press -- Presiden AS Donald Trump dikabarkan telah menunjuk seorang jendral bintang empat untuk mengambil alih negara jika situasi tidak terkendali akibat krisis Covid 19 (Coronavirus).

Seperti dilaporkan Newsweek dan sejumlah media terkemuka Amerika kemarin (22 Maret), Jendral Terrence O’Shaughnessy (56 tahun),mantan pilot penerbang pesawat tempur, telah ditetapkan sebagai “combatant commander" untuk menjalankan 'sejumlah rencana kontingensi' dalam situasi darurat. Belum ada komentar atau keterangan resmi dari pemerintahan Donald Trump atas kabar ini.

Saat ini ia adalah komandan US Northern Command (Northcom), otoritas militer yang membawahi wilayah domestik Amerika di bawah rencana kontingensi Continuity of Government Commission (Komisi Keberlanjutan Pemerintahan). Selain itu ia juga masih menjabat sebagai komandan satuan North American Aerospace Defence Command, yang berpengalaman dalam penanganan pengungsi Mexico. Ialah yang memimpin operasi besar-besaran 'Operation Faithful Patriot' di perbatasan Mexico antara bulan Oktober-November 2018.

Bill Gates, Covid 19 dan Negara Polisi Amerika

Indonesian Free Press -- Hanya beberapa minggu sebelum munculnya wabah Coronavirus di akhir tahun lalu, boss Microsoft Bill Gates dan sejumlah eksekutif industri farmasi dan lembaga kesehatan terkemuka Amerika, sejumlah pejabat CIA dan lembaga-lembaga pemerintah yang berhubungan dengan makanan, kesehatan, dan keamanan sipil diketahui menggelar simulasi penanganan wabah coronavirus yang diperkirakan menelan korban jutaan orang. Dengan munculnya wabah coronavirus akhir tahun lalu, Bill Gates pun menjadi sorotan publik sebagai salah seorang yang diyakini mengetahui hal ikhwal wabah ini meski ia dan teman-temannya yang terlibat dalam simulasi tersebut membantah. 

Namun kecurigaan publik tidak akan hilang, termasuk otoritas Cina dan Iran yang menuntut transparansi otoritas Amerika atas munculnya wabah Coronavirus. Terakhir, mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menyurati Sekjend PBB untuk menggelar penyelidikan atas keterlibatan Amerika dan industri farmasi (Big Pharma) atas munculnya wabah tersebut.

Saturday, 21 March 2020

Ahmadinejad Desak PBB Selidiki Penanggungjawab Wabah Coronavirus

Indonesian Free Press -- "Saat ini telah jelas di mata masyarakat dunia bahwa coronavirus  2019 yang bermutasi dan cerdas adalah produk dari laboratorium, dan lebih jelas lagi, dibuat oleh pabrik-pabrik senjata biologi milik kekuatan-kekuatan dunia yang egemonik, sangat lebih anti-kemanusiaan, destruktif (suka menghancurkan) dan menakutkan daripada senjata-senjata anti-kemanusiaan lainnya seperti senjata nuklir, kimia dan Harp (senjata rekayasa cuaca)," demikian tulis mantan presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dalam suratnya kepada Sekjend PBB Antonio Guterres terkait dengan wabah coronavirus akhir-akhir ini.

Lebih jauh Ahmadinejad menulis kepada Sekjend PBB, "Anda diharapkan dengan sangat untuk mengutuk aksi anti-kemanusiaan oleh kekuatan jahat dunia yang telah melakukan perang biologi kepada negara-negara di dunia dengan tujuan untuk menguasai, serta tidak membiarkan para penjahat itu menjalankan kejahatan ekonomi dan politiknya dan kemudian menghindar dari hukuman oleh PBB."

Friday, 20 March 2020

Tidak Usah Panik Hingga Melarang Sholat Berjamaah

Indonesian Free Press -- Tingkat kematian coronavirus terlalu dibesar-besarkan. Demikian pernyataan John P.A. Ioannidis, Guru Besar Meta-Research Innovation Center Stanford University. 

Ioannidis, yang jago di bidang kedokteran, biomedical data science, statistik, epidemiologi dan kesehatan masyarakat menyebut respon terhadap wabah coronavirus sebagai “a fiasco in the making” alias kesalahan yang disengaja karena 'kita' membuat keputusan terkait wabah tersebut berdasar “utterly unreliable” alias data yang salah. data. Akibatnya adalah segala langkah dan kebijakan yang diambil berdasar data itu telah 'severely overreacting', alias kesalahan parah yang terlalu dibesar-besarkan.

“Wabah saat ini, Covid-19, disebut-sebut sebagai wabah sekali dalam satu abad. Namun bisa juga disebut dengan satu bukti kesalahan dalam satu abad," tulis Ioannidis dalam publikasi ilmiah STAT, hari Selasa (17 Maret).

Thursday, 19 March 2020

Israhell Bunuh 10.000 Warga Palestina Sejak 2000

Indonesian Free Press -- Israel telah membunuh 10.000 warga Palestina sejak tahun 2020. Mohammed Hamayel (15 tahun) menjadi korban terakhir yang ditembak sniper Israeli pada tanggal 11 Maret lalu.

Seperti dilaporkan Americans Knew tanggal yang sama, Hamayel ditembak di bagian wajahnya oleh sniper Israel dengan peluru 'mekar', yaitu peluru yang pecah ujungnya setelah menembus tubuh sasaranya dan menimbulkan luka yang hebat. Ia menjadi warga Palestina ke 10 ribu yang dibunuh Israel sejak tahun 2000. 

Insiden ini merupakan yang ketiga secara berurutan. Seperti dilaporkan media Israel Haaretz pada hari Senin (9 Maret) dan Selasa (10 Maret) dua remaja Palestina juga menjadi pembunuhan oleh aparat keamanan Israel. Kedua insiden terjadi di wilayah Issawiya, yang selama setahun terakhir menjadi ajang aksi kekerasan aparat Israel terhadap warga Palestina.

Wednesday, 18 March 2020

AS Tinggalkan 3 Pangkalan Militer di Irak

Indonesian Free Press -- Pasukan Amerika meninggalkan tiga pangkalan militernya di Irak di tengah-tengah ancaman serangan roket pejuang Irak yang semakin marak. Demikian seperti dilaporkan situs Southfront kemarin (17 Maret).

"Pasukan Amerika meninggalkan pangkalan al-Qaim di perbatasan Suriah-Iraq, dan dua pangkalan lainnya di Iraq dalam beberapa minggu mendatang. Dengan demikian Amerika bakal meninggalkan 3 dari 8 pangkalannya di negara ini," tulis laporan itu.

Keputusan penarikan tersebut dilakukan Senin (16 Maret) dengan menyebut keberhasilan menumpas ISIS sebagai alasasnnya. Namun sebenarnya hal ini disebabkan oleh serangan-serangan roket yang gencar akhir-akhir ini terhadap fasilitas-fasilitas AS di Iraq," tambah laporan itu.