Sabtu, 23 Juli 2016

Akhirnya, Saudi Hanya Menjadi Kambing Hitam

Indonesian Free Press -- Pelajaran berharga kembali diberikan kepada negara-negara sekutu Amerika, yaitu bahwa pada saatnya tiba setan akan mengorbankan pengikutnya sendiri.

Turki yang setia mengikuti skenario Amerika untuk menghancur-leburkan Suriah, baru saja mengalaminya. Kudeta militer oleh militer binaan CIA-NATO nyaris menumbangkan regim Thayyep Erdogan setelah yang bersangkutan menunjukkan niat untuk berdamai dengan Suriah. Saddam Hussein, yang pada tahun 1980 menyerang Iran atas desakan Amerika dan Saudi Arabia, telah digantung oleh tentara Amerika, dan masih banyak lagi pemimpin-pemimpin dunia sekutu Amerika yang hidupnya berakhir dengan tragis.

Kini, kisah yang sama mulai menerpa regim Saudi Arabia dengan dibukanya 28 lembar dokumen laporan penyelidikan serangan WTC tahun 2001 yang selama ini dirahasiakan karena alasan keamanan negara. Dalam laporan itu Saudi Arabia, yang dipimpin mantan kepala inteligen dan Duta Besar di Amerika, Pangeran Bandar bin Sultan, disebutkan telah mendanai para teroris pelaku serangan WTC.

Muqtada Al-Sadr Kembali Ancam Pasukan Amerika di Irak

Indonesian Free Press -- Ulama kharismatis Irak Muqtada al-Sadr mengancam akan menyerang pasukan Amerika yang terlibat dalam operasi pembebasan Mosul.

Seperti dilaporkan Veterans Today, Sabtu (23 Juli), pemimpin Gerakan Al-sadr itu mengeluarkan ancamannya melalui situs resminya, sebagai respon atas pertanyaan pengikutnya tentang pengumuman pemerintah Amerika yang akan mengirimkan tambahan pasukan ke Irak untuk berpartisipasi dalam operasi pembebasan  Mosul, kota terbesar kedua Irak yang jatuh ke tangan kelompok teroris ISIS tahun 2014.

“Mereka adalah sasaran kita,” tulis Muqtada al Sadr.

Menhan Amerika Ashton Carter sebelumnya mengatakan bahwa Presiden Barack Obama telah setuju untuk mengirimkan pasukan tambahan untuk mendukung pasukan Irak merebut Mosul.

Jumat, 22 Juli 2016

Kudeta Turki dan Faktor Fethullah Gullen


Indonesian Free Press -- Presiden Turki Tayyep Erdogan, mungkin saja telah mengetahui rencana kudeta dan ia tidak mencegahnya. Karena, ia tahu kudeta hanya dilakukan oleh satu faksi dalam militer Turki, sementara ia masih mengendalikan seluruh aparat inteligen, polisi, Tentara ke-7 yang loyal dan ditugaskan menggempur gerilyawan Kurdi, dan lebih penting lagi jutaan pendukung fanatiknya yang siap mengorbankan nyawanya demi melawan 'antek-antek zionis NATO'.

Adapun, pemberontak terdiri dari unsur-unsur utama Angkatan Udara yang basis utamanya di Pangkalan Udara NATO di Incirlik, Pasukan Pengawal Perbatasan (Gendermerie), dan unsur-unsur Tentara ke-3 yang menjadi bagian dari unit reaksi cepat NATO yang berbasis di dekat Istanbul. Namun, meski mereka cukup kuat dan mampu menduduki Istanbul dan Ankara dengan kendaraan-kendaraan lapis baja, dan pesawat-pesawat F-16 serta helikopter-helikopter Cobra mereka membom Gedung Parlemen, menyerang Istana Kepresidenan, Markas Besar Militer dan markas inteligen pendukung Erdogan, mereka tidak memiliki kepemimpinan yang kuat, sehingga gamang dalam segala tindakan. Mereka bingung, apakah harus menembak ataukan tidak ketika ribuan pendukung Erdogan yang nekad mendatangi mereka.

Pelajaran dari Turki untuk Indonesia

Indonesian Free Press -- Upaya kudeta yang gagal di Turki pekan lalu menimbulkan reaksi luas di masyarakat Indonesia. Sebagian masyarakat mendukung kudeta tersebut dan menolak kepemimpinan Presiden Tayyep Erdogan, sementara sebagian lainnya menentang kudeta dan mendukung Presiden Erdogan.

Menariknya adalah, mayoritas pendukung Presiden Erdogan adalah mereka yang dalam Pilpres 2014 lalu menolak Jokowi, sementara yang menentang Presiden Erdogan adalah mereka yang umumnya pendukung Jokowi. Meski untuk golongan yang kedua ini banyak juga orang-orang yang anti-Jokowi, mengingat banyaknya kontroversi yang melingkupi Erdogan, terutama keterlibatannya dalam rencana zionis dalam menyerang Suriah dan bersekutu dengan teroris ISIS.

Hal yang menarik lainnya terkait dengan kudeta di Turki tersebut adalah munculnya pemikiran di masyarakat tentang hal yang sama, yaitu kudeta militer, di Indonesia. Beberapa pihak mencoba mengetahui pandangan masyarakat Indonesia tentang 'pilihan' kudeta militer terhadap pemerintahan Jokowi yang dianggap telah memimpin negara ini secara 'tidak baik'.

Senin, 18 Juli 2016

Inilah Pendorong Kudeta Turki

Indonesian Free Press -- Militer Turki, setidaknya hingga saat ini dan beberapa tahun ke depan, masih menjadi 'saingan' regim Tayyep Erdogan dan gerakan Islam modern AKP. Idiologinya yang sekuler sangat bertentangan dengan AKP yang menjadi simbol kebangkitan Khilafah Islam Turki, yang menginginkan Islam kembali menjadi dasar negara Turki.

Erdogan dan para pemimpin AKP memang berkali-kali mengatakan kesetiaan pada dasar negara sekularisme Turki, namun semua orang juga tahu, itu hanyalah 'lips service' belaka untuk tidak memberi alasan militer Turki memberontak.

Sampai sebelum percobaan kudeta militer akhir pekan lalu, posisi politik Turki masih pada 'keseimbangan' antara kekuatan sekuler di satu sisi dengan AKP-Islam modern di sisi lainnya. Juga antara AKP dengan para penganut Fethullah Gullen, yang pada awalnya adalah sekutu Erdogan dalam gerakan Islam modern Turki, dan kini menjadi asset Amerika dengan menetap di negara Paman Sam. Namun ketika kekuatan dari luar turut masuk bergerak ke dalam Turki, 'keseimbangan' itupun runtuh.

Sabtu, 16 Juli 2016

Mengapa Kudeta Turki Gagal?

Indonesian Free Press -- Pada hari Jumat malam (15 Juli) Turki dilanda kudeta militer, yang oleh para pelakunya diklaim untuk menegakkan demokrasi dan tatanan sosial-politik.

Hal ini sebenarnya sudah diprediksi jauh-jauh hari, bahkan blog ini pun telah memperkirakannya, ketika Presiden Erdogan mulai memerintah dengan tangan besi, termasuk kepada militer. Sementara kegagalan politik Erdogan, terutama di Suriah dan langkahnya menindas warga Kurdi, telah membuat Turki terjerembab ke dalam krisis multi dimensi. Hal ini pasti memancing militer untuk melakukan kudeta.

Namun, meski pada awalnya kudeta berjalan sukses, dalam beberapa jam saja situasinya berbalik. Setelah Presiden Erdogan mengadakan wawancara langsung melalui media internet yang menyerukan pendukung-pendukungnya untuk melawan kudeta, ribuan pendukungnya berhasil menggagalkan kudeta.

Jumat, 15 Juli 2016

Rusia Tunjukkan Kesiapan Hadapi Perang Nuklir

Indonesian Free Press -- Rusia menunjukkan kesiapan menghadapi perang nuklir dengan menggelar simulasi peluncuran rudal-rudal ballistik yang melibatkan ratusan sistem peluncur rudal ballistik dan drone.

Seperti laporan The Daily Mail, Jumat (15 Juli), setidaknya 400 kendaraan militer terlibat dalam latihan di wilayah berhutan-hutan di Altay. Di antara kendaraan itu adalah sistem peluncuran rudal independen yang mengangkut rudal-rudal ballistik strategis Topol dan Topol-M sebagaimana rudal Yars dan drone-drone. Latihan serupa juga digelar di sejumlah lain di Rusia.

"Ratusan kendaraan militer termasuk peluncur rudal ballistik antar-benua tengah melakukan simulasi di sejumlah wilayah Rusia," tulis Daily Mail.

Sementara The Russia Today melaporkan latihan-latihan itu difokuskan pada kesiapan Rusia menghadapi serangan sabotase terhadap senjata-senjata strategisnya, terutama rudal ballistik antar-benua yang menjadi kekuatan utama nuklir Rusia.

Yahudi Kripto Kuasai India

Indonesian Free Press -- Dari blog DR Henry Makow:

Sekitar seribu tahun lalu ketika Islam berkembang pesat di Timur Tengah, sebagian besar orang-orang yahudi tersingkir dan mengungsi ke India untuk mencari rumah baru.

Di India, pada abad 19, muncul gerakan Freemason yang dipimpin Swami Vivekananda dan Dayananda Saraswati, yang bersama beberapa anggota Freemasons yahudi lainnya membentuk satu 'sekte' Hindu, atau lebih tepatnya menyamar sebagai sekte Hindu, meski sama sekali bukan Hindu demi bisa diterima masyarakat, bernama "Arya Samaj."

Dipengaruhi lagi oleh Madam Blavatsky dengan gerakan Theosophical Society-nya (gerakan ini juga sangat berpengaruh di Indonesia saat itu), "Arya Samaj" mempercayai Tuhan yang satu, berbeda dengan kepercayaan banyak dewa dalam Hindu, metransformasikan hari raya Chanukkah ke dalam Diwali, festival obor dan cahaya yang terjadi pada hari yang sama.

Rabu, 13 Juli 2016

Perang Aleppo Masih Jauh dari Akhir

Indonesian Free Press -- Penarikan sebagian kekuatan militer Rusia di Suriah karena 'tipuan' blok Amerika-Turki-Saudi dengan dalih menghormati gencatan senjata dan perundingan damai, harus dibayar mahal oleh blok Suriah-Rusia-Iran.

Pada saat Rusia mengurangi intensitas serangan, Amerika, Turki, Saudi, Qatar, Yordania hingga Inggris dan Perancis diam-diam menggelontorkan senjata-senjata canggih dan ribuan teroris untuk para pemberontak. Akibatnya, selain jatuhnya korban di pihak Rusia, pasukan Suriah, Iran, Hizbollah dan milisi-milisi Irak, Afghanistan dan Pakistan pendukung regim Suriah harus menanggung beban hebat di medan perang.

Seperti dilaporkan Robert Fisk di the Independent, Selasa (12 Juli), kerugian besar harus dialami oleh pasukan Garda Revolusi Iran dan sekutu-sekutunya dalam pertempuran di Aleppo.

Rusia Mengamuk, Bomber-Bomber Strategis Hancurkan ISIS

Indonesian Free Press -- Setidaknya enam pesawat pembom strategis Tupolev Tu-22M3 Rusia melancarkan serangan terhadap pangkalan utama dan depot-depot milik kelompok ISIS di Suriah. Serangan ini dipastikan menimbulkan kehancuran hebat di pihak teroris ISIS.

Mengutip pernyataan Kemenhan Rusia, Selasa (12 Juli), Veterans Today kemarin melaporkan bahwa pesawat-pesawat jarak jauh yang berpangkalan di Rusia selatan itu terbang melintasi Iran dan Irak untuk menembakkan bom-bom berkekuatan besar pada target-target di timur kota Palmyra dan As Sukhnah, serta Desa Arak.

Menurut laporan itu sebuah pangkalan besar dan tiga depot senjata ISIS, tiga tank, 4 kendaraan lapis baja dan 8 kendaraan taktis militer berhasil dihancurkan. Selain itu sejumlah besar personil ISIS juga tewas.

Serangan ini sepertinya sebagai balasan atas ditembak jatuhnya helikopter Rusia oleh kelompok ISIS di wilayah Palmyra yang menewaskan 2 orang pilot Rusia, beberapa hari berselang.