Sabtu, 25 Juni 2016

Jendral Soleimani, Dalang Kegagalan Proyek Zionis di Irak

Indonesian Free Press -- Ketika kelompok ISIS merebut sebagian besar wilayah utara dan barat Irak tahun 2014, para zionis sebagai patron ISIS berharap Irak bakal terpecah menjadi tiga negara, yaitu negara Sunni (Sunnistan) di barat Irak dan negara Kurdi (Kurdistan) di utara Irak.

Dengan demikian Irak selatan yang mayoritas dihuni orang Syiah dan sangat dekat hubungannya dengan Iran, bisa diisolir dari saudara-saudara mereka di Suriah dan Lebanon (Hizbollah), yang selama ini menjadi batu sandungan proyek zionisme di Timur Tengah.

Namun harapan itu tampaknya bakal sangat sulit terwujudkan karena keberadaan Jendral Soleimani, komandan pasukan khusus Pengawal Revolusi Iran (IRGC). Dengan kegigihannya, Soleimani berhasil memimpin pembebasan kota Tikrit di utara Irak, dan Ramadi serta Fallujah di barat Irak. Dengan keberhasilan-keberhasilan itu, pasukan dan milisi pejuang Irak kini mulai bisa mengkonsentrasikan pembebasan kota kedua terbesar, Mosul.

Jumat, 24 Juni 2016

Turki Dekati Suriah, Negara-Negara Teluk Dekati Iran

Indonesian Free Press -- Hubungan antara Suriah dan Turki dikabarkan mulai mencair kembali akhir-akhir ini, setelah Turki berusaha mendekati Suriah untuk menyelesaikan konflik Suriah yang juga berimbas ke Turki.

Seperti dilaporkan Veterans Today, Senin (20 Juni), perundingan rahasia telah digelar antara kedua negara. Hal ini disampaikan oleh mediator Turki Ismail Hakki Pekin kepada media Rusia, Sputnik Turkey. Laporan yang sama juga disampaikan media Aljazair Al Watan, yang menyebutkan perundingan tersebut dimediasi oleh pemerintah Aljazair.

Pekin, mantan kepala inteligen Turki, adalah ketua Partai Vatan, yang anggotanya secara rutin berkunjung ke Suriah. Ia mengatakan bahwa perubahan telah terjadi dalam hubungan kedua negara setelah kunjungan terakhirnya ke Suriah.

"Kami telah bekerja sistematis untuk menormalisasi hubungan Turki dan Suriah untuk waktu yang lama, dan berhasil membuat dasar bagi dialog antara pemimpin kedua negara,” kata Pekin.

Kamis, 23 Juni 2016

'Firm', Istana Terlibat Korupsi Sumber Waras

Indonesian Free Press -- Pengakuan Prof. Romli Atmasasmita, Guru Besar Hukum Universitas Padjajaran dan mantan tim perumus RUU KPK, dalam acara ILC TVOne awal pekan ini sangat mengejutkan publik. Mengklaim telah melakukan penyelidikan mendalam tentang kasus korupsi Sumber Waras yang menjadi perhatian publik, Prof. Romli mengatakan bahwa Presiden Jokowi adalah penandatangan penetapan harga jual RS Sumber Waras sebesar Rp 20 juta/meter.

Sebagaimana diketahui, akibat penetapan harga jual yang terlalu tinggi itu BPK menetapkan adanya kerugian negara sebesar Rp191 miliar dalam pembelian lahan RS Sumber Waras oleh Pemda DKI yang berujung pada kasus dugaan korupsi oleh Gubernur Ahok. Dengan bukti baru yang dibongkar Prof. Romli ini kini diketahui bahwa Jokowi berada di balik kasus korupsi ini, sekaligus menjawab pertanyaan publik selama ini tentang keterkaitan Jokowi dengan kasus ini. Pertanyaan publik itu muncul setelah KPK terkesan 'takut' untuk memperkarakan Ahok meski bukti kuat berupa audit investigasi yang dilakukan BPK dengan tegas menyebutkan adanya tindak korupsi oleh Ahok.

Israeli Inginkan Kemenangan ISIS di Suriah

Indonesian Free Press -- Israel semakin menegaskan keberadaannya di balik konspirasi internasional memunculkan kelompok teroris ISIS. Kepala inteligen militer Israel menyebutkan bahwa Israel tidak ingin ISIS kalah dalam perang yang melanda Suriah dan Irak.

Seperti laporan Veterans Today, Rabu (22 Juni), Kepala Inteligen Militer Israel Mayor Jendral Herzi Halevy, 'menyatakan secara terbuka bahwa Israel tidak ingin ISIS kalah dalam perang Suriah'.

Dikutip oleh situs berbahasa yahudi NRG yang adalah bagian dari media Maariv, Halevy menyampaikan pandangaannya atas situasi perang Suriah saat ini, dimana dalam beberapa bulan terakhir ISIS menghadapi situasi paling sulit.

Para pejabat Israeli telah berkali-kali menyampaikan pendapatnya yang menyukai keberhasilan ISIS menguasai Suriah, daripada pemerintahan Bashar al Assad yang bersekutu dengan Iran. Israel juga diketahui telah memberikan banyak bantuan kepada para pemberontak, terutama mereka yang terluka. Di sisi lain, kemenangan pemerintahan Bashar al Assad akan menempatkan Israel dalam posisi sulit.

Rabu, 22 Juni 2016

Jengkel dengan Amerika, Rusia Hajar Pangkalan Pemberontak Dukungan Amerika

Indonesian Free Press -- Pesawat-pesawat tempur Rusia membom pangkalan militer pemberontak 'moderat' dukungan Amerika di dekat perbatasan Yordania. Ini merupakan peringatan Rusia kepada Amerika bahwa kesabaran Rusia telah habis dengan sikap mengulur-ngulur waktu Amerika.

Seperti dilaporkan situs Moon of Alabama, 18 Juni lalu:

"Pesawat-pesawat tempur Rusia menghantam pangkalan militan dukungan Amerika minggu ini (minggu lalu, blogger), mengabaikan peringatan-peringatan Amerika yang menyebutnya sebagai aksi paling provokatif Rusia sejak dimulainya kampanye udara Rusia di Suriah. Serangan itu menghantam pangkalan di dekat perbatasan Yordania, jauh dari wilayah serangan-serangan udara Rusia selama ini, di sekitar Tanf, sebuah kota di dekat perbatasan Yordania, Irak dan Suriah," tulis laporan itu.

"Sekitar 180 militan berada di pangkalan itu sebagai bagian dari program pelatihan yang digelar Amerika untuk memerangi kelompok ISIS," tambahnya.

Ketika serangan mulai terjadi, para militan menghubungi Amerika untuk meminta perlindungan. Pesawat-pesawat Amerika tiba dari Irak dan pesawat-pesawat Rusia pergi. Namun, setelah pesawat-pesawat Amerika pergi untuk mengisi bahan bakar, pesawat-pesawat Rusia kembali datang dan menyerang pangkalan itu. Dua orang militan tewas dan 18 lainnya terluka dalam serangan itu.

Selasa, 21 Juni 2016

Raja dan Putra Mahkota Saudi Kritis, Menhan Terbang ke Amerika

Indonesian Free Press -- Deputi Putra Mahkota sekaligus Menteri Pertahanan Saudi Arabia, Pangeran Mohammad bin Salman, dikabarkan telah terbang ke Amerika untuk bertemu Presiden Obama membahas masa depan negeranya. Hal ini setelah Raja Salman dan Putra Mahkota Pangeran Nayef mengalami krisis kesehatan yang serius secara bersamaan.

Mengutip keterangan Bruce Riedel, mantan pejabat inteligenc pemerintahan Barack Obama, kepada NBC News hari Jumat (17 Juni), Veterans Today dalam laporannya hari Senin (20 Juni) menyebutkan pada saat itu Pangeran Salman tengah berada di Amerika untuk bertemu Presiden Obama dan para pejabat Amerika karena kondisi kesehatan Raja dan Putra Mahkota yang tengah kritis. Dalam pertemuan itu kedua pihak sepakat untuk menjaga hubungan strategis kedua negara.

"Kami telah melihat sejumlah tanda terkait dengan Mohammed bin Nayef. Ini adalah langkah cerdik baginya. Sebuah kesempatan untuk memperkenalkan dirinya lebih dekat (dengan para pejabat Amerika)," kata Riedel.

Senin, 20 Juni 2016

Pembunuhan Politisi Wanita Inggris adalah Pengulangan Sejarah

Indonesian Free Press -- Pada tahun 2003, hanya empat hari sebelum referendum untuk menentukan penggabungan Swedia dengan Uni Eropa, politisi wanita pro-penggabungan, Anna Lindh, tewas dibunuh di depan umum oleh 'orang gila'.

Sang pembunuh mengakui tidak sadar telah melakukan pembunuhan, dan karenanya tidak ada motif politik yang mendasari pembunuhan itu. Namun, dampaknya adalah suara pendukung penggabungan ke Uni Eropa berhasil mengalahkan suara yang menolak.

Pada tahun 2016, tanggal 16 Juni atau hanya tujuh hari sebelum Inggris menggelar referendum untuk memastikan keluar atau tidaknya Inggris dari Uni Eropa, seorang politisi wanita pendukung bergabungnya Inggris dengan Uni Eropa, Jo Cox juga tewas ditembak dan ditusuk di depan umum.

Minggu, 19 Juni 2016

Vladimir Putin Abaikan Surat dari Erdogan

Indonesian Free Press -- Presiden Rusia Vladimir Putin mengabaikan surat dari Presiden Turki Reccep Erdogan yang mengajak Rusia untuk memulihkan hubungan kedua negara. Sanksi ekonomi yang diterapkan Rusia sebagai balasan atas aksi penembakan pesawat Rusia oleh Turki telah membuat ekonomi Turki morat-marit.

"Yang terhormat Tuan Presiden (Putin). Atas nama rakyat Turki, saya mengucapkan selamat kepada seluruh bangsa Rusia pada 'Hari Rusia', dan berharap bahwa hubungan antara Turki dan Rusia akan kembali pulih seperti seharusnya," demikian bunyi surat Erdogan seperti dilansir Newsweek, minggu lalu.

Menurut laporan itu, surat tersebut mencerminkan keputus-asaan Turki atas situasi buruk yang dialami Turki di Suriah, selain kondisi ekonomi yang memburuk berat. Dalam konteks Suriah, Turki tidak bisa lagi menghentikan gerak maju milisi Kurdi Suriah, yang bersama kelompok Kurdi Turki mengancam untuk membentuk negara Kurdi yang meliputi sebagian wilayah Turki. Turki bahkan tidak bisa lagi menerbangkan pesawat tempurnya di dekat perbatasan Suriah karena tidak ingin ditembak jatuh sistem pertahanan canggih Rusia.

Kemenangan Iran Masih Jauh dari Kenyataan

Indonesian Free Press -- Sebuah bom meledak di sebuah kantor Bank Blom di Beirut minggu lalu. Tidak ada korban jiwa dalam serangan terhadap salah satu bank besar di Lebanon itu, namun para pengamat politik langsung mengait-kaitkannya dengan konflik antara perbankan Lebanon dengan kelompok Hizbollah setelah bank sentral Lebanon membekukan rekening-rekening milik Hizbollah dan menolak setiap transaksi keuangan dengan Hizbollah dan anggota maupun simpatisannya, karena tekanan Amerika.

Semua bank yang melanggar ketentuan itu akan kehilangan hak melakukan transaksi dengan mata uang dollar. Karena 65 persen deposito dalam bentuk dollar dan 70 persen transaksi keuangan di Lebanon juga menggunakan dollar, maka melanggar ketentuan itu berarti menutup bisnis perbankan Lebanon.

Otoritas keuangan Amerika telah menetapkan 99 rekening milik Hezbollah dan entitas-entitas terkaitnya, termasuk yayasan-yayasannya, sekolah-sekolah, perusahaan dan media massa. Bahkan anggota parlemen dan dua orang menteri asal Hezbollah yang meraih kedudukannya melalui pemilu yang demokratis, tidak bisa lagi memiliki rekening bank.

Sabtu, 18 Juni 2016

Bebaskan Fallujah dari ISIS, Irak Khawatirkan Saudi

Indonesian Free Press -- Militer dan milisi Irak akhirnya berhasil membebaskan kota Fallujah dari para teroris ISIS. Namun kekhawatiran merebak bahwa Saudi akan berusaha mengeluarkan para teroris dari penjara.

Seperti dilaporkan situs independen yang cukup kredibel, Veterans Today, 16 Juni lalu, Saudi Arabia diduga kuat berniat akan membebaskan para teroris ISIS dari penahanan Irak, terutama setelah kelompok teroris itu semakin terdesak di Fallujah.

Upaya pembebasan para teroris itu direncanakan dilakukan di penjara al-Hout jail yang terletak di Provinsi Dhi Qar.

"Thamir al-Sabhan, Dubes Saudi di Baghdad, tengah merancang sebuah plot untuk membantu para teroris melarikan diri dari penjara al-Hout,” tulis Veterans Today yang mengutip dari media Iran FARS News Agency, Rabu (15 Juni).