Wednesday 2 June 2010

Blunder Besar Israel


Bahkan mungkin para pemimpin Israel sendiri tidak pernah memimpikan hal ini terjadi. Terbukti setidaknya 7 orang menteri Israel menentang aksi militer Israel atas para aktifis kemanusiaan yang bermaksud membantu rakyat Gaza yang diblokade Israel. Dan inilah hasil dari aksi militer Israel atas para aktifis kemanusiaan "Freedom Flotilla": 19 atau setidaknya 16 aktifis kemanusiaan tewas oleh tindakan keji dan ilegal militer Israel, dan Israel mendapatkan blackcampaign terburuk sepanjang sejarahnya.

"Freedom Flotilla" adalah sebuah misi kemanusiaan yang terdiri dari 6 kapal berpenumpang 700 orang dari lebih dari 40 negara. Anggotanya adalah orang-orang terhormat: aktifis sosial, anggota parlemen negara-negara Eropa, seorang peraih hadiah nobel perdamaian, para diplomat serta puluhan wartawan dari berbagai negara. Namun konvoi kemanusiaan penuh perdamaian ini justru diserang secara keji oleh tentara Israel di perairan internasional. Di antara anggota Freedom Flotilla adalah peraih nobel perdamaian dari Irlandia Laureate Mairead Maguire, korban holocoust yang selamat Hedy Epstein, diplomat Amerika Amb. Edward Peck dan Col Ann Wright, korban selamat tragedi penyerangan kapal USS Liberty oleh Israel, 35 anggota parlemen dari berbagai negara Eropa, serta para aktifis kemanusiaan dari 40 negara lebih dan belum para jurnalis dari berbagai negara. Indonesia adalah salah satu negara yang mengirimkan beberapa aktifis kemanusiaan dan wartawan.

Dan seperti biasa, Israel, kaum yahudi serta media massa "penjilat pantat" berusaha melakukan kampanye media massa untuk membela Israel dan menyalahkan para aktifis kemanusiaan. Secara gencar mereka menyebarkan rekaman yang menggambarkan para aktifis kemanusiaan melakukan perlawanan terhadap tentara Israel yang menyerbu.

"Tentara Israel mendarat di kapal (Mavi Marmara) dengan maksud damai, namun mereka justru mendapatkan tindakan kekerasan dari sekelompok teroris," bunyi pernyataan Assosiated Press (AP), sebuah outlet media barat "penjilat pantat". Sementara itu media "penjilat pantat" lainnya, BBC (bloggger: saya sebenarnya pernah menaruh hormat tinggi kepada media ini. Waktu kecil saya seringkali menguping almarhum bapak saya yang setiap hari jam 20.00 malam mendengarkan BBC London siaran Indonesia. Saya sangat akrab dengan melodi musi pengantar program ini) membela aksi kekerasan Israel dengan menyebutkan aksi tersebut "bisa dimengerti karena Palestina telah menembakkan 20 roket selama sebulan terakhir dan Freedom Flotilla mungkin mengangkut senjata semacam itu".

Kedua media massa itu, juga media massa "penjilat pantat yahudi" lainnya mengabaikan fakta yang sangat-sangat gamblang, yaitu aksi militer Israel adalah sebuah tindakan yang menurut hukum internasional digolongkan sebagai aksi perompakan: menyerang kapal sipil di perairan internasional. Dan karena merupakan sebuah aksi perompakan, para aktifis memiliki hak yang tidak bisa diganggu gugat untuk mempertahankan kapalnya. Bahkan seandainya jika perlawanan tersebut menyebabkan kematian para perompak, para akfitis tidak bisa dijatuhi hukuman. Media-media massa itu sejalan dengan pemerintah Israel yang dalam keterangan persnya menyalahkan para aktifis karena melakukan aksi kekerasan terhadap tentara Israel.

Benar kata orang Polandia tentang orang-orang yahudi: memukuli orang sambil berteriak-teriak menangis. Israel melakukan aksi kekerasan terhadap para akfitis kemanusiaan, namun berteriak seolah mereka adalah korban.

Sebagaimana di luar negeri, Indonesia pun banyak dihuni oleh para "penjilat pantat yahudi". Bedanya di Indonesia mereka berteriak: buat apa membantu Palestina kalau negeri sendiri masih semrawut. Yah, mereka para penjilat pantat yahudi Indonesia itu memang telah membuat negeri ini morat-marit dan itu dijadikan alasan untuk mendeskreditkan orang-orang Indonesia yang peduli dengan saudaranya di Palestina. Saya katakan kepada mereka: go to Isra-hell you ass sucker.

Para "penjilat pantat" itu juga mengabaikan fakta yang sangat gamblang yang menjadi penggerak aksi "Freedom Flotilla". sebagaimana dilaporkan oleh Amnesti Internasional bahwa blokade yang dilakukan Israel atas Gaza mengakibatkan krisis kemanusiaan yang di luar proporsi yang bisa ditanggung manusia: 80% penduduk Gaza (lebih dari separuhnya berusia di bawah 18 tahun) membutuhkan bantuan kemanusiaan dan ratusan penduduk Gaza membutuhkan perawatan medis. Pengangguran massal, kemiskinan ekstrem, inflasi dan kekurangan makanan merupakan dampak langsung dari blokade yang dilakukan Israel

The scope of the blockade and statements made by Israeli officials about its purpose showed that it was being imposed as a form of collective punishment of Gazans — a flagrant violation of international law," lapor Amnesti Internasional.

Meski Israel, yahudi dan para "penjilat pantat" mengabaikan seruan internasional termasuk Amnesti Internasional, mereka lebih baik mendengar komentar Gilad Atzmon, seorang penulis dan seniman yahudi anti-zionisme, tentang tanda-tanda kehancuran Israel:

"Israel tidak menyadari bahwa arus telah berubah. Kami memahami mereka. Kita semua mengetahui tujuan negara Israel. Kita semua mengetahui kehancuran Gaza, kita mengetahui tentang blokade, penghancuran dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Jika Israel tidak memahami juga, ketahuilah bahwa mereka berurusan dengan rombongan internasional yang berlayar dengan kapal berbendera Turki dan Yunani (juga Irlandia, bahkan ada juga yang berbendera Amerika, blogger), rombongan yang beranggotakan 800 orang aktifis kemanusiaan dari seluruh dunia. Mereka berurusan dengan para pecinta perdamaian yang berusaha menerobos blokade demi memberikan bantuan kesehatan, semen, buku dan makanan. Di atas geladaknya terdapat 35 anggota parlemen yang berani berkata "tidak!" kepada yahudi penyandang dana. Rombongan ini adalah sebuah tanda yang sangat jelas bagi Israel bahwa "permainan telah usai". Israel kini tidak lebih dari negara yang terisolir. Yang tersisa bagi Israel kini adalah jatidiri mereka sebagai: rasis yang memalukan, negara pembunuh dan teroris. Sebaiknyalah bagi rakyat dan pemerintah Israel untuk menyadari bahwa "permainan telah sampai di babak akhir". Proyek zionisme dan negara Israel kini tengah runtuh.

Pendirian negara Israel tahun 1948 suatu hari nanti akan dilihat, sebagaimana saya mempercayainya, sebagai kecelakaan paling tragis dalam sejarah umat manusia. Kita telah melihat konsekwensinya saat ini. Kita juga telah melihatnya selama 62 tahun terakhir."

No comments: