Tuesday, 17 April 2012

PENGAKUAN PUTRI KERAJAAN SAUDI



(PEMERINTAHAN KERAJAAN KORUP)

Di tengah gembar-gembornya mengkritik pemerintah Syria sebagai "tidak demokratis", pemerintahan kerajaan Saudi dipermalukan oleh seorang seorang putri kerajaan. Putri tersebut, anak perempuan dari mantan raja, menuntut pemerintah kerajaan Saudi untuk mengimplementasikan konstitusi baru yang menjamin kesamaan hak pria dan wanita serta menuduh pemerintah telah mengabaikan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Pernyataan tersebut dikeluarkan Putri Basma dalam wawancara dengan BBC baru-baru ini.

"Saya sedih melihat pemerintah negeri tercinta saya tidak memenuhi janji-janjinya," kata Basma, putri raja Saud bin Abdul Aziz yang tinggal di London bersama anak-anaknya.

Ia menyebut 5 perubahan yang ingin dilihatnya terjadi di Saudi, yaitu konstitusi baru, undang-undang perceraian, sistem pendidikan, sistem layanan sosial serta peranan "mahram" (wanita pengasuh anak).

"Kami tidak memiliki dan karenanya sangat membutuhkan undang-undang kemasyarakatan yang mendasar untuk mengatur masyarakat kami. Saya ingin melihat konstitusi yang tepat yang memperlakukan pria dan wanita secara adil namun juga menjadi panduan kehidupan sosial dan budaya politik kami," kata Basma.

Basma mencontohkan, saat ini di pengadilan Saudi semua keputusan dibuat berdasarkan intepretasi tunggal hakim atas kitab suci Al Qur'an. "Ini tergantung sepenuhnya pada keyakinan pribadi sang hakim di atas prinsip-prinsip universal maupun konstitusi tertulis sebagai panduan. Saya tidak meminta sistem hukum barat, namun adaptasi dari sistem tersebut untuk disesuaikan dengan budaya dan kebutuhan kami," tambahnya.

Basma juga menuduh, "Saya sangat yakin bahwa hukum perceraian yang berlaku saat ini sangat tidak adil (bagi wanita)," lanjutnya.

Menurutnya ketidak adilan tersebut disebabkan oleh sistem pendidikan yang tidak tepat. "Cara wanita diperlakukan di Saudi adalah akibat dari sistem pendidikan yang tidak tepat. Isi dari silabus pendidikan sangat berbahaya. Anak-anak mendapat pelajaran bahwa posisi wanita dalam masyarakat sangat inferior. Peranannya dibatasi hanya sebagai pelayan suami dan membesarkan anak. Mereka diajarkan bahwa jika seorang wanita harus menyembah selain Tuhan, maka sesembahan tersebut adalah sang suami. Saya menganggap idiologi seperti ini sangat tidak adil.

"Menteri sosial tidak hanya melecehkan kaum wanita namun juga menjadi penyebab tingginya angka kemiskinan di negeri kami," katanya. Ia menyebut ketidak transparanan pemerintahan telah membuat lebih dari separoh penduduk kerajaan adalah warga miskin, sangat kontras dari penghasilan negara yang sangat besar dari minyak.

Basma juga menyinggung soal larangan mengendarai mobil yang masih berlaku bagi kaum wanita di Saudi. Dalam hal ini ia tidak setuju jika larangan tersebut dicabut karena "masyarakat Saudi belum siap menerimanya."

"Saya tentu saja mendukung hak wanita untuk mengemudi mobil, namun saat ini menurut saya belum tepat diterapkan. Dalam kondisi masyarat sekarang, seorang wanita yang mengemudi kendaraan bisa dihentikan paksa di tengah jalan, dilecehkan dan diperlakukan dengan kasar. Itulah sebabnya saya menolak diberikannya hak mengemudi kepada wanita hingga masyarakat cukup terdidik untuk menerimanya atau sampai kami memiliki hukum yang kuat yang bisa melindungi kami dari "kegilaan" ini. Jika seorang wanita mengalami pelecehan, mereka akan berkata, "lihat akibat wanita mengemudi kendaraan. Mereka dilecehkan dan dipukuli", lalu mereka justru mengeluarkan aturan yang lebih ketat lagi kepada para wanita," kata Basma selanjutnya.


Sumber:
almanar.com.lb; 12 April 2012

1 comment:

Djoko Saputra said...

informasi yg sangat bermanfaat bagi bangsa dan negara kita, trims