Saturday, 4 July 2015

Jendral Israel Tewas, Rencana Serangan Gabungan Israel-Turki ke Suriah Berantakan

Indonesian Free Press -- Dua serangan udara pemerintah Suriah terhadap pangkalan militer asing di negara itu, Jumat (26 Juni) menewaskan seorang jendral Israel, perwira-perwira penghubung Saudi, Qatar dan menghancurkan sepasukan Chenchya yang baru mendapat latihan di Yordania.

Serangan itu sekaligus menghancurkan rencana operasi militer 'Operation Southern Storm' yang dirancang Israel bersama Turki, Amerika dan kekuatan-kekuatan asing lain yang bertujuan menggulingkan regim Bashar al Assad untuk digantikan pemerintahan baru yang pro-Israel.

Dalam operasi itu pasukan gabungan asing akan menyerang Suriah dari selatan (Yordania), sementara pasukan Turki yang dibantu kelompok-kelompok militan teroris menyerang dari utara. Pada saat yang sama, Israel menyerang Lebanon, untuk menarik pasukan Hizbollah yang saat ini bertempur di Suriah.

Operasi ini direncanakan akan dieksekusi pada tanggal 8 Juli, namun berantakan karena serangan udara itu. Demikian laporan Nahed Al Husaini dan Gordon Duff di situs independen Veterans Today tanggal 3 Juli lalu berjudul "Israeli General, Chechnyans Killed in Syrian Air Strike".

Kedua pangkalan militer asing tersebut berada di bawah perlindungan sistem pertahanan udara Iron Dome Israel, meski berada di wilayah Provinsi Daara, Suriah selatan. Sementara markas operasi 'Southern Storm' berada di kota Al-Karak, Yordania.

Menurut keterangan inteligen Suriah, jendral Israel yang tewas itu adalah komandan operasi yang bertugas memimpin 3 serangan operasi terpisah namun terkoordinasi terhadap kota Daraa yang dalam beberapa waktu terakhir mendapat serangan mortir dan roket Grad.

Al Karak adalah kota kecil berpenghuni 20.000 di sebelah timur Laut Mati di Yordania. Kota ini mudah dicapai dengan helikopter dari Israel tanpa diketahui.
Menurut laporan itu markas operasi (Military Operation Center) di Al Karak dibangun oleh Israel dan memiliki fasilitas komunikasi dan inteligen canggih. Fasilitas ini terhubung dengan 4 pusat pelatihan yang dioperasikan CIA di Yordania serta komplek kedubes Saudi di Amman yang baru dibangun.

Dari Al Karak, jendral Israel dan pasukan Chenchya masuk ke Suriah melalui Nassib, pintu perlintasan perbatasan yang dikuasai kelompok ISIS di selatan kota Daraa.

Di bawah pengamatan aparat inteligen Suriah, Kamis malam (25 Juni) tim dari Israel itu tiba di Penjara Karaz di selatan Provinsi Daraa, yang menjadi markas militer dan depot logistik ISIS yang dipasok dari Yordania dan Israel.

Di sana jendral Israel tersebut bertemu dengan para komandan kelompok-kelompok pemberontak Suriah seperti kelompok Victory Army, Free Syrian Army, Brigades of al Muthana dan Al Ezz. Dalam pertemuan itu jendral Israel menyampaikan terima kasih atas kerjasama yang terjalin selama ini dan menjanjikan dukungan inteligen, logistik hingga medis oleh Israel kepada para pemberontak. Pertemuan diakhiri dengan makan malam bersama.

Selanjutnya rencana serangan terhadap kota Daraa pun dibuat dengan melibatkan 15.000 pasukan dari empat kelompok. Sementara sebelumnya Israel telah mengirimkan  sejumlah besar rudal anti-tank TOW dan LAAW serta rudal buatan Jerman, MILAN. Sebagian rudal tersebut baru tiba dari gudang-gudang senjata Israel setelah Israel mendapat pasokan rudal-rudal baru dari Amerika, setelah mengklaim kehabisan rudal akibat operasi militer di Gaza.

Pada kenyataannya senjata-senjata Israel yang diklaim telah digunakan di Gaza, telah dikirimkan ke Suriah dan Irak untuk membantu kelompok ISIS dan kelompok teroris lainnya.

Setelah pertemuan di Karaz, para perwira Israel itu berpindah ke sebuah villa beberapa mil dari Karaz. Setelah serangan udara Suriah, penjara Karaz dan vila ini hancur lebur.

Menurut informasi inteligen Suriah, serangan udara itu menewaskan 80 militan, 20 komandan pemberontak dan perwira Israel, termasuk jendral yang tidak disebutkan identitasnya itu.

Selain itu satu peleton penembak jitu dari Chechnya juga menjadi korban serangan udara Suriah. Peleton ini berada di kota Saida, Daara, saat diserang jet-jet Suriah. Mereka mendapatkan tugas khusus, yaitu menembak Presiden Bashar al Assad dan para pemimpin Suriah.

Dalan beberapa bulan terakhir, pasukan Suriah berhasil melakukan sejumlah operasi militer menghancurkan struktur komando pembererontak. Pada tanggal 27 April pasukan komando Suriah menyerang markas komando kelompok Al Nusra di luar kota Aleppo. Dalam serangan ini 2 perwira penghubung Qatar 6 perwira Turki tewas, juga 20-an pemimpin Al Nusra.

Serangan serupa juga berhasil dilakukan pasukan Suriah di Deir Ezzor, Suriah timur, yang menewaskan sejumlah pemimpin pemberontak.

Dua minggu lalu Washington Post melaporkan bahwa Congress AS tengah berencana mengurangi dana operasional CIA senilai $5 miliar (lebih dari Rp 65 triliun) untuk membantu pemberontakan di Suriah. Bersamaan dengan meredupnya popularitas Tayyep Erdogan di Turki, kemunduran militer Saudi di Yaman, serta serangan-serangan teroris di Sinai yang membuat regim militer Mesir marah dan berniat menghentikan dukungannya kepada Saudi dan Israel, cita-cita zionis internasional untuk menggulingkan Bashar al Assad tampaknya semakin suram.

Saya bosan untuk mengatakannya, tapi, lagi-lagi Iran lah yang akan keluar sebagai pemenangnya. Karena konflik Suriah, kini pasukan Iran bahkan sudah berada di dekat perbatasan Israel.(ca)

2 comments:

ganar calibra said...

Prediksi saya berdasarkan berapa kali konfrontasi antara Hizbulloh Vs IDF. Jika Tentara Zionis Israel (IDF) menyerang Lebanon maka kemungkinan besar tidak akan berani menerjunkan angkatan daratnya untuk konfrontasi langsung jarak dekat dengan Hizbulloh.
Mereka (IDF) lebih menggunakan opsi serangan udara atau artileri ke wilayah Lebanon.

Tentara Zionis Israel itu pengecut dan takut mati, tentara Zionis Israel lebih mengandalkan alutsista modern dari pada kemampuan personilnya. Beda dengan pejuang Hizbulloh yang militan dan tak takut mati karena di jalan yang benar mempertahankan Lebanon. Jika pejuang Hizbulloh gugur maka akan Syahid.

abu bakar said...

wikileak yemen cyber army

f93dc529-7eff-43ea-87f3-7ec121b906fc.tif