Sunday, 15 January 2017

Ulama Dikriminalisasi, Dosen Unpad Ingatkan Bahaya PKI

By Tarbiyah

Indonesian Free Press -- Para orangtua yang lahir pada era 50-an dan 60-an, pasti tahu sejarah hitam PKI. Pun orang-orang yang lahir pada era 70-an dan 80-an, mengetahui bahaya PKI dari orang tua mereka.

Namun mereka yang kini baru berusia belasan tahun atau dua puluhan tahun, kadang belum memahami bahaya PKI.

Menyadari hal itu, banyak tokoh yang merasa perlu mengingatkan generasi muda terkait sejarah dan bahaya PKI.

Dosen Universitas Padjadjaran (Unpad) Maimon Herawati, mengingatkan generasi muda terkait sejarah kelam PKI. Bagaimana sikap mereka pada ulama. Dalam waktu singkat, tulisan di akun Facebook pribadinya itu menjadi viral.

Berikut ini tulisannya yang hingga saat ini telah dibagikan ribuan orang:

Jangan Lupa Sikap PKI pada Ulama!

Saya mah mau mengingatkan saja, terutama pada generasi 2000 ke sini yang mulai teracuni. Oya, teracuni. Highlight ya kata teracuni itu.

Sebelum 1965, PKI sangat berkuasa. Bagaimana tidak, konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) diadopsi oleh orang terkuat di Indonesia saat itu, dan dijadikan landasan politik kenegaraan. Poros Jakarta-Peking (Beijing) diluncurkan pada 1964 dan jadi basis berbagai kegiatan ekonomi dan politik.

Pada saat komunis digdaya seperti itu, umat Islam mulai dipreteli satu per satu. Pesantren diserang termasuk Gontor. Ulama tonggak umat dijatuhkan. Mulai dengan membungkam ulama, memfitnah ulama, sampai kemudian memenjarakan ulama tanpa pengadilan.

Pramudya Ananta Toer menjadi tokoh penggerak penyerangan ulama dan budayawan Islam ini melalui kolom sastranya, Lentera, di koran PKI, Bintang Timoer.

Buya Hamka kemudian ditangkap Sukarno dan dipenjarakan lebih dari 2 tahun tanpa pengadilan. (Buya Hamka keluar penjara setelah Sukarno dan PKI tidak berkuasa lagi.) Tuduhannya? Ditangkap karena dianggap terlibat makar upaya pembunuhan Sukarno dan menteri agama saat itu. Itu sebelum 1965, sebelum PKI dibubarkan.

Sekarang? Ulama juga mulai dikriminalisasi. Media sosial dipantau UU ITE yang lancip ke aktivis muslim, tumpul ke sebelahnya.

Mari merenung sebentar. Andai pemberangusan PKI pada 1965 gagal, (Tidak ada Orba, langsung saja Nasakom sampai sekarang) bayangkan kehidupan macam apa yang kita jalani saat ini.

Mungkin bangsa Korea Utara salah satu pengingat seperti apa hidup di bawah tiran komunis.

Boro-boro bebas bercuit di twitter, narsis di IG, curhat di FB, mesin pencari seperti google saja bisa jadi diblokir seperti yang dilakukan pemerintah Cina.


Just so you know.(ca)

5 comments:

Kasamago said...

Allah maha mengetahui dan maha segalanya.. Orang2 yg berhati nurani bersih, bergerak di jalur kebenaran niscaya senantiasa di lindungi oleh NYA

Amin

Anonymous said...

saya amati, berapa hari belakangan ini beredar tulisan di medsos yg menyama2kan syiah dgn komunis, nasrani dan yahudi, yg semuanya dianggap sama2 kekuatan yg akan menghancurkan islam..bila tulisan ini berasal dari ahoker/jokower tentu kita semua bisa memaklumi..tapi bila tulisan ini berasal dari wahabi, saya cuma bisa mengelus dada, koq wahabi masih bisa tega2nya mengail di air keruh memanfaatkan situasi saat ini untuk menghancurkan musuh bebuyutannya yg sama2 islam: syiah..kita umat islam indonesia saat ini sedang konsentrasi melawan komunis, koq tiba2 wahabi muncul dgn memprovokasi muslim sunni untuk menghancurkan muslim syiah..sungguh sangat2 biadab kelakuan para wahabi kalau memang benar tulisan ini berasal dari wahabi!!!...sungguh wahabi yg menulis ini benar2 sebagai pemecah-belah islam..

TB S said...

Syiah bukan islam.
Silahkan research

TB S said...

Sejarah munculnya syiah silahkan research.

Momi Darisman said...

Sok tahu melebihi Allah....