Friday, 21 August 2015

Ledakan Tianjin, Cina dan Amerika Sedang Berperang?

Indonesian Fress Press -- Menyusul terjadinya ledakan hebat yang misterius di pelabuhan Tianjin, Cina minggu lalu, kini beredar rumor di dunia maya bahwa ledakan itu disebabkan oleh senjata terbaru Amerika, "Tombak Tuhan" atau "Rod of God".

Di antara situs yang memberitakan tentang hal ini adalah Natural News, yang pada hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus lalu editornya, Mike Adams, menulis artikel menarik berjudul "Explosion carried out by US space weapon in retaliation for Yuan currency devaluation".

Mengklaim mendapatkan informasi dari para aktifis anti-pemerintah Cina, Mike Adams menulis serangan itu dilakukan sebagai balasan Amerika atas langkah Cina mendevaluasi mata-uangnya terhadap dollar pada tanggal 11 Agustus lalu, sehingga mengancam mata uang dollar. Kini, pemerintah Cina berusaha kuat untuk menutup-nutupi informasi ini demi mencegah terjadinya kepanikan.

"Ledakan Tianjin terjadi karena 'balasan kinetik' oleh Pentagon sebagai balasan atas perang devaluasi Yuan, menurut sumber-sumber anti-pemerintah dari daratan Cina. Kini pemerintah menerapkan langkah-langkah yang tidak pernah terjadi sebelumnya untuk mengontrol arus informasi tentang peristiwa ini," tulis Mike Adams.

Menurut laporan itu, ledakan yang terjadi dan dampaknya sangatlah hebat, dan jumlah korban kemungkinan besar jauh lebih besar dari angka resmi terakhir sebanyak 114 orang.

"Ledakan minggu lalu mengakibatkan bola api raksasa ke angkasa, membakar bangunan-bangunan dan memecahkan jendela-jendela hingga beberapa kilometer jaraknya," tambah laporan itu mengutip laporan media Inggris Daily Mail.

Untuk mengontrol arus informasi dan manusia di seputar peristiwa ini pemerintah Cina menerapkan status darurat militer selama 18 hari di wilayah Tianjin dan sekitarnya. Pemerintah telah melarang wartawan memasuki wilayah tersebut dan menangkapi para blogger yang mengabarkan tentang penyebab ledakan yang oleh pemerintah disebut sebagai 'teori konspirasi' itu.

Media-media massa juga telah dilarang keras untuk memberitakan peristiwa ini, seperti media massa Amerika bungkam sepenuhnya atas pengakuan Dr. William Thompson, bahwa pemerintah sengaja menyembunyikan hubungan antara vaksinasi dengan autisme.

Sementara itu warga juga melaporkan helikopter-helikopter militer terbang dalam formasi di atas kota Beijing dan Tianjin segera setelah ledakan itu terjadi.

Natural News melaporkan pemerintah Amerika panik setelah Cina mengumumkan devaluasi mata uang Yuan pada tanggal 11 Agustus dan khawatir Cina akan menyusulnya dengan membentuk mata uang baru yang didukung emas dan devisanya, dan mengobral obligasi Amerika yang dimilikinya untuk menghancurkan dollar dan ekonomi Amerika.

"Senjata 'Rod of God' yang ditembakkan Amerika adalah pesan kuat dari Amerika kepada Cina. Urutan peristiwanya adalah: Cina mendevaluasi mata uangnya, kemudian Amerika menyerang dalam hitungan jam saja," tulis Adams lagi.

Pada tanggal 11 Agustus Bank Cental Cina mendevaluasi mata uang Yuan sebesar 1,9%, menciptakan kegoncangan di seluruh dunia dan menghantam ekonomi Amerika. Beberapa jam kemudian pada tanggal 12 Agustus, terjadi ledakan di Tianjin.

'Pesan' yang dikirimkan Amerika dengan senjata maut itu sama dengan pesan yang disampaikan kepada Jepang dalam Perang Dunia II untuk menyerah, yaitu bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki. Yang menarik adalah, kedua peristiwa itu (Jepang dan Cina) terjadi di bulan yang sama, Agustus. Kedua-duanya dipisahkan oleh jarak waktu selama 70 tahun, yang dalam istilah Semit (yahudi) disebut dengan nama 'deca-shemitah'.

Pada tanggal 16 Agustus, atau 4 hari setelah ledakan di Tianjin, Presiden Obama mengeluarkan peringatan lain yang tidak kalah keras dan mengindikasikan keterkaitan antara kebijakan devaluasi dengan ledakan di Tianjin:  "tentang keberadaan agen-agen pemerintah (Cina) yang beroperasi secara rahasia di Amerika. Dan ini terjadi pada saat hubungan yang bertambah tegang antara Washington dan Beijing di sejumlah isu, mulai dari pencurian jutaan data personil pemerintah yang dicurigai dilakukan oleh Cina, penindasan pemerintah Cina terhadap kebebasan sipil, hingga devaluasi mata uang," kata Obama dalam pidatonya yang dikutip media-media massa internasional.

Sekarang kita bahas sedikit mengenai senjata 'Tombak Dewa'. Ini adalah senjata yang diinspirasi oleh tumbukan meteor yang bisa menimbulkan kerusakan hebat di permukaan bumi. Tanpa bahan peledak, namun meluncur dengan kecepatan sangat tinggi, sebuah benda akan membawa energi kinetik yang menghancurkan. Demikian juga dengan senjata ini.

“Lubang yang ditimbulkan oleh ledakan di Cina membuktikan kekuatan ledakannya adalah 5 kiloton, kemungkinan adalah ledakan nuklir atau juga senjata ‘rod of God’ yang diluncurkan dari luar angkasa," tulis situs independen Amerika The Unhived Mind.

Majalah Popular Science pada tahun 2004 menuliskan tentang senjata ini: "Setelah mendapat komando dari bumi, satelit komando akan memerintahkan pasangannya untuk meluncurkan salah satu panahnya. Panah yang dikendalikan itu memasuki atmosfir dengan perlindungan material anti-panas, dengan kecepatan 36.000 kaki per-detik atau setara dengan kecepatan meteor. Dampaknya: kehancuran total targetnya, bahkan jika target itu terpendam di dalam tanah."

Keuntungan bagi pengembang senjata ini adalah bahwa senjata ini tidak diatur oleh konvensi internasional manapun. Konvensi-konvensi itu hanya mengatur senjata-senjata penghancur massal seperti nuklir, senjata kimia dan biologi. Sementara 'panah Tuhan' hanyalah sebuah 'panah' yang diluncurkan dari luar angkasa.

Ingat dengan pidato Presiden Obama tahun 2011 bahwa Amerika akan mempertimbangkan penggunaan senjata konvensional sebagai respon atas serangan siber serta bentuk-bentuk ancaman lainnya terhadap Amerika.

“Washington akan mempertimbangkan penggunaan senjata konvensional sebagai respon atas serangan siber terhadap Amerika, berdasarkan strategi baru Amerika," kata Obama.

Sementara dalam strategi baru itu disebutkan bahwa Amerika 'akan merespon tindakan-tindakan permusuhan dalam dunia maya seperti respon terhadap ancaman-ancaman lain atas negara kami'.

Di sisi lain tokoh berpengaruh 'the king maker' Henry Kissinger dalam sebuah artikelnya HenryAKissinger.com berjusul 'The Future of U.S. – Chinese Relations; Conflict Is a Choice, Not a Necessity', mengingatkan Cina untuk bertindak hati-hati dan tidak ceroboh, yang bisa mendorong terjadinya konfrontasi militer dengan Amerika. Setiap langkah Cina untuk meningkatkan pengaruhnya di dunia bisa dianggap sebagai ancaman militer oleh Amerika, demikian tulis Kissinger.

"Just as Chinese influence in surrounding countries may spur fears of dominance, so efforts to pursue traditional Amerikan national interests can be perceived as a form of military encirclement. Both sides must understand the nuances by which apparently traditional and apparently reasonable courses can evoke the deepest worries of the other. They should seek together to define the sphere in which their peaceful competition is circumscribed. If that is managed wisely, both military confrontation and domination can be avoided; if not, escalating tension is inevitable," demikian Kissinger menulis.


RESPON CINA

Bagaimana jika ledakan di Tianjin itu benar-benar serangan senjata 'Tombak Dewa' Amerika, dan Cina tentu saja akan mengetahuinya?

Menurut blogger, pemerintah Cina akan berpura-pura tidak tahu, meski mereka mengetahui bahwa pihak Amerika tahu bahwa mereka tahu. Maksudnya, mereka tidak akan mengakui secara terbuka bahwa itu adalah serangan Amerika. Namun, mereka juga tidak akan berdiam diri karena hal itu akan menunjukkan kelemahan di hadapan Amerika.

Maka Cina akan membalas, juga dengan cara diam-diam. Mungkin saja mereka akan akan kembali mendevaluasi mata uangnya untuk mengatakan kepada Amerika bahwa mereka tidak terpengaruh dengan gertakan Amerika. Mungkin mereka akan meluncurkan rudal balistiknya ke sebuah pulau kecil Amerika, atau merudal kapal perang Amerika dengan dalih terjadi kesalahan teknis.

Pada tahun 2007 Cina berhasil menguji coba rudal anti-satelit yang menghancurkan satelit yang berada di orbit rendah. Setelah delapan tahun, Cina kemungkinan besar mampu untuk menghancurkan satelit-satelit yang mengorbit di ketinggian yang jauh lebih tinggi.

Tentang hal ini, mantan Direktur Missile Defence Agency Amerika, Letjend Trey Obering mengingatkan kemungkinan Cina mampu menghancurkan 'segala aset-aset luar angkasa Amerika', termasuk tentu saja satelit pengendali senjata 'Tombak Tuhan'.

"Saya percaya bahwa Cina tengah menantang Amerika, khususnya dengan mengincar ISR (Intelligence, Surveillance and Reconnaissance) strategis kita, kemampuan kendali senjata kita, dan keunggulan-keunggulan teknologi kita dengan rudal-rudal mereka," kata Obering dalam sebuah konperensi di Hudson Institute, Washington DC, bulan ini.

Pernyataan itu menanggapi keberhasilan Cina dalam ujicoba kendaraan peluncur rudal luar angkasa WU-14 yang mampu meluncur dengan kecepatan lebih dari 10 kali kecepatan suara, serta keberhasilan pengembangan rudal balistik anti-kapal Dong Feng-21 (DF-21).

"Dengan kharakteristik mampu terbang dengan kecepatan dan kemampuan bermanuver sangat tinggi, ini (WU-14) akan menjadi tantangan sangat berat bagi sistem pertahanan kita," katanya.

Suka tidak suka, dunia memang tengah menuju ke Perang Dunia III. Dan kita hanya bisa berdoa agar hal itu tidak terjadi. Atau sebaliknya, justru menunggu dengan penasaran kapan dan bagaimana hal itu terjadi.(ca)

2 comments:

Endro Badrun said...

Ledakan besar terjadi di kompleks militer jepang, apakah ini sebuah balasan?

gogo said...

makin seru, tmbh penasaran. apalgi blm bnyk forum lokal yg mengulas ttg senjata kinetik ini.