Monday, 24 August 2015

Adil Kepada Syiah

Indonesian Free Press -- Pesan dari Al Qur'an: "Janganlah kebencianmu pada suatu kaum mencegahmu untuk berbuat adil".

Dalam sejarah modern, kaum Shiah yang minoritas selalu menjadi korban penindasan. Jangankan di negara-negara yang kaum Shiah-nya minoritas. Di negara-negara yang kaum Shiah-nya mayoritas pun orang-orang Shiah masih tertindas. Di Irak, misalnya, orang-orang Shiah masih tidak bisa aman merayakan hari-hari besar agamanya karena ancaman serangan bom oleh kelompok-kelompok militan takfiri yang tidak pernah berhenti sampai sekarang. Di Pakistan pun, dimana terdapat sekitar 30 jutaan penganut Shiah, mereka turus-menerus menjadi korban aksi-aksi kekerasan kelompok-kelompok takfiri.

Bahkan di Bahrain dan Azerbeijan yang mayoritas warga negaranya penganut Syiah, mereka masih hidup terpinggirkan.

Sebelum terbentuknya Hizbollah, warga Shiah di Lebanon yang jumlahnya lebih besar (atau minimal sama besar) dibandingkan penganut Sunni, bahkan menjadi warga kelas tiga di negaranya sendiri. Setelah warga Lebanon lainnya, orang-orang Syiah Lebanon masih harus mengalah pada para pengungsi Palestina. Di jalan-jalan Lebanon Selatan yang mayoritas warganya adalah Syiah, orang-orang Palestina mendirikan pos-pos penjagaan dan orang-orang Syiah yang adalah penduduk asli Lebanon sendiri, harus meminta ijin orang-orang Palestina itu jika ingin lewat.

Kalau kita pergi ke Sadr City di Baghdad, masih sangat jelas tampak diskriminasi kepada para penganut Shiah selama masa pemerintahan Saddam Hussein, yang belum bisa dipulihkan meski kini pemerintah Irak telah didominasi oleh orang-orang Syiah yang mayoritas. Di bagian lain kota Baghdad yang gemerlap oleh kemewahan, Sadr City yang mayoritasnya warganya adalah Syiah, justru diwarnai dengan kekumuhan.

Keadaan baru berubah setelah munculnya Revolusi Islam Iran tahun 1979 yang mengantarkan Iran menjadi negara Islam yang bebas dari pengaruh Amerika dan Israel. Dengan dukungannya, Hizbollah berhasil mengembalikan harga diri orang-orang Shiah di Lebanon. Tidak hanya itu, mereka bahkan berhasil mengusir orang-orang Israel dengan senjata pada tahun 2000, hal yang bahkan tidak bisa dilakukan oleh semua negara Arab.

Munculnya Iran juga menginspirasi orang-orang Shiah di negara-negara Arab untuk bangkit membela hak-haknya, termasuk menginspirasi orang-orang Syiah Zaidiyah Yaman untuk memperjuangkan hak-haknya dari penguasa-penguasa zolim.

Hizbollah menjadi contoh teladan orang-orang yang mengedepankan persatuan dibandingkan kekuasaan. Meski telah berubah menjadi organisasi yang paling kuat secara militer dan berpengaruh di Lebanon, namun Hizbollah tidak pernah memaksakan kekuasaan. Mereka tetap menghormati konstitusi negara yang memberikan jatuh 'minimum' kepada orang-orang Syiah dalam pemerintahan. Jika orang-orang Kristen mendapat jatah jabatan Presiden dan panglima militer dan orang-orang Sunni mendapatkan jatah jabatan Perdana Menteri, Hizbollah harus puas jika orang-orang Shiah hanya mendapatkan jabatan 'seremonial' sebagai Ketua Parlemen yang saat ini dijabat orang Shiah dari kelompok Amal yang bukan Hizbollah.

Saat ini, dalam pemerintahan 'persatuan' yang didukungnya, Hizbollah hanya mendapatkan jatah satu menteri, jauh lebih kecil dibandingkan jatah kelompok lain.

Pada tahun 2008, setelah berlangsungnya pertikaian politik yang berlarut-larut antara blok 'Perlawanan' yang dipimpin oleh Hizbollah melawan blok 'pemerintah' yang dipimpin Perdana Menteri Fuad Siniora dan ditulangpunggungi oleh Partai Al Mustaqbal (Sunni), terjadilah bentrokan bersenjata antara Hizbollah dan sekutu-sekutunya (Amal, partai Sosialis) melawan kelompok-kelompok bersenjata pendukung Fuad Siniora dan Al Mustaqbal.

Bentrokan ini dipicu oleh kengototan pemerintahan Siniora untuk menyita perangkat telekomunikasi milik Hizbollah yang dianggap ilegal. Padahal perlengkapan itu sangat vital bagi Hizbollah dan terbukti ampuh membantu Hizbollah mengalahkan Israel dalama perang tahun 2000 dan 2006. Sebelumnya Siniora bahkan telah memecat kepala keamanana Bandara Beirut yang orang Hizbollah dan selama itu telah berhasil mencegah penyusupan agen-agen inteligen Israel.

Ketika aparat keamanan Lebanon yang loyal kepada Siniora hendak menyita perangkat komunikasinya, Hizbollah mengingatkan bahwa langkah itu dianggap sebagai pernyataan perang kepada Hizbollah, dan akan ditanggapi keras oleh Hizbollah. Namun Siniora berkukuh dengan pilihannya.

Saat ini Siniora berani melakukan langkah berbahaya, meski Hizbollah telah membuktikan keunggulannya mengalahkan Israel. Tidak lain karena Siniora telah diprovokasi oleh kekuatan-kekuatan asing (Amerika dan Saudi). Selain janji dukungan politik, dan militer jika terjadi perang, Amerika dan Saudi telah menggelontorkan senjata dan uang kepada Siniora. Saudi bahkan mengirimkan ratusan 'mujahidin' untuk membantu Siniora menghadapi Hizbollah.

Maka terjadilah apa yang telah diinginkan Amerika dan Saudi dan juga Israel. Terjadilan bentrokan bersenjata di Lebanon antara Siniora dan pendukungnya dengan Hizbollah dan pendukungnya. Tentara yang dipimpin oleh Jendral Micheal Suleiman yang Kristen, mengambil langkah netral.

Hizbollah kembali membuktikan profesionalismenya. Dalam waktu singkat berhasil menguasai Beirut dan menduduki wilayah-wilayah pendukung Siniora. Siniora sendiri terkepung di istananya di Beirut.

Saat itu pemimpin Hizbollah Hussein Nasrallah mengatakan: "Kami tidak menginginkan kekuasaan. Kalau kami mau, besok pagi Siniora akan bangun di dalam penjara!"

Nasrallah membuktikan janjinya, ia tidak menangkap Siniora dan mengambil alih kekuasaan. Ia justru menyetujui dilakukannya perundingan politik yang disponsori Qatar dan Saudi untuk menyelesaikan pertikaian politik Lebanon. Namun demikian, keperkasaan Hizbollah berhasil memaksa Siniora untuk membatalkan niatnya menyita asset-asset strategis Hizbollah.

Lalu darimana asalnya tuduhan bahwa Hizbollah dan orang-orang Syiah berniat untuk menguasai Lebanon dan negara-negara Islam lainnya? Tidak lain hal itu berasal dari kedengkian atas kebangkitan orang-orang Shiah dari keterpurukan serta ketidak-fahaman tentang Syiah.(ca)

4 comments:

Agung Imam Ariyanto said...

Alhamdullilah ternyata masih ada orang yg berfikiran positif dan di beri hidayah seperti bang Adi ... Sehingga bisa meluruskan sebagian besar pendapat orang yg salah tentang syiah...Semoga Allah membalas kebaikanmu bang Adi....Amien

Muhammad Ajib said...

saya nantikan tulisan seperti ini lagi

Tutankhanum the great said...

Alhamdulillah. Kaum syiah ternyata lebih islami

abu bakar said...

keadilan lebih dekat kepada kebenaran

https://dinasulaeman.wordpress.com/2015/10/13/apakah-syiah-takfiri-2/#more-2421