Wednesday, 26 August 2015

Cina Kirim Ancaman untuk Amerika Melalui Korea Utara

Indonesian Free Press -- Blog ini telah mengingatkan kemungkinan konfrontasi langsung antara Amerika dengan Cina menyusul serangan senjata 'Rod of God' Amerika di Tiangjin, Cina. Semua kemungkinan langkah yang akan diambil Cina paska peristiwa itu adalah untuk ber-'unjuk gigi' kepada Amerika, mengisyaratkan bahwa Cina tidak gentar dengan Amerika.

Dan hal itu telah dilakukan Cina, dengan mengirim pasukan ke perbatasan Korea Utara (Korut) pada saat negara itu terlibat ketegangan dengan Korea Selatan (Korsel) dan Amerika.

Sejumlah media massa internasional baru-baru ini mengabarkan tentang pergerakan militer Cina ke perbatasan Korut. NKnews.org, sebuah situs milik lembaga kajian International Institute of Korean Study (IIKS), misalnya, tanggal 24 Agustus lalu menulis artikel berjudul 'Significant military movements spotted near China-N. Korea border'.
  
"Pergerakan-pergerakan satuan mekanik setingkat brigade diketahui terjadi di kota Yanji, Cina, di wilayah otonomi Yanbian yang berbatasan dengan Korea Utara. Berdasar foto-foto yang beredar di blog-blog Cina, satuan-satuan mekanik Tentara Pembebasan Rakyat (Cina) terdiri dari tank-tank penghancur PTZ-89 (Type 89), sebuah PGZ-95 meriam anti-udara otomatis (Type 95 SPAAA) dan meriam-meriam otomatis (self-propelled guns) kaliber 155 mm," demikian tulis laporan itu.

Pergerakan militer Cina itu tidak berselang lama setelah pemimpin Korut Kim Jong-un, pada hari Jumat (21/8) memerintahkan militer Korut untuk bersiaga perang. Pengumuman Kim langsung direspon Presiden Korsel Park Geun-hye dengan memerintahkan militer Korsel untuk bersiaga. Komando pasukan Amerika di Korsel juga meningkatkan status kesiagaan perang.

Sejumlah pengamat, termasuk dari IIKS menyebut langkah Cina ini dimaksudkan untuk menggertak Korut untuk menurunkan ketegangan dengan Korsel. Analisa ini didukung oleh fakta bahwa tidak lama setelah kabar penggelaran pasukan Cina itu muncul ke publik, pada hari Sabtu (22/8) delegasi Korut dan Korsel bertemu untuk berunding dan dua hari kemudian dihasilkan kesepakatan damai antara keduanya.

Namun, situs The Diplomat menyebutkan hal yang berbeda. Menurut situs kajian Asia Pasifik ini, Cina hanya mengantisipasi perkembangan yang terjadi dimana kedua Korea telah bersiap untuk perang, dengan bersiap-siap memberikan bantuan kepada Korut.

"Cina hanya merespon kondisi yang berkembang, meningkatkan kesiapan pasukannya di perbatasan dengan memberikan tambahan kekuatan," tulis The Diplomat, Rabu (26/8).

Cina adalah sekutu paling dipercaya oleh Korut, terutama pada saat Cina menghadapi tekanan politik dari Amerika dan sekutu-sekutunya di kawasan Asia Timur. Dalam perang Korea tahun 1950-an, Cina menjadi pelindung utama Korut dari pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika yang sempat menginvasi negara itu hingga 2 kali. Hingga saat ini pun Korut menyadari dengan pasti bahwa tanpa dukungan Cina, Korut tidak akan berdaya menghadapi kekuatan Amerika dan sekutu-sekutunya Korsel dan Jepang.

Lalu, untuk apa cina mengirimkan pasukan ke perbatasan Korut kalau bukan untuk menunjukkan kepada Amerika bahwa Cina siap untuk kembali berperang melawan Amerika di Semenanjung Korea, sebagaimana dalam Perang Korea.

Sebagai negara sahabat dan 'pelindung', bila Cina ingin Korut untuk mengurangi ketegangan dengan Korsel, Presiden atau Perdana Menteri Cina cukup menelepon pemimpin tertinggi Korut. Pengiriman pasukan ke perbatasan sebagi pesan politik, hanya dilakukan oleh negara-negara yang bermusuhan, seperti Cina dengan India, atau India dengan Pakistan. Namun tidak dengan Cina dengan Korut, karena hal itu justru mengisyaratkan kesiapan Cina untuk mendukung Korut.

Dalam konteks 'perang bisu' antara Cina dengan Amerika, paska serangan senjata 'rod of god' di Tiangjin, langkah Cina itu sangat logis.(ca)

1 comment:

Agung Imam Ariyanto said...

Sekali-kali memang Amerika harus mengahadapi lawan yg sebanding ....biar watak jahat dan iblisnya sadar bahwa tidak semua negara bisa tunduk oleh kesombo gannya....bravo bang Adi.Ditunggu ya artikel perang Yaman nya.