Saturday, 28 August 2010

BAKAL PRESIDEN BRAZIL



Keterangan gambar: Dilma, Lula, dan catatan kriminal Dilma


"My friend, they have found the formula. Give the people a cell phone, cable TV, the "feeling" they are participating in the economy and they won't even think about liberty. Billions of pawns, the so-called middle-class of China, the "climbing" poor of Brazil, have no idea what the Bill of Rights, the Carta Magna was. Their sheer number, like a barbaric horde, will crush the poor Americans, the last people in the world who have some remaining tradition of freedom and individual rights. Those Third World nouveau-riche folks will burn the constitution for a new TV, bought in 12 installments with a credit card."



Tidak berlebihan ketika sastrawan besar Jawa, Ronggowarsito, meramalkan bakal terjadinya jaman edan dimana sebagian besar orang menjadi gila dan hanya orang-orang gila yang menjadi penguasa. "Ora edan orang kedhuman", yang tidak ikut gila tidak dapat bagian. Tidak berlebihan juga dengan nubuwat para nabi tentang masa-masa terakhir menjelang berakhirnya dunia. Dunia dikuasai oleh angkara murka, kejahatan merajalela dan kebenaran tersingkirkan.

Kini, setelah orang-orang "sakit": homoseks, atheis, pezinah, pembunuh, pengkhianat negara, menjadi penguasa beberapa negara besar, atau segera menjadi penguasa negara seperti Australia yang segera akan dipimpin oleh seorang lesbian atheis, Brazil, salah satu negara terbesar di dunia, sepertinya bakal dipimpin oleh seorang kriminal komunis.

Adalah Dilma Roussef, seorang kader komunis (ayahnya seorang tokoh komunis Bulgaria yang melarikan diri setelah keruntuhan komunis) dan terkait dengan beberapa aksi kriminal seperti perampokan bank dan pembunuhan, yang kini menjadi kandidat terkuat presiden Brazil menggantikan Presiden Lula. Mewakili partai incumbent berbau komunis, Worker's Party, yang dipimpin Presiden Lula, Dilma menempati urutan tertinggi dalam berbagai pooling yang diadakan menjelang pemilihan presiden tgl 3 Oktober mendatang. Pada polling yang diadakan Datafolha Kamis (26/8), ia memperoleh dukungan sebanyak 49%, atau 20% angka lebih tinggi dari saingan terdekatnya. Lima hari sebelumnya pooling yang sama menunjukkan angkanya "baru" 47%.

Dan inilah catatan "perjalanan politik" Dilma berdasarkan catatan kepolisian Brazil:

1967 - menjadi anggota Gerakan Politik Pekerja yang beraliran komunis.
06/10/68 - merampok Banespa Bank dengan "hasil" rampokan senilai $80,000.
12/10/68 - merencanakan pembunuhan Kapten Charles Chandler (WN Amerika). Kemudian Charles dieksekusi di depan rumahnya, di depan anak dan istrinya.
11/12/68 - merampok toko senjata "Diana" di Seminario Street dengan "hasil" 48 pistol.
04/69 - menjadi anggota kelompok teroris National Liberation Command.
24/01/69 - merampok toko senjata Quitauna Arms Depository dengan "hasil" 63 senjata laras panjang, 3 pistol, dan 4 amunisi.
18/07/69 - merampok rumah kediaman gubernur Ademar de Barros dengan "hasil" sejumlah besar uang kas dan perhiasan.
01/08/68 - merampok Mercantil of Sao Paulo Bank.
??/09/69 - bergabung dengan VAR Palmares Congress, organisasi teroris lainnya di Teresopolis.
20/09/69 - menyerang pos polisi di Barro Branco.

Meskipun belum ada konfirmasi, melihat petualangan-petualangannya itu hampir dipastikan Dilma Roussef memiliki darah yahudi di tubuhnya. Bukannya sara, tapi memang demikian faktanya, sebagian besar aktifis terorisme dan komunisme serta organisasi-organisasi radikal lainnya adalah yahudi. Bahkan semua pemimpin organisasi-organisasi semacam itu di seluruh dunia adalah yahudi. Seperti kata Incogman (pemilik blog Incogman yang terkenal itu, jika tidak makan-makan, aktifitas favorit orang-orang yahudi selain berdagang adalah melakukan demonstrasi dan membuat makar).

Adalah menyedihkan bahwa "demokrasi" yang menjadi nilai-nilai luhur manusia modern ini hanya melahirkan pemimpin-pemimpin yang tidak kualifaid. Seorang dengan jiwa lemah hingga penjahat pun, asal didukung modal kuat dan tim kampanye hebat, bisa tampil sebagai pahlawan dan dipilih sebagai pemimpin. Sebagian besar rakyat Amerika, termasuk orang-orang idiot di Indonesia dan dunia lainnya begitu terpesona oleh Obama meski tidak satu prestasi kecil pun tercatat pernah dilakukan Obama. Demikian pula rakyat Brazil. Mereka tidak peduli meski calon pemimpinnya adalah seorang kriminal sebagaimana mereka tidak peduli bahwa presiden mereka saat ini telah membuat kondisi negera mereka porak poranda. (Bagaimana dengan Indonesia?)

Badan Statistik Brazil mencatat bahwa angka buta hurup justru mengalami kenaikan pesat di bawah kepemimpinan Presiden Lula dari partai Worker's Party. 50.000 rakyat Brazil tewas akibat aksi kekerasan akibat perdagangan obat bius dan senjata gelap yang diselundupkan oleh kelompok teroris asing teman-teman sang presiden (gerilyawan bersenjata FARC dari Columbia). Tapi siapa rakyat Brazil yang peduli dengan semua kondisi itu selama mereka masih bisa memiliki handphone dan TV? Siapa rakyat Brazil yang peduli dengan fakta bahwa presiden mereka, seorang mantan buruh pabrik yang selalu berkoar-koar tentang "demi kepentingan buruh dan tani" dan tidak pernah menjadi seorang pengusaha itu kini telah menjadi salah satu manusia terkaya di Brazil? Lagipula bukankah piala dunia mendatang bakal dilaksanakan di Brazil.

Baru-baru ini bank sentral Brazil, Federal Development Bank, menyalurkan dana besar-besaran senilai $100 miliar kepada perbankan swasta Brazil untuk membiayai belanja pemerintah dalam penyelenggaraan pemilu. Bank-bank swasta itu hanya membayar bunga sebesar 3,5% hingga 7% kepada bank sentral. Namun sebaliknya mereka mendapatkan bunga 10% hingga 12% dari pemerintah. Dengan teramat mudah mereka menjadi bank-bank paling beruntung di seluruh benua Amerika.

"Kebaikan" Lula lainnya adalah membagi-bagikan ijin pendirian televisi swasta kepada para kapitalis dan politisi teman-temannya. Ketika badan audit nasional bermaksud mengaudit kekayaan para politisi pengusaha itu karena kecurigaan adanya korupsi, Presiden Lula melarangnya. Lula juga "mengijinkan" (melalui undang-undang) perusahaan pengelola dana pensiun milik negara untuk bermain di pasar uang dan pasar modal dengan resiko dana besar milik masyarakat itu terbenam tak terbayar. Namun bukannya diberikan kepada teman-temannya sesama buruh dan tani, kebaikan-kebaikan itu diberikan Lula kepada teman-teman barunya yang lebih menyenangkannya, para kapitalis.

"Ini adalah ekonomi fasis, jelas dan tegas. Mussolini (tokoh fasis Italia) akan bangga karenanya," tulis DR. Hanry Makow pada blognya yang terkenal perihal kondisi di Brazil saat ini.

Memang, Ronggowarsito benar dengan ramalannya. Namun ia juga benar dengan saran-sarannya dalam menghadapi jaman edan. Agar selamat pada jaman edan, orang harus "eling lan waspodo", ingat dengan yang kuasa dan waspada dengan situasi dan kondisi di sekelilingnya. Karena hanya orang yang demikianlah orang yang selamat, meski mungkin tersingkir dari kekuasaan dan gemerlap dunia.

1 comment:

Toha said...

blogya menarik.
banyak berita bagus di sini,