Indonesian Free Press -- Perkembangan konflik Suriah telah memunculkan kembali kekhawatiran terjadinya konflik bersenjata antara dua kekuatan militer terkuat di dunia, Amerika dan Rusia.
Sebagaimana diketahui, keterlibatan militer Rusia dalam konflik Suriah telah menghancurkan skenario Amerika dan sekutu-sekutunya untuk menumbangkan regim Bashar al Assad dengan regim baru yang lebih pro-Amerika dan Israel. Dengan pengorbanan besar yang telah dikeluarkan selama empat tahun lebih untuk menjalankan skenario itu ditambah 'harga diri' Amerika yang dilecehkan Rusia di muka umum, sangat masuk akal kalau Amerika kemudian turut menerjunkan pasukannya di Suriah. Awalnya dengan dalih demi memerangi kelompok teroris ISIS dan melindungi pemberontak 'moderat' Suriah, namun kemudian memerangi pasukan Bashar al Assad dan menyabotase asset-asset militer Rusia di Suriah.
Bila ini yang terjadi, maka medan perang antara Amerika dan Rusia pun telah tercipta.
Para pengamat mencoba untuk memahami alasan Presiden Vladimir Putin menempuh resiko yang sangat besar ini, mengingat secara kuantitas dan dalam taraf tertentu secara kualitas, militer Rusia kalah bersaing dengan militer Amerika. Sebagai perbandingan sederhana Amerika memiliki 12 kapal induk, sementara Rusia hanya 1. Amerika juga unggul jauh dalam jumlah pesawat tempur dan kapal perang.
Saturday, 10 October 2015
Wednesday, 7 October 2015
Kapal-kapal Perang Rusia di Laut Kaspia Tembakkan Rudal Jelajah ke Suriah
Indonesian Free Press -- Perkembangan mengejutkan kembali terjadi dalam konflik Suriah setelah Rusia mengumumkan telah melakukan serangan rudal jelajah (cruise missile) dari kapal-kapal perang Rusia yang ditempatkan di Laut (danau) Kaspia.
Selama ini para pengamat memperkirakan, jika pun Rusia benar-benar melancarkan serangan rudal jelajah, hal itu dilakukan dari kapal-kapal Rusia yang berada di lepas pantai Suriah yang berjarak lebih dekat dengan medan pertempuran. Sementara rudal jelajah yang ditembakkan dari Laut Kaspia harus menempuh jarak hingga 1.500 km melintasi Iran dan Irak sebelum menembus wilayah Suriah.
Hal ini sekaligus membuktikan bahwa Rusia telah siap untuk menggunakan segala kekuatan yang dimilikinya untuk menyelesaikan konflik Suriah, termasuk menggunakan asset-asset militernya yang berada di wilayah sendiri yang berjarak ribuan kilometer dari medan pertempuran.
Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu dalam pernyataan yang disampaikannya kepada pers usai bertemu Presiden Vladimir Putin, Kamis (7 Oktober) menyatakan empat kapal perang Rusia di Laut Kaspia telah menembakkan 26 rudal jelajah ke posisi-posisi kelompok pemberontak Suriah.
“Selain menggunakan jet tempur untuk memusnahkan para teroris, pagi hari ini (Rabu (7 Oktober) kapal-kapal perang kita juga menggempur 11 posisi teroris dan semua target itu hancur. Ini menunjukkan bahwa rudal-rudal jarak jauh kita juga sepenuhnya efektif,” ungkap Shoigu.
Selama ini para pengamat memperkirakan, jika pun Rusia benar-benar melancarkan serangan rudal jelajah, hal itu dilakukan dari kapal-kapal Rusia yang berada di lepas pantai Suriah yang berjarak lebih dekat dengan medan pertempuran. Sementara rudal jelajah yang ditembakkan dari Laut Kaspia harus menempuh jarak hingga 1.500 km melintasi Iran dan Irak sebelum menembus wilayah Suriah.
Hal ini sekaligus membuktikan bahwa Rusia telah siap untuk menggunakan segala kekuatan yang dimilikinya untuk menyelesaikan konflik Suriah, termasuk menggunakan asset-asset militernya yang berada di wilayah sendiri yang berjarak ribuan kilometer dari medan pertempuran.
Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu dalam pernyataan yang disampaikannya kepada pers usai bertemu Presiden Vladimir Putin, Kamis (7 Oktober) menyatakan empat kapal perang Rusia di Laut Kaspia telah menembakkan 26 rudal jelajah ke posisi-posisi kelompok pemberontak Suriah.
“Selain menggunakan jet tempur untuk memusnahkan para teroris, pagi hari ini (Rabu (7 Oktober) kapal-kapal perang kita juga menggempur 11 posisi teroris dan semua target itu hancur. Ini menunjukkan bahwa rudal-rudal jarak jauh kita juga sepenuhnya efektif,” ungkap Shoigu.
Perang Laut Iran - Amerika 1988 (Operation Praying Mantis) (2)
Indonesian Free Press -- Iran merespon dengan mengirim speedboat-speedboat 'Boghammar' untuk menyerang sejumlah sasaran di Teluk Parsi, termasuk kapal berbendera Amerika 'Willy Tide', kapal berbendera Panamana 'Scan Bay' dan kapal tanker Inggris 'York Marine'. Semuanya mengalami kerusakan akibat serangan itu dengan berbagai tingkat kerusakan.
Setelah serangan itu Amerika meluncurkan pesawat-pesawat A-6E Intruder dari kapal induk USS Enterprise 65. Dengan panduan dari sebuah kapal frigat Amerika, pesawat-pesawat anti-kapal tersebut menenggelamkan sebuah speedboat dengan bom cluster dan merusak beberapa speedboat lainnya yang melarikan diri ke Pulau Abu Musa.
Pertempuran semakin memanas setelah Iran mengirim kapal perang Joshan, yang dengan berani menantang kapal jelajah USS Wainwright dan group yang dipimpinnya. Mengabaikan peringatan untuk berhenti, Joshan justru menembakkan sebuah rudal Harpoon yang meleset dari sasaran. USS Simpson membalas tembakan Joshan dengan menembakkan 4 rudal Standard, sementara USS Wainwright menembakkan sebuah rudal Standard. Rudal-rudal itu menghantam Joshan dengan telak, namun gagal menenggelamkannya. Kapak itu baru tenggelam setelah USS Bagley, USS Simpson, USS Wainwright menembakkan meriamnya bertubi-tubi ke kapal Iran tersebut.
Saat pertempuran laut itu berlangsung 2 buah pesawat F-4 Phantom Iran terbang mendekat. USS Wainwright menembakkan dua rudal ER Standard yang salah satunya merusak sebuah pesawat F-4 Iran, memaksa mereka mundur dengan sebuah F-4 yang rudak mendarat di Bandar Abbas.
Selanjutnya pertempuran makin keras setelah Iran mengirim kapal frigat Sahand dari Bandar Abbas menantang kapal-kapal Amerika. Kapal frigat itu terdeteksi oleh dua pesawat Lizard A-6E yang mengawal kapal USS Joseph Strauss. Sahand menembakkan rudal-rudal anti-pesawat ke arah pesawat-pesawat A-6E itu dan dibalas dengan 2 rudal harpoon dan rudal Skipper. Sementara USS Joseph Strauss juga menembakkan rudal Harpoon. Tembakan-tembakan itu merusak dan membakar hebat Sahand, dan setelah kebakaran mencapai ruang penyimpanan amunisi terjadi ledakan hebat yang menenggelamkan Sahand.
Setelah serangan itu Amerika meluncurkan pesawat-pesawat A-6E Intruder dari kapal induk USS Enterprise 65. Dengan panduan dari sebuah kapal frigat Amerika, pesawat-pesawat anti-kapal tersebut menenggelamkan sebuah speedboat dengan bom cluster dan merusak beberapa speedboat lainnya yang melarikan diri ke Pulau Abu Musa.
Pertempuran semakin memanas setelah Iran mengirim kapal perang Joshan, yang dengan berani menantang kapal jelajah USS Wainwright dan group yang dipimpinnya. Mengabaikan peringatan untuk berhenti, Joshan justru menembakkan sebuah rudal Harpoon yang meleset dari sasaran. USS Simpson membalas tembakan Joshan dengan menembakkan 4 rudal Standard, sementara USS Wainwright menembakkan sebuah rudal Standard. Rudal-rudal itu menghantam Joshan dengan telak, namun gagal menenggelamkannya. Kapak itu baru tenggelam setelah USS Bagley, USS Simpson, USS Wainwright menembakkan meriamnya bertubi-tubi ke kapal Iran tersebut.
Saat pertempuran laut itu berlangsung 2 buah pesawat F-4 Phantom Iran terbang mendekat. USS Wainwright menembakkan dua rudal ER Standard yang salah satunya merusak sebuah pesawat F-4 Iran, memaksa mereka mundur dengan sebuah F-4 yang rudak mendarat di Bandar Abbas.
Selanjutnya pertempuran makin keras setelah Iran mengirim kapal frigat Sahand dari Bandar Abbas menantang kapal-kapal Amerika. Kapal frigat itu terdeteksi oleh dua pesawat Lizard A-6E yang mengawal kapal USS Joseph Strauss. Sahand menembakkan rudal-rudal anti-pesawat ke arah pesawat-pesawat A-6E itu dan dibalas dengan 2 rudal harpoon dan rudal Skipper. Sementara USS Joseph Strauss juga menembakkan rudal Harpoon. Tembakan-tembakan itu merusak dan membakar hebat Sahand, dan setelah kebakaran mencapai ruang penyimpanan amunisi terjadi ledakan hebat yang menenggelamkan Sahand.
Tuesday, 6 October 2015
Perang Laut Iran - Amerika Tahun 1988 (Operation Praying Mantis)
Indonesian Free Press -- Tulisan ini adalah untuk mereka yang masih terus dilanda ilusi bahwa Iran hanya berpura-pura bermusuhan dengan Amerika dan Israel.
Perang Laut Iran - Amerika atau disebut sebagai Operation Praying Mantis tahun 1988 merupakan perang laut terbesar Amerika setelah Perang Dunia II yang melibatkan Armada ke-7 Amerika yang dipimpin oleh kapal induk bertenaga nuklir USS Enterprise dan didukung oleh 2 kapal jelajah, 4 destroyer, 3 frigat, kapal-kapal meriam, pasukan komando angkatan laut, sejumlah pesawat tempur, helikopter dan kapal-kapal pendukung lainnya.
Perang ini berlangsung singkat pada tanggal 18 April 1988, namun memiliki arti sangat mendalam, terutama bagi Iran. Setelah menyadari bahwa mereka belum siap untuk menghadapi kekuatan laut Amerika, Iran pun akhirnya menerima tawaran gencatan senjata Perang Iran-Irak yang diprakarsai PBB, beberapa bulan kemudian. Selain itu, belajar dari perang itu, Iran akhirnya berhasil mengembangkan kekuatan lautnya sendiri untuk menghadapi kemungkinan perang laut di masa depan yang lebih besar.
Perlu diketahui bahwa selain berhasil membangun kapal-kapal perang sendiri, Iran juga telah berhasil membangun senjata-senjata baru yang dianggap sebagai senjata paling canggih dalam perang laut modern seperti rudal ballistik anti-kapal "Khalij Fars" dan torpedo berkecepatan tinggi Hout yang mampu melaju di bawah air dengan kecepatan 360 km per-jam. Iran juga mampu membuat ranjau-ranjau anti-kapal paling canggih, seperti ranjau yang bisa bergerak sendiri mencari kapal musuh.
Perang ini dipicu oleh sebuah insiden yang menimpa kapal frigat peluru kendali USS Samuel B. Roberts yang rusak berat dan nyaris tenggelam setelah menabrak ranjau yang dipasang Iran untuk memblokade Selat Hormuz dari kapal-kapal pengangkut minyak negara-negara Arab yang mendukung Irak dalam Perang Iran-Irak 1980-1988.
Perang Laut Iran - Amerika atau disebut sebagai Operation Praying Mantis tahun 1988 merupakan perang laut terbesar Amerika setelah Perang Dunia II yang melibatkan Armada ke-7 Amerika yang dipimpin oleh kapal induk bertenaga nuklir USS Enterprise dan didukung oleh 2 kapal jelajah, 4 destroyer, 3 frigat, kapal-kapal meriam, pasukan komando angkatan laut, sejumlah pesawat tempur, helikopter dan kapal-kapal pendukung lainnya.
Perang ini berlangsung singkat pada tanggal 18 April 1988, namun memiliki arti sangat mendalam, terutama bagi Iran. Setelah menyadari bahwa mereka belum siap untuk menghadapi kekuatan laut Amerika, Iran pun akhirnya menerima tawaran gencatan senjata Perang Iran-Irak yang diprakarsai PBB, beberapa bulan kemudian. Selain itu, belajar dari perang itu, Iran akhirnya berhasil mengembangkan kekuatan lautnya sendiri untuk menghadapi kemungkinan perang laut di masa depan yang lebih besar.
Perlu diketahui bahwa selain berhasil membangun kapal-kapal perang sendiri, Iran juga telah berhasil membangun senjata-senjata baru yang dianggap sebagai senjata paling canggih dalam perang laut modern seperti rudal ballistik anti-kapal "Khalij Fars" dan torpedo berkecepatan tinggi Hout yang mampu melaju di bawah air dengan kecepatan 360 km per-jam. Iran juga mampu membuat ranjau-ranjau anti-kapal paling canggih, seperti ranjau yang bisa bergerak sendiri mencari kapal musuh.
Perang ini dipicu oleh sebuah insiden yang menimpa kapal frigat peluru kendali USS Samuel B. Roberts yang rusak berat dan nyaris tenggelam setelah menabrak ranjau yang dipasang Iran untuk memblokade Selat Hormuz dari kapal-kapal pengangkut minyak negara-negara Arab yang mendukung Irak dalam Perang Iran-Irak 1980-1988.
Rusia akan Kirim 'Relawan Bersenjata' ke Suriah
Sebagaimana dilaporkan The New York Times, Senin (5 Oktober), ini merupakan perkembangan yang semakin berbahaya dalam konflik Suriah yang telah berlangsung lebih dari 4 tahun dan menelan nyawa seperempat juta orang.
"Tambahan pasukan darat Rusia setelah serangan-serangan udara yang telah dilakukan Rusia, secara khusus telah mengancam kebijakan Turki terhadap Suriah, yang menginginkan dibentuknya zona penyangga di perbatasan Suriah-Turki," demikian tulis media terkemuka Amerika itu.
"Rusia dan Iran telah meningkatkan kekuatannya secara agresif untuk membantu sekutu mereka Presiden Bashar al-Assad, untuk memerangi kelompok-kelompok pemberontak. Dukungan itu telah menimbulkan keyakinan bahwa sebuah serangan darat baru akan dilakukan oleh pasukan Assad terhadap para pemberontak, termasuk kelompok-kelompok yang didukung oleh Amerika, Turki dan sekutu-sekutu mereka yang menginginkan Assad untuk mundur," tambah laporan itu.
Amerika dan sekutu-sekutunya menentang langkah militer Rusia di Suriah karena dianggap lebih banyak menghancurkan pemberontak dukungan Amerika dan sekutu-sekutunya. Mereka menuduh langkah Rusia ini hanya memperbutuk konflik. Namun Iran dan Irak secara terbuka menyatakan dukungan terhadap langkah Rusia. Warga Suriah, terutama pendukung Bashar al Assad bahkan menganggap Rusia sebagai pahlawan mereka.
Sunday, 4 October 2015
Pesawat-Pesawat Tempur Rusia Nyaris Tembak Jet-Jet Israel
Indonesian Free Press -- Meski Perdana Menteri Isreal Benjamin Netanyahu telah menemui Presiden Rusia Vladimir Putin bebeberapa hari yang lalu untuk menghindarkan mis-komunikasi kedua negara terkait dengan keberadaan mesin-mesin perang Rusia di Suriah, sebuah insiden nyaris membuat pesawat-pesawat tempur Rusia terlibat perang udara dengan pesawat-pesawat tempur Israel.
Seperti dilansir situs Strategika 51 yang mengutip informasi dari Liveleak.com hari Sabtu (4 Oktober) enam pesawat tempur Rusia tipe Sukhoi SU–30 SM telah menyergap dan nyaris menembak empat pesawat tempur F-15 Israel yang mencoba menyusup wilayah Suriah.
Selama ini pesawat-pesawat tersebut leluasa melakukan patroli di wilayah Suriah, khususnya di wilayah sekitar Latakia yang saat ini berada di bawah pengawasan Rusia. Dalam laporan itu disebutkan pada hari Kamis (1 Oktober) enam pesawat SU-30 Rusia meninggalkan landasan udara Hmimim menuju arah Cyprus, sebelum berbelok arah untuk mencegah empat pesawat F-15 Israel yang terbang dalam formasi perang menuju wilayah Suriah dari lepas pantai Latakia.
Terkejut dengan kedatangan 6 pesawat tempur canggih Rusia itu dan tidak siap untuk bertempur, ke-4 pesawat Israel itupun dengan cepat berbelok arah menuju Lebanon dengan kecepatan tinggi. Kedatangan pesawat tempur Israel ini dikonfirmasi oleh militer Lebanon, yang menyebut 'pesawat musuh' telah melintasi wilayah Lebanon.
Seperti dilansir situs Strategika 51 yang mengutip informasi dari Liveleak.com hari Sabtu (4 Oktober) enam pesawat tempur Rusia tipe Sukhoi SU–30 SM telah menyergap dan nyaris menembak empat pesawat tempur F-15 Israel yang mencoba menyusup wilayah Suriah.
Selama ini pesawat-pesawat tersebut leluasa melakukan patroli di wilayah Suriah, khususnya di wilayah sekitar Latakia yang saat ini berada di bawah pengawasan Rusia. Dalam laporan itu disebutkan pada hari Kamis (1 Oktober) enam pesawat SU-30 Rusia meninggalkan landasan udara Hmimim menuju arah Cyprus, sebelum berbelok arah untuk mencegah empat pesawat F-15 Israel yang terbang dalam formasi perang menuju wilayah Suriah dari lepas pantai Latakia.
Terkejut dengan kedatangan 6 pesawat tempur canggih Rusia itu dan tidak siap untuk bertempur, ke-4 pesawat Israel itupun dengan cepat berbelok arah menuju Lebanon dengan kecepatan tinggi. Kedatangan pesawat tempur Israel ini dikonfirmasi oleh militer Lebanon, yang menyebut 'pesawat musuh' telah melintasi wilayah Lebanon.
Saturday, 3 October 2015
Iran Ancam Saudi Terkait Tragedi Mina
Indonesian Free Press -- Komandan pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) mengancam Saudi Arabia dengan tindakan militer terkait dengan tragedi Mina yang menewaskan ratusan warga Iran tanggal 24 September lalu.
"Pasukan Garda Revolusi telah mempersiapkan segala kemampuan untuk menunjukkan reaksi Iran yang keras dan cepat, sehubungan dengan pernyataan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei untuk membuat regim Saudi bertanggungjawab atas insiden di Mina dan mengembalikan hak-hak para korban tragedi tersebut," kata Komandan IRGC Mayjend Mohammad Ali Jafari dalam pernyataannya hari Sabtu (3 Oktober).
“Pasukan Garda Revolusi sangat siap untuk melakukan segala tindakan setiap saat di segala tempat untuk mempertahankan harga diri kaum Muslims, khususnya negara revolusioner Iran, jika diperlukan," tambah Jafari.
Sebelumnya pada hari Rabu (30 September) Ayatollah Khamenei mengatakan bahwa Saudi Arabia tidak bertindak patut terkait dengan insiden Mina dan mengancam akan melakukan aksi balasan yang 'keras dan tegas' kepada Saudi. Ia menuntut pemerintah Saudi untuk segera mengembalikan seluruh jenasah jamaah asal Iran.
"Pasukan Garda Revolusi telah mempersiapkan segala kemampuan untuk menunjukkan reaksi Iran yang keras dan cepat, sehubungan dengan pernyataan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei untuk membuat regim Saudi bertanggungjawab atas insiden di Mina dan mengembalikan hak-hak para korban tragedi tersebut," kata Komandan IRGC Mayjend Mohammad Ali Jafari dalam pernyataannya hari Sabtu (3 Oktober).
“Pasukan Garda Revolusi sangat siap untuk melakukan segala tindakan setiap saat di segala tempat untuk mempertahankan harga diri kaum Muslims, khususnya negara revolusioner Iran, jika diperlukan," tambah Jafari.
Sebelumnya pada hari Rabu (30 September) Ayatollah Khamenei mengatakan bahwa Saudi Arabia tidak bertindak patut terkait dengan insiden Mina dan mengancam akan melakukan aksi balasan yang 'keras dan tegas' kepada Saudi. Ia menuntut pemerintah Saudi untuk segera mengembalikan seluruh jenasah jamaah asal Iran.
Jangan Bangunkan Macan Tidur
Indonesian Free Press -- "Pak Karni Ilyas bukan PKI, khan?" Demikian pertanyaan bernada 'sindiran' kepada host Indonesia Lawyers Club sekaligus pimpinan redaksi TVOne, dalam acara ILC awal pekan lalu.
Pertanyaan itu bukan tanpa makna sama sekali. Pak Letjend (Pur) Agus Suyono tentu tidak sedang 'mabuk' ketika memberikan sindiran itu. Sebagai mantan Asisten Teritorial yang dekat inteligen TNI tentu mengetahui bahwa Karni Ilyas tengah menggunakan institusi yang dipimpinnya, redaksi TVOne untuk memainkan isyu kebangkitan PKI, meski temanya adalah tentang pemberian ma'af kepada PKI oleh pemerintah.
Isyu tentang pemberian ma'af pemerintah kepada PKI telah beredar di tengah masyarakat sejak tahun lalu dan kembali memanas menjelang peringatan G-30-S PKI setelah di blow-up oleh media massa terutama TVOne. Isyu ini bertambah ramai lagi dengan munculnya desas-desus bahwa pemerintah akan mengubah nama 'Hari Kesaktian Pancasila' tanggal 1 Oktober dengan 'Hari Tragedi Nasional', serta desas-desus bahwa Presiden Jokowi tidak akan menghadiri upacara peringatan 'Hari Kesaksian Pancasila' tanggal 1 Oktober lalu.
Pada akhirnya Presiden Jokowi memang menghadiri peringatan tersebut dan membantah desas-desus akan membuat pernyataan permintaan ma'af kepada PKI. Namun pemerintahan Jokowi tetap saja berusaha mengkaburkan 'Hari Kesaksian Pancasila' dengan menjadikan hari yang sama sebagai 'Hari Kopi Nasional'. Selain itu, Jokowi juga tidak tegas dalam menyatakan penolakannya terhadap permintaan ma'af kepada PKI.
"Sampai hari ini tidak ada niat untuk meminta ma'af," kata Jokowi.
Pertanyaan itu bukan tanpa makna sama sekali. Pak Letjend (Pur) Agus Suyono tentu tidak sedang 'mabuk' ketika memberikan sindiran itu. Sebagai mantan Asisten Teritorial yang dekat inteligen TNI tentu mengetahui bahwa Karni Ilyas tengah menggunakan institusi yang dipimpinnya, redaksi TVOne untuk memainkan isyu kebangkitan PKI, meski temanya adalah tentang pemberian ma'af kepada PKI oleh pemerintah.
Isyu tentang pemberian ma'af pemerintah kepada PKI telah beredar di tengah masyarakat sejak tahun lalu dan kembali memanas menjelang peringatan G-30-S PKI setelah di blow-up oleh media massa terutama TVOne. Isyu ini bertambah ramai lagi dengan munculnya desas-desus bahwa pemerintah akan mengubah nama 'Hari Kesaktian Pancasila' tanggal 1 Oktober dengan 'Hari Tragedi Nasional', serta desas-desus bahwa Presiden Jokowi tidak akan menghadiri upacara peringatan 'Hari Kesaksian Pancasila' tanggal 1 Oktober lalu.
Pada akhirnya Presiden Jokowi memang menghadiri peringatan tersebut dan membantah desas-desus akan membuat pernyataan permintaan ma'af kepada PKI. Namun pemerintahan Jokowi tetap saja berusaha mengkaburkan 'Hari Kesaksian Pancasila' dengan menjadikan hari yang sama sebagai 'Hari Kopi Nasional'. Selain itu, Jokowi juga tidak tegas dalam menyatakan penolakannya terhadap permintaan ma'af kepada PKI.
"Sampai hari ini tidak ada niat untuk meminta ma'af," kata Jokowi.
Kapal-Kapal Perang Rusia Siapkan Serangan Rudal Jelajah ke Suriah
Indonesian Free Press -- Empat hari sudah pesawat-pesawat tempur Rusia melakukan serangan udara terhadap kedudukan pemberontak Suriah. Kini giliran kapal-kapal perang Rusia yang berada Laut Mediterania yang bakal beraksi melakukan serangan rudal-rudal jelajah. Demikian kantor berita Iran Fars News melaporkan, hari Sabtu (3 Oktober).
Mengutip sumber-sumber militer Rusia, laporan itu menyebutkan bahwa Rusia telah menempatkan setidaknya 3 kapal perang di lepas pantai Latakia, Suriah untuk mempersiapkan serangan rudal jelajah dalam beberapa hari ini.
Sumber itu menyebutkan bahwa Angkatan Laut Rusia akan memainkan peran imperatif melawan kelompok-kelompok militan di Suriah dengan melancarkan pemboman terhadap sejumlah posisi pemberontak di wilayah barat Suriah.
Menurut keterangan militer Suriah dan sejumlah sumber lain, kapal-kapal perang Rusia itu telah dilihat dari pelabuhan Latakia.
Rudal jelajah menjadi terkenal ketika Amerika melancarkan serangan militer terhadap Irak tahun 1991 maupun tahun 2003. Kala itu kapal-kapal perang Amerika melucurkan rudal-rudal jelajah Tomahawk terhadap posisi-posisi militer Irak sebelum melancarkan serangan darat.
PASUKAN IRAN BERGABUNG DI SURIAH
Sementara itu sejumlah media mapan internasional, termasuk Reuters melaporkan bahwa ratusan pasukan Iran telah mendarat di Suriah untuk persiapan melancarkan serangan darat bersama Hizbollah dan milisi-milisi dari Irak serta pasukan reguler Suriah.
Mengutip sumber-sumber militer Rusia, laporan itu menyebutkan bahwa Rusia telah menempatkan setidaknya 3 kapal perang di lepas pantai Latakia, Suriah untuk mempersiapkan serangan rudal jelajah dalam beberapa hari ini.
Sumber itu menyebutkan bahwa Angkatan Laut Rusia akan memainkan peran imperatif melawan kelompok-kelompok militan di Suriah dengan melancarkan pemboman terhadap sejumlah posisi pemberontak di wilayah barat Suriah.
Menurut keterangan militer Suriah dan sejumlah sumber lain, kapal-kapal perang Rusia itu telah dilihat dari pelabuhan Latakia.
Rudal jelajah menjadi terkenal ketika Amerika melancarkan serangan militer terhadap Irak tahun 1991 maupun tahun 2003. Kala itu kapal-kapal perang Amerika melucurkan rudal-rudal jelajah Tomahawk terhadap posisi-posisi militer Irak sebelum melancarkan serangan darat.
PASUKAN IRAN BERGABUNG DI SURIAH
Sementara itu sejumlah media mapan internasional, termasuk Reuters melaporkan bahwa ratusan pasukan Iran telah mendarat di Suriah untuk persiapan melancarkan serangan darat bersama Hizbollah dan milisi-milisi dari Irak serta pasukan reguler Suriah.
Friday, 2 October 2015
Rusia Serang Pemberontak Suriah Pro-Amerika, Amerika Pertimbangkan Langkah Tandingan
Indonesian Free Press -- Amerika tengah mempertimbangkan langkah militer untuk melindungi pemberontak Suriah pro-Amerika, setelah pesawat-pesawat tempur Rusia menghantam posisi-posisi mereka. Langkah ini bisa memicu terjadinya konflik militer langsung antara Amerika dan Rusia di Suriah.
Seperti dilaporkan Associated Press pada hari Kamis (1 Oktober) dengan mengutip keterangan beberapa pejabat militer senior Amerika, Amerika kini tengah mempertimbangkan untuk menggunakan kekuatan militer guna melindungi sekutu-sekutunya di Suriah dari serangan Rusia.
"Mempertimbangkan risiko dari penggunaan kekuatan militer sebagai respon atas serangan Rusia adalah salah satu isu Departemen Pertahanan AS," demikian laporan itu menyebutkan.
Para pejabat yang tidak disebutkan identitasnya itu mengakui bahwa tindakan Rusia yang telah melakukan serangan tanpa pandang bulu terhadap pemberontak Suriah pro-Amerika, telah menimbulkan dilema bagi Amerika. Namun Menhan Ash Carter, bagaimana pun masih menolak untuk mendiskusikan langkah ini. Demikian laporan ini melanjutkan.
Sebelumnya, pada tahun ini, Amerika mengatakan bahwa pemberontak Suriah pro-Amerika akan mendapatkan perlindungan udara Amerika jika mereka diserang oleh kelompok ISIS atau pasukan Suriah.
Seperti dilaporkan Associated Press pada hari Kamis (1 Oktober) dengan mengutip keterangan beberapa pejabat militer senior Amerika, Amerika kini tengah mempertimbangkan untuk menggunakan kekuatan militer guna melindungi sekutu-sekutunya di Suriah dari serangan Rusia.
"Mempertimbangkan risiko dari penggunaan kekuatan militer sebagai respon atas serangan Rusia adalah salah satu isu Departemen Pertahanan AS," demikian laporan itu menyebutkan.
Para pejabat yang tidak disebutkan identitasnya itu mengakui bahwa tindakan Rusia yang telah melakukan serangan tanpa pandang bulu terhadap pemberontak Suriah pro-Amerika, telah menimbulkan dilema bagi Amerika. Namun Menhan Ash Carter, bagaimana pun masih menolak untuk mendiskusikan langkah ini. Demikian laporan ini melanjutkan.
Sebelumnya, pada tahun ini, Amerika mengatakan bahwa pemberontak Suriah pro-Amerika akan mendapatkan perlindungan udara Amerika jika mereka diserang oleh kelompok ISIS atau pasukan Suriah.
Subscribe to:
Posts (Atom)









