Tuesday, 16 April 2013

HIKMAH KEHIDUPAN

Akhir tahun lalu, di tengah kondisi keuangan yang tengah pailit setelah beberapa usaha yang saya lakukan mengalami kegagalan, saya menemui teman lama saya yang profilnya pernah saya tulis di blog ini, namun kemudian saya hapus karena alasan yang akan saya jelaskan dalam postingan ini.

Ringkasnya, teman saya tersebut adalah seorang sahabat semasa SMA yang telah menjadi seorang pengusaha sukses, motivator cukup terkenal dan tokoh sebuah gerakan idealis yang satu visi dan misi dengan blog ini dalam menggalakkan penggunaan produk-produk dalam negeri demi menyelamatkan perekonomian nasional dari gempuran faham neo-liberalisme.

Hubungan saya dengannya sangat spesial. Saya tidak mengatakan hubungan teman sekelas yang menghabiskan waktu belajar bersama selama 6 atau 7 jam selama 6 hari seminggu. Lebih dari itu, selama hampir 2 tahun dalam tiap minggunya tidak ada malam yang tidak saya habiskan bersama dengannya. Dalam masa kenakalan itu kami pernah berkelahi melawan musuh-musuh yang sama, mengamen bersama ke beberapa daerah di luar kota, dan pernah nyaris mengalami kecelakaan fatal bersama ketika gerbong kereta barang yang kami tumpangi dalam perjalanan dari Surabaya ke kota kami mengalami anjlok saat melaju dengan kecepatan tinggi. Pada suatu saat ia yang menjadi ketua kelas, pernah diboikot oleh teman laki-laki sekelas, dan hanya saya teman laki-laki yang masih mendampinginya.

Selain kedekatan masa lalu, saya merasa sangat optimis teman saya itu bisa membantu memecahkan masalah yang saya hadapi karena kapasitasnya. Sebagai pengusaha nasional, bisnisnya berserak di mana-mana. Ia memiliki puluhan ribu kebun sawit, penyewaan alat-alat berat, properti, hingga pabrik makanan ringan. Omset bisnisnya tidak lagi miliaran, melainkan triliunan rupiah setiap tahun. Dari bisnis perkebunan saja penghasilannya saya perkirakan mencapai puluhan miliar rupiah setiap bulannya.

Ketika bertemu dengannya di kantornya di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, sayapun menyampaikan masalah yang saya hadapi dan harapan kepadanya untuk membantu saya. Salah satu permintaan saya kepadanya adalah menjadi donatur tetap blog saya. Saya berfikir karena misi dan visi yang sama serta tingkat kunjungan yang relatif tinggi, mestinya ia tidak akan menolak permintaan saya. Namun ia hanya menjawab diplomatis: "Nanti saya bantu. Tinggalkan saja rekeningnya," katanya.


Saya tentu berfikir bahwa dengan kapasitasnya sebagai pengusaha nasional dengan omset triliunan rupiah, "bantuan" tersebut sangat signifikan nilainya. Maka dengan harapan besar, sayapun kembali ke Medan diiringi pelukan dan cipika-cipiki sewajarnya sebagai teman lama yang telah lama tidak bertemu. Saat itu ia berpesan kepada saya untuk terus menjalin komunikasi dengannya. Tentu saja saya mengiyakannya.

Namun harapan tinggal harapan. Setelah beberapa minggu menunggu "bantuan" tersebut saya mendapat pemberitahuan lewat SMS dari teman saya bahwa sekretarisnya telah mentransfer sejumlah uang yang nilainya hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan selama beberapa hari atau tidak beda jauh dengan donasi terbesar yang pernah saya terima melalui blog ini. Selain itu ia juga menolak mengangkat telepon saya atau membalas SMS saya.

Tentu saya sangat kecewa. Orang yang telah mencitrakan diri sebagai pejuang ekonomi syariah dan pejuang kebangkitan ekonomi rakyat kecil, ternyata tidak mau menolong sahabatnya sendiri. Ia juga telah melanggar perintah agama serta janjinya sendiri untuk menyambung silaturrahmi. Saya hanya bisa istighfar dan mengucapkan "inna lillahi wa inna illahi roji'un". Semuanya milik Allah dan kembali kepada Allah.

Namun kekecewaan saya tidak berlangsung terlalu lama. Lewat blog ini beberapa donatur telah banyak memberikan bantuannya. Tidak hanya itu, seorang pengunjung setia yang tidak saya kenal tiba-tiba memberi penawaran menarik untuk memasang iklan di blog ini. Alhamdulillah, akhirnya pertolongan Allah pun datang.


6 comments:

tommy ahmd said...

LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAH (tidak ada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan izin (pertolongan) Allah.

MAR TIGA said...

Disini ada hikmah yang mungkin kita dapatkan... Jangan pernah bergantung kepada ciptaan NYA... Hanya Kepada Allah lah kita tempat bergantung.. Barakallah.. Salam santun __/\__ FM
Jazzakallah hairan katsiran

Anis Satun said...

Cak yono jngn berhati sempit masak gara2 uang aja sampai harus tulis opini di blog..

Anis Satun said...

Cak yono jngn berhati sempit masak gara2 uang aja sampai harus tulis opini di blog..

Anis Satun said...

Cak yono jngn berhati sempit masak gara2 uang aja sampai harus tulis opini di blog..

Anis Satun said...

Cak yono jngn berhati sempit masak gara2 uang aja sampai harus tulis opini di blog..