Friday, 26 August 2016

Iran Kembali Usir Kapal Perang Amerika

Indonesian Free Press -- Kapal-kapal patroli cepat Iran mengusir sebuah kapal destroyer Amerika setelah melalui aksi pengejaran berkecepatan tinggi. Demikian media-media internasional melaporkan minggu ini.

USNI News melaporkan, Rabu (24 Agustus) kapal destroyer peluru-kendali USS Nitze (DDG-94) diikuti dan 'diganggu' oleh empat kapal patroli cepat Iran di Teluk Parsi pada hari Selasa (23 Agustus).

"Destroyer itu tengah berada di perairan Selat Hormuz ketika empat kapal patroli berkecepatan tinggi Pengawal Revolusi Iran mendekati kapal tanpa memberikan respon atas peringatan yang diberikan oleh USS Nitze," tulis USNI News dalam laporannya.
 .
Menurut laporan itu, keempat kapal patroli Iran itu melakukan aksi yang 'tidak profesional' dan 'berbahaya', dengan senjata mengarah ke kapal Amerika.

"Awak USS Nitze berkali-kali berusaha membuat kontak dengan kapal-kapal patroli itu dan menembakkan sepuluh tembakan peringatan serta mengeluarkan bunyi peniup kapal, namun tidak memberikan efek apapun," tulis laporan itu lagi mengutip pernyataan Jubir Kemenhan Amerika, Rabu malam.

Dua dari empat kapal patroli itu bahkan mendekat hingga jarak sekitar 100 meter dari kapal Amerika.

USS Nitze tengah melakukan patroli bersama kapal destroyer USS Mason (DDG-87) di perairan yang sama ketika insiden ini terjadi. Kedua kapal adalah bagian dari satuan Eisenhower Carrier Strike Group, gugus tugas yang dipimpin oleh kapal induk USS Dwight D. Eisenhower (CVN-69). Satuan ini bertugas untuk memerangi ISIS di Irak dan Suriah. Pada akhir JUni lalu kapal perang lain dari gugus tugas ini, USS San Jacinto (CG-56) juga mengalami insiden serupa dengan kapal perang Rusia di Laut Mediterrania.

Sementara itu Veterans Today pada hari Sabtu (20 Agustus) juga melaporkan sebuah kapal perang Amerika diusir pergi oleh kapal Iran setelah mendapat peringatan keras.

"Kapal perang Amerika itu mendekati kapal perang Iran secara provokatif, melanggar standar internasional pelayaran dari kapal patroli Shahid Mousayee dan perairan Iran di Teluk Parsia," tulis laporan itu.

"Kapal perang itu kemudian mendapat peringatan keras dari kapal Iran dan dengan cepat mengubah arahnya, kembali ke perairan internasional," tambah laporan itu tanpa menyebutkan identitas kapal Amerika tersebut.

Pada 12 Januari lalu Angkatan Laut Tentara Pengawal Revolusi Iran (IRGC) menahan dua boat bersenjata Amerika beserta 10 awaknya setelah mereka tanpa sengaja menerobos wilayah Iran di Teluk Parsi. Aksi Iran ini mendapat pujian para pengamat karena berani menangkap boat militer Amerika. Mereka semua dibebaskan sehari kemudian, disebut-sebut setelah Amerika membayar $500 juta kepada Iran.

Dua minggu setelah insiden itu Komandan AL IRGC Rear Admiral Ali Fadavi mengatakan bahwa para awak kapal Amerika merasa harus lebih berhati-hati setiap kali melintasi perairan di dekat wilayah Iran karena Iran tidak pernah ragu untuk melakukan tindakan tegas.

“Orang-orang Amerika kini mengalami ketegangan psikologis setiap melintasi Selat Hormuz,” kata Admiral Fadavi sambil tersenyum dalam wawancara dengan televisi Iran.

Ia menyebutkan bahwa kapal-kapal patroli cepat Iran jauh lebih cepat daripada kapal-kapal Amerika hingga dua kali lipat. Dalam waktu dekat kecepatan tersebut bahkan akan meningkat menjadi tiga kali lipat.(ca)

3 comments:

Danial Rusdi said...

Kecepatan 80 knot lebih cepat dari terpedo Amerika bawa rudal yakons secara fisiologis tentu yg selama ini negara lain harus menjauh ratusan Meter sebelum kapal Amerika lewat kalau tidak ya mau ditembak semua terbirit-birit lari ketakutan hal itu tak berlaku bagi Iran dimana mereka harus komunikasi dalam bahasa Persia kalau tidak ya tidak di tanggapi bahasa Iran sama sekali tak takut sama Amerika jelas Amerika jaga wibawa di depan sekutu arabnya Amerika jangan gegabah di teluk Parsi justru potensi darat Iran jauh lebih kuat mengancam sasaran teluk Parsi dgn rudal khalik pars yg mobile di lepas pantai Iran punya ribuan kapal cepat tiap tahun bertambah secara militer Amerika sudah kalah kalau perang di teluk lawan iram

Kasamago said...

Selat hormuz menjadi saksi David vs Goliath.. bagaimana Iran dg alutsista yg sngjt jauh tak sebanding, tetap berani meladeni kapal2 destroyer modern AS yg menjadi bagian dari armada kapal induk..

hanimasra said...

jangan tunduk dengan US..mereka mengaku jadi polis dunia...