Tuesday, 2 August 2016

Turki Keluarkan Ultimatum, AS Tinggalkan Incirlik

Indonesian Free Press -- Wakil PM sekaligus jubir pemerintahan Turki, Numan Kurtulmuş, mengeluarkan ultimatum kepada Amerika terkait dengan kudeta gagal bulan lalu. Ia  memberi dua pilihan kepada AS, yaitu mengekstradisi Fethullah Gulen, atau kehilangan persahabatan dengan 79 juta jiwa penduduk Turki.

Hal ini dikatakan dalam konferensi persnya setelah pertemuan kabinet, Senin (1 Agustus), di istana perdana menteri di Ankara. Kurtulmuş juga menjelaskan bahwa negaranya telah memberi bukti yang cukup terkait keterlibatan Gulen dan pengikutnya dalam upaya kudeta pertengahan bulan lalu.

Lebih lanjut, Kurtulmuş menegaskan kepada para pejabat AS untuk menghormati hubungan baik antara kedua negara. AS disebutnya harus segera menyerahkan Gulen kepada pemerintah Turki, sesuai kesepakatan ekstradisi antara kedua negara.

Pada kesempatan itu seperti ditulis dakwatuna.com, Kurtulmuş juga membahas tentang pembersihan lembaga negara dari pengaruh Fethullah Gullen. Menurutnya, pemerintah Turki bertekad untuk menjauhkan lembaga-lembaga negara dengan setiap orang yang berhubungan dengan jaringan Gulen tersebut. Mengacu pada upaya besar membedakan mereka yang terlibat dan tidak terlibat dengan jaringan Gulen.

Terkait restrukturisasi dan penyatuaan beberapa sektor militer dengan kementerian, Kurtulmuş menegaskan bahwa itu bertujuan untuk mencegah komando seluruh pasukan berada dalam satu naungan.


Evakuasi Pangkalan Udara Incirlik
Sementara itu situs Military Times, pertengahan Juli lalu melaporkan bahwa Amerika telah memerintahkan evakuasi pangkalan udara Incirlik di Turki karena masalah keamanan terkait dengan konflik Suriah.

Dilaporkan bahwa Depertemen Pertahanan Amerika memerintahkan ratusan personil militer dan keluarganya untuk meninggalkan Turki, termasuk pangkalan udara Incirlik. Perintah ini ditujukan kepada sekitar 700 istri dan anak keluarga militer Amerika yang berada di pangkalan-pangkalan militer Incirlik, Ismir dan Mugla.

Jumlah personil militer Amerika di Incirlik mengalami kenaikan dari 1.300 personil tahun lalu menjadi 2.500 personil tahun ini, berkaitan dengan kampanye perang melawan ISIS di Irak dan Suriah.

Pada bulan Juli, kekhawatiran adanya serangan teroris di pangkalan Amerika di Turki memaksa Amerika melarang personil militer dan keluarganya keluar dari barak militer. Pada September 2015 Amerika telah menawarkan evakuasi sukarela pada sekitar 800 keluarga personil militer Amerika di Turki, namun hanya 80 orang yang memenuhinya.(ca)

2 comments:

Kasamago said...

Kabar Indah bagi koalisi Russia cs.
Smg saja Turki dpt memilih partner yg tepat

Danial Rusdi said...

Berkawan dg Amerika sama dgn berkawan dng harimau kalo kuat ngasih makan kalo tidak kita yang dimakan