Sunday, 1 February 2009

ERDOGAN DAN WASHINGTON POST


Ada peristiwa sangat menarik dari acara World Economic Forum yang berlangsung di Davos, Swiss, Kamis (29/1/09), meski tidak sedikit pun disinggung-singgung oleh koran terbesar Indonesia, Kompas. Peristiwa itu adalah perdebatan sengit antara Perdana Menteri Turki Recep Erdogan di satu pihak dengan Presiden Israel Shimon Peres dan David Ignatius, editor senior Washington Post, di pihak lainnya.

Dalam sebuah acara diskusi mengenai keamanan Timur Tengah yang menampilkan Erdogan, Peres, Sekjen PBB Ban Ki Moon serta Sekjend Liga Arab Amir Moussa sebagai panelis, Erdogan marah besar kepada Simon Peres yang sama sekali tidak menunjukkan penyesalan telah melakukan kejahatan kemanusiaan di Gaza dan justru menyalahkan rakyat Palestina. Untuk memperkuat pembelaan dirinya Peres bahkan bersuara lantang sambil menuding-nuding muka Erdogan.

Erdogan berusaha mematahkan argumen Peres, namun dicegah oleh David Ignatius dengan agak kasar sambil menepuk bahu Erdogan. Dua kali David berusaha menghentikan pembicaraan Erdogan, namun tidak bisa menghentikan Erdogan untuk menyerang Peres dengan pernyataan pedas: "Anda adalah pembunuh." Kepada David Erdogan juga menuduhnya tidak fair dengan memberinya jatah waktu bicara yang lebih singkat (12 menit) dibandingkan Peres (25 menit). Erdogan juga memprotes audiens yang memberikan dukungan kepada Peres dengan memberikan tepuk tangan kepadanya. "Saya sangat sedih orang-orang memberikan tepukan kepada Anda (Peres). Ada orang-orang yang terbunuh. Menurut saya sangatlah keliru (memberikan tepukan kepada Peres) dan menurut saya forum ini (Forum Davos) bukanlah forum kemanusiaan."

Sebagai bentuk protes atas situasi yang tidak adil itu Erdogan pun walkout dari forum. Audiens pun tidak bisa berpura-pura untuk tidak memberikan penghargaan atas sikap patriotismenya itu. Mereka pun memberikan tepuk tangan kepada Erdogan. Di sisi lain Ban Ki Moon dan Amir Moussa (another jew butt kisser) hanya bisa diam terpaku. Moussa sebagaimana bosnya Presiden Mesir Husni Mobarak, sebagai orang Arab, semestinya lebih marah kepada Peres dibandingkan Erdogan yang bukan Arab atas tindakan biadabnya kepada rakyat Palestina yang merupakan bangsa Arab. Namun tidak ada kritikan pedas diberikan olehnya terhadap Peres sama seperti tidak ada upaya yang dilakukannya selaku Sekjend Liga Arab untuk menghentikan tindakan Israel kepada rakyat Palestina di Gaza.

Tindakan Erdogan, langsung mendapat dukungan meriah di kalangan masyarakat Turki, Arab bahkan Iran. Mereka mengadakan berbagai aksi demo mendukung sikap Erdogan. Ribuan orang pun menyambut kedatangannya ke Turki bak seorang pahlawan yang baru pulang dari medan perang.

Memang yang dilakukan Erdogan, seorang pimpinan partai Keadilan yang membawa misi Islamisasi Turki, tidak se-ekstrim Presiden Bolivia Evo Morales dan Presiden Venezuela, atau pemerintah Mauritinia dan Qatar yang memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel sebagai protes atas aksi biadab Israel di Gaza. Namun bagaimana pun sikapnya itu jauh lebih baik dibandingkan kepala negara-negara Arab dan Islam lainnya.


WASHINGTON POST

sekarang kita coba memahami mengapa David Ignatius bersikap tidak adil kepada Erdogan dan dengan vulgar menunjukkan keterpihakannya kepad Peres. Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan dari lembaga dimana David bekerja, Washington Post. Tulisan berikut ini adalah berdasarkan buku The New Jerussalem karangan Michael Collins Piper.

Washington Post merupakan salah satu koran terbesar dan berpengaruh di dunia, khususnya di Amerika Serikat. Di balik kesuksesannya, sejarah Washington Post diwarnai intrik-intrik keji dan licik. Dua orang pembangun Washington Post, suami-istri Philip Graham dan Katharine Meyer Graham, bahkan harus mengakhiri hidupnya dengan tragis. Philip meninggal karena bunuh diri di rumah sakit jiwa. Adapun Katharine meninggal setelah jatuh dari balkon di tengah-tengah acara rapat Dewan Direktur Washington Post.

The Washington Post (TWP) didirikan tahun 1933oleh Eugene Meyer, Yahudi Gubernur Bank Sentral Amerika pertama (Bank sentral Amerika selalu dipimpin oleh Yahudi karena memang milik sekelompok bankir Yahudi internasional). Tahun 1940, Katherine Meyer, putri tunggal Eugene Meyer menikah dengan pengacara Philip Graham. Pada tahun 1948, setelah ditunjuk Presiden Truman sebagai Direktur Bank Dunia (jangan lagi pernah menyangka Bank Dunia, atau IMF adalah organisasi multilateral atau organisasi antar-negara, melainkan sekumpulan bankir-bankir swasta yang berlindung di balik jubah pejabat), Eugene Meyer menyerahkan kepemimpinan TWP kepada menantunya. Tidak hanya itu, Philip Graham juga mendapatkan saham sebesar 70%, istrinya yang juga putri tunggal sang pendiri hanya mendapat 30%. Di bawah kepemimpinan Graham, TWP tumbun pesat menjadi media raksasa Amerika terutama setelah membeli saham Newsweek dan media massa lainnya.

Tahun 1947 dinas inteligen luar negeri Amerika, CIA, didirikan. Graham segera menjalin hubungan dengan dengannya. Graham adalah salah seorang perintis kerjasama rahasia antara media massa dengan CIA. Dapat dikatakan kebesaran TWP disebabkan karena kerjasamanya dengan CIA yang memungkinkan TWP mendapatkan akses berita yang tidak dimiliki media massa lain. Sebaliknya CIA pun mendapat keuntungan sepadan berupa dukungan publikasi atas aksi-aksinya.

Namun seiring kemajuan TWP, Philip Graham yang bukan Yahudi mulai bersikap aneh, terutama setelah kematian mertuanya tahun 1959. Ia memelihara istri simpanan dan mengancam cerai Katharine, menjelek-jelekkan Yahudi di depan umum, dan mengumbar cerita tentang kebohongan-kebohongan CIA. Pada masa yang bersamaan, Presiden Kennedy yang juga teman dekat Philip Graham, tengah “bertengkar” dengan Israel yang hendak membangun program nuklir, dengan Bank Sentral karena bermaksud mencetak uang sendiri sehingga melepaskan diri dari jeratan hutang kepada lembaga swasta berkedok negara itu, juga dengan CIA yang dianggapnya membahayakan negara karena kewenangan yang dimiliki terlalu besar.

Pada tahun 1963 melalui pergulatan fisik antara pengawal Katherina dan Philip, Katherina dengan alasan kesehatan mental Philip yang terganggu, membawa paksa suaminya ke pusat perawatan mental di Rockville, Maryland. Peristiwa ini terjadi setelah Philip membuat konperensi pers membuka rahasia keterlibatan CIA dalam kasus terbongkarnya perselingkuhan Presiden Kennedy. Pada tahun itu juga Philip Graham meninggal dunia secara misterius, juga Presiden Kennedy tewas terbunuh secara tragis dan tidak kalah misteriusnya.

Beberapa penyidik dan jurnalis independen menemukan adanya hubungan yang kuat antara Katherina, CIA dan Mossad dalam konspirasi yang menewaskan Philip Graham maupun Kennedy.

Namun kejahatan menemukan jalannya sendiri untuk membalas dendam. Katharina harus kehilangan nyawa di tangan kawan-kawannya sendiri. Ia terjatuh dari bangunan tinggi saat memimpin rapat pimpinan TWH tanggal 17 Juli 2001 di Sun Valley, Idaho. Sama seperti Bugsy Siegel, gembong mafia berdarah Yahudi inventor kota judi Las Vegas, yang harus mengakhiri hidupnya di tangah sahabatnya sendiri, Meyer Lanski, sang bos dari segala bos mafia berdarah Yahudi yang meninggal di Israel.

Keterangan gambar: Perdana Menteri Recep Erdogan (kanan) beradu lengan dengan David Ignatius moderator dari Washington Post yang berusaha menghentikan Erdogan mengungkap kekejian Israel atas Palestina.

Friday, 30 January 2009

BBC YANG TIDAK LAGI INDEPENDEN


Dibanding media massa Amerika yang nyaris 100% hanya menjadi corong kepentingan pemerintah dan kapitalis Yahudi, media massa Eropa relatif lebih independent meski tidak 100% bebas dari pengaruh lobi Yahudi.

Salah satu media massa yang dihormati karena integritasnya adalah BBC (British Broadcasting Company), kantor berita terkemuka asal Inggris. Namun saat ini BBC tengah mengalami krisis kepercayaan dari masyarakat yang mengancam reputasi dan eksistensinya. Penyebabnya karena BBC menolak menyiarkan iklan penggalangan dana untuk Gaza yang diorganisir oleh Disasters Emergency Comitee (DEC), sebuah LSM yang membawahi sejumlah LSM kemanusiaan terkemuka seperti Palang Merah dan Save the Children. Penolakan tersebut memicu protes keras masyarakat tidak hanya di Inggris namun juga masyarakat lain di luar negeri.

Tidak ada orang dengan akal yang dimilikinya terkecuali orang-orang Yahudi Israel, menolak fakta terjadinya kejahatan kemanusiaan yang luar biasa di Gaza. 1.300 warga sipil tewas, sebagian besar di antaranya adalah wanita dan anak-anak. Ribuan orang luka-luka, ribuan orang kehilangan rumah, sarana sosial dan infrastuktur vital yang hancur, dan kerugian lainnya yang tidak bisa disebutkan karena serangan biadab Israel atas Gaza. Namun CEO BBC, Mark Thompson, berpendapat lain. Iklan penggalangan dana DEC merupakan tindakan yang "tidak adil" terhadap Israel. Ia juga beranggapan penggalangan dana yang diorganisir DEC tidak akan efektif untuk memperbaiki kondisi Gaza. Padahal BBC telah menggalang dana untuk korban perang di Kongo dan Burma beberapa waktu lalu.

Penolakan BBC untuk berpartisipasi pada program penggalangan dana bagi masyarakat Gaza sementara mereka berpartisipasi dalam kegiatan yang sama untuk rakyat Kongo dan Burma, mau tidak mau membuat orang mencari motif apa yang mendasari penolakan tersebut.

Setidaknya dua orang anggota Dewan Direktur: Mark Thomson sang CEO dan Marcus Ambrose Paul Agius sang Direktur Senior Non-Eksekutif, adalah para pembela zionisme. Istri Mark adalah seorang Yahudi. Mark Thomson dikenal memiliki hubungan dekat dengan para pemimpin Israel. Misalnya saja ia pernah bertemu empat mata dengan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon di Israel tahun 2005. Ini adalah hal tabu yang dijauhi para wartawan bertemu secara pribadi dengan tokoh politik, apalagi yang kontroversial seperti Ariel Sharon.

Seorang tokoh masyarakat Inggris, Tony Benn, mengomentari kasus BBC mengatakan, "Saya tidak pernah berfikir akan hidup untuk menyaksikan BBC menolak menyiarkan iklan kemanusiaan. Namun saya tahu kenapa, yaitu karena Livni (Perdana Menteri Israel) mengatakan tidak ada krisis kemanusiaan di Gaza. Maka BBC pun menganggap tidak ada krisis kemanusiaan di Gaza dan menolak penggalangan dana."

Sekarang kita lihat profil Marcus Agius. Wikipedia, situs ensiklopedi maya terbesar yang oleh para bloger independen dan para aktivis kulit putih sering diejek sebagai Kikepedia (Kike adalah panggilan jelek untuk orang Yahudi) secara gamblang menyebutkan jati dirinya. Ia adalah warga Inggris berdarah Yahudi. Mantan pedagang saham dan valas dan eksekutif perusahaan-perusahaan keuangan raksasa seperti Barclays dan Lazard Investment Bank serta BAA Limited. Namun fakta-fakta itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan fakta bahwa ia adalah suami dari seorang wanita anggota keluarga Rothschild, keluarga Yahudi paling terkenal, kaya dan berpengaruh di dunia.

Tindakan kontroversi BBC dengan menolak penggalangan dana Gaza hanya kasus terakhir yang membuat BBC di bawah pimpinan Mark Thomson semakin jatuh kredibilitasnya. Oleh para pakar BBC saat ini dianggap tidak bisa mengimbangi reputasi yang selama ini telah terbangun. Tony Palmer, seorang pembuat film terkenal bahkan menyamakan pengangkatan Mark Thomson sebagai CEO BBC adalah sebagai "sebuah bencana".

Thursday, 29 January 2009

BOM PANAH, PEMBUNUH KEJI ISRAEL YANG LAIN


Bom fosfor putih, DIME, dan depleted uranium? Itu adalah senjata-senjata pemusnah massal ilegal yang hanya pernah digunakan Israel (dan Amerika) dalam peperangan. Namun daftar senjata pemusnah massal yang digunakan Israel terhadap rakyat sipil tidak berhenti sampai di situ. Kini terbukti Israel juga menggunakan senjata yang tidak kalah keji, bom panah.

Bom ini berupa logam-logam besi sepanjang 4 cm berbentuk anak panah yang dimasukkan ke dalam bom konvensional. Sebanyak 5.000 sampai 8.000 anak panah besi kecil itu biasanya dimasukkan ke dalam peluru tank, mortir atau meriam. Bom akan meledak di udara menyemburkan anak-anak panah berkecepatan tinggi ke area seluas 3 hektar.

Bom ini sebenarnya dirancang untuk peperangan di dalam hutan atau semak-semak dan dilarang keras untuk digunakan dalam perang kota karena membahayakan penduduk sipil. Namun Israel, seperti biasa tidak peduli dengan etika maupun norma-norma perang yang berlaku di dunia. Bom-bom itu digunakan Israel dalam peperangan di Gaza baru-baru ini.

Amnesti Internasional awalnya hanya mendengar desas-desus penggunaan senjata ilegal tersebut. Namun setelah melakukan penyidikan singkat ditemukan banyak bukti nyata yang tidak bisa dibantah Israel.


Sebagai contoh pada tanggal 5 Januari di Izbat Beit Hanoun, sebuah desa di barat daya kota Beit Hanoun, beberapa bom panah ditembakkan Israel di tengah-tenah jalan raya membunuh dua warga Palestina dan melukai puluhan lainnya. Wafa' Nabil Abu Jarad, seorang ibu muda berumur 21 tahun yang tengah hamil, menjadi korban yang tewas dalam serangan itu. Menurut suami Wafa' saat itu keluarganya tengah minum-minum teh di depan rumah ketika bom-bom panah meledak di udara. Wafa dan suaminya serta seluruh keluarga segera berlari masuk rumah begitu terdengar ledakan. Namun Wafa' dan beberapa anggota keluarga lainnya terkena terjangan panah besi. Wafa' langsung tewas dan anggota keluarga lainnya mengalami luka-luka.

Pada hari yang sama seorang remaja berumumr 16 tahun, Islam Jaber Abd-al-Dayem tertembus panah besi di lehernya. Ia segera dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan intensif namun meninggal tiga hari kemudian. Saudara Islam, Mizar, terkena panah di punggungnya dan kini masih menjalani perawatan intensif dengan panah besi masih manancap di tulang punggungnya.

Sementara itu pada tanggal 7 Januari di desa al-Mughraqa, sebuah bom panah meledak di rumah Atta Hassa Aref Azzam yang tengah duduk-duduk bersama dua anaknya yang masih berumur 13 dan 2,5 tahun. Azzam dan kedua anaknya meninggal seketika. Ketika tim Amnesti Internasional mengunjungi rumah tersebut mereka menemukan dinding rumah penuh dengan darah dan anak panah besi yang menancap kuat.

Wednesday, 28 January 2009

Surat Terbuka Gilad Atzmon untuk Perdana Menteri Inggris


20 Januari 2009

Gordon Brown, Perdana Menteri Inggris, telah mengeluarkan kebijakan paling tidak bermoral dan tidak bertanggungjawab kemarin. Dalam upayanya untuk membujuk para kriminal pemimpin Israel, Brown telah menjamin akan mengirimkan angkatan laut Inggris ke Gaza untuk mencegah "penyelundupan senjata" ke Gaza.

Tuan Brown, tidakkah Anda melihat jumlah korban yang ditimbulkan oleh tentara Israel atas rakyat Palestina? Tidakkah Anda mengikuti, sebagaimana kita semua, pembunuhan keji terhadap rakyat Palestina oleh tentara Israel yang didukung penuh oleh seluruh rakyat Israel? Apakah Anda juga mengabaikan fakta penggunaan senjata terlarang terhadap rakyat sipil oleh tentara Israel. Apakah Anda tidak bisa belajar mengetahui laporan-laporan yang berulang-ulang tentang pemboman Israel atas tempat-tempat pengungsian milik PBB?

Tuan Brown, andai saja Anda tidak menyadari, rakyat Palestina sangat membutuhkan senjata untuk mempertahankan diri dari salah satu angkatan perang paling kuat di dunia. Rakyat Palestina-lah yang membutuhkan perlindungan terhadap salah satu kekuatan militer tidak bermoral sepanjang sejarah manusia. Selama tiga minggu terakhir rakyat Palestina membutuhkan angkatan laut Inggris untuk turut campur dan melindungi mereka dari pemboman membabi buta angkata laut Israel. Rakyat Palestina membutuhkan angkatan laut Inggris untuk memblokade pelabuhan Haifa, Ashdod dan Eilat (Israel) untuk mencegah Amerika mengirimkan senjata ke Israel melalui laut. Rakyat Palestina membutuhkan kapal induk Inggris untuk ditempatkan di wilayah Gaza sehingga membuat Israel tidak berani untuk menjatuhkan ton demi ton bom kepada penduduk sipil Gaza yang tidak berdosa.

Tuan Brown, perkenankan saya mengingatkan Anda bahwa beberapa minggu sebelum Israel menyerang Gaza, menlu Anda David Milliband telah mengunjungi Sderot untuk menunjukkan
dukungannya kepada Israel. Inilah yang dikatakannya saat itu: "Sangatlah penting bahwa negara-negara seperti Inggris dan yang lainnya, untuk menunjukkan solidaritasnya terhadap rakyat Sderot." Pernyataan idiot yang dikeluarkan oleh menteri senior kabinet Anda adalah jelas merupakan "restu" pemerintahan Anda terhadap rencana penyerbuan Israel.

Tuan Brown, jika Anda ingin menciptakan perdamaian di Timur Tengah, satu-satunya hal harus dilakukan adalah memastikan bahwa rakyat Palestina dapat mempertahankan dirinya sendiri. Anda harus memberikan kepada rakyat Palestina senjata-senjata paling canggih yang ada di Inggris. Inisiatif seperti itu akan menolong industri Inggris yang tengah limbung, menolong rakyat Palestina serta mencegah Israel melakukan pembantaian-pembantaian lagi di masa depan.

Untuk tidak terlalu bertele-tela, saya sampaikan daftar senjata pertahanan yang sangat dibutuhkan rakyat Palestina untuk mempertahankan diri:

* 3000 rudal darat ke udara
* 1000 meriam anti pesawat
* 750 peluru kendali darat ke laut
* 10,000 rudal Anti Tank
* 2000 ambulan
* 2500 rudal penjelajah


Catatan:
1. Gilad Atzmon adalah Yahudi anti-zionisme. Putra pahlawan Israel, musisi jazz, dan penulis. Karena kritik-kritiknya yang tajam terhadap zionisme Israel, Gilad seringkali mendapat ancaman pembunuhan hingga suatu saat ia berkata kepada teman-teman dekatnya: "Jika terjadi kematian yang misterius pada saya, kalian tahu siapa yang melakukan."
2. Blokade "anti-penyelundupan" yang dilakukan Inggris bersama negara-negara barat merupakan konspirasi untuk menghancurkan gerakan perlawanan Palestina atas Israel paska kekalahan Israel di Gaza baru-bar ini. Ini merupakan cara yang sangat keji. Sembari melakukan blokade, mereka melemparkan kesalahan kepada para pejuang Palestina dengan menimbulkan kesan seolah-oleh para pejuang Palestina adalah penyulundup dan kriminal.

Sunday, 25 January 2009

RAMALAN SANG WAKIL PRESIDEN


Beberapa waktu menjelang pemilu Amerika bulan November lalu, kandidat wakil presiden pasangan Barack Obama, Joe Biden, membuat “ramalan” yang mengejutkan tentang bakal terjadinya krisis global hebat yang akan terjadi tidak sampai enam bulan setelah Barack Obama terpilih menjadi presiden Amerika. Saat ini ramalan Biden tentang terpilihnya Obama telah terpenuhi. Kini kita tinggal menunggu ramalan krisis global hebat yang sangat boleh jadi jauh lebih hebat dari yang pernah kita bayangkan.

Sebagaimana ditulis ABC News tanggal 20 Oktober 2008, dalam kampanye terakhir di kota Seattle, Biden mengatakan kepada khalayak ramai: “Catat kata-kata saya. Tidak akan sampai enam bulan setelah terpilih, dunia akan menguji Barack Obama seperti menguji John Kennedy (Insiden Teluk Babi Kuba yang nyaris membawa dunia ke perang nuklir NATO melawan Pakta Warsawa). Saat ini dunia tengah menyaksikan. Kita akan segera memilih seorang senator brilian berumur 47 tahun untuk menjadi presiden Amerika. Ingat apa yang saya katakan. Hati-hati, kita akan menghadapi krisis internasional, krisis yang digerakkan, untuk menguji kematangan laki-laki ini (Obama). Saya bisa memberikan empat dari lima skenario yang mungkin bakal terjadi. (Biden menyinggung krisis Timur Tengah dan krisis dengan Rusia). Pada saat krisis itu terjadi, ia (Obama) membutuhkan dukungan Anda. Bukan bantuan keuangan, ia membutuhkan pengaruh Anda, pengaruh Anda di lingkungan sekitar Anda, untuk tetap mendukungnya. Karena saat itu apa yang kita dukung tampak tidak populer.”

Banyak pertanyaan muncul atas “ramalan” Joe Biden tersebut di atas.
Apa motif di balik pernyataan Joe Biden tersebut di atas?
• Informasi apakah yang ia miliki sehingga ia berani meramalkan dengan keyakinan tinggi tentang bakal terjadinya krisis global sebelum enam bulan masa pemerintahan Obama?
• Mungkinkah krisis yang bakal terjadi dimulai dengan peristiwa besar seperti Penyerangan WTC, atau bahkan peristiwa yang lebih hebat lagi?
• Mungkinkah peristiwa hebat pemicu krisis berupa ledakan nuklir di suatu tempat yang kemudian disalahkan kepada Iran, Syria, Rusia, Cina, atau musuh-musuh Amerika yang lain, yang dilanjutkan dengan penyerangan balasan Amerika?
• Mungkinkah krisis hebat tersebut berupa “Perang Dunia III”?

Keyakinan Joe Biden tentang krisis global mendatang tidak bisa lain bahwa ia mengetahui sebuah rencana rahasia tengah dilakukan oleh “penguasa di balik layar” untuk memicu terjadinya krisis.

Untuk menambah keyakinan ramalan Joe Biden bukanlah suatu yang mengada-ada (saat menyatakan ramalannya Joe Biden tentu tidak dalam keadaan mabuk, atau bermaksud iseng) adalah bahwa kabinet Barack Obama adalah sekumpulan elit yang tergabung dalam kelompok-kelompok rahasia yang bekerja bekerja secara simultan untuk mewujudkan pemerintahan global yang dipimpin oleh seorang pemimpin dunia. Kelompok-kelompok rahasia tersebut adalah: Trilateral Commision (TC), Council on Foreign Relation (CFR), Bilderberger Group, dan Center for American Progress. Semua organisasi itu terikat dalam satu kepentingan: memperjuangkan terbentuknya negara Israel Raya (zionisme) dan dominasi Yahudi atas dunia (jehudaisme).

Joe Biden sendiri, mantan senator sejak tahun 1979-2008, adalah seorang zionis tulen, kulit putih penjilat Yahudi. Dalam sebuah acara televisi Israel, Shalom TV, mengatakan dengan tegas, “Saya seorang zionis. Tidak harus menjadi orang Yahudi untuk menjadi seorang zionis.”


Catatan:
Saya ingin mengingatkan situasi sebelum meletusnya Perang Dunia II. Saat itu sentimen anti-Yahudi sangatlah kuat terjadi di Eropa menyusul terbongkarnya berbagai keculasan Yahudi. Kaum Yahudi pun berada di ujung tanduk, terutama setelah Hitler dan Mussolini serta para pemimpin negara Eropa Timur bersekutu untuk mengembalikan kejayaan ras kulit putih (Arian) yang hancur karena konspirasi Yahudi selama berabad-abad, sekaligus menghancurkan kekuatan Yahudi ke akar-akarnya.

Maka kaum Yahudi menjalankan skenario yang telah tercantum jelas dalam Protocol Zion: "Jika ada negara yang memusuhi Yahudi, maka Yahudi akan menyerangnya melalui negara tetangganya. Namun jika negara-negara bersekutu memusuhi Yahudi, maka Yahudi akan mengobarkan perang dunia".

Dan terjadilah skenario itu. Menggunakan tangan Polandia (tetangga Jerman), Yahudi memprovokasi Jerman dalam kasus wilayah Sudetan. Sudetan adalah wilayah Jerman yang oleh sekutu pemenang Perang Dunia I, diserahkan kepada Polandia sebagai bom waktu. Jerman yang merasa dirugikan karena wilayahnya terbelah, meminta Sudetan diserahkan kembali kepada Jerman dengan imbalan tertentu, atau setidaknya Jerman diberi keleluasaan untuk memasuki wilayah Sudetan. Awalnya Polandia bersedia negosiasi, namun kemudian menolak permintaan Jerman setelah “dikompori” Perancis dan Inggris. Jerman menyerang Polandia. Inggris dan Perancis menyatakan perang kepada Jerman. Pecahlah Perang Dunia II.

Perang Dunia menjadi momentum sangat berharga bagi Yahudi. Ia berhasil membalikkan keadaan kaum Yahudi dari kaum yang terancam penghancuran, menjadi kaum yang paling berkuasa. Melalui antek-anteknya para politisi kulit putih dan didukung sumber dana yang tak terbatas, mereka mendirikan tata dunia baru dengan organisasi-organisasi dunia yang dengan kuat namun secara diam-diam, melindungi eksistensi mereka. Mereka menentukan opini publik. Menyebarkan ketakutan terhadap sentimen anti-Yahudi. Menjadikan Amerika sebagai pelindung yang kuat bagi mereka. Pendek kata setelah Perang Dunia II mereka menguasai semua strata politik, sosial, ekonomi, dan militer dunia.

Kini sentimen anti-Yahudi kembali menguat kembali karena teknologi informasi yang canggih (terutama internet) yang telah membongkar kejahatan-kejahatan Yahudi. Kondisi ini sangat mengancam eksistensi mereka. Maka mereka memerlukan sesuatu untuk mengembalikan posisi mereka. Suatu peristiwa besar yang setara, atau bahkan lebih besar, dari Perang Dunia II.

Jadi, sehubungan dengan ramalan Joe Biden, berhati-hatilah menghadapi kondisi ke depan!

PERANG LAIN YANG BERLANGSUNG DI BOLIVIA


Andai saja diadakan pooling di Palestina mengenai negara asing mana yang paling dihormati rakyat Palestina, sangat boleh jadi Bolivia adalah negaranya. Hal ini bukan mengada-ngada karena rakyat Palestina suka mengusung gambar Presiden Bolivia Evo Morales dalam aksi demo-demo mereka menentang Israel dan Amerika. Dan hal ini bukan tanpa alasan logis. Bolivia telah menunjukkan dukungan moral tiada tara kepada rakyat Palestina, khususnya saat diserang Israel dalam aksi penyerbuan brutal Israel atas Gaza baru-baru ini.

Tanpa memiliki hubungan sejarah dan kultural, dan dipisahkan olah jarak ribuan mil dari Palestina menyeberangi lautan dan benua, Presiden Bolivia Evo Morales bersama koleganya dari Venezuela, Hugo Sanchez, telah menunjukkan simpati yang luar biasa terhadap rakyat Palestina dengan memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel dan mengusir duta besarnya dari Bolivia. Rakyat Bolivia pun sejalan dengan sikap pemerintahnya, menggelar berbagai aksi demonstrasi menentang agresi Israel atas Palestina. Mereka mengibarkan bendera Palestina dan membakar bendera Israel dan Amerika.

Seandainya saja Bolivia masih memiliki hubungan dengan Amerika, hampir pasti hubungan itu pun akan diputuskan dan dubes Amerika pun diusir pergi sebagai protes atas dukungan Amerika atas kekejian Israel. Namun sayangnya hubungan diplomatik kedua negara telah dibekukan dan dubes Amerika telah diusir pergi bulan September tahun lalu karena tuduhan terlibat dalam konspirasi menentang pemerintah.

Kini, saat rakyat Palestina bernafas lega menyusul gencatan senjata di Gaza, rakyat Bolivia justru harus melakukan peperangan yang lain, yaitu perang memperjuangkan konstitusi baru yang akan diputuskan melalui referendum tanggal 25 Januari. Sebelumnya pada bulan Oktober tahun lalu referendum tersebut disetujui parlemen untuk dilaksanakan, setelah melalui perjuangan politik yang panjang.

Berbagai aksi demonstrasi mendukung konstitusi baru yang lebih menguntungkan penduduk asli mayoritas dilakukan para pendukung Presiden Evo Morales dari partai Movement Toward Socialism (MAS) beberapa hari terakhir. Demonstrasi pendukung konstitusi baru tanggal 18 Januari lalu di ibukota La Paz, dihadiri oleh Presiden Morales yang mengenakan kalung terbuat dari daun koka sebagai simbol perjuangan Morales mengangkat harkat martabat warga asli Bolivia (Indian) yang hidup dari bertani koka. (Pemerintah Amerika sering berkampanye memberangus tanaman koka yang merupakan bahan baku kokain. Namun sebenarnya secara tradisional, sebagaimana ganja, koka merupakan bahan baku obat-obatan dan makanan).

Referendum untuk mengubah konstitusi negara menjadi lebih berpihak kepada rakyat mayoritas sebenarnya telah didahului oleh dua negara lain di Amerika Selatan, yaitu Venezuela tahun 1999 dan Ekuador tahun 2008. Jika referendum di Bolivia ini berhasil, maka kecenderungan rakyat Amerika Selatan untuk berpaling dari sistem liberal kapitalis semakin kuat. Negara-negara lain di Amerika Selatan, termasuk yang terbesar seperti Brazil dan Argentina, dalam tingkat yang lebih rendah juga telah menunjukkan kecenderungan serupa.

Konstitusi baru ini di antaranya akan membatasi pembelian tanah menjadi maksimal 5.000 hektar. Selama ini kebanyakan rakyat petani hanya bisa memiliki sedikit tanah karena sebagian besar telah dimiliki para tuan tanah. Selain itu konstitusi baru juga akan memberkan hak lebih besar kepada negara untuk menguasai sumber-sumber alam yang selama ini banyak dikuasai asing.

“Saudara-saudaraku sekalian, kami percaya kepada Anda semua, kami percaya kepada rakyat Bolivia, untuk dapat mengubah Bolivia menjadi negeri milik rakyat Bolivia. Namun kita memerlukan konstitusi untuk mensahkan perubahan itu,” kata Morales kepada khalayak dalam pidatonya tanggal 18 Januari lalu. Wajah Morales tampak lelah, tidak mengherankan karena ia telah berkeliling seluruh negeri untuk memperjuangkan konstitusi baru.

Menurut Morales, konstitusi baru akan memasukkan kebutuhan kebutuhan dasar masyarakat seperti air, gas, listrik, dan kebersihan sebagai hak dasar rakyat yang dipenuhi oleh negara sebagaimana pendidikan dan kesehatan. Konstitusi baru juga akan mencegah kepentingan asing, terutama Amerika untuk bercokol di Bolivia. Morales juga membantah rumor yang disebarkan oleh lawan-lawan politiknya bahwa konstitusi baru akan melegalkan aborsi dan homoseksual. Sebagian besar rakyat Bolivia adalah penganut Katholik yang teguh menentang aborsi dan homoseksual. Lebih jauh Morales menjamin konstitusi baru akan memperkuat hak-hak warga asli Bolivia yang jumlahnya mayoritas namun selama ini terpinggirkan secara ekonomi dan politik.


Sejarah Konstitusi Bolivia

Selama beberapa tahun terakhir, terutama sejak dekade 1990-an, di Bolivia muncul gerakan di kalangan warga asli indian untuk mendapatkan hak-hak politik dan ekonomi yang lebih baik yang selama ini dikuasai oleh warga keturunan kulit putih dan indo mestizo (campuran kulit putih dan indian). Mereka berjuang melalui gerakan Movement Toward Socialism (MAS) yang juga mendapat dukungan dari partai-partai kiri dan mahasiswa.

Sejak merdeka dari penjajahan Spanyol tahun 1826 hingga saat ini Bolivia telah memiliki 16 konstitusi dan enam amandemen konstitusi. Konstitusi pertama dibuat langsung oleh pejuang kemerdekaan Simon Bolivar tahun 1826 yang menjamin sistem negara yang “liberal demokrat”. Namun hampir semua konstitusi yang berlaku tidak pernah efektif berjalan. Selain itu semua konstitusi juga menciptakan diskriminasi dengan membedakan warga negara Bolivia dua kategori: “Orang Bolivia” dan “Warga Bolivia”. “Orang Bolivia” adalah untuk orang yang lahir di Bolivia atau orang asing yang menikah dengan orang Bolivia, atau orang asing yang mendapat kewarganegaraan Bolivia melalui keputusan pemerintah. Sedang “Warga Bolivia” adalah orang Bolivia yang berpendidikan dan memiliki harta benda (tanah dan rumah). Warga asli Bolivia secara otomatis hanya berstatus “Orang Bolivia”, tidak peduli ia memiliki harta benda dan berpendidikan tinggi.

Bagi golongan mapan atau established, yang kebanyakan adalah warga keturunan kulit putih, indo mestizo (keturunan kulit putih dan indian), pemilik tanah, pengusaha kaya, profesional, politisi dan birokrat sipil dan militer, konstitusi ini justru dianggap membahayakan status sosial-politik-ekonomi mereka yang sudah mapan selama turun-temurun. Melalui bendera partai Revolutionary Nationalist Movement (MNR), mereka mengorganisir berbagai aksi menolak konstitusi. Secara diam-diam mereka juga mendapatkan dukungan pemerintah Amerika yang banyak menanamkan investasi di negeri itu. Aksi penolakan mereka bahkan sampai berujung pada aksi pemberontakan dan pembunuhan terhadap pendukung Morales. Namun setelah bulan Oktober 2008 dimana parlemen menyetujui pelaksanaan referendum, aksi mereka terbatas pada aksi-aksi demonstrasi dan perang opini di media massa.

Pada tgl 21 Januari lalu misalnya, bentrokan antar pendukung dan penentang konstitusi di Plaza de Estudiantes tempat dimana sehari sebelumnya Presiden Evo Morales berpidato. “Kau para pengkhianat, tidak mempunyai agenda apapun (kecuali mempertahankan status quo). Kami yang mempunyai rencana nyata untuk negeri,” kata pemimpin kelompok pendukung konstitusi baru melalui microphone. Kalah jumlah, para penentang konstitusi baru pun mengundurkan diri.

Sama dengan aksi-aksi sebelumnya, massa pendukung konstitusi baru mengibarkan bendera Palestina dan gambar-gambar aksi kekejaman Israel di Jalur Gaza.


Perang Opini Media Massa

Secara umum, media massa yang sebagian besar dimiliki para pengusaha kaya, memihak penentang konstitusi baru. Sebagai contoh El Diario menulis headline berjudul “Bolivia akan Kembali ke Barbarisme”, merujuk pada praktik hukum adat yang masih berlangsung di banyak daerah, yang menurut konstitusi baru akan diakui sebagai sistem hukum formal Bolivia.

Untuk menandingi perang opini yang tidak berimbang itu, Evo Morales membuat koran baru yang dimiliki pemerintah bernama “Cambio” yang artinya adalah “perubahan”. Koran baru itu dirilis tgl 22 Januari lalu. “Kami mengorganisir diri, kami mempersiapkan diri dengan media untuk menyampaikan kebenaran ke publik Bolivia. Koran baru ini bukan untuk memalukan siapapun, kecuali untuk memberikan informasi dan mendidik kita,” kata Morales tentang koran baru tersebut.


Kontroversi Konstitusi Baru

Di luar aksi-aksi pro dan kontra baik dari MAS maupun MNR, para aktivis dari partai-partai kiri (sosialis-komunis) menganggap konstitusi baru yang diperjuangkan MAS dan Presiden Evo Morales masih kurang keras dalam memperjuangkan hak-hak rakyat dan memerangi liberalisme-kapitalisme. Mereka menunjuk konstitusi baru tidak mengutak-atik status tanah yang sebagian besar dimiliki oleh segelintir tuan tanah (konstitusi hanya mengatur jual-beli tanah maksimal 5.000 hektar). Mereka juga menganggap konstitusi baru masih terlalu konservatif dengan melarang praktik aborsi dan homoseksual.

Namun terlepas dari itu, kebanyakan rakyat Bolivia akan mendukung konstitusi baru itu karena beberapa alasan: menuntut keadilan, menentang kemiskinan, menentang dominasi kalangan mapan (established), menentang dominasi asing (yang berkolaborasi dengan kalangan mapan mengeruk sumber alam Bolivia), menentang rasialisme, dan menentang aksi-aksi kekerasan yang sering dilakukan kalangan mapan.

Thursday, 22 January 2009

(Lagi-lagi) Paradoks Amerika


Ini hanya sebagian kecil dari banyak paradoks yang dimiliki Barrack Obama selain status kelahirannya yang tidak jelas: anak haram atau anak sah (ingat saat lahir ibunya baru berumur 17 tahun, jelas dilarang menikah dalam hukum Amerika), lahir di Kenya atau di Amerika (nenek dan kerabatnya yang di Kenya serta pejabat Kenya mengklaim bahwa Obama lahir di Kenya, plus Obama tidak bersedia menunjukkan kartu kelahirannya, sehingga secara konstitusi tidak berhak untuk menjadi Presiden Amerika yang mensyaratkan seorang presiden harus lahir di Amerika). Atau paradoks lainnya tentang kebisuannya atas tragedi kemanusiaan di Gaza akibat agresi Israel, padahal ia berteriak lantang bagaikan singa, tentang berbagai masalah dunia seperti masalah nuklir Iran, Afghanistan, Irak, dan tentang krisis keuangan global.

Menjelang pelantikannya sebagai presiden terbongkar kasus menteri keuangan pilihannya, Tim Geithner, mengemplang pajak selama empat tahun.

Seorang menteri keuangan mengemplang pajak? Orang dengan kecerdasan minimal saja tahu bahwa hal itu tidak pantas dan tidak bisa dibiarkan seperti tidak pantasnya seorang ulama berkunjung ke rumah bordil.

Namun apa kata Obama tentang kasus itu? "Oh itu adalah kesalahan yang tidak disengaja," katanya. Media massa pun, yang berjasa memoles Obama menjadi "ratu adil yang ditunggu-tunggu" itu setali tiga uang. "Oh begitu tuan Presiden?". Dan Geitner pun aman pada jabatannya

Bandingkan dengan kasus Eliot Spitzner, Gubernur New York yang tersandung kasus asusila hingga harus mengundurkan diri dari jabatan. Dengan keji media massa Amerika menguliti kejahatan Spitzner seperti ia adalah seorang pembunuh kejam yang telah membunuh belasan orang. Masa lalunya yang kelam pun dibongkar kembali meski harus menyakiti hati orang-orang terdekat Spitzner. Kesalahannya adalah: ia gemar "jajan" sebagaimana kegemaran hampir semua laki-laki dewasa Amerika.

Tragisnya kemudian media massa seluruh dunia termasuk Indonesia mengikuti dengan membabi buta. Beberapa media massa nasinoal bahkan menuliskan kasus itu lengkap dengan foto Spitzner di halaman depan. Sebuah group media terbesar Indonesia menulis kasus tersebut di halaman depan semua korannya yang jumlahnya puluhan. Tidak tanggung-tanggung, penulisnya adalah sang pimpinan tertinggi group media massa itu sendiri.

Fakta yang tidak diungkap media massa adalah Spitzner, meski berdarah Yahudi, sering mengungkap kejahatan orang-orang Yahudi di New York sehingga membuat komunitas Yahudi marah kepadanya. Setelah peringatan mereka tidak digubris, maka diputuskan: Spitzner harus dihentikan. Spitzner masih beruntung, karena keputusan seperti itu pada orang lain berarti dilenyapkan dari muka bumi.

Dan lihatlah kasus yang menimpa Gubernur Illinois, Blagojevich, yang ditangkap polisi setelah ketahuan berusaha menjual kursi jabatan senator yang lowong setelah Barack Obama terpilih sebagai presiden. Blagojevich, sebagai gubernur berhak menentukan siapa yang akan mengisi kursi tersebut. Sebagai warga negara kapitalis, yang upacara pelantikan presidennya saja dibisniskan (keuntungan bisnis pelantikan Barack Obama mencapai $8 miliar dengan asumsi jumlah tamu undangan yang membayar sebanyak 1 juta orang dan tiket undangan yang dijual seharga $8.000), wajar jika ia pun membisniskan kursi jabatan senator peninggalan Barrack Obama.

Namun tiba-tiba saja, sebagaimana kasus Spitnzer, pers Amerika berubah menjadi persnya rezim Taliban atau pers rejim Wahabi Arab Saudi yang sangat ketat menjaga akhlak ummat hingga ke urusan dapur.

Ketika Obama ditanya pers tentang kasus itu, Obama dan para penasihatnya mengklaim bahwa Blagojevich bertindak tanpa sepengetahuan Obama. Namun kemudian terbongkar fakta bahwa para penasihat terdekat Obama, Rahm Emmanuel dan David Axelrod, keduanya Yahudi (ma'af, bukannya masalah RAS) telah bertemu dengan Blagojevich sebelumnya membicarakan soal kursi jabatan tersebut.

Agresi ke Gaza, Ekspor Buah Israel Diboikot


Agresi Israel atas Gaza telah memukul sektor pertanian negeri bangsa Yahudi tersebut. Menurut laporan media Israel, Ynet News tgl. 16 Januari lalu, ekspor buah-buahan Israel ke beberapa negara Eropa dan Jordania mengalami penurunan tajam setelah terjadinya agresi Israel atas Gaza sejak tgl 27 Desember 2008 lalu.

"Setelah perang sejumlah negara dan distributor telah membatalkan pemesanan," kata Giora Almagor, seorang petani buah yang tinggal di kota Bitzaron kepada Ynet News.

Menurut Giora banyak produk buah-buahan ekspor yang harus disimpan di gudang akibat pembatalan pesanan dari luar negeri, terutama Inggris, negara-negara Skandinavia dan Jordania.

"Akibat pembatalan itu kami mengalami kerugian cukup besar karena semakin lama disimpan di gudang, semakin turun kualitas dan harganya. Lagipula kami masih harus membayar biaya penyimpanan yang tidak kecil," tambah Giora.

Ilan Eshel, direktur asosiasi petani buah Israel mengatakan, di negara-negara Skandinavia seperti Swedia, Norwegia dan Denmark terdapat kecenderungan untuk memboikot produk-produk Israel meski secara resmi tidak ada perubahan sikap politik pemerintah, terutama setelah agresi Israel atas Gaza.

"Keadaan sangat mengkhawatirkan. Setiap saat suara-suara untuk memboikot produk-produk Israel semakin nyaring terdengar. Sebelum agresi Israel kami memiliki prospek bisnis yang bagus meski agak menurun akibat krisis ekonomi yang melanda Eropa."

Buah-buahan andalan ekspor Israel adalah alpukat, persimmon, citrus dan markisa Israel yang terkenal dengan sebutan buah Sabra.

Keterangan gambar: buah Sabra atau markisa Israel.

HAL-HAL GILA LAINNYA DI INDONESIA


Anda mungkin menganggap saya paranoid atau bahkan "gila" dengan semua pandangan saya mengenai apa yang terjadi di sekitar kita.

Baik, saya akan menjadi manusia-manusia Indonesia normal seperti Anda, yang menganggap "everything is okey". Tapi dengan syarat: jelaskan kepada saya tentang dua hal berikut ini.

Pertama tentang fenomena Achmad Zaini. Tahu khan, petani miskin lugu yang beberapa bulan lalu tiba-tiba saja mengaku memiliki harta berupa emas senilai Rp 20.000.000.000.000.000? Dengan hartanya itu Zaini menyatakan siap membantu setiap penduduk Indonesia maupun pemerintah untuk mengatasi persoalan ekonomi bangsa.

Tidak tanggung-tanggung, untuk menyatakan maksudnya itu Zaini mengadakan ekspos besar-besaran di hotel bintang lima dan dimeriahkan oleh artis-artis ternama. Dipastikan ratusan juta dihabiskan dalam acara itu.

Lalu apa yang terjadi? Zaini lenyap bak ditelan bumi.

Kalau ada pembaca yang bisa menjelaskan secara rasional apa, siapa dan dimana Zaini serta motif di balik ekspos yang dilakukan Zaini (jangan katakan Zaini hanya iseng karena jawaban itu terlalu "wagu tur lucu" alias tidak tepat lagipula lucu), dan mengapa polisi tidak menangkap Zaini karena telah melakukan penipuan, maka saya akan menjadi manusia Indonesia normal seperti Anda. Saya akan tutup blog ini dan menjalani kehidupan sebagaimana adanya. (Tapi perlu dicatat kalau blog ini tiba-tiba tidak bisa diakses tanpa ada pemberitahuan dari saya sebelumnya, maka saya akan kembali menjadi manusia paranoid "gila").

Yang kedua adalah fenomena Arthalyta Suryani. Itu lho, bendahara konglomerat Syamsul Nursalim yang terbukti menyuap para petinggi Kejaksaan Agung. Bukankah secara logika, termasuk bukti-bukti yang terungkap menunjukkan bahwa Arthalyta hanyalah tangan kanan dari Syamsul Nursalim? Mengapa Syamsul Nursalim tidak terseret oleh kasus penyuapan Arthalita? Mengapa media massa yang (katanya) kritis dengan segala moto idealis yang dimilikinya pura-pura buta atas keterlibatan Syamsul Nursalim?

Bagi pembaca yang bisa menjelaskan dengan logika jernih motif dari Arthalyta menyuap para jaksa hingga miliaran rupiah (jangan katakan motif jual beli berlian atau buka bengkel karena terlalu "wagu tur lucu" alias tidak tepat lagipula lucu), maka saya akan menjadi manusia Indonesia normal seperti Anda. Saya akan tutup blog ini dan menjalani kehidupan sebagaimana adanya. (Tapi perlu dicatat kalau blog ini tiba-tiba tidak bisa diakses tanpa ada pemberitahuan dari saya sebelumnya, maka saya akan kembali menjadi manusia paranoid "gila").

Keterangan gambar: Achmad Zaini dan sekretarisnya yang mengaku bernama Zakiroh. Lenyap ditelan bumi setelah membuat ekspos mengejutkan.

Monday, 19 January 2009

HAL-HAL TAK MASUK AKAL YANG MENJELANG DATANG



(ORANG-ORANG SEPERTI INI YANG MENDOMINASI TELEVISI INDONESIA SELAIN JULIA PEREZ DAN AZHARI BERSAUDARI)

Bayangkan hal ini terjadi di masa depan. Presiden Indonesia terpilih adalah seorang keturunan Cina yang tidak jelas status kelahirannya (anak sah atau anak haram). Lahir di Hongkong dan besar di Singapura. Menjadi warga negara Indonesia melalui proses naturalisasi setelah menjadi menantu orang berpengaruh di Indonesia. Agamanya tidak jelas apakah Islam atau Buddha meski ia kawin secara Islam. Dan ketika dilantik, seorang ulama homo menjadi pembaca do’a. Anda pasti akan tertawa dan menganggap hal itu “gila” dan tidak masuk akal.

Hal yang sama juga terjadi di Amerika. Sepuluh tahun yang lalu warga Amerika tidak pernah membayangkan akan dipimpin oleh seorang presiden kulit hitam yang lahir di Kenya, hasil hubungan gelap seorang negro Kenya beragama Islam dan wanita kulit putih Amerika beragama Kristen.

Bukankah konstitusi kita dengan jelas menyebutkan bahwa presiden Indonesia adalah warga negara Indonesia asli?

Baik. Konstitusi Amerika juga menyebutkan presiden Amerika adalah warga negara Amerika kelahiran Amerika. Namun Barack Obama, seorang warganegara Kenya (berdasarkan kewarganegaraan ayahnya) dan lahir di Kenya (menurut pengakuan neneknya dari pihak ayah, sanak keluarga ayahnya, dan para pejabat Kenya. Obama sendiri tidak memiliki surat keterangan lahir di wilayah Amerika. Paling tidak sampai sekarang Obama tidak pernah bisa menunjukkan surat keterangan kelahiran itu, setidaknya kopiannya. Untuk mencegah tuntutan publik yang mempertanyakan legitimasi kelahirannya Obama membayar $800.000 kepada pengadilan), bisa menjadi Presiden Amerika.

Bukankah nenek moyang kita berasal dari Cina Selatan? Jadi apa masalahnya jika seorang keturunan Cina menjadi Presiden Indonesia. Khususnya jika ia, atau para penyumbang dananya, mempunyai berpundi-pundi uang untuk membayar pengacara handal, polisi, jaksa, hakim, dan politisi?

Lalu bagaimana soal ulama homo itu?

Baik. Di Amerika pun dua puluh tahun lalu homoseksual merupakan suatu aib sosial dan kejahatan moral. Namun berkat “perjuangan keras” tiada henti dari “orang-orang liberal”, “pembela HAM”, “tokoh Kristen liberal” yang didukung kuat oleh media massa “pers bebas” dan “politisi liberal-demokrat”, sekarang tidak menjadi soal seorang homo menjadi pendeta. Dan saat Obama dilantik, salah satu pendeta homo itu menjadi “pendeta resmi” pelantikan.

Maka jika para “pejuang HAM” seperti Adnan Buyung, “tokoh Demokrasi” seperti Todung Mulya Lubis, dan “cendekiawan muslim Liberal” seperti Musdah Mulia berteriak setiap hari di media-media massa membela homoseksual, tidak akan mengherankan jika nanti keberadaan seorang ulama homo tidak lagi menjadi masalah.

Lihat saja, setiap hari kita disuguhi aksi para homo, banci dan sebagainya selain pornoaksi Inul, Dewi Persik dan Julia Perez di televisi. Para artis normal pun dipaksa berdandan dan beraksi seperci banci. Demi uang dan popularitas para artis seperti Andre Taulani, oke-oke saja dipermak menjadi bencong. Sementara homo pembunuh berantai yang keji, Ferry, diperlakukan seperti selebritis: bisa mengadakan jumpa pers, menulis buku dan membuat album. Suatu saat mungkin saja Ferry menjadi ustadz setelah mengaku di depan publik telah bertobat. Ia mungkin saja bahkan mendapat kehormatan untuk membacakan doa pada acara pengambilan sumpah jabatan Presiden Indonesia.

Lihat saja bagaimana Musdah Mulia, seseorang yang mengaku dan digaung-gaungkan sebagai mujahid pemikiran Islam moderen, alias Islam Liberal. Tanpa merasa risih sedikit pun ia mengkampanyekan homoseksual sebagai sebuah rahmat Allah. Islam yang selama 14 abad tidak memberi tempat sedikit pun untuk homoseksual, tiba-tiba hendak diacak-acak oleh Musdah, wanita yang selama kuliah di Amerika (kemungkinan besar atas bea siswa Yahudi Amerika) melepas jilbab. Ironis-nya penghancur nilai-nilai Islam itu mendapat jabatan penting di Departemen Agama. Sekali lagi membuktikan kuatnya pengaruh Yahudi di birokrasi Indonesia. Dan lihatlah hasilnya: Departemen Agama yang dikelola oleh para santri dan ustad itu menjadi salah satu departemen paling korup di Indonesia.

Oke, mungkin jadi pertanyaan: bukankah isu ras-suku-agama masih sangat kuat di Indonesia sehingga orang yang non-Jawa dan non-Islam tidak mungkin bisa menjadi Presiden. No problem, itu bisa diakali dengan penghitungan suara pemilu secara elektrik. Ada banyak software yang bisa dibeli di pasaran untuk menjadi mesin penghitungan pemilu, hampir semuanya buatan Israel atau orang Yahudi. Mesin penghitung suara pemilu seperti itu pula yang digunakan di Amerika.

Jadi masalah “gila” dan “tidak masuk akal” terpecahkan.