Wednesday, 25 February 2009

AFGHANISTAN, PERANG UNTUK HEROIN


Di antara ratusan bangsa di dunia, Afghanistan menempati tempat terhormat di mata penulis. Bukan karena kekayaan alamnya, bukan karena keunggulan teknologinya, bukan karena kemajuan sosial-ekonomi-politiknya, juga bukan karena keramah-tamahan penduduknya. Melainkan karena sejarahnya yang penuh dengan penaklukan terhadap bangsa-bangsa penjajah.

Sebut satu per-satu para penakluk dunia. Sebagiannya pernah merasakan getirnya perlawanan rakyat Afghanistan. Darius Agung raja Persia, Alexander Agung dari Machedonia, Kerajaan Inggris Raya, Jenghis Khan, Shah Iran, Moghul Raya dari India, hingga superpower Uni Sovyet. Dan kini kita menyaksikan satu lagi kekuatan superpower dunia, Amerika dan sekutu-sekutunya, terluka parah dan menjelang kalah di Afghanistan.

Presiden Amerika Barack Obama telah memerintahkan penambahan pasukan Amerika di Afghanistan sebanyak 17.000 pasukan tambahan hingga total pasukan Amerika akan mencapai 50.000 personil. Namun hal itu tidak akan banyak mengubah keadaan. Bahkan 240.000 pasukan Uni Sovyet pun gagal mengalahkan gerilyawan Afghanistan.

Kita manyaksikan angka kematian pasukan sekutu di Afghanistan semakin tinggi dari tahun ke tahun. Memang tidak sebanding dengan tingkat kematian prajurit sekutu dalam perang dunia. Namun menjadi penting untuk dipertanyakan, untuk apa para prajurit itu tewas? Untuk membawa demokrasi ke Afghanistan? Mencegah menyebarnya radikalisasi Islam di kawasan Kaukasus dan Asia Selatan? Atau, jauh dari perkiraan kebanyakan orang, demi keuntungan bisnis heroin yang menggiurkan.

Alternatif terakhir ini jauh dari perkiraan orang karena memang tidak akan pernah dipublikasikan di media-media massa utama. Namun faktanya adalah: Produksi opium dan produk turunannya, heroin, meningkat tajam justru setelah pasukan sekutu pimpinan Amerika menduduki Afghanistan. Padahal saat berkuasa rejim Thaliban telah menumpas habis produksi opium di Afghanistan.

Selama ini perang Afghanistan dipersepsikan media massa sebagai "peperangan yang baik" dibandingkan perang Irak yang dianggap sebagai "peperangan yang buruk". Baik karena Afghanistan adalah tempat persembunyian Osama bin Laden yang dianggap bertanggungjawab atas tragedi WTC 2001 sehingga pantas diserang. Buruk karena alasan perang, yaitu senjata pemusnah massal, ternyata tidak ditemukan di Irak. Yang terjadi sebenarnya adalah perang Afghanistan telah menjadi perang paling kotor dalam sejarah, yaitu perang untuk menguasai perdagangan obat terlarang.

Selama bertahun-tahun pemerintah Amerika sebenarnya telah bangkrut dan tidak mampu membiayai aktivitasnya. Tanpa kewenangan mencetak uang, pemerintah harus meminjam kepada bank sentral atau bank-bank swasta lainnya untuk membiayai anggaran belanjanya termamsuk membiaya kebijakan pemberian talangan (bailout) kepada perusahaan-perusahan yang bangkrut karena krisis keuangan akhir-akhir ini. Dengan kebijakan fiskal yang jauh dari bijak: pemborosan anggaran, defisit belanja negara, dan pro-hutang, pemerintah Amerika terjerumus dalam jeratan hutang yang tak terbayar. Saat ini hutang pemerintah mencapai 11 triliun dolar, padahal saat Perang Dunia II hutang pemerintah adalah 0 dollar.

Untuk membiayai aktivitas intelegennya di seluruh dunia yang mencapai ratusan miliar dolar setahun, Amerika harus inovatif mencari sumber pemasukan. Dan perdagangan heroin (produk turunan dari opium dengan harga berlipat ganda) dari Afghanistan menjawab tantangan itu. Kasus Iran-Contra semasa Presiden Ronald Reagan telah membuktikan inovasi inteligen Amerika yang memanfaatkan bisnis ilegal perdagangan senjata dana obat-obatan sebagai sumber dana. Kini bisnis obat terlarang yang lebih massif berlangsung di Afghanistan, negeri yang tengah diduduki Amerika.

Produksi heroin Afghanistan kini telah mencapai skala industri. Jutaan galon bahan kimia campuran opium untuk memproduksi heroin, diangkut ke Pakistan dengan kapal tanker. Kemudian diangkut dengan konvoi trailer ke pabrik-pabrik di Afghanistan Utara, wilayah yang masih dikuasai para komprador Amerika. Untuk memuluskan jalan, mereka menyuap kepala-kepala suku termasuk komandan-komandan gerilyawan yang wilayahnya dilalui konvoi tersebut. Bukan hal aneh jika konvoi-konvoi itu justru dikawal oleh para gerilyawan Afghanistan yang duduk di kap atas mobil trailer untuk mengamankan jalan.

Saat berkuasa Taliban boleh saja menetapkan hukuman keras bagi bisnis obat-obatan terlarang. Namun di negeri yang rapuh seperti Afghanistan, tidak ada jaminan hukuman itu berlaku efektif di tingkat bawah.

Presiden Karzai, mantan pegawai perusahaan minyak Amerika, mungkin termasuk orang yang relatif baik di Afghanistan dalam standar perlakuan terhadap para penentangnya. Ia tidak pernah membunuh rival-rival politiknya. Beda jauh misal dengan Jendral Rashid Dostum, deputi menteri pertahanan dan panglima angkatan bersenjata Afghanistan, yang pernah memukuli seorang anggota parlemen di muka umum karena telah mempermalukannya. Dostum juga pernah menggilas orang dengan tank dan memanggang hidup-hidup orang-orang di dalam kontainer tertutup. Semuanya terjadi setelah Amerika "membawa demokrasi" ke Afghanistan.

Namun Karzai tidak lebih dari pemimpin boneka. Ia berteriak-teriak mengecam aksi pemboman Amerika di wilayah perbatasan Afghanistan-Pakistan yang menewaskan puluhan warga sipil. Amerika tidak peduli.

Dostum beretnis Uzbek. Ia mengontrol perbatasan Afghanistan-Uzbekistan, dan berteman baik dengan Presiden Uzbekistan, Islam Karimov. Di bawah pengawasannya dan pengawasan Karimov konvoi kendaraan pengangkut heroin produksi Afghanistan melaju mulus ke wilayah Uzbekistan untuk kemudian diteruskan ke Rusia. Dari Rusia produk-produk haram itu kemudian menyebar ke seluruh dunia utamanya ke Amerika.

Litvinenko, seorang agen rahasia KGB, menemukan jaringan bisnis heroin Rusia yang berpusat di St Petersburg, melibatkan para pejabat tinggi Rusia. Ia melaporkan hal ini ke presiden Vladimir Putin. Putin berasal dari St. Petersburg, dan nama-nama yang dilaporkan Litvinenko adalah orang-orang dekat Putin. Maka Litvinenko harus membayar mahal dengan nyawanya. Ia memang berhasil melarikan diri ke Inggris. Namun agen rahasia Rusia berhasil menuangkan racun ke makanan kesukaannya. Kasus kematiannya sempat membuat tegang hubungan Rusia-Inggris. Namun demi kepentingan lebih besar kasus tersebut untuk sementara dipendam rapat-rapat.

Kolonel Sir Alexander Burnes, pahlawan Inggris dalam Perang Afghanistan I tahun 1841 sebelum kematiannya di medan perang mengatakan, tidak ada untungnya berperang di Afgahnistan karena setiap serangan yang dilakukan hanya membuat pejuang semakin kuat. Demikian pula perang yang tengah terjadi di Afghanistan saat ini. Satu-satunya hasil yang dituai pasukan sekutu adalah turunnya harga heroin (karena membanjir) di New York, Los Angeles, London, Paris dan kota-kota besar dunia lainnya.


(sumber: www.craigmurray.org.uk tgl 27 Juli 2007)

Craig Murray adalah mantan dubes Inggris di Uzbekistan. Ia dipecat dari jabatannya th 2004 karena membuat pernyataan yang memalukan pemerintah Inggris dan Uzbekistan. Dalam sebuah jumpa pers ia mengatakan inteligen Inggris mendapatkan data intelegen melalui praktik penyiksaan yang dilakukan regim Uzbekistan.

1 comment:

easternbrothers said...

Ada kemungkinan nggak mas, heroin ini salah satu "ciptaan" sekutu juga sebagai mengecoh para analis agar beranggapan maksimal bahwa Sekutu menyerang Afganistan memang karena alasan itu. Alasan sebenarnya mungkin satu misi yg lebih besar dari itu..?