Tuesday, 18 June 2013

ERDOGAN SEGERA MENYUSUL MUBARAK? (5)

"Saat malam tiba, para demonstran dengan menggunakan helm pekerja bangunan dan masker bergerak menuju Gezi Park mencoba menduduki kembali tempat itu, namun dipukul mundur, berkali-kali, dengan lebih banyak gas air mata ditembakkan polisi. Penduduk lokal membuka jendela-jendela dan melemparkan pot serta panci membantu para demonstran. Satu regu polisi mengejar sekelompok demonstran ke arah Golden Horn, menangkapi beberapa di antara mereka yang bersembunyi di belakangnya. Istanbul, dan seluruh Turki, diliputi oleh kekacauan."

Demikian tulis wartawan TIME, Piotr Zalewski, di medianya tgl 17 Juni dengan judul "After a Violent Weekend Crackdown, Turkey Braces for More Chaos".

Erdogan boleh saja memainkan banyak jurus: dimulai dengan menggertak, kemudian memelas (menunda proyek pembangunan Gezi Park yang memicu kerusuhan di Turki), mengorganisir aksi dukungan baginya, hingga terakhir mengancam mengerahkan tentara untuk membubarkan aksi-aksi demonstrasi yang semakin membesar dari hari ke hari. Namun para demonstran justru semakin teguh pada pendiriannya, yaitu turunnya Erdogan dari kursi kesuasaan.

Pada hari Sabtu malam (15/6) polisi berhasil membersihkan Gazi Park dari para demonstran yang berkumpul disana melalui bentrokan sengit. Keesokan harinya, di hadapan pendukung-pendukungnya Erdogan memuji keberhasilan polisi sembari mengecam para demonstran sebagai "penjarah" dan "teroris". Namun ribuan demonstran kembali mengorganisir diri untuk menduduki kembali Gezi Park yang telah menjadi simbol perlawanan terhadap regim Erdogan sebagaimana laporan TIME di atas.

Dan kali ini aksi-aksi demonstrasi semakin intensif setelah 2 serikat pekerja terbesar Turki, KESK dan DISK pada hari Senin (17/6) mengumumkan aksi mogok nasional mendukung demonstran.

"Tuntutan kami adalah polisi segera menghentikan aksi-aksi kekerasan," kata jubir KESK Baki Cinar kepada kantor berita Perancis "AFP" Senin (17/6). Menurutnya aksi mogok yang akan dilakukan akan diikuti juga oleh para insinyur dan dokter. Menlu Muammer Guler sendiri mengecam aksi mogok tersebut sebagai "illegal" dan mengingatkan para buruh untuk tidak turun ke jalanan.

Kerusuhan yang terjadi hari Minggu (16/6) merupakan salah satu yang terbesar selama 2 minggu lebih menentang kekuasaan Erdogan yang hampir mendekati masa satu dekade. Pada hari itu saja sebanyak 600 orang ditangkap ditangkap dalam aksi-aksi demonstrasi di Ankara dan Intanbul. Dan meski Erdogan sudah "mengalah" dengan menunda pembangunan Gezi Park sampai ada keputusan pengadilan, para demonstran menganggap hal itu belumlah cukup.

"Kami akan berjuang sampai hak-hak rakyat, termasuk hak untuk hidup, dihormati," tulis Taksim Solidarity Platform, kelompok organiser demonstran dalam pernyataan pers-nya hari Sabtu (15/6). Kelompok ini selain menyerukan pendudukan Taman Gezi juga mengajukan tuntutan hukum terhadap para pejabat yang dianggap bertanggungjawab atas aksi brutal yang dilakukan polisi kepada para demosntran, serta pembebasan para demonstran yang ditahan polisi.

Amnesty International (AI) menyebutkan sebanyak 70 orang yang ditangkap polisi kini nasibnya tidak diketahui. Selain itu AI juga melaporkan banyaknya kasus kekerasan polisi terhadap para tahanan demonstran.

Apa yang bakal terjadi di Turki, termasuk nasib Erdogan, kini menjadi topik bahasan yang menarik bagi para analis, termasuk blogger. Apakah aksi-aksi demonstrasi di Turki telah menjadi gerakan "Turki Spring" sebagaimana "Arab Spring" yang berhasil menumbangkan penguasa-penguasa diktator di Timur Tengah? Apakah Erdogan mampu bertahan, atau harus menyusul pendahulu-pendahulunya seperti Khadaffi dan Mubarak?

Dan inilah analisis saya:

Para demonstran melihat saat ini adalah momentum yang tepat untuk menjatuhkan Erdogan, orang yang mereka benci tidak hanya karena kediktatorannya, namun sebagian lagi karena sikap hipokrispinya, sikap megalomanianya, bagi sebagian orang lainnya adalah karena simbol-simbol Islam yang dibawanya, dan bagi 20% penduduk Turki penganut sekte Alawi adalah karena sikap agresifnya terhadap Syria. Aksi-aksi demonstrasi akan semakin meluas.

Dalam kondisi seperti ini Erdogan hanya bisa berharap pada kesetiaan tentara, karena bahkan kesetiaan polisi tidak akan memungkinkan mereka "berkelahi" terlalu lama melawan para demonstran. Demikian pula Erdogan tidak mungkin akan mengerahkan pendukungnya ke jalanan yang justru membuat kondisi lebih runyam an kredibilitasnya makin merosot. Namun tentara sudah lama menaruh dendam pada Erdogan yang telah menyeret sejumlah besar perwira ke penjara dengan tuduhan makar, selain perbedaan pandangan tentang dasar negara, sekuler bagi tentara dan Islam liberal bagi Erdogan. Dan saat tentara memutuskan untuk tidak lagi memihak Erdogan, nasibnya berakhir seperti Hoesni Mubarak. Jika dalam waktu seminggu mendatang para demonstran mampu mempertahankan konsistensi aksi-aksi demonstrasi, apalagi jika semakin meluas dan membesar, maka Erdogan bisa dipastikan bakal "habis". Presiden Gul yang bersama para "jemaat" lainnya termasuk media Zaman kini berseberangan dengan Erdogan, bakal mengeluarkan dekrit pembubaran pemerintahan Erdogan dan menyelenggarakan pemilu baru tanpa Erdogan atau dengan AKP yang sudah dibersihkan dari para pendukung Erdogan.

Jika saja Erdogan mendengar "saran" menlu Syria, negara yang selama 2 tahun menjadi obyek watak megalomania Erdogan, hal yang sama yang disarankan Erdogan kepada Presiden Syria Bashar al Assad: mendengarkan tuntutan rakyat, atau mundur, tentu nasibnya tidak akan seperti Mubarak.

5 comments:

Ibnu Sofyan Hasan said...

Mas Adi yg saya cintai krn Allah, Izinkan saya melanjutkan komen saya di tulisan mas adi "ERDOGAN SEGERA MENYUSUL MUBARAK? (4) ke sini :)

Komen mas adi di tulisan sebelumnya : “Namun semuanya harus mengakui kekalahan melawan zionis internasional, termasuk Ikhwanul Muslimin.”

Soal kalah menang saya melihatnya dr sudut pandang yg mgkn sdkt “aneh”. Begini mas, justru krn ikhwanul muslimin (melalui institusi IM sendiri, negara2 yg ‘dikuasainya’ (turki, mesir, dll), atw jg partai2nya (misal PKS yg kebetulan mas adi singgung di tulisan "ERDOGAN SEGERA MENYUSUL MUBARAK? (4)")) sadar betul bahwa sangat sulit mengalahkan zionis internasional lah mereka menggunakan strategi sangat cerdas menurut pendukung mereka, atw strategi culas dan licik mnurut musuh mereka dan yg anti dengan mereka. Apa itu? Yaitu strategi musuh dlm selimut terhadap musuh mereka. Benar, mereka secara legal formal terlihat koalisi/sekutu dengan musuh mereka (zionis internasional, israel, as & sekutu2nya), tp dibalik itu mereka tetap menjalankan visi & misi mereka sendiri yg sebenrnya bertentangan dgn kepentingan zionis internasional cs.

Implikasinya? Musuh g bs konfrontasi langsung dengan mereka bhkn terpaksa melindungi mereka, tp mereka bs MENUSUK musuh dr dalam..
Cth kongkritnya? Kita lihat saja turki & mesir, mereka tidak mau “diirankan” apalagi “disuriahkan” , jd mereka sampe skrg tetap mmilih menjadi ‘sekutu dan sahabat’ amerika (zionis internasional cs). Ya, MUSUH DALAM SELIMUT. apa alasan zionis internasional cs untuk intervensi militer dikedua negara ini? TAK ADA. Yg bs dilakukn zionis internasional cs thdp mereka hanyalah seperti yg terjadi skrg, mengganggu pemerintahan kedua negara tsb melalui dukungan kpd manuver2 oposisi (yg jelas2 sekuler, liberal, atw pendukung hosni mubarak/kemal atturk) kedua pemerintahan tsb. Licik? Culas? Boeh saja kita berpendapat begitu. Tp ditinjau dr sudut pandang STRATEGI saya rasa sgt luar biasa jitu strateginya.. see? Jd disini dalam hal kepakaran/jago strategi menghadapi zionis internasional, IRAN TIDAK SENDIRIAN. Yg saya sesalkan adalah, kenapa IM dan Iran tdk kompak.. (*suatu saat Insya Allah saya bahas dlm sebuah tulisan/komentar)

Permainan strategi ikhwanul muslimin ini jg terlihat jelas dengan strategi yg dimainkan pks di perpolitikan nasional. Berkoalisi dgn pemerintah, tp bs menusuk dr dalam (manuver kasus century, hambalang, dan yg teranyar adalah kenaikan harga bbm). Keuntungannya? rezim kurang leluasa memberangus/berkonspirasi pd PKS, kursi mentri dpt 3, pencitraan dimasyarakat bs jalan terus. Skali lg kesampingkan dulu mslh munafik, main 2 kaki, dll. Ditinjau dr segi strategi bg saya ini jelas luar biasa..

Klo semua hal diatas kita tinjau dari segi agama, syariat islam beserta dalil dan hujjahnya, saya fikir masing2 ulama pendukung kedua kubu (IM vs Iran) punya argumen msg2x yg kalo diperdebatkan bakal gak habis2, sengit..

Intinya adalah, menurut saya tidak tepat klo kita menganggap IM beserta jaringannya adalh benar2 sekutu zionis internasional cs. Sm tidak tepatnya jk ada yg mnganggap Iran & jaringannya adalah sekutu zionis internasional cs..
Sdgkn posisi negara2 arab timur tengah seperti Arab saudi, Qatar, dan beberapa negara Arab non IM lainnya, menurut hemat saya statusnya hanyalah “tunggangan” IM dan jaringannya, sm seperti IM memperlakukan zionis internsional cs td..

Iran & jaringannya memilih jalur konfrontatif melawan zionis internasional cs, IM & jaringannya memilih jalur “musuh dalam selimut” melawan zionis internasional cs.. dan saya brdoa mudah2an suatu saat kedua kubu bersatu untuk menghadapi musuh yg sama, zionis internasional tsb.. wallaahu a’lam bish showab.

Ibnu Sofyan Hasan said...

Komentar diatas adalh bbrpa pandangan saya mengenai politik Islam internasional kontemporer dlm menghadapi konspirasi global iblis dan dajjal melalui zionis internasionalnya.

Nah skrg, dalam rangka sharing pandangan. Saya ingin bertanya dengan mas adi, tolong dijawab dengan lengkap mas. Krn sbagian pertanyaan berikut adalah pertanyaan yg belum mas adi jawab, hehe...

1. Apakah menurut mas adi MAYORITAS rakyat Turki ingin Erdogan ditimbangkan?
Apakah Turki negara tiran, sekuler liberal & otoriter sama sperti pemerintahan Mubarak? Apakah Turki tidak menganut sistem pemilu demokrasi sama seerti pemerintahan Mubarak?

2. Apakah mas adi sudah membaca link yg saya berikan kmrn : http://www.pkspiyungan.org/2013/06/istanbul-perang-non-fisik-zeytinburnu-1.html ? Apa analisa mas adi terhadap tawaran Erdogan untuk referendum terkait rencana alih fungsi lahan Taman Gezi? apa mas adi berpendapat itu hanyalah gertakan erdogan, bukan keyakinan & keteguhan hati erdogan bhwa Mayoritas Rakyat Turki mendukung AKP & dirinya? Lalu kenapa pula oposisi menolak referendum itu jk mereka yakin bhwa mayoritas rakyat turki mendukung mereka?

3. Mana yg kubu islamis partai AKP & PM Erdogan, atw oposisinya yg skrg sdg demonstrasi ingin menggulingkan pemerintahan Erdogan? Trus yg mana jg diantara kedua kubu tsb yg liberalis sekuler & pro kemal at turk; partai AKP & PM Erdogan atau pihak oposisinya? Lalu kubu yg mana yg didukung zionis internasioal cs (khususnya amerika & israel)?

4. Komentar mas adi : “Tapi itu dulu, sebelum (*ikhwanul muslimin*) (perkiraan saya) disusupi oleh kekuatan zionis, atau setidaknya sebelum tergiur oleh imbalan kekuasaan yang ditawarkan zionis internasional”. Apa menurut mas adi HAMAS yg jelas2 merupakan JARINGAN/ANAK KANDUNG ikhwanul muslimin bersandiwara dlm memerangi zionis israel? Atw seluruh anggota/pejuang HAMAS adalah org2 bodoh yg tidak tau bahwa Induk mereka sebenarnya satu kubu dgn pihak yg mereka perangi (israel)? Saya sendiri tidak meragukan perjuangan HAMAS sedikitpun, sama seperti sikap saya yg tidak sedikitpun meragukan perjuangan jihad islam di Palestina...

5. Saya sekaligus bertanya pd mas pecinta ahlul bait di poin ini, Komentar mas adi : “Tapi itu dulu, sebelum (*ikhwanul muslimin*) (perkiraan saya) disusupi oleh kekuatan zionis, atau setidaknya sebelum tergiur oleh imbalan kekuasaan yang ditawarkan zionis internasional”. Apa menurut mas adi dan mas ahlul bait, zionis internasional dalam pemilu Mesir kemarin lbh mendukung Mursi (yg kubu Islamis, seorang hafizh dr ikhwanul muslimin) daripada Ahmed Shafiq (yg kubu liberalis sekuler, slh seorang loyalis hosni mubarak)? Apa kondisi di mesir sejak penggulingan hosni mubarak sampe pro kontra undang-undang syariah islam kmrn tidak cukup berdarah2?
Tak jauh beda di turki, apa zionis internasional dalam pemilu Turki kemarin lbh mendukung kubu PM Erdogan dgn AKP nya drpd kubu oposisi di negara tsb?

Hehehe.. panjang banget y komen dan pertanyaan saya. Mohon dijawab dgn lengkap, jelas, dan lebih bgs lg point per point sesuai pertanyaan diatas Mas. Atas tanggapan & jawaban mas adi dan yg lain saya mgucapkan byk2 terima kasih. Saya tunggu jawabannya..

NB : Pengunjung blog ini yg lain boleh jg ikut menjawab :)

Salam persaudaraan
Ibnu sofyan^

Agus Muslih said...

Untuk kang Ibnu Sopyan H, saya menangkap adanya "kerinduan" bersatunya jamaah Sunni dan Syiah, antara Iran Cs (Hizbullah, Syiria, Irak)dan IM cs (Turki dan Mesir, Hammas)melawan zionis internasional Cs, dan itulah yang menjadi "kerinduan" saya dan juga kawan2 yang cinta persatuan. dan harapan itu semakin membesar setelah mesir dikuasai IM dan ada arah merapat dengan IRAN, sementara Hubungan IRAN dan TURKI juga dengan HAMAS memang sudah lama terjalin baik, kecuali harapan itu berbalik menjadi "berantakan" dan penuh dengan paradoks pada kasus Syria. Untuk Turki, hubungan baik dengan Iran ternyata tidak menjadikan berbaik-baik dengan sohibnya iran (Assad, Syiria)namun sebaliknya muncul nafsu menghancurkan Syria (pemerintah dan rakyat) lewat dukungannya kepada kelaompok anti Assad. padahal fakta sudah terang benderang bahwa Assad/syiria adalah pendukung utama gerakan perlawanan israel (Hammas, Jihad Islam dan Hizbullah, begitu juga dengan prilaku sebagian elit hammas dalam merespons kasus syiria bukannya membalas kebaikan Assad yang telah mensuport muqawama malah mendukung "penghancuran syiria" yang justru itu adalah gagasan zionis internasional. Demikian juga dengan Sikap " Pemimpin Spriritual IM" Dr. Yusup Qhordowi terhadap Assad/Syria dan Hizbullah akhir2 ini, semakin membuat bingung "pecinta persatuan". saya kurang paham strategi dalam berpolitik, namun dalam kasus syiria mencul pertanyaan didalam benak saya : jika IM & jaringannya memilih jalur “musuh dalam selimut” melawan zionis internasional cs. dan masalah pembebasan palestina = perlawanan terhadap Israel cs, bagian dari Visi Misi IM, lalu kenapa harus mengorbankan Assad dan rakyat Syiria? kenapa harus "menyakiti" Hizbullah? yang jelas2 keduanya memiliki prestasi gemilang dalam melakukan perlawanan terhadap israel, dan tulus membantu hammas (IM) bukankah ada isyarat langit yang menyatakan bahwa " kaum/bangsa/jamaah yang akan menang di akhir jaman memiliki karakter utama : bersikap keras terhadap musuh, dan saling menyayangi diantara saudaranya" kayaknya kriteria ini pada kasus syria menjadi terbalik, sehingga harapan dan kerinduan akan persatuan menjadi semakin menjauh, entah skenerario apa lagi yang akan Allah hadirkan ke depan untuk menguji " persatuan". sementara saya hanya bisa menilai masih ada kelemahan diatara 2 jamiah besar (IM cs dan Iran Cs):
1. Pembebasan Palestina belum dijadikan tujuan utama mengangkat izzah islam (IM cs, kecuali hammas kurang konsisten khususnya di level operasional, sedangkan Iran cs lebih konsisten).
2. Masih adanya ego sektor dan motif kepentingan yang mengalahkan tujuan utama. sehingga enggan menampakan ketulusan dalam persaudaraan,dan enggan melepaskan atribut2 yang telah melekat dalam dirinya yang sesungguhnya akan jadi "hijab" terwujudnya persatuan ummat. saya masih meyakini masalah "pembebasan palestina lah yang akan menjadi katalisator persatuan umat". dan Semoga kabar gembira itu akan segera menghampiri zaman, Amiin.

Pencinta Ahlul Bait said...

mas ibnu sebenarnya kalo melihat selintas tentu kelihatan bingung karena mas lihatnya sekarang bukan


mahasiswa yang merubah indonesia karena majikan sudah bosan dng
irama lagu mars dan upacara dan mereka pingin lagu bebas sebebas bebasnya mas lihat ratusan majalah ratusan jenis koran dan tabloit di kita apa semua bisa untung dari mana kalo sebanyak itu seinget saya jaman orba aja koran megap megap apa lagi oplah rendah kalo tak ada yang biayai. di cina ngurusi politik ya kuliah di politik . kalau mau kerja ya kerja hasilkan barang . mereka tak ada hak ngurusi politik itu urusan yang kuliah ya cari ilmu kalo mau ikut ngurusi negara ya masuk ke partai komunis mereka di gembleng untuk jadi pimpinan dan punya bakat pemimpin pasti di rekut jadi kader.partai komunis cina bukan lagi jadi doktrin .agama sudah di akui .doktrin mereka kerja kerja dan kerja . makanya cina berkembang pesat karena ancaman amerika 1991 sesudah sovyet hancur yahudi eksodus besar besaran dari rusia dan habis ini cina kami akan hancurkan makanya deng sao ping merubah haluan cina membuang doktrin komunis menggantikan jadi doktri etos kerja menurut mereka kalau 1 penduduk meng hasilkan 1 yuan perhari untuk negara maka perhari penghasilan 1.3 miyar yuan dan cina membuat trobosan apa yang tidak bisa dilakukan erofa amerika dan jepang . membuat barang dg murah kalo saya maas mau beli barang contoh bor listrik buatan cina 200 ribu buatan jerman 1 juta tentu saya beli buatan cina karena saya keperluan rumah tangga yang setahun paling berpa kali dipakai tapi kalau saya punya bengkel jelas lebih efesien buatan jerman kuat , tapi hitungan cina berapa banyak rumah tangga berapa banyak bengkel tentu cina yang menang kenapa cina bisa murah di cina kalo aparat ngadakan pungli tak ada ampun apalagi permintaan siluman . ohya mas bagi yahudi baju apapun tak masalah yang penting mereka tunduk mau baju komunis mau baju liberal apalagi baju islam pake jidad hitam itu untuk indonesia ,kalo arab tak laku jidad (kening hitam) yang laku jenggot panjang .mau ulama .mas jangan lihat orang itu dari sholat haji dll ,kalo lihat orang di majelistaklim dan masjid semua pasti beriman doa sampai nangis zikirnya lama doanya panjang kali.mau lihatjangan disana coba lihat implemetasinya sehari hari. di tempat kerja dan masyarakat;bagi yahudi ngancurin mesir sama turki gampang .kalau mereka mau ,karena masih tunduk dan masih diperlukan untuk apa .kalau mau coba beranikah mursi dan erdogan mutuskan hubungan dengan israil dan beranikah menyerukan jihat untuk perang dg israil .sekarang kita mau dengar adakah ikhwanul muslimin maupun organisasinya mau nyerukan jihad di israil ,pikiran mereka khilafah mau di tegakkan dengan darah tak ada seperti itu.cara rossullah dakwah dakwah dan dak wah .wali songo lihat dakwah dakwah sampai berdiri kerajaan kerajaan islam.pemikiran HTI sama seperti pemikiran komunis dulu .menegakkan khilafah tak bisa dg senjata
kalau mau dakwah kan syariat islam jelaskan kita miris paling hanya 0.2 persen yang paham syariat islam .sangat kecil peran ulama kita dalam hal ini .iran saja butuh 200 tahun dengan ulama yang sudah

terstruktur dan disana yang ceramah agama paling tidak mullah yang benar benar paham agama di tempat kita baru bisa baca qur an baca baca buku agama sudah langsung ceramah kreteria ustad dan ulama tak jelas di kita .maka jangan heran hasilnya tak jelas , oke wassalam

cahyono adi said...

Salam
Terima kasih untuk semua komentar-komenarnya.

Untuk Mas Sofyan. Jajak pendapat terbaru oleh "Zaman" menunjukkan mayoritas rakyat Turki telah melihat Erdogan sebagai diktator. Tentu saja ia masih memiliki banyak pengikut namun hal itu tidak terlalu signifikan lagi.

Ttg berjuangan bersiyasah dengan cara berpura-pura berteman denan musuh dan mengkhianati teman se-iman, saya percaya hal itu tidak diajarkan dalam Islam. Jadi jangan percaya dengan alasan yang dicari-cari untuk menutupi kebohongan yg sudah terang benderang.

Kalau mau berjihad, tirulah Hizbollah dan Iran.