Wednesday, 16 March 2016

Ada Apa dengan Orang-Orang Shiah Indonesia?

Indonesian Free Press -- Momen pilpres tahun 2014 lalu memperlihatkan fenomena menarik bagi saya, yaitu keberpihakan mayoritas orang-orang Shiah Indonesia kepada capres Jokowi.

Tentu saja tidak semua orang Shiah memilih Jokowi. Saya sendiri punya beberapa teman Shiah yang memilih Prabowo, sama seperti saya. Namun, harus diakui bahwa mayoritas orang Shiah di Indonesia adalah pendukung Jokowi.

Seperti saya, orang-orang Shiah yang memilih Prabowo memiliki kesamaan visi nasionalisme, dan memilih karena menggunakan rasio. Prabowo memiliki semua kelebihan untuk menjadi pemimpin negara besar seperti Indonesia dibandingkan Jokowi, yang hanya berpengalaman menjadi walikota dan gubernur karbitan selama setahun.

Sebagai pensiunan jendral pasukan khusus Prabowo unggul dalam segi fisik dan mental. Sebagai putra kandung seorang pejuang kemerdekaan dan politisi serta birokrat nasional, Prabowo memiliki nasionalisme dan wawasan kebangsaan lebih luas. Prabowo juga lebih independen secara ekonomi dan politik, karena ia adalah pengusaha nasional yang 'memiliki' parpol ketiga terbesar di Indonesia (Gerindra).

Awalnya saya heran saja dengan fenomena pro-jokowi ini. Kemudian saya mencoba untuk mengorek keterangan tentang alasan mereka memilih Jokowi. Hampir semuanya beralasan sama: Prabowo otoriter dan kejam. Khas hasil kampanye massif media massa tentang Prabowo. Padahal faktanya Prabowo tidak pernah terlibat dalam pelanggaran HAM, namun media-media massa telah membunuh kharakternya sedemikian rupa.

Mereka tidak mau menilai Prabowo secara rasional dan hanya mengikuti persepsi publik yang dimainkan media massa. Bagi saya ini adalah memalukan, mengingat sebagian besar orang-orang Shiah di Indonesia adalah orang-orang yang 'melek' informasi, berpendidikan dan dalam keyakinan ke-Shiah-an mereka, mereka mengklaim berdasarkan akal sehat. Tapi dalam pilpres kemarin, semuanya itu tidak ada artinya sama sekali.

Hal ini mendorong saya untuk menganalisanya lebih jauh. Dan setelah melakukan kajian yang cukup lama, saya bisa mengetahui faktor yang mendorong orang-orang Shiah Indonesia mendukung Jokowi, yaitu 'sindrom minoritas tertindas'.

Ketika seseorang merasa terasing dengan masyarakat di sekitarnya, ia akan mencari teman yang dianggap satu visi dan senasib. Dalam hal orang-orang Shiah Indonesia, mereka menemukan kelompok-kelompok minoritas dan orang-orang Islam yang telah tercemari faham liberalisme sebagai teman-teman baru, dimana mereka merasa nyaman berkumpul. Apalagi setelah mereka merasakan bahwa orang-orang Islam liberal dan minoritas itu lebih sopan, 'wangi', tajir, mapan dan mampu memberi kesempatan untuk eksis karena mereka menguasai akses media massa, birokrasi dan jaringan sosial.

Musuh yang sama menyatukan, kepentingan yang sama mencerai-beraikan. Begitu kira-kira kata-kata bijak yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Dua ekor srigala yang berkelahi memperebutkan bangkai akan bersatu untuk menyingkirkan seekor beruang yang hendak merebut bangkai tersebut.

Karena mengidentifikasi orang-orang Islam non-Shiah sebagai 'musuh bersama', maka orang-orang Shiah Indonesia saling bahu-membahu dengan orang-orang liberal dan minoritas. Mereka akan memusuhi siapa yang didukung orang-orang Islam dan mendukung siapa yang dimusuhi orang-orang Islam non-Shiah.

Hal ini tampak sangat jelas dalam 'fenomena Ahok'. Orang-orang Shiah Indonesia sangat intens terlibat untuk mempromosikan Ahok sebagai gubernur DKI. Padahal Ahok bukan orang Islam dan jauh dari kapasitas sebagai pemimpin, baik dilihat dari akhlaknya maupun kapabilitasnya. Selain menjadi terduga kuat korupsi bus karatan TransJakarta dan Rumah Sakit Sumber Waras, Ahok gagal mengatasi dua persoalan dasar Jakarta, yaitu banjir dan kemacetan. Hal ini masih diperparah lagi dengan akhlak Ahok yang buruk karena tidak bisa mengendalikan amarah.

Namun, hanya karena Ahok ditolak oleh mayoritas orang Islam, orang-orang Shiah itu justru mendukungnya. Mereka rela melakukan tindakan-tindakan 'nista' seperti menafsirkan larangan mengangkat pemimpin non-muslim sesukanya, padahal teksnya sudah sangat jelas dalam Al Qur'an, atau larangan berteman dengan orang-orang non-Islam dengan meninggalkan saudara-saudara seiman.

Para Imam Shiah sendiri telah memberikan tauladan yang sangat indah, sekaligus jelas dan tegas, tentang pentingnya menjaga persatuan umat Islam. Demi persatuan dan tegaknya Islam, Imam Ali, Hasan, Hussein dan para Imam lainnya rela mengabaikan hak kepemimpinan mereka, sehingga agama Allah bisa tersebar ke seluruh dunia. Dengan dukungn Imam Ali, Khalifah Umar bisa menguasai Palestina, Parsia dan Mesir. Dan dengan dukungan Ali juga, Khalifah Usman bin Affan bisa menguasai Maghribi (Afrika Utara). Imam Ali bahkan rela menanggung risiko kehilangan putra-putranya dan kaum kerabatnya demi menjaga rumah Usman bin Affan dari serangan orang-orang yang hendak membunuhnya.

Sebaliknya, orang-orang Shiah Indonesia justru rela mengorbankan persatuan umma Islam demi mengikuti hawa nafsunya dan hawa nafsu orang-orang musrik dan kafir, yang menginginkan bangsa Indonesia dengan mayoritas ummat Islamnya, menjadi sapi perahan kepentingan asing dan zionis internasional.

Meski ada sekelompok kecil orang yang telah 'tersesat' dengan faham khawarij-wahabi-salafi, mayoritas ummat Islam Indonesia adalah orang-orang Islam yang baik. Perbedaan mereka dengan Shiah hanyalah dalam masalah kepemimpinan ahlul bait. Mereka adalah saudara-saudara orang-orang Shiah, yang menyembah Tuhan yang sama dan mentauladani Rosul yang sama. Mereka adalah orang-orang tua, saudara, dan kerabat orang-orang Shiah sendiri. Sangat tidak patut untuk meninggalkan mereka dan mendukung orang asing yang tidak seiman.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan orang-orang Shiah Indonesia. Selama tiga tahun terakhir saya telah menjalin hubungan yang menyenangkan dengan mereka. Tulisan ini justru dimaksudkan untuk menghindarkan orang-orang Shiah dari permainan zionis internasional, sebagaimana dialami oleh saudari Emilia Renita dan kawan-kawan.

Meski beberapa orang Shiah telah diuntungkan dengan permainan zionis internasional, dengan menjadi anggota parlemen dan sebagainya, sebagian besar orang-orang Shiah hanyalah 'ikut-ikutan' dalam permainan. Padahal mereka-lah yang bakal menanggung risiko paling berat. Emilia Renita mungkin bisa terbang ke Australia menyusul ulama panutannya. Tapi tidak dengan sebagian besar orang-orang Shiah Indonesia. Cukuplah peringatan dari mantan Kepala Staff Umum TNI Suryo Prabowo tentang sepak terjang Ahok dan pendukung-pendukungnya.

“Kalau sayang dengan teman-teman atau sahabat dari etnis tionghoa, tolong diingatkan agar jangan ada etnis tionghoa yg sok jago ketika berkuasa atau dekat dengan penguasa,” tulis Suryo Prabowo, Selasa (15/3), seraya mengingatkan peristiwa-peristiwa tragedi yang menimpa orang-orang keturunan Cina sepanjang sejarah Indonesia.

Peringatan ini sangat serius, karena diucapkan oleh seorang tokoh senior TNI. Ia tentu tidak sedang menggigau atau main-main. Peringatan ini harus dilihat sebagai mewakili unsur-unsur dalam keluarga besar TNI yang gerah melihat sepak terjang Ahok selama ini.

TNI memiliki hubungan emosional yang sangat erat dengan organisasi-organisasi Islam Indonesi, yang terukir dalam sejarah panjang negeri ini, yang puncaknya adalah kerjasama keduanya menghancurkan pemberontakan PKI. Ketika keduanya bersatu, insya Allah tidak ada kekuatan di dunia ini yang bisa mengalahkannya.

Peringatan seperti itu bahkan sebenarnya telah disampaikan oleh tokoh-tokoh keturunan Cina sendiri, yang masih bisa berfikir jernih.

Dukungan orang-orang Shiah kepada Ahok secara otomatis menempatkan mereka ke dalam kubu-Ahok, yang sangat berisiko menjadi sasaran kemarahan orang-orang yang tidak menyukai Ahok. Cap pendukung orang 'kafir' akan semakin menjauhkan orang-orang Shiah Indonesia dari saudaranya orang-orang Sunni untuk jangka waktu yang sangat lama.

Jika terjadi konflik, mereka bahkan bisa menjadi sasaran amukan massa, sebagaimana orang-orang PKI dahulu.(ca)

5 comments:

Visual Effect said...

Dear Bapak CA. Terimakasih atas catatan blognya yang kritis selama ini. Membaca tulisan-tulisan Anda sekarang ini terutama sekali yang berhubungan dengan Prabowo, saya melihat Anda seperti dua orang yang berbeda. CA yang saya kenal dahulu adalah santun, kritis dan tajam dalam menulis, tapi CA yang menulis mengenai Prabowo ini menjadi kebalikannya. Saya curiga sejak kevakuman Anda saat pemilu kemarin. Saya mengamati sudah berapa lama blog Anda vakum tidak update. hanya sekali-kali muncul lalu lama menghilang. Tiba-tiba sekarang Anda lantang menjunjung tinggi Prabowo dan cara menulis Anda berubah menjadi cara menulis kaum Wahabi di PKS dan orang-orang yang mengelilingi Prabowo. "Devide et Impera". Saya tidak percaya apakah ini Pak CA betulan ataukah blog ini di hack orang dan dipergunakan oleh tangan-tangan jahil yang tidak berkepentingan? Entahlah...

Dear Pak CA. Kita bukanlah negara Islam. Tapi kita adalah negara Bhineka Tunggal Ika dengan Ideologi Pancasila. Janganlah masalah etnis dan agama Anda bawakan isunya disini. Siapapun pemimpinnya selagi dia berideologi pancasila itu tidak masalah di negara ini.

Mengenai Pak Prabowo, tidak ada yang salah dengan beliau, cuman orang-orang yang mengelilingi dia kebanyakan kaum Wahabi dan teknokrat yang bermasalah. Seperti Surya Dharma Ali, Abu Rizal Bakri, Setya Novanto, dan masih banyak yang lain. Seperti apa jadinya negara ini jika dipimpin oleh orang-orang seperti mereka?

Tapi tahukah Anda apa kira-kira yang melatar-belakangi menjulangnya nama Jokowi? pertama kesederhanaan dan kedekatannya dengan rakyat. Tidak sombong dan punya jiwa nasionalis. Apa dia pernah kampanye gagah-gagahan, turun kelapangan pakai helikopter dan keliling lapangan dengan kuda harga milyaran? Menurut Anda dengan cara seperti itu siapa yang akan dipilih oleh rakyat?

Mengenai Ahok, rakyat memilihnya karena kejujurannya. Keberaniannya melawan arus. Berani untuk benar. Siapapun akan dilawannya tanpa pandang bulu. Buktinya dia pilih jalur independent untuk pemilihan gubernur berikutnya artinya dia tahu bahwa jalur partai ada tawar-menawar politik. Lue gue kasih jabatan nanti lue kasih gue proyek ini itu...

Terimakasih.

cahyono adi said...

Visual Effect. Saya koreksi tentang faktor2 yang membuat Jokowi Ahok populer, yaitu karena pencitraan media massa yang massif. Kalau soal prestasi, banyak pemimpin lain yang lebih baik, tapi karena tidak ada pencitraan dan social engineering kepentingan modal asing, tidak tampak kiprahnya.

Tahun 2008 Ahok mau nyalon gubernur Sumut. Tapi meski sudah promosi besar-besaran (skala lokal), ia tidak dilirik warga dan akhirnya 'lari' ke Jakarta sebelum 'ditemukan' Prabowo Subianto untuk dijodohkan dengan Jokowi.

Itulah sebabnya Anda mengatakan JOkowi sederhana, nasionalis dan sebagainya. Track record-nya saja gak jelas. Tidak ada jejak kiprah masa mudanya, aktifitas sosial politiknya, pendidikan agamanya dll. Beda dengan prabowo yang semua orang tahu kiprahnya, termasuk perannya yang krusial dalam meredam kerusuhan Mei 1998 pada saat para pemimpin militer lain yang dipimpin Wiranto melarikan diri dari Jakarta.

Tentang orang-orang di sekeliling Prabowo, mengapa Anda tidak melihat orang-orang di belakang Jokowi? Hendro Priyono pembunuh Munir dan para pengemplang BLBI ratusan triliun adalah pendukung Jokowi. Kejahatan mereka jauh lebih berat dibndingkan SDA, Setya Novanto dan Abu Rizal Bakrie. Puluhan triliun uang negara harus disisihkan setiap tahun untuk mencicil bunga BLBI yang diembat para konglomerat pendukung jokowi. Korupsi SDA sih sekuku hitam saja.

Seperti saya tulis, Prabowo lebih independen dari orang-orang di sekelilingnya dibandingkan jokowi dari orang-orang di sekelilingnya. Prawobo punya perusahaan skala nasional, jendral kopassus dan pendiri dan ketua parpol ketiga terbesar (Gerindra). Siapa berani menggertak dia?

Lalu, siapa si petugas partai?

Tuduhan Anda bahwa saya tidak Pancasilais karena mempermasalahkan agama dan etnis justru menunjukkan Anda gak ngerti Pancasila. Sila pertamaa adalah Ketuhanan yang Maha Esa, dan itu adalah agama. Versi asli Pancasila bahkan menyertakan kalimat 'dan kewajiban menjalankan syariah Islam bagi para penganutnya'.

Ahok 'katanya' pilih independen adalah bohong. Ia nglamar PDI dan ditolak. Kemudian ia nglamar Nasdem dan diterima. Independen dari Hongkong? Lalu gimana dengan kasus Trans Jakarta dan Sumber Waras. Apa Anda berani bersumpah ia tidak melakukan korupsi? Padahal audit BPK dengan jelas menyebutkan adanya dugaan tindak korupsi yang dilakukan Ahok.

Irsad Taher said...

Saya setuju dg argumen CA, teruekan Bung.....! Ahok tidak menggambarkan kehendak demokrasi itu sendiri, demokrasi 'mensabdakan', pemimpin haruslah seorang yg merepresemtasikan kehendak mayoritas mayoritas (masyarakat Islam), Ahok hanya diuntungkan satu komdisi, yaitu : diantara 3 jualan pemimnpin Agama, etnis, dam kejujuran. Nah Ahok tidak punya 2 hal pertama, jdi mamu tidak mau harus jualan 'kejujuran'- sebuah kejujuran yang politis, apalagi konglomerat Hitam Pengusahan CIna Pengemplang BLBI sbg sponsor) membuat dia jadi Pede untuk terus maju.

Unknown said...

Mas sy Juga ga setuju dengan jk wow seperti anda deskripsikan..tapi pada saat ITU hanya Ada jk wow Dan PRA bowow..tapi sy masih mendukung dengan terpaksa Dan harus..ITU kelegaan hati sy..kalo aa hok sy sangat tidak setuju..sebagus apapun dia saya ttp tidak suka dia sebagai pemimpin dikalangan mayoritas Islam..dua orang INI Ada melalui perantara orang yg bernama PRA bowow..kalo mau lihat dirimu..lihat teman terdekatmu..dengan berarti mereka smua tidak layak jadi pemimpin..Karena orang Islam yg baik diindonesia takut berpolitik..padahal nabi dulu Juga memimpin bangsa Arab..kalo masalah siah...saya menganggap siah bukan Islam..walaupun siah kuat..sy acungi jempol buat kekompakan agama siah seperti kompak bangsa cina

Helmy Aja said...

Mas sy Juga ga setuju dengan jk wow seperti anda deskripsikan..tapi pada saat ITU hanya Ada jk wow Dan PRA bowow..tapi sy masih mendukung dengan terpaksa Dan harus..ITU kelegaan hati sy..kalo aa hok sy sangat tidak setuju..sebagus apapun dia saya ttp tidak suka dia sebagai pemimpin dikalangan mayoritas Islam..dua orang INI Ada melalui perantara orang yg bernama PRA bowow..kalo mau lihat dirimu..lihat teman terdekatmu..dengan berarti mereka smua tidak layak jadi pemimpin..Karena orang Islam yg baik diindonesia takut berpolitik..padahal nabi dulu Juga memimpin bangsa Arab..kalo masalah siah...saya menganggap siah bukan Islam..walaupun siah kuat..sy acungi jempol buat kekompakan agama siah seperti kompak bangsa cina