Sunday, 20 March 2016

Rusia Sudah Menang dan Terus Mengawasi

Indonesian Free Press -- Saat tulisan ini dibuat, pesawat-pesawat tempur Rusia tengah menggempur para pemberontak Suriah di wilayah Palmyra, dimana pasukan Suriah dan sekutu-sekutunya tengah berusaha merebut kembali kota simbolis ini dari pemberontak.

Ini terjadi setelah Rusia menarik sejumlah besar kekuatan militernya di Suriah melalui keputusan mengejutkan oleh Presiden Vladimir Putin pada hari Senin (14 Maret). Pejabat keamanan Rusia menyebutkan bahwa Rusia tetap akan melancarkan 'puluhan serangan udara' setiap harinya di Suriah, meski telah menarik sebagian besar kekuatannya.

"Secara rata-rata pesawat-pesawat tempur Rusia melakukan 20 sampai 25 serangan setiap hari," kata Letjend Sergei Rudskoi, komandan Pusat Pengendalian Keamanan Nasional Rusia di Moskow seperti dilaporkan media Inggris The Telegraph, minggu ini.

"Kondisi telah tercipta bagi pengepungan dan pengusiran ISIL dan pemberontak bersenjata di Palmyra. Pasukan pemerintah Suriah dan kelompok-kelompok patriot, dengan dukungan angkatan udara Rusia tengah melancarkan operasi pembebasan Palmyra,” kata Rudskoi.

Apa yang terjadi di Palmyra ini menegaskan kembali bahwa Rusia tetap 'mengawasi' Suriah dengan cermat, dan penarikan sebagian kekuatan militer Rusia tidak mempengaruhi sikap Rusia terhadap Suriah. Hal ini sesuai dengan janji Vladimir Putin, bahwa Rusia tetap menempatkan sebagian kekuatan vitalnya di Suriah, termasuk senjata-senjata pertahanan udara S-400 dan Patsir, serta pangkalan udara dan laut di Latakia. Putin juga menegaskan bahwa jika diperlukan, kekuatan militer Rusia bisa kembali ke Suriah dalam hitungan jam.

Lalu, apa yang membuat Putin mengambil keputusan drastis dengan penarikan tersebut?

Tidak ada informasi yang ditemukan tentang adanya kesepakatan diam-diam antara Rusia dengan Amerika yang menjadi dasar penarikan Rusia. Dan, hampir semua pengamat politik berpendapat bahwa Rusia hanya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Rusia serius mengawal perundingan damai yang akan digelar di Genewa. Rusia sekaligus juga menunjukkan kepada dunia bahwa ia bukanlah negara agressor.

Menyusul pengumuman penarikan tersebut, media-media barat dan Arab beramai-ramai menyebarkan informasi palsu tentang adanya perselisihan antara Rusia dan Suriah. Beberapa komentator bahkan mengatakan bahwa akhirnya Assad harus meninggalkan negerinya, setelah dukungan Rusia dicabut.

Tentu saja spekulasi itu sangat tidak berdasar. Bagaimana mungkin, setelah menghabiskan jutaan dollar membantu Bashar al Assad hingga hilangnya nyawa pilot pesawat SU-24 yang ditembak Turki, Rusia meninggalkan Suriah begitu saja. Tidak saja rugi secara material, Rusia juga harus kehilangan wibawanya dengan langkah ini.

Rencana intervensi Rusia ke Suriah telah direncanakan sejak tahun 2012, namun baru dieksekusi tiga tahun kemudian (2015) setelah Rusia memastikan kesiapan peralatan tempurnya. Hari H operasi ditetapkan setelah sidang Dewan Keamanan PBB dan akan diakhiri setelah Tahun Baru Orthodok tanggal 6 Januari 2016. Namun, karena tidak adanya kerjasama dari Amerika dan sekutu-sekutunya, operasi tersebut diperpanjang hingga dimulainya perundingan damai di Genewa pada 15 Maret 2016.

Pemilihan tanggal dan bulan tersebut bukan tanpa maksud. Rusia seolah ingin mengatakan bahwa 'revolusi' untuk menumbangkan regim Bashar al Assad di Suriah telah berakhir. Sebagaimana diketahui, revolusi ini, yang merupakan bagian dari 'proyek Arab Springs' zionis dengan tujuan mengganti regim-regim otoritarian dengan 'muslim moderat' Ikhwanul Muslimin, dimulai pada tanggal 15 Maret 2011.

Bagi zionis internasional, 'revolusi' Suriah sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2003, ketika Presiden Amerika George W. Bush mengajukan undang-udang anti-Suriah (Syria Accountability Act), diikuti oleh resolusi Liga Arab tahun 2004 yang mendesak 'demokratisasi' di Lebanon dan Suriah, dilanjutkan lagi dengan pembunuhan mantan perdana menteri Lebanon Rafiq Hariri tahun 2005 yang mendorong diakhirnya misi perdamaian Suriah di Lebanon sekaligus memberi jalan bagi serangan Israel ke Lebanon tahun 2006, dengan tujuan menghancurkan Hizbollah dan memancing Suriah terjun dalam peperangan sehingga membuka jalan bagi intervensi Amerika.

Gagal menghancurkan Hizbollah dan Suriah, dengan dukungan Amerika pada tahun 2007 Ikhwanul Muslimin membentuk National Salvation Front untuk melawan Bashar al Assad. Setahun kemudian upaya menghancurkan Hizbollah kembali dilakukan melalui upaya merampas jaringan telekomunikasi milik Hizbollah. Upaya ini pun gagal dan bahkan semakin memperkuat Hizbollah dengan keberhasilan mendiktekan pemerintahan nasional yang harus dijamin oleh loyalitas Hizbollah. Kemudian sekali lagi zionis internasional bermaksud 'mengikat kaki dan tangan' Hizbollah dengan menggelar pengadilan internasional atas pembunuhan Rafiq Hariri dengan keputusan yang telah ditetapkan sebelumnya, yaitu Hizbollah sebagai pesakitannya.

Upaya ini pun gagal setelah parlemen Lebanon menolak pengadilan internasional dan Hizbollah menarik dukungan pada pemerintah sehingga Saad Hariri pun tumbang.

Bagaimana pun Rusia telah menang di Suriah. Pasukan Suriah kini dalam posisi di atas angin dan terus melancarkan operasi pembebasan dengan dukungan Iran dan Hizbollah. Dalam perspektif politik, Amerika dan sekutu-sekutunya juga sudah tidak lagi berteriak tentang 'Bashar al Assad harus pergi'. Proyek besar-besaran yang digarap Amerika dan sekutu-sekutu regionalnya itu telah hancur berkeping-keping.

Turki dan Saudi masih berusaha memainkan situasi dengan ancaman serangan darat ke Suriah untuk mencegah kehancuran, atau setidaknya menyelamatkan muka mereka di Suriah. Namun ketegasan Rusia dan Iran membuat mereka harus mengurungkan niatnya menyerang Suriah. Maka Saudi Arabia pun gelap mata. Lebanon yang tidak bersalah harus menanggung kemarahan Saudi, dengan pembatalan bantuan senilai $4 miliar dan cap 'teroris' tanpa dasar kepada Hizbollah yang diberikan organisasi negara-negara Teluk dan Forum Menlu Liga Arab.(ca).

4 comments:

Kasamago said...

ISIS n Pemberontak memang berhasil diredam oleh koalisi SUriah, Rusia, Iran, Hizbullah tetapi para Dalang dan sponsornya masih berkeliaran. mereka inilah yg harus ditarget oleh koalisi slanjutnya.

Pengorbanan Rusia di Suriah tidaklah sia2, selain membantu mempertahankan pemerintahan damaskus, Rusia juga sukses menguji coba seluruh alutsista terbarunya shng cukup membuat Barat terhenyak.

http://kasamago.com/ | http://yakena.com/

hanimasra said...

Isu yang acapkali dimainkan.."Iran Syiah mahu melenyapkan saudara kita lantas menakluki Mekah dan Madinah"..untuk memancing simpati dunia (ASWJ) dan juga.."Syiah lebih kejam dari Israel(Yahudi) yang membunuh saudara kita"..lalu wujudlah apa yang digelar IS(Islamik State)

Iskandar Zulkarnain said...

????

mabuk lagi said...

hanimasra mabuk lu