Wednesday, 11 March 2009

Kemana Larinya Uang Itu?


Derivatif dan bisnis keuangan lainnya adalah zero sum game, sejenis judi. Tidak ada sesuatu hal nyata yang dihasilkan selain memutar-mutar uang dari satu pemain ke pemain lainnya. Bila satu pemain untung, pada saat yang sama pemain yang lain rugi. Bahkan dengan adanya bubble economic effect dimana setiap pemain bisa menciptakan "uang kertas" sendiri, kerugian yang ditimbulkan berkali-kali lipat dari kerugian yang seharusnya.

Hal itu juga terjadi dengan krisis keuangan global akhir-akhir ini dimana para pemain bisnis keuangan Amerika menjadi penyebabnya dan rakyatnya menjadi korban terbesar. Contoh simpelnya adalah dalam kasus Bernard Madoff, penjahat keuangan yang menilap hingga $50 miliar dana nasabahnya. Sampai saat ini otoritas keuangan Amerika baru bisa mengumpulkan $900 juta asset yang hilang. Kemana sisanya yang $40,1 miliar itu pergi?

Permasalahan semakin rumit setelah pemerintah dan bank sentral Amerika mengucurkan triliunan dolar dana bailout dan stimulus sehingga dana-dana yang telah ditilap oleh para pemain bisnis keuangan baik yang berbentuk perusahaan, yayasan maupun perorangan semakin sulit untuk dilacak dan justru mengindikasikan adanya "pemutihan" atas praktik-praktik ilegal para pemain bisnis keuangan.

Dalam sebuah sidang Senat tgl 3 Maret lalu yang menghadirkan gubernur bank sentral Amerika, Benjamin Bernanke, Senator Sanders mengajukan pertanyaan singkat kepada Bernanke: "Maukah Anda memberitahukan, kepada siapa saja dana yang Anda keluarkan senilai $2,2 triliun (seluruh dana program bailout dan stimulus yang dikeluarkan sejak terjadinya krisis keuangan) diberikan?"

Bernanke menjawab: "Tidak!"

Bernanke berdalih demi menjaga kerahasiaan bank dan sebagainya dan bersikukuh bahwa undang-undang kebebasan informasi Amerika tidak berlaku dalam kasus ini. Namun orang cerdas tentu berfikir lain: Bernanke melindungi kepentingan pihak-pihak yang terlibat dalam permainan bisnis keuangan dan mengorbankan kepentingan masyarakat umum pembayar pajak.

Dan seiring berjalannya waktu, kejahatan itu terkuak. Bernanke, seorang yahudi orthodok, tidak menginginkan rakyat Amerika mengetahui bahwa sebagian dari dana bailout dan stimulus yang dikeluarkan itu mengalir ke Israel.

Sebagai contoh AIG, sebuah perusahaan keuangan Amerika penerima bailout hingga $160 miliar, mempunyai sebuah perusahaan mortgage di Israel bernama Ezer Mortgage Insurance (EMI). EMI adalah pemberi dana pinjaman hingga 95% dari seluruh kredit mortgage (perumahan) di Israel.

Dengan 95% kredit perumahan Israel dibiayai oleh EMI dengan menggunakan uang rakyat Amerika, memiliki rumah di Israel adalah sangat mudah. (Di sisi lain jutaan rakyat Amerika terancam kehilangan rumah karena tidak dapat mencicil kredit perumahan mereka). Apalagi dengan berbagai kemudahan yang diberikan seperti grace periods, dimana penerima kredit diberi tenggang waktu untuk tidak mencicil selama jangka waktu tertentu.

Di sisi lain hal ini menimbulkan permasalahan lain yang lebih serius. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak warga negara Amerika yang memiliki kewarganegaraan ganda, Amerika dan Israel sekaligus (Israel memiliki aturan kewarganegaraan sendiri dimana semua keturunan Yahudi, tidak peduli sudah memiliki kewarganegaraan lain, dianggap sebagai warga negara Israel. Mungkin Gus Dur dan Dhani Ahmad juga demikian). Tidak mengherankan jika Rahm Emmanuel, penasihat Presiden Clinton dan kini menjadi kepala staff Gedung Putih, bisa menjadi personil militer Israel pada saat terjadi Perang Teluk I. Dan kini, praktik-praktik kewarganegaraan ganda warga yahudi Amerika semakin marak dengan semakin mudahnya mendirikan rumah di Israel.

Sebagai contoh: Silberstein, seorang tokoh yahudi berpengaruh yang tinggal di Florida, Amerika. Putranya bercita-cita menjadi tentara Israel setelah berumur 18 tahun (menjadi tentara Israel bisa menjadi modal besar untuk membangun karier di Amerika). Maka dengan mudah ia akan mendapatkan kredit perumahan di Israel sehingga setiap saat ia bisa berlibur ke Israel sebagaiman biasa dilakukan Rahm Emmanuel. Dan saat putranya berumur 18 tahun, ia bisa menetap di sana tanpa kehilangan kewarganegaraan Amerika.

Monday, 9 March 2009

REFLEKSI MAULID NABI MUHAMMAD S.A.W


Baru-baru ini kita telah menyaksikan sebuah drama kemanusiaan yang sangat menyayat hati yang dipertunjukkan oleh umat Islam. Pada saat bangsa Palestina meregang nyawa menghadapi blokade dan penyerbuan keji kaum Yahudi di Gaza, bangsa-bangsa sesama muslim lainnya: Mesir, Arab Saud, Yordania, dan Palestina Fatah, justru membantu kaum Yahudi. Sementara ummat Islam yang lainnya, kecuali pejuang Hizbollah, hanya bisa diam seribu bahasa, atau berteriak-teriak tanpa bisa banyak membantu.

Apa yang terjadi dengan "ummat terbaik di bumi" sebagaimana disebut Allah daam Al Qur'an ini? Apakah Allah salah dengan firmannya?

Tidak. Allah tidak salah dengan firmannya. Ummat Islam sendiri yang salah sehingga jumlahnya seperti buih di laut ini tidak berdaya menghadapi kaum Yahudi Isreal yang jumlahnya hanya 5 juta orang.

Ketika Rosulullah menjelang syahidnya, beliau telah memberitahukan kepada ummatnya mengenai beberapa orang yang paling layak menjadi pemimpin ummat, yaitu orang-orang yang telah disucikan Allah sesuci-sucinya. Mereka adalah ahlul bait Rosul, orang-orang yang oleh Allah ummat Islam diwajibkan untuk bersholawat setiap hari minimal lima kali setiap menjalankan sholat: "Ya Allah berikanlah keselamatan dan kesejahteraan kepada Rosulullah dan keluarganya."

(Ummat Syiah bahkan percaya, Rosulullah telah mengikrarkan Ali bin Abi Thalib, salah seorang ahlul bait, sebagai penggantinya).

Namun umat Islam mengabaikan amanah tersebut. Mereka memilih non-ahlul bait sebagai pengganti Rosul. Dan ini menjadi preseden buruk yang mengantar kepada kehancuran umat.

Hanya beberapa tahun setelah meninggalnya Rosul, di saat para murid beliau masih hidup, telah terjadi berbagai periswita keji yang tidak bisa dibayangkan oleh akal sehat. Cucu tersayang Rosul dibantai secara keji dengan kekejian yang tiada tara dan keturunan Rosul yang tersisa diperlakukan seperti budak. Pelakunya adalah seorang Jazid bin Mu'awiyah bin Abu Sufyan, seorang khalifah umat Islam. Dan itu hanya sebuah awal dari berbagai kekejian yang semakin lama semakin besar.

Beberapa tahun kemudian, khalifah yang sama menghancurkan dinding-dinding ka'bah, memerintahkan tentaranya untuk membantai, merampok dan memperkosa penduduk Mekkah dan Madinah, dua kota suci yang di dalamnya tinggal para keluarga Rosul, sahabat-sahabat rosul dan keluarganya, orang-orang suci, dan para pahlawan penegak Islam.

Sejak saat itu umat Islam terbiasa dengan pembunuhan, pembantaian, pemerkosaan, dan perampokan. Semuanya dengan satu alasan, demi menggapai puncak kekuasaan. Ketika keluarga Abbasiyah meraih kekuasaan dari tangan keluarga Umayah, mereka membantai ribuan keluarga Umayah, termasuk wanita dan anak-anak. Dan kini kita melihat sendiri bagaimana umat yang sama telah saling bertikai dan berkhianat: bangsa-bangsa arab merantai tangan dan kaki saudaranya sendiri (Palestina) untuk dibunuh oleh Israel.

Jika saja sejak dari awal kita memenuhi amanah Rosul dengan memilih ahlul bait sebagai pemimpin umat, maka dijamin umat Islam akan menjadi umat yang bersatu, kuat dan disegani. Tidak ada lagi orang-orang keji dan jahat seperti Jazid yang menumpahkan darah sesamanya. Tidak ada orang-orang seperti Husni Mubarak, Raja Hussein, Raja Saud, dan Mahmud Abbas yang mengkhianati saudaranya dan membela musuh.

Kebanyakan dari kita tanpa sadar telah mengeliminir rasa kasih sayang kita kepada Nabi Muhammad. Kita mengaku menyayanginya, namun mengabaikan orang-orang terdekat (ahlul bait)-nya. Kita mengaku menyayanginya, namun juga mempercayai hal-hal buruk melekat dirinya seperti terkena penyakit ayan, terkena sihir, meracau dan sebagainya. Atau saat kita mempercayai beberapa orang lebih bijak dibandingkannya.

Na'udhubillah mindhalik. Dengan menisbahkan hal-hal buruk kepadanya (Muhammad S.A.W), tanpa sadar kita telah menjadi kafir. Karena Muhammad Rosulullah adalah mahluk kesayangan Allah, manusia paling sempurna, manifestasi kesempurnaan Allah di dunia. Ia adalah manusia yang Allah berfirman dalam hadits qudsi: Tidak akan Aku ciptakan alam semesta ini kalau bukan karena Muhammad.

Wallahualam bi shawab.

HARI KEBENCIAN WANITA INTERNASIONAL


Siapa bilang komunisme telah mati? Ia hanya pingsan. Tuannya, para bankir Yahudi "penguasa dunia belakang layar", masih memberinya makan, dipelihara di dalam kandang untuk dilepaskan kembali bila diperlukan.

Buktinya Majalah Tempo masih menjadikan tokoh komunis melayu, Tan Malaka, sebagai tema edisi khusus kebangkitan nasional Indonesia, orang-orang liberal-demokrat-bodoh masih mengelu-elukan Che Guavera, dan orang-orang yang sama masih memperingati hari-hari suci komunisme seperti Hari Buruh Internasional dan Hari Wanita se-Dunia (International Woman's Day).

Di Indonesia, Hari Wanita Internasional (IWD) yang jatuh tiap tanggal 8 Maret, masih diperingati dengan gaya yang agak santun seperti memberikan bunga atau seminar. Pasti untuk menghindari kecurigaan masyarakat, terutama ummat Islam Indonesia yang sangat anti-komunis. Namun di negara lain, HWD telah menunjukkan wujud aslinya sebagai mesin propaganda komunisme.

Poster peringatan IWD di Kanada di atas menunjukkan filosofi IWD sebenarnya: menghancurkan tata sosial dimana suami menjadi pimpinan. Poster tersebut secara provokatif mengajak wanita untuk meninggalkan kodratnya sebagai pasangan laki-laki penerus generasi manusia dan sebagai ibu yang mendidik dan memelihara anak-anak, menjadi wanita pekerja kasar dan komoditi seks.

Persis sama dengan kampanye homonisasi yang saat ini marak di Indonesia dengan icon-nya Ryan "pembunuh berantai" dan Olga Syahputra --- yang terakhir ini menjadi alasan mengapa Hillary Clinton memilih menjadi bintang tamu acara "Dahsyat" RCTI dimana Olga menjadi host-nya, daripada acara-acara yang lebih serius di MetroTV dan TVOne. Hillary adalah seorang tokoh demokrat Amerika yang platform politiknya memperjuangkan hak-hak kaum homo. IWD merupakan alat untuk menghancurkan tata dunia lama untuk digantikan dengan "tata dunia baru" dimana kaum Yahudi menjadi penguasanya.

Dalam poster tersebut para wanita diajak mengikuti pawai dengan mengenakan simbol-simbol anti-wanita. Selain palu, kaum wanita diminta membawa topi pekerja, helm, sabuk tukang, kaca mata las, dan "simbol-simbol perubahan" lainnya.

Tentu saja IWD tidak diciptakan untuk menghargai wanita dengan sifat-sifat terhormatnya: kecantikan, kecerdasan, dan kesantunan. Sebaliknya IWD adalah bentuk memanipasi mereka dengan berbagai persepsi-persepsi keliru yang merusak. Mereka berusaha menarik wanita sebagai pendukung agenda "tata dunia baru".

HWD sebenarnya adalah bentuk kebencian kepada wanita dan tata sosial masyarakat dan humanis dan religius. Dan orang-orang yang mendukung dan berpartisipasi adalah orang-orang yang oleh tokoh komunis Joseph Stalin disebut sebagai "orang-orang bodoh yang berguna".

Para operator komunisme menangkap kebodohan orang-orang dengan slogan-slogan yang menggiurkan: persamaan, perdamaian, HAM, kebebasan, dan sebagainya. Mereka tidak sadar bahwa gerakan-gerakan tersebut didanai dan diorganisir oleh komunisme baru, yang pada akhirnya didanai dan diorganisir oleh para bankir yahudi "penguasa dunia belakang layar".

HWD pertama kali diselenggarakan tahun 1910 di Kopenhagen, Denmark, oleh organisasi komunis internasional "The Socialist International". Mereka mengklaim peringatan ini ditujukan untuk memperjuangkan "hak-hak kaum wanita".

Ini adalah manifesto untuk IWD yang dipublikasikan di "Die Kommunistin", 2 Maret 1921: "Untuk semua wanita pekerja! Anda yang membuat permintaan-permintaan dan perjuangan dalam jumlah jutaan... Pada semua masa dimana gelombang tak terwariskan maju di bawah panji-panji komunisme melawan eksploitasi dan pelecehan kekuatan kapitalisme. Pada perayaan Hari Wanita se-Dunia para ibu yang penuh derita, istri-istri yang ketakutan, buruh-buruh wanita yang kecapaian, pegawai-pegawai, guru, dan pemilik lahan-lahan sempit, mengalir bersama."(Wiemar Republic Sourcebook, 1995)

IWD dirancang untuk membuat wanita merasa telah diperlakukan tidak adil dan ditekan. Sebagai contoh satu halaman "fakta-fakta gender" mengatakan bahwa 2/3 pekerja di dunia adalah wanita, namun mereka hanya mendapatkan 10% penghasilan. Mereka juga dicuci otaknya untuk selalu berfikir bahwa kepentingan mereka terpisah dengan kepentingan keluarga mereka.

Ribuan acara diselenggaran dalam IWD. Di Unitarian Church London, Ontario, Kanada sebuah acara digelar oleh sebuah LSM untuk wanita Afghanistan. "menghorm

Thousands of events are planned around the world. For example, at the Unitarian Church in London Ont. an organization for Afghanistan women and girls Dalam undangannya menulis "Untuk menghormati dan merayakan para wanita lokal dengan musik, nyanyi, dansa dan aneka hiburan. Semua wanita diundang. Acara gratis!" Sangat bernuansa lesbianis.

Di San Francisco, diadakan cocktail party dan pemutaran film tentang penderitaan wanita di Gaza, seolah hanya mereka yang menderita dan para lelaki, anak-anak dan orang tuanya tidak. Atas nama "kesamaan gender", mereka mempraktikkan "ketidak samaan gender". Dengan memisahkan wanita-wanita muslim dari keluarganya, mereka bermaksud memudahkan mereka untuk dieksploitasi.

Fakta bahwa event-event berbau komunis seperti IWD dan Hari Buruh Internasional dirayakan setiap tahun membuktikan bahwa masyarakat telah tercuci otaknya oleh propaganda zionisme cq komunisme/sosialisme. Kebanyakan masyarakat bukan sosialis apalagi komunis, namun mereka bangga dapat berpartisipasi dengan event-event semacam IWD. Dengan kebodohannya tersebut, mereka telah turut berperan dalam penghancuran dunia untuk diserahkan bulat-bulat kepada agen iblis di bumi: para bankir Yahudi pemakan riba "penguasa dunia belakang layar".

Sumber: Henry Makow Ph.D, henrymakow.com, March 7, 2009

Sunday, 8 March 2009

Freedom in the Air


Rakyat Inggris tidak akan pernah menjadi budak dan selamanya menjadi manusia merdeka, demikian bunyi lagu yang dinyanyikan The Sex Pistols. Demikian merdekanya rakyat Inggris sehingga Sex Pistols tanpa takut menyanyi, "ratu Inggris fasis dan bukan manusia." Demikian merdekanya sehingga ratu Inggris hanya tersenyum mendengar sindiran itu, bahkan mengundang Sex Pistols ke istana.

Di waktu lain, Rowan Laxton, seorang pejabat deplu Inggris, mengeluhkan kekejian Israel atas penduduk Palestina di Gaza, dalam sebuah tempat pelatihan kebugaran (gymnasium). "Oh Yahudi yang keji," katanya saat menyaksikan pembantaian Gaza di televisi. Atas keluhan itu ia langsung ditangkap dengan tuduhan memicu kebencian agama. Ia kini bersiap-siap menghadapi hukuman penjara selama tujuh tahun setelah dipecat dari pekerjaannya.

Meski tidak satu pun pemimpin tertinggi Israel (Peres, Olmert, Barak dan Livni) adalah orang-orang religius. Multi intepretasi mengenai Yahudi (kelas sosial, ras, agama, negara, bangsa) digunakan untuk melindungi entitas satu ini dari semua penjuru.

Orang-orang "sayap kanan" marah dengan penangkapan itu. Namun orang-orang "sayap kiri", kaum sosialis, komunis dan sejenisnya, mendukung penangkapan seraya menuduh Laxton "rasis". Bahkan ekspresi kejengkelannya terhadap Israel diartikan sebagai "keinginan membunuh semua remaja Israel".

Hukum kebencian agama adalah sangat ganjil. Sementara Yahudi membantai kaum muslim dan kristen, menghancurkan masjid dan gereja, hukum tersebut mandul. Namun jika Anda mengkritik Israel atau Yahudi, tiba-tiba saja hukum itu menjadi begitu garang.

Belum lama ini sebuah gereja dirusak oleh orang-orang Yahudi di Migdal ha-Emek, Rusia. Sebuah koran memberitakan kejahatan ini. Organisasi Yahudi Rusia menuntut koran tersebut dengan tuduhan mengobarkan kebencian agama. Tuntutan tersebut ditolak oleh kejaksaan Rusia, namun kemudian menjadi pelajaran bagi semua media massa Rusia: jangan "menyentuh" Yahudi.

Laxton kehilangan jabatannya karena bosnya, menlu David Milliband, seorang Yahudi, tidak berhati lapang sebagaimana ratu Inggris. Jika saja ia mengungkapkan kritikan yang lebih keras seperti: "Yahudi bukan manusia" sebagaimana Sex Pistols menghina ratu, ia mungkin akan dikirim ke Guantanamo.

Peristiwa yang menimpa Laxton menyadarkan rakyat Inggris bahwa Inggris, bangsa yang secara tradisi menghargai kebebasan menyampaikan pendapat, kini telah berubah menjadi negara fasis tiran. Mereka bahkan tidak bisa lagi mengekspresikan kemarahan di sebuah gymnasium.

Tragedi Gaza baru-baru ini telah menunjukkan sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat nyata. Orang-orang dengan gamblang menyaksikan Israel membantai rakyat Palestina di siang bolong sehingga membuat tabu tentang kekebalan hukum orang-orang Yahudi terpatahkan. Ribuan rakyat Inggris tumpah ke jalan-jalan memprotes kekejian Israel.

Memang tidak semua Yahudi membantai Palestina. Demikian juga tidak semua orang Jerman membantai Yahudi. Namun semua orang Jerman, hingga kini, masih menanggung cap sebagai pembunuh Yahudi dan harus menyisihkan jutaan dolar kompensasi setiap tahun kepada Israel atas apa yang dilakukan nenek moyangnya.

Koran-koran Yahudi tidak keberatan sedikit pun untuk menulis: "Orang-orang Norwegia menangkap dan merampok orang-orang Yahudi sebelum mengirimkannya ke kamp-kamp konsentrasi Jerman." Dan tidak ada orang Norwegia yang memprotes: "Apa, semua orang Norwegia?"

Seorang tokoh Yahudi menulis: "orang-orang Palestina terobessi dengan "keinginan hidup menderita" yang diajarkan Islam" untuk menjustifikasi perlakuan Yahudi yang keji sehari-hari kepada mereka. Yah, semua orang Palestina dianggap menderita sakit jiwa setelah penderitaan yang mereka tanggung oleh pembantaian Yahudi.

Orang-orang Amerika secara rutin menyaksikan, para pengemplang pajak Amerika tinggal aman dengan uang curiannya di Swiss. Namun tidak ada satupun undang-undang kebencian anti-Swiss yang diundangkan. Ketika orang-orang Perancis melecehkan Amerika karena aksi-aksi perang yang dilakukannya di Afghanistan dan Irak, tidak satu pun orang Perancis yang ditangkap.

Jika saja Laxton berteriak keras: "Fuck America", tidak ada seorang pun yang keberatan kepadanya, bahkan orang Amerika sekali pun. Hal yang sama berlaku untuk bangsa-bangsa lain. Namun tidak demikian halnya dengan Yahudi, orang-orang yang merasa diri sebagai "bangsa pilihan" yang diistimewakan Tuhan.

Namun tatkala mereka menyiramkan ribuan kilo bom posporus di rumah-rumah, sekolah dan jalanan Gaza, menjatuhkan semua senjata pemusnah massal yang dikenal dunia modern sembari memblokade semua perbatasan Gaza untuk membuat rakyat Palestina mati kelaparan, keistimawaan itu runtuh bak rumah kartu.

Saat ini kebencian rakyat Eropa dan Amerika terhadap Yahudi telah mencapai titik paling tinggi. Mereka marah karena selain menyaksikan kekejian Yahudi di Gaza, dalam waktu bersamaan juga menyaksikan pencurian besar-besaran orang-orang Yahudi atas kekayaan mereka (kasus Madoff dan pemberian talangan dengan uang rakyat kepada para pencuri di bisnis keuangan).

Perdana Menteri Turki disambut bak pahlawan perang setelah berani mendamprat Yahudi dalam pertemuan Davos. Ribuan orang Arab tumpah ke jalanan memuji-muji dirinya. Hal serupa akan dialami para pemimpin dunia manapun, kecuali Israel, jika berani mematahkan tabu "keistimewaan bangsa Yahudi". Tidak terkecuali Barack Obama.

Yahudi tidak tahu kapan harus berhenti, setelah impian lama para "Learned Elders of Zion" terelasisasi dengan dunia dalam genggaman. Setelah berada di puncak, tidak ada lagi sesuatu yang dapat diraih, kecuali jatuh ke jurang. Tidak ada apaun di udara kecuali kebebasan.

Pemilu bisa dimenangkan, kemasyuran dapat diraih, masalah-masalah dapat dipecahkan. Bahkan rakyat masih dapat menahan beban krisis ekonomi seberat apapun. Rakyat Inggris membutuhkan orang seperti Laxton sebagai Perdana Menteri, orang yang bangkit kemarahannya menyaksikan pembunuhan massal, berani menyampaikan pikirannya.


Sumber: "Freedom in the Air", Israel Shamir, truthseeker.co.uk, March 6, 2009

Inggris, AS, Siapkan Skenario Buruk: Kerusuhan Massa


Otoritas keamanan Inggris saat ini tengah mempersiapkan diri menghadapi sebuah skenario buruk berupa kesusuhan massa menyusul krisis ekonomi global yang melanda akhir-akhir ini. Persiapan tersebut berupa penggelaran pasukan militer bersenjata di jalanan untuk mengatasi kerusuhan massa yang tidak dapat diatasi oleh personil kepolisian.

"The “double-whammy” of the worst economic crisis in living memory and a motley crew of political extremists determined to stir up civil disorder has led to the ­extraordinary step of the Army being put on ­standby," tulis koran Inggris Daily Express, awal bulan ini.

Daily Express menambahkan bahwa aparat inteligen MI5 dan satuan khusus anti teroris telah mentargetkan para aktivis (untuk ditangkap) yang dikhawatirkan akan memprovokasi masyarakat yang kehilangan pekerjaan, atau yang kehilangan dana simpanannya yang disimpan di bank-bank yang bangkrut.

Yang menjadi kekhawatiran aparat inteligen adalah bukan para anarkis yang akan mendorong kerusuhan, melainkan justru kalangan kelas menengah. Keterlibatan kelas menengah akan membuat mental perusuh semakin kuat dan memerlukan tindakan lebih keras oleh aparat keamanan. Di sisi lain semakin keras aparat keamanan bertindak, kerusuhan dapat menyebar lebih cepat.

Alasan lain kekhawatiran keterlibatan kalangan kelas menengah (kalangan profesional, pekerja kerah putih) dalam kerusuhan adalah karena banyaknya arus imigrasi yang telah banyak mengancam lapangan kerja mereka.

Kerusuhan diperkirakan akan dimulai awal April mendatang bersamaan dengan diselenggarakannya pertemuan G20 di London. Adapun kerusuhan besar terakhir terjadi tahun 80-an saat pemerintah menaikkan pajak secara signifikan.

Peluang dikerahkannya tentara untuk mengatasi kerusuhan di jalanan merupakan pilihan terakhir, demikian tulis Daily Express. Namun dengan banyaknya keluhan para pejabat kepolisian yang khawatir tidak dapat mengatasi masalah tersebut membuat rencana tersebut sepertinya tidak dapat diabaikan.

Seorang sumber terpercaya mengatakan kepada Express bahwa, "Situasinya sangat nyata, sangat serius... Saya bisa mengatakan ada banyak rumor yang menyebutkan bakal terjadinya kerusuhan."


PROSPEK DI AS

Kekhawatiran serupa juga terjadi di Amerika. Banyak laporan menyebutkan bahwa militer AS telah banyak yang disiagakan untuk menghadapi kemungkinan terjadinya kerusuhan-kerusuhan massa setelah krisis keuangan menyebabkan ratusan ribu pekerja harus kehilangan pekerjaannya dan jutaan warga terancam kehilangan rumah tinggalnya karena tidak dapat melunasi cicilan.

Banyak tokoh telah memperingatkan bahaya tersebut, termasuk Senator Christopher Dodd, ekonom terkenal Nouriel Roubini, futuris terkenal Gerald Celente, Direktur IMF, Ketua WTO, Kepala Staff Gabungan, dan mantan pejabat keamanan berpengaruh Zbigniew Brzezinski, serta Direktur Inteligen Nasional Dennis C. Blair. Bahkan seorang futuris Rusia telah meramalkan tahun ini Amerika akan terpecah menjadi beberapa negara.

Bahkan institusi militer berpengaruh U.S. Army War College, bulan November tahun lalu mengeluarkan laporan mengejutkan. Laporan berjudul "Known Unknowns: Unconventional ‘Strategic Shocks’ in Defense Strategy Development" itu memperingatkan militer harus dipersiapkan untuk sebuah kondisi “violent, strategic dislocation inside the United States,” yang ditimbulkan oleh “unforeseen economic collapse,” “purposeful domestic resistance,” “pervasive public health emergencies” dan “loss of functioning political and legal order.”

Kerusuhan sipil yang luas, demikian tulis dokumen tersebut, akan memaksa institusi keamanan untuk meninjau kembali prioritas keamanan demi mempertahankan hukum dasar dan keamanan masyarakat.

Komisioner Eropa Korup, Tebar Ancaman


Jacques Barrot, Justice Commissioner Uni Eropa, tanpa peringatan apapun tiba-tiba saja memberikan ancaman serius kepada Bishop Richard Williamson, pendeta katholik yang baru saja bebas dari hukuman pengasingan oleh gereja Vatican setelah membuat pernyataan menentang mitor holocoust. Menurut Barrot, jika Bishop Richard mengulangi membuat pernyataan menolak holocoust, ia ditangkap, di negara-negara Uni Eropa manapun.

"Jika Bishop Williamson membuat pernyataan menentang holocoust di Perancis, maka ia akan dihukum oleh pengadilan Perancis," kata Barrot dalam sebuah acara pertemuan para menteri bidang hukum Uni Eropa di Brussels minggu lalu. Tidak lupa Barrot memaparkan hal-hal mengenai sejarah, hukum, moral, dan sebagainya sebagai referensi pernyataannya.

Namun siapa sebenarnya Jacques Barrot yang telah bertingkah seolah sebagai orang bijak tersebut? Ia adalah pelaku tindak korupsi dalam sebuah kasus yang menggemparkan Perancis tahun 2000. Ia dihukum percobaan delapan bulan penjara karena mengemplang uang negara senilai 2 juta frank ke kas partai politik miliknya. Kasus ini merupakan bagian dari kasus yang lebih besar yang melibatkan penguasa Perancis. Namun seperti kasus-kasus lainnya, ia mendapat ampunan dari Presiden (saat itu) Jacques Chirac, seorang pemimpin Eropa yang dikenal dekat dengan kalangan Yahudi.

Seorang kriminal menjadi komisioner hukum organisasi Uni Eropa? Yah, di negara-negara dimana Yahudi menjadi penguasa depan maupun belakang layar, sebuah paradoks merupakan keseharian. Sebagaimana paradoks yang ditunjukkan Israel: berbicara perdamaian sembari membunuhi penduduk sipil tak berdosa. Atau kata orang Polandia tentang orang Yahudi: menjerit-jerit menangis sembari memukuli orang.

Friday, 6 March 2009

Che dan Pelukan Maut Komunisme


Dunia tidak mungkin melepaskan diri dari kehancuran selama masih "memeluk" komunisme dengan segala "tetek bengek"-nya. Salah satu tanda dari "tetek bengek" komunisme adalah masih beredarnya buku-buku komunisme di perpustakaan-perpustakaan, beredarnya kaos-kaos, buku-buku, dan film-film mengenai Che Guevara.

Kalau di Indonesia adalah masih dihormatinya sosok seperti Pramoedya Ananta Toer dan Tan Malaka. Saya pernah membaca biografi Che Guevara yang dimuat di majalah Matra dan edisi khusus Tan Malaka di majalah Tempo. Kini saya tahu kaitan antara Matra-Tempo dengan Che-Tan Malaka, yaitu melalui para eksekutif kedua majalah tersebut dengan Eric Samola, melewati taipan Ciputra dan berakhir di konglomerasi media massa global milik Yahudi.

Tetek bengek komunisme itu kini tengah mencapai kulminasi dengan diproduksinya sebuah film biografi Che Guevara berdurasi 4 jam 17 menit. Bukan oleh orang-orang komunis China, Kuba atau mantan komunis Uni Sovyet, melainkan oleh orang-orang "kapitalis" Hollywood Amerika. Tepatnya sutradara peraih Oscar Steven Soderbergh.

Bagi orang-orang liberal itu (pemuja kapitalis dan komunis sekaligus), rupanya Che lebih berharga dibandingkan para founding father Amerika sendiri. Demi Tuhan, bangsa Amerika bahkan memberi penghargaan sangat tinggi kepada sosok komunis yang lain, Marthin Luther King, dengan menjadikan hari kelahirannya sebagai hari libur nasional. Arwah para founding father pasti iri para arwah Marthin Luther.

Mick LaSalle, seorang kritikus film dari San Francisco pun dibuat bingung oleh sutradara Steven Soderbergh yang membuat film ini. "Jika saja Soderberg membuat film tentang George Washington dan Abraham Lincoln. Dengan membuat film tentang kepahlawanan Che Guevara, Soderberg menganggap kita semua setuju dengan pandangan dalam filmnya," katanya.

"Film itu merupakan versi gerilya komunis dari film Stations of the Cross, dimana kita melihat sosok Guevara dalam berbagai periode yang penuh kekerasan. Film ini tidak mengajak orang untuk berfikir, namun untuk memuji, bahkan mungkin memuja."

Ini bukan film pertama buatan Hollywood tentang Che, seorang pembunuh (tidak ada komunisme tanpa pembunuhan-pembunuhan massal yang keji) yang digambarkan sebagai "orang suci". Pada tahun 1969 Hollywood membuat film serupa dengan Omar Sharif berperan sebagai Che dan Jack Palance sebagai Fidel Castro. Selain itu pada tahun 2004 lalu juga diproduksi film sejenis dengan judul "The Motorcycle Diaries" (Che dikabarkan menggunakan motor trail selama menjalankan missi gerilyanya di Amerika Selatan), dan belasan film sejenis yang dibuat oleh stasion-stasion televisi.

Kaum komunis mengklaim perjuangannya adalah demi melayani rakyat. Mengejutkannya, masih cukup banyak orang bodoh yang mempercayainya, membaca dan melihat film-film Che dengan berlinangan air mata. Namun mengapa para pemuja Che juga melibatkan para sineas kapitalis Hollywood?

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa media massa dan dunia hiburan Amerika bahkan global, dikuasai oleh kapitalis Yahudi. Namun tidak banyak yang tahu bahwa para kapitalis Yahudi itulah yang menjadi "bapak komunisme" dunia.

Peristiwa-peristiwa besar dunia, hampir semuanya merupakan hasil skenario mereka untuk mengubah bentuk monopoli kekuasaan penciptaan uang dan kredit menjadi monopoli politik, bisnis, budaya dan agama. Mereka menciptakan kedua paham kapitalisme dan komunisme untuk membuat dunia sibuk menghabiskan energi, mengalihkan perhatian massa sekaligus menangguk untung dari bisnis peperangan komunisme versus kapitalisme.

Pada tahun 1953 Ketua Ford Foundation Howard Gaither mengakui kepada tim penyidik Congress bahwa kebijakan lembaganya adalah "menggunakan dana-dana sumbangan untuk merubah kehidupan kita di Amerika sehingga dapat bergabung dengan nyaman dengan Uni Sovyet."

Bangsa Amerika mempunyai ingatan sejarah yang sempit sehingga lupa bahwa agen-agen komunis nyaris berhasil merubah Amerika menjadi negara komunis, kalau saja tidak ada beberapa patriot dipimpin oleh anggota Congress McCarthy, yang melawan dan menggagalkan rencana tersebut. Akibat kegagalan tersebut maka rencanya besarnya diubah, yaitu mengganti Uni Sovyet menjadi kapitalis. Maka runtuhlah Uni Sovyet karena pengkhianatan Gorbachev dan Boris Yeltsin. Inilah sebabnya mengapa jargon komunisme "political corectness" kini menjadi jargon politik Amerika.

Mengapa yayasan-yayasan dan media massa mempromosikan feminisme, homoseksualisme, dan pornografi untuk menghancurkan masyarakat? Mengapa mereka mensponsori "liberalisme" dan "keberagaman" untuk menghancurkan identitas bangsa. Mengapa industri hiburan dan informasi berubah menjadi berorientasi sek, kekerasan, dan penyimpangan-penyimpangan sosial. Kita tidak sadar bahwa sebuah "mesin budaya" tengah mengendalikan kita menuju kehancuran masyarakat.

Eustace Mullins, seorang penulis murid sastrawan besar Ezra Pound, menulis buku tentang konspsirasi Bank Sentral Amerika. Tulisan tersebut diilhami oleh Ezra Pound yang terobsesi untuk membongkar kejahatan di balik pembentukan Bank Sentral. Para penerbit mengatakan kepadanya, mengapa ia melawan mereka dan mengabaikan tawaran menjadikannya sastrawan besar pemenang Nobel seperti Hemingway, Steinbeck, dan Faulkner (semuanya murid Ezra Pound).

Maka Mullins tetap menjadi sastrawan kelas bawah. Namanya mungkin baru akan dihormati nanti setelah masyarakat sadar bahwa apa yang ditulisnya dalam buku "Secret of The Federal Reserve (The London Connection)" adalah benar. Sementara Ezra Pound harus menghabiskan hidupnya di klinik kejiwaan setelah pemerintah tidak memiliki alasan untuk mengadilinya.

Rupert Murdoch, yang korporasi media massanya didanai oleh keluarga bankir Yahudi Rothschilds, mengatakan baru-baru ini, "Kita berada di tengah-tengah sejarah dunia dimana bangsa-bangsa akan didefinisikan kembali (redifined) dan masa depan akan berubah secara fundamental."

Murdoch benar bahwa orang-orang seperti keluarga Rothchild lah yang bisa menentukan masa depan bangsa-bangsa di dunia.


Che, Castro, dan Revolusi Kuba

Sampai beberapa hari lalu saya masih tidak bisa mengetahui dengan pasti, mengapa Amerika memiliki sebuah pangkalan militer di Kuba, tepatnya di Guantanamo. Sampai saat itu saya juga tidak memahami mengapa regim Batista dukungan Amerika, kalah dengan mudah melawan Castro, di negeri yang sangat dekat dengan Amerika.

Fidel Catro berhasil mengalahkan Batista berkat bantuan para kapitalis Amerika yang bekerja di birokrasi, militer dan media massa. Mereka menghentikan bantuan kepada Batista dan membiarkan Castro mendapat bantuan senjata besar-besaran dari Uni Sovyet. Ini membuat para pendukung Batista sadar bahwa "angin tidak lagi berhembus ke arah yang benar" dan mereka pun berubah haluan dengan mendukung Castro.

Hal ini tertulis di buku karangan Nataniel Weyl berjudul "Red Star Over Cuba". Weyl adalah seorang tokoh komunis Amerika tahun 1930-an, dan kenal dekat dengan tokoh-tokoh komunis Kuba. Saat itu ia sebenarnya bekerja untuk bankir Amerika dengan "menyamar" sebagai peneliti Federal Reserve (bank sentral AS) untuk wilayah Amerika Selatan. Weyl adalah seorang yahudi yang sadar dengan kejahatan komunisme dan kemudian mendedikasikan hidupnya untuk membongkar kejahatan komunisme di Amerika Latin.

Menurut Weyl baik Che Guevara dan Fidel Castro dididik oleh agen-agen komunis Sovyet sejak masih remaja. Guevara, kelahiran Argentina, menjadi penghubungan antara agen-agen rahasia Sovyet dengan kelompok Castro yang menyamar sebagai penduduk asli.

"Senjata rahasia Castro adalah uang --- jutaan dolar dengannya ia membeli kemenangan. Ia membeli semua tentara Batista, dan dalam satu kesempatan membayar $650 ribu tunai untuk satu batalion tentara dengan perlengkapannya.

Dubes Amerika di Kuba Earl Smith mengaku bahwa militer Kuba pimpinan Batista tidak pernah bertempur dengan sungguh-sungguh. Alasan utamanya, menurut Earl adalah perubahan politik Amerika yang meruntuhkan moral pasukan Batista.

Alasan lainnya adalah maraknya gerakan freemason bentukan Rothschild di Kuba. Baik Castro maupun Che adalah anggota mason. Saking besarnya gerakan ini, di ibukota Havana terdapat markas Grand Lodge berlantai 15.

Menurut Humberto Fantova yang menulis buku "Che! Hollywood's Favorite Tyrant", Guevara terlibat dalam pembantaian 10,000 warga Kuba setelah revolusi. Fantova menulis tentang Che, "pembunuh haus darah, pengecut, hipokrit. Tidaklah berlebihan mengatakan Che adalah godfather dari terorisme modern. Dan kini para penganutnya dengan naif memuji-mujinya terus menerus. Mereka adalah orang-orang yang oleh Stalin disebut sebagai "para idiot yang menyenangkan."

Segera setelah revolusi Kuba yang mendudukkan komunis di kursi kekuasaan Kuba, seorang wartawan menanyakan kepada Che, "Apakah Anda melihat dalam waktu dekat akan ada sebuah pemilu yang demokratis di Kuba." Che hanya tertawa mendengar pertanyaan naif tersebut. Hingga kini Kuba adalah kerajaan diktator dengan Castro sebagai rajanya. Komunisme yang melayani rakyat? Itu hanya sebuah alat untuk menggapai kekuasaan mutlak.

Kalau begitu sebenarnya yang terjadi, lalu bagaimana dengan insiden Invasi Teluk Babi oleh Amerika (invasi Amerika ke Kuba yang gagal)? Itu hanya operasi intelegen Amerika yang sengaja dibuat gagal untuk menaikkan image Castro.

Lalu bagaimana dengan pembunuhan Che oleh agen-agen Cia? Baik. Ia telah melaksanakan tugasnya dan tidak diperlukan lagi. Sebagaimana komunisme, ia hanyalah alat.

Wednesday, 4 March 2009

Memahami Keterkaitan Zionisme, Tragedi WTC dan Krisis Keuangan Global


Tiga bulan setelah tragedi gedung WTC tgl 11 September 2001, reruntuhan gedung 110 tingkat itu masih mengepulkan asap meski telah diguyur hujan dan ribuan galon air petugas pemadam kebakaran. Ini merupakan satu dari ribuan keanehan lainnya terkait dengan tragedi WTC. Sebut saja misalnya runtuhnya gedung WTC 7 berlantai 40 yang sebenarnya tidak terkena hantaman pesawat jet yang menghantam menara kembar WTC. Atau lumpuhnya sistem pertahanan udara Amerika selama drama pembajakan pesawat-pesawat yang terlibat dalam tragedi tersebut.

Orang dengan kecerdasan minimal, asal mau berfikir sejenak, pasti akan mengatakan bahwa tragedi tersebut adalah sebuah rekayasa yang disengaja.

Sama dengan tragedi WTC, krisis keuangan yang melanda dunia akhir-akhir ini bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Melainkan sebuah rekayasa yang telah direncanakan bertahun-tahun. Bantahan Bill Clinton sebagai penyebab krisis keuangan global tidak dapat menghapuskan fakta keterkaitan keduanya. Adalah Rahm Emmanuel, penasihat khusus Bill Clinton yang kini menjadi kepala staff Gedung Putih yang dahulu mendorong dibentuknya NAFTA (pasar bersama Amerika-Kanada-Mexico).

Seorang presiden dari partai Demokrat yang platformnya melindungi kepentingan buruh, merancang undang-undang yang dapat menghancurkan lapangan kerja buruh domestik, adalah satu hal yang tidak pernah dibahas oleh media-media utama Amerika.

Krisis keuangan global yang di"panen" media massa tahun 2007 hingga saat ini adalah konsekwensi logis dari NAFTA yang oleh kandidat presiden independen Ross Perot ditentang mati-matian dalam kampanye kepresidenan tahun 1992. Perrot mengingatkan bahwa pembentukan kawasan-kawasan free trade semacam NAFTA akan menghancurkan industri manufaktur Amerika. Tanpa manufaktur dan hanya mengandalkan sektor jasa, sebuah entitas ekonomi akan mudah runtuh dengan mudah pada kondisi krisis. Saat itu media massa mentertawakan Ross Perot. Tapi tidak lagi saat ini.

Akibat krisis keuangan, saat ini angka pengangguran Amerika mencapai rekor. Hal ini tidak akan terjadi jika saja jutaan lapangan kerja Amerika tidak berpindah ke Mexico, China dan negara-negara berkembang lainnya karena "free trade". Hampir tidak dapat lagi ditemukan produk-produk manufaktur buatan Amerika. Termasuk bahkan untuk produk-produk "genuine" Amerika seperti celana jeans Levi's atau sepatu Converse.

Kini bahkan Amerika tidak dapat lagi melakukan kebijakan ekonomi yang diperuntukkan khusus bagi ekonomi Amerika sendiri. Saat Barack Obama akan melakukan kebijakan stimulus yang mensyaratkan penggunaan produk-produk lokal, para pemimpin Eropa dan Jepang berteriak-teriak menentang.

Defisit perdagangan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun sejak era Bill Clinton (saat ini mendekati angka $1 triliun setahun) adalah bukti nyata kehancuran ekonomi Amerika karena "free trade". Namun tetap saja "free trade" dianggap sebagai sebuah kesakralan dan terus menerus diajarkan di kampus-kampus.

Di balik kejahatan besar penuh kebohongan tragedi WTC, krisis keuangan global hingga "kebijakan" bailout/talangan oleh pemerintah negara-negara Amerika dan Eropa terdapat sebuah konspirasi tingkat tinggi yang direncanakan dan dilaksanakan secara sistematis bertahun-tahun. Secara umum kejahatan itu adalah: pencurian kekayaan masyarakat, pembentukan opini publik yang keliru, dan perubahan paradigma politik pemerintah dan rakyat untuk lebih pro-Israel dan anti-Arab/Islam.


TIRANI KEBOHONGAN

Adalah Maurice Greenberg, pimpinan AIG penerima dana talangan senilai $150 miliar dari uang rakyat. Namanya tidak dapat dihilangkan dari daftar dugaan pelaku tragedi WTC. Pesawat pribadinya terlibat dalam aksi-aksi penculikan oleh agen-agen CIA di berbagai belahan dunia, termasuk penculikan terhadap awak kapal Estonia yang keberadaannya masih misterius sampai saat ini. --- Kapal ini tenggelam akibat operasi inteligen untuk menghilangkan bukti-bukti perdagangan senjata ilegal yang mencuri teknologi militer Rusia---. Pesawat pertama yang menabrak gedung WTC mengarah langsung ke ruang kontrol komputer perusahaan Greenberg yang berada di gedung WTC, Marsh.

Siapa saja operator krisis keuangan global selain Greenberg? Media massa sengaja menyembunyikannya. Bahkan kasus Madoff yang telah mencuri dana nasabah hingga $50 miliar tidak pernah terungkap jika saja putra Madoff sendiri tidak melaporkannya ke polisi karena turut menjadi korban penipuan (konspirasi di balik konspirasi?). Sama seperti kasus Ryan, homo pembunuh berantai di Indonesia, media massa mengabaikan proses hukum terhadapnya hingga tidak lagi diketahui apakah masih menjalani tahanan yang nyaman atau sudah menghirup udara bebas.

Di sisi lain, media massa menelan bulat-bulat, mempublikasikan berulang-ulang klaim pemerintah yang tidak pernah dibuktikan, bahwa kaum muslim ekstremis telah menghancurkan WTC melalui operasi inteligen yang sangat canggih dipadu dengan aksi-aksi amatir seperti menggunakan pisau cutter untuk mengancam puluhan penumpang dan awak pesawat. Menurut Bush, orang-orang ektremis Islam telah berupaya memicu perang antara dunia Islam melawan dunia barat yang demokratis di bawah pimpinan Amerika.

"War on Terror" sebenarnya sebuah agenda zionis yang direncanakan lama untuk membenturkan Islam dengan menggunakan tangan Amerika. Kebijakan tersebut telah melibatkan Amerika dalam petualangan-petualangan perang di dunia Islam: Afghanistan, Irak, Somalia dan Pakistan.

Presiden Obama baru saja memerintahkan pengiriman pasukan tambahan sejumlah 17 ribu personil di Afghanistan untuk membantu 30 ribu pasukan Amerika dan ribuan pasukan sekutu lainnya yang telah berada di Afghanistan sejak 2001, yang secara pelan namun pasti terdesak oleh milisi Taliban. Namun Obama keliru, tidak ada bangsa yang bisa menundukkan Afghanistan. Sejak Darius Agung dari Persia, Alexander Agung dari Machedonia, imperium Inggris Raya hingga superpower Uni Sovyet tidak mampu menundukkan rakyat Afghanistan.

Uni Sovyet yang berbatasan langsung dengan Afghanistan dan memiliki 240 ribu pasukan serta telah membunuh lebih dari 1 juta warga Afghanistan, terusir dari Afghanistan dengan hina.

Amerika manyusul? Saya katakan: Insya Allah, pasti!

Keterangan gambar: Gedung pencakar langit di Madrid, terbakar hebat selama sehari penuh, dan masih tegak berdiri. Sementara WTC runtuh dalam hitungan menit.

Monday, 2 March 2009

Ada Soros di Balik Hillary


Pertemuan yang digelar di Gedung Arsip Nasional, 18 Februari 2009 antara Menlu Amerika Hillary Rodham Clinton dengan sekitar 50 undangan, disinyalir diatur oleh George Soros, tokoh "filantropi" yang dikenal dekat dengan Partai Demokrat di AS.

Adalah Suciwati, istri mendiang "pejuang HAM" Munir Said Thalib yang menjadi bagian dari tamu yang diundang pada pertemuan tersebut. Suciwati adalah salah satu anggota Program Team Tifa Foundation, yayasan yang mendanai sejumlah LSM Indonesia yang mendapat dana dari George Soros.

Konon saat pertemuan tersebut Suciwati mendapat kesempatan khusus untuk menyampaikan aspirasinya terkait kasus Munir kepada Hillary. Kepada Menlu AS itu, Suci meminta Hillary agar menanyakan perkembangan proses kasasi kasus Munir ke Presiden SBY.

Meski akhirnya Hillary urung meneruskan permintaan Suciwati itu saat diterima Presiden SBY di Istana Negara, terangkatnya kasus Munir dalam acara kunjungan kenegaraan itu telah menimbulkan spekulasi. Apakah ini memang telah didisain untuk memojokkan pemerintah Indonesia yang menjadi bagian dari smart power rejim Obama?

Indonesia menjadi penting di mata Obama. Sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia dipandang bisa menjadi simpul penting dalam diplomasi rejim Obama yang berniat "memperbaiki" hubungan dengan dunia Islam. Maklum, paska agresi Israel yang membantai lebih dari 1300 warga Palestina di Gaza, dunia Islam mengecam kebijakan luar negeri AS yang lebih memihak Israel.

Peran Indonesia untuk kampanye "smart power" rejim Obama bertambah penting, mengingat posisi Indonesia yang masih berseberangan dengan Israel dalam menyikapi konflik di Gaza tempo hari. Bahkan bersama Iran dan Turki, Indonesia termasuk negara yang memotori penuntutan terhadap Israel ke Mahkamah Internasional atas kejahatan rejim zionis itu.

Atas desakan lobi Israel (AIPAC), diplomasi luar negeri AS akan diarahkan untuk mamasukkan Indonesia ke dalam "poros Arab" yang menjadi benteng Israel. Dengan masuk ke dalam poros ini, Indonesia akan diberi peran lebih besar dalam menengahi perundingan damai konflik Israel-Palestina, dengan syarat keluar dari pemrakarsa tuntutan atas Israel ke Mahkamah Internasional.

Sumber Intelijen menyebut, jaringan Soros yang dikenal mendunia melalui wadah Open Society Institute (OSI), ambil bagian dalam menyukseskan agenda AIPAC tersebut. Soros yang lebih dikenal di Indonesia sebagai spekulator pasar uang dan dituding pernah ikut menenggelamkan perekonomian Indonesia pada tahun 1998, akan memainkan peran penting dalam diplomasi luar negeri Obama.

Di Indonesia jaringan Soros mendanai dua lembaga non pemerintah (NGO), yaitu Tifa Foundation dan International Transperancy. Peran OSI tidak kalah dengan lembaga pendanaan Amerika lainnya seperti USAID dan the Asia Foundation. Sejumlah LSM utama di Indonesia dibiayai OSI. ---sisanya dibiayai oleh USAID dan Asia Foundation.

Sebut saja Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jaringan Islam Liberal (JIL), Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), Wakhid Institute, Komunitas Utan Kayu, JPPR, dan banyak lembaga lainnya. (Tifa Foundation menjadi semacam LSM induk dimana LSM-LSM mendapat dana dari OSI melaluinya. Habibie Center memilih negara-negara Uni Eropa sebagai sumber dana. Tidak mengherankan jika para tokoh LSM dan tokoh-tokoh demokrat-liberal negeri ini ramai-ramai mendemo pemerintah terkait pencekalan Sydney Jones, wanita lesbian Yahudi aktivis LSM yang dicekal pemerintahan Megawati --- atas saran Badan Inteligen Nasional--- karena menjadi agen rahasia asing, pen).

"Memberdayakan masyarakat adalah menjadi tujuan OSI di seluruh dunia, namun pada intinya adalah menggiring opini masyarakat sehingga pada akhirnya menekan pemerintah suatu negara," kata sumber tersebut.

Melalui jaringan OSI ini konon Soros menggalang apa yang disebut "humanitarian intervention", yakni suatu pendekatan untuk menembus psikologis masyarakat, khususnya dalam hubungannya dengna negara. Dengan hadirnya tekanan masyarakat itu membuat pemerintah relatif lemah dan akhirnya mau mengikuti apa yang diinginkan "sponsor".

OSI yang dikenal karena reputasinya mengacak-acak sejumlah negara Eropa Tengah, Eropa Timur, dan Uni Sovyet paska Perang Dingin, disinyalir akan kembali memainkan konflik di Papua dan Aceh.

Lihat saja di Aceh, paska bencana tsunami dan perjanjian Helsinskib 2005, kehadiran jaringan Soros begitu semarak. Soros sendiri secara pribadi telah beberapa kali mengunjungai Aceh.

Sumber Intelijen menyebut, untuk persiapan Pemilu Lokal 2009 di Aceh, Soros telah membiayai Partai Aceh yang merupakan wadah perjuangan politik Gerakan Aceh Merdeka. Sebelumnya perundingan RI-GAM juga tak lepas dari campur tangan sang "predator berbulu filantropi" yahudi ini.

Untuk kasus Aceh, Soros menggunakan jasa perunding ulung, Damiens "spin doctor" Kingsbury yang juga berdarah Yahudi (dan Marthi A, mantan presiden Finlandia "another jew ass sucker goy", blogger). Hasan Tiro? Pengaruh Yahudi dapat dilacak dari istrinya yang berdarah Yahudi. Sang "spin doctor" adalah arsitek pelepasan Timor Timur dari Indonesia. Tidak heran jika Habibie kemudian tidak nyaman tinggal di Indonesia dan memilih Jerman sebagai "pengasingannya". (Namun komunitas Indonesia di Jerman mengaku tidak begitu dekat dengan keluarga Habibie yang lebih banyak bergaul dengan kalangan jet set Eropa, bogger).

Meski banyak negara menyadari akan bahaya yang ditimbulkan oleh jarinan Soros, kenyataannya tidak banyak yang bisa dilakukan oleh pemerintah yang bersangkutan. Selain karena faktor keterpurukan ekonomi dan kemiskinan masyarakat, faktor lainnya adalah sifat kegiatan yang "bermanfaat" bagi masyarakat lokal.

Bisa dibayangkan dengan aktivitas pemberdayaan masyarakat atau penggunaan istilah-istilah "halus" lainnya seperti slogan "transparansi", "HAM", "demokrasi", "persamaan gender", dan lain-lainnya, menjadikan kegiatan jaringan Soros ini sulit ditolak. Dalam istilah inteligen disebut sebagai "positive inteligent activity".

Belum lagi dari segi keterpurukan ekonomi dan kemiskinan masyarakat, menjadikan sedikit saja bantuan materi yang dilakukan yayasan Soros, sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Hal ini sekaligus membuat peran pemerintah menjadi lemah (karena rakyat melihat Soros lebih bisa berbuat sesuatu ketimbang pemerintah).

(Betapa ironisnya, setelah merampok, Soros datang sebagai dewa penolong, dan masyarakat percaya padanya, blogger).

Dalam kasus Indonesia misalnya, kehadiran jaringan Soros semakin mencolok setelah kejatuhan rejim Soeharto tahun 1998. Didahului oleh krisis krisis ekonomi parah yang dipicu oleh aksi spekulatif Soros di pasar uang Asia, Soeharto akhirnya mundur dari jabatan presiden.

Pada tgl 18 September 2000, usai mengeruk keuntungan dari hasil spekulasi valas miliaran dollar, Soros melalui OSI mendanai terbentuknya Tifa Foundation. Tujuannya untuk mendorong Indonesia dan masyarakatnya menjadi "lebih terbuka" yang menghormati keragaman, menjunjung tinggi penegakan hukum, keadilan dan persamaan. Dengan dukungan dana Soros, dalam waktu singkat Tifa berkembang pesat. Yayasan ini mengklaim sebagai sebuah komunitas yang meliputi segala lapisan penduduk, baik unsur pemerintah hingga sektor bisnis.

Dukungan luas diberkan atas hak-hak individu, khususnya hak dan pandangan kaum perempuan, kelompok minoritas dan kelompok marginal lainnya. Dengan dukungan atas hak-hak individu itu, Tifa punya target memupuk solidaritas dan terciptanya tata pemerintahan yang baik, tentu menurut definisi mereka sendiri.

Karena itu secara umum misi Tifa adalah memberdayakan dan memperkuat masyarakat sipil vis a vis berhadapan dengna otoritas negara. Negara diposisikan sebagai "nature enemy" oleh rakyat. Maka sangat wajar jika bentuk akhir dari kehadiran jaringan Soros melalui perlawanan LSM yang dibiayainya itu membuahkan bentuk negara yang lemah (mudah didikte untuk kepentingan kelompok Soros). Inilah target Soros yang membonceng proses demokrasi.

KASUS MUNIR

Mencuatnya kasus Munir di sela-sela kunjungan Hillary disinyalir memang merupakan sebuah disain inteligen. Entah apa tujuannya, yanga jelas terangkatnya kasus Munir dapat mempengaruhi jalannya proses hukum yang kini tengah memasuki tahap kasasi di Mahkamah Agung.

Seperti diketahui Tifa melalui release yang dimuat di situsnya menyatakan keputusan Majelis Hakim PN Jakarta Selatan yang memvonis bebas Muchdi Pr sebagai "awan hitam" dalam penegakan hukum dan HAM di Indonesia. Majelis hakim seperti disebut Direktur LBH Jakarta Asvinawati dinilai mengabaikan logika inteligen dalam memaknai fakta di persidangan. Ini memang aneh. Sebab bagaimana mungkin sebuah keputusan persidangan harus memaksakan sebuah pandangan yang didasarkan semata-mata pada logika inteligen?

Misal, hasil rekaman percakapan yang menggunakan kata sandi dalam beberapa penyebutan nama dan istilah. Apakah serta-merta kata-kata sandi itu dapat diartikan sebagai sebuah rencana pembunuhan? Tentu ranah hukum berbeda dengan analisis inteligen. Logika hukum membutuhkan pembuktian yang rigid dan pasti, bukan tafsir. Kenyataannya memang pengadilan tidak dapat menhadirkan bukti-bukti material yang dapat dijadikan alat bukti. Dengan kondisi itu hakim membebaskan terdakwa yang amar putusannya dibacakan 31 Desember 2008.

Kini proses hukum kasus ini sudah berada di tingkat kasasi di MA. Pihak-pihak yang bersengketa dikabarkan telah mengajukan memori kasasi maupun kontra memori kasasi.

Perjalanan kasus Munir sempat terhenti dengan bebasnya terdakwa Pollycarpus pada tahun 2006 setelah hanya terbukti melakukan pemalsuan surat. Namun atas gencarnya tuntutan LSM Kontras dan dukungan Congress AS pada awal tahun 2008, dalam putusan PK di MA dinyatakan Pollycarpus bersalah. Ia diganjar hukuman 20 tahun penjara.

Kuatnya desakan Congress AS terhadap proses hukum kasus Munir yang tertuang dalam sebuah surat, juga berhasil mendorong dilakukannya penyidikan terhadap kemungkinan adanya "dalang" kasus tersebut. Maka diseretlah Muchdi Pr yang mantan komandan Kopassus itu ke pengadilan.

Kubu Munir membantah kalau penuntutan Muchdi Pr atas desakan Congress AS meski pihak Muchdi menunjukkan bukti surat Congress AS tersebut. Konyolnya permintaan Suciwati kepada Hillary untuk menanyakan kasus Munir kepada Presiden SBY justru mempertegas adanya korelasi tersebut.

Sumber: tabloid Intelijen edisi 25 Februari - 10 Maret 2009.

Banker’s Manifesto: Dahulu dan Sekarang


Setiap orang saat ini, merasa sangat khawatir dengan kondisi ekonomi saat ini dan masa depan. Namun mereka lupa bahwa di masa lalu telah banyak orang memperingatkan kondisi krisis ekonomi seperti sekarang ini. Beberapa di antaranya bahkan telah membeberkan motif di balik krisis-krisis ekonomi yang terjadi di dunia, menciptakan Depresi Besar dan menghancurkan mata uang dollar dan menggantikannya dengan mata uang baru Amero pada tahun 2010, serta menggolkan negara super North American Union yang anti-demokrasi.

Namun seperti biasa orang-orang media selalu mentertawakan semua hal "teori konspirasi" ini sembari membuang jauh-jauh memori tentang fakta-fakta pendukung "konspirasi teori" ini: UU Imigrasi tahun 1965 yang membuka perbatasan Amerika dari jutaan imigran legal maupun ilegal, NAFTA, Pax Americana, Neocons, dan meningkatnya kecenderungan Amerika menjadi negara tiran (Pembantaian Waco, Patriot Act, Real ID Act, Violent Radicalization and Homegrown Terrorism Prevention Act).

Singkat kata, rakyat Amerika menderita panyakit "memori singkat" alias pikun yang sangat akut.

Bahkan saat orang seperti Ben Bernanke (Gubernur bank sentral) baru-baru ini mengaku kepada anggota Congress bahwa bank sentral telah memicu terjadinya Depresi Besar tahun 1929 dengan kebijakan manipulasi kredit, pengakuan ini hilang begitu saja terbawa angin.

"Penguasa balik layar" menginginkan rakyat tetap dalam kebodohan. Mereka tidak menginginkan kejahatan mereka diketahui rakyat. Maka media massa, yang nyaris semuanya dimiliki "penguasa balik layar" mengabaikan semua fakta-fakta tersebut di atas. Bahkan statiun-stasiun televisi yang mengklaim mendedikasikan untuk ilmu pengetahuan sekalipun seperti History Channel atau Discovery Channel.

Baru-baru ini stasiun televisi CSBN menyiarkan breaking news berupa siaran langsung sidang Congress membahas rencana stimulus bank sentral Amerika untuk mengatasi krisis keuangan. Ron Paul, anggota Congress asal Texas, mengkritik keras kebijakan stimulus bank sentral dan pemerintah berupa penambahan kredit dan pencetakan uang kertas.

"Modal tidak dapat diberikan dengan cara memberikan kredit dan mencetak uang. Modal dihasilkan dari kerja keras dan penghematan. Simpanan yang dihasilkan dari kerja keras dan penghematan inilah yang menjadi modal. Bank Sentral harus mengubah paradigma ini sehingga krisis bisa diatasi dan ekonomi dapat berjalan dengan baik," begitu kata Ron Paul.

Namun pernyataan yang bijak dan "legal" ini tiba-tiba dipotong oleh host CNBC yang menyebut Ron Paul sebagai "di luar kontrol". Sekali lagi perlu dicatat": pernyataan bijak dan legal dari seorang anggota Congress di forum resmi dilecehkan seorang host televisi sebagai "di luar kontrol". Para pemirsa, rakyat Amerika, kemudian menganggap Ron Paul, orang-orang sepertinya dan semua pemikiran-pemikirannya sebagai "orang-orang yang tidak bisa mengendalikan diri", "paranoid", "bodoh" dan sebagainya. Kemudian mereka menganggap kebijakan stimulus pemerintah dan bank sentral sebagai "kebijakan".

Saat ini skenario telah terlihat cukup jelas bagi orang-orang yang mau berfikir sejenak. Di satu sisi "penguasa balik layar" (melalui anggota Congress yang telah terkooptasi) mengesahkan berbagai undang-undang anti-demokrasi (untuk mencegah rakyat yang sadar untuk melawan), dan di sisi lainnya menempatkan boneka sebagai presiden, Barry Soetoro Hussein Obama, yang mampu menyihir orang-orang liberal bodoh untuk membungkam setiap kesadaran rakyat yang muncul sembari mengeksekusi agenda-agenda mereka.

Kita telah diperingatkan sejak dulu oleh beberapa orang bijak. Anggota Congress Charles A. Lindbergh menyatakan kepada publik setelah diloloskannya UU Bank Sentral yang memberi kuasa swasta untuk mencetak uang dan pemerintah hanya boleh meminjamnya dengan beban bunga, tahun 1913: "Undang-Undang ini telah mengukuhkan sebuah kejahatan terbesar di bumi. Setelah presiden (Woodrow Wilson) menandatangani udang-undang ini, sebuah pemerintahan siluman yang menguasai keuangan negara akan disahkan. Kejahatan terbesar sepanjang sejarah sepanjang sejarah telah dilakukan oleh undang-undang ini."

Lindbergh kemudian membuka dokumen rahasia Bankers Manifesto yang dibuat tahun 1892 kepada Congress. Dokumen itu berbunyi:

"Kita (para bankir) harus bergerak hati-hati dan menjaga setiap langkah, karena beberapa pemuka masyarakat rendahan (the lower order of people) telah menunjukkan tanda-tanda penolakan. Kehati-hatian akan menghasilkan kebijakan yang populer di mata masyarakat hingga kita benar-benar kuat dan diterima masyarakat dan kita tidak lagi khawatir untuk mengumumkan semua tindakan kita.

(Yah, Bernanke telah membuka kedok para bankir tanpa merasa khawatir sedikitpun terhadap perlawanan rakyat. Ia dan para bankir itu benar dengan rencananya, blogger).

Berbagai organisasi di Amerika harus diawasi dengan ketat oleh orang-orang kepercayaan kita, dan kita harus melakukan tindakan segera untuk mengontrol organisasi-organisasi ini atau menghancurkannya jika tidak bisa kita kontrol.

Pada acara Konvensi (para bankir) Omaha yang akan dilaksanakan tgl 4 Juli 1892, orang-orang kita harus datang untuk mengatur gerakan kita atau kalau tidak akan muncul gerakan-gerakan penentang yang membutuhkan kekuatan untuk menundukannya. Kondisi seperti ini belum cukup umur. Kita belum siap menghadapi kondisi seperti ini. Modal kita harus tetap dilindungi melalui kombinasi konspirasi dan undang-undang.

Pengadilan harus dirancang untuk memihak kita, hutang-hutang harus ditarik, surat hutang dan kredit rumah ditutup secepat mungkin. (Skenario ini berjalan tepat dengan krisis mortgage baru-baru ini di Amerika yang memicu krisis keuangan global, blogger)

Saat, melalui jalur hukum, masyarakat kehilangan rumahnya (karena tidak dapat membayar cicilan kredit), mereka akan lebih mudah diatur oleh pemerintahan yang kuat yang bekerja untuk suatu kekuatan pusat (central power) dari kerajaan uang yang dikontrol oleh para bankir.

Masyarakat yang tidak memiliki rumah tidak akan berani menentang pemimpinnya. Sejarah berulang kembali sebagaimana mestinya. Kenyataan ini diketahui benar oleh para pemuka kita yang terlibat langsung dalam pembentukan imperalisme dunia. Sementara mereka melakukan tugasnya, rakyat harus dijaga oleh kekuatan politik yang keras.

Isu reformasi pajak harus digaungkan melalui organisasi politik yang dikenal dengan nama Partai Demokrat, dan isu tentang proteksionisme harus digaungkan oleh Partai Republik.

Dengan memecah para pemilih, kita dapat mengalihkan energi masyarakat untuk bertikai tentang masalah yang tidak penting bagi kita. Dan dengan demikian kita dapat mengamankan semua yang telah kita rencanakan dan telah berhasil dilaksanakan."

"Banker's Manifesto" adalah sebuah skenario rahasia para bankir untuk menguasai Amerika. Dokumen ini beredar sangat rahasia di antara para bankir utama, namun bocor keluar hingga Lindberg mendapatkan kopinya.

John Prukop dari Coalition of a Constitutional Washington mengatakan, "Rencananya adalah menguasai semua sumber daya manusia dan alam. Penguasaan bukan melalui pejabat-pejabat pilihan rakyat, melainkan melalui oligarkhi yang dibentuk sendiri."

Semua bank dan lembaga keuangan besar adalah milik segelintir bankir. Orang menyangka keluarga Morgan memiliki semua saham JP Morgan. Namun saat meninggalnya, keluarga Morgan hanya memiliki 17% saham perusahaan, sisanya dimiliki oleh keluarga Rothschild, bankir Yahudi dari Eropa. Keluarga Rothschild adalah satu di antara bankir Yahudi yang menguasai bisnis keuangan dunia. Yang lain di antaranya adalah keluarga Warburgs, Schiffs, Lazard dari Perancis, dan Moses Seif dari Italia. Merekalah para "penguasa belakang layar" dunia sebenarnya.

Baru-baru ini JP Morgan mendapatkan limpahan asset dari Lehman Brothers yang bangkrut karena krisis keuangan. Washington Mutual, AIG dan Wachovia Bank juga mengerucut menjadi satu bank baru membentuk oligarki keungan Amerika dan global yang dikuasai oleh para "penguasa belakang layar" yang menguasai saham bank-bank sentral dunia.

(Sekedar catatan: Bank Indonesia tidak lagi mencantumkan tulisan Republik Indonesia pada uang rupiah yang dicetaknya. Ini mengindikasikan Bank Indonesia mulai melepaskan diri sebagai lembaga negara dan membuka jalan bagi penguasaan oleh bankir "penguasa belakang layar" suatu saat nanti, blogger)

Saat ini pemerintah dan kekuatan-kekuatan politik Amerika, Kanada dan negara-negara Eropa secara sistematis berupaya mengubah negara mereka menjadi negara polisi. Melalui media massa mereka mencap ekstremis, dan neo-nazi kepada kelompok pembela hak-hak kulit putih. Kini mereka mulai dicap sebagai teroris internal (homegrown terrorist) yang harus ditindas. Tragedi Pembantaian Waco tahun 1993 dimana puluhan orang termasuk wanita dan anak-anak dibunuh aparat negara, merupakan test case atau latihan pembentukan police state di Amerika.

Presiden Barry Soetoro Obama telah merencanakan pembentukan pasukan keamanan sipil yang berjumlah sama dengan angkatan darat Amerika. Latar belakang dan alasannya? Kata Barry Soetoro Obama adalah untuk membantu masyarakat menghemat listrik. Betapa tidak rasionalnya mengingat biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar dari nilai energi yang dihemat. Tujuan sebenarnya adalah untuk membungkam setiap perlawanan rakyat yang kecewa dengan kondisi sosial ekonomi yang samakin runyam.

Pada akhirnya mereka menginginkan orang-orang kulit putih, sebagaimana etnis lainnya, menjadi budak para bankir Yahudi itu.

Mungkinkah Anda berfikir (setelah membaca beberapa buku dan artikel) bahwa para "penguasa belakang layar" adalah para raja minyak melibatkan raja Saudi dan keluarga George Bush? Atau sekelompok neo-Nazi yang bekerja secara rahasia? Atau Vatican? Atau sekolompok kulit putih yang membentuk organisasi rahasia Skull & Bones?

Baik. Keluarga Raja Saudi adalah mantan keluarga badui yang kerjanya merampok para khafilah dan jema'ah haji untuk menyambung hidup. Mereka muncul sebagai penguasa jazirah Arab setelah terbujuk rayuan zionis Inggris untuk memberontak kepada khilafah Islam Turki. Jika menghendaki zionis dapat mengakhiri kekuasaan raja Saudi kapan saja. Apalagi setelah popularitasnya merosot karena terlalu kentara menjadi pelayan Amerika.

Keluarga Bush? George W. Bush senior mengecewakan orang-orang Yahudi karena terlalu keras menekan Israel untuk berdamai dengan Palestina dan menarik pulang pasukan Amerika dari Irak setelah Perang Teluk I. Hasilnya, ia kalah dalam pemilihan presiden tahun 1992. Jika saja tidak terbongkar rencananya, George W Bush senior akan berahir hidupnya dalam sebuah aksi terorisme di Spanyol yang dirancang Israel.

Nazi? Para pengikutnya yang melarikan diri ke hutan masih dikejar-kejar Israel hingga kini.

Vatican? Memang pernah menjadi kekuatan signifikan melawan zionis. Namun setelah beberapa Paus dan pejabatnya meninggal misterius, dan semakin lemah karena kampanye ekspos skandal-skandal seks para pejabatnya, Vatican kini tak berdaya sama sekali. Mereka bahkan tidak dapat menghentikan kampanye homonisasi yang dilakukan Yahudi terhadap kalangan birokratnya. Saking tidak berdayanya, Vatican bahkan diam seribu bahasa saat Yahudi Israel mengebom gereja suci Nativity di Jerussalem.

Skull & Bones? George W Bush Sr, Bill Clinton, George W Bush Jr dan presiden-presiden Amerika lainnya adalah anggota kelompok ini waktu kuliah. Namun mereka tidak berdaya menghentikan imigran ilegal hingga pelan namun pasti peran politik, sosial, ekonomi (apalagi peran utama di film-film Hollywood dan dunia hiburan), tersingkir oleh ras-ras lainnya (Will Smith, Oprah Winfrey, Michael Jackson). Mereka yang secara tradisi adalah penganut Kristen yang taat, tidak mampu menangkal kampanye homonisasi di Amerika yang dilancarkan Yahudi. Mereka juga tidak mampu menolak ketika orang-orang Yahudi Amerika menyodorkan orang-orang Yahudi (termasuk Yahudi yang masih menjadi warga negara asing) untuk menguasai jabatan-jabatan tinggi birokrasi Amerika.

Meski menjadi perdebatan apakah Yahudi Shepardik (Yahudi putih atau Yahudi bangsawan, banyak terdapat di Spanyol, Inggris dan Perancis), atau Yahudi Askhenazi (Yahudi hitam, berdarah campuran Turki dan Mongol, banyak terdapat di Eropa Timur hingga Jerman) yang menjadi "penguasa balik layar". Yang pasti mereka adalah para bankir global yang dengan kekayaannya kemudian menguasai semua sektor bisnis global, menguasai media massa, LSM, lembaga-lembaga pendidikan terkemuka hingga organisasi-organisasi dunia.

Mereka secara sistematis berusaha melemahkan ras-ras saingannya melalui kampanye demokrasi, HAM, persamaan hak, persamaan gender, kebebasan berekspresi (dan kebebasan-kebebasan lainnya), homonisasi, liberalisasi, perlindungan kaum minoritas, dlsb.

Yahudi umum seperti tetangga sebelah rumah, tidak akan terpisah dari konspirasi ini. Sebagian mereka menjadi penjahat kerah putih yang menyumbangkan sebagian jarahannya untuk Israel. Bekerja secara rahasia mencuri kekayaan orang-orang non-Yahudi sembari menanamkan perpecahan di antara mereka. Bagaimana pun pada akhirnya mereka terkait dengan jaringan "penguasa belakang layar".

Tidak ada sejarah masala lalu yang klop dengan peristiwa-peristiwa saat ini yang tanpa kaitan dengan keberadaan Yahudi rentenir-pencuri-penipu, yang secara pelan namun pasti menyingkirkan ras-ras lain dari konstelasi politik, sosial, ekonomi dan budaya global.

Tidak peduli apakah Anda orang "demokrat", "republik", "komunis", "kapitalis", "nasionalis", "liberal", "konservatif", dll --semua hal yang sengaja diciptakan untuk "menyandera" dan "mengalihkan pikiran" manusia saat "penguasa balil layar" berbuat apapun sesukanya untuk mengeruk kekayaan dan menancapkan kekuasaan: krisis keuangan global, perang melawan terorisme, pemboman London, teror Mumbai dll.

Anda, orang-orang liberal pemuja Barry Soetoro Obama, hanyalah pion dari skema besar yang akan mengubah Anda menjadi budak dan sasaran ludah kelompok minoritas. Anak cucu Anda akan mengutuk Anda atas kebodohan Anda membiarkan semua ini terjadi.

Anda bangga dengan julukan pembela "persamaan"? Baik kawan, Anda segera akan mengetahui apa sebenarnya "persamaan" yang Anda junjung tinggi itu, yaitu saat Yahudi benar-benar negeri Anda. Saat itu Anda akan dipukuli di muka umum tanpa pembela sedikit pun saat Anda mengorganisir demonstrasi memprotes Israel atas kekejiannya di Palestina. Saat itu Anda akan ditangkap ketika mengorganisir acara seminar tentang hak-hak kaum muslim atau kristen.

Saat itu Anda seperti rakyat Palestina ditembaki dan dihujani bom setiap hari hanya karena "menyelundupkan" makanan dari Mesir untuk menyambung hidup.

Source: Phillip Marlowe, The Banker’s Manifesto: Then and Now, incogman.com, February 27, 2009.