Saturday, 7 November 2015

Pabrik Mobil Khodro Iran Kembali Beroperasi di Suriah

Indonesian Free Press -- Sebagai bentuk mulai pulihnya kondisi ekonomi Suriah setelah konflik berdarah sejak tahun 2011 lalu sejak campur tangan militer Rusia tanggal 30 September lalu, pabrik mobil Khodro buatan Iran kembali beroperasi di Suriah.

Beberapa waktu terakhir Iran masih bisa mengekspor ratusan kendaraan merk Khodro ke Suriah, namun perusahaan pembuat mobil itu berencana akan mengoperasikan kembali pabriknya di dekat Damaskus, Suriah. Demikian kata Wakil CEO Khodro Saeed Tafazzoli kepada media seperti dilansir Press TV, Sabtu (7 November).

Langkah ini menyusul keberhasilan militer Suriah yang berhasil mengusir pemberontak dari wilayah pinggiran Damaskus dan Aleppo baru-baru ini.

Di bawah perjanjian baru antara Khodro dengan produsen mobil Suriah Siamco, perusahaan Iran itu akan menghentikan produksi mobil sedan merek Samand dan menggantinya dengan merek Soren ELX, Runna dan Dena.

Tafazzoli mengatakan Khodro dalam waktu dekat akan mengekspor 600 kendaraan ke Suriah dan 500 kendaraan lainnya ke Lebanon hingga akhir tahun ini.

Siamco adalah perusahaan pembuat mobil-mobil Khodro di Suriah dengan merek Shama, versi Suriah dari Samand. Namun sejak tahun 2011 atau setelah munculnya konflik, perusahaan itu berhenti beroperasi.

Dengan produksi mencapai 850.000 dan ekspor mencapai 75.000 unit pada tahun 2011, Khodro merupakan produsen mobil terbesar di kawasan Timur Tengah, Afrika Utara dan Asia Tengah. Negara-negara tujuan ekspor Khodro di antaranya adalah Rusia, Suriah, Turki, Iraq, Lebanon, Azerbaijan, Ukraina, Mesir, Aljazair dan Bulgaria.

Selain produksi mobil, Iran menjadi pembuat pembangkit-pembangkit energi dan gudang-gudang gandum di Suriah. Kedua negara telah sepakat bagi ekspor listrik besar-besaran Iran ke Suriah. Setelah pasokan listrik Iran ke Lebanon dan Irak, Iran akan membangun jaringan energi terbesar di dunia Islam. Demikian Press TV melansir.

Pada bulan Juli Presiden Suriah Bashar al-Assad menandatangani keputusan menerima bantuan Iran senilai $1 miliar bagi pembelian barang-barang kebutuhan dan sejumlah pembangunan untuk negara yang dilanda perang itu. Perdana Menteri Suriah Wael al-Halqi mengatakan kepada kantor berita Sputnik bahwa Damascus dan Tehran telah menandatangani kerjasama pembangunan pipa migas antar kedua negara senilai $3,6 miliar.

Al Halqi mengatakan bahwa kedua negara akan meningkatkan kerjasama ekonomi di segala sektor, dari pertanian, transportasi hingga energi. Total kerjasama itu, menurut Halqi mencapai $4,6 miliar, termasuk $1 miliar bagi pembangunan sosial dan kesehatan.

Suriah adalah sekutu terpercaya Iran. Ketika Iran diserang Irak dan koalisi Arab yang dibantu Amerika tahun 1980 hingga 1988, hanya Suriah dan Palestina yang mendukung Iran. Pada saat itu juga Suriah dan Iran saling bahu-membahu membantu Palestina dan Lebanon dari invasi Israel tahun 1982. Sejak itu keduanya menjadi pendukung utama perjuangan Palestina dan Lebanon dan dikenal dengan blok "Perlawanan" yang beranggotakan Hizbollah, Hamas dan Jihad Islam.(ca)

1 comment:

Leli Lupitasari said...

Andai tk trjadi konflik dsuriah, Suriah psti tlh bnyk brkmbng maju mnjdi negara brpngruh d timteng brsma Iran.

-KASAMAGO.COM