Friday, 26 February 2016

Ancam Turki, Rusia Kerahkan Kekuatan Militer ke Armenia

Indonesian Free Press -- Rusia telah mempertimbangkan masak-masak setiap kemungkinan dari keterlibatannya dalam konflik di Suriah, yang dimulai bulan September tahun lalu. Dan salah satu dari pertimbangan itu adalah kemungkinan konflik bersenjata dengan Turki, negara pendukung utama para pemberontak Suriah yang diperangi Rusia.

Apalagi permusuhan antara Turki dengan Rusia bukanlah hal baru. Kedua bangsa ini telah berulangkali terlibat konflik di masa lalu. Bahkan, Rusia pernah terlibat perang besar melawan Turki dalam Perang Krim dan Perang Dunia Pertama. Kemudian, selama era Perang Dingin, Rusia dan Turki berada di pihak yang saling bermusuhan.

Maka, pada bulan Desember tahun lalu, menjelang Hari Natal dan tiga bulan setelah operasi militer Rusia di Suriah, diam-diam para pejabat Rusia menandatangani perjanjian pertahanan dengan Armenia, negara yang juga terlibat permusuhan historis dengan Turki. Dalam perjanjian itu Armenia mengijinkan Rusia menempatkan kekuatan militer besar-besaran di Armenia yang memiliki perbatasan dengan Turki sepanjang 165 km.

Maka, selama keterlibatan Rusia di Suriah, dengan diam-diam Rusia mengerahkan kekuatan militernya ke Armenia. Senjata-senjata tercanggih Rusia pun berdatangan ke pangkalan militer Rusia di Armenia, termasuk pesawat tempur tanpa awak Navodchik-2 dan Takhion, helikopter serbu Mi-24, pesawat tempur Mig-29 hingga rudal ballistik Iskander-M.

Harap dicatat, Iskander-M adalah rudal ballistik konvensional yang hulu-ledaknya bisa diganti dengan hulu-ledak nuklir taktis. Memiliki daya jangkau hingga 500 km dan jatuh dengan kecepatan hingga 7 kali kecepatan suara, tidak bisa dicegat oleh sistem pertahanan udara yang ada di Turki. Rudal ini pula yang sukses menghentikan invasi darat Georgia ke wilayah Ossetia Utara tahun 2008 yang berujung pada kekalahan Georgia pada militer Rusia.

Kemudian, untuk menyiapkan sistem komando dan perlengkapan militer yang ada, Rusia juga telah menggelar latihan perang di Armenia, sebagai bagian dari latihan militer besar-besaran Rusia di wilayah komando barat-daya Rusia. Dalam latihan perang ini terlibat 8.500 pasukan, 900 artileri, 200 pesawat tempur dan 50 kapal perang.

Saat ini di Armenia terdapat sekitar 5.000 personil militer yang berada di dua pangkalan militer. Pada tahun 2010 kedua negara sepakat mengijinkan keberadaan pangkalan militer Rusia selama 24 tahun, hingga tahun 2044. Sebagai imbalannya, Rusia menyediakan kebutuhan militer Armenia dengan 'senjata-senjata yang modern dan kompatibel.

Salah satu pangkalan militer Rusia itu hanya berjarak kurang dari 10 kilometer dari perbatasan Turki.

Agustus 2015 lalu Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan kepada Dubes Turki untuk Rusia: "Katakan kepada presiden diktatormu (Erdogan), ia bisa pergi ke neraka bersama para teroris ISIS, dan saya akan membuat Suriah sebagai Stalingrad (bagi Turki).”

Dan Putin sudah mulai mewujudkan ancamannya.(ca)

2 comments:

kasamago.com said...

Berarti russia sdh mmprdiksi jauh hari bahwa klak rusia akn sgr adu jotos dg dalang ISIS dlapangan, mantab ini beruang. Stalingrad jilid 2 terbuka lebar bla ankara tk menyetop aksi nekadnya.

www.kasamago.com

Akhir Zaman said...

I LIke...