Tuesday, 2 February 2016

ANTARA UMAR BIN KHATTAB DAN SANTO PETRUS

Indonesian Free Press -- Saya telah banyak membaca sejarah tentang Isa Al Masih (Yesus Kristus) dan masa-masa ke-Kristen-an awal serta sejarah awal Islam.

Ada satu hal menarik yang saya temukan dalam sejarah awal dua agama samawi ini, yaitu kemiripan sosok Santo Petrus (Saint Peter) dengan Umar bin Khattab. Tidak saja pada kharakter keduanya, namun juga peran yang mereka jalankan adalah sangat mirip.

Seperti diketahui, Santo Petrus adalah murid utama Nabi Isa yang telah mendirikan Gereja Roma yang sampai saat ini bertahan sebagai gereja terbesar di dunia (Vatikan). Adapun Umar bin Khattab juga salah satu murid atau sahabat dari Nabi Muhammad, menjadi khalifah kedua Islam dan berhasil memperluas kekuasaan Islam hingga ke Palestina dan Persia. Keduanya berjasa besar dalam mengembangkan agamanya masing-masing dan karenanya sangat dihormati oleh umat kedua agama.

Namun, di samping itu semua keduanya ternyata memiliki kontroversi terkait peran mereka dalam dakwah awal agama samawi terbesar. Santo Petrus, oleh empat Injil kanon disebut telah 'berkhianat' terhadap Isa Al Masih pada peristiwa 'Perjamuan Suci' (The Last Supper). Disebutkan dalam peristiwa itu, usai menikmati jamuan makan bersama Nabi Isa dan murid-murid lainnya (Al Qur'an juga mengabadikan peristiwa ini dalam salah satu suratnya, menyebutkan bahwa Nabi Isa dan murid-muridnya menikmati makanan yang diturunkan Tuhan dari surga), Petrus mengungkapkan kecintaannya kepada Nabi Isa dan bersumpah setia hingga akhir hayat. Namun, Nabi Isa justru berkata bahwa Petrus akan berkhianat sebanyak tiga kali sebelum ayam berkokok pagi hari.

Benar saja. Tidak lama kemudian tentara Romawi datang menangkap Nabi Isa. Semua muridnya, termasuk Petrus, melarikan diri. Dalam upaya menyelamatkan diri itulah Petrus berbohong sebanyak tiga kali. Kepada orang-orang yang hendak menangkapnya ia mengaku tidak mengenal Nabi Isa al Masih.

Dalam kitab-kitab Injil gnostik, atau kitab-kitab yang dilarang, kontroversi Petrus bahkan lebih jelas lagi. Dalam Injil Thomas disebutkan bagaimana Petrus marah kepada Yesus karena lebih mempercayai Maria Maghdalena daripada kepada dirinya. Tidak hanya itu, Petrus bahkan meminta Yesus untuk mengusir Maria Maghdalena, "karena wanita tidak patut untuk hidup," kata Petrus kepada Yesus.

Dalam kitab Injil Maria disebutkan bagaimana Petrus mengungkapkan kebenciaannya kepada Maria Magdalena sehingga ditegur oleh rekannya sesama murid Yesus, Levi: "Petrus, kamu adalah pemarah. Kalau Yesus percaya pada Maria, lalu siapa Anda berani melawannya."

Dalam kitab yang sama juga disebutkan bagaimana Maria, dalam sebuah dialog dengan Yesus, mengungkapkan ketakutannya kepada Petrus yang selalu menunjukkan kebencian kepada dirinya.

Bagi yang tidak mengenal siapa Maria Maghdalena silakan mengetahui bahwa ia adalah wanita yang paling penting bagi Yesus Kristus setelah ibunya sendiri yang juga bernama Maria. Namanya banyak disebut dalam kitab-kitab Injil kanon (empat kitab Injil resmi) maupun Injil apokrip (Injil yang tidak diakui, namun tidak dilarang untuk dibaca) dan gnostik (Injil yang dilarang). Dalam Injil kanon Maria disebut bersama Yesus dalam peristiwa-peristiwa penting: peristiwa 'perkawinan agung', peristiwa penyaliban dan peristiwa keluarnya Yesus dari kuburan. Dalam peristiwa 'perkawinan agung' disebutkan bagaimana Maria membasuh kaki Yesus dengan rambutnya, yang oleh para ahli sejarah disebut sebagai bukti bahwa Maria adalah istri Yesus.

Saya sendiri sebagai seorang Muslim, percaya bahwa Yesus adalah seorang Nabi yang oleh Allah dikaruniai istri-istri dan keturunan (Surat Ar-Rad ayat 38).

Tentang sifat 'bias gender' ini juga melekat dalam diri Umar bin Khattab. Ialah salah satu sahabat Nabi Muhammad yang diketahui telah membunuh anak perempuannya sebelum ber-Islam, hanya karena mengikuti kebiasaan jahiliah kaummnya. Kitab-kitab sejarah awal Islam dan kitab-kitab hadits juga banyak mengungkapkan sifat Umar bin Khattab yang kurang menghargai wanita.

Dalam peristiwa 'tragedi hari Kamis', yaitu beberapa hari sebelum Nabi Muhammad meninggal dimana terjadi pertengkaran di rumah Nabi setelah Umar dan sebagian sahabat menolak perintah Nabi untuk menuliskan wasiat Nabi, umat telah menghardik istri-istri dan putri Nabi.

“Sungguh kalian adalah wanita-wanita yusuf. Apabila ia sakit, kalian hanya bisa menangis. Dan Jika ia sehat, kalian senantiasa membebaninya!” kata Umar.

Mendengar teriakan itu, Rasulullah berkata kepada Umar: “Biarkan para wanita itu. Sungguh mereka lebih baik dibandingkan dengan kalian semua!”

Dalam kisah lain disebutkan bagaimana Umar sampai menakut-nakuti istrinya, Atiqah, karena tidak menyukai istrinya itu keluar rumah untuk sholat di masjid. Inilah yang menjadi dasar sebagian kaum Muslim untuk menganggap bahwa wanita tidak perlu sholat di masjid, meski di masa Nabi para wanita sholat berjamaah di masjid.

Namun kisah paling penting yang menjadi dasar pandangan sifat 'bias gender' Umar bin Khattab adalah tindakan kasarnya pada putri Nabi Fathimah Az Zahra. Sejumlah kitab hadits dan sejarah awal Islam menyebutkan bahwa dalam peristiwa baiat Abu Bakar sebagai khalifah pertama, Umar bin Khattab telah berlaku kasar kepada Fathimah bahkan sampai hendak membakar rumah Fathimah. Orang-orang Shiah bahkan menuduh Umar telah memukul perut Fathimah hingga keguguran dan mengakibatkan Fathimah jatuh sakit hingga meninggal dalam usia muda.

Persamaan Umar dengan Petrus juga terlihat dalam pandangan mereka kepada junjungannya, Nabi Muhammad dan Isa al Masih. Jika Petrus diramal Nabi Isa akan menjadi pengkhianat, maka Nabi Muhammad 'mengoreksi' Umar bin Khattab tentang sikap seharusnya kepada Nabi. Dalam sebuah riwawat disebutkan, Umar mengatakan kepada Nabi MUhammad:

"Ya Nabi, saya sangat mencintai Anda lebih dari apapun kecuali diri saya sendiri."

Nabi Muhammad menjawab: "Belum beriman seorang Muslim sebelum ia mencintai Rosulnya lebih dari dirinya sendiri."

Di antara semua sahabat Nabi, Umar-lah sahabat yang dikenal paling 'kasar' kepada Nabi. Dalam peristiwa Hudaibiyah, ia menentang keras langkah Nabi menyetujui perjanjian Hudaibiyah sampai pada tahap meragukan kenabian Rosulullah.

"Bukankah Anda seorang Rosul?" kata Umar kepada Nabi. Belum puas dengan penjelasan Nabi, ia pun kembali mempertanyakan kenabian Rosul kepada Abu Bakar. Beruntung, Abu Bakar bisa menyadarkannya sehingga Umar tidak tercatat sebagai sahabat yang murtad.

Umar pula yang paling keras menolak perintah Rosul untuk menuliskan wasiat Nabi pada peristiwa 'tragedi hari Kamis' yang sangat masyur, menghardik istri-istri Nabi hingga membuat Nabi marah kepadanya dan mengusirnya dari rumahnya.

Padahal Allah memerintahkan kaum muslimin semuanya tanpa terkecuali untuk menurut semua perintah Nabi, karena semua perkataan Nabi adalah wahyu Allah, demikian Al Qur'an mengatakan. Bahkan sekedar meninggikan suara saja di hadapan Nabi akan menghapuskan semua amal-amal manusia.(ca)

7 comments:

agung budi said...

apakah ini benar tulisan cahyono adi "ANTARA UMAR BIN KHATTAB DAN SANTO PETRUS"??? saya kagum dengan tulisan anda tentang politik timur tengah dimana anda menyampaikan dengan penuh berimbang tanpa berpihak, akan tetapi saya sangat kecewa dan menyesalkan tulisan anda mengenai Sahabat Rasulullah Umar bin Khattab r.a. anda hampir menyamakan perilaku seorang Umar dengan perilaku sahabat Nabi Isa A.S yang berkhianat dan anda menggambarkan sosok umar seseorang yang selalu menentang Rasul dan kasar kepada Keluarga Rasulullah. mengapa anda menjelekkan seorang Umar bin Khattab Al Faruq ?? apa salah Umar kepada anda dan keluarga anda? apakah pernah seorang umar menjelek-jelek kan anda dan keluarga ?. saya memohon kepada anda untuk bertabayun dengan Umar bin Khattab r.a. Demi Allah SWT yang memegang jiwa saya, semua yang anda tuliskan tidak lah benar tentang sosok Umar bin Khattab Al Faruq.

Anonymous said...

tulisan yang akan mengejutkan sunni sunni dari tidur mereka setelah kejatuhan ikhwan muslimin ---namun sahabat tidaklah maksum--seandai nabi nabi dulu dikhianati apa nak dikatakan lagi demikian sunnatullah--
dalam Quran menyatakan jika kami mengkehendaki kami menjadikan kamu satu umat, tetapi dia hendak menguji kamu---soalannya apakah ujian terbesar? apakah lebih besar dari rampasan kekhalifahan dari orang yang berhak--dan mata mata menyaksikan kekhalifahan bergilir di tangan bukan ahlinya dan seseorang diminta menjawat kekhalifahan dengan syarat mengikuti sunnah sunnah khalifah terdahulu

bukankan di dalam nahjul balaghah Ali kw telah menyampaikan khutbahnya anda berbunyi--kekhalifahan dibahagikan bagaikan membahagi susu--

namun sunni yang terbangun janganlah meracau--terruskan pengkajian
bacalah kitab sulaim bin Qais Al Hilali agar hilang derita

download kitab sulaim b qais Al Hilali masgun





Anonymous said...

http://www.eramahdi.net/kitab-berkaitan/kitab-sulaim-bin-qais-al-hilali/

Anonymous said...

http://disinidandisini.blogspot.my/2011/07/kitab-sulaim-oleh-sulaim-b-qais-al.html

cahyono adi said...

Agung Budi. Seorang yang berakal tidak akan emosional seperti Anda, melainkan melakukan kagiatan-kegiatan ilmiah untuk menguji validitas. Saran saya, bacalah kitab-kitab sejarah dan hadits secara 'fair' tanpa emosi. Emosional boleh saja asal ada dalilnya yang kuat, seperti tentang kemaksuman Ahlul Bait yang dijamin Allah dalam Qur'an serta perintah bersholawat kepada mereka minimal lima kali dalam sehari dalam setiap sholat. Atau tentang kebenaran semua perkataan Rosulullah dan larangan untuk menolak perintahnya atau menentang pendapat-pendapatnya.

Para sahabat bukan orang yang maksum, meskipun mereka adalah manusia-manusia mulia karena kedekatan mereka dengan Rosulullah.

gogo said...

Sudut pandang n opini yg menarik, dan jelas mengundang debatable.. memang diantara ketiga agama samawi msih ada pertalian kisah yg menarik, terselubung n senantiasa semarak utk dikaji lebih lanjut..


ditunggu kisah2 n opini yg lain..



http://www.kasamago.com/

Farid Humaidi said...

merinding saya baca tulisan bang adi.. merinding.. luar biasa kajiannya..