Friday, 24 June 2016

Turki Dekati Suriah, Negara-Negara Teluk Dekati Iran

Indonesian Free Press -- Hubungan antara Suriah dan Turki dikabarkan mulai mencair kembali akhir-akhir ini, setelah Turki berusaha mendekati Suriah untuk menyelesaikan konflik Suriah yang juga berimbas ke Turki.

Seperti dilaporkan Veterans Today, Senin (20 Juni), perundingan rahasia telah digelar antara kedua negara. Hal ini disampaikan oleh mediator Turki Ismail Hakki Pekin kepada media Rusia, Sputnik Turkey. Laporan yang sama juga disampaikan media Aljazair Al Watan, yang menyebutkan perundingan tersebut dimediasi oleh pemerintah Aljazair.

Pekin, mantan kepala inteligen Turki, adalah ketua Partai Vatan, yang anggotanya secara rutin berkunjung ke Suriah. Ia mengatakan bahwa perubahan telah terjadi dalam hubungan kedua negara setelah kunjungan terakhirnya ke Suriah.

"Kami telah bekerja sistematis untuk menormalisasi hubungan Turki dan Suriah untuk waktu yang lama, dan berhasil membuat dasar bagi dialog antara pemimpin kedua negara,” kata Pekin.

"Dalam kunjungan terakhir saya, saya melihat tanda-tanda melunak dari Suriah, dan kecenderungan yang sama dari para pejabat kemenlu Turki, ketika saya katakan kepada mereka tentang hasil dari kunjungan-kunjungan kami," kata Pekin.

Menurut Pekin, hal terpenting dalam perundingan kedua negara adalah keamanan, dimana Turki menghendaki Suriah untuk mencegah menguatnya kekuasaan orang-orang Kurdi di Suriah, sementara Suriah menghendaki Turki untuk menghentikan dukungannya kepada para pemberontak, yaitu dengan menutup perbatasan Turki dengan Suriah.

Menurut Pekin, pemerintah Turki harus realistis bahwa situasi global dan regional telah berubah yang mengharuskannya mempertimbangkan kembali kebijakannya di Suriah. Sebagaimana diketahui, Turki mengalami beban politik dan ekonomi yang luar biasa besar akibat konflik di Suriah.

"Integritas Suriah berarti juga integritas Turrki. Jika Amerika berhasil mewujudkan proyeknya memecah Suriah, situasi di Turki akan jauh tidak stabil dibandingkan sekarang. Jumlah serangan teroris akan meningkat tajam di Turki," tambah Pekin.

"Erdogan akan rela menciup tangan Assad untuk menggagalkan proyek Amerika ini," kata Pekin lagi.


Negara-Negara Teluk Berbalik ke Iran

Sementara itu negara-negara Teluk dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk kembali membuka hubungan dengan Iran setelah Iran berhasil membuktikan sebagai kekuatan politik dan ekonomi yang tangguh di kawasan, pada saat prospek patron mereka selama ini, Saudi Arabia, justru tampak semakin memburuk.

Kantor berita Perancis dalam laporannya hari Rabu (22 Juni) menyebutkan negara-negara Teluk tengah terlibat perselisihan dengan Saudi Arabia terkait isyu-isyu keamanan di kawasan. Uni Emirat Arab telah memperlihatkan keberaniannya mengabaikan Saudi Arabia dengan menarik pasukannya dalam koalisi Arab di Yaman baru-baru ini.

"Kuwait menyatakan keinginannya bahwa Duta Besar-Duta Besar negara Teluk akan kembali ke Teheran dan memulihkan misi-misi diplomatik mereka," tulis AFP dengan mengutip laporan media Saudi Al-Hayat.

"Kuwait tengah menunggu saat yang tepat ketika negara-negara Teluk akan kembali ke Teheran. Namun inisiatif ini tergantung pada Iran dan kebijakannya di kawasan," kata Deputi Menlu Kuwait, Khaled Jap-Allah, kepada Al Hayat.

Negara-negara Teluk memahami bahwa pasar Iran sangatlah penting bagi ekonomi mereka. Tulis laporan itu. Shoeib Bahman, analis politik penting asal Iran mengatakan, negara-negara Teluk melihat Iran sebagai mitra yang penting sebagai kekuatan politik, ekonomi dan politik yang dinamis di kawasan. Pada saat yang sama negara-negara Teluk merasa terancam dengan sikap tidak stabil patron mereka selama ini, Saudi Arabia.

"Saudi ingin mendominasi militer kawasan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran sesama negara Teluk. Itulah sebabnya mereka kini berpaling ke Iran," kata Bahman kepada AFP.

Sementara itu jurnalis Iran, Emad Abshenass, mengatakan bahwa secara historis Iran memiliki pengaruh yang kuat atas negara-negara Teluk sebelum di'bajak' oleh Saudi Arabia dan Amerika. Selama ini Iran juga tidak pernah banyak campur tangan atas urusan domestik negara-negara Teluk. Hal inilah yang membuat mereka merasa nyaman bersama Iran, khususnya pada saat Saudi Arabia menunjukkan kebijakannya yang 'serampangan' dengan menyerang Yaman dan menghukum mati ulama Shiah terkemuka.(ca)


7 comments:

Kasamago said...

Pd akhirnya, Upaya yang dilakukan secara damai dan bijak akan menemui keberhasilan sedang yg melalui Kekerasan hanya akan dicampakan..

Fery Sansui said...

Benar sekali kasamago

Fery Sansui said...

Benar sekali kasamago

Danial Rusdi said...

Sebenarnya Amerika tak ada niat baik dikawasan timur tengah Amerika berusaha melemahkan kekuatan arab dan melemahkan Iran namun Iran melayani ekonomi India cina untuk asia tengah maupun Iran sendiri terutama dikawasan laut Kaspia kebijakan Saudi di Yaman sangat berutal padahal sesama Arab bahkan di Saudi sendiri sangat banyak ke turunan Yaman ke depan Saudi akan kewalahan turky sudah mulai merasakan di grogoti kebijakan sendiri ketidak amanan dlm negeri bagi Suriah turky yg aman justru akan membuat Suriah tak aman biarlah turky menuai badai yg di ciptakan nya sendiri

Danial Rusdi said...

Sebenarnya Amerika tak ada niat baik dikawasan timur tengah Amerika berusaha melemahkan kekuatan arab dan melemahkan Iran namun Iran melayani ekonomi India cina untuk asia tengah maupun Iran sendiri terutama dikawasan laut Kaspia kebijakan Saudi di Yaman sangat berutal padahal sesama Arab bahkan di Saudi sendiri sangat banyak ke turunan Yaman ke depan Saudi akan kewalahan turky sudah mulai merasakan di grogoti kebijakan sendiri ketidak amanan dlm negeri bagi Suriah turky yg aman justru akan membuat Suriah tak aman biarlah turky menuai badai yg di ciptakan nya sendiri

Anonymous said...

erdogan idola pks mendekati bashar syiah laknatullah :D ..apa jadinya kaum yg mengidolakan erdogan???...

abu bakar said...

...algeria connection...ada fasa rundingan rahsia---algeria secara alaminya arab yang bersekutu dengan iran,