Monday, 29 May 2017

Tangan-Tangan Setan Masih Mencengkeram Iran (3)

Indonesian Free Press -- Pada suatu hari setelah berakhirnya suatu peperangan, Rosulullah mendapatkan seseorang yang pernah berjasa kepadanya namun berperang di pihak musuh, tertawan. Demi dilihatnya orang itu, maka Rosul memerintahkan agar orang itu dibebaskan, sementara tawanan-tawanan lainnya ditawan dan dihukum mati.

Nasib berkebalikan dialami oleh Houshang Asadi, jurnalis dan anggota partai komunis Iran. Menjalin persahabatan dengan Ali Khamenei selama dipenjara bersama tahun 1974 di penjara Moshtarek, setelah Khamenei terpilih menjadi Presiden Iran tahun 1981, Khamenei justru memerintahkan Asadi ditahan lagi di penjara Moshtarek dan selama enam tahun menjalani penyiksaan secara sistematis.


Kepada The New York Times yang mewawancarainya di Perancis tahun 2012, Asadi mengatakan tentang Ali Khamenei, "Kami saling berpelukan dan dengan air mata menetes di pipinya, ia (Khamenei) berbisik di telinga saya, 'Houshang, bila Islam telah berkuasa, tidak akan ada lagi air mata yang tumpah dari seseorang yang tidak bersalah'.”

"Apa yang tidak terbayangkan oleh Asadi adalah ulama itu kemudian menjadi Presiden Republik Islam Iran dan kemudian ia memenjarakannya kembali, menjatuhkan hukuman mati dan secara brutal menyiksanya selama enam tahun di penjara yang sama.

Saat ini, ulama itu telah menjadi Pemimpin Tertinggi Iran, yaitu Ayatollah Ali Khamenei," tulis New York Times.

Nasib yang hampir sama dengan Asadi, namun jauh lebih tragis, dialami oleh Hassan Pakravan, mantan Kepala Inteligen dan polisi rahasia SAVAK Iran di bawah regim Shah Pahlevi. Ketika Pakravan dijatuhi hukuman mati oleh pemimpin Iran, Ayatollah Khomeini pada tanggal 11 April 1979, rakyat Iran bersorak sorai karena menganggapnya sebagai orang yang patut dihukum mati karena kekejamannya. Namun, rakyat Iran tentu tidak pernah berfikir bahwa Pakravan adalah sahabat dekat Ayatollah Khomeini.

Ketika pada tahun 1963 Khomeini dijatuhi hukuman mati oleh regim Shah Pahlevi, Pakravanlah yang berjasa besar menyelamatkannya dari tiang gantungan. Ia berhasil membujuk pemimpin tertinggi Shiah kala itu, Ayatollah Shariatmadari, untuk menyematkan gelar Ayatollah kepada Khomeini, sekaligus menganulir vonis mati Khomeini karena konstitusi Iran melarang seorang Ayatollah untuk dihukum mati. Namun setelah KHomeini berhasil meraih kekuasaan pada tahun 1979, Pakravan menjadi salah satu korban pertama eksekusi yang dijatuhkan oleh Khomeini. Sedangkan Shariatmadari, harus menjalani berbagai penindasan yang dilakukan Khomeini terhadapnya, mulai dari penahanan rumah hingga penyiksaan, dan terakhir dipermalukan dengan permohonan ampunan secara terbuka kepada Khomeini.

Saya (blogger) tidak percaya kalau Khomeini adalah pelaku penyembahan setan yang mengorbankan orang-orang dekatnya sendiri untuk meraih kesuksesan. Namun saya percaya, Khomeini melakukan itu semua untuk menyembunyikan masa lalunya yang gelap. Seperti Rouhani berusaha menyembunyikan praktik-praktik kotor para elit penguasa Iran dengan menghukum mati pengusaha kaya Babak Zanjani tahun 2016.

Ketika Khomeini dan para pendukungnya merebut kekuasaan Iran, jaringan lama yang menghubungkan kepentingan Iran dengan bisnis minyak internasional, khususnya British Petrolium, tetap terjaga. Pakravan, sahabat Khomeini itu memang tewas, namun Dr. Mehdi Hessabi diberi amnesti oleh Khomeini dan tangan kanan Khomeini, Hashemi Rafsanjani memupuk kekayaan hingga miliaran dollar.

Revolusi Iran tahun 1979 berjalan aneh. Tidak ada faktor-faktor yang mendukung untuk meletupnya revolusi. Tidak ada krisis sosial ekonomi. Tidak ada bencana alam. Namun kepentingan minyak Inggris dan Amerika terancam oleh sikap Shah Pahlvei yang semakin independen dan nasioanlis, membagi-bagikan tanah untuk rakyat dan menggelontorkan penghasilan minyak lebih banyak untuk kesejahteraan rakyatnya. Maka, Khomeini yang telah disiapkan lama di Perancis, dengan perlindungan Amerika dan Inggris dikirim pulang ke Iran untuk menggelorakan revolusi.(ca)



(Bersambung)

5 comments:

Anonymous said...

Lucu bung Cahyono beritanya sama persis di muat di media era muslim dan arrahmannews sudah balik arah ke poros Saudi tak mau memberitakan sambutan Saudi ke Trump atau kekejaman Saudi di Yaman sungguh munafik dan kecewa sama Iran tak mau bayar ini pasti sudah masuk poros partai PKS hati hati memfitnah ahlul bait sudah diresapi betul berita anda sudah basi dan yg menyusun berita dari kaum Yahudi lucu ya dakwah dengan beri Indomie langsung murtad dasar mental tempe .proyek Iran phobia anda tak akan berhasil biasanya mental tempe pasti di delet komen ini saya saran kan ungkapan dakwah anda dirubah jangan merasa pasti mengungkap kebenaran tak tahunya fitnah TABAYU TABYUN DAN TABAYUN .HATI HATI FITNAH KE AGLUL BAIT

Fery Sansui said...

Banyak donatur masuk dari saudi untuk membiayai nya

Fery Sansui said...

Hidup iran yang siap membasmi yahudi

Semangka said...

Saya lebih percaya Upin dan Ipin daripada percaya dengan New York Times.

Idrus Hasan Alatas said...

Saya baru mau tanya..., mana berita berita tentang Saudi, hizbullah, Yaman, atau ISIS di Marawi, atau mengenai islam radikal di Afghanistan, Pakistan dll seperti yang selalu ditulis disini..., rupanya sudah berubah haluan..., betul sekali bung anomymous.... Saya melongo begitu membaca habis tulisan diatas ...bagaimana sesuatu yang begitu jelas seperti kedekatan shah dengan barat digambarkan sebaliknya...., sebelumnya saya masih 'husnudzon' melihat perubahan ini ..., g masalah bersikap kritis terhadap Iran atau pendukung gerakan mukawwama lainnya, selama di sampaikan dengan data yang fair ..jangan sepihak..!. Tapi jika melihat kecenderungan ini saya tidak akan terkejut jika besok tulisan disini akan sama sj dengan tulisan di era muslim, arrahmah dan sejenisnya....dan saya tidak mau mengotori kepala saya membaca tulisan tulisan bodoh seperti diatas...