Wednesday, 24 May 2017

Hadang Serangan Amerika-Yordania, Rusia Kerahkan Pasukan di Suriah

Indonesian Free Press -- Rusia dikabarkan telah mengerahkan pasukan ke dekat perbatasan Suriah-Yordania untuk menghadang rencana serangan gabungan Amerika-Yordania ke selatan Suriah dan merebut wilayah perbatasan dengan Irak. Demikian Veterans Today melaporkan, 24 Mei.

Mengutip laporan media Iran FARS, Veterans Today menyebutkan bahwa Amerika ingin menguasai wilayah perbatasan Suriah-Yordania dan Irak di tenggara Suriah yang berdekatan dengan kota Al-Tanf. Ini adalah wilayah kunci yang menghubungkan Suriah dengan sekutunya di sebelah timur, Iran dan Iraq.

"Hari ini kami mendengar tidak hanya pasukan khusus Rusia yang dikerahkan, namun juga unit-unit lapis baja dan brigade pegunungan. Jika ini benar maka kami telah melintasi 'garis' bahwa Rusia tidak hanya mengerahkan “penasihat militer', namun juga pasukan tempur reguler. Saya tidak berfikir bahwa ini akan dilakukan Rusia kecuali Amerika pun telah mengerahkan pasukan reguler di Suriah, meski tidak diakui," tulis editor Veterans Today, James Dean.


Belum ada konfirmasi tentang kehadiran pasukan reguler Rusia oleh otoritas Suriah maupun Rusia. Namun, Rusia diketahui berusaha keras menghindari cap sebagai 'agresor' dan 'campur tangan' dalam konflik Suriah. Kehadiran militer Rusia sendiri di Suriah selama ini setelah mendapat permintaan resmi dari pemerintah Suriah.

Pekan lalu, pesawat-pesawat tempur Amerika membom konvoi militer Suriah yang tengah bergerak ke kota Al-Tanf untuk mengantisipasi serangan gabungan Amerika-Yordania dan pemberontak ke kota itu. IFP juga telah berulangkali melaporkan tentang persiapan Amerika-Yordania melancarkan serangan ke Suriah.

"Kami melihat potensi eskalasi konflik Suriah, termasuk pertempuran untuk menguasai perbatatasan Suriah/Iraq yang akan memainkan peran kunci selama masa potensial negosiasi politik. Kami melihat oposisi menarik diri dari perundingan untuk memberi waktu bagi Amerika melakukan langkah untuk menaikkan posisi tawarnya," tambah editor Veterans Today.

Jika koalisi anti-terorisme Suriah dan Iraq bisa mengendalikan wilayah sekitar perbatasan kedua negara, khususnya untuk menggerakkan unit-unit militernya di sepanjang perbatasan kedua negara, maka proyek Balkanisasi Suriah akan mengalami kegagalan, sebagaimana proyek yang sama yang menggunakan perbatasan Turki dan Kurdi di utara dan timur laut Suriah.

"Koalisi pro-Suriah menunjukkan bahwa mereka tidak akan membiarkan koalisi Amerika dan proksi-proksinya menguasai perbatasan timur Suriah. Milisi Popular Militia Forces di Irak telah memiliki persenjataan kuat dan terlatih untuk memerangi terorisme," tulis Veterans Today.

Sebelumnya, FARS melaporkan bahwa pasukan lapis baja Rusia telah dikerahkan di sepanjang perbatasan Suriah-Yordania 'untuk memperkuat pos-pos perbatasan Suriah dan menutup garis perbatasan'.

"Sejumlah sumber menyebutkan bahwa batalion Russian Mountain Operation Brigade telah tiba di provinsi Dara’a dan Sweida," tulis FARS.

Selain itu sejumlah laporan juga menyebutkan bahwa pasukan Paratroops (terjung payung) dan pasukan khusus Rusia juga telah tiba di Sweida, setelah pesawat-pesawat tempur Amerika membom konvoi militer Suriah di dekat kota al-Tanf. Disebutkan juga bahwa Rusia akan membangun markas di Provinsi Sweida yang berbatasan dengan Yordania.

Jendral Charles Abi Nader, pakar militer asal Lebanon mengatakan kepada kantor berita Rusia TASS, akhir pekan lalu, bahwa Amerika sangat menginginkan kontrol atas perbatasan Suriah-Irak untuk mencegah Suriah mendapatkan suplai bantuan dari Iran dan Irak.

"Hanya ada satu pintu perlintasan di sana, dimana melalui pintu itu jalan menuju Baghdad berada. Perlu diperhatikan juga bahwa jalan raya Rutbah-Ramadi telah dibersihkan dari teroris," kata Nader.

“Tujuan Amerika telah terbukti nyata, yaitu untuk mencegah pemulihan jalur transportasi antara Suriah, Iraq dan juga Iran, yang merupakan sekutu Damascus,” tambahnya.(ca)

3 comments:

Kasamago said...

Akhirnya dalang konflik benar2 tanpa malu2 lagi membuka tabirnya...

Perang fisik antar dua negara adidaya akhirnya bergulir.


Selamat berjuang untuk Rakyat dan Militer Suriah

Sayed Noordin said...

Perang Dingin Hangat,sudah pun dimulai..dunia akan menyaksikan dua gergasi akan bergusti di medan laga..bersama koalisi US,Zionis,saudi menantang koalisi Russia , Iran dan China dan Syria.harga bahan bakar akan menjulang naik,negara pemproduksi senjata akan bertambah kaya,sementara negara dunia ke 3 akan jadi pasaran senjata di mana rakyat marhaen akan di gulai atau direbua dalam kawah perang.

Anonymous said...

Blog bayaran Saudi Wahabi tak pernah diungkit kekejian Saudi terhadap Yaman sudah ratusan ribu jadi korban apa lagi koloborasi Saudi Amerika dan zionis malah Iran yg di tuduh saya tahu KOMENI selama 16 tahun di Irak dari tahun 1963 nampak kali gambar itu dari rekayasa komputerisasi dan saya punya buku revolusi KHOMENI terbitan 1979 dan susunan baru isinya masih sama dan yg kini revolusi Iran penyusun nasi Tamara di jual di Gramedia saya cuma mengingatkan hati hati memfitnah ahlul bait dan saat ini masih kami saksikan kalau bangsa Salman Al farisi menggapai bintang tusuraya sesuai hadis nabi dalam mencari kebenaran dan Iran masih dilindungi oleh malaikat para komando penjaga bumi ZABANIAH dan satu satunya Republik Islam di muka bumi dan hanya Ayatullah menduduki menteri inteljen semoga waktu yg akan membuktikan blog ini masuk jajaran kaum Wahabi di pandu Partai PKS