Monday, 19 August 2013

HIZBOLLAH: KAMI AKAN MENANGKAPMU

AKAN KIRIM LEBIH BANYAK PASUKAN KE SYRIA

"Kami tahu siapa Anda dan kami akan menangkap Anda jika negara tinggal diam. Kami bukan pengganti negara, namun jika negara tidak melaksanakan tanggungjawabnya, kami yang akan melakukannya."

Demikian ancaman yang dikeluarkan pemimpin Hizbollah Sayyed Hasan Nasrallah kepada para pelaku pemboman yang menewasan 21 orang di Beirut Selatan, Kamis (15/8). Ancaman disampaikan Nasrallah dalam pidato peringatan Hari Kemenangan Perang 2006, Jumat (16/8), yang digelar di Aita Al-Shaab, dekat perbatasan Palestina.

Menurut Nasrallah pihaknya telah mengetahui siapa pelaku beberapa aksi pemboman yang terjadi di kawasan pendukung Hizbollah di Beirut Selatan, termasuk beberapa nama dan tempat persembunyian mereka. Mereka berasal dari kelompok takfiri (ekstremis wahabi-salafi) yang mendapat dukungan inteligen zionis dan negara-negara sekutunya. Sebagian dari mereka berasal dari Lebanon, sisanya dari Syria dan Palestina.

Menurut Nasrallah, selama ini pihaknya masih bersabar untuk menunggu aksi aparat pemerintah untuk melakukan tindakan terhadap para pelaku
pemboman. Namun kemudian lawan-lawan Hizbollah justru menuduh Hizbollah sengaja melakukan "serangan bunuh diri" untuk memicu pertikaian.

"Ini adalah pelecehan, karena Anda tidak akan mendapati orang-orang yang mencintai mereka (para korban) dan mencium tanah tempat mereka berdiri, seperti dilakukan oleh kami. Mungkin itulah cara-cara yang dilakukan Anda, tapi bukan cara kamai."

"Kemarin mereka meledakkan bom di Dahieh (kawasan Beirut Selatan), namun siapa yang tahu dimana mereka akan meledakkan bomnya lagi? Baik Israel maupun takfiris tidak peduli dimana mereka akan meledakkan bom-bom. Mereka membunuhi orang-orang Sunni sebagaimana membunuh orang-orang Shiah, membunuhi orang Kristen sebagaimana membunuh orang Islam, dan membom masjid sebagaimana membom gereja."

Saturday, 17 August 2013

PENINDASAN KEMBALI DIALAMI RAKYAT PALESTINA DI SYRIA (2)

Tentu saja para pengungsi pada akhirnya menolak kehadiran mereka, namun tidak memiliki kekuatan untuk mengusir mereka. Sebagian pengungsi Palestina bahkan bergabung dengan mereka karena alasan keuangan, atau karena mereka menyangka bergabung dengan pemenang dan tidak ingin ketinggalan dengan hasil kemenangan. Sebagian pengungsi lainnya menolak untuk melakukan perlawanan terhadap para "mujahidin" demi menjaga netralitas kamp pengungsi.

Tahun lalu para pengungsi Palestina di kamp Yarmouk, di bawah kepemimpinan pahlawan pejuang Palestina Ahmad Jibril, berusaha mengusir para "mujahidin" asing yang menduduki kamp mereka. Namun meski telah mendapat bantuan senjata dari militer Syria, upaya itu mengalami kegagalan dan bahkan memaksa pemimpin Palestina Ahmad Jibril melarikan diri. Jibril adalah sekutu lama pemerintah Syria.

Sebagian besar penghuni kamp yang tidak tahan dengan kondisi di kamp mereka, akhirnya memilih untuk kembali menjadi pengungsi yang berpindah ke Lebanon, Jordania dan Turki. Namun mereka terkejut karena kondisi mereka di kamp pengungsian yang baru jauh lebih buruk dibandingkan saat mereka tinggal di Syria.

Ada kekhawatiran bagi pengungsi Palestina yang masih tinggal, bahwa tentara Syria akhirnya menyerang kamp mereka untuk mengusir para pemberontak, meski hal itu bertentangan dengan perjanjian dengan PBB yang melarang pasukan pemerintah melakukan campur tangan di dalam kamp. Pada situasi ini para pengungsi akan menghadapi masalah serius yang sangat sulit. Berada di tengah pertempuran tentu mengandung resiko besar, namun meninggalkan kamp juga bukan hal mudah ketika penembak jitu dari kedua pihak mengincar mereka. Namun bagi para pendukung Ahmad Jibril di kamp Yarmouk, kedatangan pasukan Syria menjadi harapan besar mereka. Mereka pun sudah mulai mengorganisir diri kembali untuk memulai pertempuran melawan pemberontak. Mereka juga sudah mempersenjatai diri dengan senjata-senjata yang lebih berat dari RPG.

Namun sejauh ini peluang pembebasan kamp pengungsi oleh pasukan pemerintah, atau oleh Hizbollah, masih belum begitu jelas. Tentara Syria masih sibuk dengan perangnya sendiri, sementara Hizbollah tengah menghadapi situasi politik yang kurang menguntungkan setelah Uni Eropa memasukkan mereka dalam daftar teroris, akan berhitung ulang sebelum menerjunkan diri di medan perang yang tidak begitu mendesak dan tidak pasti.

BOM GUNCANG BEIRUT DAN JEJAK ZIONIS

Hizbollah kembali mendapat serangan meski tidak berpengaruh sama sekali kekuatannya dan mungkin bahkan semakin meningkatkan militansi pendukung-pendukungnya. Hari Kamis (15/8), sebuah kawasan padat di Beirut Selatan yang dihuni oleh pendukung Hizbollah mendapat serangan bom hebat menewaskan 21 orang dan melukai 250 orang lainnya.

Serangan tersebut, yang oleh militer Lebanon disebut sebagai serangan bom mobil, menghantam kawasan Ruwaiss saat sebagian besar penduduknya baru kembali dari tempat kerja.

Serangan tersebut langsung saja dihubung-hubungkan dengan krisis yang terjadi di Syria, terutama setelah Hizbollah diketahui telah melibatkan diri dalam konflik di Syria bulan Mei lalu dalam pertempuran al Qusayr di pihak regim Presiden Bashar al Assad. Sejak saat itu telah 3 kali Hizbollah mendapat serangan. Pada tgl 9 Juli lalu kawasan Bir al-Abed di Beirut Selatan juga mendapat serangan bom yang melukai 50 orang. Sebelumnya sebuah serangan bom yang lebih kecil juga terjadi di kawasan Beirut Selatan yang melukai 4 orang, hanya beberapa jam setelah Hizbollah mengkonfirmasi keterlibatan mereka di Syria.

Sumber-sumber keamanan Lebanon mengatakan bahwa para penyidik kini tengah mencari keterangan dari para saksi yang melihat ledakan mobil yang berada di tengah jalan. Kepanikan melanda kawasan tersebut saat kebakaran dan  kerusakan melanda kawasan tersebut dan asap hitam membumbung tinggi di angkasa hingga bisa dilihat dari seluruh kota. Orang-orang yang terperangkap dalam bangunan yang terbakar berteriak-teriak meminta pertolongan. Pada saat yang sama petugas keamanan, pemadam kebakaran dan masyarakat sekitar berusaha memberikan pertolongan.

Palang Merah Lebanon mengirim 15 ambulan ke tempat kejadian dan bersama organisasi-organisasi pertolongan lainnya berusaha mengevakuasi para korban. Sementara petugas pemadam kebakaran dengan dibantu masyarakat berusaha memadamkan api yang menyala di sekitar lokasi ledakan.

Penduduk kawasan tersebut langsung menunjuk musuh-musuh Hizbollah sebagai pelakunya mengingat perkembangan politik yang terjadi saat ini.

"Kami sudah biasa dengan hal ini. Mereka menjual dan kami siap membeli," kata Reine, remaja 18 tahun kepada The Daily Star.

"KERE MUNGGAH BALE" OPRAH-OBAMA

Orang Jawa memiliki istilah khusus untuk fenomena orang-orang yang mengalami goncangan budaya yang menimbulkan efek merusak atas ikatan-ikatan sosial budaya. Kere munggah bale, demikian istilah tersebut, menggambarkan seorang miskin tertindas yang tiba-tiba menjadi orang berkuasa, yang karena ketidak-siapan mentalnya cenderung menjadi orang jahat.

Mungkin istilah itu cocok untuk para tokoh Ikwanul Muslimin Mesir seperti Mohammad Moersi yang kepemimpinnya justru menimbulkan perpecahan negara. Seperti diketahui selama berpuluh-puluh tahun Ikhwanul Muslimin menjadi organisasi bawah yang ditindas pemerintah. Ketika akhirnya mendapat kesempatan menjadi penguasa Moersi dan teman-teman Ikhwanul Musliminnya justru menjadi musuh bagi sebagian besar rakyat Mesir lainnya. Namun contoh lebih nyata yang akan dibahas di sini adalah Oprah Winfrey dan Barack Obama.

Tentang Obama secara singkat saja saya (blogger) sampaikan bahwa baru-baru ini ia telah memerintahkan pemecatan seorang badut rodeo yang suka beraksi dengan topeng wajah Obama untuk bahan lawakannya. Kini badut tersebut harus hidup sebagai pengangguran bersama keluarganya yang menderita. Namun kasus yang dilakukan Oprah Winfrey menurut saya lebih menarik karena yang bersangkutan melakukannya secara terbuka, tidak seperti Obama yang melakukannya secara diam-diam.

Sebagaimana telah diberitakan banyak media massa, baru-baru ini Oprah Winfrey dalam satu acara "talk show" membuat tuduhan (yang menurut saya adalah palsu) tentang perlakuan rasialis oleh seorang pelayan toko suvenir di Swiss terhadapnya. Dalam pengakuannya Oprah menyebutkan bahwa seorang pelayan wanita kulit putih telah melakukan penghinaan rasial terhadapnya dengan menolak mengambilkan tas kulit yang hendak dibelinya karena Oprah dianggap tidak akan mampu membelinya.

"Saya mengenakan baju sederhana Donna Karan dan sepasang sandal sederhana. Namun tampaknya "The Oprah Winfrey Show" tidak disiarkan di Zurich. Saya tidak berdandan, namun jelas saya adalah Oprah Winfrey sepenuhnya. Saya pergi ke sebuah toko dan berkata kepada seorang pelayan wanita: ‘‘Excuse me, bisakan saya melihat tas di atas anda itu?" dan ia menjawab "tidak, itu terlalu mahal," kata Oprah dalam wawancara tersebut.

Menurut Oprah ia mengulangi permintaannya, dan kembali mendapat penolakan. Selanjutnya, dengan menahan jengkel, iapun meninggalkan toko tersebut.

KEKALAHAN KETIGA IKHWANUL MUSLIMIN MESIR

Jika pendiri Ikhwnul Muslimin Hassan al Bana dan Sayid Qutbh masih hidup, mereka mungkin akan menangisi hasil perjuangan mereka akan berakhir tragis seperti saat ini. Justru ketika Mesir telah mulai berubah menjadi negara demokratis yang memberi kesempatan Ikhwanul Muslimin menjadi penguasa, ratusan (bankan mungkin ribuan jika klaim Ikhwanul Muslimin benar) pengikut Ikhwanul Muslimin harus tewas mengenaskan ditembaki aparat keamanan dan para pemimpinnya diuber-uber seperti penjahat.

Padahal sampai hari Rabu lalu (14/8) Ikhwanul Muslimin masih memiliki kesempatan untuk menghindari tragedi, dan dengan strategi yang tepat kembali merebut kekuasaan mereka yang ditumbangkan oleh kudeta militer tgl 3 Juli lalu.

Sebagian besar pengamat politik yang berfikir rasional menganggap tumbangnya kekuasaan Ikhwanul Muslimin oleh militer merupakan "kesalahan" para pemimpin Ikhwanul Muslimin, terutama Presiden Moersi, yang tidak memahami bahwa hakikat politik adalah seni bernegosiasi. Setelah berpuluh tahun hidup dalam penindasan dan tiba-tiba mendapatkan kekuasaan, para pemimpin IKhwanul Muslimin seakan menjadi lupa diri pada hakikat tersebut dan menganggap kekuasaan yang didapatkan adalah "amanah Tuhan" yang harus dipertahankan mati-matian. Mereka tidak peduli pada tindakan-tindakan mereka yang tidak menyenangkan kelompok-kelompok politik lain. Bahkan ketika puluhan juta rakyat Mesir pada tgl 30 Juni mengeluarkan petisi penolakan terhadap kekuasaan Ikhwanul Muslimin, mereka tetap ngotot bertahan dan tidak bersedia melakuan kompromi.

Puluhan juta suara penolakan tersebut secara "de facto"  merupakan tanda bahwa kekuasaan Ikhwanul Muslimin sudah berakhir. Tanpa disuruh pun, seorang pemimpin yang berjiwa demokrat yang memahami bahwa demokrasi adalah kehendak mayoritas rakyat, akan mengundurkan diri ketika sebagian besar rakyatnya menghendaki demikian.

Kemenangan Moersi dan Ikhwanul Muslimin sendiri dalam pemilu Mesir tahun 2011 bukanlah kemenangan signifikan. Dengan lebih dari 50% rakyat Mesir yang memilih golput, Moersi hanya menang tipis dari lawannya politiknya. Artinya, Moersi tidak didukung oleh mayoritas rakyat Mesir yang pada tgl 30 Juni lalu justru menunjukkan arpirasi penolakan terhadapnya. Maka ketika militer Mesir melakukan kudeta terhadap Moersi tindakan tersebut sangat bisa difahami demi menghindarkan Mesir dari kebuntuan kekuasaan dan perang saudara.

Thursday, 15 August 2013

HIZBOLLAH KEMBALI PECUNDANGI ISRAEL

Tanpa banyak diberitakan media massa kecuali media-media massa Lebanon, Hizbollah kembali berhasil mempecundangi Israel setelah bom-bom yang dipasang mereka melukai 4 tentara Israel dan menggagalkan upaya penyusupan mereka ke wilayah Lebanon.

Insiden yang terjadi tgl 7 Agustus lalu itu telah mendorong pemerintah Lebanon mengajukan protes ke PBB atas pelanggaran Israel setelah sebelumnya Presiden Suleiman memerintahkan dilakukan penyidikan atas insiden tersebut. Israel sendiri telah mengkonfirmasi insiden tersebut meski membantah pasukannya memasuki wilayah Lebanon. Bukti-bukti yang dikumpulkan tim penyidik Lebanon menemukan bekas-bekas ledakan di wilayah yang berada 400 meter dari garis perbatasan.

Namun meski bom-bomnya berhasil mengagalkan penyusupan Israel dan berita insiden tersebut telah diberitakan luas di Lebanon sejak hari pertama, Hizbollah baru mengakuinya hari Rabu (14/8), membuktikan sikap organisasi ini yang rasionalis, tenang dan juga teguh.

"Kami telah mengetahui rencana penyusupan Israel. Bom-bom dipasang di tempat itu, dan saat mereka datang di malam hari, bom-bom itu diledakkan," kata pimpinan Hizbollah Sayyed Hassan Nasrallah dalam wawancara dengan televisi Lebanon al-Mayadeen, Rabu lalu.

"Kami tidak bisa membiarkan pelanggaran Israel atas kedaulatan Lebanon. Ketika kami mengetahui Israel memasuki wilayah Lebanon, kami akan menghadapi mereka dalam waktu yang tepat," tambah Nasrallah.

Upaya penyusupan itu diduga dilakukan Israel untuk "menguji" kesiap-siagaan Hizbollah terhadap ancaman Israel mengingat Hizobollah tengah sibuk terlibat dalam konflik di Syria. Selain itu Israel juga berharap bahwa krisis politik yang kini melanda Lebanon yang juga menyeret Hizbollah (paska pengunduran diri PM Najib Miqati beberapa bulan lalu, hingga saat ini perdana menteri pengganti Tammam Salam yang didukung Hizbollah belum juga berhasil mebentuk kabinet baru). Namun kemudian terbukti bahwa Hizbollah tidak pernah mengendurkan kewaspadaannya.

"Mereka yang berfikir dengan menciptakan masalah internal dengan kelompok perlawanan akan berhasil mengalihkan perhatian kami untuk melawan Israel, mereka keliru," kata Nasrallah.

Menurut Nasrallah Israel saat ini sangat menkhawatirkan kekuatan Hizbollah lebih dari waktu-waktu yang lalu, terutama setelah Hizbollah berhasil membuktikan kemampuan bertempurnya di medan perang Syria dengan memukul pemberontak dari wilayah al Qusayr. Selama ini Israel dan lawan-lawan politik Hizbollah menuduh kelompok ini hanya bisa menang jika bertempur di negeri sendiri. Namun medan perang al Qusayr membuktikan bahwa pejuang-pejuang Hizbollah juga ahli dalam pertempuran offensif.

MESIR SASARAN PENGHANCURAN ZIONIS BERIKUTNYA (2)

Kita patut menangis melihat tragedi yang terjadi di Mesir. Kementrian kesehatan Mesir kemarin (15/8) merilis angka korban tewas akibat serangan aparat keamanan atas para demonstran pendukung Mohammad Moersi yang jumlahnya mencapai 525 jiwa. Angka itu masih lebih kecil dari klaim Ikhwanul Muslimin yang mencapai ribuan orang.

Namun ini bukan masalah angka, karena ketika nyawa 1 orang manusia dicabut dengan cara yang tidak hak, sebagaimana perkataan Nabi Muhammad S.A.W, pada hakikatnya sama dengan membunuh semua manusia di muka bumi yang dosanya lebih besar daripada menghancurkan Kabah hingga berkeping-keping.

Ironis bahwa "pembantaian" di Mesir ini masih jauh lebih kecil kekejamannya dari apa yang telah dan tengah terjadi di Syria dan Irak. Di Syria selama terjadinya konflik yang dimulai bulan Maret 2011 telah lebih dari 100.000 nyawa melayang. Dan di Irak sepanjang bulan Juli lalu saja telah lebih dari 1.000 tewas dan sepanjang tahun ini telah lebih dari 4.000 orang tewas. Dan orang tidak menaruh kecurigaan bahwa apa yang terjadi di Mesir kini hanya awal dari bencana yang lebih besar sebagaimana di Irak dan Syria yang telah dirancang lama oleh zionis internasional.

Pada tahun 2004 atau setahun setelah berhasil menumbangkan regim Saddam Hussein, tentara Amerika gagal menguasai Irak sepenuhnya dan bahkan cenderung menjadi korban serangan-serangan pejuang Irak. Untuk mengatasi masalah itu Amerika pun mulai membentuk pasukan-pasukan pembunuh yang tujuan utamanya adalah menciptakan kekacauan dan memicu perang saudara antara kelompok sektarian. Sebagian anggota pasukan ini adalah personil militer Amerika sendiri, lainnya adalah personil militer negara sekutu dan milisi-milisi lokal dan anggota Al Qaida.

Pasukan pembunuh ini bertanggungjawab atas sebagian besar serangan teroris yang terjadi di Irak, yang sebagian besar berbentuk serangan "bunuh diri" terhadap sasaran-sasaran sipil. Salah satu di antara modus mereka adalah membayar seorang sopir lokal untuk membawa truk barang ke tengah pasar atau dekat masjid, dan kemudian meledakkan bom di dalam truk itu bersama sopirnya dengan remot kontrol. Setelah kejadian itu media-media terafiliasi zionis akan memberitakannya sebagai "serangan bunuh diri".

Dalam satu misi di kota Basarah tgl 19 September 2005, 2 anggota pasukan pembunuh asal Inggris yang menyamar sebagai warga lokal tertangkap tangan oleh polisi Irak ketika hendak melakukan serangan teroris terhadap orang-orang Shiah. Ketika ditangkap, di dalam mobilnya ditemukan sejumlah besar bom dan senjata laras panjang. Sebelum penangkapan, pasukan pembunuh asal Inggris (pasukan Inggris bermarkas di Basrah) sudah sering melakukan serangan teroris terhadap orang-orang Shiah di kota itu untuk memicu ketegangan antara umat Shiah dan Sunni.

Khawatir penangkapan itu bakal membongkar ulah kaji Amerika dan Inggris, sehari kemudian, atau tgl 20 September 2005, pasukan Inggris menyerbu penjara tempat penahanan kedua pasukannya. Mereka menggunakan tank untuk membongkar tembok tempat penahanan kedua pasukannya dan menyelamatkan keduanya.

MESIR SASARAN PENGHANCURAN ZIONIS BERIKUTNYA

Akhirnya terjadi apa yang dikhawatirkan bakal terjadi. Pasukan keamanan Mesir menyerbu kamp-kamp pendukung Ikhwanul Muslimin di Kairo kemarin (14/8). Jumlah korban akibat aksi tersebut masih simpang siur namun Ikhwanul Muslimin mengklaim pendukungnya yang tewas mencapai 2.200 orang. Kemungkinan Ikhwanul Muslimin melebih-lebihkan angka tersebut, namun angka "ratusan" cukup rasional.

Sebagai seorang pengamat internasional "amatiran" yang menaruh perhatian pada masalah kemanusiaan, saya (blooger) tentu sangat menyesalkan hal ini. Mengapa Mesir, salah satu bangsa besar yang menjadi sumber kebudayaan dunia harus terjerumus dalam kondisi seperti itu. Saya tidak ingin menyalahkan salah satu di antara pihak Ikhwanul Muslimin ataupun regim militer yang kini berkuasa di Mesir, namun pada "kebodohan" orang-orang yang tidak menyadari bahwa zionis internasional kini tengah menjadikan Mesir sebagai sasaran penghancuran berikutnya setelah Afghanistan, Irak, Libya dan Syria.

Militer tentu bertanggungjawab atas aksi pembantaian tersebut, namun Ikhwanul Muslimin juga bertanggungjawab sebagai pihak yang mengkondisikan pembantaian tersebut dengan sikap kerasnya yang tidak mau bersikap realistis. (Sehari sebelumnya Ikhwanul Muslimin menolak tawaran Al Azhar, lembaga paling dihormati di Mesir, untuk menjadi penengah perselisihan politik di Mesir).

Dan bukan satu kebetulan jika aksi kekerasan yang dilakukan militer Mesir terjadi hanya beberapa hari setelah Amerika menetapkan Robert Ford sebagai dubesnya yang baru di Mesir. Ford adalah simbol kekerasan, dan penunjukannya dianggap sebagai "lampu hijau" Amerika bagi militer Mesir untuk bertindak keras. Lebih dari itu, penunjukan Ford juga mengindikasikan bahwa zionis internasional bermaksud menghancurkan Mesir dengan cara yang sama sebagaimana Irak, Libya dan Syria.

Menurut Michel Chossudovsky dari lembaga kajian Global Studies, Robert Ford adalah orang yang sama dengan John Negroponte yang telah menerapkan strategi “Salvador Option” di Irak pada tahun 2004. Chossudovsky menulis tentang "Salvador Option" itu sebagai:

"Model terorisme pembunuhan massal oleh pasukan pembunuh bentukan Amerika. Model ini pertama kali diterapkan di El Salvador oleh Negroponte saat terjadi perlawanan terhadap regim militer, yang mengakibatkan terjadinya sekitar 75.000 kematian.”

Kondisi Mesir saat ini mirip dengan El Salvador tahun 1980-an saat rakyat sipil melakukan perlawanan terhadap militer. Dan militer Mesir pun, sebagaimana El Salvador, telah berpengalaman dalam melakukan pembantaian massal terhadap para aktifis anti-militer.

Di masa lalu Amerika telah banyak membantu para diktator militer sekutu mereka melakukan aksi-aksi pembantaian massal. Di Indonesia misalnya, dinas inteligen CIA berperan besar dalam pembantaian orang-orang komunis tahun 1960-an, dengan mensuplai data para aktifis komunis kepada militer, dan dengan melatih pasukan pembunuh yang melakukan berbagai teknik penyiksaan sebelum membunuh. (Terlepas dari sikap politik blogger yang menyetujui penumpasan komunisme di Indonesia, karena regim komunis yang tidak lain adalah zionis, akan melakukan hal yang lebih buruk bagi rakyat Indonesia).

Wednesday, 14 August 2013

KASUS RUDI, PUNCAK GUNUNG ES KORUPSI BISNIS MINYAK INDONESIA

Bisnis minyak merupakan salah satu bisnis yang paling menggiurkan di Indonesia. Dengan kebutuhan minyak yang mencapai 1,5 juta barrel per-hari dan sepertiganya dipenuhi oleh impor, nilai nominal bisnis ini sulit untuk  dibayangkan.

Dengan asumsi di atas, serta harga minyak pasaran (premium) sebesar Rp 6.500 per-liter, maka nilai nominal impor minyak INdonesia adalah Rp 516 miliar per-hari, atau Rp 188 triliun per-tahun. Jika para importir (di luar Pertamina) mendapat jatah margin keuntungan 1% saja, maka keuntungan mereka mencapai Rp 1,88 triliun per-tahun. Kalau marginnya 10% maka kalikan saja dengan 10.

Namun modus "suap menyuap" tidak seberapa dibandingkan modus "korupsi kebijakan" di sektor ini, tidak saja dari nilainya, namun juga dampaknya bagi kesejahteraan rakyat. Misalkan kebijakan tentang "lifting" minyak Indonesia yang akan berpengaruh langsung pada APBN dan pada akhirnya mempengaruhi kesejahteraan rakyat. ADa juga kebijakan penetapan "cost recovery", atau kebijakan penetapan kuota impor migas yang juga berpengaruh langsung pada keuangan negara, dlsb.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa bisnis impor minyak ini dikuasai oleh sekelompok kecil pengusaha (kartel) yang sudah bercokol di bisnis ini sejak lama. Dan sudah menjadi pengetahuan umum pula bahwa dalam bisnis ini, sebagaimana bisnis yang berurusan dengan birokrasi pemerintah lainnya, dipenuhi dengan praktik-praktik korupsi, sebagaimana kasus impor daging sapi yang melibatkan elit-elit PKS. Modusnya sederhana saja, pengusaha meminta "jatah" impor dan oknum pejabat pemerintah mendapat imbalan "upeti" atas ijin yang diberikan. Dan karena nilai bisnisnya besar, upetinya pun tentu juga besar. Biasanya di antara pengusaha dan birokrat ini ada juga "makelar"-nya.

Tuesday, 13 August 2013

SATU LAGI PROPAGANDA ZIONIS TERKAIT AL QAIDA

SITE Monitoring adalah "kantor berita" provokator zionis. Eksistensinya telah banyak dikuak oleh wartawan independen Christopher Bollyn yang terkenal dengan penyidikannya yang mendalam tentang konspirasi Serangan WTC 911 tahun 2001.

Secara misterius SITE bisa mendapatkan semua "pernyataan pers" Al Qaida dari tangan pertama ketika keberadaan organisasi ini tidak diketahui. Ketika Osama bin Laden menjadi buronan terbesar di dunia, SITE memiliki akses langsung dengannya sehingga bisa mendapatkan video-video pernyataan Osama. Hal ini saja telah menimbulkan kecurigaan adanya "hubungan rahasia" antara SITE dengan Al Qaida. Apalagi jika ditarik benang merah antara SITE dengan zionisme Israel, maka hubungan segitiga antara SITE, zionis dan Al Qaida semakin jelas.

Menurut Christopher Bollyn, SITE dikelola oleh 2 orang, yaitu Rita Katz dan  Josh Devon yang keduanya adalah orang zionis yahudi. Khusus Rita adalah figur yang sangat kental dengan gerakan zionisme. Lahir di Irak sebagai yahudi Arab, ayah Rita dihukum mati oleh Saddam Hussein karena pengkhianatan hingga memaksa ia dan keluarganya pindah ke Israel dimana kemudian ia menyelesaikan pendidikannya di Tel Aviv University dan sempat bergabung dalam militer Israel. Dan seperti orang-orang yahudi "progresif" lainnya yang ingin meraih karier cemerlang, ia pun pindah ke Amerika. Sejak itu ia aktif di SITE Monitoring yang dibentuk oleh inteligen Israel Mossad.

Perlu menjadi catatan, berita-berita tentang Al Qaida selalu menjadi "acuan" media-media massa internasional, termasuk di Indonesia. Sebagai contohnya berita terakhir tentang Al Qaida dari SITE yang dilaporkan kantor berita Inggris "Reuter" berjudul "Al Qaeda claims Eid holiday bombings in Iraq – SITE" tgl 12 Agustus lalu juga menjadi berita utama dalam situs arrahman.com. Baik "Reuters" maupun arrahman.com tidak pernah mempertanyakan siapa SITE sebenarnya dan dengan bulat menelan semua informasi yang diberikannya. Hal ini juga menunjukkan adanya kaitan kepentingan antara mereka.

Perlu juga menjadi perhatian bahwa berita-berita semacam itu memiliki kesamaan, yaitu memicu pertentangan Sunni-Shiah, suatu bentuk kampanye zionisme yang telah banyak difahami oleh orang-orang yang "berfikir".

Berikut ini adalah terjemahan blogger atas berita tersebut di atas:


AL QAIDA KLAIM PEMBOMAN-PEMBOMAN IDHUL FITRI DI IRAK - SITE

Sebuah kelompok yang terafiliasi dengan Al Qaida menyatakan telah melakukan aksi-aksi pemboman hari Sabtu (10/8) di Irak yang menewaskan puluhan orang, sebagai balasan atas aksi pemerintah yang telah melakukan penangkapan terhadap para militan yang terduga. Kelompok SITE Monitoring melaporkan hari Senin (12/8).

Pernyataan yang dikeluarkan Islamic State in Iraq and the Levant (ISIL), yang diposting di forum-forum Jihad itu mengklaim bertanggungjawab atas serangan-serangan di berbagai tempat di Baghdad dan provinsi-provinsi Selatan Irak yang mentargetkan orang-orang yang tengah merayakan Idhul Fitri, tulis SITE.