Sunday, 17 November 2019

Kekuatan Gelap di Balik Kerusuhan Iraq, Juga Lebanon

Indonesian Free Press -- Irak dan Lebanon, dua negara dimana pengaruh Iran semakin kuat, kini tengah dilanda krisis politik yang serius yang diwarnai dengan aksi-aksi demonstrasi dan anarkhisme menentang kekuasaan. Dalam aksi-aksi tersebut sangat tampak ditujukan terhadap Iran meski para demonstran menyembunyikannya sebagai tuntutan demokrasi dan perbaikan ekonomi. 

Di Lebanon aksi demonstrasi relatif mereda setelah pemerintahan Saad Hariri mengundurkan diri dan rakyat sudah relatif sadar dengan adanya persekongkolan zionis untuk menghancurkan negara tersebut. Ingat, Israel menyerbu Lebanon tahun 1982 dan menduduki sebagian wilayah negara ini selama bertahun-tahun kemudian membentuk faksi-faksi yang bertikai dalam perang sipil berdarah-darah. Setelah itu Israel juga berkali-kali melakukan serangan militer ke Lebanon, terakhir tahun 2006. Namun Irak yang tidak pernah merasakan langsung invasi Israel dan sentimen Shiah-Sunni-Kurdi yang masih kuat masih terus dilanda kerusuhan.

Friday, 15 November 2019

Tolak Dajalisme Rusia Pun Gemilang

Indonesian Free Press -- Poitisi dan media-media Barat terus-menerus menggambarkan Rusia sebagai negara 'sakit' negara setengah maju yang tidak pernah bisa benar-benar maju. 
Politisi dan mantan kandidat presiden AS John McCain menyebut Rusia sebagai 'stasiun BBM yang menyamar sebagai negara'. Cendekiawan Inggris Robert Service yang pernah menulis biograpi Lenin, Stalin, dan Trotsky mengolok-olok kelemahan Rusia dalam tulisan terakhirnya berjudul ‘Kremlin Winter’ bulan lalu dan mendapat sambutan hangat media-media utama Barat seperti Financial Times. 

Service menyebut ekonomi Rusia hanya sebesar Belanda dan sangat tergantung pada ekspor minyak dan gas dan bukan pada industri manufaktur. Para ahli Barat juga menuduh Rusia lebih banyak membelanjakan kebutuhan militer ketimbang infrastrukturnya. 

Tuesday, 12 November 2019

Pemimpin Teroris 'White Helmets' Tewas di Istanbul

Indonesian Free Press -- Mantan tentara Inggris yang turut mendirikan organisasi White Helmets, James Le Mesurier, ditemukan tewas di dekat rumahnya di Istanbul Turki, Senin (11 November). Demikian seperti dilaporkan Reuters.

"Pendiri organisasi yang melatih kelompok penolong “White Helmets” di Suriah ditemukan tewas di Istanbul, seorang tetangga dan seorang diplomat mengatakan hari Senin," demikian tulis Reuters.

Mengutip keterangan seorang diplomat yang tidak disebutkan namanya Reuters menyebut penyebab kematian pendiri Mayday Rescue Group itu masih belum jelas. Sky News menyebutkan kemungkinan 'bunuh diri'. Sementara Veterans Today menyebut kemungkinan agen-agen Rusia sebagai pembunuhnya.

Tuesday, 5 November 2019

Karena Terlalu Liberal

Indonesian Free Press -- Publik Amerika, khususnya di negara bagian Minnesotta, tengah dilanda kegalauan karena tingkah polah para pelaku dan aktifis LGBT yang semakin menjadi-jadi. Seorang transgender diketahui telah menunjukkan alat kelaminnya di hadapan anak-anak sekolah dalam acara 'drag queen' yang digelar di Ridgedale Library Minnesotta bulan Oktober lalu.

Seperti dilaporkan oleh LifeSiteNews, 31 Oktober, LSM perlindungan anak Child Protection League (CPL) mempublikasikan gambar yang menunjukkan seorang trangender bernama Sasha Sota mempertunjukkan alat kelaminnya di hadapan anak-anak kecil.

Sunday, 3 November 2019

Israel-Iran Tidak Punya Pilihan Selain Perang

Indonesian Free Press -- Tidak pernah selama ini Israel berada pada situasi terancam seperti saat ini. Berpuluh-puluh tahun sejak merdeka tahun 1948 Israel merasa jauh lebih superior dibandingkan tetangga-tetangganya di kawasan sehingga dengan percaya diri melancarkan serangan-serangan dan pendudukan-pendudukan ke tetangga-tetangganya itu. Namun, saat ini Israel justru merasa tengah terpojok dan terancam, oleh Iran.

Dalam artikel berjudul 'Iran Prepares For War With Israel' di situs Oil Price.com tanggal 21 Oktober lalu analis politik Yossef Bodansky mengungkapkan kegundahan Israel ini.

Saturday, 2 November 2019

Baghdadi ISIS Hanya Pensiun Seperti Halnya Osama

Indonesian Free Press -- Seorang aktifis yang kemarin sangat galak menuntut keadilan atas kematian peserta aksi 22 Mei dan ratusan petugas KPPS pilpres lalu dalam beberapa hari terakhir tampak melunak sikapnya setelah sebagian tuntutannya mendapatkan 'lampu hijau' dari rejim curang. Kemudian, secara tiba-tiba ikut-ikutan latah menanggapi kabar kematian pimpinan ISIS Baghdadi yang diklaim Amerika dengan menyatakan dukungan pada Amerika.

Ini mengingatkan saya pada seorang 'pejuang kemanusiaan' dan aktifis perburuhan yang ikut-ikutan latah mendukung Amerika dalam peristiwa serangan WTC tahun 2001. Bagi kami keduanya sama saja, hanya manusia-manusia rendahan yang mencari keuntungan pribadi dengan mengorbankan prinsip-prinsip kebenaran.

Friday, 1 November 2019

AS Pergi, Saudi Minta Damai dan Iran pun Menang

Indonesian Free Press -- Konflik Timteng tengah bergerak ke satu titik yang semakin jelas. Yaitu bahwa Iran tengah memenangkan perang melawan musuh-musuhnya, AS-Israel-Saudi.

Meski Israel berkali-kali melancarkan serangan ke Suriah untuk menghancurkan suplai senjata Iran ke Suriah dan Lebanon, Israel tidak bisa mencegah fakta bahwa kekuatan Iran telah berjejer di dekat perbatasan Israel baik di Suriah, Irak, Palestina dan Lebanon. Selain itu, AS juga mulai meninggalkan Timteng dengan menarik diri dari Suriah. Dan bahkan secara mengejutkan, AS juga mulai memindahkan markas komando militernya untuk Timteng (CENTCOM) yang berada di Qatar ke kampung halamannya di AS, diduga karena khawatir menjadi sasaran rudal-rudal Iran.

Wednesday, 23 October 2019

Prabowo, Tulsi Gabbard dan 'Oposisi Terkendali'

Indonesian Free Press -- "Cara terbaik untuk mengendalikan oposisi adalah dengan memimpin mereka," demikian perkataan terkenal dari pemimpin komunis Rusia Lenin.

Para 'pembela kebenaran' (truthers) di Amerika saat ini tengah terbuai oleh sosok politisi perempuan dari partai Demokrat yang tengah menapaki jalan untuk menjadi kandidat presiden AS mendatang, bernama Tulsi Gabbard.

Wartawan dan blogger senior Finian Cunningham, misalnya, menulis di blog Strategic Culture 18 Oktober lalu artikel berjudul 'Tulsi Nails it on National TV… US Regime-Change Wars'. Sementara Jonas E. Alexis sehari kemudian menulis di situs Veterans Today artikel serupa berjudul 'Tulsi Gabbard Takes Hillary Clinton'.

Monday, 21 October 2019

Jangan Berkhianat

Indonesian Free Press -- Bagi sebagian besar pendukung Prabowo dalam pilpres lalu, pilpres bukan sekedar memilih presiden. Khususnya bagi mereka yang beragama Islam, mendukung Prabowo adalah membela kebenaran dan menentang kejahatan sebagaimana ajaran agamanya. Karena mereka melihat dengan sangat jelas bahwa lawan Prabowo adalah kejahatan. Mereka tidak melihat latar belakang Prabowo, hanya melihat lawan Prabowo. Cukup bagi mereka Prabowo mengaku sebagai seorang Muslim yang sholat dan membayar zakat dan tidak memusuhi Islam.

Maka ketika Prabowo berbalik arah mendukung kubu lawan meski jelas-jelas telah terjadi kecurangan dan kezoliman, pendukung-pendukung Prabowo tersebut pun berbalik arah memusuhinya. Namun ada pendukung Prabowo, juga dari kalangan Muslim, yang selain mendukung karena prinsip kebenaran-kejahatan juga melihat faktor personal. Maka ketika Prabowo berbalik arah, mereka masih mencari apologi untuk tetap mendukungnya.

Saturday, 19 October 2019

Trump Ancam Erdogan Melalui Surat


Indonesian Free Press -- Presiden AS Donald Trump mengancam Presiden Turki Erdogan melalui surat untuk mencegah serangan Turki ke Kurdistan Suriah. Namun Presiden Turki membuang surat itu ke tong sampah dan memutuskan menyerang Kurdistan pada hari yang sama. Demikian seperti dilaporkan Press TV, 17 Oktober.

Gedung Putih mengumumkan surat tertanggal 9 Oktober tersebut ke publik pada hari Rabu (16 Oktober) untuk mengurangi kemarahan publik kepada Trump terkait keputusannya menarik pasukan Amerika dari Kurdistan yang memberi jalan kepada Turki untuk melakukan serangan.