Indonesian Free Press -- Ulama muda kelompok Wahabi-Salafi, Abu Husein Ath Thuwalibi alias Sony, melakukan tindakan tidak terpuji dengan menganiaya Ustad Marhadi, penulis buku “Bukan Fitnah Tapi inilah Faktanya”.
Menurut laporan situs nugarislurus.com tanggal 24 Juni lalu, peristiwa itu terjadi di Masjid Raya Bogor tempat berlangsungnya bedah buku tersebut hari Minggu (21 Juni).
Saat itu Ustad Marhadi tengah menyimak pertanyaan seorang peserta, ketika Sony secara diam-diam mendatanginya dari belakang dan memukul bagian belakang kepalanya.
Sebelumnya, saat Ustadz Marhadi memaparkan penjelasan tentang bukunya, Sony marah-marah dan menuding Ustadz Marhadi sebagai pendusta.
Inilah bentuk perilaku kelompok wahabi-salafi yang selalu menolak cara-cara elegan seperti diskusi ilmiah, dan lebih mengedepankan caci maki dan aksi fisik. Bahkan ironisnya tindakan tidak terpuji itu dilakukan di bulan Ramadhan, dimana seharusnya umat Islam menahan diri dari hawa nafsu.
Sony sendiri dikabarkan telah meminta ma'af atas kejadian itu melalui media sosial, namun ia kembali membuat pernyataan tidak simpatik setelah permintaan ma'afnya itu.
Menurut sejumlah informasi dari kalangan Aswaja, langkah hukum tengah dipersiapkan untuk mencegah tindakan serupa terulang lagi.
Saturday, 27 June 2015
Monday, 22 June 2015
Rencana Amerika Memecah Belah Irak untuk Imbangi Iran
"Nasib Irak telah ditentukan pada saat kita menginvasinya (tahun 2003): mereka tidak memiliki masa depan lagi sebagai sebuah negara. Irak telah ditentukan untuk terpecah-belah menjadi setidaknya 3 negara kecil. Inilah tujuan sebenarnya kelompok pemuja perang yang tidak diumumkan: menghancurkan Irak, dan juga seluruh kawasan Timur Tengah. Tujuan mereka, dalam jangka pendek, adalah kekacauan, dan inilah apa yang benar-benar kita lihat terjadi saat ini," tulis Justin Raimondo, editor situs Antiwar.com.
Namun, tujuan pecah belah Irak itu sudah tidak lagi tersembunyi. Komisi Senat AS yang membidangi masalah militer, awal bulan Mei lalu telah menyetujui RUU untuk memecah belah Irak menjadi 3 entitas negara. Dan sejak itu, agenda tersebut bukan lagi sebuah 'teori konspirasi'.
Kepala Staff Gabungan (Panglima Militer) Amerika Martin Dempsey, pada hari Rabu (17/6) mengakui di hadapan sidang dewan legislatif Congress bahwa upaya Amerika untuk merekrut milisi Sunni untuk mengusir kelompok ISIS dari kota Ramadi dan Provinsi Anbar, Irak, mengalami kegagalan. Dari 24.000 personil yang ditargetkan, hanya bisa direkrut sebanyak 7.000 personil saja, dan hal itu dianggap tidak cukup.
Sementara itu Menhan Ashley Carter, dalam momen yang sama mengingatkan kegagalan itu bisa memancing Amerika untuk mengalihkan kebijakannya dengan mempersenjatai dan melatih suku-suku dan kelompok-kelompok sektarian, mengabaikan pemerintah Irak dengan memecah Irak menjadi beberapa 'negara mini' berdasar etnis dan sektarian.
“Bagaimana jika sebuah Irak yang multi-sektarian tidak lagi bisa bertahan? Itu adalah bagian penting dari strategi kita yang berjalan di lapangan,” kata Carter.
Namun, tujuan pecah belah Irak itu sudah tidak lagi tersembunyi. Komisi Senat AS yang membidangi masalah militer, awal bulan Mei lalu telah menyetujui RUU untuk memecah belah Irak menjadi 3 entitas negara. Dan sejak itu, agenda tersebut bukan lagi sebuah 'teori konspirasi'.
Kepala Staff Gabungan (Panglima Militer) Amerika Martin Dempsey, pada hari Rabu (17/6) mengakui di hadapan sidang dewan legislatif Congress bahwa upaya Amerika untuk merekrut milisi Sunni untuk mengusir kelompok ISIS dari kota Ramadi dan Provinsi Anbar, Irak, mengalami kegagalan. Dari 24.000 personil yang ditargetkan, hanya bisa direkrut sebanyak 7.000 personil saja, dan hal itu dianggap tidak cukup.
Sementara itu Menhan Ashley Carter, dalam momen yang sama mengingatkan kegagalan itu bisa memancing Amerika untuk mengalihkan kebijakannya dengan mempersenjatai dan melatih suku-suku dan kelompok-kelompok sektarian, mengabaikan pemerintah Irak dengan memecah Irak menjadi beberapa 'negara mini' berdasar etnis dan sektarian.
“Bagaimana jika sebuah Irak yang multi-sektarian tidak lagi bisa bertahan? Itu adalah bagian penting dari strategi kita yang berjalan di lapangan,” kata Carter.
Sunday, 21 June 2015
Dunia di Penghujung Umur, Rusia-AS Terlibat Lomba Senjata
Anda boleh menganggap Gary Moore 'lebay' dengan menulis lagu 'The End of the World', hanya karena patah hati. Namun kali ini anggapan tersebut harus dibuang jauh-jauh. 'The End of the World' kini telah menjadi sebuah keniscayaan, setelah Rusia terlibat 'lomba senjata' dengan Amerika dan NATO di Eropa. Dan apalagi ujung dari suatu persaingan semacam itu, selain perang nuklir?
Dalam pernyataan pers di sebuah fasilitas latihan menembak di Alabino, Moskow minggu lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan bahwa Rusia akan segera menerima lebih dari 40 rudal ballistik antar benua baru yang menurutnya 'sanggup menembus semua sistem pertahanan lawan'.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi peringatan kepada AS dan negara-negara Eropa barat bahwa Rusia memiliki kemampuan nuklir yang harus dipertimbangkan AS dan sekutu-sekutunya itu sebelum melakukan konfrontasi dengan Rusia.
"Tahun ini, kekuatan nuklir kita akan mendapatkan lebih dari 40 rudal ballistik antar benua yang sanggup menembus semua sistem pertahanan yang ada, bahkan yang paling canggih sekalipun," kata Putin.
Putin juga kembali menegaskan bahwa negaranya akan terus melanjutkan program peningkatan kemampuan militernya secara besar-besaran, kendati kondisi ekonomi Rusia kini tengah dalam kesulitan karena merosotnya harga minyak yang menjadi sumber pendapatan negara serta sanksi ekonomi barat.
Dalam pernyataan pers di sebuah fasilitas latihan menembak di Alabino, Moskow minggu lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan bahwa Rusia akan segera menerima lebih dari 40 rudal ballistik antar benua baru yang menurutnya 'sanggup menembus semua sistem pertahanan lawan'.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi peringatan kepada AS dan negara-negara Eropa barat bahwa Rusia memiliki kemampuan nuklir yang harus dipertimbangkan AS dan sekutu-sekutunya itu sebelum melakukan konfrontasi dengan Rusia.
"Tahun ini, kekuatan nuklir kita akan mendapatkan lebih dari 40 rudal ballistik antar benua yang sanggup menembus semua sistem pertahanan yang ada, bahkan yang paling canggih sekalipun," kata Putin.
Putin juga kembali menegaskan bahwa negaranya akan terus melanjutkan program peningkatan kemampuan militernya secara besar-besaran, kendati kondisi ekonomi Rusia kini tengah dalam kesulitan karena merosotnya harga minyak yang menjadi sumber pendapatan negara serta sanksi ekonomi barat.
Sunday, 14 June 2015
"Perlawanan" yang Menyerang Balik dan Berkah untuk Iran
"Kampanye AS melawan ISIS mengalami kegagalan, bukan karena kurangnya pasukan, namun karena bekerjasama dengan mereka yang tidak ikut memerangi mereka, seperti Saudi dan Turki," kata Patrick Cockburn, wartawan senior AS.
Atau lebih tepat lagi, AS dan koalisinya mengalami kegagalan dalam memerangi kelompok teroris ISIS karena justru merekalah yang membentuk, melatih, mendanai dan mengarahkan kegiatan ISIS.
Masuk akalkah bagi kita, ketika AS melancarkan kampanye anti-ISIS, kelompok ini justru semakin berkembang kekuatan dan kekuasaannya? Dalam sebulan terakhir mereka berhasil merebut kota Ramadi di Irak serta Idlib, Jisr al-Shugour dan Palmyra di Suriah. Padahal, dalam kasus Libya tahun 2011, militer pendukung penguasa Moammar Khadafi yang jauh lebih kuat dari ISIS menjadi tidak berdaya ketika berhadapan dengan pasukan udara NATO sehingga dengan mudah dikalahkan oleh pemberontak.
Sudah menjadi pengetahuan umum di Irak bahwa pesawat-pesawat pembom Amerika lebih sering membom posisi pasukan Irak dalam pertempuran melawan ISIS. Dan ketika ratusan kendaraan tempur ISIS berkonvoi untuk menyerang kota-kota di Irak dan Suriah, tidak satupun pesawat tempur koalisi Amerika yang mencegahnya.
Dan inilah kesaksian wartawan senior Inggris Robert Fisk dalam tulisan terakhirnya tentang konflik Suriah: 'Syrian civil war: Can Assad’s regime survive the onslaught from Isis and Jabhat al-Nusra?' di media The Independent hari Jumat (13/6).
Atau lebih tepat lagi, AS dan koalisinya mengalami kegagalan dalam memerangi kelompok teroris ISIS karena justru merekalah yang membentuk, melatih, mendanai dan mengarahkan kegiatan ISIS.
Masuk akalkah bagi kita, ketika AS melancarkan kampanye anti-ISIS, kelompok ini justru semakin berkembang kekuatan dan kekuasaannya? Dalam sebulan terakhir mereka berhasil merebut kota Ramadi di Irak serta Idlib, Jisr al-Shugour dan Palmyra di Suriah. Padahal, dalam kasus Libya tahun 2011, militer pendukung penguasa Moammar Khadafi yang jauh lebih kuat dari ISIS menjadi tidak berdaya ketika berhadapan dengan pasukan udara NATO sehingga dengan mudah dikalahkan oleh pemberontak.
Sudah menjadi pengetahuan umum di Irak bahwa pesawat-pesawat pembom Amerika lebih sering membom posisi pasukan Irak dalam pertempuran melawan ISIS. Dan ketika ratusan kendaraan tempur ISIS berkonvoi untuk menyerang kota-kota di Irak dan Suriah, tidak satupun pesawat tempur koalisi Amerika yang mencegahnya.
Dan inilah kesaksian wartawan senior Inggris Robert Fisk dalam tulisan terakhirnya tentang konflik Suriah: 'Syrian civil war: Can Assad’s regime survive the onslaught from Isis and Jabhat al-Nusra?' di media The Independent hari Jumat (13/6).
Friday, 12 June 2015
Panglima AU Saudi Tewas karena Serangan Rudal Scud Yaman
Media-media Saudi baru-baru ini mengabarkan panglima Angkatan Udara mereka, Jendral Muhammad bin Ahmed al-Shaalan, tewas akibat serangan jantung. Di sisi lain mereka dan media-media barat juga mengabarkan adanya serangan rudal-rudal Scud Yaman terhadap pangkalan-pangkalan udara Saudi. Mereka menyebutkan, rudal-rudal Scud tersebut berhasil ditembak jatuh oleh rudal-rudal Patriot Saudi yang dikirimkan Amerika.
Media Iran, Fars News Agency hari Kamis (11/6) memberikan laporan yang bertolak belakang atas 2 peristiwa terpisah tersebut. Menurut 'Fars', Jendral Muhammad bin Ahmed al-Shaalan tewas akibat serangan rudal-rudal Scud Yaman.
Laporan Fars News Agency tersebut juga dibenarkan oleh situs-situs terpercaya seperti Debkafile dan IHS Janes yang melaporkan kematian Jendral Muhammad bin Ahmed al-Shaalan oleh serangan rudal Yaman. IHS Jane's menulis laporan berjudul 'Royal Saudi Air Force commander dies - IHS Jane's 360', sedangkan DebkaFile dengan laporannya berjudul 'Saudi air chief killed in Yemeni rebel Scud attack on Khamis Mushayt air base'.
IHS Jane's menjadi media pertama yang melaporkan peristiwa itu, yaitu hari Selasa (9/6).
Mengklaim mendapat informasi terpercaya dari sumber keamanan Saudi -- proporsi besar personil militer Saudi memiliki hubungan keluarga ataupun pernikahan dengan Yaman yang dalam konflik dengan Saudi saat ini dibantu oleh Iran -- Fars melaporkan bahwa Jendral Muhammad bin Ahmed al-Shaalan tewas karena serangan rudal Yaman terhadap pangkalan militer Amir Khalid di kawasan Khamees al-Mushait, hari Jumat (5/6).
Media Iran, Fars News Agency hari Kamis (11/6) memberikan laporan yang bertolak belakang atas 2 peristiwa terpisah tersebut. Menurut 'Fars', Jendral Muhammad bin Ahmed al-Shaalan tewas akibat serangan rudal-rudal Scud Yaman.
Laporan Fars News Agency tersebut juga dibenarkan oleh situs-situs terpercaya seperti Debkafile dan IHS Janes yang melaporkan kematian Jendral Muhammad bin Ahmed al-Shaalan oleh serangan rudal Yaman. IHS Jane's menulis laporan berjudul 'Royal Saudi Air Force commander dies - IHS Jane's 360', sedangkan DebkaFile dengan laporannya berjudul 'Saudi air chief killed in Yemeni rebel Scud attack on Khamis Mushayt air base'.
IHS Jane's menjadi media pertama yang melaporkan peristiwa itu, yaitu hari Selasa (9/6).
Mengklaim mendapat informasi terpercaya dari sumber keamanan Saudi -- proporsi besar personil militer Saudi memiliki hubungan keluarga ataupun pernikahan dengan Yaman yang dalam konflik dengan Saudi saat ini dibantu oleh Iran -- Fars melaporkan bahwa Jendral Muhammad bin Ahmed al-Shaalan tewas karena serangan rudal Yaman terhadap pangkalan militer Amir Khalid di kawasan Khamees al-Mushait, hari Jumat (5/6).
Wednesday, 10 June 2015
Mengapa Israel Tidak Menyerang Iran Tahun 2010 Lalu?
Isyu tentang adanya rencana Israel menyerang Iran pada tahun 2010 lalu kembali merebak di kalangan pengamat politik internasional pada tanggal 7 Juni lalu.
Adalah konperensi tahunan media zionis Jerussalem Post di New York yang menjadi pemicunya. Kala itu, empat orang yang terlibat langsung dalam 'rencana' serangan itu bertemu sebagai panel: mantan panglima militer Letjend Gabi Ashkenazi, mantan Direktur Mossad Meir Dagan; 2 mantan anggota Dewan Keamanan Nasional Mayjend Giora Eiland dan Mayjend Uzi Dayan, serta kolumnis senior Caroline Glick.
Adapun yang bertindak sebagai moderator dalam diskusi tersebut adalah editor senior Jerusalem Post, Steve Linde.
Pada bagian akhir diskusi, terjadi perdebatan sengit antar anggota panel tentang isyu rencana serangan Israel terhadap Iran, ketika Glick, yang dikenal sebagai pendukung kebijakan garis keras Israel mengklaim bahwa pada tahun 2010 Gabi Ashkenazi dan Meir Dagan mendapat perintah dari Perdana Menteri Netanyahu untuk melakukan serangan militer terhadap fasilitas-fasilitas nuklir Iran, namun mereka menolak, dan karenanya mereka layak disebut sebagai pembangkang.
Glick menyalahkan sikap membangkang Ashkenazi dan Dagan atas batalnya Israel menyerang Iran sehingga menempatkan Israel pada posisi status quo dalam konteks permusuhan dengan Iran.
Mendapat serangan keras itu, Meir Dagan pun menolak keras tudingan itu:
"Anda tidak berada di sana (pemerintahan), dan Anda tidak mengetahui apa yang terjadi."
Adalah konperensi tahunan media zionis Jerussalem Post di New York yang menjadi pemicunya. Kala itu, empat orang yang terlibat langsung dalam 'rencana' serangan itu bertemu sebagai panel: mantan panglima militer Letjend Gabi Ashkenazi, mantan Direktur Mossad Meir Dagan; 2 mantan anggota Dewan Keamanan Nasional Mayjend Giora Eiland dan Mayjend Uzi Dayan, serta kolumnis senior Caroline Glick.
Adapun yang bertindak sebagai moderator dalam diskusi tersebut adalah editor senior Jerusalem Post, Steve Linde.
Pada bagian akhir diskusi, terjadi perdebatan sengit antar anggota panel tentang isyu rencana serangan Israel terhadap Iran, ketika Glick, yang dikenal sebagai pendukung kebijakan garis keras Israel mengklaim bahwa pada tahun 2010 Gabi Ashkenazi dan Meir Dagan mendapat perintah dari Perdana Menteri Netanyahu untuk melakukan serangan militer terhadap fasilitas-fasilitas nuklir Iran, namun mereka menolak, dan karenanya mereka layak disebut sebagai pembangkang.
Glick menyalahkan sikap membangkang Ashkenazi dan Dagan atas batalnya Israel menyerang Iran sehingga menempatkan Israel pada posisi status quo dalam konteks permusuhan dengan Iran.
Mendapat serangan keras itu, Meir Dagan pun menolak keras tudingan itu:
"Anda tidak berada di sana (pemerintahan), dan Anda tidak mengetahui apa yang terjadi."
Tuesday, 9 June 2015
Pertempuran yang Sebenarnya di Suriah Baru akan Dimulai
"Dunia akan terkejut dengan apa yang kami dan pemerintah Suriah persiapkan dalam beberapa hari ke depan," kata Jendral Qassem Soleimani usai melakukan inspeksi di wilayah pertempuran di Idlib, Suriah, sebagaimana dikutip kantor-kantor berita Iran awal Juni.
Pernyataan itu disampaikan setelah pasukan Suriah mengalami pukulan-pukulan berat, terutama dengan kehilangan kontrol atas wilayah Jisr al-Shughur di Provinsi Idlib pada tanggal 25 April lalu. Wilayah ini sangat strategis karena menghubungkan Latakia dan kawasan Pantai Mediterania dengan Hama dan wilayah tengah Suriah.
Kekalahan itu menyusul kekalahan pasukan Suriah mempertahankan kota Palmyra yang prestisius. Pada bulan Februari lalu pasukan Suriah juga gagal melakukan upaya untuk memotong jalur suplai pemberontak di utara Aleppo.
Karena kekalahan-kekalahan tersebut, pemerintah Suriah pun berada dalam kondisi kritis dan terpaksa harus mengkonsentrasikan kekuatannya untuk menjaga tempat-tempat strategis dan meninggalkan wilayah yang lebih luas untuk dikuasai pemberontak.
Kondisi itulah yang memaksa sekutu-sekutu Suriah, terutama Iran, untuk mengerahkan kekuatan membantu memulihkan kekuasaan pemerintah Suriah.
Pernyataan itu disampaikan setelah pasukan Suriah mengalami pukulan-pukulan berat, terutama dengan kehilangan kontrol atas wilayah Jisr al-Shughur di Provinsi Idlib pada tanggal 25 April lalu. Wilayah ini sangat strategis karena menghubungkan Latakia dan kawasan Pantai Mediterania dengan Hama dan wilayah tengah Suriah.
Kekalahan itu menyusul kekalahan pasukan Suriah mempertahankan kota Palmyra yang prestisius. Pada bulan Februari lalu pasukan Suriah juga gagal melakukan upaya untuk memotong jalur suplai pemberontak di utara Aleppo.
Karena kekalahan-kekalahan tersebut, pemerintah Suriah pun berada dalam kondisi kritis dan terpaksa harus mengkonsentrasikan kekuatannya untuk menjaga tempat-tempat strategis dan meninggalkan wilayah yang lebih luas untuk dikuasai pemberontak.
Kondisi itulah yang memaksa sekutu-sekutu Suriah, terutama Iran, untuk mengerahkan kekuatan membantu memulihkan kekuasaan pemerintah Suriah.
Wednesday, 28 January 2015
Kasus Charlie Hebdo di Argentina
Publik Argentina kini tengah tersedot perhatiannya pada kematian
Jaksa Federal Alberto Nisman, yang ditemukana tewas di kantornya, Minggu
(18/1).
Kematian ini menarik, karena Nisman adalah kepala penyidik kasus pemboman Pusat Kebudayaan Yahudi di Buenos Aires tahun 1994 yang menewaskan 85 orang.
Beberapa saat sebelum dan sesudah kematian Nisman, media-media massa menyebutkan bahwa Nisman telah menuduh pemerintahan Presiden Cristina Kirchner berusaha “menghalang-halangi penyelidikan” dengan “menutup-nutupi keterlibatan Iran” dalam serangan berdarah itu.
Secara sekilas berita tersebut telah menggiring opini bahwa Iran adalah pelaku serangan bom tersebut dan Presiden Kirchner berusaha menutup-nutupinya, meski bila digunakan logika sedikit saja, opini tersebut akan termentahkan. Misalnya saja, untuk apa Presiden Kirchner menutup-nutupi kasus yang telah terjadi 20 tahun yang lalu ketika Kirchner belum menjadi tokoh yang berpengaruh. Bukankah seharusnya penyelidikan kasus ini sudah selesai jauh sebelum Kirchner menjadi Presiden Argentina?
Kemudian tentang keterlibatan Iran, selain tidak ada bukti kecuali upaya penggiringan opini, Iran juga tidak memiliki motif apapun untuk melakukan aksi tersebut. Untuk apa Iran melakukan hal itu jika tidak memberikan keuntungan apapun, melainkan hanya kerugian saja.
Kematian ini menarik, karena Nisman adalah kepala penyidik kasus pemboman Pusat Kebudayaan Yahudi di Buenos Aires tahun 1994 yang menewaskan 85 orang.
Beberapa saat sebelum dan sesudah kematian Nisman, media-media massa menyebutkan bahwa Nisman telah menuduh pemerintahan Presiden Cristina Kirchner berusaha “menghalang-halangi penyelidikan” dengan “menutup-nutupi keterlibatan Iran” dalam serangan berdarah itu.
Secara sekilas berita tersebut telah menggiring opini bahwa Iran adalah pelaku serangan bom tersebut dan Presiden Kirchner berusaha menutup-nutupinya, meski bila digunakan logika sedikit saja, opini tersebut akan termentahkan. Misalnya saja, untuk apa Presiden Kirchner menutup-nutupi kasus yang telah terjadi 20 tahun yang lalu ketika Kirchner belum menjadi tokoh yang berpengaruh. Bukankah seharusnya penyelidikan kasus ini sudah selesai jauh sebelum Kirchner menjadi Presiden Argentina?
Kemudian tentang keterlibatan Iran, selain tidak ada bukti kecuali upaya penggiringan opini, Iran juga tidak memiliki motif apapun untuk melakukan aksi tersebut. Untuk apa Iran melakukan hal itu jika tidak memberikan keuntungan apapun, melainkan hanya kerugian saja.
Monday, 11 August 2014
Saatnya Beruang Rusia Unjuk Taring
Mungkin saat ini Rusia telah menyadari kesalahannya dan mengikuti apa yang disarankan Paul Craig Roberts, mantan pejabat tinggi kabinet Presiden AS Ronald Reagan dan editor koran terkemuka Wall Street Journal.
Dalam sebuah artikel yang ditulisnya di situs Counterpunch bulan Maret lalu menyusul merebaknya konflik di Krimea, Ukraina, Roberts menyarankan Rusia untuk melakukan langkah tegas dengan menduduki Krimea dan wilayah-wilayah Ukraina timur yang mayoritas penduduknya adalah etnis Rusia.
Alasan Roberts adalah karena pada dasarnya Rusia tengah berperang melawan Amerika dan sekutu-sekutunya, meski Rusia menginginkan hidup damai. Amerika, kata Roberts akan tetap memerangi Rusia dengan berbagai cara dan bentuk, meski secara formal mereka tidak berperang.
Amerika akan terus memerangi Rusia, kata Roberts, selama Rusia masih tetap berdiri sebagai negara berdaulat yang menghalangi ambisi Amerika menguasai dunia sepenuhnya.
Menurut Robert, dengan menduduki Krimea dan Ukraina timur dan menempatkan pasukannya di kedua wilayah itu, maka Rusia memberi Amerika ruang yang lebih sempit untuk meneruskan provokasinya terhadap Rusia. Pada akhirnya Amerika hanya bisa mengajukan usul perundingan damai yang diakhiri dengan perjanjian damai secara permanen antara Rusia dan negara-negara barat. Sebaliknya, jika Rusia tidak melakukan langkah itu, maka Rusia akan terus diprovokasi dan dipojokkan hingga akhirnya menyerahkan tidak saja harga dirinya sebagai bangsa besar dan kuat, juga kedaulatan wilayahnya.
Dalam sebuah artikel yang ditulisnya di situs Counterpunch bulan Maret lalu menyusul merebaknya konflik di Krimea, Ukraina, Roberts menyarankan Rusia untuk melakukan langkah tegas dengan menduduki Krimea dan wilayah-wilayah Ukraina timur yang mayoritas penduduknya adalah etnis Rusia.
Alasan Roberts adalah karena pada dasarnya Rusia tengah berperang melawan Amerika dan sekutu-sekutunya, meski Rusia menginginkan hidup damai. Amerika, kata Roberts akan tetap memerangi Rusia dengan berbagai cara dan bentuk, meski secara formal mereka tidak berperang.
Amerika akan terus memerangi Rusia, kata Roberts, selama Rusia masih tetap berdiri sebagai negara berdaulat yang menghalangi ambisi Amerika menguasai dunia sepenuhnya.
Menurut Robert, dengan menduduki Krimea dan Ukraina timur dan menempatkan pasukannya di kedua wilayah itu, maka Rusia memberi Amerika ruang yang lebih sempit untuk meneruskan provokasinya terhadap Rusia. Pada akhirnya Amerika hanya bisa mengajukan usul perundingan damai yang diakhiri dengan perjanjian damai secara permanen antara Rusia dan negara-negara barat. Sebaliknya, jika Rusia tidak melakukan langkah itu, maka Rusia akan terus diprovokasi dan dipojokkan hingga akhirnya menyerahkan tidak saja harga dirinya sebagai bangsa besar dan kuat, juga kedaulatan wilayahnya.
MH-17 Jatuh karena Senjata Anti-Tank
Sebuah analisis menarik tentang jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH-17 disampaikan seorang pilot senior Jerman Peter Haisenko, yang ditulis di situs Global Research baru-baru ini dengan judul “Revelations of German Pilot: Shocking Analysis of the “Shooting Down” of Malaysian MH17. Aircraft Was Not Hit by a Missile”.
Jauh dari perkiraan banyak orang yang menganggap jatuhnya pesawat MH-17 karena tembakan rudal anti-pesawat, namun dekat dengan tuduhan Rusia bahwa pesawat tempur SU-25 milik Ukraina telah membuntuti pesawat MH-17 sebelum jatuh, pesawat penumpang tersebut jatuh karena tembakan senjata anti-tank.
Tentu saja sangat jauh dari perkiraan para analis, senjata anti-tank digunakan untuk menembak jatuh pesawat yang terbang tinggi sejauh 10 km di udara. Namun mereka mengabaikan fakta bahwa pesawat SU-25 mampu terbang hingga ketinggian 10 km dan dilengkapi senjata-senjata anti tank sebagaimana senjata anti-pesawat, yang jika digunakan terhadap pesawat sipil memiliki dampak yang lebih mengerikan.
Pesawat SU-25 memang dirancang khusus sebagai pesawat serang darat sebagaimana pesawat A-10 Thunderbolt milik AS yang legendaris. Sementara beberapa saat setelah jatuhnya pesaat MH-17 tersebut Rusia menuduh Ukraina bertanggujawab atas musibah jatuhnya pesawat MH-17 berdasarkan foto satelit yang menunjukkan keberadaan pesawat SU-25 yang terbang membuntuti MH-17 sebelum pesawat itu jatuh.
Analisis tersebut di atas diperoleh berdasarkan foto reruntuhan pesawat MH-17, terutama pada bagian kokpit pesawat.
Jauh dari perkiraan banyak orang yang menganggap jatuhnya pesawat MH-17 karena tembakan rudal anti-pesawat, namun dekat dengan tuduhan Rusia bahwa pesawat tempur SU-25 milik Ukraina telah membuntuti pesawat MH-17 sebelum jatuh, pesawat penumpang tersebut jatuh karena tembakan senjata anti-tank.
Tentu saja sangat jauh dari perkiraan para analis, senjata anti-tank digunakan untuk menembak jatuh pesawat yang terbang tinggi sejauh 10 km di udara. Namun mereka mengabaikan fakta bahwa pesawat SU-25 mampu terbang hingga ketinggian 10 km dan dilengkapi senjata-senjata anti tank sebagaimana senjata anti-pesawat, yang jika digunakan terhadap pesawat sipil memiliki dampak yang lebih mengerikan.
Pesawat SU-25 memang dirancang khusus sebagai pesawat serang darat sebagaimana pesawat A-10 Thunderbolt milik AS yang legendaris. Sementara beberapa saat setelah jatuhnya pesaat MH-17 tersebut Rusia menuduh Ukraina bertanggujawab atas musibah jatuhnya pesawat MH-17 berdasarkan foto satelit yang menunjukkan keberadaan pesawat SU-25 yang terbang membuntuti MH-17 sebelum pesawat itu jatuh.
Analisis tersebut di atas diperoleh berdasarkan foto reruntuhan pesawat MH-17, terutama pada bagian kokpit pesawat.
Subscribe to:
Posts (Atom)









