Tuesday, 6 September 2016

Media Massa-Media Massa 'Bajingan' (2)

Indonesian Free Press -- Pengamat media Michael Goodwin mengatakan bahwa opini tunggal yang ditunjukkan media massa Amerika saat ini tidak pernah terjadi seperti sebelumnya. Media-media utama Amerika seperti CBS, NBC, ABC, New York Times dan Washington Post satu suara untuk mendepak Donald Trump dari persaingan perebutan kursi kepresidenan. Hal yang sama bahkan juga disuarakan oleh media-media 'setengah independent' atau 'oposisi terkendali' seperti Counterpunch, meski mereka melakukannya dengan cara berbeda dengan media-media utama. Ketika Trump mendukung Amerika membayar kompensasi ke Iran $400 juta, Counterpunch menyindir Trump sebagai 'tidak ingin menang' dan menyebut sikap Trump tersebut keliru. Padahal, justru Trump dalam kasus ini telah menunjukkan sikap kenegarawanan.

Ia menyebut apa yang dialami Trump sama dengan yang dilakukan media massa Amerika terhadap Iran, dan ini adalah memalukan. Di sisi lain, publik Amerika sudah cukup cerdas untuk menentukan pilihannya sendiri di luar apa yang disampaikan media massa utama.

Saturday, 3 September 2016

Siapa Bilang Militer Tidak Boleh Kudeta?

Indonesian Free Press -- Seorang teman lama yang berhasil meraihpangkat Kolonel TNI mengatakan kepadaku bahwa TNI adalah bagiandari pemerintah. Temanku yang lain, kali ini teman di Facebook yang pensiunan jendral bintang tiga mengatakan bahwa TNI tidak boleh memberontak dan kudeta.
Bagiku pendapat keduanya itu seperti pendapat militer neoliberal yang hanya mengikuti 'standar demokrasi' ala George Soros, yaitu militer berada di bawah dan tunduk kepada pemerintahan sipil yang dipilih secara 'demokratis'. Bagiku, semua itu omong kosong. Biarkan orang-orang yahudi Mamrika dan Eropa ngomong seperti itu. Tapi ini adalah Indonesia, Bung!

Indonesia adalah negara 'militer'. Para raja dan pemimpin negeri ini di masa lalu adalah para panglima perang. Airlangga, Ken Arok, Raden Wijaya, Gadjah Mada, Raden Patah, Fathahillah, Teuku Umar, Raja Hasanuddin, Pangeran Nuku, Pangeran Diponegoro, hingga Presiden Soeharto dan Presiden SBY, adalah para pemimpin militer.

Koalisi Suriah Raih Kemenangan Penting di Aleppo dan Darayya-Damaskus

Indonesian Free Press -- Pada 31 Agustus lalu pasukan koalisi Suriah yang didukung angkatan udara Rusia berhasil merebut wilayah Qarasi, sebagian besar wilayah Al Amiriya dan bukit stategis Tal Al Sanoubrat, mengusir kelompok Jaish al-Fatah yang berada di antara Khan Tuman dan perkampungan Ramouseh Neighborhood di Aleppo. Sehari kemudian jalan yang menghubungkan Khan Tuman dan perkampungan Ramouseh itu berhasil dikuasai sepenuhnya oleh Suriah hingga ke bukit Um Qara.

Dalam operasi itu pasukan Suriah bersama Hezbollah menghancurkan sekitar 20 kendaraan perang pemberontak yang hendak memberikan bantuan suplai dan amunisi ke Ramouseh. Demikian seperti dilaporkan South Front-Veterans Today kemarin (2 Agustus). Menurut laporan itu sebanyak 50 pasukan koalisi pemerintah Suriah tewas, sementara pihak lawannya mencapai 100 militan tewas. Sebagian korban pemberontak yang tewas itu disebabkan oleh pemboman pesawat-pesawat Rusia.

Friday, 2 September 2016

Media Massa-Media Massa 'Bajingan'

Indonesian Free Press -- Ini adalah tulisan yang paling tepat untuk menggambarkan dunia media massa internasional, tentunya termasuk Indonesia, ketika media massa hanya menjadi 'corong' kepentingan para penjahat. Tulisan ini adalah 'A Crooked Mile' yang ditulis penulis Rusia berdarah yahudi Israel Shamir, di situs 'The Unz Review' pada 24 Agustus 2016.

"Crookedness is a professional problem for the media," tulis Shamir.

Karena terlalu menarik untuk dihilangkan bagian-bagiannya, dan terlalu berharga untuk ditunda penyampaiannya, IFP sengaja menuliskannya secara berseri.

"Di masa lalu seorang jurnalis memiliki pilihan. Ia bisa bekerja di media massa pendukung Partai Buruh, Konservatif, atau Liberal. Saat ini tidak ada bedanya: semua media massa Inggris termasuk Guardian membenci Jeremy Corbyn, pemimpin Partai Buruh. Di Amerika semua media massa membenci Trump. Tidak ada lagi pilihan bagi para penulis atau pembaca!"

Thursday, 1 September 2016

Kejahatan ISIS dan Para Pendukungnya Terbongkar di Irak

Indonesian Free Press -- Perginya gerombolan ISIS di kota-kota yang didudukinya di Irak membongkar kejahatan kelompok teroris yang didukung zionis internasional dan kaki tangannya: Amerika, Inggris, Saudi, Qatar, Turki, dll. Puluhan kuburan massal korban kekejaman ISIS ditemukan dengan jumlah korban diduga mencapai puluhan ribu orang.

Seperti dilaporkan Veterans Today, 30 Agustus lalu, kantor berita Associated Press mengklaim telah mengidentifikasi setidaknya 72 kuburan massal korban kekejaman ISIS di Irak dan Suriah. Dari jumlah itu, 17 kuburan massal berada di Suriah dan sisanya di Irak, dengan jumlah korban keseluruhan antara 5 ribu hingga 15 ribu orang. Namun para aktifis menyebut masih ada ribuan korban kekejaman ISIS yang masih terkubur di sejumlah kuburan massal dan tidak diketahui keberadaannya.

Informasi tersebut diperoleh dari AllSource, perusahaan penyedia jasa satelit yang mengidentifikasi jejak kuburan massal dari gambar satelit berdasarkan kesaksian masyarakat. Sejumlah kelompok sosial juga membantu identifikasi kuburan massal. Bahkan para anggota ISIS sendiri sering membanggakan aksi kejinya telah membantai orang-orang yang mereka anggap sebagai 'kafir' dan  'pengkhianat'.

Wednesday, 31 August 2016

Bravo Indonesia, Sekali Lagi Gagalkan Skenario Jahat Neoliberalisme-Zionisme

Indonesian Free Press -- Pemerintah melalui Dirjen Pajak akhirnya memberikan penjelasan kepada publik tentang pelaksanaan program 'tax amnesty' untuk meredam kemarahan publik tentang implementasi program tersebut yang dianggap melenceng dari kepatutan. Di antara penjelasan itu adalah bahwa masyarakat dengan penghasilan kurang dari Rp4,5 juta per-bulan dibebaskan dari program tersebut, dan harta benda yang berasal dari warisan tidak dikenakan pajak.

Mengapa lagi-lagi pemerintah melakukan 'blunder', sebagaimana pengangkatan warga negara Amerika Arcandra Tahar menjadi menteri ESDM? Setelah mendapatkan reaksi publik, baru meralat kebijakannya? Apakah memang semuanya disengaja? Berharap publik tidak bereaksi, dan agenda 'jahat' mereka pun berjalan mulus? IFP percaya bahwa demikianlah halnya.

Tuesday, 30 August 2016

Amerika Marah Turki Kerjasama dengan ISIS Perangi Kurdi

Indonesian Free Press -- Amerika menyatakan kegusaran atas aksi Turki menyerang kelompok Kurdi di Suriah timur laut. Amerika menyebutnya sebagai 'pertempuran yang tidak bisa diterima'. Hal ini bersamaan dengan tuduhan sejumlah pihak, terutama kelompok Kurdi, bahwa Turki 'bersandiwara' dengan ISIS.

"Kami ingin semuanya jelas bahwa kami melihat pertempuran ini, di wilayah dimana ISIS tidak berada, adalah tidak bisa diterima dan menjadi masalah yang serius," kicau Brett McGurk, utusan khusus Presiden Amerika untuk koalisi internasional anti-ISIS yang dipimpin Amerika, di akun resmi Twitter seperti dilaporkan Veterans Today kemarin (29 Agustus).

"Kami menyerukan semua pihak bersenjata untuk berhenti... Amerika aktif memfasilitasi penghentian konflik dan menyatukan fokus kepada ISIS, yang masih menjadi ancaman membahayakan," tambahnya, mengulang pernyataan Departemen Pertahanan Amerika yang menyebut tindakan Turki telah menyimpang dari fokus untuk memerangi ISIS dan bahkan memungkinkan kelompok itu menjadi semakin kuat.

Iran Pasang S-300 di Reaktor Nuklir Fordo dan Radar Canggih

Indonesian Free Press -- Iran memasang sistem pertahanan udara canggih buatan Rusia S-300 di dekat fasilitas nuklir Fordo, kantor berita Iran melaporkan, Minggu (28 Agustus). Pada saat yang hampir bersamaan Iran juga memasang sistem radar canggih yang terbukti mampu mendeteksi drone Amerika yang menyusup dan mengusir pergi.

Seperti dilaporkan AFP dan Times of Israel kemarin (29 Agustus), Iran merilis video yang menunjukkan pemasangan sistem pertahanan S-300 di Fordo, di samping sistem pertahanan udara lainnya yang sudah ada.

"Hari ini langit Iran adalah yang paling aman di kawasan," kata Komandan Pertahanan Udara Iran Jendral Farzad Esmaili kepada media Iran IRIB, menambahkan bahwa perlindungan terhadap fasilitas nuklir Iran adalah hal yang paling penting.

Sunday, 28 August 2016

Cina dan Rusia Bangun Senjata Penghancur Kapal Induk Amerika

Indonesian Free Press -- Tanda-tanda bahwa keseimbangan militer dunia telah berubah menjauhi dominasi Amerika semakin terlihat jelas dari perkembangan berikut ini. Cina kini tengah mengembangkan armada kapal perang penghancur kapal induk (carrier killer), sementara Rusia pun mengembangkan rudal jelajah hipersonik yang memiliki kemampuan yang sama.

Kantor berita Sputnik News melaporkan, 18 Agustus lalu, bahwa Cina tengah membangun armada kapal destroyer peluru kendali Type 052D Luyang yang dijuluki sebagai 'Carrier Killer' atau 'China’s Aegis”. Tambahan kekuatan baru ini diperkirakan akan semakin memperkuat pengaruh Cina di kawasan, pada saat Cina terlibat ketegangan dengan Amerika dan negara-negara Asia sekutu Amerika.

Dilaporkan setidaknya 11 'Carrier Killer' Cina akan ditempatkan di wilayah konflik di Laut Cina Selatan. Bersama dengan kapal induk Liaoning kapal-kapal perang ini mampu memblokir seluruh kawasan dari semua kekuatan lawan termasuk Amerika. Kekuatan utama kapal penghancur (destroyer) Cina ini adalah rudal jelajah jarak jauh berkecepatan hingga 3.000 km per-jam yang mampu menenggelamkan kapal induk Amerika.

Pesawat-Pesawat Tempur Cina akan Gempur Pemberontak Suriah

Indonesian Free Press -- Pesawat-pesawat tempur Cina akan bergabung dengan Rusia melancarkan serangan terhadap kelompok pemberontak Suriah. Kantor berita Iran FARS News melaporkan kemarin (27 Agustus).

"Sumber-sumber media massa menyebutkan bahwa delegasi militer Cina  dalam kunjungan ke Damaskus menawarkan pengiriman sejumlah pesawat tempur ke Suriah untuk mengintensifkan perang melawan teroris di Suriah," tulis laporan itu.

"Pesawat-pesawat tempur Cina kemungkinan akan menyerang posisi-posisi kelompok Jeish al-Islami al-Turkistani yang sebanyak 3.000 lebih anggotanya berasal dari Uighur-Cina,” tambah laporan itu mengutip pernyataan pakar inteligen Amerika.

Sebelumnya pada bulan ini, Beijing dan Damascus telah sepakat untuk melakukan kerjasama pemberiana bantuan kemanusiaan oleh Cina kepada Suriah. Selain itu juga disepakati pengiriman instruktur-instruktur militer Cina untuk membantu Suriah.