Indonesian Free Press -- Blog ini sudah sering mengingatkan bahaya regim proksi zionis yang bakal berkuasa di Indonesia. Bahkan sebenarnya motivasi blogger mendirikan blog ini adalah untuk mengingatkan masyarakat Indonesia tentang hal ini. Zionis yang menghancurkan bangsa-bangsa di dunia, menghancurkan agama-agama di dunia untuk memuluskan jalan bagi berkuasanya dajjal atau anti-christ sudah terjadi di seluruh penjuru dunia selama ratusan tahun. Demikian juga dengan Indonesia, negara Islam terbesar di dunia dengan kekayaan alam melimpah dan letak yang strategis, tentu menjadi sasaran utama mereka.
Saya sudah mengamati sepak terjang mereka, dan modus-modus kejahatan mereka di seluruh dunia dalam rentang waktu ratusan tahun, terutama.dalam beberapa tahun terakhir. Percayalah, apa yang terjadi di Indonesia saat ini hanyalah pengulangan dari yang terjadi di berbagai belahan lain di dunia.
Mereka telah gagal merebut kekuasaan pada tahun 1965. Namun, saat ini mereka telah muncul kembali. Fitnah besar tengah menimpa ummat Islam di INdonesia saat ini. Namun saya yakin, seperti juga sudah saya tulis beberapa kali bahwa kehancuran zionis internasional pengikut dajjal mungkin saja akan berawal di INdonesia. INsya Allah.
Monday, 6 February 2017
Sunday, 5 February 2017
Surat Imajiner untuk Jokowi-Ahoker Mbak Sophia dan Mas Iwan
Indonesian Free Press -- Mbak Sophia Latjuba, saya adalah penggemarmu sejak Anda pertama muncul dalam film 'Setegar Karang' di antara tahun 1988-1989, merilis singel 'Lihat Saja Nanti' di tahun 1989 dan kemudian nyanyi bareng Indra Lesmana di tahun 1990-an. Saat mengetik tulisan ini saya bahkan sedang mendengar lagu 'Keinginan' yang Anda dendangkan bareng Indra.Dan Mas Iwan Fals, saya juga penggemarmu sejak Anda merilis album 'Sarjana Muda' dengan lagu legendarisnya, 'Umar Bakrie', di awal dekade 1980-an. Kegemaran saya pada Anda semakin besar setelah Anda bersama group 'Kantata Taqwa' mengeluarkan lagu hits 'Bento'.
Lihatlah, Anda berdua lahir di era Orde Baru di bawah pimpinan Pak Harto, tokoh yang Anda berdua benci sebagaimana para Jokowi-Ahoker membencinya, apalagi mereka yang berasal dari keluarga eks PKI. Meski Pak Harto Anda tuduh korup dan otoriter, kepemimpinannya tetap bisa melahirkan banyak seniman besar, termasuk Anda berdua. Banyak seniman dan keluarga seniman yang dianggap berseberangan pandangan dengan Pak Harto, bahkan yang sampai sekarang masih sering mengumbar kebencian pada Pak Harto, justru berhutang jasa pada Pak Harto.
Saturday, 4 February 2017
Politikus Senior PPP Sebut Pendukung Ahok Kumpulan Pengkhianat
Indonesian Free Press -- Blog ini sudah mengingatkan bahwa regim jokowi-ahok akan runtuh dengan cepat, karena mereka melawan 200 juta ummat Islam Indonesia yang nasionalis. Lihat saja, orang ngomong keras seperti ini pun tidak bisa lagi dicegah.
Besok, omongan bahkan tuntutan lebih keras akan muncul dari ummat Islam. Pada saat yang sama, para pendukung Ahok terpaksa harus bersikap 'low profile', seperti bocah alai simpatisan PKI yang ketangkap memakai pin PKI dan menghiba-hiba agar tidak dipukuli warga. Bodohnya Ahok yang menyangka 200 juta orang yang nasionalis dan religius akan rela diinjak kepalanya oleh para munafikun dan pengkhianat bangsa.
“Kita menyaksikan ada sebagian Umat Islam menjadi penghianat, serta jadi kaki tangan Ahok," kata politikus senior PPP Habil Marati kepada suaranasional, Jumat (3 Februari).
Besok, omongan bahkan tuntutan lebih keras akan muncul dari ummat Islam. Pada saat yang sama, para pendukung Ahok terpaksa harus bersikap 'low profile', seperti bocah alai simpatisan PKI yang ketangkap memakai pin PKI dan menghiba-hiba agar tidak dipukuli warga. Bodohnya Ahok yang menyangka 200 juta orang yang nasionalis dan religius akan rela diinjak kepalanya oleh para munafikun dan pengkhianat bangsa.
“Kita menyaksikan ada sebagian Umat Islam menjadi penghianat, serta jadi kaki tangan Ahok," kata politikus senior PPP Habil Marati kepada suaranasional, Jumat (3 Februari).
Buntut Blunder Ahok, Tokoh-Tokoh NU Ramai-Ramai Mengecam
Indonesian Free Press -- Tindakan blunder Ahok dan tim penasihat hukumnya dengan mengintimidasi tokoh NU sekaligus Ketua MUI Kyai Ma'aruf Amin dalam persidangan kedelapan kasus penistaan agama di Auditorium Kementerian Pertanian Jakarta Selatan, Selasa (31 Januari), terus berbuntut panjang dengan banyaknya tokoh-tokoh NU yang mengecamnya.
Setelah mantan menteri dan Ketua MK Prof Moh Mahmud MD, Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) yang santun dan ramah turut bersuara keras. Kiyai sepuh keluarga pendiri Nahdhatul Ulama ini bahkan menyampaikan, hendaknya warga NU berpikir ulang jika akan memilih Ahok sebagai pemimpin.
“Mungkin warga NU yang milih Ahok harus mikir,” tegas Gus Sholah sebagaimana dilansir Republika, Kamis (2 Februari).
Setelah mantan menteri dan Ketua MK Prof Moh Mahmud MD, Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) yang santun dan ramah turut bersuara keras. Kiyai sepuh keluarga pendiri Nahdhatul Ulama ini bahkan menyampaikan, hendaknya warga NU berpikir ulang jika akan memilih Ahok sebagai pemimpin.
“Mungkin warga NU yang milih Ahok harus mikir,” tegas Gus Sholah sebagaimana dilansir Republika, Kamis (2 Februari).
Friday, 3 February 2017
Regim Jokowi Ngeles soal Skandal Penyadapan yang Memalukan
Indonesian Free Press -- Hari demi hari rakyat Indonesia disuguhi oleh drama politik memuakkan yang dimainkan regim Jokowi. Satu lagi drama itu adalah kasus penyadapan ilegal yang diduga dilakukan para pendukung Ahok.
Seperti ramai dilaporkan media-media nasional hingga media internasional, pada hari Rabu (1 Februari) mantan Presiden SBY meminta pertanggungjawaban pemerintah atas penyadapan ilegal yang diduga kuat telah terjadi terhadap dirinya. Hal ini setelah sebelumnya dalam persidangan kasus penistaan agama, tersangka Ahok mempertanyakan percakapan antara Ketua Majelis Ulama Indonesia yang juga sesepuh NU Ma'aruf Amin dengan SBY.
Anggota tim kuasa hukum Ahok, Humphrey Djemat, bahkan mengklaim mempunyai bukti percakapan itu. Menurut dia, komunikasi keduanya berkaitan dengan pemilihan kepala daerah DKI 2017.
Selain mengundang kemarahawan warga NU karena pernyataan Ahok dan kuasa hukumnya, SBY tentu saja juga merasa tersinggung berat karena privasinya, terlebih lagi sebagai mantan Presiden RI, telah dilecehkan. SBY pun meminta pertanggungjawaban pemerintah jokowi.
Seperti ramai dilaporkan media-media nasional hingga media internasional, pada hari Rabu (1 Februari) mantan Presiden SBY meminta pertanggungjawaban pemerintah atas penyadapan ilegal yang diduga kuat telah terjadi terhadap dirinya. Hal ini setelah sebelumnya dalam persidangan kasus penistaan agama, tersangka Ahok mempertanyakan percakapan antara Ketua Majelis Ulama Indonesia yang juga sesepuh NU Ma'aruf Amin dengan SBY.
Anggota tim kuasa hukum Ahok, Humphrey Djemat, bahkan mengklaim mempunyai bukti percakapan itu. Menurut dia, komunikasi keduanya berkaitan dengan pemilihan kepala daerah DKI 2017.
Selain mengundang kemarahawan warga NU karena pernyataan Ahok dan kuasa hukumnya, SBY tentu saja juga merasa tersinggung berat karena privasinya, terlebih lagi sebagai mantan Presiden RI, telah dilecehkan. SBY pun meminta pertanggungjawaban pemerintah jokowi.
Thursday, 2 February 2017
Pelajaran dari Rusia (3)
Indonesian Free Press -- Jika saja rakyat Rusia kala itu tahu bahwa sosialisme Mensheviki dan komunisme Bolsheviki adalah satu komplotan antek zionis untuk menundukkan Rusia dan menjajahnya, mereka tentu sudah menolak kedua partai itu dan memilih mendukung rajanya sampai mati. Namun, bahkan di jaman modern seperti sekarang saja masih banyak orang-orang idiot yang menjadi pendukung penguasa jongos aseng asing. Apalagi kala itu ketika informasi sangat terbatas dan komunikasi berjalan lambat.
Tidak seperti komunisme Bolshevik yang terang-terangan anti-Tuhan dan agama, anti-nasionalisme (lebih suka internasionalisme), dan membenci tatanan sosial dan nilai-nilai tradisi dan menanamkan benih-benih perpecahan dengan isyu pertentangan kelas, sosialisme Mensheviki berpura-pura menghormati agama, menghormati persatuan dan kebhinnekaan. Maka ketika Tsar Nicholas II dipaksa mundur dari kekusaan bulan Maret 1917, rakyat bisa menerima regim Mensheviki.
Tidak seperti komunisme Bolshevik yang terang-terangan anti-Tuhan dan agama, anti-nasionalisme (lebih suka internasionalisme), dan membenci tatanan sosial dan nilai-nilai tradisi dan menanamkan benih-benih perpecahan dengan isyu pertentangan kelas, sosialisme Mensheviki berpura-pura menghormati agama, menghormati persatuan dan kebhinnekaan. Maka ketika Tsar Nicholas II dipaksa mundur dari kekusaan bulan Maret 1917, rakyat bisa menerima regim Mensheviki.
Wednesday, 1 February 2017
Hakim MK pun Menjadi Tumbal Ahok
Indonesian Free Press -- Pengantar IFP: Ahok dan regim jokowi yang melindunginya semakin terpojok dalam kasus ini. Mereka bermaksud mendiskreditkan Patrialis Akbar dan melemahkan aspirasi ummat Islam. Namun Patrialis Akbar adalah tokoh Partai Amanat Nasional dan juga tokoh Minang, seperti halnya Irman Gusman yang terlebih dahulu dikriminalisasi oleh KPK.
Penangkapan Patrialis Akbar setelah sebelumnya Irman Gusman memberi kesan regim jokowi hendak menghukum orang-orang Minang yang dalam pilpres kemarin mayoritas menolak jokowi dan mendukung Prabowo. Namun, tentu saja hal ini akan membuat orang-orang Minang semakin solid menolak jokowi-ahok.
Ketika terjadi kristalisasi kelompok-kelompok anti-jokowi-ahok seperti saat ini, terutama setelah terbongkarnya praktik penyadapan oleh regim jokowi terhadap mantan presiden SBY yang dihormati kalangan militer dan sekaligus menyerempat Ketua MUI yang juga tokoh NU, kriminalisasi terhadap Patrialis Akbar akan semakin menyolidkan perlawanan publik terhadap regim jokowi dan membuatnya semakin tersudut.
Penangkapan Patrialis Akbar setelah sebelumnya Irman Gusman memberi kesan regim jokowi hendak menghukum orang-orang Minang yang dalam pilpres kemarin mayoritas menolak jokowi dan mendukung Prabowo. Namun, tentu saja hal ini akan membuat orang-orang Minang semakin solid menolak jokowi-ahok.
Ketika terjadi kristalisasi kelompok-kelompok anti-jokowi-ahok seperti saat ini, terutama setelah terbongkarnya praktik penyadapan oleh regim jokowi terhadap mantan presiden SBY yang dihormati kalangan militer dan sekaligus menyerempat Ketua MUI yang juga tokoh NU, kriminalisasi terhadap Patrialis Akbar akan semakin menyolidkan perlawanan publik terhadap regim jokowi dan membuatnya semakin tersudut.
SBY dan TNI GUSAR, PRESIDEN JOKOWI MULAI KETAKUTAN!
Bahkan
dalam sepekan ini beredar isu bakal terjadi kerusuhan seperti tahun
1998. Hal itu terkait dengan sikap arogansi Polri yang gencar
mengkriminalisasi ulama dan membidik kubu Agus-Sylviana yang merupakan
rival terberat Ahok di Pilgub DKI.
Tindakan
semena-mena Polri disyalir sebagai “proyek politik” untuk mendongkrak
elektabilitas Ahok yang makin anjlok lantaran terseret kasus penistaan
Al Qur’an.
Celakanya,
Presiden Jokowi tampil memanasi situasi dengan memanfaatkan mantan
Ketua KPK Antasari Azhar untuk memberi kesan seolah SBY dalam sanderaan
Istana.
*KEPADA PENGKHIANAT*
Engkau yang rambut lurus belah tepi,
Topeng mu telah terbuka kini.
Melukai kami di negeri yang kami warisi
Dari kakek nenek kami yang memerdekakan Republik ini
Air mata ini kau buat berderai
Rakyat kau buat bertikai
Islam kau cederai...
Mulanya kau terlihat soleh
Pergi umrah dan jadi imam jemaah
Blusukan bagai peduli rakyat yang susah
Kini kau tunjukkan kau lah sumber masalah
Kau bela si penista agama
Memenjarakannya kau tak berdaya
Ketika 2,3 juta umat Islam mengetuk istana
Kau menghilang entah kemana
Keadilan tak kunjung tiba
Lalu ketika 7.5 juta umat berdoa dari monas melebar ke bundaran hotel Indonesia,
Kau tiba tiba datang tanpa diminta
Berbicara lima menit tanpa solusi apa apa
Sungguh sesak melihatnya
Topeng mu telah terbuka kini.
Melukai kami di negeri yang kami warisi
Dari kakek nenek kami yang memerdekakan Republik ini
Air mata ini kau buat berderai
Rakyat kau buat bertikai
Islam kau cederai...
Mulanya kau terlihat soleh
Pergi umrah dan jadi imam jemaah
Blusukan bagai peduli rakyat yang susah
Kini kau tunjukkan kau lah sumber masalah
Kau bela si penista agama
Memenjarakannya kau tak berdaya
Ketika 2,3 juta umat Islam mengetuk istana
Kau menghilang entah kemana
Keadilan tak kunjung tiba
Lalu ketika 7.5 juta umat berdoa dari monas melebar ke bundaran hotel Indonesia,
Kau tiba tiba datang tanpa diminta
Berbicara lima menit tanpa solusi apa apa
Sungguh sesak melihatnya
Subscribe to:
Posts (Atom)









