Indonesian Free Press -- Turki akan meningkatkan kerjasama militer dengan Iran setelah kedatangan kepala staff gabungan Iran ke Turki minggu lalu. Demikian pernyataan Jubir Kepresidenan Turki seperti dilansir kantor berita Iran ABNA, Sabtu (19 Agustus).
Kepala Staff Gabungan Iran Jendral Mohammad Baqeri bertemu dengan Presiden Erdogan hari Rabu (16 Agustus). Ia juga bertemu dengan para pejabat tinggi Turki lainnya dalam apa yang disebut media-media Turki sebagai kunjungan pertama Panglima Angkatan Bersenjata Iran sejak Revolusi Iran tahun 1979.
Jubir Kepresidenan Ibrahim Kalin menyebut kunjungan itu sebagai 'sukses' dan 'berbuah manis'. Kedua pihak membahas berbagai isyu seperti perang melawan ISIS, kontra-terorisme serta kerjasama Iran-Turki-Rusia dalam memulihkan perdamaian di Suriah.
Monday, 21 August 2017
Kami Kembali Benar, Donald Trump Hanyalah Trik Tipuan
Indonesian Free Press -- Persis dengan perkiraan blog ini bahwa fenomena kemunculan Donald Trump sebagai presiden Amerika hanyalah sebuah tipuan untuk mengelabuhi publik Amerika yang sudah bosan dengan neoliberalisme, penasihat senior Donald Trump, Stephen K. Bannon pun akhirnya menyadari hal itu.
Dalam pernyataannya usai mengajukan pengunduran diri sebagai Pejabat Gedung Putih, Bannon mengatakan bahwa kepresidenan Donald Trump seperti yang diperjuangkannya telah berakhir. Kepemimpinan Donald Trump telah menyimpang dari yang diperjuangkannya.
"Kepresidenan Trump yang kami perjuangkan dan menangkan, kini telah berakhir," kata Bannon, Jumat (18 Agustus), setelah mengkonfirmasi pengunduran dirinya sebagaimana dilansir The Weekly Standard.
Stephen K. Bannon berhasil membangun imej Trump sebagai sosok yang nationalis-populis. Hal ini mampu menarik dukungan publik Amerika yang sudah muak dengan model pemerintahan neo-liberalisme yang telah mengantar Amerika ke dalam berbagai konflik bersenjata di dunia yang tidak memberikan kesejahteraan apapun bagi rakyat.
Dalam pernyataannya usai mengajukan pengunduran diri sebagai Pejabat Gedung Putih, Bannon mengatakan bahwa kepresidenan Donald Trump seperti yang diperjuangkannya telah berakhir. Kepemimpinan Donald Trump telah menyimpang dari yang diperjuangkannya.
"Kepresidenan Trump yang kami perjuangkan dan menangkan, kini telah berakhir," kata Bannon, Jumat (18 Agustus), setelah mengkonfirmasi pengunduran dirinya sebagaimana dilansir The Weekly Standard.
Stephen K. Bannon berhasil membangun imej Trump sebagai sosok yang nationalis-populis. Hal ini mampu menarik dukungan publik Amerika yang sudah muak dengan model pemerintahan neo-liberalisme yang telah mengantar Amerika ke dalam berbagai konflik bersenjata di dunia yang tidak memberikan kesejahteraan apapun bagi rakyat.
Saturday, 19 August 2017
Ketua PGI Puji FPI dalam Acara Milad ke-19 FPI
Indonesian Free Press -- Para pencibir FPI yang suka menuduh organisasi itu sebagai kelompok intoleran, mungkin harus tertunduk malu dengan hadirnya sejumlah tokoh lintas agama dalam acara Milad ke-19 FPI yang digelar di Stadion Muara Kamal, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (19 Agustus).
Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Pendeta S Supit yang juga hadir dalam acara itu bahkan mengaku berhubungan baik dengan FPI termasuk dengan Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab. Supit bahkan kenal baik Rizieq dan keduanya sering berdiskusi.
Menurutnya, kesan keras yang ada pada Rizieq tidak seperti apa yang dibayangkan banyak orang. "Di luar memang (Rizieq) ada terkesan keras, tetapi kalau saya lihat, saya kenal, ternyata tidak seperti yang diduga itu," kata Supit usai menghadiri milad FPI.
Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Pendeta S Supit yang juga hadir dalam acara itu bahkan mengaku berhubungan baik dengan FPI termasuk dengan Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab. Supit bahkan kenal baik Rizieq dan keduanya sering berdiskusi.
Menurutnya, kesan keras yang ada pada Rizieq tidak seperti apa yang dibayangkan banyak orang. "Di luar memang (Rizieq) ada terkesan keras, tetapi kalau saya lihat, saya kenal, ternyata tidak seperti yang diduga itu," kata Supit usai menghadiri milad FPI.
Komisioner Komnas HAM Kecam Jokowi Soal Kerusuhan Freeport
Indonesian Free Press -- Komisioner KPK yang terkenal kritis, Natalius Pigai, mengecam Presiden Jokowi yang dianggapnya tidak peduli dengan situasi di Papua setelah terjadinya aksi demonstrasi eks karyawan Freeport yang berakhir rusuh.
"Jokowi bisu setelah ditemui Dubes Amerika. Saya pontang panting urus sendiri. Memangnya siapakah saya orang kecil ini?," demikian tulis Pigai di status Facebook-nya hari ini (20 Agustus).
Menurut Pigai ia sampai tidak tidur semalaman untuk menangani kasus ribuan karyawan yang menuntut nasibnya di Timika. Ia pun telah melakukan koordinasi dengan Kapolri, Wakabaintelkam Mabes Polri, Kapolda Papua, Menejemen Freeport dan Ketua SPSI Timika. Ia juga berdialog dengan para saksi mata/warga Timika serta koordinator lapangan aksi demonstrasi yang berakhir rusuh itu.
"Jokowi bisu setelah ditemui Dubes Amerika. Saya pontang panting urus sendiri. Memangnya siapakah saya orang kecil ini?," demikian tulis Pigai di status Facebook-nya hari ini (20 Agustus).
Menurut Pigai ia sampai tidak tidur semalaman untuk menangani kasus ribuan karyawan yang menuntut nasibnya di Timika. Ia pun telah melakukan koordinasi dengan Kapolri, Wakabaintelkam Mabes Polri, Kapolda Papua, Menejemen Freeport dan Ketua SPSI Timika. Ia juga berdialog dengan para saksi mata/warga Timika serta koordinator lapangan aksi demonstrasi yang berakhir rusuh itu.
Bertingkah Seperti ABG Alai, Para Politisi Iran Dikecam
Indonesian Free Press -- Sejumlah politisi Iran dikecam setelah bertingkah seperti ABG alai dengan berebutan berfoto 'selfie' dengan politisi wanita Uni Eropa.
Seperti dilaporkan The Guardian, 6 Agustus lalu, sejumlah anggota parlemen Iran, termasuk yang mengenakan sorban sebagai simbol ulama Shiah, berebut untuk berfoto selfie dengan Federica Mogherini, Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa, usai pelantikan Presiden Hassan Rouhani. Akibatnya, mereka pun mendapatkan kecaman ramai-ramai oleh publik Iran.
Namun, sebagian dari kecaman itu juga berbau politis dengan faksi reformis pendukung Rouhani menjadi korbannya. Karena sebagian besar anggota parlemen yang dikecam itu berasal dari kubu tersebut.
Seperti dilaporkan The Guardian, 6 Agustus lalu, sejumlah anggota parlemen Iran, termasuk yang mengenakan sorban sebagai simbol ulama Shiah, berebut untuk berfoto selfie dengan Federica Mogherini, Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa, usai pelantikan Presiden Hassan Rouhani. Akibatnya, mereka pun mendapatkan kecaman ramai-ramai oleh publik Iran.
Namun, sebagian dari kecaman itu juga berbau politis dengan faksi reformis pendukung Rouhani menjadi korbannya. Karena sebagian besar anggota parlemen yang dikecam itu berasal dari kubu tersebut.
POLITIK GADUH PENGALIHAAN FOKUS SEPAK TERJANG TAIPAN
Indonesian Free Press -- Coba simak, Politik Gaduh ini memang sengaja dibuat. Gunanya apa? pengalihan fokus kita terhadap sepak terjang Taipan kapitalis yang kini tengah merampok negeri kita. Makar tetap berlanjut tanpa kita tahu harus berbuat apa ... karena mereka sangat mudah melemparkan tuduhan makar atas siapa saja yang berusaha menghentikan kegaduhan ini semua ... !!! Kalau CINA KORUP dan menindas pribumi itu biasa. Kalau pribumi menentang korupsi dan penindasan Cina itu SARA !
Rezim Cina penindas menggunakan cara-cara kolonial Belanda untuk meredam perlawanan Rakyat Pribumi, Belanda menjuluki rakyat pribumi yang melawan Penjajahan sebagai ekstrimis dan pengacau. Kalau Rezim Cina menuduh rakyat pribumi Yang Menentang Disebutnya RASIS/ SARA.
Siapa Sebenarnya Yang Rasis?
Rezim Cina penindas menggunakan cara-cara kolonial Belanda untuk meredam perlawanan Rakyat Pribumi, Belanda menjuluki rakyat pribumi yang melawan Penjajahan sebagai ekstrimis dan pengacau. Kalau Rezim Cina menuduh rakyat pribumi Yang Menentang Disebutnya RASIS/ SARA.
Siapa Sebenarnya Yang Rasis?
Turki Nyerah, Hentikan Dukungan ke Pemberontak Suriah
Indonesian Free Press -- Sejak awal Turki telah terlibat dalam pemberontakan di Suriah yang telah menghancurkan segala aspek negara itu dan menewaskan ratusan ribu warganya. Namun, menyadari petualangannya tersebut menemui kegagalan dan bahkan balik mengancam keamanan Turki sendiri, regim negeri itu pun memutuskan menghentikan keterlibatannya di Suriah dengan menghentikan bantuannya kepada kelompok pemberontak.
Seperti dilaporkan Veterans Today, 14 Agustus lalu, Turki menghentikan dukungan kepada kelompok pemberontak untuk memulai normalisasi hubungan dengan Suriah.
"Turki telah memutuskan untuk menghentikan dukungan kepada kelompok National Coalition for Syrian Revolutionary and Opposition Forces (aka the Syrian National Coalition), yang meliputi berbagai kelompok pemberontak dalam konflik Suriah," tulis laporan itu dengan mengutip media Suriah Zaman el-Vasl.
Seperti dilaporkan Veterans Today, 14 Agustus lalu, Turki menghentikan dukungan kepada kelompok pemberontak untuk memulai normalisasi hubungan dengan Suriah.
"Turki telah memutuskan untuk menghentikan dukungan kepada kelompok National Coalition for Syrian Revolutionary and Opposition Forces (aka the Syrian National Coalition), yang meliputi berbagai kelompok pemberontak dalam konflik Suriah," tulis laporan itu dengan mengutip media Suriah Zaman el-Vasl.
Friday, 18 August 2017
Bisakah Karnaval Kebudayaan Menjadi Obat “Hipertensi Sosial”?
by Asyari Usman
Indonesian Free Press -- Pasti banyak yang terkagum-kagum menyaksikan parade kebudayaan dan busana yang digelar di halaman Istana Merdeka, di hari 17 Agustus, kemarin. Dalam rangkaian acara peringatan HUT ke-72 RI. Kostum-kostum tradisional dari berbagai suku itu, sangat memukau. Fantastis. Kostum-kostum itu diperagakan oleh pria-pria genteng dan wanita-wanita cantik. Sangat hebat.
Tak hanya itu. Parade diikuti pula dengan penampilan baru para peserta acara, mulai dari Presiden sampai para undangan biasa. Terlihat sebagian besar undangan memakai busana adat dari berbagai daerah di Indoesia. Para pembawa acara siaran langsung stasiun-stasiun TV nasional memberikan pujian yang tak putus-putus. Mereka takjub. Belum pernah ada selama ini.
Indonesian Free Press -- Pasti banyak yang terkagum-kagum menyaksikan parade kebudayaan dan busana yang digelar di halaman Istana Merdeka, di hari 17 Agustus, kemarin. Dalam rangkaian acara peringatan HUT ke-72 RI. Kostum-kostum tradisional dari berbagai suku itu, sangat memukau. Fantastis. Kostum-kostum itu diperagakan oleh pria-pria genteng dan wanita-wanita cantik. Sangat hebat.
Tak hanya itu. Parade diikuti pula dengan penampilan baru para peserta acara, mulai dari Presiden sampai para undangan biasa. Terlihat sebagian besar undangan memakai busana adat dari berbagai daerah di Indoesia. Para pembawa acara siaran langsung stasiun-stasiun TV nasional memberikan pujian yang tak putus-putus. Mereka takjub. Belum pernah ada selama ini.
Thursday, 17 August 2017
Kemana Pancasila itu !!?
Morteza Ali
Kemerdekaan tanpa makna jika TDL dan BBM menggila. Beras, daging sampai garam pun import di Negeri yg 2/3 nya areanya Lautan. Lebih dari 100juta penduduknya kekurangan gizi dan pendidikan..
Dan dihamparan Tanah yg luas bahkan di Ibukota banyak org tanpa rumah dan tinggal dikolong jembatan utk mengais rizqi.
Yang memiliki rumah terusir oleh arogansi yg katanya adalah pembangunan.. Sedang disisi lain, ada warga keturunan yg terkenal oportunis dari sejak jaman penjajahan hanya dgn 1perusahaan bisa menguasai 500.000.000.000m2 (500 Milyard meter persegi) Lahan Hutan Sawit, Batubara dan Kertas.
Atau hanya dgn jumlah 4org Taipan kekayaan mereka setara dgn 100juta Rakyat Indonesia jika digabungkan.
Lalu,, Apakah ini namanya KEMERDEKAAN ?!!
Kemana Pancasila itu !!?
Subscribe to:
Posts (Atom)









