Sunday, 16 May 2010

Perang Saudara di Amerika


Amerika kini tengah dilanda perang saudara. Bukan perang secara fisik memang, melainkan perang politik antara kalangan nasionalis kulit putih melawan kalangan liberal, sosialis-komunis, non-kulit putih dan paling utama dari itu semua adalah kaum yahudi yang berada di belakang semua gerakan liberalisme, sosialisme, komunisme hingga ultra-nasionalisme.

Peperangan ini dipicu oleh ditetapkannya UU pembatasan imigran asing di negara bagian Arizona yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Mexico, tepatnya pada tgl 23 April lalu. UU baru ini langsung saja mendapat reaksi keras dari kalangan liberal, sosialis-komunis, para aktivis sosialnon-kulit putih dan kaum yahudi. Selain kecaman di media massa (yang mayoritas dimiliki yahudi), berbagai aksi demonstrasi pun segera digelar untuk mengecam undang-undang tersebut yang dicap rasis. Tidak hanya itu, berbagai aksi boikot pun mulai diterapkan terhadap negara bagian Arizona oleh beberapa kota dan negara bagian Amerika dimana para pemimpinnya telah menjadi "zionist-puppet" dan "jew ass sucker" serta "zionist occupied goverment".

Beberapa kota dan negara bagian yang telah dan akan memboikot negara bagian Arizona berupa tindakan pembekuan kerjasama administratif maupun bisnis, di antaranya adalah Los Angeles, San Francisco, Boston, Boulder, Oakland, Springfield, Worcester, Washington D.C., Milwaukee, Chicago dan New York. Para pejabat federal, termasuk Presiden Barrack "mambo-dumbo" Obama Soetoro, juga telah menyatakan kecamannya terhadap undang-undang tersebut.

Namun yang paling keras mengecam undang-undang tersebut tentu saja yahudi. Beberapa tokoh dan organisasi yahudi menjadi motor penggerak gerakan menentang kebijakan pemerintah Arizona. Sebut saja Anti-Defamation League, AIPAC, Simon Wiesenthal Center, American Jewish Committee, Hebrew Immigrant Aid Society, National Council of Jewish Women, dan the Jewish Council for Public Affairs. Gideon Aronoff, pimpinan Hebrew Immigrant Aid Society, misalnya saja berkomentar keras: "Apakah kebanyakan orang-orang latin yang menderita karena undang-undang ini berdarah yahudi? Jawabnya tentu saja tidak. Kita semua orang Amerika dan kita harus bersikap baik kepada orang asing!"

Jika saja orang-orang yahudi adalah orang-orang yang baik kepada orang asing tentu saja mereka akan memberikan kewarganegaraan kepada orang-orang non-yahudi di Israel serta tidak memerangi negara-negara tetangganya. Tapi tentu saja itu tidak akan terjadi. Motif di balik penolakan terhadap undang-undang pembatasan imigran adalah agar Amerika berubah menjadi negara "pluralis" multietnis yang tidak memiliki identitas etnis apapun. Selain lemah dihadapan negara-negara beridentitas kuat seperti, katakanlah Cina, negara seperti ini memungkinkan orang-orang yahudi tidak teridentifikasi saat melakukan berbagai kejahatan ekonomi.

Dan seperti biasa, senjata utama orang-orang yahudi untuk menyerang lawan-lawannya adalah kata-kata mantra "anti-semit" atau "neo nazi". Noam Chomsky, yahudi yang oleh media massa yahudi diberi mantra sebagai "pejuang kemanusiaan" pun turut menyamakan undang-undang anti imigran Arizona dengan negara Jerman di masa lalu.

Dalam sebuah wawancara baru-baru ini Chomsky mengatakan,“di Jerman sebuah musuh diciptakan, yaitu yahudi. Di sini (Amerika) musuh itu adalah pendatang haram. Kita akan diindoktrinasi seolah-olah kaum kulit putih adalah minoritas yang tertindas. Ini gejala yang bisa mengarahkan kondisi yang lebih berbahaya dari Nazi Jerman."

Yah, bahkan Chomsky yang dianggap "nabi" itu ternyata seorang zionis. Sebagai contoh, ia menyerang Profesor Mearsheimer dan Walt karena bukunya "Israel Lobby" yang menuduh Israel di balik isu perang terorisme dan krisis timur tengah. Menurut Chomsky bukan Israel yang berada di balik isu terorisme dan perang Irak-Afghanistan, melainkan industri minyak, seolah-olah tidak mengetahui bahwa para raja minyak pun adalah para zionis yahudi.

Namun seolah teleh melihat masa depan yahudi yang suram dengan adanya kesadaran massa bahwa yahudilah yang berada di balik semua masalah di Amerika termasuk masalah pendatang ilegal. Chomsky memperingatkan bahaya munculnya gerakan massa yang lebih besar di Amerika. "If somebody comes along who is “charismatic and honest,” the US will be in “real trouble” because of the “justified anger White Americans are feeling,” katanya.

Warga kulit putih yang saat ini masih menjadi mayoritas patut merasa terancam. Di negeri yang didirikan oleh para leluhurnya itu kini jumlah mereka semakin hari semakin sedikit relatif dibanding etnis lain, terutama karena banyaknya imigran asing. Di kota-kota yang dulunya adalah kota kulit putih yang nyaman, kini telah berubah menjadi kota negara dunia ketiga. Contohnya New Orleans. Keadaan jauh lebih parah di negara-negara bagian yang berbatasan langsung dengan Mexico, negeri pengekspor terbesar imigran gelap ke Amerika. Kriminalitas telah sampai di tingkat yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Namun yahudi yang telah sampai pada tahap "nyaris" menguasai Amerika bulat-bulat dengan kondisi dimana orang-orang kulit putih berubah menjadi orang-orang liberal bodoh, gay, lesbi dan kriminalis, tidak ingin momentum berbelok arah. Mereka menyerang balik orang-orang kulit putih Arizona yang berusaha menghambat agenda besar mereka.



Serangan Hollywood


Segera setelah UU pembatasan imigran ilegal di Arizona disyahkan, para yahudi Hollywood pun bereaksi cepat. Mereka kini tengah memproduksi film kontroversial berjudul "Machete". Sebagai bentuk provokasi film ini berkisah tentang seorang imigran gelap Mexico yang menjadi "pahlawan" dengan membunuhi polisi dan pejabat kulit putih Arizona. Satu lagi, sang imigran bercinta dengan dua wanita kulit putih cantik sekaligus, salah satunya artis top Jessica Alba.

Dalam skenario awalnya kisah petualangan sang "pahlawan imigran gelap" tersebut terjadi di Texas, namun langsung diubah menjadi Arizona. Selain itu juga terjadi proses percepatan produksi demi mengejar momentum untuk "menyerang" UU pembatasan imigran Arizona. Untuk itu biaya produksi pun dipompa besar-besaran dari $5 juta menjadi $20 juta. Diperkirakan film ini telah diputar di teater-teater bulan September mendatang, namun potongan-potongannya telah beredar di internet, termasuk adegan pembantaian terhadap polisi kulit putih dan percintaan sang "Machete" dengan dua wanita kulit putih.

Film ini diproduseri oleh Quentin Tarantino (Pulp Fiction) dan dibintangi oleh, selain Jessica Alba, adalah dua aktor yahudi kesayangan Hollywood Robert de Niro dan Steven Seagal. Tokoh utama film ini adalah aktor keturunan Mexico Danny Trejo yang biasanya berperan sebagai tokoh antagonis. Adapun sutradara film ini adalah duo-hispanic Robert Rodriquez dan Ethan Miniquis. Rodriquez yang juga seorang penulis adalah seorang "pembenci kulit putih". Namun ironisnya ia justru menikahi wanita kulit putih yang berambut pirang dan bermata biru. Ia mengaku sengaja menyebarkan potongan film "Machete" sebagai protes atas UU anti imigran Arizona.

1 comment:

Cheese said...

Lagi-lagi. Obama mendukung seorang yahudi menjadi hakim agung. Islam juga kembali diserang dengan adanya akun facebook "everybody draw mohammed day".