Saturday, 7 January 2012

EKSPOR IRAN MELONJAK DI TENGAH SANKSI


Awalnya saya menyangka Iran adalah negara perpaduan antara Pakistan dan Saudi Wahabiah. Pakistan dipenuhi oleh orang-orang cerdas yang mampu membuat rudal dan satelit serta bom nuklir tapi ekonominya terpuruk karena para pemimpin yang korup. Saudi negara kaya minyak tapi rakyatnya bodoh-bodoh yang menghabiskan waktunya dengan berdoa dan berdiskusi tentang wudhu tanpa pernah selesai, yang para wanitanya, termasuk anak-anak, memakai cadar dan tidak pernah keluar rumah.

Iran adalah negara religius yang modern yang kemodernannya tidak kalah dengan negara-negara Eropa dan kereligiusannya tidak kalah dengan Saudi, bahkan lebih tinggi tingkatnya karena Iran dipimpin oleh ulama sementara Saudi dipimpin oleh raja. Para wanita Iran hanya mengenakan kerudung, mereka menjadi dokter, akademisi, sopir truk hingga politisi. Iran juga negeri yg sangat demokratis dengan presidennya yang dipilih langsung oleh rakyat secara periodik, namun pemegang kekuasaan tertinggi yang menjadi panglima tertinggi angkatan perang, pembuat konstitusi, dan yang mengangkat dan memberhentikan pejabat tertinggi eksekutif, yudikatif dan legislatif, tetap dipegang oleh dewan ulama.

Saya telah mengetahui para ilmuan Iran telah mampu membuat rudal, roket hingga satelit canggih dan kini tengah menggapai salah satu teknologi paling rumit di dunia yaitu nuklir. Namun yang membuat saya cukup terperanjat adalah Iran ternyata memiliki industri otomotif modern yang salah satu produsen mobilnya bahkan mampu memproduksi 700.000 unit mobil buatan lokal dalam setahun.

Dan meski Amerika dan sekutu-sekutu baratnya telah lama menerapkan sanksi ekonomi terhadap Iran, ekonomi Iran tetap tumbuh dengan mengesankan. Salah satu indikatornya adalah tumbuhnya ekspor Iran hingga 500% dalam waktu 8 tahun terakhir.

Sebagaimana termuat dalam laporan terbaru Badan Perdagangan dan Ekonomi Iran, ekspor Iran tumbuh 500% selama 8 tahun terakhir dengan negara tujuan ekspor mencapai 160 negara. Sementara untuk impornya dalam periode yang sama tumbuh 200%. Bahkan dalam periode 9 bulan terakhir (21 Maret - 21 Desember 2011) ekspor Iran telah tumbuh hingga 37,8% dibanding periode yang sama sebelumnya.

Iran yang memiliki cadangan minyak dan gas terbesar kedua di dunia, mengabaikan sanksi-sanksi yang diterapkan Amerika dan sekutu-sekutunya dan menganggapnya tidak "ngaruh", termasuk sanksi terakhir Amerika yang melarang perusahaan-perusahaan di seluruh dunia untuk tidak melakukan transaksi dengan perbankan Iran. Iran berjanji akan meningkatkan hubungan ekonominya nya dengan negara-negara Asia untuk menggantikan negara-negara barat. Sebaliknya banyak perusahaan barat yang tetap mempertahankan bisnisnya dengan Iran sembari mencari strategi untuk tidak mendapat sanksi Amerika dan barat.

Sanksi ekonomi Amerika dan sekutunya memang sama sekali tidak menkhawatirkan Iran. Saat perusahan-perusahaan barat mengurangi bisnisnya dengan Iran, kini perusahaan-perusahaan raksasa negara-negara "lapar energi" seperti Cina, India dan Rusia, kini telah siap menggantikan. Sementara Swiss, satu negara kaya Eropa, mengabaikan sama sekali sanksi Amerika dan Eropa terhadap Iran dengan menjalin kerjasama energi dengan Iran.

Baru-baru ini National Iranian Gas Export Company dan Elektrizitaetsgesellschaft Laufenburg dari Swiss menandatangani kerjasama 25 tahun untuk mengirimkan 5.5 miliar kubik meter gas per tahun ke Swiss. Dan kerjasama ekonomi senilai $147 juta baru saja ditandatangani oleh perusahaan migas Iran dengan perusahaan Jerman, Steiner Prematechnik Gastec, untuk membangun 3 pabrik pengolah gas di Iran.

Koran besar Amerika New York Times (NYT) pada Desember 2010 melaporkan bahwa selama dekade terakhir perusahaan-perusahaan Amerika telah melakukan kerjasama dengan Iran dengan nilai proyek/dagang miliaran dolar meski pemerintah Amerika menerapkan sanksi atas Iran sejak tahun 2000. Salah satu perusahaan tersebut, tulis NYT bahkan mendapat ijin membuat proyek pembangunan pipa gas meski sanksi yang diterapkan Iran lebih banyak ditujukan pada industri migas.

Para pejabat Iran telah berulangkali mengatakan bahwa sanksi ekonomi yang diterapkan terhadap Iran hanya merugikan negara-negara barat.



Sumber:
"Iran Registers Five-Time Growth in Exports despite Sanctions"; FARS News Agency – January 2, 2011