Friday, 18 January 2013

BENARKAH IRAN DAN ISRAEL MAIN MATA? (2)

Apa pendapat Anda tentang tokoh Teuku Umar? Dalam Perang Aceh yang berlangsung akhir abad 19 hingga awal abad 20 ketika para pejuang Aceh tengah mengalami tekanan berat, Teuku Umar membelot ke kubu penjajah Belanda. Namun kemudian ia kembali berjuang mengusir Belanda dengan senjata yang diberikan Belanda kepadanya sebagai hadiah pembelotannya.

Jika Anda bersikukuh Teuku Umar sebagai pengkhianat, jangan teruskan membaca tulisan ini karena Anda tidak memiliki kecerdasan minimal untuk melihat sesuatu dari berbagai perspektif untuk bisa mengambil kesimpulan dengan bijaksana. Anda tidak berbeda dengan para "mujahid palsu" yang telah banyak menimbulkan kerusakan dengan serangan-serangan teroris sebagaimana banyak terjadi di Syria atau Irak. Namun jika Anda menganggap Teuku Umar sebagai pejuang yang cerdas, silakan teruskan membaca tulisan ini.

Tanpa lelah para pembenci Shiah dan Iran terus berteriak-teriak tentang "konspirasi Iran dengan Israel". Menuduh permusuhan antara Iran dengan Israel sebagai permainan politik keduanya untuk mengelabuhi dan pada akhirnya menghancurkan umat Islam di seluruh dunia. Mereka mengajukan beberapa alasan yang sekilas tampak "masuk akal", namun seperti saya katakan di awal, hanya kebenaran palsu karena tidak dilihat dari berbagai perspektif.

Di antara klaim-klaim itu di antaranya adalah: (1) senjata-senjata Amerika yang berada di Irak justru banyak yang jatuh ke tangan Iran, (2) senjata-senjata Israel juga banyak yang jatuh ke tangan Iran, dan (3) skandal Iran-Contra.

Saya akan coba jelaskan semua tuduhan tersebut agar pembaca bisa melihatnya masalah itu dengan lebih bijak. Pertama tentang senjata-senjata Amerika di Irak yang jatuh ke tangan Iran. Tujuan utama Amerika menyerang Irak adalah menghancurkan salah satu ancaman potensial yang dihadapi Israel, yaitu regim Saddam Hussein. Setelah Saddam dijungkalkan, Amerika sebenarnya ingin mendapatkan pijakan kokoh berupa pangkalan militer di Irak sebagaimana selama ini mereka dapatkan di Arab Saudi, Turki dan negara-negara Arab lain. Namun pemerintahan yang berdiri di Irak (Nuri al Maliki) ternyata tidak menyetujui keinginan Amerika dan justru merapat ke Iran-Rusia. Sangat beralasan karena sebagai agresor yang banyak membantai rakyat Irak, Amerika sangat dibenci oleh sebagian besar rakyat Irak.

Sebagai negara tetangga yang sama-sama penduduknya mayoritas beragama Shiah, tentu Iran tentu saja memiliki pengaruh kuat di Irak. Bahkan selama perang Irak berlangsung, tidak bisa dibantah Iran telah banyak berperan menyuplai persenjataan dan personil militer kepada para pejuang Irak. Iran menjadikan Irak sebagai medan "perang asimetri" alias perang tidak langsung melawan Amerika-Israel sebagaimana di Lebanon atau Syria saat ini. Dan pengaruh Iran di Irak semakin kuat setelah Saddam Hussein tumbang. Bisa dikatakan "petualangan" Amerika di Irak adalah kegagalan yang sangat telak. Bermaksud memperkuat pengaruh, Amerika justru kehilangan pengaruh dan Iranlah yang justru semakin berpengaruh di Irak.

Selama proses politik dan sosial itu berlangsung tentu saja banyak terjadi perlintasan manusia, perbekalan, dan senjata lintas perbatasan Iran-Irak. Selain senjata Iran yang masuk ke Irak, juga senjata-senjata Irak yang masuk ke Iran. Sebagian besar senjata dari Irak itu tentu saja adalah senjata buatan Amerika. Jadi dalam hal ini tentu saja Amerika tidak pernah memberikan senjatanya ke Iran.

Yang kedua tentang senjata-senjata Israel yang masuk ke Iran melalui negara ketiga. Bagi yang mengerti watak orang-orang Israel tentu faham bahwa para pejabat Israel adalah orang-orang opportunis yang memanfaatkan "kebijakan" negara untuk kepentingan pribadi. Salah satu bisnis favorit para pejabat Israel adalah perdagangan senjata. Limpahan senjata kiriman Amerika (Israel sendiri selalu menganggap senjata buatannya lebih baik dari senjata Amerika) justru dijual ke padagang gelap senjata yang kebanyakan juga orang-orang yahudi, termasuk rudal-rudal Patriot yang dimaksudkan untuk melindungi Israel dari serangan rudal Iran dan Syria. Para pejabat Israel itu tentu saja tidak pernah peduli jika senjata-senjata itu kemudian jatuh ke tangan musuh-musuh mereka atau musuh sekutu dekatnya, Amerika. Di sisi lain, Iran yang tengah menghadapi ancaman perang, sangat haus dengan kebutuhan senjata canggih, tidak saja untuk digunakan berperang mempertahankan negara, juga demi mendapatkan teknologinya untuk dibuat tiruannya. Demi kepentingan yang lebih besar, Iran tentu juga tidak mau bertindak bodoh dengan membatasi asal senjata-senjata itu. Di sinilah hukum ekonomi terjadi saat penawaran Israel bertemu dengan permintaan Iran, di pasar gelap tentu saja dan melalui pihak ketiga.

Tidak ada yang salah dengan Iran. Iran hanya memanfaatkan ketamakan para pejabat Israel sebagaimana Teuku Umar memanfaatkan keluguan para pejabat Belanda di Aceh hingga menyangkanya telah benar-benar membelot dan kemudian menghadiahinya dengan uang dan senjata.

Selanjutnya tentang skandal Iran-Contra yang terjadi pada saat Amerika dipimpin oleh Presiden Reagan. Jika kita lihat dalam perspektif luas, skandal ini sebenarnya adalah bagian dari perang asimetris Iran melawan Amerika-Israel yang brutal dan berdarah-darah di Lebanon pada dekade 1980-an. (Iran tidak menganggapnya sebagai skandal, melainkan kemenangan besar. Amerika lah yang menganggapnya sebagai skandal karena dengan telak telah dikelabuhi Iran).

Pada tahun 1982 Israel menyerbu Lebanon demi mengusir para pejuang Palestina sekaligus menancapkan kekuasaannya atas negara tetangga itu. Tujuan pertama berhasil diraih Israel setelah para pejuang PLO berhasil diusir ke luar Lebanon, dan tujuan kedua telah nyaris didapatkan setelah Israel dan Lebanon yang dipimpin Presiden Gemayel menandatangani perjanjian damai yang secara de facto dan de jure melegalisir pendudukan Israel atas Lebanon. Selanjutnya untuk mengukuhkan kemenangan Israel itu Amerika dan Perancis mengirimkan tentara pendudukan yang disamarkan sebagai tentara perdamaian.

Para pejuang dan nasionalis Lebanon pun berontak. Dengan dibantu Syria dan Iran mereka membom Gemayel dan pangkalan militer Amerika dan Perancis. Akibatnya perjanjian damai Israel-Lebanon dibatalkan Lebanon dan tentara Amerika dan Perancis pun hengkang. Tidak hanya itu, serangan-serangan gerilya pejuang Lebanon (terutama Hizbollah) berhasil mengusir tentara pendudukan Israel dari seluruh Lebanon (terakhir Israel meninggalkan Lebanon Selatan tahun 2000).

Selama perang di Lebanon itu Iran telah memberikan pengorbanan sangat besar. Meski negeri sendiri tengah dilanda perang hebat akibat invasi Irak, Iran tetap mengirimkan senjata dan personil militernya untuk membantu pejuang Lebanon. Bahkan bisa dikatakan, faktor Iran-lah yang telah menjadi kredit terpenting kemenangan pejuang Lebanon atas plot Israel-Amerika-Perancis.

Salah satu bagian dari Perang Lebanon adalah aksi-aksi penculikan yang dilakukan para pejuang pro-Iran  terhadap warga Amerika di Lebanon yang dianggap sebagai agen rahasia ataupun kolaborator Amerika. Di bawah tekanan politik untuk membabaskan para tawanan, Amerika terpaksa mendekati Iran untuk meminta tolong. Iran yang sangat membutuhkan senjata untuk mengusir Irak tentu saja memanfaatkan peluang itu dengan menetapkan syarat pemberian senjata sebagai imbalan pembebasan sandera.

Kesepakatan terjadi, Amerika pun menggelontorkan senjata untuk Iran via pihak ketiga (gerilyawan Contra). Namun Iran mempermainkan Amerika seperti boneka. Meski ribuan rudal dan senjata telah digelontorkan, Iran mengulur-ulur pembebasan sandera. Iran bahkan membocorkan kesepakatan rahasia itu ke publik setelah tujuannya mendapatkan senjata tercapai. Akibatnya skandal terbongkar, pemerintah Amerika mendapatkan aib, namun Iran berhasil mendapat senjata yang akhirnya berhasil digunakan untuk mengusir Irak tahun 1988.

Sebagimana Iran mengalahkan Amerika di Irak, Iran juga berhasil mengalahkan Amerika di Lebanon. Dan kini perang asimetri Amerika-Israel melawan Iran kembali berlangsung di Syria. Apakah Iran kembali bakal muncul sebagai pemenang? Kita tunggu saja. Namun saya tetap percaya Iran bakal kembali memenangkan perang sebagaimana saya percaya dengan hadits Rosulullah yang mengatakan:

"Jika kebenaran digantungkan di gugusan bintang, maka sekelompok orang dari bangsa Parsi akan meraihnya." (HR Bukhori tentang keutamaan bangsa Parsi).

5 comments:

ARIF TAWANG said...

tolong anda tuliskan referensi tentang hadits riwayat bukhari di atas! Hadits keberapa soalnya sy blum pernah membaca hadits tersebut dan sy punya bukunya? Jangn sampai anda berdusta dgn membawa nama imam Bukhari tolong di cross cek ulang (jangan pernah bermain-main dengan membawa nama Al Qur'an dan Al- Hadits dengan sebuah kebohongan)

cahyono adi said...

silakan cek sendiri di kitab "Shahih" bab Keutamaan bangsa Parsia.

Deny Dewan said...

Punya buku tapi tak pernah di baca gimana mau tau..ha.ha.ha..yg hatinya(tekad) bak kepingan2 besi/baja..yg mampu memindahkan gunung klu mereka mau...

abu bakar said...

bagaimana dapat menentang mereka yang lebih dahulu bertamadun ,,perbicaraan hari ini tidak sunyi tentang penduduk qum shj

Gogik Fernidianto said...

apapun hadistnya yang penting artikelnya josss...mantab ..