Thursday, 20 September 2012

RUSIA BANTAI ISRAEL

"Wow, dari Swiss saya ucapkan selamat. 4-0 adalah skor yang hebat. Saya sangat senang bahwa Israel kalah. Namun mengapa Israel berada dalam group Eropa adalah pertanyaan yang harus dijawab. Mungkin karena tidak ada orang yang menyukai Israel di Asia. Saya harap mereka akan masuk kotak dan kita tidak melihat mereka di Brazil nanti. Majulah Rusia!"

Demikian komentar seorang pengunjung situs berita Press TV tentang berita kekalahan tim sepakbola kualifikasi Piala Dunia Israel atas Rusia yang ditulis di situs kantor berita Iran itu tgl 12 September lalu. Dan sebagaimana orang Swiss itu, saya pun sangat gembira mendengar kabar tersebut segembira kala melihat petinju Miguel Cotto "mambantai" petinju Israel beberapa waktu lalu. Itulah sebabnya saya posting-kan berita yang mungkin tidak begitu menarik sebagaimana berita tewasnya Dubes Amerika di Libya akibat aksi demo menentang film anti-Islam yang dibuat "cecunguk-cecunguk" zionis Amerika.

Wednesday, 19 September 2012

TV ONE DAN PROPAGANDA ZIONIS ATAS KRISIS SYRIA

Beberapa hari yang lalu, Minggu 16 September 2012 pukul 16.00, saya menyaksikan sebuah program siaran di TVOne tentang konflik Syria. Awalnya saya berharap bahwa sebagai televisi Indonesia yang berada jauh dari daerah konflik, negara mayoritas Islam yang politik luar negerinya menentang zionisme, sekaligus negara pendiri gerakan Non-Blok, TVOne akan melakukan liputan yang jujur dan berimbang. Namun saya sangat kecewa karena TVOne jauh menyimpang dari harapan-harapan tersebut. Propaganda anti-Syria juga pernah dilakukan TVOne beberapa waktu lalu melalui acara "Damai Indonesiaku" ketika seorang ustadz wahabi yang mengisi acara tersebut dengan berapi-api membakar sentimen anti-Shiah terkait krisis yang terjadi di Syria.

Penyimpangan pertama adalah TVOne tidak melakukan liputan langsung di daerah konflik sehingga bisa menyajikan laporan jurnalisme yang jujur. Alih-alih TVOne hanya mengandalkan laporan pihak ketiga melalui wawancara yang dilakukan di wilayah Turki. Lebih parahnya lagi adalah pihak ketiga yang dijadikan sumber informasi hanya berasal dari 1 kelompok yang terlibat pertikaian, yaitu kelompok oposisi, khususnya anggota tentara pemberontak Free Syrian Army (FSA).

Satu-satunya hal yang agak menghibur saya, namun tidak sebanding dengan kekecewaan saya terhadap seluruh isu siaran tersebut, adalah pernyataan seorang ibu rumah tangga warga negara yang tinggal di Turki yang suaminya bekerja di Syria sebagai TKI. Sang ibu yang sederhana itu lebih cerdas dibanding seluruh jajaran redaksi TV ONe dalam melihat konflik Syria. Dengan jujur ia mengatakan bahwa konflik di Syria disebabkan oleh campur tangan Amerika.

Saturday, 15 September 2012

SENJATA MAKAN TUAN UNTUK SANG DUBES

Senjata makan tuan, mungkin adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan kematian tragis dubes Amerika untuk Libya, Chris Stevens, dalam kerusuhan anti-Amerika di Benghazi, 11 September lalu. Chris adalah salah seorang yang bertanggungjawab atas terjadinya revolusi di Libya yang akhirnya menewaskannya.

Chris Stevens tewas dalam aksi kerusuhan memprotes film anti-Islam yang dibuat oleh para zionis Amerika di kantor konsulat Amerika di Benghazi. Aksi protes berubah menjadi kekerasan bersenjata ketika para demonstran menembakkan senjata api dan roket ke kantor konsulat, kemudian membakarnya. Chris tewas bersama 3 staff konsulat Amerika, 5 orang lainnya menderita luka-luka serius. Ia tewas hanya 4 bulan setelah menduduki jabatan duta besar.

Stevens adalah pejabat yang menjadi "utusan" Amerika bagi para pemberontak Libya sejak kerusuhan meletus di Libya Februari tahun lalu, dimana Amerika dan NATO membantu pemberontak menumbangkan regim Khadaffi yang telah berkuasa 40 tahun lebih. Pemberontak bahkan kemudian menembak mati Khadaffi yang tertangkap, di tengah-tengah keramaian di siang hari bolong tanpa pengadilan. Namun para pemberontak pula-lah yang diduga kuat terlibat dalam aksi penyerangan yang mengakibatkan tewasnya Stevens.

"Saya terkesan melihat rakyat Libya bangkit untuk menyuarakan tuntutan hak-haknya," kata Stevens dalam video perkenalan yang dirilis oleh deplu Amerika setelah ia dilantik menjadi dubes untuk Libya pada Mei 2012 lalu.

PLOT ZIONIS ANTI-ISLAM DAN "INNOCENCE OF MUSLIMS"

Bulan September ini kita menyaksikan sebuah upaya global sistematis mendeskreditkan Islam. Selain film "Innocence of Muslims" yang dirilis di Amerika, di Inggris muncul film dokumenter "Islam: The Untold Story" yang juga banyak mendeskreditkan Islam. Meski yang pertama-lah yang banyak menarik perhatian dan menimbulkan aksi-aksi protes di seluruh negara Islam, film "Islam: The Untold Story" yang ditayangkan di televisi "Channel 4" perlu mendapat perhatian lebih serius. Jika "Innocence of MuslIms" adalah film fiksi yang "sembrono" dan dibuat oleh para amatir dan pelaku pornografi, "The Untold Story" lebih serius karena dibuat dalam format film dokumenter, meski tetap saja jauh dari standar ilmiah.

Sutradara "The Untold Story", Tom Holland, misalnya, mengklaim bahwa tidak ada sumber-sumber tertulis yang otentik tentang sejarah Nabi Muhammad dan awal Islam. Hal ini membuktikan pengetahuan Holland yang sangat dangkal tentang sejarah Islam. Tidak ada sumber-sumber sejarah tentang seorang manusia yang lebih lengkap dan mendetil sebagaimana Nabi Muhammad, dan tidak ada sumber-sumber sejarah sebuah kebudayaan yang lebih lengkap dan mendetil selain Islam.

Sejarah Nabi telah ditulis dan dibukukan orang antara abad pertama dan kedua Hijriah. Demikian juga catatan tentang tindakan-tindakan dan ucapan beliau yang dikenal sebagai hadits. Dan kitab-kitab itu masih menjadi referensi hingga sekarang. Tanpa bermaksud melebih-lebihnya, semuanya itu bisa dikatakan sebagai sebuah keajaiban yang diberikan Tuhan untuk mensucikan Islam dari segala fitnah, mengingat bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang terbelakang dalam budaya tulis menulis. Dari ini saja klaim Tom Holland dan orang-orang sejenisnya, terbantahkan dengan telak.

Friday, 14 September 2012

PROPAGANDA BARAT LAIN: "MENYERANG" EKONOMI IRAN

Gambar: Subway di Iran. Iran adalah satu-satunya negara Islam yang memiliki sistem transportasi modern seperti ini.



Tampak nyata sebagai propaganda untuk menghancurkan kredibilitas Iran yang berhasil meraih kemenangan politik dengan keberhasilannya menyenggarakan berbagai acara internasional termasuk KTT Non-Blok,
serta pertumbuhan ekonomi Iran yang mantap meski menghadapi berbagai sanksi barat dengan indikator ekspor dan produksi baja yang terus meningkat, media-media massa barat akhir-akhir ini ramai-ramai menuliskan berita miring seputar perekonomian Iran.

Baru-baru ini dua media besar barat, Financial Times dan Washington Post (beritanya juga dijiplak mentah-mentah oleh sebuah televisi berita nasional) membuat laporan pers yang lebih mirip sebagai karya fiksi.

Berjudul "In Iran, Isfahanis shrug off risk of attack", laporan itu berupaya menggambarkan keadaan ekonomi rakyat Iran yang dipenuhi penderitaan dari hari ke hari akibat pemerintahan Presiden Ahmadinejad yang gagal serta sanksi ekonomi yang diterapkan barat, 2 sasaran dalam satu tembakan.

Wednesday, 12 September 2012

ERDOGAN JERUMUSKAN TURKI KE JURANG

Apa yang terjadi di Pakistan saat ini tidak pernah dibayangkan oleh para pemimpin negeri itu kala memutuskan untuk melibatkan diri dalam "petualangan Amerika" di Afghanistan dengan membentuk kelompok-kelompok milisi "mujahidin" anti Uni Sovyet. Kelompok-kelompok milisi itu kemudian berevolusi menjadi Al Qaida, Taliban dan gerombolan teroris lainnya mengobok-obok Pakistan, dan bersama Amerika menjadikan Pakistan negeri medan perang yang penuh dengan kubangan darah dan tumpukan mayat, hingga tak sempat lagi rakyat Pakistan merasakan pembangunan, perdamaian dan kemakmuran.

Hal yang sama persis bakal dialami Turki, negara Islam satu-satunya yang menjadi anggota Uni Eropa dan saat ini tengah mengalami kedamaian dan kemakmuran, jika tidak menghentikan aksinya melibatkan diri dalam petualangan Amerika dan zionis internasional di Syria.

Bertolak belakang dengan gambaran di media-media massa, oposisi Syria telah menjelma menjadi gerombolan bandit teroris yang membantai rakyat Syria tanpa pandang bulu dan belas kasihan. Demikian kotornya gerakan oposisi itu hingga salah seorang tokoh pendiri Syrian National Council (organisasi payung yang membawahi semua kelompok oposisi Syria), Bassma Qodmani, mengundurkan diri sebagai eksekutif organisasi ini. Sebagaimana Pakistan mendukung kelompok-kelompok milisi Afghanistan, demikian juga sekarang Turki mendukung kelompok-kelompok oposisi Syria dan menebarkan peperangan di negeri tetangganya itu, dan karenanya Turki harus kehilangan masa depannya yang cemerlang.

Adalah Recep Erdogan, perdana menteri dari Partai Keadilan (se-mazhab dengan PKS di Indonesia dan Ikhwanul Muslimin di negara-negara Arab) yang telah menjerumuskan masa depan Turki. Dua tahun lalu ketika Isreal menyerang kapal Turki Mavi Marmara di perairan internasional dan menewaskan 9 warga Turki, Erdogan diam membisu. Ia baru berteriak lantang setelah setahun lebih gagal menuntut Israel untuk sekedar meminta ma'af. Ia pun bersumpah akan memimpin langsung konvoi laut kapal-kapal bantuan kemanusiaan ke Gaza. Namun setelah Israel berjanji akan menenggelamkan kapal beserta Erdogan di dalamnya, ia beringsut pergi dan tidak pernah lagi menyinggung-nyinggung sumpahnya itu.

AMERIKA-ISRAEL DI PERSIMPANGAN JALAN KE IRAN

Meski sering terjadi perbedaan antara Amerika dan Iran seputar isu tentang Iran, namun belum pernah perbedaan itu begitu menarik perhatian seperti akhir-akhir ini. Santer terdengar berita bahwa Presiden Amerika secara diam-diam telah mengadakan kesepakatan dengan Iran tentang isu nuklir Iran. Kemudian terdengar kabar bahwa PM Israel yang stress dengan keengganan Amerika menyerang Iran, marah-marah pada dubes Amerika di Israel. Menlu Amerika Hillary Clinton pun dengan tegas menepik tuntutan Israel agar Amerika memberikan "batasan" yang jelas tentang keputusan untuk menyerang Iran. Disusul kemudian oleh jubir kemenlu Amerika Victoria Nuland dalam pernyataan resminya hari Senin (10/9) yang mengatakan bahwa pemberian "pembatasan" atas isu nuklir Iran adalah "tidak berguna". Dan terakhir, meski kemudian dibantah, adalah penolakan Obama atas kunjungan PM Israel Benjamin Netanyahu ke Gedung Putih.

Namun tidak ada hal yang lebih mengejutkan, terutama bagi Israel, kecuali pernyataan kepala staff gabungan Amerika Jendral Martin Dempsey bahwa ia tidak ingin Amerika terlibat masalah yang diakibatkan oleh serangan militer Israel atas Iran.

Presiden dan para politisi Amerika boleh saja "pasrah bongkok-an" kepada Israel dan orang-orang zionis di Amerika. Namun tidak bagi para jendralnya. Kita mungkin masih ingat pernyataan Jendral Muellen, komandan pasukan Amerika di Timur Tengah dan Asia Tengah, tahun 2008 lalu. Tentang isu rencana serangan Amerika atas Iran ia mengatakan dengan tegas: "Tidak selama saya masih menjadi komandan di sini!". Dan kemudian muncul Jendral Dempsey.

ULAMA BESAR TURKI KECAM ULAMA BESAR WAHABI SAUDI

Seolah tidak pernah berhenti para ulama salafi-wahabi mengeluarkan fatwa-fatwa kontroversial. Sebagaimana fatwa tentang penghancuran gereja-gereja oleh ulama terkemuka salafi-wahabi Saudi Sheikh Abdulaziz Al al-Shaikh baru-baru ini yang mengakibatkannya mendapat kecaman pedas dari ulama-ulama dari negara Islam lain.

Ulama besar Turki Sheikh Mehmet Görmez misalnya, menyebut fatwa tersebut bertentangan dengan ajaran Islam yang menghargai kesucian institusi-institusi milik agama-agama lain. Ia menekankan bahwa salah satu prinsip agama Islam adalah menghargai kebebebasan beragama umat lain.

"Pendapat yang dikemukakan mufti (Abdulaziz ) juga sangat jelas bertentangan dengan kesepakatan yang ditandatangani antara Nabi Muhammad dengan komunitas-komunitas non-muslim baik di Madina maupun di tempat lain di kawasan ini. Itu juga bertentangan secara jelas dengan hak-hak kekebalan yang diberikan oleh Islam kepada tempat-tempat suci agama lain sepanjang sejarah Islam," tambah Sheikh Gormez.

Sheikh Abdulaziz membuat pernyataan konteroversial itu dalam pertemuannya dengan delegasi "Society of the Revival of Islamic Heritage" dari Kuwait, beberapa waktu lalu. Saat itu anggota delegasi menanyakan hukum pembagunan gereja di negara-negara muslim. Sheikh salafi-wahabi itu menjawab bahwa pembangunan gereja di negara muslim harus dilarang, dan gereja-gereja yang sudah ada harus dihancurkan.

"Kami percaya bahwa pernyataan itu menjadi bayangan hitam bagi konsep tentang hak-hak dan kebebasan dalam Islam berdasarkan Al Qur'an dan Hadits dan pernyataan itu tidak akan pernah dicatat sebagai hukum Islam," tambah Gormez. Gormez berharap Abdulaziz segera membatalkan fatwa yang telah dikeluarkannya itu.

Tuesday, 11 September 2012

Al Qaida dan Tragedi WTC, Konspirasi Paling Kotor (Reposted)


Keterangan gambar: Pemimpin Al Qaida dengan latar belakang kain bergambar simbol Israel.


Sampai lima tahun yang lalu, saya masih seorang "liberal idiot", yang percaya dengan cerita tentang teroris Al Qaida yang menghancurkan menara kembar WTC di New York tahun 2001, yang masih suka ikut demo sambil membawa bunga, suka melakukan "malam renungan" dengan lilin menyala di tangan, serta menyukai acara "Oprah Wimfrey Show" dan "Penganugerahan Oscar" (bila dilanjutkan mungkin saja saya juga menjadi pendukung Barack Obama serta pengagum Sri Mulyani). Saat itu saya, sarjana dari kampus elit di Indonesia, sudah melewati periode hidup sebagai wartawan senior di dua media massa berbeda dan telah menghadapi kehidupan rumah tangga dengan satu orang anak. Saat terjadinya Tragedi WTC, saya baru selesai membaca buku "By Way of Deception" karya Victor Ostrovsky, buku terbaik tentang Mossad dan tipu dayanya. Pun demikian, saya masih percaya semua omongan George W Bush tentang Al Qaida dan peranannya dalam Tragedi WTC.

Saya baru mulai terdorong untuk berfikir lebih kritis tentang Tragedi WTC, setelah seorang teman yang adalah seorang wartawan senior, dalam sebuah percakapan di Masjid Agung, Medan, nyeletuk tentang tragedi WTC: "Bohong semua itu. Itu hanya alasan untuk menguasai sumber minyak di Kaukasus."

Bagaikan sumbatan di dalam pipa yang dilepaskan sehingga mendorong seluruh air di dalam pipa mengalir, demikian pula celetukan teman itu mendorong pikiran saya untuk berfikir secara simultan. Pikiran pertama saya adalah: mengapa sistem pertahanan udara yang sangat canggih sama sekali tidak bereaksi atas serangan udara yang dilancarkan teroris? Saya ingat betul bagaimana Uni Sovyet tahun 1960-an, dengan sistem pertahanan udaranya yang masih jauh lebih sederhana dibandingkan Amerika tahun 2000-an, mampu menembak jatuh pesawat mata-mata U2 Amerika yang terbang jauh lebih tinggi dan lebih cepat dibandingkan pesawat-pesawat jet komersial yang menabrak Gedung WTC.

Kemudian saya berfikir, bukankan Osama bin Laden adalah agen CIA yang sangat boleh jadi masih tetap menjadi agen rahasia CIA, dan dalam tragedi WTC menjalankan peran sebagai tersangka pelaku demi menjustifikasi kebohongan tragedi WTC dan kebijakan "War on Terror" Amerika?

Lalu pikiran saya mengalir terus dan satu per satu menemukan berbagai alasan untuk mempercayai bahwa tragedi WTC adalah pekerjaan dinas intelegen Amerika sendiri, salah satunya adalah fakta bahwa menara kembar WTC jatuh seperti gedung yang roboh karena "pemboman terukur" yang menjadi teknik standar untuk meruntuhkan gedung pencakar langit tanpa merusak gedung-gedung di sekitarnya. Jika pun ada sebuah gedung pencakar langit yang roboh karena kebakaran, dan faktanya tidak pernah terjadi hal demikian, mestinya robohnya gedung itu ke samping karena tidak mungkin besi-besi penopang gedung mencapai titik muai secara bersamaan.

Sunday, 9 September 2012

ANTISEMITISME LANDA HONGARIA, KOMPENSASI KORBAN HOLOCOUST DIHENTIKAN

Bertahun-tahun para zionis internasional mengeruk milaran dolar dari pemerintah-pemerintah dan dunia bisnis Eropa dengan cara "memeras" mereka dengan alasan kompensasi bagi para korban "holocoust". (Lebih lengkapnya tentang ini baca buku "Holocoust Industry" karangan Profesor Walt dari Amerika. Proyek pemerasan nan canggih ini dipimpin oleh Edgar Bronfman, salah seorang paling kaya dan berpengaruh di Amerika Utara yang pernah menjadi patronnya "boss of the boss" mafia Amerika seperti Meyer Lansky dan Bugsy Siegel. Selanjutnya kedua gembong mafia berdarah yahudi yang mendirikan kota judi Las Vegas ini menjadi boss-nya para "mafioso" berdarah Italia termasuk Al Capone. Fakta bahwa keluarga Bronfman tidak tersentuh hukum sementara Al Capone harus mendekam dalam penjara Alcatraz membuktikan hal itu. Silakan baca "The New Jerussalem" karya Michael Collin Piper)

Namun kebusukan tidak bisa disembunyikan selamanya. Pemerintah Hongaria, yang selama bertahun-tahun terpaksa harus membayar kompensasi untuk korban "holocoust" jutaan dolar akhirnya menghentikan pemberian kompensasi dan menuntut "Claims Conference", LSM "temuan" lain para zionis yang ditugaskan mengelola dana kompensasi untuk mengembalikan $8 juta yang telah dibayarkan. Alasan tuntutan tersebut adalah karena "Claims Conference" dianggap telah mengkorupsi dana tersebut dengan cara-cara yang disebutnya sebagai "deceitful tactics", “depriving”, dan “disgraceful”. "Claims Conference" yang berbasis di New York adalah LSM yang didirikan oleh orang-orang yahudi internasional untuk menyalurkan dana-dana kompensasi korban holocoust haril pemerasan terhadap pemerintah-pemerintah dan dunia usaha di Eropa. Korban pemerasan terbesar tentu saja pemerintah Jerman, disusul kemudian oleh para bankir Swiss.

Menurut data sekitar 500.000 warga yahudi Hongaria menjadi korban "holocoust" alias penindasan terhadap orang-orang yahudi selama Perang Dunia II. Lima tahun lalu pemerintah Hongaria setuju untuk memberi dana kompenasasi senilai $21 juta kepada para korban "holocoust" dan ahli warisnya. Dana tersebut disalurkan selama 5 tahun.