Sunday, 7 July 2013

SYEKH QARDHAWI AGEN MOSSAD?

Ulama Sunni paling terkemuka asal Mesir yang kini tinggal di Qatar, Syekh Yusuf Qardhawi ternyata fasih berbahasa Ibrani (bahasa orang-orang yahudi) dan menjalin hubungan rahasia dengan dinas inteligen Israel Mossad.

Demikian pernyataan Asma Ben Kada, seorang anggota parlemen wanita Aljazair yang juga mantan istri dari Syekh Qardhawi sebagaimana ditulis situs berita online Tunisia, www.tuniscope.com, baru-baru ini.

Menurut Asma, Qardhawi yang kini menjabat sebagai presiden Uni Ulama Muslim Internasional itu pernah berkunjung ke Israel tahun 2010 dan sampai sekarang tetap mengadakan hubungan dengan Mossad. Kedekatannya dengan Israel itulah yang menyebabkan penguasa Qatar Hamad bin Khalifa Al Thani, yang kini telah digantikan putranya, untuk merekrutnya sebagai sekutu. Posisi Qardhawi yang dianggap penting membuat proyek-proyek zionisme di Timur Tengah lebih mudah dijalankan dengan melibatkannya.

Qatar adalah satu dari sedikit negara Islam yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel selain Turki, Mesir dll. Ketiga negara kini aktif dalam proyek zionisme di Syria untuk menggulingkan Presiden Bashar al Assad yang anti-Israel, setelah sebelumnya mereka sukses menggulingkan penguasa Libya Moammar Khadaffi.

Saturday, 6 July 2013

PERMAINAN SELESAI, MOERSI

Tidak seperti biasanya Gordon Duff, seorang kolumnis yang cukup terkenal untuk beberapa media "independen" dan media "alternatif" internasional termasuk Press TV Iran, menulis tentang "teori konspirasi". Biasanya tulisan-tulisannya penuh dengan analisa politik berdasarkan data-data inteligen akurat.

Namun ketika menulis tentang kudeta militer atas Presiden Mesir Mohammad Moersi berjudul "“Game Over” for Morsi, Israel", ia tidak bisa menghindarkan diri untuk menyinggung tentang keterlibatan Moersi dalam skenario para "penyembah setan internasional" dan “para penguasa dunia”.

"Permainan besar yang ingin dimainkan Moersi adalah menjual Mesir kepada "para penguasa dunia" yang merupakan koalisi dari semangat Ottomanisme Turki yang hanya ada di otak Erdogan yang sakit serta impian Nethanyahu untuk membuktikan kepada dunia bahwa tabiat buruk tidak memiliki batasan, namun kita baru saja mulai.

Hal itu mencakup hal-hal yang sangat luas, sangat dalam dan berlapis-lapis, sebuah rencana besar yang tampak nyata ditujukan untuk menghabisi semua tata nilai kemanusiaan, menggantikannya dengan relativisme baru, segala bentuk barang haram yang diperjual-belikan oleh orang-orang jahat.

Kejahatannya, menjual “perang peradaban” sebagai bentuk “pengalihan dan tipuan” untuk menutup-nutupi kebenaran, mengalihkan perhatian para pencari kebenaran atas realitas sederhana tentang keberadaan kelompok-kelompok rahasia, sebagian telah berumur ratusan tahun, orang-orang yang melayani pimpinan yang tidak terlihat yang lebih tepat disebut sebagai "pengikut setan", yang percaya bahwa mereka telah dipilih untuk mengatur seluruh umat manusia."


Lebih jauh, Gordun Duff menambahkan bahwa orang-orang yang ingin tergabung dalam keanggotaan "kelompok-kelompok rahasia pengikut setan" ini tidak terbatas. Demikian banyak sehingga keberadaan mereka tidak lagi bisa disebut sebagai rahasia.

"Terdengar seperti tidak masuk akal, namun tidak ada manusia rasional yang tidak akan mempercayai, ketika kita semua tenggelam oleh bukti-bukti yang melimpah. Hanya orang-orang bodoh yang tidak bisa melihatnya. Menyebut mereka sebagai predator adalah terlalu umum. Para "elit" itu lebih mirip sebagai bakteri sipilis, dan Moersi ingin tergabung dalam kelompok itu. Jujur saja, saya tidak percaya ia berhasil melakukannya."
Namun benarkah Abdullah Moersi memang termasuk dalam kelompok orang-orang yang rela "menjilat pantat" untuk bisa bergabung dalam kelompok elit?

RUSIA TAWARKAN RUDAL PENGGANTI S-300 UNTUK IRAN

Rusia dikabarkan telah menawarkan beberapa rudal pengganti rudal S-300 yang gagal dibeli Iran akibat sanksi PBB. Rudal-rudal yang ditawarkan tersebut di adalah rudal TOR dan Antei-2500. Namun Iran tetap bersikukuh untuk mendapatkan S-300.

Sebelumnya sempat beredar rumor bahwa Iran dan Rusia telah mencapai kesepakatan untuk mengganti rudal S-300 dengan TOR. Namun dengan cepat kabar tersebut ditepis oleh para pejabat Iran.

"Laporan-laporan yang beredar tentang penggantian rudal S-300 dengan TOR kami bantah dengan tegas," kata Komandan Pangkalan Udara Khatam ol-Anbia Brigadir Jendral Farzad Esmayeeli kepada media Iran, Rabu (3/7).

Dalam pernyataan yang terkait bulan ini dubes Iran untuk Rusia Mohammad Reza Sajjadi, juga menegaskan bahwa Iran menolak tawaran rudal pengganti oleh Rusia. Menurut Sajjadi kepada media Rusia RIA Novosti Iran telah menolak usulan yang diajukan Rusia untuk mengganti rudal S-300 yang berdasarkan kontrak pembelian yang ditandatangani kedua negara harus sudah diserahkan tahun lalu. Rudal pengganti yang dimaksud adalah TOR.

Menurut Mohammad Reza Sajjadi sistem pertahanan udara Tor tidak bisa menggantikan fungsi S-300 dalam sistem pertahanan Iran.

Sementara itu Presiden Iran Ahmadinejad, di tengah kunjungannya ke Rusia pada hari Senin (1/7) mengungkapkan harapannya bahwa masalah pengiriman rudal S-300 akan segera bisa diselesaikan.

“Kolega-kolega kami tengah mengadakan negosiasi dalam masalah ini dan saya berharap masalah ini akan segera terselesaikan dengan baik," kata Ahmadinejad di hadapan para pejabat Rusia di Moskow.

“Saya melihat masa depan yang sangat baik bagi kerjasama antara Iran dan Russia dan tidak ada satu peristiwa pun yang bisa mencegah peningkatan kerjasama ini," tambah Ahmadinejad.

Pada tahun 2007 Iran dan Rusia menandatangani kontrak pembelian sistem persenjataan S-300 yang oleh para analis militer dianggap sebagai salah satu sistem pertahanan udara terbaik. Nilai kontrak adalah $800 juta untuk pembelian 5 unit persenjataan S-300 dengan tenggat pengiriman tahun 2012. Namun kesepakatan tersebut dibatalkan secara sepihak oleh Presiden Rusia (kala itu) Dmitry Medvedev, akibat tekanan Amerika melalui PBB dengan dalih senjata tersebut termasuk jenis yang dilarang untuk dijual kepada Iran berdasarkan sanksi PBB terhadap Iran terkait program nuklirnya.

PENGADILAN TURKI BATALKAN "PROYEK ERDOGAN"

Ini adalah berita kekalahan politik yang sangat telak bagi PM Turki Tayyep Erdogan, namun mungkin juga dengan ini ia bisa bertahan hingga tahun depan.

Pengadilan Turki akhirnya memerintahkan penghentian megaproyek penataan Lapangan Taksim, Istanbul, proyek yang dianggap menguntungkan kroni-kroni Erdogan, yang menjadi pemicu aksi-aksi kerusuhan dan menimbulkan ketidakstabilan politik di Turki akhir-akhir ini.

Penyelesaian masalah pembangunan Lapangan Taksim di tangan pengadilan terjadi setelah Erdogan, demi menghentikan kemarahan publik terhadap pemerintahannya, memutuskan menyerahkan legalitas proyek tersebut ke pengadilan. Keputusan pengadilan tersebut tidak bisa dipungkiri menjadi pukulan politik yang sangat telak bagi regim Erdogan. Namun Erdogan bisa menjadi "jalan keluar" yang aman baginya dari tekanan politik publik.

Sejak tgl 31 Mei lalu Turki diguncang oleh berbagai aksi demonstrasi menentang kekuasaan Erdogan. Aksi-aksi tersebut dipicu oleh tindakan keras polisi kepada para pengunjuk rasa damai di Taman Gezi, yang merupakan bagian dari kawasan Lapangan Taksim, yang menentang pembongkaran Taman Gezi untuk diganti menjadi pusat perbelanjaan mewah. Padahal Taman Gezi merupakan kawasan hijau satu-satunya yang masih ada di Istanbul dan selama ini menjadi tempat berkumpul publik dan tempat kunjungan wisata yang terkenal. Proyek pembangunan tersebut melibatkan kroni-kroni dekat Erdogan termasuk menantunya dan walikota Istanbul yang merupakan tokoh pendukung Partai AKP, partai yang dipimpin oleh Erdogan.

Aksi kekerasan polisi terhadap pengunjuk rasa damai itu kontan memicu terjadinya aksi-aksi demonstrasi yang lebih besar di seluruh Turki yang menghancurkan reputasi kekuasaan Erdogan dalam sekejap. Seluruh negara barat, para politisi dan media massanya yang selama ini menjadi sekutu dekat Erdogan, tiba-tiba saja beramai-ramai mengecam Erdogan. Sementara hubungan Erdogan dengan sekutu-sekutu dekatnya sendiri di AKP seperti Presiden Abdullah Gul serta tokoh gerakan Fethullah Gulen, termasuk dengan media massa Zaman, kini menjadi dingin.

Thursday, 4 July 2013

MOERSI PUN "MENYALIP" ERDOGAN

Saya sebenarnya tengah menulis artikel tentang Mesir dengan judul "MESIR MEMBARA, MILITER ANCAM MOERSI" sebagai perhatian saya terhadap apa yang tengah terjadi di salah satu negara Islam paling berpengaruh itu. Namun perkembangan ternyata begitu cepat. Setelah memberi ultimatum selama 2 hari kepada Presiden Moersi, menyusul krisis kepercayaan publik terhadap Moersi yang memicu berbagai aksi kerusuhan berdarah, militer Mesir tidak membuang waktu dan langsung melakukan tindakan nyata: mengkudeta Moersi pada Rabu malam (5/7) dan menyerahkan kekuasaan kepresidenan untuk sementara kepada Ketua Mahkamah Agung untuk memimpin pemerintahan sementara hingga penyelenggaraan pemilu mendatang.

Tidak pada tempatnya lagi untuk mempertanyakan keabsahan tindakan militer Mesir tersebut. "Demokrasi" hanya alat yang diciptkaan manusia untuk memberikan kebaikan bagi semua orang. Ketika "demokrasi" hanya menimbulkan kerusakan, maka untuk sementara bisa disingkirkan. "Demokrasi" bukan ciptaan Tuhan yang diturunkan kepada manusia melalui malaikat, sebagaimana ajaran-ajaran agama samawi.

Hampir sepanjang sejarah manusia bahkan tidak pernah mengenal "demokrasi" sebagai satu perangkat aturan kenegaraan dengan beberapa kaidah dan institusinya seperti pemilu berkala, eksekutif, legislatif, yudikatif, konstitusi dan sebagainya. "Demokrasi" modern seperti sekarang ini baru muncul setelah Revolusi Amerika tahun 1774. Saat itu Amerika bahkan nyaris menjadi negara kerajaan dan para pendiri bangsa Amerika sama sekali tidak pernah berfikir membentuk negara "demokrasi" modern seperti sekarang. Hanya karena mereka gagal membujuk Charles III, pewaris tahta Inggris yang tersingkir dan menjadi seorang pengasingan di Italia untuk menjadi raja Amerika, maka ide membentuk negara demokrasi itupun muncul.

Maka bagi saya adalah sangat naif, ketika ada orang yang berpendapat, misalnya, bahwa Indonesia harus menerapkan "demokrasi" seluas mungkin, termasuk melaksanakan pilkada secara sporadis di segala tingkatan pemerintahan dan di seluruh pelosok tanah air, meski harus menguras keuangan negara dan menimbulkan keretakan ikatan sosial masyarakat.

Apa yang akan terjadi di Mesir jika militer tidak melakukan kudeta dan membiarkan Moersi tetap bertahan adalah satu pertumpahan darah besar-besaran di seluruh pelosok Mesir. Sampai saat ini saja tercatat setidaknya telah 34 orang tewas dalam berbagai aksi bentrokan di Mesir antara massa anti dan pro-Moersi, 16 di antaranya adalah massa pendukung Moersi yang ditembak orang tidak dikenal dalam satu insiden di Kairo pada hari Selasa (4/7).

Apa Yang Kau Cari di Yogya, Maya?

Ada yang aneh menyusul kunjungan Maya Sutoro ke Yogya beberapa waktu lalu. Adik satu ibu beda bapak dari Presiden Barrack Obama ini memang sudah diberitakan secara luas oleh berbagai media baik cetak, elektronik maupun portal berita.

Namun pada 25 Juni lalu, situs detiknews satu-satunya media yang mengangkat berita yang bersumber dari Gubernur Papua Lukas Enembe sehubungan pertemuannya dengan Maya Sutoro. Dan dalam berita itu diwartakan bahwa Lukas dijanjikan akan diatur pertemuan khusus dengan Presiden Obama.

Selang beberapa waktu kemudian, meski di hari yang sama, detiknews sekali lagi meng-update berita tersebut yang persis sama dengan berita sebelumnya, namun kali ini ada tambahan berupa berita bantahan dari pihak Maya Sutoro bahwa dirinya tidak benar jika bersedia mengatur dan memfasilitasi pertemuan Gubernur Lukas dengan Presiden Obama.

Mencermati dua rangkaian berita tersebut ada tiga hal menarik.

Pertama, situas detiknews adalah satu-satunya yang berhasil mengakses informasi langsung dari Gubernur Papua bahwa secara faktua ada pertemuan khusus meski bersifat informal, antara Maya dan Gubernur Lukas.

Kedua, meski berita ini ekslusif berasal dari detiknews, tapi anehnya tak ada media media lain yang mewartakan berita yang menurut saya amat sangat penting ini. Mengingat adanya indikasi dalam beberapa tahun belakangan ini, isu internasionalisasi Papua mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat. Baik dari Gedung Putih maupun Kongress. Sehingga pertemuan informal Maya Sutoro dan Gubernur Papua punya magnitude yang cukup besar.

Ketiga, berita detiknews yang semula hanya mengangkat berita pernyataan Gubernur Papua bahwa telah terjadi pertemuan dirinya dengan Maya, lalu kemudian muncul revisi berita dari detiknews yang memuat bantahan Maya, mengindikasikan adanya ketergangguan dan rasa tidak nyaman dari pihak Maya yang kebetulan adalah adik satu ibu beda bapak dari Obama.

Hal ini mengisyaratkan adanya "Operasi Khusus" yang dimainkan oleh Maya Sutoro dalam kunjungannya ke Yogya yang terkesan sekadar kunjungan wisata dan nostalgia belaka.

Dalam momen yang semakin memanas menjelang Pemilihan Presiden 2014, sekelumit kisah yang sadar atau tidak, telah diungkap oleh Gubernur Papua Lukas Enembe ihwal adanya pertemuan Maya Sutoro dengan Gubernur Papua, berikut 16 bupati dan beberapa anggota DPRD Papua, secara persuasif telah mengindikasikan peran keagenan yang dimainkan oleh Maya Sutoro.

FPI, PUI, Persis Tak Bereaksi Terhadap Investasi Israel

Rencana investasi perusahaan asal Israel 'Ormat' yang diduga masuknya mereka ke Indonesia atas undangan dari Wakil Presiden RI, Boediono ternyata tidak mendapat reaksi apapun dari tiga Ormas Islam besar di Indonesia.

Tiga Ormas Besar di Indonesia itu Adalah Front Pembela Islam (FPI), Persatuan Umat Islam (PUI), dan Persatuan Islam (Persis) yang tidak memberikan tanggapan sedikitpun saat dimintai pandangan oleh aktual.co terkait rencana investasi tersebut.

"Saya kecewa dengan 3 ormas islam (FPI, PUI, Persis). Mestinya mereka memiliki kepekaan atas rencana pemerintah ini, apalagi jika benar-benar ini terjadi maka kita telah melukai perasaan saudara kita di Palestina," ujar Sukri, Aktivis KAMMI di Jakarta (15/4).

Menurut Sukri, Israel adalah negara penjajah, dan yang di jajahnya adalah saudara-saudara muslim di Palestina. Kalau kita peduli dan mendukung kemerdekaan Palestina harusnya kita menolak Israel di muka bumi ini.

"Pokoknya Israel harus ditolak, dosa besar tujuh turunan jika kita membiarkan Israel berinvestasi di sini," tegas Sukri

Monday, 1 July 2013

RUSIA ANCAM SERANG SAUDI DAN QATAR

Rusia mungkin akan berfikir ulang untuk menyerang Inggris atau Perancis, bahkan ketika hubungan politik Rusia dengan 2 negara barat itu mendidih. Namun mungkin saja Rusia tidak begitu khawatir jika menyerang 2 negara Arab sekutu barat, Saudi dan Qatar. Sebagaimana diberitakan beberapa media internasional, seorang pejabat tinggi militer Rusia mengumumkan bahwa Rusia telah merencanakan untuk membom ibukota Saudi dan Qatar, yaitu Riyadh dan Doha, terkait dengan konflik Syria.

Pengumuman tersebut muncul setelah hubungan politik Rusia dengan Saudi memanas akhir-akhir ini setelah pejabat senior kedua negara saling mengecam terkait konflik Syria. Beberapa hari lalu menlu Saudi Saud al Faisal menuduh Rusia telah mendukung "pembantaian massal yang dilakukan tentara Syria". Sebagai balasan, menlu Rusia Sergei Lavrov menuduh Saudi telah mendukung para teroris di Syria.

Dalam kondisi hubungan yang memanas itulah seorang pejabat militer Rusia yang tidak bersedia disebutkan namanya baru-baru ini memberikan informasi kepada media online Rusia Telegrafist bahwa Rusia telah memiliki rencana untuk membom Saudi Arabia dan Qatar.

Ia mengklaim bahwa misi pemboman tersebut bisa dilakukan oleh skuadron tempur Su-27 atau pembom Su-34 dengan bahan bakar tambahan yang dikawal oleh pesawat-pesawat Su-27.

"Saat ini situasinya memungkinkan Su-34 yang daya jangkaunya tidak memungkinkan untuk kembali, untuk mendarat di Iran. Sedangkan daya jangkau Su-27 memungkinkan untuk mencapai ibukota Qatar dan Saudi dan kembali ke Rusia," kata pejabat tersebut.

Saat ditanyakan kapan dan mengapa rencana tersebut dibuat, pejabat tersebut menjawab bahwa sejak jaman Uni Sovyet, telah dibuat rencana untuk menghancurkan Saudi sebagai sekutu kunci Amerika.

APAKAH BEDANYA TAKFIRI DENGAN ZIONIS?

Selama pemberontakan Maccabea pada abad pertama sebelum masehi, sejarah mencatat kebrutalan orang-orang yahudi yang menggoncangkan bangsa-bangsa beradab di dunia kala itu. Saat itu, usai berhasil mengalahkan pasukan Yunani yang kala itu berkuasa di Palestina, Siprus dan sekitar Afrika Utara, orang-orang yahudi melakukan pembantaian massal terhadap orang-orang Yunani dan Romawi (kulit putih) dengan cara-cara yang tidak pernah dilihat umat manusia sebelumnya: menguliti mayat, memutilasi mayat-mayat dan kemudian merebus dagingnya, menjadikan usus manusia yang dikeringkan sebagai ikat pinggang, menyula (menusukkan tombak ke dubur hingga kerongkongan), mencungkil mata, dan menyalib (memaku tangan dan kaki di atas tiang kayu) dll.

Dalam bentuk yang tidak kalah brutal, orang-orang Arab jahiliah (sebelum kedatangan Islam) pun suka melakukan hal-hal seperti itu. Sejarah Islam mencatat seorang wanita yang memusuhi Nabi Muhammad S.A.W bernama Hindun, melakukan mutilasi terhadap jasad paman Nabi S.A.W, Hamzah (semoga Allah merahmatinya) dan memakan jantungnya mentah-mentah. Setelah kedatangan Islam, Nabi Muhammad melarang umat Islam melakukan perbuatan-perbuatan biadab seperti merusak mayat (mutilasi), meskipun itu adalah mayat musuh yang dibenci. Namun setelah wafatnya Nabi Muhammad S.A.W, kebiasaan jahiliah tersebut muncul kembali.

Sejarah awal Islam mencatat beberapa peristiwa biadab yang dilakukan umat Islam seperti mayat Muhammad bin Abu Bakar (putra Sahabat dan menantu Nabi S.A.W serta khalifah pertama Abu Bakar) yang dimutilasi, kemudian dimasukkan ke dalam perut bangkai onta dan selanjutnya dibakar, atas perintah gubernur Mesir Amr bin Ash (juga seorang "sahabat" Nabi S.A.W). Selanjutnya mayat Hujur bin Adi yang dimutilasi dan dibuang ke tempat sampah atas perintah penguasa Damaskus, Muawiyah bin Abu Sufyan (putra dari Hindun si pemakan jantung bangkai manusia). Namun yang paling biadab tentu saja adalah pembantaian terhadap keluarga cucu Nabi, Husein bin Ali dan keluarga dan pengikutnya di padang Karbala, ketika semua yang melekat di badan dijarah, kepala-kepala dipotong dari tubuhnya, dan jasad-jasad diinjak-injak puluhan pasang kaki kuda. Semua itu dilakukan atas perintah Jazid bin Muawiyah (cucu dari Hindun si pemakan jantung bangkai manusia).

14 abad Hijiah dan 20 abad Masehi telah berlalu, namun ternyata mental keji dan biadab itu masih belum hilang. Yang berbeda adalah orang-orang yahudi sudah jauh lebih "cerdik" sementara orang-orang Arab masih saja barbar.

Dunia baru saja dikejutkan dengan aksi biadab para pemberontak Syria yang menyembelih 3 orang Kristen di pinggiran kota Homs. Ini terjadi hanya beberapa minggu setelah seorang pemberontak lainnya melakukan mutilasi terhadap jasad seorang tentara Syria, merobek dadanya dan memakan jantungnya mentah-mentah, persis seperti yang dilakukan Hindun. Itulah barbarismenya orang-orang Arab.

Lalu apa yang dilakukan orang-orang yahudi?

MILITER LEBANON SERAHKAN MASJID BILAL

Ahmad Al Assir, ulama takfiri-wahabi-salafi itu boleh saja masih hidup dan bersembunyi di kolong meja dalam pakaian wanita demi menghindari kejaran aparat keamanan Lebanon, namun pengaruhnya di kota Sidon dan di seluruh Lebanon, bahkan mungkin di antara para pengikut takfirisme (gerakan orang-orang yang suka mengkafirkan) sudah mati. Gambar-gambarnya yang dulu bertebaran di berbagai sudut kota Sidon kini tidak ada lagi. Para pengikutnya di Sidon telah mencukur jenggotnya dan para wanitanya membuka cadarnya, takut dan malu dicurigai sebagai pengikut Al Saffir.

Padahal dulu para pengikut Al Assir itu bagaikan para penguasa jalanan. Setiap saat menembakkan senjata ke udara dan berteriak-teriak "Allahu Akbar!", aksi yang dilarang oleh para pemimpin Hizbollah dan dipatuhi para milisinya, karena tidak menunjukkan apapun kecuali kekerdilan jiwa.

Demikian juga pengaruhnya di Majid Bilal bin Rabah, Sidon, masjid yang selama ini diklaimnya sebagai masjid dimana ia menjadi imamnya. (Sebelumnya ia telah mencoba merebut masjid-masjid lainnya di Sidon namun mendapat perlawanan para Imam). Olehnya masjid tersebut telah diubah menjadi benteng pertempuran yang kuat dimana ia dan ratusan pengikutnya dengan berbagai persenjataan yang dikirimkan oleh Saudi, Qatar hingga Israel, bisa bertahan dari serangan musuh dan melanjutkan misi mengobok-obok Lebanon sehingga menjadi lemah untuk mencegah mereka membantu para pemberontak Syria menumbangkan pemerintahan Bashar al Assad. Kini masjid itu telah kembali kepada "yang berhak".

Tentara Lebanon, yang hanya perlu waktu beberapa jam untuk menembus pertahanan pendukung Al Assir dan menguasainya, akhirnya menyerahkan masjid Bilal kepada Mufti Sidon, Sheikh Salim Sousan, Sabtu (29/6).

Usai meninjau kondisi seluruh Masjid, Sheikh Salim Sousan mengatakan, "Masjid ini akan kembali memainkan perannya dalam melayani umat Islam, kembali menjalankan peran sebagai penjaga kesatuan." Sheikh Salim juga menyebut bahwa imam masjid yang baru adalah Sheikh Mohammad Abu Zeid.